cover
Contact Name
pramesti
Contact Email
fadesti@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
fadesti@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa
ISSN : 20870795     EISSN : 26220652     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
The main focus of this journal is to promote global discussion forums and interdisciplinary exchanges among academics, practitioners and researchers of visual arts and visual culture. Series will encourage practice and research innovation that focuses on visual arts and visual culture, contributing to a better understanding of the highly dynamic development of dynamic theories, practices and discourses of visual art and visual culture.
Arjuna Subject : -
Articles 472 Documents
Estetika Karya Seni Lukis Faiz Zaki Abdillah: Perspektif Teori Monroe C. Beardsley Thoriq Bidar Dardiri; Aditya Eko Adrianto; I Nyoman Suyasa; Syamsiar
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 17 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/brikolase.v17i2.7798

Abstract

This study analyzes the paintings of Faiz Zaki Abdillah using a descriptive qualitative approach, with Monroe C. Beardsley's aesthetic theory as its primary foundation. The method employed is analytical description, integrating visual analysis and interpretation of three primary works: Life (2022), Morp Transition (2023), and Amartha (2025). The findings indicate that the creative process behind Faiz Zaki Abdillah's paintings encompasses idea conception, concept development, technique and style, and the stages of creation. An aesthetic analysis based on the principles of unity, complexity, and intensity reveals that Faiz's works represent a synthesis of empirical experience and ecological spirituality, shaped by his closeness to nature, animals, and the agricultural world. Through detailed, meticulous, and symbolic visual structures, the ecological spiritual values in his works are organically realized, creating a contemplative and transcendental aesthetic experience. An examination of the creative background further reveals that the aesthetics of Faiz's works are a comprehensive crystallization of his creative process, where form and meaning, technique and spirituality, merge into a coherent, reflective, and aesthetically rich visual narrative.
Melacak Jejak Makna : Interpretasi Topeng Malangan Dalam Perspektif Hermeneutika Paul Ricoeur Heri Iswandi; Sarwanto Sarwanto
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 17 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/brikolase.v17i2.7799

Abstract

This study aims to understand the deeper meaning and uncover the important values ​​contained in the Malangan Mask. This study uses Paul Ricoeur's hermeneutic analysis. The Malangan Mask is not just part of a performance; it also helps express the culture and identity of the Malang people. However, with today's developments, its meaning has become less clear because the role of masks has changed and art is often used for business purposes. By using Ricoeur's method, which looks at how meaning emerges from the three steps of prefiguration, configuration, and refiguration, we can better understand the symbols, appearances, and stories that are part of the mask. This study uses qualitative methods, observing the visual form of the mask, how it is used in performances, and speaking with local artists and cultural experts. The findings of this study indicate that the Malangan Mask explains the relationship between stories and real life, and contains messages about living a balanced life, having wisdom, and Javanese beliefs. This perspective on masks shows that masks are not just beautiful objects, but a living part of culture that can change and be understood differently depending on the context.
Samashalima Reinterpretasi Ragam Hias Asia pada Desain Ready To Wear Deluxe berbasis Project Based Learning Wuri Handayani; Annisa Fitra
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 18 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/brikolase.v18i1.7765

Abstract

Perkembangan tekstil dewasa ini berhasil mengeksplorasi aneka motif dan nilai filosofi karya ragam hias tradisi dan mengangkatnya menjadi tren mode. Sumber inspirasi diambil dari ragam hias dari negara di Asia yang diwakili oleh Indonesia, India, Korea, Jepang dan China. Model penelitian ini merupakan penelitian participation action reseach dengan metode pendekatan Project Based Learning, dosen bertindak sebagai fasilitator yang membantu mahasiswa dalam memberikan referensi, mengarahkan dan membimbing dalam proses pembelajaran praktik kelas yang terbagi menjadi tiga tahap, yakni perancangan, perwujudan, dan penyajian karya. Hasil akhir menunjukkan bahwa perpaduan antara ragam hias, nilai historis negara negara di Asia dan prinsip desain modern yang dapat memperkaya pemahaman mahasiswa terhadap sejarah busana dan mode, serta meningkatkan daya tarik pembelajaran melalui pendekatan visual dan praktik kreatif. Karya ini diharapkan dapat menjadi prototipe edukatif dan inspiratif dalam mengembangkan metode pembelajaran di bidang pendidikan mode. Hasil ragam hias diaplikasikan kedalam karya busana ready to wear deluxe. Kata kunci: ragam hias, motif, rtw deluxe, sejarah busana, desain busana
Rasionalitas Desain Branding Teritorial Tipografi Jawa Kuno Analisis Visual Alih Wahana Aksara Kuadrat Kediri Ipung Kurniawan Yunianto; Sunarmi Sunarmi
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 18 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/brikolase.v18i1.7998

