cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agrikultura
ISSN : 08532885     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrikultura terbit tiga kali setahun (April, Agustus dan Desember), memuat artikel hasil penelitian dan kupasan (review) orisinal hasil dari penelitian yang sebagian telah dilakukan penulis, dan komunikasi singkat.
Arjuna Subject : -
Articles 413 Documents
Dampak Lingkungan dan Keberlanjutan Peternakan Ayam Ras Pedaging Pola Kemitraan Wahyuni, Etty; Santoso, Dwi
Agrikultura Vol 34, No 2 (2023): Agustus, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i2.46783

Abstract

Usaha peternakan ayam ras pedaging adalah usaha agribisnis yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena meningkatnya jumlah penduduk akan mendorong meningkatnya kebutuhan akan pangan yang bersumber dari protein hewani. Perkembangan ini pada sisi lain juga memunculkan beberapa permasalahan seperti dampak lingkungan dan risiko usaha yang dapat mengancam keberlanjutan usaha tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis dampak lingkungan usaha peternakan ayam ras pedaging, (2) mengetahui persepsi masyarakat terhadap dampak lingkungan yang dihasilkan usaha peternakan ayam ras pedaging, dan (3) menganalisis keberlanjutan dan atribut sensitif dalam usaha peternakan ayam ras pedaging. Responden penelitian ini terdiri dari masyarakat yang bermukim di sekitar usaha peternakan ayam ras pedaging dan peternak ayam ras pedaging dengan pola kemitraan. Responden masyarakat ditentukan dengan metode purposive sampling dengan kriteria bermukim di sekitar lingkungan peternakan dalam radius 500 m dan terpilih sebanyak 20 responden dari 4 kecamatan di Kota Tarakan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis pohon masalah, deksriptif persentase dan Multidimensional Scalling dengan teknik pendekatan Rap-USAP, analisis sensitif (Leverage analysis), Monte Carlo, nilai stress dan nilai koefisien determinasi (R2). Hasil penelitian menunjukkan dampak lingkungan yang ditimbulkan adalah pencemaran udara dan tanah, persepsi masyarakat menunjukkan ketidaknyamanan terhadap pada bau tidak sedap, lalat dan kerusakan jalan sekitar peternakan. Usaha peternakan berdasarkan dimensi ekologi, ekonomi, sosial dan teknologi cukup berkelanjutan, kecuali dimensi kelembagaan menunjukkan kategori kurang berkelanjutan.
Karakteristik Pertumbuhan Tanaman dan Gugur Buah Keprok ‘JOP’ pada Umur Tanaman Berbeda Farida, Farida; Mubarok, Syariful; Kusumiyati, Kusumiyati; Wicaksana, Noladhi
Agrikultura Vol 34, No 2 (2023): Agustus, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i2.45657

Abstract

‘JOP’ (jeruk Orange Parahyangan) merupakan salah satu varietas jeruk keprok (Citrus reticulata Blanco) dengan ciri utama adalah berwarna jingga pada kulit dan daging buahnya, sementara jeruk lokal umumnya berwarna kuning. Ciri lain dari keprok 'JOP’ yaitu menghasilkan banyak buah walaupun tanaman masih muda. Hal tersebut mengakibatkan tanaman akan menjadi lemah dan dapat mati pada siklus pertumbuhan berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik pertumbuhan keprok ’JOP’ dan persentase gugur buah pada umur tanaman berbeda. Penelitian dilakukan di sentra produksi keprok ‘JOP’, Cisarua-Lembang, yang terletak pada ketinggian tempat 1.150 m dpl. Bahan penelitian yang digunakan adalah keprok ‘JOP’ umur satu setengah tahun dan tiga tahun setelah tanam (1,5 TST dan 3 TST), masing-masing terdiri dari 10 tanaman. Setiap tanaman terdiri atas tiga sampel, sehingga total terdapat  30 sampel per umur tanaman. Analisis data menggunakan statistika deskriptif taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jeruk keprok 'JOP' 1,5 TST (8,1 daun) menghasilkan jumlah daun per tunas yang lebih sedikit dibandingkan dengan 3 TST (11,5 daun). Persentase gugur buah pada jeruk keprok 'JOP' 1,5 TST (74,6%) lebih tinggi dibandingkan dengan 3 TST (14,4%). Adapun untuk pertumbuhan reproduktif, jumlah bunga mencapai 13,6 (1,5 TST) dan 10,1 (3 TST), sedangkan fruit set pada tanaman 1,5 TST dan 3 TST adalah 19,6% dan 13,5%.
Faktor-Faktor yang Berkaitan dengan Impor dan Ekspor Bawang Merah di Indonesia Surbakti, Natalie Jessica Regina; Wibowo, Rulianda Purnomo; Salmiah, Salmiah
Agrikultura Vol 34, No 2 (2023): Agustus, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i2.45686

