cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
REVIEW ARTIKEL: TANAMAN HERBAL DENGAN AKTIVITAS PERANGSANG PERTUMBUHAN RAMBUT DILA TRIARINI; RINI HENDRIANI
Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.344 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i1.12915

Abstract

AbstrakAlopesia merupakan suatu keadaan hilang atau tidak tumbuhnya rambut kepala yang dapat terjadi pada wanita maupun pria. Pentingnya peran rambut secara sosial dan estetika mendorong berkembangnya industri obat dan kosmetik untuk rambut. Obat sintetik untuk terapi alopesia sering memberikan efek samping yang tidak diinginkan pada penggunaan jangka panjang. Pemilihan tanaman herbal sebagai alternatif pengobatan yang aman dan efektif dapat dilakukan untuk mengatasi alopesia. Banyak tanaman herbal sudah terbukti memiliki aktivitas penumbuh rambut, dengan berbagai kandungan kimia dari setiap tanaman. Berdasarkan aktivitas yang dimiliki, tanaman yang memiliki aktivitas sebagai inhibitor 5α-reduktase, seperti Citrullus colocynthis, Phyllanthus niruri, Tectona grandis, Trichosanthes dioica, Zizyphus jujuba, dan Musa balbisiana, merupakan tanaman yang paling baik dalam mengatasi alopesia.Kata kunci : Alopesia, rambut, tanaman herbal
Kausalitas dalam Farmakoepidemiologi NUJAIMAH RAHMAWATI SHOLEH; Sofa D. Alfian
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.218 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10836

Abstract

Studi epidemiologi memiliki tujuan untuk mencari penyebab dari suatu penyakit yang didasarkan pada asosiasi dengan berbagai macam faktor risiko. Untuk membuat kesimpulan mengenai penyebab penyakit, pertama-tama perlu mengklasifikasi arti kausalitas. Dalam hubungan kausal terdapat kriteria yang dapat menunjukkan hubungan antara paparan dengan hasil dalam suatu penelitian. Selain itu, dalam penelitian terdapat pula faktor-faktor yang dapat mengurangi  validitas yang berasal dari bias dan kerancuan. Digunakan beberapa metode untuk mengatasi bias dan kerancuan dalam penelitian serta untuk mengontrol kerancuan tersebut.Metode pencarian pada artikel review ini melalui situs NCBI (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/) dengan berdasarkan kata kunci,identify causation andassociation in pharmacoepidemiology, criteria for determination of causation, biasin  pharmacoepidemiology, dan methodology used to address potential bias.Berdasarkan hasil review, kriteria kausal dalam farmakoepidemiologi meliputi kekuatan, konsistensi, spesifisitas, temporalitas, gradien biologi, theoritical plausability, coherence, bukti eksperimental dan analogi. Selain itu terdapat tiga sumber bias, yaitu bias informasi, bias seleksi dan faktor perancu. Untuk mengendalikan kerancuan terdapat beberapa metode yang meliputi randomisasi (pengocokan), restriksi (pembatasan), matching (pencocokan), stratifikasi, dan multivariate models.Kata kunci: Kriteria kausal, bias, metode pengendalian bias, perancu
Peran Senyawa Flavonoid dan Glikosida Jantung dalam Aktivitas Kardiotonik RAHADIANTI KHOFII SUWANDITYA; Sri Adi Sumiwi; Yoga Windhu Wardhana
Farmaka Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.109 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i1.22117

Abstract

Kardiotonik merupakan kemampuan untuk meningkatkan efisiensi dan kontraksi otot jantung, yang mengarah pada peningkatan aliran darah ke seluruh jaringan di tubuh. Aktivitas kardiotonik dapat berasal dari tanaman dengan senyawa metabolit sekunder. Salah satu metabolit sekunder yang terkenal adalah glikosida jantung. Metabolit sekunder ini sejak dahulu dipakai untuk pengobatan gagal jantung dan aritmia jantung. Disamping jenis glikosida, metabolit lain seperti flavonoid juga dapat berperan dalam aktivitas kardiotonik dengan aktivitas antioksidannya. Melalui tinjauan pustaka ini diharapkan dapat memberikan gambaran terkait peran flavonoid dan glikosida jantung dalam aktivitas kardiotonik.Kata Kunci: Kardiotonik, glikosida jantung, flavonoid
ARTIKEL KUPASAN : Out-Of-Trend Analysis pada Industri Farmasi Dinda Arditta; Ida Musfiroh; Rismiatin -
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.342 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.16850

