cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Universitas Malahayati Bandar Lampung, Indonesia Jl Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung, Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024/hjk
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Articles 624 Documents
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kesulitan makan persisten pada anak usia prasekolah Andri Yulianto; Mella Dwi Novitasari; Desi Arimadiyanti; Wahyu Widayati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 3 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i3.6324

Abstract

Background: Children With Persistent Feeding Difficulties as a child's reluctance to consume, refuse, and choose the food served.Purpose: To identify related to persistent feeding difficulties in preschool-aged childrenMethod: An analytic observational with a cross sectional approach, the sampling technique used is total sampling with a sample of 40 respondents. Data collection using a questionnaire and statistical analysis using Chis-quare.Results: Finding of 15 respondents (37.5%) had preschool children who had persistent feeding difficulties in, while 26 respondents did not persistent feeding difficulties (62.5%). There is no relationship between mother's education and persistent feeding difficulties in preschool children (4-6 years) p-value = 0.159 >α (0.05). There is a relationship between family economic status and persistent feeding difficulties in preschool children (4-6 years) p-value = 0.017 < (0.05).Conclusion: There is no relationship between mother's education with persistent feeding difficulties in children and there is a relationship between family economic status and persistent feeding difficulties in preschool children.Keywords: Food; Persistent feeding difficulties; Preschool children (4-6 Years).Pendahuluan: Kesulitan makan persisten disebut sebagai feeding problem sebagai ketidakmauan anak untuk mengkonsumsi, menolak, dan memilih makanan yang dihidangkan.Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kesulitan makan persisten pada anak usia prasekolahMetode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cros sectional, teknik sampling yang digunakan yaitu total sampling dengan jumlah sampel yaitu 40 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan analisis stastistik mengunakan Chis-quare.Hasil : Didapatkan anak prasekolah yang mengalami kesulitan makan persisten sebanyak 15 responden (37,5%) sedangkan tidak mengalami kesulitan makan persisten sebanyak 26 responden (62,5%). Tidak ada hubungan antara pendidikan ibu dengan kesulitan makan pada anak prasekolah (4-6 tahun) p-value= 0.159 >α (0,05). Ada hubungan antara status ekonomi keluarga dengan kesulitan makan pada anak prasekolah (4-6 tahun) p-value= 0.017 <α (0,05).Simpulan : Tidak ada hubungan pendidikan ibu dengan kesulitan makan persisten pada anak dan terdapat hubungan antara status ekonomi keluarga dengan kesulitan makan pada anak prasekolah. 
Pengaruh pendidikan kesehatan tentang gizi balita terhadap pengetahuan ibu Desi Ari Madi Yanti; Eni Agustin
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 6 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i6.8287

Abstract

Background: Nutritional problems are a major health problem in toddlers. Malnutrition in toddlers can hinder mental development, physical growth, and thinking skills. Nutritional disorders in toddlers can be influenced by various factors, one of which is the low knowledge of parents, especially mothers. Efforts that can be made to increase mothers’ knowledge about nutrition are to provide health education.Purpose: Known that there is an influence of health education about toddler nutrition on mothers' knowledge.Method: Quasi-experimental research with pretest-posttest control group design. The population is all mothers who have toddlers who are in Ambarawa Timur. The sampling technique used was consecutive sampling with a sample of 42 participants.Results: It is known that the average score of participants before being given health education was 69.43 and the average score of participants after being given health education was 75.71.Conclusion:  There was an effect of health education on toddler nutrition on mothers’ knowledge about toddler nutrition in the working area of the Ambarawa Health Center in 2021 with a p-value of 0.000.Suggestion: Health services to be able to provide periodic health education to the community, especially mothers regarding the fulfillment of nutrition in toddlers as the first step in preventing growth and development problems for toddlers.Keywords: Toddler; Nutrition; Health education; Knowledge.Pendahuluan: Masalah gizi merupakan masalah kesehaatan utama pada balita. Gizi kurang pada balita dapat menghambat perkembangan mental, pertumbuhan fisik serta kemampuan berfikir. Gangguan gizi pada balita dapat dipengaruhi berbagai faktor salah satunya adalah rendahnya pengetahuan orang tua terutama ibu. Upaya yang dapat dilakukan dalam meningkatkan pengetahuan ibu tentang gizi adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan.Tujuan: Diketahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang gizi balita terhadap pengetahuan ibu.Metode: Penelitian quasi eksperiment dengan rancangan pretest-postest control group. Populasinya semua ibu yang mempunyai balita yang berada di AmbarawaTimur. Tekhnik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dengan sampel sebanyak 42 partisipan.Hasil: Diketahui rata-rata skor partisipan sebelum diberikan pendidikan kesehatan adalah 69,43 dan rata-rata skor partisipan setelah diberikan pendidikan kesehatan adalah 75,71.Simpulan: Ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang gizi balita terhadap pengetahuan ibu tentang gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Ambarawa tahun 2021 dengan p-value yaitu 0.000.Saran: Pelayanan kesehatan untuk dapat memberikan pendidikan kesehatan secara berkala kepada masyarakat terutama ibu tentang pemenuhan nutrisi pada balita sebagai langkah awal dalam mencegah terjadinya masalah tumbuh kembang bagi balita.
Pengetahuan tentang pencegahan covid-19 dan kepatuhan dalam menjalankan protokol kesehatan pada penderita diabetes melitus Eva Listiyo Putri; Rika Yulendasari; Eka Trismiyana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 7 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i7.8155

