cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agrikultura
ISSN : 08532885     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrikultura terbit tiga kali setahun (April, Agustus dan Desember), memuat artikel hasil penelitian dan kupasan (review) orisinal hasil dari penelitian yang sebagian telah dilakukan penulis, dan komunikasi singkat.
Arjuna Subject : -
Articles 413 Documents
Analisis Kapasitas Infiltrasi pada Beberapa Tipe Lahan Tegalan di Kelurahan Sasa Kecamatan Ternate Selatan Hartati, Tri Mulya; Teapon, Amiruddin; Wati, Indah; Vitri Indrawati, Urai Suci Yulies; Aji, Krishna
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.47021

Abstract

Pengembangan lahan tegalan di Kelurahan Sasa Kecamatan Ternate Selatan melibatkan pengolahan tanah secara intensif sehingga memiliki struktur tanah yang renggang dengan porositas yang tinggi. Demikian juga dengan kondisi alami tanahnya yang bertekstur lempung dan berpasir dapat menyebabkan meningkatnya laju infiltrasi serta turut menentukan ketersediaan air yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kapasitas infiltrasi, infiltrasi kumulatif dan karakteristik tanah yang memengaruhi kapasitas infiltrasi. Penelitian ini menggunakan metode percobaan lapangan dengan menggunakan double ring infiltrometer dalam mengukur laju infiltrasi. Analisis data meliputi laju infiltrasi aktual, kapasitas infiltrasi dan infiltrasi kumulatif. Hasil penelitian menunjukkan lahan tegalan dengan olah tanah minimum (Tg-Otm) memiliki kapasitas infiltrasi lebih rendah dibandingkan dengan lahan tegalan tanpa olah tanah (Tg-Tot) dan lahan tegalan dengan olah tanah intensif (Tg-Oti), demikian juga dengan infiltrasi kumulatifnya. Kondisi tersebut terjadi karena lahan tegalan dengan olah tanah minimum (Tg-Otm) memiliki tekstur tanah agak halus, bahan organik tanah rendah, berat volume tanah lebih tinggi, berat jenis partikel lebih rendah, porositas tanah sedang, kadar air tanah lebih tinggi dan permeabilitas tanah agak lambat.
Hubungan Penerapan GAP dan GHP dengan Mutu Lada Putih (Piper nigrum L.) di Kabupaten Bangka Anjani, Nikmah Ceusaria; Kusmiadi, Riwan; Inonu, Ismed
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.43151

Abstract

Penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Handling Practices (GHP) dalam produksi komoditas pertanian merupakan hal yang sangat penting untuk meningkatkan daya saing produk pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan GAP dan GHP lada, mutu lada petani, dan mengetahui hubungan GAP dan GHP dengan mutu lada putih di Kabupaten Bangka. Penelitian dilakukan pada Februari – Juni 2021. Metode yang digunakan adalah melakukan survei terhadap 30 petani dan pengujian mutu lada petani di Laboratorium. Analisis data menggunakan regresi linear berganda dan korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan GAP oleh petani untuk variabel pembibitan, pemeliharaan dan pemanenan baik, variabel pengendalian hama dan penyakit buruk. GHP yang diterapkan oleh petani pada tiap variabel telah dilakukan dengan baik. Mutu lada putih di Kabupaten Bangka termasuk rendah karena lada petani belum memenuhi SNI sebanyak 83.3%, lada dengan mutu II sebanyak 16.67% dan tidak terdapat lada petani yang memenuhi mutu I. Persamaan regresi pada GAP menunjukkan bahwa kegiatan pemanenan memberikan pengaruh paling besar terhadap mutu lada dan nilai korelasi sebesar +0.563 yaitu korelasi sedang. Persamaan regresi pada GHP menunjukkan kegiatan panen dan penanganan buah lada memberikan pengaruh paling besar pada mutu lada dengan nilai korelasi sebesar +0.325 yaitu korelasi lemah. Kegiatan GAP mempunyai pengaruh lebih besar dibandingkan GHP terhadap mutu lada.
Uji Peningkatan Perkecambahan dan Vigor Benih Padi Varietas Junjuang dengan Isolat Trichoderma spp. Indigenous Elita, Nelson; Susila, Eka; Sari, Deliana Andam; Illahi, Ayu Kurnia
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.45941

