cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agrikultura
ISSN : 08532885     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrikultura terbit tiga kali setahun (April, Agustus dan Desember), memuat artikel hasil penelitian dan kupasan (review) orisinal hasil dari penelitian yang sebagian telah dilakukan penulis, dan komunikasi singkat.
Arjuna Subject : -
Articles 395 Documents
Analisis Efektivitas Diseminasi Inovasi Pertanian Komoditas Bawang Merah (Studi Kasus: Tiga Daerah Sentra Produksi Bawang Merah di Indonesia) Sihombing, Yennita; Mardiharini, Maesti; Indrawanto, Chandra; Wasito, Wasito; Hermawan, Hari; Mulyono, Joko; Purba, Samuel Fery
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.48909

Abstract

Pada tahun 2021, produksi bawang merah di Indonesia mencapai 2.004,59 ribu ton. Bawang merah memiliki banyak khasiat bagi kesehatan manusia, tetapi petani belum memanfaatkan sepenuhnya inovasi pertanian. Adopsi inovasi dan teknologi pertanian komoditas bawang merah memiliki peran yang sangat penting untuk meningkatkan produktivitas bawang merah, kesejahteraan dan ketahanan pangan khususnya bagi petani di daerah tempat pelaksanaan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak penyebarluasan inovasi pertanian komoditas bawang merah yang diaplikasikan di tiga daerah sentra produksi bawang merah (Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Barat). Metode penelitian yang digunakan bersifat kombinasi, yaitu metode kuantitatif yang dianalisis menggunakan structural equation modeling - partial least square (SEM-PLS) dan metode kualitatif yang dianalisis melalui studi pustaka dan wawancara. Responden penelitian sebanyak 93 orang petani bawang merah di tiga lokasi penelitian. Variabel penelitian terdiri dari variabel independen yaitu sumber, pesan, saluran, dan penerima, sedangkan variabel dependen yaitu output dan dampak awal. Temuan penelitian menyatakan bahwa variabel output secara langsung berpengaruh signifikan terhadap variabel dampak awal. Variabel pesan dan penerima memiliki pengaruh langsung dan signifikan terhadap variabel output. Sementara itu, variabel pesan dan penerima secara tidak langsung berpengaruh signifikan terhadap variabel dampak awal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keunggulan teknologi, kesesuaian teknologi dengan kebutuhan, pendidikan informal, kapasitas petani, tingkat adopsi, dan peningkatan produktivitas usaha tani mampu meningkatkan pendapatan dan ketahanan petani responden serta mampu mempercepat difusi inovasi teknologi pertanian ke petani komoditas bawang merah.
Strategi Pengembangan Usahatani Kelapa Dalam di Kecamatan Pengabuan Kabupaten Tanjung Jabung Barat Ningsih, Rozaina
Agrikultura Vol 35, No 1 (2024): April, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i1.50862

Abstract

Komoditas kelapa dalam menjadi peranan penting dalam keberlangsungan hidup masyarakat Indonesia, yang dimanfaatkan untuk industri maupun rumah tangga. Namun, pembudidayaannya sering disepelekan oleh petani sehingga menyebabkan penurunan produksi dan dapat membahayakan keberadaan tanaman turun temurun ini. Maka dari itu, diperlukan strategi yang tepat untuk mengembangkan daerah yang mempunyai potensi usahatani kelapa dalam. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui faktor internal dan eksternal usahatani kelapa dalam di Kecamatan Pengabuan, dan 2) merumuskan strategi prioritas dalam pengembangan usahatani kelapa dalam di Kecamatan Pengabuan. Metode analisis menggunakan kombinasi antara kualitatif dengan teknik analisis SWOT-AHP dan kuantitatif menggunakan metode survei. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) hasil identifikasi faktor internal kekuatan adalah kecocokan lahan, komoditas turun temurun, drainase yang baik, tersedianya penangkar benih dan pengalaman usahatani. faktor internal kelemahan adalah tidak adanya pemupukan, tidak adanya pengendalian hama dan penyakit, tidak adanya pemeliharaan usahatani yang baik, produktivitas rendah dan modal petani rendah. selain itu faktor eksternal peluang adalah menghadirkan usaha minyak kelapa, menghadirkan usaha briket arang, menghadirkan usaha nata de coco, permintaan selalu ada, hadirnya teknologi budidaya untuk meningkatkan produksi. faktor eksternal ancaman adalah harga jual petani rendah, adanya alih komoditi, tidak adanya kelembagaan pembinaan petani, tidak adanya kelembagaan permodalan petani serta akses ke lembaga permodalan tersebut dan tidak hadirnya teknologi hilirisasi. 2) Strategi prioritas yaitu memanfaatkan geografi dan drainase lahan, penggunaan benih unggul melalui penangkar benih untuk menjaga eksistensi komoditas turun-temurun sehingga dapat memenuhi permintaan pasar serta sebagai dasar menghadirkan usaha-usaha yang dapat mengembangkan usahatani dan mendorong masuknya teknologi budidaya yang dapat mengembangkan usahatani.
Pengaruh Konsentrasi Hara terhadap Pertumbuhan Selada (Lactuca sativa L.) pada Media Rockwool Suharjo, Suharjo
Agrikultura Vol 35, No 1 (2024): April, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i1.40779