Abstract

Background:  Covid-19 is a new beta-coronavirus that has a single-stranded positive sense RNA genome with a diameter of 65-125 nm. The spread of the corona virus can occur through droplets, transmission of aerosols released from the nose or mouth of an infected person when talking, coughing, or sneezing. Covid-19 is more likely to infect older people and people who have underlying chronic diseases such as diabetes. The current handling of COVID-19 is done by changing people's behavior to comply with the Covid-19 prevention protocol.Purpose:  Knowing the relationship between knowledge about Covid-19 prevention and protocol compliance among patients people with diabetes mellitusMethod: Quantitative with analytic cross-sectional design. The population was patients with diabetes mellitus, the sample size was 73 people, the sampling technique used was purposive sampling. Analysis using chi square test.Results: Finding that 67.1% of people with diabetes mellitus had good knowledge and 57.5% were obedient in carrying out the covid-19 prevention protocol. The results of the analysis obtained p-value 0.030 (p<0.05).Conclusion: There is a relationship between knowledge and adherence to diabetes mellitus patients in carrying out the Covid-19 prevention protocol. Patients with diabetes mellitus should be able to apply the Covid-19 prevention protocol in accordance with the standards set by the government so that the risk of being exposed to the Covid-19 virus can be avoided.Keywords: Knowledge; Compliance; Covid-19; Health protocolPendahuluan: Covid-19 merupakan beta-corona virus baru yang memiliki genom RNA sense positif beruntai tunggal dengan diameter 65-125 nm. Penyebaran virus corona dapat terjadi melalui percikan droplet, transmisi aerosol yang dikeluarkan dari hidung atau mulut orang yang terinfeksi saat berbicara, batuk, atau bersin. Covid-19 lebih mudah menginfeksi orang yang berusia lanjut dan orang yang memiliki penyakit kronis yang mendasari seperti diabetes. Penanganan covid-19 saat ini dilakukan dengan mengubah perilaku masyarakat agar mematuhi protocol pencegahan covid-19.Tujuan: Mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang pencegahan Covid-19 dengan kepatuhan protokol pada pasien penderita diabetes melitus.Metode: Penelitian kuantitatif, dengan desain analitik rancangan cross sectional. Populasinya penderita diabetes mellitus dengan besar sampel yang diambil sebanyak 73 orang, teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis menggunakan uji chi square.Hasil: Didapatkan bahwa bahwa 67,1% penderita diabetes mellitus memiliki pengetahuan baik dan 57,5%  patuh  dalam  menjalankan  protocol  pencegahan  covid-19.  Hasil  analisis  didapatkan  p-value  0,030 (p<0,05).Simpulan: Terdapat hubungan antara pengetahuan terhadap kepatuhan penderita diabetes mellitus dalam menjalankan  protocol  pencegahan  covid-19.  Bagi  penderita  penderita  diabetes  mellitus  hendaknya  dapat menerapkan protocol  pencegahan covid-19 sesuai  dengan standar  yang  telah  ditetapkan oleh  pemerintah sehingga resiko terpapar virus covid-19 dapat dihindari.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kegemukan pada balita Putri Salsabila Azzahra; Setiawati Setiawati; Linawati Novikasari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 6 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i6.5179