Abstract

Studi mengenai aksara Jawa Kuno selama ini didominasi oleh pendekatan epigrafi yang berfokus pada pembacaan teks dan penanggalan sejarah, namun sering mengabaikan aspek perancangan visualnya. Penelitian ini mengisi kesenjangan tersebut dengan mendekonstruksi Aksara Kuadrat (abad 11-13 M) melalui perspektif Desain Komunikasi Visual (DKV) dan Tipografi. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan arkeologi visual, penelitian ini menganalisis morfologi aksara pada Prasasti koleksi PIM Mojokerto, data teknis pada prasasti unfinished Tahi Papung (Ponorogo), serta alih wahananya pada media sandang kontemporer. Data dianalisis melalui pelacakan morfologi aksara, penerapan grid modular dan prinsip Em Square, serta interpretasi semiotika visual untuk membaca fungsi estetik dan politis aksara. Hasil penelitian mengungkap tiga temuan utama. Pertama, secara morfologis, Aksara Kuadrat dapat diklasifikasikan sebagai Display Typeface bergaya Slab Serif yang dirancang untuk dominasi visual jarak jauh (visual weight). Kedua, temuan garis bantu (guidelines) pada artefak Tahi Papung membuktikan bahwa aksara ini tidak ditulis secara intuitif, melainkan dikonstruksi melalui rasionalitas desain berbasis sistem Modular Grid dan prinsip Em Square. Ketiga, perpaduan antara struktur geometris yang kaku dengan ornamen padat (Horror Vacui) berfungsi sebagai strategi Branding Teritorial untuk melegitimasi kekuasaan politik Kerajaan Kediri-Majapahit. Transformasi aksara ini ke dalam produk industri kreatif (kaos) membuktikan bahwa sistem desain kuno ini memiliki kualitas timeless yang mampu beradaptasi dari fungsi sakral-politis menjadi komoditas identitas budaya. Kata kunci: Aksara kuadrat, Branding teritorial, Horror vacui, Sistem grid, Tipografi Nusantara
Sureal Jewelry Art of Méret Oppenheim and Salvador Dali Jewelry Being Representations of Fetish Objects Dhyani Widiyanti
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 18 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/brikolase.v18i1.8297

Abstract

In the 20th century, developments in the style of jewelry art were marked, among others, by the emergence of surrealism. The two vanguards who could be held responsible for such a movement were Méret Oppenheim and Salvador Dali. Surrealism, as a movement in art and literature was heavily influenced by Sigmund Freud's study of the unconscious. In the views of its founder, André Breton, it must contain dream analysis, free association, and an attempt to liberate the imagination. Additionally, fetishism is a term that refers to the assumption that all objects made by humans are imbued with more force than just their inherent functions. In an essay entitled Fetishism by Sigmund Freud in 1927, fetishism is associated to the realm of the subconscious which contains sexual instincts. This qualitative research which employs visual analysis examines jewelries, which are named Sugar Ring and Fur Bracelet created by Oppenheim, as well as Ruby Lips with Teeth Like Pearls, and The Royal Heart created by Dali, based on their association to elements of surrealism and fetishism as described in Breton’s views published in an article written by Malt (2004). The results of this study indicate that the four works contain elements of surrealism and fetishism since they fulfill the elements of juxtaposition, the presence of hair-like objects, the presence of images of incomplete body organ as manifestations of a castration experience, and magical or non-representational impressions.
Aluminium Clay Sintetik sebagai Media Ukir pada Kerajinan Bambu untuk Meningkatkan Nilai Estika Produk Kriya Bambu Afrizal Afrizal
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 18 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/brikolase.v18i1.8354