Abstract

Fenomena keterbatasan lahan pertanian menuntut penggunaan teknik budidaya tanaman yang benar-benar mandiri dari lahan pertanian biasa seperti penggunaan sistem hidroponik.  Penelitin bertujuan untuk mengkaji pengaruh nutrisi terhadap pertumbuhan tanaman selada secara hidroponik dan berapa takaran nutrisi yang dapat memberikan pengaruh secara signifikan  terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman lada secara hidroponik. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Oktober sampai Desember 2021 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Unilaki Sulawesi Tenggara. Variabel pengamatan yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan berat segar tanaman. Data yang diperoleh diuji dengan analisis varians dilanjutkan dengan uji BNT 5%.  Hasil penelitian menunjukan bahwa uji BNT 5% terhadap perlakuan konsentrasi nutrisi pada semua paramater yang diukur menunjukkan perbedaan yang nyata. Kesimpulan dari penelitian menunjukkan adanya pengaruh nyata dari pemberian nutrisi terhadap pertumbuhan tanaman selada secara hidroponik dari berbagai parameter yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan berat segar tanaman. Takaran terbaik adalah pemberian nutrisi dengan konsentrasi 1000 ppm dibandingkan dengan takaran nutrisi lainnya yang dicobakan (900 ppm, 800 ppm, dan 700 ppm).
Identifikasi Polen sebagai Indikator Keanekaragaman Tumbuhan Sumber Pakan Lebah Madu (Apis cerana F.) di Kawasan Konservasi Hutan Kota di Kabupaten Bandung, Jawa Barat Kusmoro, Joko; Febrian, Rifky Rochimat; Shanida, Syasya; Husodo, Teguh; Mutaqin, Asep Zainal; Hermawan, Wawan
Agrikultura Vol 35, No 1 (2024): April, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i1.42694

Abstract

Lebah madu (Apis cerana) merupakan serangga penyerbuk yang efektif dan berperan dalam meningkatkan produksi tanaman pertanian. Kehidupan lebah madu sangat bergantung pada sumber pakan yang dapat diperoleh dari tanaman yang ada di kawasan hutan, area perkebunan atau pertanian. Tanaman menyediakan polen sebagai sumber nutrisi, sementara lebah madu akan membantu proses penyerbukan. Tumbuhan yang beragam dapat meningkatkan persediaan nutrisi serangga penyerbuk, meningkatkan jumlah penyerbuk dan pada akhirnya akan meningkatkan hasil panen. Polen memiliki lapisan dinding sel polimer sporopolenin yang sangat stabil sehingga morfologi polen tidak akan berubah dan dapat digunakan sebagai indikator untuk mengetahui jenis maupun keanekaragaman tumbuhan yang menjadi sumber pakan lebah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan persentase jenis-jenis polen tumbuhan sebagai sumber pakan A. cerana. Penelitian dilakukan di kawasan konservasi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Kabupaten Bandung, Jawa Barat dari bulan September 2021 sampai Mei 2022. Pengambilan sampel butir polen dilakukan menggunakan metode perangkap polen. Identifikasi jenis-jenis polen yang tertangkap pada perangkap polen dilakukan di Laboratorium Biosistematik dan Molekuler, Departemen Biologi, Universitas Padjadjaran menggunakan metode asetolisis yang dilanjutkan dengan menghitung persentase masing-masing jenis polen tumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 27 jenis polen yang berasal dari 20 famili tumbuhan. Persentase polen terbesar ditemukan pada jenis Ageratum conyzoides (44,28%), sedangkan nilai presentasi terkecil ditemukan pada jenis Ceiba pentandra dan Pinus merkusii (0,12%). Informasi keragaman tanaman sumber pakan lebah mempunyai peranan yang penting dalam mendukung budidaya lebah madu.
Uji Kitosan Nano dan Silika Nano untuk Menekan Pertumbuhan Rhizoctonia solani dan Penyakit Rebah Semai Padi Hersanti, Hersanti; Arisaputri, Annisa; Istifadah, Noor
Agrikultura Vol 35, No 1 (2024): April, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i1.50758