Abstract

Out of trend analysis sebagai salah satu inovasi dan perbaikan berkelanjutandalam melaksanakan pharmaceutical quality system pada Industri Farmasi. Out oftrend itu sendiri merupakan hasil observasi data yang tidak sesuai dengan tren yangdiharapkan, antara satu bets dengan yang lain atau dibandingkan dengan bets sebelumnya.Out-of-trend dapat dijadikan sebagai pertimbangan jangka panjang dalammelakukan validasi proses ataupun monitoring manajemen siklus produksi. Sehinggadapat meminimalisir adanya kegagalan dalam memproduksi suatu bets yangberurutan. Hal ini merupakan langkah proaktif dalam mengidentifikasi adanyapenyimpangan dalam siklus produksi. Food and Drug Administration (FDA) telahmempublikasikan panduan untuk industri farmasi dalam mengendalikan out-ofspesification,dan dikatakan pula perlu adanya out-of-trend analysis untuk memprediksikemungkinan terjadinya out-of-spesification di kemudian hari. Namun, belumadanya regulasi secara tertulis bagaimana mendeteksi dan mengendalikan outof-trend. Artikel ini ditulis dengan tujuan memberikan gambaran melakukan outof-trend analysis menggunakan software Statistical process control pada parametertertentu beserta aspek yang harus diperhatikan dalam melakukan out-of-trend analysis.Out-of-trend yang digunakan berdasarkan batas action menggunakan 3 sigmadan batas alert menggunakan 2 sigma.
REVIEW MEKANISME, KARAKTERISASI DAN APLIKASI SODIUM STARCH GLYCOLATE (SSG) DALAM BIDANG FARMASETIK ALIF VIRISY BERLIAN; Anas Subarnas
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.354 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17612

Abstract

Rute pemberian obat secara oral merupakan rute pemberian yang paling banyak disukai karena kemudahan penggunaannya, namun rute pemberian secara oral memiliki kekurangan yaitu, lamanya efek terapi yang timbul akibat proses disintegrasi sediaan obat yang lambat. Bahan penghancur merupakan salah satu eksipien obat yang bertanggung jawab dalam disintegrasi sediaan. salah satu contoh bahan pengancur adalah sodium starch glycolate (SSG). SSG merupakan superdisintegran yang berbahan dasar pati.  SSG dapat diisolasi dari berbagai macam pati, namun pati kentang menunjukkan sifat disintegrasi yang paling baik. Mekanisme disintegrasi SSG adalah dengan menyerap air sehingga menyebabkan sediaan menggembung dan akhirnya pecah. Karakterisasi SSG dapat ditentukan dengan uji distribusi partikel, uji kerapatan curah dan mampat, uji rasio haussner dan Carr’s index, uji luas permukaan; volume; dan ukuran pori-pori, dan swelling index. Aplikasi SSG dalam bidang farmasetik dapat digunakan pada formulasi sediaan fast disintegrating tablet.Kata kunci     : Sodium starch glycolate (SSG), Superdisintegran, Swelling, Karakterisasi.
Perbandingan Metode Diagnosis Demam Tifoid Ghaida Putri Setiana; Angga Prawira Kautsar
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.609 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.11086

