cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
ANALISIS RESIKO USAHA PABRIK PAKAN IKAN MANDIRI Budi Wardono; Rikrik Rahadian; Tajerin Tajerin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): DESEMBER 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (792.358 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i2.6478

Abstract

Aspek keberlanjutan merupakan permasalahan utama dalam upaya pengembangan pabrik pakan ikan mandiri. Masih diperlukan berbagai upaya agar Program Gerakan Pakan Ikan Mandiri (GERPARI) mampu menjadi solusi kebutuhan pakan ikan. Analisis risiko merupakan salah satu upaya untuk mengetahui sejauh mana usaha pakan ikan mandiri dapat berkelanjutan. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat risiko tentang keberlanjutan usaha dengan pendekatan NPV at risk. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Desember 2016, di pabrik pakan ikan di Kabupaten Sleman dan Gunungkidul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer meliputi data usaha yaitu penyediaan bahan baku dan bahan lainnya, biaya produksi, pendapatan, sistem distribusi dan pemasaran pakan. Analisis yang digunakan adalah analisis risiko usaha dengan pendekatan NPV risk. Hasil analisis menunjukkan pada kondisi eksisting ternyata usaha pabrik pakan mandiri belum menguntungkan. Berdasarkan simulasi usaha pabrik pakan mandiri mampu memberikan keuntungan dengan syarat kontinuitas produksi dan bahan baku terpenuhi. Strategi yang dilakukan agar usaha memberikan margin positif dan NPV lebih besar dari 0, ialah menaikkan tingkat produksi dari 35% menjadi 50% dari kapasitas terpasang dan strategi kedua dengan menaikkan harga jual sebesar Rp. 500 menjadi Rp. 8.000/kg yang masih jauh dibawah harga pasaran Title: Risk Analysis of The Business Self-Sufficient Fish Feed PlantThe sustainability aspect is a major problem in the development of community-based selfsufficient fish feed plant. Various efforts are still necessary to make the self-sufficient fish feed movement program (Gerakan Pakan Ikan Mandiri/GERPARI) into a solution for the needs of fish feed. Risk analysis is one of the effort on measuring the sustainability of self-sufficient fish feed business. This research purpose was to identify the level of risk on business sustainability using the NPV at risk approach. The research was conducted in May-December 2016 at fish feed factory in Sleman and Gunungkidul regencies of Yogyakarta province. Primary and secondary data were used in this study. Primary data were in terms of raw and other materials supply, production costs, income, distribution system and marketing. Risk analysis with NPV risk approach was used in this study. Results of the study showed that fish feed business has not been profitable. Based on the simulation, self sufficient fish feed business is profitable provided that continuity of raw materials and days of production are fulfilled. Therefore, there are 2 strategies to provide positive margin and NPV greater than 0, first, increasing production rate from 35% to 50% of installed capacity, and second, increasing the selling price by Rp. 500 to Rp. 8,000/kgs which is still far below the market price.
ANALISIS PENDAPATAN USAHA TANGKAP NELAYAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA DI WILAYAH PESISIR PANTAI SULAWESI SELATAN Abdul Rahim
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2011): DESEMBER (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.731 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i2.5776