Abstract

Background: Obesity prevalence increases worldwide 42 million children are overweight, 31 million in developing countries. Directorate General of Health of the Republic of Indonesia that obesity in toddlers in Indonesia is 14%. In Lampung province reached 21.4%. The prevalence of obesity in toddlers in North Lampung reached 10.72%. Purpose: Knowing the factors related to obesity in toddlers Method: Quantitative analytics using cross-sectional study design. The population is all mothers who have toddlers in Kembang Tanjung Village, North Lampung Regency. The number of samples on as many as 64 responded with 32 cases and 32 controls. Results: Variables proven to be related to obesity are genetic factors p-value 0.001(<0.05), and physical activity factors P-value 0.005(<0.05). Unrelated variables are revenue factors p-value 1.000(>0.05).Conclusion: The majority of respondents are high school-educated, housewives, and the majority of the sex of toddlers are male. There is a relationship between genetic factors and physical activity factors with obesity in toddlers, and there is no relationship between economic factors and obesity in toddlers.Keywords: Obesity; Genetics; Physical Activity; Income; Toddlers.Pendahuluan: Prevalensi kegemukan meningkat diseluruh dunia sebanyak 42 juta anak mengalami kegemukan, 31 juta di negara berkembang. Direktorat Jendral Kesehatan Republik Indonesia bahwa kegemukan pada balita di Indonesia 14%, Provinsi Lampung mencapai 21.4% dan di Lampung Utara mencapai 10.72%.Tujuan: Diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kegemukan pada balita.Metode: Penelitian analitik kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross sectional. Populasinya  semua ibu yang memiliki balita di Desa Kembang Tanjung Kabupaten Lampung Utara. Jumlah sampel pada sebanyak 64 responden dengan 32 kasus dan 32 kontrol.Hasil: Variabel yang terbukti berhubungan dengan kegemukan adalah faktor genetik p-value 0.001(<0.05), dan faktor aktivitas fisik p-value 0.005(<0.05). Variabel yang tidak berhubungan adalah faktor pendapatan p-value 1.000 (>0.05).Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berpendidikan SMA, pekerjaan sebagai IRT dan mayoritas jenis kelamin balita adalah laki-laki. Ada hubungan antara faktor genetik dan faktor aktivitas fisik, dan tidak ada hubungan antara faktor ekonomi dengan kegemukan pada balita di Desa Kembang Tanjung Kabupaten Lampung Utara.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar magnesium darah pada lansia Lendawati Lendawati; Giri Udani; Mimi Sugiarti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 7 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i7.8271

Abstract

Background: When a person ages to the level of old age which is a period of life marked by a change or decrease in bodily functions. Health problems in the elderly, one of which is often found, include digestive disorders which result in a deficiency of several nutrients such as protein, lack of vitamins, and a lack of some electrolytes so this can cause disease in the elderly, both acute and chronic. Magnesium is the fourth most abundant cation in the body and plays an important physiological role in many of its functions. Magnesium balance is maintained by the regulation of magnesium reabsorption by the kidney. Magnesium deficiency is a common problem in hospital patients, with a prevalence of around 10 percent.Purpose: Identify the factors correlated with serum magnesium levels among elderlyMethod: A descriptive study with a cross-sectional design. The sample in this study amounted to 50 elderly who were taken using the total sampling method based on inclusion criteria.Results: The analysis showed that 50 samples had an average magnesium level of 1,615 mg/dl which was low with a standard error of 0.175, where the lowest magnesium level was 0.030 and the highest magnesium level was 5,400. The median also has a value of 1,490 which is also below the normal magnesium level.Conclusion: There is no significant effect between food intake and physical activity on blood magnesium levels with a p-value > 0.05. There is a significant effect between drugs, disease, and gastrointestinal factors with blood magnesium levels with a p-value <0.05.Keywords: Serum magnesium; Food intake; Physical activity; ElderlyPendahuluan: Ketika seseorang bertambah umur ke tingkat usia lanjut yang merupakan suatu periode kehidupan dengan ditandai adanya perubahan atau penurunan fungsi tubuh. Masalah kesehatan pada usia lanjut, salah satunya yang sering dijumpai diantaranya gangguan pencernaan yang mengakibatkan kekurangan beberapa zat nutrisi seperti protein, kekurangan vitamin dan kekurangan beberapa elektrolit, sehingga hal ini dapat menimbulkan penyakit pada usia lanjut baik akut maupun kronis. Magnesium adalah kation paling melimpah keempat di tubuh dan memainkan peran fisiologis penting dalam banyak fungsinya. Keseimbangan magnesium dipertahankan oleh regulasi reabsorpsi magnesium oleh ginjal. Kekurangan magnesium merupakan masalah umum pada pasien rumah sakit, dengan prevalensi sekitar 10 persen.Tujuan: Mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh pada kadar serum magnesium pada lanjut usiaMetode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Sampelnya berjumlah 50 orang yang diambil menggunakan metode total sampling berdasarkan kriteria inklusi.Hasil: Analisis menunjukkan dari 50 sampel memiliki rata-rata kadar magnesium lansia 1.615 mg/dl yang tergolong rendah dengan standar error nya 0.175, dimana kadar magnesium paling rendah adalah 0.030 dan kadar magnesium tertinggi 5.400. Median juga mempunyai nilai 1.490 yang juga dibawah nilai kadar magnesium normal.Simpulan: Tidak ada pengaruh secara signifikan antara asupan makanan dan aktivitas fisik terhadap kadar magnesium darah dengan hasil p-value > 0.05. Ada pengaruh yang signifikan antara obat, penyakit dan faktor gastrointestinal dengan kadar magnesium darah dengan hasil p-value < 0.05.
Pengaruh metode brainstorming dan audiovisual terhadap perilaku ibu balita terhadap pencegahan stunting Sitti Hasriani; Ariyana Ariyana; Wilda Rezki Pratiwi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 7 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i7.7608