Abstract

Budidaya padi dengan metode System of Rice Intensification (SRI) menggunakan bibit muda berumur 8-12 hari saat penanaman di lapangan. Bibit padi muda bermasalah ketika ditransplantasikan ke lapangan karena rentan kerusakan, penyakit dan stres lingkungan. Peningkatan kekuatan dan kesehatan kecambah padi dilakukan dengan memanfaatkan mikroba Plant Growth Promoting Fungi (PGPF) yaitu jamur Trichoderma spp. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh isolat Trichoderma spp.  indigenous yang memiliki kemampuan meningkatkan kualitas perkecambahan dan vigor benih padi verietas Junjuang. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tujuh perlakuan Trichoderma spp. yaitu T0 = kontrol, T1 = Trichoderma sp. asal rumpun varietas Ketan Merah, T2 = Trichoderma sp. asal varietas Pandan Wangi, T3 = Trichoderma sp. asal varietas Junjuang, T4 = Trichoderma sp. asal varietas Cisokan, T5 = Trichoderma sp. asal varietas Kuning Kuriak, dan T6 = Trichoderma sp. asal varietas Siliah Baganti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang tunas, berat tunas, panjang akar, berat varietas Junjuang lebih sesuai dengan benih varietas Junjuang. Aplikasi isolat Trichoderma spp. pada perkecambahan benih dapat meningkatkan daya kecambah benih dibandingkan dengan kontrol.
Identifikasi Virus Penyebab Penyakit Kuning Keriting pada Cabai di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan Hamdayanty, Hamdayanty; Hardina, Nur
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.42833

Abstract

Cabai merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia baik sebagai bumbu dapur maupun pelengkap makanan. Tingkat produksi cabai merah masih berfluktuasi. Salah satu penyebabnya yakni adanya serangan Pepper yellow leaf curl virus (PepYLCV). Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi secara molekuler penyakit PepYLCV dan melaporkan keberadaan penyakit tersebut pada pertanaman cabai di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Pengambilan sampel tanaman cabai dilakukan di tiga kecamatan berbeda di Kabupaten Gowa dimana cabai banyak ditanam. Sampel yang diambil selanjutnya diekstraksi yang dilanjutkan dengan proses PCR, sekuen nukleotida, dan analisis filogenetika. Gejala infeksi virus pada tanaman cabai yang ditemukan pada tiga kecamatan di Kabupaten Gowa adalah mosaik kuning dan hijau, daun menggulung, melengkung ke atas dan/atau ke bawah, dan tanaman kerdil. Keparahan penyakit dan kejadian penyakit PepYLCV di Kabupaten Gowa masing-masing 78% dan 44%. Gejala infeksi virus pada tanaman cabai positif terinfeksi Begomovirus dan hasil analisis sekuensing menunjukkan bahwa virus tersebut adalah PepYLCV. PepYLCV di Kabupaten Gowa memiliki kekerabatan yang dekat dengan PepYLCV Bali. Hasil penelitian ini merupakan laporan pertama keberadaan PepYLCV di Sulawesi Selatan.
Potensi Bahan Organik Cair Berbasis Limbah Bonggol Pisang Terhadap Pertumbuhan Teh (Camellia sinensis (L) O. Kuntze) Anjarsari, Intan Ratna Dewi; Primadi, Ilhamsyah; VZ, Cucu Suherman
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.46200

Abstract

Tersedianya unsur hara dan air yang cukup merupakan salah satu syarat untuk keberhasilan kegiatan pembibitan dalam perbanyakan tanaman teh. Pertumbuhan bibit yang baik ditandai dengan seimbangnya pertumbuhan perakaran dan batang dengan daun. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsentrasi dan interval pemberian bahan organik cair (BOC) bonggol pisang dalam meningkatkan pertumbuhan bibit teh serta untuk mendapatkan informasi konsentrasi dan interval BOC bonggol pisang yang memberikan pengaruh terbaik untuk pertumbuhan bibit teh. Percobaan dilaksanakan pada bulan Desember 2021 sampai Maret 2022 di Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang berada pada ketinggian ±1.350 m dpl. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan sembilan kombinasi perlakuan yang diulang tiga kali. Perlakuan yang diuji yaitu pupuk urea sebagai kontrol, dan kombinasi konsentrasi BOC bonggol pisang (10%, 20%, 30% dan 40%) dengan interval pemberian BOC (7 dan 14 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian BOC bonggol pisang pada konsentrasi 40% dengan interval 7 hari sekali (28,60 cm) memberikan pengaruh lebih baik untuk variabel panjang akar (12 MSP) dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik urea (19,88 cm).  Pemberian BOC bonggol pisang konsentrasi 10 – 40% yang dikombinasikan dengan interval aplikasi 7 hari dan 14 hari dapat menjadi alternatif pemupukan organik pada pembibitan setek teh klon GMB 7 yang berumur delapan bulan.
Dinamika Populasi Kumbang Elaeidobius kamerunicus Faust sebagai Polinator Utama pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya Sari, Wulan Kumala; Emmi, Riza
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.48446

Abstract

Secara alami, kelapa sawit adalah tanaman menyerbuk silang. Oleh karena itu, kumbang Elaeidobius kamerunicus Faust sangat berperan dan paling efektif sebagai serangga penyerbuk utama pada tanaman kelapa sawit karena berkaitan langsung dengan proses polinasi dan fertilisasi yang sangat berpengaruh terhadap hasil panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika populasi kumbang E. kamerunicus sebagai polinator utama pada tanaman kelapa sawit di Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Sitiung pada tiga Nagari (Desa/Kelurahan) yang berbeda yaitu di Siguntur, Sitiung dan Sungai Duo. Metode scan sampling digunakan dalam pengamatan dan tahapan dalam penelitian meliputi penentuan lokasi, penentuan bunga kelapa sawit betina dan jantan, serta pengamatan frekuensi kunjungan dan kelimpahan populasi kumbang E. kamerunicus. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa jumlah populasi kumbang E. kamerunicus lebih dari 20.000 ekor per hektar artinya peran serangga ini sudah cukup efektif di lahan/lokasi penelitian. Frekuensi kunjungan E. kamerunicus tertinggi (432 kumbang/tanaman/jam) ditemukan pada pagi hari pukul 09.00-10.00 WIB dan terendah (96 kumbang/tanaman/jam) pada sore hari pukul 16.00-18.00 WIB di Siguntur. Kelimpahan populasi E. kamerunicus terbesar (23.144 individu/tandan) ditemukan di Sungai Duo pada pagi hari sekitar pukul 08.30-10.00 WIB.
Perbaikan Kualitas Lahan pada Berbagai Kelas Hidrotopografi di Lahan Rawa Pasang Surut Delta Salek Banyuasin, Sumatera Selatan Imanudin, Momon Sodik; Bakri, Bakri; Madjid, Abdul; Warsito, Warsito; Sahil, Mawardi Abi; Hermawan, Agus
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.47018

Abstract

Sebagian besar produktivitas pertanian di lahan pasang surut masih rendah. Hal ini disebabkan oleh permasalahan utama pada tingkat kesuburan dan kecukupan airnya. Penelitian ini bertujuan untuk menilai status kesuburan tanah dan menyusun rekomendasi perbaikan kualitas lahan pada berbagai kelas hidrotopografi di lahan rawa pasang surut. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus-Oktober 2022 pada pertanaman padi di areal lahan reklamasi rawa pasang surut desa Sri Mulyo, Sri Katon dan Sido Harjo Kecamatan Air Salek, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Metode yang digunakan adalah survei dengan tingkat semi detail, area pengambilan sampel meliputi lahan kelas hidrotopografi A (basah, potensi irigasi pasang surut pada musim hujan dan musim kemarau), B (irigasi pasang surut hanya untuk musim hujan), dan C (kering, tadah hujan). Data lapangan meliputi karakteristik sifat fisik tanah, kedalaman air tanah dan lapisan pirit. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Kimia, Biologi dan Kesuburan Tanah serta Laboratorium Fisika dan Konservasi Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya meliputi analisis tekstur, bobot isi tanah, pH, C-organik, N-total, P-tersedia dan K-dd. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status kesuburan tanah tergolong sedang dan tidak terdapat pengaruh yang nyata antara kelas hidrotopografi dengan status kesuburan tanah. Namun, kedalaman pirit di lahan tipe C lebih rendah daripada di tipe A dan B. Kondisi ini mengharuskan pengelolaan lahan yang lebih hati-hati di tipe C untuk tetap menjaga kedalaman air tanah berada di zona akar agar terhindar dari oksidasi pirit serta pengelolaan air untuk meningkatkan retensi air hujan dan menjaga kedalaman air tanah tetap berada di atas lapisan pirit. Selain itu, operasi pintu di saluran tersier disarankan untuk lebih banyak ditutup sehingga air di saluran tidak hilang selama budidaya tanaman padi dilakukan. Pemberian bahan amelioran seperti sekam padi juga sangat dianjurkan untuk memperbaiki kualitas tanah pada lokasi tersebut.
Analisis Pendapatan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Jagung Hibrida: Sebuah Kasus di Kabupaten Soppeng Mahyuddin, Mahyuddin; Firman, Citra Maelani; Salam, Muslim
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.40839