Abstract

Indonesia mengalami perubahan dari negara importir bawang merah menjadi negara yang mampu ekspor bawang merah ke berbagai negara. Namun, volume ekspor bawang merah belum maksimal jika dilihat dari produksi bawang merah yang melimpah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor terkait terhadap impor dan ekspor bawang merah di Indonesia. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa time series tahun 2002-2021 yang bersumber dari instansi yaitu Badan Pusat Statistik, Kementerian Perdagangan, Bank Dunia, Bank Indonesia serta literatur terkait. Metode yang digunakan yaitu Regresi Linier Berganda dengan first difference method. Hasil penelitian menunjukkan harga domestik dan konsumsi berpengaruh positif signifikan yaitu ketika harga domestik dan komsumsi meningkat maka volume impor turut mengalami peningkatan, sedangkan nilai tukar rupiah berpengaruh negatif signifikan terhadap volume impor yaitu setiap terjadi kenaikan nilai tukar rupiah maka volume impor menurun. Produksi dan harga impor berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap volume impor. Variabel yang berpengaruh signifikan terhadap volume ekspor yaitu nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah yang terapresiasi akan menyebabkan volume ekspor menurun dikarenakan harga jual di pasar dunia semakin tinggi. Harga ekspor dan GDP per kapita dunia berpengaruh positif, sedangkan harga domestik dan produksi berpengaruh negatif, namun keempat variabel tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap volume ekspor. Variabel-variabel dalam model ekspor belum mampu menjelaskan ekspor bawang merah dengan baik dikarenakan hanya menjelaskan model tersebut sebesar 45%.
Pengaruh Aplikasi Bacillus sp. dan Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Ariyanti, Mira; Rosniawaty, Santi; Nadiyah, Farah
Agrikultura Vol 34, No 2 (2023): Agustus, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i2.43170

Abstract

Salah satu upaya untuk mewujudkan pertanaman kelapa sawit secara berkelanjutan adalah dengan penggunaan bakteri menguntungkan dan pupuk organik berbahan baku tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh bakteri Bacillus sp. dan TKKS terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran dari bulan Februari sampai dengan Agustus 2022. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan sembilan perlakuan yang diulang tiga kali dan setiap unit percobaan terdiri atas dua tanaman. Perlakuan yang diuji meliputi aplikasi A = 12,5 g pupuk NPK, B = 25 ml Bacillus sp., C = 150 g kompos TKKS, D = 25 ml Bacillus sp. + 100 g kompos TKKS, E = 25 ml Bacillus sp. + 150 g kompos TKKS, F = 25 ml Bacillus sp. + 200 g kompos TKKS, G = 35 ml Bacillus sp. + 100 g kompos TKKS, H = 35 ml Bacillus sp. + 150 g kompos TKKS, dan I = 35 ml Bacillus sp. + 200 g kompos TKKS per tanaman pada bibit kelapa sawit yang ditanam pada polybag. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian 25 mL Bacillus sp. yang diberikan bersamaan dengan aplikasi 150 g – 200 g kompos TKKS per tanaman di pembibitan awal (pre nursery) dan awal pembibitan utama (main nursery) menghasilkan kandungan klorofil daun bibit kelapa sawit tertinggi. Pemberian bakteri menguntungkan Bacillus sp. dan TKKS secara tunggal atau kombinasi berpengaruh sama baiknya dengan pupuk NPK terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit.
Kandungan Sulforaphane pada Microgreens Kubis Bunga (Brassica oleracea var. botrytis L.) yang Ditanam dalam Berbagai Media Tanam dengan Tambahan Air Kelapa Alwani, Ririn Yuslia; Septirosya, Tiara; Oktari, Riska Dian; Hera, Novita; Solin, Nida Wafiqah Nabila M.
Agrikultura Vol 34, No 2 (2023): Agustus, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i2.43969