Abstract

Background: Stunting is a problem of malnutrition that is still experienced by toddlers throughout the world, including in Indonesia. Stunting is a condition of failure to grow to achieve normal growth caused by poor nutritional status for a long period of time. Prevention and handling of stunting can be done by increasing the mother's knowledge so that children avoid stunting. Providing education to mothers can be done using brainstorming and audiovisual methods on stunting preventionPurpose: Analyzing the effect of the brainstorming and audiovisual methods on the behavior of mothers under five in stunting preventionMethod: Quantitative research with a Quasi-Experimental design method using the pretest-posttest two-group design research design, was done in June-August 2022 in Belawae village. The population in this study were all mothers of children under five with a sample of 40 participants, namely 20 participants for the intervention group and 20 participants for the control group taken by purposive sampling technique with inclusion and exclusion criteria. Univariate data analysis uses frequency distribution and bivariate using Pearson Chi-Square and bivariate analysis uses the Wilcoxon test and independent using Mann-Whitney.Results: Showed a significant value in the intervention group before and after education with the Brainstorming Method, p-value = 0.001 (ρ <0.05) there were differences in behavior before and after education. In the control group who was educated by the audiovisual method, it showed a significant value with p-value = 0.000 (ρ <0.05), and there were differences in behavior before and after education. The results of the Mann-Whitney Test in both groups, namely the intervention group and the control group, did not show a significant value after education, namely the p-value = 0.739 (ρ> 0.05), there was no difference in behavior after education with Brainstorming and audiovisual methods in the group intervention and control groupConclusion: There is a significant difference in the behavior of mothers of children under five before and after being given education on stunting prevention. There is no significant difference between changes in the behavior of mothers of toddlers who are given education using the brainstorming method and mothers who are given education using the audiovisual method.Keywords: Brainstorming; Audiovisual; Behavior; Toddler; Stunting.Pendahuluan: Stunting merupakan masalah kekurangan gizi yang masih dialami balita di seluruh dunia, termasuk Indonesia  stunting adalah kondisi gagal tumbuh untuk mencapai pertumbuhan normal yang diakibatkan oleh status gizi kurang dalam periode waktu lama. Pencegahan serta penanganan stunting dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan ibu agar anak terhindar dari stunting. Pemberian edukasi pada ibu dapat dilakukan menggunakan metode brainstorming dan audiovisual tentang pencegahan stunting.Tujuan: Menganalisis pengaruh metode brainstorming dan audiovisual terhadap perilaku ibu balita terhadap pencegahan stunting.Metode: Penelitian kuantitatif dengan metode desain quasi experiment dengan menggunakan rancangan penelitian the pretest-posttest two group design, dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2022 di desa Belawa Kabupaten Sidrap. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu balita dengan sampel sebanyak 40 partisipan yaitu 20 partisipan untuk kelompok intervensi dan 20 partisipan kelompok kontrol diambil dengan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisa data univariat menggunakan distribusi frekuensi dan untuk bivariate menggunakan Pearson Chi Square dan analisis bivariat menggunakan uji Wilcoxon dan untuk independent menggunakan Mann-Whitney.Hasil: Menunjukkan nilai signifikan pada kelompok intervensi sebelum dan setelah dilakukan edukasi dengan metode brainstorming yakni nilai p=0,001 (ρ<0,05) ada perbedaan perilaku sebelum dan setelah dilakukan edukasi. Pada kelompok kontrol yang dilakukan edukasi dengan metode audiovisual menunjukkan nilai signifikan dengan nilai p=0,000 (ρ<0,05), ada perbedaan perilaku sebelum dan setelah dilakukan edukasi. Hasil uji Mann-Whitney Test pada kedua kelompok yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak menunjukkan nilai yang signifikan setelah dilakukan edukasi yakni nilai p=0,739 (ρ>0,05), tidak ada perbedaan perilaku setelah dilakukan edukasi dengan Metode Brainstorming dan audiovisual pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol.Simpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan terhadap perilaku ibu balita sebelum dan sesudah diberikan edukasi terhadap pencegahan stunting. Tidak ada perbedaan bermakna antara perubahan perilaku ibu balita yang diberikan edukasi dengan metode brainstorming  dan ibu yang diberikan edukasi dengan metode audiovisual.
Pola asuh orang tua terhadap adiksi penggunaan gawai pada anak usia sekolah: Literature review Tri Cahyo Sepdianto; Faisal Agus Mustofa; Andi Hayyun Abiddin
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 6 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i6.8304

