cover
Contact Name
Tori Rihiantoro
Contact Email
toririhiantoro@poltekkes-tjk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan@poltekkes-tjk.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. lampung selatan,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik
ISSN : 19070357     EISSN : 26552310     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Fokus jurnal adalah informasi tentang penelitian dan kajian di bidang keperawatan dan kesehatan. Jurnal ini diterbitkan setiap 6 bulan (April dan Oktober) dalam Bahasa Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 321 Documents
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STRES KERJA PADA PEKERJA PABRIK PENGOLAHAN KELAPA SAWIT Tumiur Sormin
Jurnal Keperawatan Vol 12, No 1 (2016): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.61 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v12i1.343

Abstract

Masalah stres kerja merupakan ancaman yang serius bagi kesehatan pekerja yang juga akan mengancam kesehatan suatu organisasi/perusahaan. Pekerja yang mengalami stres dapat mengakibatkan produktifitas kerja menurun sehingga  merugikan bagi organisasi/perusahaan. Pekerja pabrik pengolahan kelapa sawit di PTPN VII Bekri Lampung Tengah, mengalami stres  kerja sebanyak  42 orang  (48,8%).  Pekerja mengeluhkan adanya gangguan kesehatan pada lambung dan mengalami sakit kepala. Pekerja tersebut juga mengeluhkan ketidakpuasan kerja, terutama mengenai pemindahan tempat kerja yang harus meninggalkan keluarganya. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja pabrik pengolahan kelapa sawit di PTPN VII Bekri Lampung Tengah dengan jumlah responden sebanyak 86 orang. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain korelasi (hubungan/asosiasi).  Pendekatan yang digunakan peneliti adalah rancangan penelitian cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2012 dan berdasarkan uji Regresi Logistik Ganda, diperoleh hasil bahwa ada 3 faktor yang berhubungan dengan stres pada pekerja pabrik, yaitu lama kerja dengan nilai p=0,054, kondisi kerja dengan nilai p=0.000 dan promosi karir dengan nilai p=0.044. Faktor yang paling dominan berhubungan adalah kondisi kerja dengan OR=9,123.
Hubungan Pola Makan dan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Hipertensi di Kabupaten Tulang Bawang Rihiantoro, Tori; Widodo, Muji
Jurnal Keperawatan Vol 13, No 2 (2017): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.939 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v13i2.924

Abstract

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal, dimana tekanan darah dikategorikan tinggi 140/90 mmhg. Penyakit hipertensi disebabkan karena pola makan yang buruk dan kurangnya aktivitas fisik. 25 dari 32 penderita hipertensi mempunyai kebiasaan pola makan buruk dan 23 dari 32 penderita hipertensi melakukan aktivitas fisik ringan <600 Mets-min/minggu. Tujuan dari penelitian ini adalah diketahui hubungan pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi di Puskesmas Tulang Bawang I tahun 2017. Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan metode pendekatan “restrospektif” populasi penelitian adalah penderita hipertensi sejumlah 267 responden. Teknik sampel yang digunakan simple random sampling analisa data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukan distribusi frekuensi hipertensi 32 responden (50,0%) sebanyak 25 (86,2%) mempunyai pola makan buruk, sebanyak 23 (67,9%) melakukan aktivitas ringan <600 Mets-min/minggu. Hasil uji chi square diperoleh data hubungan pola makan dengan kejadian hipertensi dengan p-value=0,000 dan ada hubungan aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi dengan p-value=0,005. Diharapkan pada pihak terkait khususnya Puskesmas Tulang Bawang I untuk menggalakan senam bersama bagi kelompok masyarakat beresiko hipertensi dan mengadakan penyuluhan tentang pentingnya pencegahan hipertensi dengan berbagai metode dan media.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PAD PADA DIABETISI Tori Rihiantoro; Purbianto Purbianto
Jurnal Keperawatan Vol 8, No 1 (2012): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.403 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v8i1.139