Abstract

Microgreens menjadi inovasi baru dalam pertanian di perkotaan. Kubis bunga ialah salah satu tanaman sayur yang dapat dibudidayakan secara microgreens. Microgreens kubis bunga mengandung sulforaphane yang merupakan senyawa golongan isothiocyanate, yang berpotensi sebagai anti kanker. Konsentrasi senyawa ini dapat berubah sesuai kondisi lingkungan tumbuh, seperti media tanam dan ketersediaan nutrisi. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan interaksi terbaik antara media tanam dan nutrisi terbaik untuk meningkatkan kandungan sulforaphane pada microgreens kubis bunga. Penelitian dilaksanakan pada Agustus hingga Desember 2021. Penelitian dirancang secara faktorial yang disusun berdasarkan Rancangan Acak Lengkap. Faktor pertama yakni jenis media tanam (rockwool, cocopeat, kertas tisu dan vermiculite), faktor kedua yakni pemberian nutrisi (tanpa pemberian nutrisi tambahan dan pemberian air kelapa). Hasil percobaan menunjukkan adanya interaksi antara media tanam cocopeat dan air kelapa yang dapat meningkatkan kandungan sulforaphane pada microgreens kubis bunga. Media tanam cocopeat dan vermiculite menunjukan respon terbaik terhadap tinggi microgreens kubis bunga.
Kompatibilitas dan Efektivitas Azospirillum dan Streptomyces untuk Mengendalikan Penyakit Moler pada Bawang Merah di Alfisol Jumantono Hadiwiyono, Hadiwiyono; Fitriana, Faedah; Poromarto, Susilo Hambeg; Cahyani, Vita Ratri
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.50413

Abstract

Pengaruh Azospirillum sp. dan Streptomyces sp. secara terpisah sebagai perlakuan tunggal pada kegiatan budidaya tanaman telah banyak dilaporkan pada penelitian sebelumnya, tetapi sebagai perlakuan kombinasi sebagai agens hayati masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kompatibilitas dan efektivitas Azospirillum sp. dan Streptomyces sp. untuk pengendalian penyakit moler yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f. sp. cepae (FOCe) dan pertumbuhan bawang merah di tanah Alfisol Jumantono. Penelitian terdiri dari uji in vitro (uji antagonisme dan uji kompatibilitas) dan uji in vivo (penanaman pada polybag di screen house). Uji in vitro dilakukan dengan metode dual culture sementara uji in vivo dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang terdiri dari lima perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan terdiri dari perlakuan tanpa agens pengendali hayati, aplikasi fungisida, Azospirillum sp., Streptomyces sp., dan kombinasi Azospirillum sp. dengan Streptomyces sp. semua perlakuan diinkulasikan dengan FOCe.Variabel yang diamati pada uji in vitro yaitu kompatibilitas dan penghambatan pertumbuhan koloni FOCe, sementara pada uji in vivo variabel yang diamati adalah penghambatan terhadap intensitase penyakit serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan bawang merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara in vitro Azospirillum sp. dan Streptomyces sp. kompatibel satu sama lain. Streptomyces sp. menekan pertumbuhan FOCe sebesar 52.96% lebih baik daripada Azospirillum sp. Akan tetapi, hasil uji in vivo menunjukkan Azospirillum sp. dan Streptomyces sp., baik secara individu maupun bersama-sama, belum berhasil memberikan pengendalian yang optimal terhadap penyakit moler pada bawang merah yang ditanam di tanah Alfisols Jumantono. Meskipun aplikasinya mampu mengurangi intensitas penyakit moler, tingkat efektivitasnya termasuk dalam kategori kurang. Selain itu, dampaknya terhadap parameter pertumbuhan bawang merah juga belum hasil yang diharapkan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan dalam metode aplikasi agens pengendali hayati guna mencapai hasil yang diinginkan.
Assessing Soil Degradation Status under Different Types of Agricultural Land (Case Study: Jatisrono Sub-district, Wonogiri District, Indonesia) Mujiyo, Mujiyo; Essla, Verona Putri; Herdiansyah, Ganjar; Herawati, Aktavia
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.48516