Abstract

Background: In this modern era, technological developments involving gadgets and gadgets are growing very rapidly. As adults, they already understand the use of the device and can control it themselves, but as children, they still tend to play, which has an addictive or addictive effect. Parenting patterns are very necessary to control and supervise the use of gadgets or gadgets in children.Purpose: To determine the parenting pattern of the addiction to the use of gadgets in school-age children.Method: Using a literature review study through a PEOS search strategy in one database, namely Google Scholar.Results: There were 5 studies that met the inclusion criteria including using a cross-sectional, quasi-experimental design, and observational analytic; studies published between 2017-2022. Based on the results of the analysis, it was found that permissive parenting contributed to higher levels of gadget addiction in elementary school students. Democratic parenting affects the level of gadget addiction in elementary school students. Permissive parenting shows a high level of dependence among elementary school children.Conclusion: Parenting patterns affect the level of device addiction in elementary school children.Keywords: Parenting Style; Gadgets; Elementary school-age childrenPendahuluan: Di era modern ini, perkembangan teknologi yang melibatkan gadget dan gadget berkembang sangat pesat. Sebagai orang dewasa, mereka sudah memahami penggunaan perangkat dan dapat mengontrolnya sendiri, tetapi sebagai anak-anak, mereka masih cenderung bermain, yang efeknya menimbulkan kecanduan atau efek kecanduan. Pola asuh orang tua sangat diperlukan untuk mengontrol dan mengawasi penggunaan gawai atau gadget pada anak.Tujuan: Untuk mengetahui pola asuh orang tua terhadap adiksi penggunaan gawai pada anak usia sekolah.Metode: Menggunakan literature review study melalui strategi pencarian PEOS pada satu data base yaitu google scholar.Hasil: Didapatkan 5 studi yang sesuai dengan kriteria inklusi diantaranya menggunakan desain cross-sectional, kuasi-eksperimental, observational analitik. studi yang dipublikasikan antara tahun 2017-2022. Berdasarkan hasil analisis didaptakn abahwa pola asuh permisif berkontribusi pada tingkat kecanduan gadget yang lebih tinggi pada siswa sekolah dasar. Pola asuh demokratis mempengaruhi tingkat kecanduan gadget pada siswa sekolah dasar. Pola asuh permisif menunjukkan tingkat ketergantungan yang tinggi di antara anak-anak sekolah dasar.Simpulan: Pola asuh orang tua mempengaruhi tingkat kecanduan perangkat pada anak sekolah dasar.  
Hubungan pengetahuan tentang Covid-19 dengan perilaku protokol kesehatan di perkantoran Imelda Ritunga; Hanna Tabita Hasianna Silitonga; Wira Widjaya Lindarto; Siusanto Hadi; Etha Rambung; I Made Irham Muhammad; Agnes Atmajaya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 7 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i7.8757