Abstract

Penyakit rebah semai yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani merupakan penyakit penting pada tanaman padi. Penggunaan pestisida kimia sintetik yang biasa dilakukan dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu alternatif pengendalian ramah lingkungan adalah memanfaatkan bahan alami, yaitu kitosan dan silika berukuran nano. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan kitosan nano dan  silika nano dalam menghambat pertumbuhan R. solani secara in vitro dan menekan perkembangan penyakit rebah semai padi. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi dan rumah kaca Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran dari bulan Januari hingga Mei 2022. Percobaan dilakukan dalam dua tahap, yaitu uji in-vitro dan in-vivo. Uji in-vitro (poisoned food) menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan sepuluh perlakuan dan tiga ulangan. Uji in-vivo (seed treatment) menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan sebelas perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu aplikasi kitosan nano  50 ppm, kitosan nano 100 ppm, kitosan nano 200 ppm, silika nano 50 ppm, silika nano 100 ppm, silika nano 200 ppm, kitosan nano 50 ppm + silika nano 50 ppm, kitosan nano 100 ppm + silika nano 100 ppm, dan fungsisida mankozeb 80% 2 mL/L. Hasil pengujian in-vitro diperoleh bahwa perlakuan tunggal kitosan nano 200 ppm dan perlakuan campuran kitosan nano 100 ppm + silika nano 100 ppm merupakan konsentrasi paling menghambat pertumbuhan koloni R. solani pada PDA, dengan  penghambatan berturut-turut  sebesar 92,2% dan 96,6%. Hasil uji in-vivo menunjukkan perlakuan silika nano tunggal pada konsentrasi 100 ppm dan perlakuan campuran kitosan nano 100 ppm + silika nano 100 ppm merupakan konsentrasi paling menekan kejadian penyakit rebah semai padi dengan penghambatan berturut-turut sebesar 97,16% dan 98,64%.
Uji Ekstrak Metanol Biji Kembang Telang (Clitoria ternatea L.) dalam Menghambat Pertumbuhan Koloni serta Produksi dan Perkecambahan Konidia Jamur Fusarium oxysporum f. sp. cepae Suganda, Tarkus; Kaltsum, Rumaisha Thifaaliyah; puspasari, Lindung Tri; Yulia, Endah
Agrikultura Vol 35, No 1 (2024): April, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i1.53887

Abstract

Fusarium oxysporum f. sp. cepae (FOC) adalah patogen penyebab penyakit moler pada bawang merah, dan termasuk salah satu patogen yang sulit untuk dikendalikan. Pengendalian menggunakan pestisida sintetik tidak dianjurkan karena mampu membahayakan ekosistem. Salah satu alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk pengendalian adalah dengan menggunakan pestisida nabati. Tanaman kembang telang berpotensi untuk digunakan sebagai bahan pestisida nabati, terutama bagian bijinya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan ekstrak metanol biji kembang telang dalam menghambat pertumbuhan koloni, produksi konidia, serta perkecambahan konidia FOC. Percobaan dilakukan di Laboratorium Fitopatologi Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran pada bulan April sampai dengan September 2023. Percobaan dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas 6 konsentrasi ekstrak (0,1; 1; 2; 3; 4; 5%) dengan 4 ulangan. Pengujian terhadap penghambatan pertumbuhan koloni dilakukan menggunakan metode makanan beracun (poison food), sementara pengujian terhadap penghambatan produksi konidia dilakukan dengan menghitung kerapatan konidia setelah aplikasi ekstrak, dan pengujian terhadap penghambatan perkecambahan dilakukan dengan menghitung jumlah konidia yang berkecambah pada campuran agar-konidia yang telah diaplikasikan ekstrak. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak metanol biji kembang telang mampu menghambat pertumbuhan koloni dan perkecambahan konidia FOC, namun tidak mampu menghambat produksi konidianya. Penghambatan tertinggi terhadap pertumbuhan koloni ditunjukkan oleh konsentrasi 3-5% dengan persentase penghambatan 18,5-25,4%, sementara penghambatan tertinggi terhadap perkecambahan konidia ditunjukkan oleh konsentrasi 5%, dengan persentase penghambatan 18,1%.
Eksplorasi dan Identifikasi Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) serta Karakteristik Tanah Lahan Pasca Tambang Batu Bara pada Tingkat Kelerengan Berbeda di Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto Wisnubroto, Muhammad Parikesit; Armansyah, Armansyah; Anwar, Aswaldi; Suhendra, Dede
Agrikultura Vol 35, No 1 (2024): April, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i1.53685

Abstract

Kegiatan penambangan memberikan nilai keuntungan ekonomi yang cukup besar bagi suatu negara, salah satunya tambang batu bara. Akan tetapi, dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan juga relatif besar. Upaya revegetasi lahan dapat dicapai antara lain dengan penggunaan fungi mikoriza arbuskular (FMA). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh FMA indigen dari lahan bekas tambang batu bara di Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto untuk dikembangkan sebagai sumber inokulum, sehingga dapat diaplikasikan dalam upaya revegetasi lahan. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel tanah dari lahan bekas tambang batu bara sebanyak sepuluh titik yang dibedakan menjadi lima macam tipe kelerangan yaitu datar, landai, curam, agak curam, dan sangat curam. Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa lahan bekas tambang batu bara tergolong tanah marginal dengan tingkat kesuburan rendah ditandai dengan dominasi fraksi pasir, pH rendah, kadar hara P, N, K, Ca, Mg, dan KTK yang rendah serta memiliki kandungan unsur logam Al dan Pb yang tinggi. Adapun dari lima kategori kelerengan ditemukan empat jenis spora FAM yaitu Glomus sp., Acaulospora sp., Gigaspora sp., dan Sclerocystis sp. Lereng datar memberikan jumlah spora tertinggi dibanding lereng lainnya. Glomus sp. memiliki kemampuan adaptasi yang lebih tinggi di semua tipe lereng dibandingkan jenis lain. Semakin tinggi pH dan kadar P dalam tanah, jumlah dan keanekaragaman spora akan semakin menurun. Sementara itu, semakin tinggi nilai KTK tanah, jumlah dan keanekaragaman spora akan semakin tinggi sampai batas optimal tertentu bergantung dari kemampuan adaptasi masing-masing spora FMA.
Kandungan Hormon dan Pertumbuhan Tanaman pada Bioassay Bibit Kentang yang Diberi Fungi Mikoriza Arbuskula dan Mycorrhizal Helper Bacteria Nurbaity, Anne; Suminar, Erni; Istifadah, Noor
Agrikultura Vol 35, No 1 (2024): April, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i1.49851

Abstract

Produksi bibit tanaman kentang secara in vitro melalui kultur jaringan merupakan teknik yang sedang berkembang. Berbagai upaya peningkatan kualitas bibit tanaman kentang telah dilakukan dan salah satu alternatifnya adalah dengan aplikasi pupuk hayati fungi mikoriza arbuskula (FMA) dan mycorrhizal helper bacteria (MHB). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons pertumbuhan serta hormon yang dihasilkan FMA dan MHB pada bibit tanaman kentang yang dikulturkan secara in vitro. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas empat jenis media tumbuh dan sepuluh replikasi. Media tumbuh meliputi Murashige & Skoog (MS) kontrol, dengan FMA, MHB, dan kombinasi FMA dan MHB. Untuk melakukan inokulasi, 10 spora FMA (Glomus sp.) yang telah disterilisasi ditransfer ke zona akar tanaman, dan MHB (Pseudomonas diminuta) ditambahkan ke dalam media. Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan bibit, berat segar akar dan pupus, serta hormon auksin, giberelin dan sitokinin (2 MST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa FMA dan MHB menghasilkan hormon auksin, giberelin dan sitokinin. Efek pupuk hayati terhadap hormon tumbuh yang dihasilkan dan pertumbuhan bibit kentang berbeda secara signifikan. Selanjutnya, inokulasi FMA tunggal memiliki pengaruh yang sama dengan media MSR yang diinokulasi kombinasi FMA dan MHB terhadap pertumbuhan bibit tanaman kentang. Sintesis hormon sangat signifikan pada media yang diinokulasi MHB. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi pupuk hayati FMA bersama MHB mempengaruhi pertumbuhan tanaman yaitu tinggi tanaman sebesar 9,01 cm atau 19,6% lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol dan meningkatkan bobot segar sebesar 12,72 g atau 60% lebih tinggi dibandingkan kontrol. Peningkatan pertumbuhan tanaman ini terkait dengan tingkat hormon tumbuh yang dihasilkan oleh FMA dan MHB yang juga lebih tinggi yaitu 4,06, 8,62 dan 5,77 µmol/mol NTP berturut-turut untuk auksin, giberelin dan sitokinin.
Evaluasi Status Hara Makro Nitrogen, Fosfor dan Kalium di Lahan Sawah Irigasi Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara Batubara, Siti Fatimah; Ulina, Evawaty Sri; Chairuman, Novia; Lumban Tobing, Jeannette Maryanty; Aryati, Vivi; Manurung, Erpina Delina; Purba, Hendri Ferianson; Parhusip, Dorkas
Agrikultura Vol 35, No 1 (2024): April, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i1.50844

Abstract

Evaluasi dan identifikasi unsur hara tanah sawah untuk mengetahui status hara baik secara kualitatif maupun kuantitatif penting untuk dilakukan. Proses identifikasi diharapkan mudah, murah, cepat dan aplikatif bagi petani. Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) merupakan suatu teknologi yang dirancang untuk mengidentifikasi status hara tanah dan juga memberikan rekomendasi pemupukan khususnya untuk padi sawah. Penelitian ini dilaksanakan pada dua wilayah lahan sawah irigasi di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara tepatnya di Desa Pasar Miring, Kecamatan Pagar Merbau dan Desa Kramat Gajah, Kecamatan Galang. Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Mei 2023 ini bertujuan untuk mengidentifikasi status hara makro primer yaitu nitrogen, fosfor, dan kalium di lahan sawah irigasi dengan beberapa pola tanam berbeda. Penelitian ini menggunakan metode survei lapangan dan uji tanah langsung di lapangan dengan menggunakan PUTS. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kesuburan tanah pada dua wilayah penelitian termasuk sedang. Secara umum, status hara nitrogen tergolong rendah sedangkan fosfor dan kalium tergolong tinggi. Merujuk pada perbandingan dosis pupuk antara rekomendasi PUTS dan aplikasi petani secara umum di lokasi penelitian diketahui bahwa dosis aplikasi pupuk oleh petani belum sesuai. Pada lahan berstatus N rendah dan sedang perlu penambahan pupuk urea sebanyak 4-27 kg/ha sedangkan untuk lahan berstatus N tinggi dan sangat tinggi perlu pengurangan 40-90 kg/ha. Pupuk SP-36 pada status P rendah, sedang, dan tinggi perlu penambahan 15-65 kg/ha sementara pupuk KCl dapat dikurangi atau ditambahkan 25 kg/ha tergantung perlakuan jerami dari musim tanam sebelumnya.
Tipe Puru dan Serangga yang Berasosiasi pada Puru Daun Mangga (Mangifera indica L.) Varietas Gedong Gincu di Desa Karyamukti, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang Puspasari, Lindung Tri; Nurochman, Irvan Sopyan; Meliansyah, Rika; Dewi, Vira Kusuma; Bari, Ichsan Nurul; Qosim, Warid Ali
Agrikultura Vol 35, No 1 (2024): April, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i1.54017

Abstract

Serangga pembentuk puru merupakan hama potensial yang dapat menurunkan hasil panen mangga dengan menghambat pertumbuhan bunga dan pembentukan buah pada tanaman. Informasi terkait serangga pembentuk puru serta parasitoidnya di Indonesia masih terbatas sehingga penting dipelajari jenis serta keragamannya dalam mendukung usaha pengendaliannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari jenis-jenis puru dan mengidentifikasi serangga pembentuk puru serta parasitoidnya yang berasosiasi pada puru daun mangga. Penelitian dilakukan dari bulan September 2022 hingga bulan April 2023 di Desa Karyamukti, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang.Pemeliharaan sampel daun mangga bergejala puru dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Proteksi Tanaman, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Identifikasi morfologi serangga dilakukan di Laboratorium Hama Tanaman, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Sampel daun bergejala puru diambil secara purposive sampling pada 50 pohon mangga varietas Gedong Gincu kemudian dilakukan identifikasi morfologi pada serangga yang muncul dari daun bergejala puru tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puru daun mangga yang ditemukan dapat dibedakan menjadi lima bentuk yaitu pustulate, low-doughnut, bell-shaped, conical, dan circular-blister. Serangga yang berasosiasi di dalamnya terkonfirmasi secara morfologi ada yang berperan sebagai pembentuk gejala puru yaitu Procontarinia robusta, beberapa parasitoid yaitu Chrysonotomyia sp., Pediobius sp., Mangostigmus sp., Eurytoma sp.1, Euryotoma sp.2, Platygaster sp., Eupelmus sp., dan Pteromalidae sp.1, serta satu serangga inquilines yaitu Phlaeothripidae sp.1. Hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi penting terhadap pengetahuan dasar tentang pola serangan serangga di tanaman mangga dan merupakan data dasar untuk penerapan pengendalian hama.