Abstract

Jagung hibrida merupakan komoditas yang penting dibudidayakan karena permintaannya terus meningkat. Kabupaten Soppeng di Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah yang sebagian besar lahannya digunakan untuk berusahatani jagung hibrida. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis besar pendapatan yang diterima oleh petani jagung hibrida, dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi jagung hibrida. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Baringeng Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng pada Januari – Februari 2022. Metode yang digunakan adalah survai dengan melakukan wawancara berdasarkan kuesioner. Penentuan sampel menggunakan Simple Random Sampling dengan jumlan petani responden sebanyak 43 orang. Analisis data yang digunakan adalah analisis pendapatan dan analisis fungsi produksi Cobb-Douglass. Diketahui rata-rata produksi jagung hibrida di lokasi penelitian sebesar 5.656 kg/ha dengan penerimaan Rp 22.624.000/ha dan total biaya sebesar Rp 9.518.641/ha. Rata-rata pendapatan yang diperoleh petani sebesar Rp 13.105.359/ha. Hasil analisis fungsi produksi cobb-douglass, diperoleh hasil bahwa seluruh variabel bebas yang diuji berpengaruh secara simultan terhadap variabel terikat. Secara parsial variabel yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi jagung hibrida diantaranya variabel luas lahan, benih, pupuk urea, dan pupuk NPK.
Deteksi dan Identifikasi Begomovirus pada Tembakau yang Ditanam Tumpang Sari dengan Tanaman Cabai Sutrawati, Mimi; Nadrawati, Nadrawati; Djamilah, Djamilah; Aulia, Ewa
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.47941

Abstract

Beragam spesies Begomovirus telah dilaporkan di berbagai daerah di Indonesia. Gejala penyakit mosaik menguning akibat infeksi Begomovirus telah dilaporkan pada berbagai tanaman budidaya di Bengkulu antara lain cabai, mentimun, labu, melon, pepaya, dan gulma. Tanaman tembakau banyak ditanam sebagai tanaman pinggir di lahan budidaya cabai. Berdasarkan pengamatan di lahan budidaya cabai di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu ditemukan tembakau bergejala keriting dan mosaik kuning. Tujuan penelitian ini adalah mendeteksi dan mengidentifikasi Begomovirus penyebab penyakit mosaik menguning tembakau di Bengkulu. Deteksi dan identifikasi virus dilakukan dengan menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) menggunakan primer universal yang mengkode transcriptional activator protein (TrAp) dan replication-associated protein (Rep) dengan target fragmen ± 900 pb. Hasil amplifikasi PCR menunjukkan adanya pita target ± 900 pb pada sampel daun tembakau. Produk PCR kemudian dikirim ke First Base, Malaysia untuk dilakukan sikuensing. Begomovirus yang menginfeksi tembakau  menunjukkan homologi 99% dengan isolat Pepper Yellow Leaf Curl Indonesia Virus (PYLCIV) pada cabai di Bali (nomor aksesi LC381263). Hasil identifikasi ini merupakan laporan pertama infeksi PYLCV pada tanaman tembakau di Bengkulu.
Efektivitas Dosis dan Waktu Aplikasi Pupuk Kompos Trico-Glio untuk Pengendalian Penyakit Layu Fusarium (Fusarium sp.) pada Tanaman Cabai Merah (Capsicum annum L.) Susanna, Susanna; Alfizar, Alfizar; Fitriadi, Eka
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.42422

Abstract

Fusarium sp. merupakan salah satu patogen tular tanah penyebab penyakit pada tanaman cabai merah yang dapat menimbulkan kerugian hingga 80%. Salah satu alternatif pengendalian yang dapat dilakukan yaitu menggunakan pupuk kompos yang mengandung agens antagonis Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis dan waktu aplikasi pupuk kompos Trico-Glio (formulasi dengan bahan aktif Trichoderma sp. dan Gliocladium sp.)   dalam mengendalikan penyakit layu fusarium (Fusarium sp.) pada tanaman cabai merah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Faktor pertama yaitu dosis kompos Trico-Glio yang terdiri dari 5 taraf yaitu 0, 25, 50, 75, dan 100 g/tanaman dan faktor kedua waktu aplikasi terdiri dari 2 taraf yaitu 7 dan 14 hari sebelum tanam, sehingga terdapat 10 kombinasi perlakuan dan diulang 4 kali. Setiap unit perlakuan terdiri dari 4 tanaman sampel, maka diperoleh 160 unit percobaan. Peubah yang diamati meliputi masa inkubasi, insidensi penyakit, dan kepadatan populasi awal dan akhir mikroba (cendawan patogen dan agens antagonis). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi antara dosis dan waktu aplikasi pupuk kompos Trico-Glio terhadap masa inkubasi, insidensi penyakit, panjang diskolorasi xylem dan kepadatan populasi awal dan akhir mikroba. Namun secara mandiri dosis pupuk kompos Trico-Glio berpengaruh nyata terhadap semua peubah, sedangkan waktu aplikasi tidak berpengaruh nyata. Perlakuan 100 g/tanaman dari pupuk kompos Trico-Glio memperlihatkan hasil yang paling baik dalam mengendalikan penyakit layu fusarium pada tanaman cabai merah.