Abstract

ABSTRAK Seni kerajinan di Indonesia telah mengalami kemajuan dengan memanfaatkan berbagai macam media dan serta penerapan ragam hias, mulai dari pengembangan bentuk motif, media, teknik, dan aspek pengembangan lainnya. Dilihat dari pemahaman di masyarakat luas bahwa seni mengukir merupakan sebuah tindakan bagaimana pengolah media dengan beberapa teknik seperti teknik cukil, gores, coret, dan pahat, yang diterapkan pada media kayu, kulit, dan logam. Keahlian seni ukir di Indonesia tersebut sangat perlu ada pengembangan- pengembangan untuk menambah ekspresi seni bagi para pengrajin dan para pegiat seni ukir lainnya. Penelitian tentang pengembangan seni ukir diharapkan mampu memberi dampak yang nyata dalam rangka memberikan gambaran tentang alternatif pengembangan dari seni ukir yang berkembang selama ini. Penelitian ini akan fokus pada penerapan Aluminium Clay Sintetic sebagai media seni ukir pada produk bambu seperti meja, dan kursi tamu yang sudah ada. Oleh demikian penelitian terapan ini lebih menekankan pada teknik mengukir diatas pruduk bambu yang sudah ada Aluminium Clay Sintetik merupakan suatu bahan yang dibuat menyerupai tanah liat, yang memiliki elastis tinggi sehingga sangat mudah untuk dibentuk sesuai dengan rancangan yang diharapkan. Teknik pembentukan Aluminium Clay Sintetik ini pun hampir menyerupai dengan teknik Clay alamiah atau tanah (tambang), Aluminium Clay Sintetik tidak melewati pembakaran cukup diangin-anginkan saja untuk mendapatkan kekerasanya, dengan sifat ini akan mempercepat pengukiran dibandinkan dengan teknik ukir kayu maupun bambu secara tradisional. Sajian penelitian ini menggunakan metode penciptaan karya Sp.Gustami 2007 Butir-butir Estetika Timur Ide Dasar Penciptaan Seni Kriya Indonesia, Yogyakarta: Prasista, untuk pembentukan motif ukiran yaitu memunculkan motif ukir tradisi yang dikemas dalam penerapannya pada meja, dan kursi tamu dengan mengaplikasikan pola motif garapan tradisi dengan cara baru yaitu dengan teknik tempel dan teknik pinching. Metode ini menuangkan motif tradisi Jawa Barat yaitu motif Naga Singo Barong dan Motif Kujang dengan gubahan pada pola mengikuti bentuk meja, dan kursi tamu, sedangkan teori penciptaannya penelitian ini penulis menggunakan teori, Monroe Beardsley dalam Problems In The Philosophy of Criticism.
Makna Simbolik dan Fungsi Sosial Kain Jumputan Palembang dalam Perspektif Geertz dan Malinowski Heri Iswandi; Husni Mubarat
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 18 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/brikolase.v18i1.8432

Abstract

Kain jumputan Palembang merupakan warisan budaya tekstil tradisional masyarakat Palembang yang telah berkembang sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam (abad ke-17 hingga ke-19). Sebagai artefak budaya, kain jumputan tidak hanya berfungsi sebagai produk kerajinan, melainkan mengandung lapisan makna simbolis yang mencerminkan sistem nilai, identitas sosial, dan pandangan hidup masyarakat Palembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna simbolik yang terkandung dalam motif, warna, dan penggunaan kain jumputan Palembang, serta menganalisis fungsi sosialnya dalam kehidupan masyarakat melalui kerangka teori Clifford Geertz dan Malinowski. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-interpretatif melalui kajian literatur dan analisis teks budaya dengan metode thick description (deskripsi mendalam) sebagaimana dikembangkan oleh Geertz. Hasil kajian menunjukkan bahwa motif-motif dalam kain jumputan seperti bintang/ceplok, bunga, tritik, dan geometris mengandung makna kosmologis, spiritual, dan sosial yang mendalam. Warna-warna yang digunakan (merah, kuning keemasan, hitam, biru, hijau, dan ungu) terikat erat dengan stratifikasi sosial dan fungsi ritual. Dalam perspektif Geertz, kain jumputan berfungsi sebagai sistem simbol sekaligus teks budaya yang mengoperasikan dua fungsi: model of reality (mencerminkan realitas sosial) dan model for reality (membentuk perilaku dan identitas). Dalam perspektif Malinowski, kain jumputan memenuhi tiga tingkatan kebutuhan manusia: kebutuhan biologis dasar (proteksi), kebutuhan instrumental (transmisi nilai budaya dan sistem ekonomi), dan kebutuhan integratif (kohesi sosial dan identitas kolektif). Integrasi kedua perspektif ini mengungkap bahwa kain jumputan bukan sekadar artefak estetis, melainkan institusi budaya yang hidup dan dinamis yang mencerminkan konstruksi sosial budaya masyarakat Palembang secara komprehensif.
Eksplorasi Motif Digital Berbasis Narasi Legenda Sangkuriang dalam Desain Artwear Nadia Rachmaya Ningrum Budiono; Haidarsyah Dwi Albahi
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 18 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/brikolase.v18i1.8370