Abstract

Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Diagnosis demam tifoid cukup sulit karena gejala kliniknya tidak khas, sehingga diperlukan pemeriksaan laboratorium. Artikel ini bertujuan untuk membandingkan metode diagnosis demam tifoid serta mencari metode diagnosis yang mudah digunakan, prosesnya cepat, dan biayanya rendah. Uji widal merupakan pemeriksaan dengan uji aglutinasi, namun sensitivitas dan spesifitasnya rendah. Biakan darah yaitu isolasi kuman dari bagian tubuh, memiliki sensitivitas yang lebih baik dari uji widal. Tes tubex mendeteksi adanya antibodi anti-Salmonella typhi O9 pada serum dapat dilakukan dengan cepat. Teknik PCR digunakan untuk mengamplifikasi gen spesifik S. typhi menunjukkan hasil yang akurat dan cepat, namun sulit digunakan dan biayanya mahal. Sedangkan sistem pakar hanya tindakan awal dalam diagnosis demam tifoid dan hasilnya tidak akurat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan biakan darah dikombinasikan dengan tes tubex merupakan diagnosis demam tifoid yang efektif karena memiliki sensitivitas dan spesifitas yang baik, mudah digunakan, prosesnya cepat, dan biayanya terjangkau. Diagnosis tidak dapat dikatakan akurat hanya dengan satu pengujian, sehingga harus dibandingkan dengan pengujian yang lain.Kata kunci: demam tifoid, metode diagnosis, biakan darah, uji serologis, PCR, sistem pakar
HUBUNGAN ANTARA INDEKS MASSA TUBUH DENGAN TEKANAN DARAH SOLEH, SOLEH; Listiani, Nita; Maya, Ira; Amelia, Nisa Ayu; Hadad, Nur Diana; El Yahya, Idzni Rusydina; Pardosi, Yessica; Elisabeth, Erlin; Sidharta, Kenny Dwi; Arifa, Irbah; Sinuraya, Rano Kurnia; Destiani, Dika Pramita; Wicaksono, Imam Adi
Farmaka Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (36.509 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i3.22151

Abstract

ABSTRAK Indeks massa tubuh (IMT) adalah salah satu metode untuk menentukan status gizi seorang individu dengan ditentukan dari hasil pengukuran dari berat badan (kg) dibandingkan terhadap tinggi badan (m2). Nilai IMT yang besar atau kategori overweight dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kardiovaskular, salah satunya hipertensi. Hal ini dikarenakan semakin besar massa tubuh atau indeks massa tubuh seseorang, maka akan semakin banyak juga darah yang akan diperlukan untuk menyalurkan oksigen ke jaringan tubuh, menyebabkan peningkatan tekanan darah. Resiko relatif mengalami hipertensi pada seseorang dengan IMT >25 yaitu 5 kali lebih tinggi dari pada seseorang yang berat memiliki berat badan normal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan tekanan darah. Metode yang digunakan adalah analitik observasional dengan analisis korelasi Spearman untuk menentukan korelasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya korelasi antara IMT dengan tekanan darah dengan nilai CI sebesar 95% serta nilai koefisien korelasi IMT-sistol sebesar 0,356 dan nilai koefisien korelasi IMT-diastol sebesar 0,319. Kata Kunci:  Indeks Massa Tubuh (IMT), Tekanan Darah, Analitik Observasional
Review Aktivitas Antivirus Ekstrak Lima Tanaman Rimpang Terhadap Penghambatan Virus Influenza H5N1 dengan Metode In Vitro NAILAH NURJIHAN ULFAH; Mutakin Mutakin
Farmaka Vol 15, No 3 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.234 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i3.13803