Abstract

Background: A possible office Covid cluster could result from office activity during a pandemic. Implementing health protocols is essential to help protect oneself from the transmission of Covid-19 knowledge of Covid-19 decisions to behave according to health protocols.Purpose: To analyze the relationship between knowledge about Covid-19 and the behavior of implementing health protocols in the office environment.Method: Analytical observation was carried out by collecting data cross-sectional. The population consisted of school teachers, samples were taken based on voluntary sampling with online questionnaires, and 114 respondents participated. Questionnaires were made by the research team and tested for validity and reliability. The results of the data were processed statistically with the Spearman correlation test.Results: There is a relationship between knowledge and behavior of health protocols in the office environment: hand washing steps (r=0.255, p=0.006), minimum distance for interaction (r=0.231, p=0.013), and the type of mask used to go to the office (r=0.312, p=0.001).Conclusion: There is a significant relationship between knowledge of Covid-19 and behavior of health protocols in the office environment, so increased knowledge about Covid-19 needs to be continuously pursued to improve health protocol behavior.Keywords: Covid-19; Behavior; Knowledge; RegulationPendahuluan: Kegiatan perkantoran di masa pandemic dapat berpotensi menjadi klaster perkantoran. Perilaku menerapkan protokol kesehatan menjadi hal penting dilakukan untuk membantu memproteksi diri dari penularan COVID-19. Pengetahuan akan Covid-19 menginformasikan keputusan untuk berperilaku sesuai protokol kesehatan.Tujuan: Menganalisis hubungan antara pengetahuan tentang Covid-19 dengan perilaku menerapkan protokol kesehatan di lingkungan kantor. Metode: Dilakukan analitik observational dengan pengambilan data secara cross sectional. Populasi berupa guru-guru sekolah, sampel diambil berdasarkan voluntary sampling dengan kuesioner online, sejumlah 114 responden berpartisipasi. Kuesioner dibuat oleh tim peneliti, dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Hasil data diolah statistik dengan uji korelasi Spearman.Hasil:  Terdapat hubungan antara pengetahuan dan  perilaku protokol kesehatan di lingkungan perkantoran, yaitu langkah cuci tangan (r=0.255, p=0.006), jarak minimal berinteraksi (r=0.231, p=0.013), dan jenis masker yang digunakan ke kantor (r=0.312, p=0.001).Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan akan Covid-19 dengan perilaku protokol kesehatan di lingkungan perkantoran sehingga peningkatan pengetahuan tentang Covid-19 perlu terus diupayakan agar perilaku protokol kesehatan semakin baik.
Peningkatan status gizi balita melalui pemberian daun Kelor(moringa oleifera l.) pada masa pandemi Covid19 Indah Sari; Linawati Novikasari; Setiawati Setiawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 3 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i7.5180

Abstract

Background: Data shows that more than half of cases of malnutrition status in the world occurs in Southeast Asia, which is as much as 27.6% or 5.2 million. Based on data from Basic Health Research in 2018 stated the prevalence of malnutrition and malnutrition in toddlers, as many as 3.9% of toddlers with malnutrition and 13.8% undernourished. The prevalence of underweight and very thin toddlers in Lampung Province based in 2018 is 11.8%. According to the Strategic Plan of the West Lampung District Health Office 2017-2022 the percentage of achievement is 1.41%.Purpose: To find out the improvement of the nutritional status of toddlers through the consumption of moringa leaves (Moringa oleifera L.) during the covid19 pandemic.Method: This type of research is Quasi Experiment (pseudo-experimental design) with one group pretest and posttest design. The population in this study was all toddlers who experienced undernutrition status in Suka Jaya Village and the sample was a population that met the inclusion criteria of 20 people.Results: The analysis there is effect of moringa leaves(Moringa oleifera L.)on the increase in nutritional status of children aged 4-5 years before and after the intervention is carried out statistical tests, namely the T-Test One Sample Test. Statistical test results showed the value of p-value = 0.000 (p<0.05) after the intervention of the nutritional status of children increased by 0.9.Conclusion: From the results of the study concluded that it was obtained an increase in nutritional status with the provision of moringa leaves (Moringa oleifera L.).Keywords: Nutritional Status; Moringa Leaves; Toddlers; Covid19 PandemicPendahuluan: Data menunjukkan bahwa lebih dari setengah kasus status gizi kurang di dunia terjadi di Asia Tenggara yaitu sebanyak 27,6% atau 5,2 juta. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menyatakan prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada Balita, sebanyak 3,9% balita dengan gizi buruk dan 13,8% gizi kurang. Prevalensi balita kurus dan sangat kurus di Provinsi Lampung berdasarkan Riskesdas 2018 adalah 11,8% . Menurut Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Barat 2017-2022 presentase capaian adalah sebesar 1,41%.Tujuan: Untuk mengetahui peningkatan status gizi balita melalui pemberian daun kelor (Moringa Oleifera L.) pada masa pandemi covid19.Metode :Jenis penelitian ini adalah Kuasi Eksperimen (rancangan eksperimen semu) dengan desain One Group Pretest and Posttest. Populasinya seluruh ibu dan balita yang mengalami status gizi kurang di Desa Suka Jaya dan sampelnya yang memenuhi kriteria inklusi yaitu sebanyak 20 partisipan.Hasil: Ada pengaruh pemberian daun kelor (Moringa Oleifera L.) terhadap kenaikan status gizi anak usia 4-5 tahun sebelum dan sesudah intervensi dilakukan uji statistik yaitu Uji T-Test One Sample Test. Hasil uji statistik menunjukan nilai p value = 0.000 (p<0.05) setelah dilakukan intervensi status gizi anak mengalami kenaikan 0.9.Simpulan: Didapatkan peningkatan status gizi dengan pemberian daun kelor (Moringa Oleifera L.).
Depresi, kecemasan, stress dan beban perawatan pengasuh utama (caregiver) pasien dengan stroke Desi Risnarita; Teguh Pribadi; Prima Dian Furqoni; Rahma Elliya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 7 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i7.8843

Abstract

Background:  A caregiver is someone who provides assistance to people who are disabled and need help due to illness or limitations such as spouses, children, in-laws, grandchildren, relatives, neighbors, friends, or other kinship relationships. Caregivers have the task of assisting in mobility, communication, self-care, and emotional and psychological changes so caregivers must balance the dual responsibility role of caring for stroke patients and adjusting their lifestyle. The weaker and more chronic the patient's illness, the higher the burden experienced by the caregiver.Purpose: To determine the relationship variables depression, anxiety, and stress with the burden of care among caregivers of patients with stroke.Method: Quantitative, analytic cross-sectional design. The population in this study were caregivers with  80 respondents, the sampling technique used was accidental sampling. Analysis using chi-square testResults: On average, respondents experienced the most dominant mild depression 45 (56.25%), mild anxiety 35 (43.75%), stress 35 (43.75%), the burden of care for the main caregiver was mild-moderate 38 (47.5%)Conclusion: There is a relationship between the burden of primary caregiver care (caregiver) in stroke patients with depression (p-value 0.03), anxiety (p-value 0.02), and stress (p-value 0.04).Keywords: Depression; Anxiety; Stress; Burden of Primary; Caregiver; Patients; Stroke.Pendahuluan: Caregiver adalah seseorang yang memberikan bantuan pada orang yang mengalami ketidakmampuan dan memerlukan bantuan karena penyakit atau keterbatasannya seperti pasangan, anak, menantu, cucu, saudara, tetangga, teman maupun hubungan kekerabatan lainnya. Caregiver memiliki tugas membantu dalam mobilitas, komunikasi, perawatan diri, perubahan emosional dan psikologis sehingga caregiver harus menyeimbangkan peran tanggung jawab ganda merawat pasien stroke serta menyesuaikan gaya hidupnya. Semakin lemah dan kronis penyakit pasien maka semakin tinggi beban yang dialami caregiver.Tujuan: Diketahui hubungan depresi, kecemasan, stress dengan beban perawatan pengasuh utama pada pasien stroke.Metode: Penelitian kuantitatif, desain analitik rancangan cross sectional. Populasinya caregiver/pengasuh pasien stroke dan besar sampel yang diambil sebanyak 80 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Analisis menggunakan uji chi square.Hasil: Rata-rata responden mengalami yang paling dominan depresi ringan 45 (56.25%), kecemasan ringan 35 (43.75%), stress 35 (43.75%), beban perawatan pengasuh utama beban ringan-sedang 38 (47.5%).Simpulan: Ada hubungan antara beban perawatan pengasuh utama (caregiver) pada pasien stroke dengan depresi (p-value 0.03), kecemasan (p-value 0.02), stress (p-value 0.04).