Abstract

Kasus DM dari tahun-ketahun semakin meningkat dan menjadi penyebab dari beberapa penyakit kardiovaskuler termasuk Peripheral Arterial Desease (PAD). American Diabetes Association (2004) merekomendasikan pengujian untuk PAD pada setiap pasien dengan diabetes yang berusia diatas 50 tahun. Pasien dengan diabetes yang berusia dibawah 50 tahun harus skrining untuk PAD jika mereka memiliki faktor risiko untuk PAD, seperti merokok, hipertensi, hiperlipidemia, atau diabetes selama lebih dari 10 tahun. Atas dasar itu peneliti melakukan penelitian ini dengan tujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian PAD pada diabetisi. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien DM yang datang berkunjung di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD dr. H. Abdul Moeloek Propinsi Lampung dengan jumlah sampel sebanyak 100 responden yang yang ditentukan dengan teknik consecutive sampling. Uji statistik menggunakan Chi Square (X2). Hasil penelitian menyimpulkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara variabel umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok, lamanya menderia DM, olah raga, hipertensi dan kadar gula darah dengan kejadian PAD pada diabetisi, tetapi terdapat hubungan yang bermakna antara kadar kolesterol dengan kejadian PAD pada diabetisi di Poliklinik Penyakit Dalam RSUDAM Propinsi Lampung. Hasil penelitian menyimpulkan dari beberapa faktor yang diteliti hanya faktor kadar kolesterol yang berhubungan dengan kejadian PAD pada diabetisi (p value = 0,004). Berdasarkan hasil tersebut penulis memberikan saran agar rumah sakit melakukan penyuluhan dan deteksi dini pemeriksaan kadar kolesterol untuk pencegahan PAD.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN (FLUOR ALBUS) PADA REMAJA PUTRI Nurlaila Nurlaila; Mardiana Zakir
Jurnal Keperawatan Vol 11, No 1 (2015): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.06 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v11i1.378

Abstract

Fluor albus dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan gangguan rasa percaya diri pada wanita bila terlalu berlebihan. Berdasarkan presurvey yang dilakukan peneliti  ada 60% siswi yang mengalami keputihan di SMP SuryaDarma Bandar Lampung Tahun 2014.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan personal hygiene remaja putri dengan kejadian keputihan  (Fluor Albus ) di SMP Suryadarma Bandar Lampung Tahun 2014. Desain dalam penelitian ini adalah penelitian analitik cross sectional dengan jumlah sampel 60 orang responden diambil dengan tekhnik simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen tes dan angket. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dengan persentase dan bivariat dengan fisher exact test. Hasil Penelitian, kejadian fluor albus 65,0%, pengetahuan yang baik ada 66,7%, dan personal hygiene yang baik ada 56,7%.  Analisis bivariat menyimpulkan ada hubungan pengetahuan dan kejadian fluor albus (p value=0,010) dan OR = 0,123.  Ada hubungan antara personal hygiene remaja putri dan kejadian fluor albus di SMP Suryadarma dengan p value=0,012 dan OR = 0,182. Saran dari hasil penelitian tersebut di atas ternyata pengetahuan siswa hanya sebatas tahu saja, tetapi tidak paham dalam melakukan personal hygienenya atau cara perawatan alat reproduksinya sendiri. Untuk menghindari kejadian fluor albus, maka melalui petugas UKS lebih sering melakukan penyuluhan tentang personal hygiene dan fluor albus (keputihan), serta cara menerapkan perawatan alat reproduksinya dengan benar.
PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN PEMAHAMAN MAHASISWA KEPERAWATAN TERHADAP ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH Musiana Musiana
Jurnal Keperawatan Vol 9, No 1 (2013): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.261 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v9i1.258