Abstract

Penyakit influenza adalah salah satu penyakit mematikan didunia terutama influenza A atau yang lebih dikenal dengan flu burung. Pencegahan dan pengobatan penyakit ini telah dilakukan guna memperkecil risiko angka kematian yang meningkat, diantaranya dengan obat – obatan golongan inhibitor neuraminidase dan obat golongan adamante. Selain itu, dilakukan pencegahan dengan vaksin influenza. Namun, penggunaan obat – obatan dan vaksin tersebut hingga sekarang tidak efekftif karena menimbulkan resistensi akibat dari pertumbuhan virus yang cepat. Perkembangan penelitian telah dilakukan pada rimpang tanaman yang memiliki aktivitas untuk menghambat infeksi virus seperti temu giring (Curcuma heyneana), lengkuas (Alpinia galanga), kunyit (Curcuma longa), jahe merah (Zingiber officinale), dan temu ireng (Curcuma aeruginosa). Pengujian dilakukan dengan cara dibuat suspensi virus H5N1 kemudian diinokulasikan pada TAB diruang korioalantois. Setelah itu, telur ayam diamati selama tiga hari melihat ada tidaknya kematian embrio. Selanjutnya, alantois dipanen untuk diuji titer hemaglutinasinya (HA). Hasil menunjukkan bahwa minyak atsiri jahe merah dan senyawa aktif kurkumin dari kunyit mempunyai nilai titer paling rendah dari kontrol positif yang berarti memiliki potensi antivirus tertinggi diantara tanaman lainnya. Oleh karena itu, penggunaan kunyit dan minyak atsiri jahe merah dapat manjadi alternatif untuk pengambat virus influenza.Kata Kunci: Virus Influenza, Virus Flu Burung, Tanaman Rimpang, Hemaglutinasi test
KANDUNGAN SENYAWA KIMIA MURBEI HITAM (Morus nigra L.) DAN EFEK FARMAKOLOGINYA NADIATUL KHAIRA. Y; ZELIKA MEGA RAMADHANIA
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2889.403 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17530

Abstract

Murbei hitam (Morus nigra L.) adalah salah satu tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai obat. Tanaman ini tersebar luas di berbagai negara yang beriklim subtropis. Variasi konsumsi dari buah ini pun juga beragam mulai dari buah segar, buah kering, jus buah, dan minuman beralkohol. Murbei hitam memiliki banyak manfaat sebagai pengobatan berbagai penyakit seperti diabetes mellitus, radang, iritasi tenggorokan, kerusakan pada gigi, dan anemia. Hal ini disebabkan karena kandungan senyawa bioaktif dalam tanaman ini yang cukup banyak, dimana didominasi oleh senyawa turunan fenolik. Senyawa bioaktif inilah yang memberikan kontribusi terhadap berbagai aktivitas yang dihasilkan oleh tanaman murbei hitam ini.
Aktivitas Repelen Kombinasi Minyak Atsiri Rimpang Bengle (Zingiber cassumunar Roxb.) dan Daun Sereh Wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) terhadap Nyamuk Aedes aegypti FERRY FERDIANSYAH SOFIAN; DUDI RUNADI; AMI TJITRARESMI; ARWA ARWA; GUSTYAN PRATAMA; ANTI PEBRIANTI MENTARI; SRIWIDODO SRIWIDODO; ZELIKA MEGA RAMADHANIA
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.518 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.9294

Abstract

Tingginya tingkat penyebaran penyakit menular yang disebabkan oleh nyamuk, terutama pada daerah-daerah dengan endemik nyamuk yang tinggi, terdorong untuk melakukan pencegahan terbaik dalam penanggulangannya dengan cara pengendalian nyamuk dan menghindari gigitannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas repelen terhadap beberapa kombinasi komposisi minyak atsiri rimpang bengle (Zingiber cassumunar Roxb.) dan minyak sereh wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) terhadap nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyakit demam berdarah. Penelitian dilakukan dengan mengamati nyamuk yang hinggap di tangan relawan yang sebelumnya telah diberi sediaan uji. Analisis statistik menunjukkan bahwa masing-masing kombinasi minyak atsiri dari bahan uji yaitu bengle 10%; bengle 7,5% + sereh wangi 2,5%; bengle 5% + sereh wangi 5%; bengle 2,5% + sereh wangi 7,5%; dan sereh wangi 10% memiliki daya repelen tetapi masih memiliki perbedaan daya repelensi yang signifikan terhedap DEET 15%. Masing-masing kombinasi bahan uji tersebut tidak memiliki perbedaan pengaruh yang signifikan sebagai repelen dengan taraf signifikansi sebesar 0,05. Berdasarkan hal tersebut, hasilnya dapat disimpulkan bahwa kelima kombinasi bahan uji tersebut tidak memberikan perbedaan pengaruh yang signifikan sebagai repelen. Hal ini berarti kelima kelompok kombinasi uji tersebut memiliki daya tolak yang sama terhadap nyamuk Aedes aegypti dan potensial untuk dikembangkan menjadi obat herbal penolak nyamuk untuk mencegah demam berdarah.

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue