cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
ANALISIS POLA HUBUNGAN KERJA PONGGAWA SAWI PADA USAHA PERIKANAN TERIPANG DITINJAU DARI FUNGSI EKONOMI Naharuddin Sri; Yusufi Kamlas
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.075 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.29

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisis pola hubungan kerja ponggawa sawi pada usaha perikanan teripang ditinjau dari fungsi ekonomitelah dilaksanakan pada Bulan April sampai Juni 2011 di Pulau Barrang Lompo, Kota Makassar. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan mewawancarai 8 orang ponggawa dan 45 orang sawi. Pengambilan sampel dilakukan secara Purposive Random Sampling. Analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis pola hubungan kerja ponggawa sawi pada usaha perikanan teripang dan analisis kuantitatif untuk menganalisis pendapatan ponggawa dan sawi.Hasil penelitian menunjukkan adanya dua (2) pola hubungan kerja ponggawa sawi pada usaha perikanan teripang, yaitu berdasarkan suku dan kontrak kerja. Sistem bagi hasil ponggawa sawi pada usaha perikanan teripang ada dua (2) pola. Padapola pertamaponggawa mendapat bagian 25 persen dari hasil dan 75 persen dibagikan kepada sawi; sedangkan pada pola ke duaponggawamendapat bagian 50 persen dari hasil dan 50 persen sisanya dibagikan kepada sawi. Pendapatan rata-rata per bulanponggawa pada sistem bagi hasil 25 : 75 berkisar Rp. 3.300.000 sampai Rp. 4.500.000sedangkan sawiberkisar Rp. 750.000 sampai Rp. 1.375.000.Pada sistem bagi hasil 50 : 50, pendapatan ratarata per bulanponggawa berkisar Rp. 2.100.000,- sampai Rp. 2.980.000 dan sawi berkisar Rp. 480.000 sampai Rp. 1.650.000(Title: An Analysis of Work Relationship Pattern of Ponggawa Sawi in The Sea Cucumber Business In Terms of Economic Function)The study aimed to to analyze the ponggawa sawi workrelationship patternin the sea cucumberbusiness in terms of economic function was conducted April to June 2011 in Barrang Lompo Island, Makassar City. This was a case study involving 8 ponggawa and 45 sawi.Respondents were selected by purposive sampling. Qualitative analysis was used to analyse the work relationship patternof ponggawa sawi and quantitative analysis was used to analyzed ponggawa and sawi income.The study disclosed that there were two patterns of the work relationship in the sea cucumber business management: one was based on tribe and the other was based on work contract. There were two types of a profit shaing system. In type I, ponggawa had 25 percent of the share and sawi had 75 percent, while in type II, ponggawa has 50 percent and sawi had 50 percent. The average monthly incomes of ponggawa in the first system (25:75), respectively,was from IDR 750,000 to IDR 1,375,000 and sawi from IDR 3,300,000 to IDR 4,500,000. In the second system (50:50), the average monthly income of ponggawa and sawi respectively was IDR 2,100,000 to IDR 2,980,000 and IDR 480,000 to IDR 1,650,000
VALUASI EKONOMI SUMBERDAYA DANAU TEMPE, KABUPATEN WAJO, PROPINSI SULAWESI SELATAN: NILAI BUKAN MANFAAT Irwan Muliawan; Fatriyandi Nur Priyatna
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 1 (2008): JUNI (2008)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.086 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v3i1.5844

Abstract

Kebijakan pengelolaan terhadap suatu sumberdaya di era ini setidaknya telah memasukkan tiga unsur sebagai pertimbangan dasar. Ketiga unsur tersebut adalah ekonomi, sosial dan lingkungan. Pertimbangan ekonomi, menitikberatkan pada paradigma benefit yang dapat diperoleh dari kegiatan ekstraksi. Sumberdaya perikanan adalah sumberdaya yang renewable atau terbaharukan. Kebijakan pengelolaan seharusnya mempertimbangkan nilai keberadaan sumberdaya dan nilai warisan sumberdaya tersebut demi kebutuhan masa depan. Tulisan ini berupaya mengungkap bahwa nilai bukan manfaat (nilai keberadaan dan nilai warisan) sebagai nilai berdasarkan penghargaan masyarakat terhadap sumberdaya perikanan yang dapat memberikan pandangan tersendiri dalam kebijakan pengelolaan sumberdaya. Untuk itu, teknik Contingent Valuation Method (CVM), digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai bukan manfaat (Non-Use Value) tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa Nilai Bukan Manfaat Danau Tempe adalah Rp.1.962.621.327 dan terdapat kecenderungan bahwa masyarakat memanfaatkan sumberdaya secara maksimal tanpa memperhatikan nilai keberadaan sumberdaya danau. Masyarakat di sekitar Danau Tempe sangat berharap kelestarian sumberdaya danau dapat dipertahankan demi kepentingan anak cucu di masa mendatang. Tittle: Economic Valution of Tempe Lake Resource, Wajo District, of South Sulawesi ProvinceRecently, policy in resource management has three important elements as basis for considerations. The elements are economic, social and environment. Specifically for economic consideration, it is focused on the benefit which can be abtained from extraction activities. Fisheries resource is a renewable resource. Policy on managing the resource should consider the existence value and heritage value of he resource This article attempts to express the non-use value (existence value and bequest value) as value of pursuant to socialy appreciation to fishery resource in Lake Tempe, Wajo Regency, South Sulawesi is able to reflect its view in policy of resource management. A contingent Valuation Method (CMV) was used to estimate the non use value. Results show that the Lake Tempe non use value were Rp. 1962.621.327 it is also indicate that society tends to explot the resources maximally regardless of value of exitance of lake resource. People around Lake Tempe expeet that sustainability of lake resource has to be maintaimed for future importance.
PELUANG EKSPOR PRODUK PERIKANAN INDONESIA DI PASAR EFTA Aziza Rahmaniar Salam; Immanuel Lingga
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1554.454 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5672