Abstract

Penelitian yang dilakukan di wilayah pesisir pantai Sulawesi Selatan bertujuan untuk menghitung besarnya perbedaan pendapatan usaha tangkap nelayan dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan adalah deskriptif dan eksplanatori. Berdasarkan dimensi waktu digunakan data cross-section yang bersumber pada data primer. Responden nelayan diambil secara stratified sampling sedangkan kabupaten secara purposive sampling. Hasil penelitian menemukan bahwa pendapatan usaha tangkap nelayan perahu motor dan perahu tanpa motor di Kabupaten Jeneponto lebih besar dari nelayan Kabupaten Barru dan Sinjai. Besar-kecilnya pendapatan usaha tangkap nelayan perahu motor per trip di wilayah pesisir pantai Sulawesi Selatan dipengaruhi secara positif oleh harga minyak tanah, produktivitas, umur, dan alat tangkap rawai tetap, sedangkan secara negatif dipengaruhi oleh harga bensin, lama melaut, dan perbedaan wilayah penangkapan. Pendapatan nelayan perahu tanpa motor per trip di Sulawesi Selatan dipengaruhi secara positif oleh produktivitas jaring insang tetap dan perbedaan wilayah. Selama setahun, pendapatan nelayan perahu motor dipengaruhi secara positif oleh harga minyak tanah, dan produktivitas secara nyata positif; sedangkan secara negatif dipengaruhi oleh harga bensin, lama melaut, trip, dan perbedaan wilayah. Pendapatan nelayan perahu tanpa motor secara positif dipengaruhi oleh produktivitas, tanggungan keluarga, jaring insang tetap, dan perbedaan wilayah. Tittle: Analysis of Fisher’s Fishing Income and its Various Factors Influence in Coastal Area of South Sulawesi.Research was conducted in coastal area region of South Sulawesi which aimed to calculate the level of difference fisher’s fishing income from each region of coastal area and analysis the various factors influencing it. Research method was used descriptive and explanatory. cross-section data of the primary data. Fisher’s responder were sampled stratifiecally indicate that is fishing income of motorized boat were used and non-motorized boat in regency Jeneponto bigger than is Barru and Sinjai. Then its motorized boat fisher’s fishing income per trip in coastal area of South Sulawesi influenced positively by kerosene price, productivity, age, and set long line, while negatively influenced by gasoline price,fishing day per trip, and difference of fishing areas. Then fishing income non-motorized boat fisher’s per trip in South Sulawesi influenced positively by productivity, set gill net remain to and regional difference. Other only a annual fishing income motorized boat fisher’s influenced positively by kerosene price, and productivity positive manifestly, while negatively influenced by gasoline price, fishing day per trip, number of trip, and fishing area difference. Then fishing income non-motorized boat fisher’s  influenced positively by productivity, family responsibility, set gill net, and fishing area difference.
LUBUK LARANGAN: DINAMIKA PENGETAHUAN LOKAL MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA PERIKANAN PERAIRAN SUNGAI DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA Christina Yuliaty; Fatriyandi Nur Priyatna
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.769 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.1189

Abstract

Tulisan ini menggambarkan bagaimana masyarakat lokal memiliki pengetahuan dalam pengelolaan sumber daya perikanan perairan sungai. Pengetahuan ini berwujud nilai kearifan lokal, falsafah hidup, religi dan norma-norma hukum lokal yang digunakan dalam pemanfaatan sumberdaya. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2012 pada masyarakat Minang Nagari Sialang Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat yang menetap di daerah aliran sungai Batang Kapur. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi langsung, wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah. Analisis deskriptif kualitatif dilakukan melalui pendekatan studi kasus terkait dengan pemanfaatan dan pendayagunaan sumber daya perikanan perairan sungai secara lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lubuk larangan tidak hanya sebuah praktek pemanfaatan dan pendayagunaan sumber daya ikan tetapi didalamnya terdapat aturan, mekanisme distribusi hak dan organisasi adat. Sesuai dengan sifatnya yang dinamis, maka pengetahuan pengelolaan lubuk larangan pun mengalami perubahan. Nilai Islam dan politik pemerintahan menjadi pendorong terjadinya perubahan dalam pengelolaan Lubuk Larangan.
IDENTIFIKASI FAKTOR -FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PENGADOPSIAN PAKET TEKNOLOGI BUDIDAYA UDANG DI TANAH LAUT KALIMANTAN SELATAN Achmad Azizi; Hikmah Hikmah
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 2 (2008): DESEMBER (2008)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.911 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v3i2.5854

Abstract

Riset ini bertujuan untuk mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam pengadopsian paket teknologi budidaya udang telah dilakukan pada tahun 2006 di kabupaten Tanah Laut, lokasi riset adalah Kabupaten Tanah Laut Propinsi Kalimantan Selatan. Riset Ini menggunakan metoda survey. Data yang dikumpulkan dalam riset ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur kepada responden, Jumlah responden dalam riset ini adalah 30 orang. Disamping itu dalam riset ini untuk mengali informasi melibatkan pembudidaya udang, tokoh masyarakat, kelembagaan terkait dan Dinas Perikanan setempat serta observasi lapangan. Hasil Riset menunjukkan bahwa faktor faktor yang mempangaruhi pengambilan keputusan secara diskriptif adalah 66,66 % keputusan diambil secara individu. Akan tetapi apabila dilihat dari karakteristik internal hasil analisis statistk, koefisien korelasi (rs) faktor faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam pengadopsian paket teknologi budidaya udang adalah umur ( 0,820**), pendidikan formal (0,529), tingkat pendapatan (0,821**), kekosmopolitan (0,785**), pengalaman berusaha (0,660**), pola nafkah (0,744**)dan tingkat kepercayaan (0,486*). Kemudian apabila dilihat dari faktor eksternal, faktor yang mempengaruhi adalah keuntungan (0,789**), mudah untuk diusahakan (0,493*), referensi group (0,724**), akses modal (0,747**) dan ketersediaan informasi. (0,818**). Hal ini memperlihatkan bahwa faktor tersebur mempunyai hubungan yang erat pengambilan keputusan. Tittle: Indentification of Factor Enfluencing to Decision Making Process in the Adoption of Shrimp Culture Technological Package in the Tanah Laut, Kalimantan SelatanThis research aimed to study factors enfluencing decision making process in adopting technological package of shrimp culture in 2006. The research was done in Tanah Laut, the district in South Kalimantan. The research used survey method, Primary and secondary data were used in this study. Primary data were collected by interview using structured questionaire to 30 respondents, consisting of shrimp farmer, informal social leader and related institution. Result of the study showed that factors that influence decision making were taken individually (66,66%). Moreover, it can be seen from internal characteristic of coefficient corelation statistic by which, factors that influence decision making in shrimp culture technology package adopting were age (0,820**), formal education (0,529), income level (0,821**), cosmopolitan (0,785**), capital access (0,747**) and information availibility (0,818**). It showed that those factors have a tight relationship with decision making usiness.
REZIM HAK KEPEMILIKAN DAN AKSES TERHADAP SUMBERDAYA LAHAN BAGI EFEKTIVITAS INSTITUSI PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI PENYU Tjahjo Tri Hartono; Hariadi Kartodihardjo; Ari Purbayanto; Arif Satria
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 2 (2012): DESEMBER (2012)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (970.984 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v7i2.5683

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah rezim hak kepemilikan tanah dan hak terhadap akses pengelolaan yang mendukung lembaga konservasi penyu yang efektif. Penelitian ini dilakukan di Ujung Genteng - Pangumbahan, Kabupaten Sukabumi sebagai daerah pesisir yang terkait dengan upaya konservasi penyu mulai dari bulan Desember 2009 sampai Maret 2012. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan metode analisis spasial dan analisis deskriptif. Hasil penelitian dengan menggunakan analisis spasial pada wilayah seluas 1.334,70 hektar menunjukkan bahwa antara tahun 2001 - 2010, luas lahan pertanian meningkat sebesar 31% dan daerah pengembangannya (28,78%) memanjang ke arah pantai. Pola perubahan penggunaan lahan dipicu oleh transisi dari tanah terlantar menjadi pemukiman dan pembangunan fasilitas wisata bahari. Berdasarkan dinamika perubahan penggunaan sumber daya lahan sangat diperlukan perubahan kelembagaan untuk menjamin kepastian pemanfaatan sumberdaya lahan di wilayah pesisir sejalan dengan tujuan konservasi penyu. Pemerintah pusat mendelegasikan otoritas kewenangannya ke tingkat desa dan pemerintah desa menjadi pemilik dan pengelola di instansi yang bersangkutan Title: Property Rights And Access Rights of Land For Turtle Conservation Institutions EffectivenessThis research aims to design a regime of rights ownership of land and management access rights that supports the institution of effective sea turtle conservation. This study was conducted at the Ujung Genteng - Pangumbahan, Sukabumi district as coastal areas associated with the sea turtle conservationefforts, startied from the month of December 2009 to March 2012. Data were analyzed using methods of spatial analysis and descriptive analysis. Results of the spatial analysis research area covering of 1,334.70 hectares showed that between the years 2001 to 2010 the agricultural land area increased by 31% bywhich it’s area development has been (28.78%) extended towards the coast. Patterns of land use changes were triggered by the transition from land abandoned to seitlement and development of marine tourism facilities. Due to the dynamic change of land utilization, is necessary to change institutional setting in order to ensure the certainty of land resources utilization in the coastal region in line with the ultimate goal of turtle conservation. Central government should delegate his authority to the village level and the villagers are pleased to become the owner and manager in the institution autority.
Back Matter Matter, Back
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.98 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i1.3909

Abstract

Back Matter
PENGOPERASIAN JARING ARAD DI PERAIRAN PANTAI UTARA JAWA: MASALAH DAN PENYELESAIANNYA Ratna Indrawasih; Ary Wahyono
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2009): juni (2009)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.919 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v4i1.5821

Abstract

Artikel tentang pengoperasian jaring arad di perairan Pantai Utara Jawa: problem dan penyelesaiannya ini membahas masalah konflik kenelayanan, terutama permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan jaring arad di perairan Pantai Utara Jawa Tengah dan Jawa Barat. Artikel ini merupakan hasil penelitian yang mengambil lokasi di Kabupaten Rembang dan Cirebon. Penelitian tersebut dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan penangkapan udang dengan menggunakan jaring semi trawl merupakan suatu fenomena sosial yang menunjukkan tidak ada alternatif lain bagi nelayan dalam mencari sumber kehidupan. Fenomena ini juga menunjukkan telah terjadi jalan pintas dan bersifat jangka pendek tanpa melihat dampak-dampak yang ditimbulkan baik dari segi sosial, ekonomi dan lingkungan. Upaya untuk mengatasi problem penggunaan jaring arad di Pantura tampaknya tidak mudah. Pemerintah telah mengeluarkan peraturan yang melarang penggunaan jaring arad. Akan tetapi tampaknya kebijakan pelarangan alat tangkap tersebut menghadapi masalah pada implementasi di lapangan. Penegakan hukum belum bisa dilakukan secara optimal. Hal ini antara lain disebabkan masih pasifnya para petugas dalam mengontrol terjadinya pelanggaran, dan keberadaan petugas tidak didukung oleh prasarana yang memadai. Jadi ada kesan bahwa pelarangan alat tangkap tersebut tidak mendapat dukungan dari aparat penegak hukum, sehingga masalah yang berkaitan dengan penggunaan alat tangkap yang sudah dilarang tersebut tidak dapat terselesaikan secara tuntas. Tittle: The Operation of Arad Net in The North Coast of Java: Problems and Their Solutions.The article of “The Operation of Arad Net in The North Coast of Java: Problems and their Solution” discusses the problem of fishers conflict especially related to the usage of arad net in North Coast of Central Java and West Java. This article was conducted in Rembang and Cirebon Regencies. Qualitative approach was used in the research. Results showed that the exploitation of shrimps using a semi-trawl called ‘jaring arad’ was considered a social phenomenon of fishing to cope daily life. This phenomenon also shows that there was a short term profit orientation without considering long-term impact on social, economic and environment aspects. The effort to reduce the used of arad in Pantura was not easy. Government has erected the regulation on banning the used of arad. However, low enforcement was quite weak. This is because the officer could not effectively control territory and was not supported by adequate infrastructure and equipments. That is why, it seemed that regulation on banning the use of arad was not supported by adequate enforcement efforts. Hence, problem related the use of Arad could not be solved effectively.
STATUS KEBERLANJUTAN SUMBER DAYA PERIKANAN DI PERAIRAN BENGKULU Yuyun Erwina; Rahmat Kurnia; Yonvitner Yonvitner
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2015): Juni (2015)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (760.114 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v10i1.1245

Abstract

Pengelolaan sumber daya perikanan belum berhasil menuaikan kesejahteraan. Untuk itu perlu dilakukan penelitian dengan tujuan menganalisis keberlanjutan sumber daya perikanan di perairan Bengkulu. Penelitian dilakukan pada awal Oktober sampai dengan akhir November 2014. Lokasi penelitian di Provinsi Bengkulu. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung dan wawancara (200 responden) dengan metode purposive sampling dan pengukuran panjang ikan dominan yang tertangkap yaitu : Ikan kape-kape (Psenes sp) (1.217 ekor), ikan bleberan (Thryssa sp) (699 ekor) dan tenggiri (Scomberomorus sp) (492 ekor). Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode Multi Dimensional Scaling (MDS) melalui pendekatan RAPFISH (Rapid Asessment Technique for Fisheries). Penentuan prioritas strategi kebijakan menggunakan analisis kobe plot. Hasil kajian menunjukkan bahwa status keberlanjutan pengelolaan sumber daya perikanan termasuk dalam kategori kurang berkelanjutan dengan nilai indeks 47,109, nilai stress 12,8% dan nilai R2 sebesar 95,3%. Strategi pengelolaan yang harus dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan keberlanjutan sumber daya perikanan adalah: Strategi restorasi (0–5 tahun), strategi pengembangan sosial (5–10 tahun) dan strategi keberlanjutan (10–15 tahun). Atribut yang menjadi prioritas untuk diperbaiki dalam rangka meningkatkan status keberlanjutan pengelolaan sumber daya perikanan di perairan Bengkulu adalah harga jual ikan, pemanfaatan pengetahuan lokal yang terkait dengan pengelolaan perikanan, atribut tingkat konflik antar nelayan dan atribut peranan lembaga keuangan mikro/ kelompok usaha bersama.(Sustainability Status of Fishery Resources in The Waters of Bengkulu)Management practiced on the coastal and marine resources have not successfully contributed to the prosperity. Therefore, it is necessary to do research to analyze the sustainability of fishery resources in the waters of Bengkulu. This research was conducted at the beginning of October to the end of November 2014. The location of the research was in the province of Bengkulu. This study used primary and secondary data related to the continual attribute dimensions, the primary data were obtained from direct observation and from interviews (200 respondents). The purposive sampling method was used in this research and fish length size were the length measured from the dominant fish caught by fisher, that is kape kape (1.217 fishes), bleberan (699 fishes) and tengiri (492 fishes). Analysis was done by using the Multi Dimensional Scaling (MDS) through RAPFISH approach. In determining the priority of fishery resources management policy strategies, the researcher used Kobe Plot Analysis. Results showed that the continual status of fishery resources included in the category of less sustainable with an index value of 47.109 with a stress value of 12.8% and a R2 value of 95.3%. Management strategies which should be done to maintain and improve the sustainability of fishery resources were: strategy restoration (0 -5 years), social development strategy (5-10 years) and the sustainability strategy (10 -15 years). Priorities attribute to be improved in relation to increase sustainability fisheries status in the Bengkulu waters are : price of fish, the use of local knowledge related to fishery management, attribute-level of conflicts between fisher and attribute the role of microfinance institutions/ joint venture group.
DAMPAK HAMBATAN NON-TARIF TERHADAP KINERJA MAKROEKONOMI DARI SEKTOR PERIKANAN DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN MODEL GTAP Subhechanis Saptanto; Rikrik Rahadian; Tajerin Tajerin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1237.797 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i1.6302

Abstract

Aktivitas perdagangan internasional selain dapat memberikan manfaat juga dapat memberihambatan. Salah satu hambatan yang muncul adalah hambatan non tarif. Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis dampak hambatan non tarif terhadap sektor perikanan dengan menggunakan pendekatanmodel GTAP. Data sekunder yaitu data GTAP (Global Trade Analysis Project) digunakan dalam kajianini. Data GTAP versi 9 yang terdiri dari 140 negara dan 57 sektor dikeluarkan oleh Purdue University,Amerika Serikat. Penelitian dilakukan di Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan padabulan Januari hingga Desember 2016. Metode analisis menggunakan runGTAP dengan 4 skenarioyakni : (a) Skenario 1; Indonesia tetap bertahan dengan Non Tariff yang sudah ditetapkan olehnegara mitra; (b) Skenario 2; Negara mitra mengurangi Non Tariff sebesar 50% dari kondisi yang ada;(c) Skenario 3; Indonesia tetap bertahan dengan Non Tariff yang sudah ditetapkan oleh negara mitra danpemerintah melakukan intervensi (peningkatan efisiensi dan produktivitas), dan; (d) Skenario 4; Negaramitra mengurangi Non Tariff sebesar 50% dari kondisi yang ada dan pemerintah melakukan intervensi(peningkatan efisiensi dan produktivitas). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan hambatan nontarif dan intervensi kebijakan sangat berpengaruh baik secara makro maupun sektoral. Secara makroberpengaruh terhadap kesejahteraan, PDB, neraca perdagangan, nilai tukar (terms of trade), indeksharga konsumen dan konsumsi. Sedangkan secara sektoral berpengaruh terhadap jumlah output, hargaoutput, jumlah ekspor, harga ekspor, jumlah impor, harga impor dan neraca perdagangan komoditas.Pada umumnya simulasi 3 yakni pengurangan NTB sampai 100% dan adanya intervensi pemerintahmemberikan efek paling besar dan merupakan pilihan simulasi paling terbaik dibandingkan dengan yanglain. Secara sektoral simulasi 3 memberikan efek pada jumlah output komoditas tuna dan udang denganpertumbuhan sebesar 2,14% dan 0,91%; dampak positif harga sebesar 16,4% dan 5,67%; peningkatanvolume ekspor sebesar 47,78% dan 82,77%.Title: Impact of Non-Tariff Barriers of Macroeconomics Performance of Fisheries Sector Using Gtap Model ApproachInternational trade activities may provide benefits and trade barriers. One of the obstacles intrade is non-tariff barriers. This study aimed to analyze the impact of non-tariff barriers on the fisheriessector by using the GTAP model approach. The study using Secondary data of GTAP (Global TradeAnalysis Project). GTAP data version 9 consist of 140 countries and 57 sectors were published byPurdue University, United States. The research was conducted at Social Economic Research Centerof Marine and Fishery on January to December 2016. The analysis using four scenarios of runGTAPnamely: (a) first scenario, Indonesia has already persisted of Non Tariff by setting of partner countries; (b)second scenario, partner countries reduce Non-Tariff was 50% of existing conditions; (c) third scenario,Indonesia persisted of Non-Tariffs by setting partner countries and government doing interventions suchas increasing of efficiency and productivity, and; (d) forth scenario, partner countries reduce Non-Tariffwere 50% of existing conditions and government doing interventions such as increasing of efficiency andproductivity. The result showed that decreasing of non-tariff barriers and policy interventions effected theboth of macro and sectoral conditions significantly. The macro effected on welfare, GDP, Trade Balance, Terms of Trade, Consumer Price Index and Consumption. The sectoral effected the amount of output,output price, export amount, export price, import volume, import price and commodity trade balance. Ingeneral, third simulation were reduction of NTB up to 100% and intervention of government, gaved thegreatest effected to the performance of macro and sectoral conditions and this scenario was the bestsimulation compared to the others. By sectoral, third simulation effected the amount of output of tunaand shrimp commodity with the growth was 2,14% and 0,91%, positive impact of price was 16.4% and5.67%; increasing of export volume was 47.78% and 82.77%.
ANALISIS INDEKS DAN STATUS KEBERLANJUTAN PERAN SERTA WANITA DALAM PENGEMBANGAN USAHA PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN Hikmah Hikmah; Maharani Yulisti; Zahri Nasution
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2011): Juni (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2135.558 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i1.5758

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberlanjutan peranserta wanita dalam pengembangan usaha perikanan. Penelitian dilakukan pada tahun 2009 di Surabaya, Semarang, Palembang, Pelalawan, Kampar, Pelabuhan Ratu, Ogan Komering Ilir (OKI), dan Pandeglang. Penelitian ini menggunakan metoda survei dan analisis data menggunakan teknik ordinasi Rapfish melalui metode Multi Dimensional Scaling (MDS) untuk menilai indeks dan status keberlanjutan peran serta wanita dalam pengembangan usaha perikanan penelitian ini juga mengidentifikasi atribut sensitif yang berpengaruh terhadap indeks keberlanjutan masing- masing dimensi melalui leverage analysis. Dimensi yang diukur yaitu karakteristik individu, karakteristik keluarga, kemitraan, profil usaha serta akses dan kontrol. Hasil analisis menunjukkan nilai indeks setiap dimensi di setiap lokasi beragam sehingga prioritas pengelolaan dimensi berbeda. Bila ingin mempertahankan atau meningkatkan status keberlanjutan “cukup” menjadi “baik” perlu mengelola atribut sensitif yang berpengaruh terhadap kelima dimensi tersebut, kecuali di lokasi Kampar dan Pelabuhan Ratu pada dimensi profil usaha dan dimensi kemitraan dengan indeks lebih dari 75. Darisembilan (9) lokasi riset, dimensi akses dan kontrol mempunyai indeks relatif besar dibandingkan dimensi lainnya dengan indeks 62,41. Namun nilai tersebut berada pada status keberlanjutan “cukup”. Jika ingin meningkatkan status keberlanjutan “cukup” menjadi “baik” perlu mengelola atribut sensitif yang berpengaruh terhadap keberlanjutan dimensi akses dan kontrol, terutama variabel kontrol terhadap kredit, akses terhadap informasi pasar, dan akses permodalan/kredit. Tittle: Analysis of Index and Sustainability Status of Women Participation in the Business Development Fisheries Products ProcessingThis article is to identify the sustainability of women participation in fisheries development. This research was canduacd in 2009 in Surabaya, Semarang, Palembang, Pelalawan, Kampar, Pelabuhan Ratu, Ogan Komering Ilir (OKI), and Pandeglang. This research used survey method and RAPFISH ordination technical data analysis through Multi Dimensional Scaling method. The measured dimensions included individual characteristics, family characteristics, partnership, efforts profile and access and control. Results of this research showed index for each dimension in various locations was heterogeneous which had priority in different dimension management. To maintain or increase the sustainable status ‘enough’ to become ‘good’, it needs to incireash sustainability index all dimension by carrying out influent sensitive attributes towards the five dimensions, except for Kampar and Pelabuhan Ratu for dimension of efforts profile and partnership that had index more than 75. From nine (9) research locations, access and control dimensions had big index relatively comparing other dimensions with index value 62.41. However this value was in a moderate of sustainable. In order to increase the sustainable status to ‘good’, it requires to manage sensitive attributes that influence towards sustainable access and control dimension, especially control emphasis towards credit, access towards market information, and access to capital/credit.