Abstract

Kecamatan Jatisrono berada di wilayah perbukitan yang menjadikan lahannya rentan terhadap erosi serta aktivitas lahan. Kondisi ini dapat mempengaruhi produksi biomassa dan menyebabkan kerusakan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status kerusakan tanah, mengkaji faktor penentu kerusakan tanah, serta memberikan rekomendasi pengelolaan tanah di Kecamatan Jatisrono. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2022 pada 36 titik yang mewakili setiap satuan peta lahan (SPL) di Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Parameter pengamatan lahan kering dan lahan basah mengadopsi dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 150 Tahun 2000. Lahan kering meliputi parameter ketebaan solum, kebatuan permukaan, tekstur, bobot volume, porositas, permeabilitas, pH (H2O), daya hantar listrik, potensial redoks, dan jumlah mikroba. Lahan basah meliputi parameter kandungan pirit, kedalaman air tanah dangkal, pH (H2O), daya hantar listrik, dan jumlah mikroba. Metode yang digunakan adalah survei dan deskriptif eksploratif. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Sebanyak 12 satuan peta lahan (SPL) terdiri dari 6 SPL lahan kering (kebun dan tegalan) serta 6 SPL lahan basah (sawah). Hasil penelitian menunjukkan pertanian lahan kering memiliki tingkat kerusakan tanah rusak ringan serta rusak sedang sedangkan lahan basah memiliki tingkat kerusakan tanah tidak rusak serta rusak ringan. Kerusakan tanah lahan kering sangat dipengaruhi oleh kemiringan lereng sedangkan kerusakan tanah lahan basah sangat dipengaruhi oleh jenis tanah. Faktor penentu kerusakan tanah lahan kering adalah bobot volume, porositas, dan permeabilitas tanah. Faktor penentu kerusakan tanah lahan basah adalah pH H2O tanah. Strategi pengelolaan kerusakan tanah lahan kering dengan meningkatkan bahan organik tanah. Strategi pengelolaan kerusakan tanah lahan basah dengan perbaikan irigasi.
Biologi Predator Eocanthecona furcellata Wolff (Hemiptera: Pentatomidae) dengan Mangsa Ulat Grayak Spodoptera frugiperda J. E. Smith di Laboratorium Rustam, Rusli; Syafa’ati, Alfi
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.45286

Abstract

Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan utama di Provinsi Riau. Budidaya kelapa sawit tidak terlepas dari serangan hama ulat api, Setora nitens. Pengendalian hama ini umumnya menggunakan insektisida sintetik sehingga diperlukan alternatif pengendalian dengan menggunakan musuh alami seperti predator Eocanthecona furcellata Wolff. Akan tetapi, pengaplikasiannya memerlukan jumlah predator yang banyak, sehingga perlu dilakukan upaya perbanyakan yang menemukan kendala dalam ketersediaan mangsa sebagai bahan makanannya. Mangsa alternatif yang dapat digunakan adalah Spodoptera frugiperda J. E. Smith. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data biologi E. furcellata yang diberi mangsa larva S. frugiperda. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hama Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Riau. Penelitian ini menggunakan metode observasi yakni mengamati perkembangan E. furcellata pada 100 sampel pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan keperidian E. furcellata mencapai 85,77 telur/imago dan persentase telur menetas sebesar 86,20%. Stadia nimfa terdiri dari lima instar dengan periode waktu nimfa 18,69 hari. Jumlah keturunan betina lebih banyak dari jantan dengan persentase sex ratio kelamin jantan: betina yakni 42,65%: 57,35%. Lama hidup imago betina lebih panjang dibandingkan dengan imago jantan yakni 26,05 hari dan 23,93 hari. Siklus hidup predator E. furcellata selama 49,43 hari. Larva S. frugiperda dapat digunakan sebagai mangsa alternatif dalam perbanyakan predator Eo. Furcellata.
Tingkat Mitigasi Rumah Tangga Petani Padi Sawah Terdampak Banjir di Provinsi Jawa Barat Noor, Trisna Insan; Sulistyowati, Lies; Tridakusumah, Ahmad Choibar; Yudha, Eka Purna; Febriyanti, Tenisya; Syakirotin, Muthiah; Wicaksono, Samuel lantip
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.50261