Abstract

Indonesia-European Free Trade Association (EFTA) Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA) dibentuk dengan tujuan agar terjadi peningkatan akses ekspor ke pasar EFTA  dan peningkatan investasi EFTA di Indonesia. Paper ini bertujuan untuk mengetahui peluang ekspor produk perikanan Indonesia di pasar EFTA dalam rangka kerjasama perdagangan IE-CEPA. Melalui metode indicative potential trade, diperoleh hasil bahwa untuk produk fish and marine product, dari 130 pos tarif HS 6 digit dalam (kelompok produk udang kecil dan udang biasa, produk filet ikan beku untuk jenis ikan selain Swordfish dan Toothfish, Pasta Udang, Tuna olahan, produk ikan segar termasuk cumi segar), terdapat 20 pos tarif yang sangat berpotensi untuk masuk ke pasar EFTA. Namun terdapat hambatan yaitu masih adanya tarif bea masuk yang masih tinggi di negara anggota EFTA untuk 20 pos tarif produk perikanan tersebut. Hambatan non tarif terkait dengan kepentingan pemerintah negara anggota EFTA untuk melindungi rakyatnya dari kemungkinan masuknya makanan-makanan yang tercemar dan dapat membahayakan kesehatan selain juga memproteksi industri dalam negerinya. Kendala yang sering dihadapi atas ekspor produk ikan Indonesia adalah tingginya kandungan logam berat (Timbal, Kadmium dan Nikel) pada produk ikan yang diekspor. Dalam kerjasama bilateral Indonesia dan EFTA, Indonesia harus dapat memperjuangkan penurunan/penghapusan hambatan tarif maupun non tarif di pasar EFTA dan pemerintah harus mendorong pelaku usaha untuk mulai melakukan penetrasi pasar ke EFTA dan diversifikasi produknya khususnya untuk ikan dan produk perikanan.Title: Indonesia Fishery Product’s Export Opportunities in the EFTA MarketIndonesia-European Free Trade Association (EFTA) Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE CEPA) was formed with the aim to increase market access to EFTA and support EFTA’s investment in Indonesia. This paper aims to determine Indonesian fishery product export opportunities in EFTA markets in the framework of the IE-CEPA. With indicative potential trade method, showed for fish products and marine products, from 130 tariff lines in the HS 6 digit (shrimps and prawns, frozen fish fillet products for fish species other than Swordfish and Toothfish, Shrimp Pasta, processed tuna, fresh fish products including fresh calamari), there are 20 tariff are potential to enter the EFTA market. However, there are still barriers where tariffs are still high in EFTA member states for 20 tariff lines of fishery products, and non-tariff barriers related to the interests of EFTA member governments to protect people from the possible entry of contaminated foods and can be dangerous health as well as protecting domestic industries. Obstacles often were faced by Indonesia on export of fish products are the high content of heavy metals such as Lead, Cadmium and Nickel on exported fish products. In the bilateral cooperation between Indonesia and EFTA, Indonesia should be able to fight for reduction / elimination of tariff and non-tariff barriers in the market EFTA and the government should encourage businesses to begin to penetrate the EFTA market and the diversification of its product especially for fish and marine product.
ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN DAN KETIMPANGAN PENDAPATAN RUMAH TANGGA NELAYAN PELAGIS BESAR DI SENDANG BIRU, KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR Maulana Firdaus; Cornelia Mirwantini Witomo
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1135.427 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i2.1218