Abstract

Berdasarkan hasil evaluasi terhadap 34 orang mahasiswa kelas regular setelah  menyelesaikan mata kuliah KMB 1  didapatkan sebanyak 27 mahasiswa (79.4%) menyatakan mengalami kesulitan dalam memahami materi perkuliahan KMB dengan mengemukakan alasan-alasan sebagai berikut :  materinya terlalu banyak  (53.3%) , materi dan media kurang menarik (16.7%),  penyampaiannya terlalu cepat (6.7%) , hand out diberikan sesudah  perkuliahan bukan sebelumnya (10%), dan ada juga yang merasa sulit karena faktor intern seperti kurangnya penguasaan terhadap materi dasar (anatomi fisiologi) yang berhubungan dengan mata ajar KMB (30%), dan banyak yang tidak mengerti dengan istilah-istilah medis yang digunakan (13.3%). Tujuan penelitian ini melihat efektifitas Problem Based Learning dengan menggunakan kasus pemicu sebagai upaya meningkatkan hasil belajar dan pemahaman mahasiswa terhadap askep KMB khususnya pada materi sistem perkemihan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental dengan Problem Based Learning menggunakan kasus pemicu.  Desain yang digunakan adalah cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa kelas reguler Jurusan Keperawatan Tanjungkarang TA 2007/2008 sebanyak 40 orang. Penelitian dilaksanakan selama satu semester. Analisis data dilakukan dengan bantuan software komputer yaitu analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian didapat mayoritas mahasiswa (45%) mendapatkan nilai hasil belajar B (68-78), sedangkan yang mendapatkan nilai E (< 40) ada 1 orang (2,5%). Dalam kaitannya dengan pemahaman, mayoritas mahasiswa (60%) mengatakan memiliki pemahaman dalam kategori cukup, kategori baik ada 11 orang (27.5%)  dan kategori kurang ada 5 (12,5%). Peneliti mengharapkan agar peneliti selanjutnya dapat melanjutkan penelitian ini dengan memperhatikan keterbatasan yang ada dalam penelitian ini dan mengembangkan penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas PBM 
HUBUNGAN PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI SUNTIK TIGA BULAN DEPO MEDOKRASI PROGESTRONE ASETAT (DMPA) DENGAN PERUBAHAN BERAT BADAN Ayu Safitri; Holidy Ilyas; Nurhayati Nurhayati
Jurnal Keperawatan Vol 11, No 2 (2015): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.273 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v11i2.572

Abstract

Depo Medroksiprogesteron Asetat (DMPA) adalah alat kontrasepsi suntik yang mengandung 150 mg DMPA, diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik Intra Muskular (di daerah bokong). Salah satu efek samping penggunaan KB ini adalah perubahan berat badan. Perubahan berat badan terjadi karena hormon Progesteron (DMPA) merangsang pusat pengendali nafsu makan di hipotalamus yang menyebabkan nafsu makan bertambah sehingga akseptor makan lebih banyak dari biasanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemakaian alat kontrasepsi suntik 3 bulan Depomedroksi Progesteron Asetat (DMPA) dengan perubahan berat badan. Pengambilan sampel menggunakan teknik Accidental Sampling, dengan populasi ibu-ibu yang menggunakan KB suntik 3 bulan DMPA di rumah bersalin Kartini Bandar Lampung. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 55 responden. Design penelitian ini menggunakan teknik deskriptif korelatif. Variabel independen adalah pemakaian KB suntik DMPA, dan variabel dependen adalah perubahan berat badan. Data dikumpulkan dengan mengisi lembar kuesioner. Analisis data dilakukan dengan uji chi square. Hasil penelitian menggunakan uji statistik kai kuadrat (Chi-Square) dengan tingkat kepercayaan 95% didapatkan hasil bahwa ρ-value = 0,003. Hal ini menunjukkan ada hubungan antara pemakaian alat kontrasepsi suntik 3 bulan DMPA dengan perubahan berat badan. Saran dari peneliti untuk perawat atau petugas kesehatan agar dapat memberikan informasi kepada akseptor KB yang lama pemakaiannya lebih dari 5 tahun agar dapat beralih pada kontrasepsi jangka panjang untuk mengurangi efek samping kenaikan berat badan yang ditimbulkan.
PERBEDAAN BERAT BADAN BAYI USIA 6 BULAN YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF DENGAN BAYI YANG NON EKSKLUSIF Woro Arum Rarasati; Rohayati Rohayati
Jurnal Keperawatan Vol 10, No 1 (2014): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.953 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v10i1.310