Abstract

Pemanasan global telah memberikan dampak pada pertanian, salah satunya peningkatan intensitas banjir khususnya di daerah aliran sungai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat mitigasi rumah tangga petani padi sawah yang terdampak banjir dilihat dari perspektif sosial ekonomi, sosiologi, dan spasial di daerah aliran sungai citanduy. Data diperoleh melalui survey terhadap 306 orang responden petani yang tersebar di lokasi studi yang dipilih dengan teknik proportional random sampling, serta melalui wawancara mendalam yang dilakukan dengan para informan kunci yang terdiri dari ketua kelompok tani, tokoh masyarakat, dan perwakilan pemerintah setempat. Data dianalisis dengan menggunakan pendekatan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat mitigasi rumah tangga petani termasuk kategori sedang (3,29), yang dipengaruhi oleh tingkat ketinggian lokasi pemukiman. Semakin rendah elevasi, maka semakin tinggi tingkat mitigasinya. Para petani lebih mementingkan mitigasi non struktural (3,04) dibandingkan dengan mitigasi struktural (3,16). Penelitian ini menyarankan kolaborasi dari berbagai pihak terkait dari mulai kelompok tani hingga ke pemangku kebijakan dalam merancang, mengembangkan, dan menerapkan upaya-upaya mitigasi baik stuktural maupun non struktural. 
Pengaruh Pupuk Controlled Release Fertilizer terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai Merah Besar (Capsicum annuum L.) Putri, Adinda Rosmaya; Hamdani, Jajang Sauman; Drikarsa, Drikarsa; Mubarok, Syariful
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.46560

Abstract

Produktivitas cabai merah besar (Capsicum annuum L.) di Indonesia tahun 2019 sebesar 8,62 ton/ha dimana angka tersebut masih jauh di bawah potensi produktivitasnya (20-30 ton/ha). Angka produktivitas tersebut dapat ditingkatkan dengan pemupukan yang tepat. Controlled Release Fertilizer (CRF) merupakan pupuk yang dikembangkan untuk menyediakan nutrisi dalam kurun waktu lebih lama dan konsisten dengan kebutuhan nutrisi fisiologis tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh CRF terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah besar. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Juni 2022 pada kebun percobaan di Bale Tatanen, Universitas Padjadjaran. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari enam perlakuan dan empat ulangan, yaitu: campuran pupuk tunggal (300 kg/ha Urea, 200 kg/ha TSP, dan 200 kg/ha KCl), NPK konvensional 300 kg/ha, CRF 2 240 kg/ha, CRF 2 300 kg/ha, CRF 3 240 kg/ha, dan CRF 3 300 kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan pengaplikasian CRF memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman cabai yang lebih baik dibandingkan dengan campuran pupuk tunggal dan pupuk NPK konvensional dilihat dari tinggi tanaman, diameter batang, indeks klorofil daun, jumlah buah cabai per tanaman, dan bobot buah cabai per tanaman namun tidak menunjukkan perbedaan signifikan untuk panjang dan lebar daun, bobot per buah cabai, serta panjang dan diameter buah cabai. Perlakuan yang memberikan pengaruh terbaik adalah pupuk CRF 2 dosis 300 kg/ha.