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya penyusutan makna narasi budaya lokal dalam desain fesyen yang cenderung hanya mengejar estetika visual empiris, legenda Sangkuriang memiliki kekayaan simbol dan nilai filosofis kosmologi Sunda yang berpotensi menjadi identitas visual yang kuat. Urgensi penelitian ini terletak pada perlunya strategi transformasi narasi cerita rakyat ke dalam sistem visual motif digital guna menjaga relevansi budaya di tengah dominasi estetika global melalui medium artwear. Tujuan penelitian ini untuk merumuskan konsep transformasi visual narasi legenda Sangkuriang menjadi motif digital yang sarat akan makna untuk diaplikasikan pada desain artwear. Penelitian ini menggunakan perspektif hermeneutika budaya melalui tiga tahap: pre-understanding (materi narasi), explanation (analisis struktural), dan comprehension (interpretasi baru). Data dikumpulkan melalui observasi, studi piktorial, dan studi literatur. Analisis dilakukan melalui lingkaran hermeneutik untuk menjembatani teks legenda dengan desain digital guna menafsirkan makna simbolik dalam konteks budaya sebagai dasar transformasi narasi menjadi motif digital melalui abstraksi dan stilasi visual. Hasil penelitian menunjukkan transformasi simbol budaya melalui pendekatan hermeneutika dengan menghasilkan desain motif digital yang tidak hanya berfungsi secara dekoratif, tetapi juga sebagai medium ekspresi pada desain artwear. Kata kunci: Legenda Sangkuriang; desain motif; hermeneutik; desain artwear.
Penjara sebagai Ruang Ideologis dalam Film Ghost in the Cell: Perspektif Spatial Ideology Henri Lefebvre Febrian Putra; Bhimo Wicaksono Makardi; Aninditya Ardhana Riswari
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 18 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/brikolase.v18i1.8373

Abstract

This article examines the prison as an ideological space in the film Ghost in the Cell directed by Joko Anwar through Henri Lefebvre’s spatial ideology perspective. The study is grounded in the development of spatial criticism in cinema, which views space not merely as a narrative setting but as a socio-political construction representing power relations and ideology. This research employs a qualitative approach within an interpretive-critical paradigm. The research data consist of the film’s visual and narrative elements, including mise-en-scène, cinematography, lighting, spatial setting, dialogue, and narrative structure. The data are analyzed using cinematic close reading by applying Lefebvre’s spatial triad: spatial practice, representations of space, and representational spaces. The findings reveal that the prison space in the film is produced as an ideological mechanism representing bodily discipline, state surveillance, structural corruption, and social resistance. Spatial practice is reflected in disciplinary routines and the control of prisoners’ bodies. Representations of space are manifested through prison architecture, surveillance systems, and visual hierarchies that symbolize state power. Meanwhile, representational spaces emerge through prisoners’ emotional experiences, collective solidarity, and supernatural elements as symbolic resistance against the repressive system. This study concludes that the film employs prison space as an allegory of the state and as a medium of socio-political criticism in contemporary Indonesian cinema.
Warisan Ragam Hias: Transformasi Motif Makam Sunan Drajat pada Desain Perhiasan Modern Wahyu Pambudi Widodo; Agatha Dinarah Sri Rumestri; Pricilla Tamara
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 18 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/brikolase.v18i1.8387

Abstract

Masyarakat Muslim modern memandang perhiasan tidak lagi hanya dianggap sebagai aksesori pelengkap penampilan, melainkan juga sebagai representasi dari nilai-nilai kehidupan, keyakinan, dan identitas religius. Tingginya konsumsi perhiasan emas di Indonesia mencerminkan minat yang tinggi terhadap perhiasan yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki makna simbolik yang kuat serta selaras dengan nilai-nilai budaya dan ajaran Islam. Fenomena ini menunjukkan adanya kebutuhan akan produk yang tidak sekadar mengedepankan estetika, tetapi mampu memadukan keindahan visual dengan identitas spiritual dan kultural yang khas. Sayangnya, sebagian besar desain perhiasan yang beredar di pasaran masih terfokus pada aspek visual semata tanpa mengangkat potensi nilai-nilai budaya lokal maupun dimensi spiritual yang terkandung dalam warisan tradisional, sehingga menimbulkan tantangan dalam memenuhi preferensi konsumen Muslim yang semakin sadar akan makna simbolik dan religius pada produk yang mereka kenakan. Salah satu warisan budaya yang memiliki potensi besar untuk diadaptasi ke dalam desain perhiasan adalah motif ragam hias dari Kompleks Makam Sunan Drajat, yang tidak hanya kaya secara visual tetapi juga mengandung pesan moral dan filosofis yang mendalam, khususnya ajaran Pepali Pitu yang menekankan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Penelitian ini menggunakan metode ATUMICS (Artefact, Technique, Utility, Material, Icon, Concept, Shape), untuk menggabungkan aspek tradisional dan modern secara harmonis. Hasil perancangan berupa set perhiasan kontekstual yang terdiri dari cincin, gelang, liontin, dan bros, yang bernilai syar’i, estetis, serta berkontribusi pada pelestarian budaya lokal sekaligus memperkenalkan warisan tradisional Indonesia ke pasar fashion Muslim modern. Kata kunci: Komplek Makam, Motif, Perhiasan, Sunan Drajat, Warisan Tradisi