Abstract

Data Dinas Kesehatan Kota metro mencatat angka  ASI eksklusif sebesar 18,71%. ASI eksklusif di Kota Metro memiliki cakupan yang paling rendah di Provinsi Lampung. ( Profil Kesehatan kota Metro, 2009 ). ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, lactose dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua kelenjar payudara ibu sebagai makanan utama dan terbaik untuk bayi karena di dalam ASI terkandung zat-zat kekebalan, anti infeksi dan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang serta mengontrol terjadinya kelebihan berat badan atau obesitas.Tujuan penelitian adalah diketahuinya rata-rata berat badan bayi yang diberi ASI eksklusif, untuk diketahuinya rata-rata berat badan bayi yang diberi ASI non eksklusif dan untuk diketahui perbedaan berat badan bayi yang diberi ASI ekslusif dengan bayi yang non eksklusif. Desain penelitian ini metode survey dengan pendekatan cross-sectional yaitu waktu pengukuran/ observasi data variable independe dan dependen hanya satu kali pada satu saat, penelitian ini menggunakan teknik total populasi yaitu sejumlah 39 bayi yang berusia 6 bulan yang dilakukan pada bulan Juni. Hasil analisis didapatkan bahwa Ha, yaitu ada perbedaan yang bermakna antara berat badan bayi yang diberi ASI eksklusif dengan bayi yang non eksklusif di Desa Mulyojati kecamatan Metro Barat Kota Metro tahun 2013 dengan p value = 0,000. Saran kecamatan Metro Barat Kota Metro tahun 2013 dengan p value = 0,000. Saran untuk ibu yang mempunyai anak usia  0-6 bulan untuk memberikan ASI eklusif, karena ASI sanggup memenuhi kebutuhan gizi bayi untuk masa hidup empat sampai enam bulan pertama, karena ASI sebagai makanan terbaik bayi dalam menjaga kesehatan dan mempertahankan kelangsungan hidup bayi. 
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KUNJUNGAN LANSIA KE POSYANDU Ardelia Gestinarwati; Holidy Ilyas; Idawati Manurung
Jurnal Keperawatan Vol 12, No 2 (2016): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.202 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v12i2.605

Abstract

Kendala lansia dalam mengikuti kegiatan Posyandu Lansia meliputi pengetahuan lansia yang rendah tentang manfaat posyandu, jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh, dan kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk datang ke posyandu. Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia. Hasil presurveydata Posyandu lansia Aisyah di Pekon Yogyakarta, dari kurang lebih 150 orang yang berkunjung ke posyandu lansia pada bulan November 2015 sebanyak 21 orang 14% dari jumlah seluruh lansia, bulan Desember 2015 sebanyak 13 orang (8,7%), dan bulan Januari 2016 sebanyak 28 orang (18,7%). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kunjungan lansia ke Posyandu Aisyah di Pekon Yokyakarta Selatan wilayah kerja Puskesmas Gadingrejo Pringsewu Lampung tahun 2016. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif menggunakan pendekatan cross sectional dengan populasilansia yang terdaftar di Posyandu Lansia Aisyah Pekon Yogyakarta Selatan Pringsewu dengan jumlah 150 orang.Teknik pengambilan sampel dengan Simple random sampling. Uji statistik yang digunakan adalah Chi Square.Hasil penelitian didapatkan 75 lansia (68.80%) yang tidak aktif tanpa dukungan keluarga dan 19 lansia (17.40%) yang aktif mendapat dukungan keluarga. Hasil Uji chi square didapatkan nilai ρ-value (0.00) <α (0.05) artinya Ho ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kunjungan lansia ke Posyandu Aisyah di Pekon Yogyakarta Selatan Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung tahun 2016. Disarankan tenaga kesehatan di pekon khususnya koordinator posyandu lansia untuk memberikan HE (health education) pada keluarga supaya termotivasi untuk memberikan dukungan kepada lansia untuk mengikuti kegiatan Posyandu lansia.
HUBUNGAN JUMLAH LEKOSIT DENGAN KADAR MIKROALBUMIN URIN PADA PENDERITA DIABETES MELITUS Azhari Muslim
Jurnal Keperawatan Vol 10, No 1 (2014): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.703 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v10i1.333

Abstract

Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang tidak ditularkan dan sering ditemukan di seluruh dunia. Peningkatan insidensi diabetes melitus akan meningkatkan insidensi komplikasi akibat diabetes tersebut. Nefropati diabetika adalah komplikasi diabetes mellitus pada ginjal yang dapat berakhir sebagai gagal ginjal. Mikroalbuminuria merupakan penanda awal nefropati dan peningkatan jumlah lekosit memprediksikan gangguan fungsi insulin dan berkembangnya diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan jumlah lekosit pada penderita diabetes melitus.menggambarkan kadar mikroalbumin urin pada penderita diabetes melitus serta mengetahui adanya hubungan antara jumlah lekosit dengan kadar mikroalbumin urin pada penderita diabetes melitus. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian belah lintang yang bersifat observasional. Besar sampel yang dibutuhkan minimal 36 responden. Variabel bebas penelitian adalah jumlah lekosit sedangkan variabel tergantung adalah mikroalbumin urin. Analisis univariat dengan rerata dan simpangan baku. Uji Korelasi Spearman untuk mengetahui hubungan antara jumlah lekosit dengan kadar mikroalbumin urin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara jumlah lekosit dan kadar mikroalbumin urin terdapat korelasi dengan p –value = 0,000. Koefisien korelasi yaitu r = 0,558 berarti terdapat hubungan yang kuat antara jumlah lekosit dengan kadar mikroalbumin urin, sehingga didapatkan nilai prediktif dan diagnostik. Simpulan penelitian ini adalah ada korelasi antara jumlah lekosit dengan kadar mikroalbumin urin pada penderita diabetes melitus. Saran dalam penelitian ini adalah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut sehingga didapatkan alternatif pemeriksaan untuk memprediksi terjadinya mikroalbuminuria. 
Faktor-Faktor yang Berpengaruh dengan Kejadian Kejang Demam pada Pasien Anak di Rumah Sakit Dalam Wilayah Propinsi Lampung Nurhayati HK; Fepi Susilawati; Gustop Amatiria
Jurnal Keperawatan Vol 13, No 1 (2017): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.951 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v13i1.858

Abstract

Kejang demam umumnya terjadi pada bayi dan anak  berumur antara 6 bulan sampai 5 tahun, dengan angka kejadian 4-5 % dan dapat berakibat kematian apabila tidak segera ditanggulangi. Salah satu faktor pencetus kejadian adalah suhu yang semakin tinggi mencapai ≥40 oC  , namun ada berbagai factor yang mempengaruhinya misalnya adanya infeksi dan factor lainnya (Sujono & Sukarmin, 2009:53). Penelitian ini merupakan penelitian corelational, bersifat multivariat dengan rancangancross sectional, dimana variabel bebas adalah  faktor-faktor yang berpengaruh seperti, genetik, jenis kelamin, usia, demam, dll dengan variabel terikat adalah Kejadian Kejang Demam. Tujuan penelitian ingin  mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dengan kejadian kejang demam hingga faktor yang dominan.. Populasi adalah pasien dengan riwayat kejang, sampel berjumlah 105 responden yang diambil dengan quota sampling pada ruang perawatan anak RSU Abdoel Moeloek Propinsi Lampung, RSUD Demang Sepulau Raya Lampung Tengah dan RSD Mayjend. H.M. Ryacudu Kotabumi Lampung Utara. Analisis data dengan chi-squareα  95 % dan uji regresi logistik  memakai software computer. Hasil penelitian ada 3 faktor yang  berpengaruh dari 8 faktor yaitu demam, pengukuran suhu di rumah dan pemberian obat di RS, sedangkan faktor yang  dominan adalah Demam dengan p value 0,00 (p < 0,25) dan OR = 3.  Saran pada ilmu keperawatan, perawat hendaklah  melakukan pemberian imformasi pada daerah otoritas perawatan yaitu imformasi yang berkenaan dengan perawatan kejang demam di rumah dan upaya pengukuran suhu tubuh di rumah