Abstract

Kondisi usaha nelayan dengan faktor ketidak pastian pendapatan yang cukup tinggi sangat berdampak pada tingkat kesejahteraan dan ketimpangan yang terjadi pada komunitas masyarakat pesisir. Besarnya pendapatan antar rumah tangga nelayan dapat saja berbeda walaupun karakteristik usaha mereka relatif sama. Ketimpangan pendapatan antar rumah tangga dapat menunjukkan adanya ketidakmerataan tingkat kesejahteraan antar rumah tangga pada kelompok masyarakat tersebut. Penelitian ini mempunyai dua tujuan spesifik, yaitu: (1) Menganalisis tingkat kesejahteraan rumah tangga nelayan pelagis besar, dan; (2) Menganalisis ketimpangan pendapatan antar rumah tangga nelayan pelagis besar. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2013 di Desa Tambak Rejo (Sendang Biru) Kabupaten Malang. Metode survey digunakan untuk mengumpulkan data data primer dan sekunder. Data dianalisis dengan menggunakan pendekatan pendapatan menurut Bank Dunia, nilai tukar (indeks nilai) dan ketimpangan pendapatan dengan menggunakan koefisien gini. Hasil analisis menunjukkan bahwa rumah tangga nelayan pelagis besar di Kabupaten Malang tidak tergolong penduduk miskin. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata pendapatan diatas US$ 1.25 per kapita per hari. Indeks nilai tukar nelayan rata-rata pada tahun 2013 (Maret-Oktober) adalah 96. Ketimpangan pendapatan antar rumah tangga nelayan pelagis besar di Kabupaten Malang sebesar 0,42 dan tergolong pada ketimpangan menengah. Oleh karena itu, Fluktuasi nilai tukar nelayan yang terjadi membelikan ilustrasi bahwa selama musim paceklik atau bukan musim ikan, alternatif mata pencaharian di luar sektor perikanan relatif tidak tersedia dilokasi penelitian. Oleh karena itu, untuk meningkatkan standar hidup rumah tangga nelayan pelagis besar di Kabupaten Malang perlu diperkenalkan alternatif mata pencaharian yang produktifdiluar sektor perikanan.
STRUKTUR BISNIS KLASTER RUMPUT LAUT GORONTALO Armen Zulham; Tenny Apriliani
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 2 (2007): DESEMBER (2007)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.025 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v2i2.5871

Abstract

Bisnis rumput laut di Gorontalo memberi multiplier effect penting untuk masyarakat pesisir didaerah itu. Tujuan dari kajian ini adalah untuk memberi masukan tentang arah pengembangan bisnis rumput laut di Gorontalo. Penelitian dilakukan dengan tehnik Rural Rapid Appraisal, melalui wawancara dengan stakeholder pada beberapa desa di Kabupaten Gorontalo Utara dan Kabupaten Boalemo. Hasil penelitian menunjukkan tidak seluruh perairan Laut Sulawesi dan Teluk Tomini di Gorontalo sesuai sebagai lokasi budidaya rumput laut. Bisnis rumput laut di Gorontalo memerlukan penataan ruang dan kelembagaan untuk menghindari konflik dimasa depan, karena budidaya rumput laut hanya berkembang pada lokasi tertentu dan suplai rumput laut hanya diserap oleh dua pedagang besar. Rumput laut yang diperdagangkan adalah jenis Euchema cottonii. Posisi pembudidaya rumput laut cukup baik dalam mata rantai bisnis rumput laut ini. Rumput laut yang dikumpulkan oleh pedagang besar tersebut diperkirakan sekitar 70 persen dikirim keSurabaya dan sisanya dikirim Manado. Total margin pemasaran terhadap harga di Surabaya dan Manado masing-masing masing-masing berkisar antara (0,13 0,25) dan (0,10 0,22). Angka tersebut menunjukkan: pertama saat ini persaingan antar dua pedagang besar tersebut sangat kecil, kedua pengiriman rumput laut ke Surabaya lebih menarik dibandingkan mengirim rumput laut ke Manado. Pedagang besar merupakan core utama pengembangan klaster tersebut. Jika pemerintah melakukan upaya mendirikan industri SRC (Semi Refines Carragenan) di Gorontalo, tanpa mempertimbangkan peran pedagang itu maka upaya tersebut dapat merusak tatanan rantai pemasaran dan industri SRC itu sulit memperoleh bahan baku. Tittle: Business Structure of Seaweed Cluster in GorontaloSeaweed business in Gorontalo grows gradually and drives an important multiplier effect for local costal communities. The purpose of this study was to give the alternative suggestion concerning the direction of sea weeds business in Gorontalo. Research was conducted using Rural Rapid Appraisal technique, through the interview with stakeholders involved in sea weed business in several villages in North Gorontalo, and Boalemo districts of Gorontalo. The research finding indicated: only a limited space of coastal sea areas of the Sulawesi Sea and Tomini Bay can be use as a location of sea weed culture activities. The sea weed business in Gorontalo need to manage the cultivated area and institutions improvement to eliminate the future conflict, due to local sea weed demanded only by two biggest traders in Kwandang. Only Euchema cottonii dried traded and the bulk of dried sea weed distributed to Surabaya 70 percent and the rest traded to Manado. Total marketing margin of dried sea weed comparing to Surabaya and Manado prices are (0,13 0,25) and (0,10 0,22). The values indicated: first there relatively small conflict between 2 wholesalers to collect dried sea weed. Second, Surabaya market more interested comparing Manado market in sea weed trade. If the Government plan to build the SRC industry in Gorontalo with no involvement of the 2 traders, the industry will be collapse within a year due to sea weed raw material shortage.
PERAN GENDER DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN RUMAH TANGGA NELAYAN DI KOTA SEMARANG UTARA, PROVINSI JAWA TENGAH Achmad Azizi; Hikmah Hikmah; Sapto Adi Pranowo
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 1 (2012): Juni (2012)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.364 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v7i1.5740

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis peran gender dalam pengambilan keputusan pada rumah tangga nelayan dan telah dilakukan pada tahun 2007. Riset ini menggunakan metoda survei dengan studi kasus di kota Semarang Utara. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner tertutup terhadap 30 orang responden. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif. Hasil riset menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh gender atau pengambilan keputusan dilakukan secara bersama-sama antara suami istri pada kegiatan domestik, kegiatan produktif berupa investasi serta sosial kemasyarakatan. Pengaruh gender, yaitu didominasi oleh laki-laki (suami), hanya ditemukan pada pengambilan keputusan terkait dengan pengelolaan usaha perikanan masih didominasi oleh laki-laki (suami).Tittle: The Role of Gender in Household Decision-making at Fisherman in the City of North Semarang, Central Java Province a Case Study in the City of North SemarangThe study aims to analyze the role of gender in decision-making at the household fishermen have been done in 2007. This research used a survey method with a case study in the northern city of Semarang.The method of data collection is done by Focus Group Discussion (FGD) and structured interviews using questionnaires covered the 30 respondents. Data analysis method used is descriptive statistical analysis. The results showed that there was no effect of gender or decision made jointly between husband and wife in domestic activities, such as investment in productive activities and social. The influence of gender, which is dominated by men (husbands), was found only in decision making related to the management of fishing effort is still dominated by men (husbands).
TINGKAT KESEJAHTERAAN NELAYAN SKALA KECIL DENGAN PENDEKATAN PENGHIDUPAN BERKELANJUTAN DI KABUPATEN INDRAMAYU Riesti Triyanti; Maulana Firdaus
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.266 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i1.3170

Abstract

Kabupaten Indramayu memiliki jumlah rumah tangga menengah kebawah paling banyak diProvinsi Jawa Barat. Artinya, tingkat kesejahteraan yang dimiliki masih rendah. Penelitian ini bertujuanuntuk mengkaji tingkat kesejahteraan nelayan skala kecil (≤ 5 GT) di Kabupaten Indramayu. Datayang digunakan adalah data primer dan data sekunder yang dikumpulkan dengan menggunakanteknik wawancara, observasi dan pencatatan. Analisis data menggunakan pendekatan penghidupanberkelanjutan menggunakan indikator sumber daya keuangan, sosial, manusia dan alam. Tingkatkesejahteraan nelayan dapat dihitung dengan pendekatan penghidupan berkelanjutan yang berfungsiuntuk mengetahui kesejahteraan secara relatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa indeks penghidupannelayan berada pada kategori sedang (54,93%); capaian indikator modal keuangan (83,51%) dengankategori sangat baik; indikator modal alam (60,00%) dengan kategori sedang; indikator modal sosial(13,20%) dengan kategori buruk; dan indikator modal sumber daya manusia (56,65 %) dengan kategorisedang. Oleh karena itu, strategi yang direkomendasikan dalam mewujudkan penghidupan berkelanjutandi Kabupaten Indramayu adalah melalui peningkatan indikator modal sosial seperti peningkatanakses masyarakat terhadap kelembagaan ekonomi, mengoptimalkan kelembagaan masyarakat yangada khususnya dalam setiap program pemerintah, mengintegrasikan kelembagaan informal dengankelembagaan formal, dan mengaktifkan kembali koperasi yang telah ada atau mendirikan koperasiperikanan baru.Title: Welfare Level of Small Scale Fishers Based on Sustainable Livelihood Approach in Indramayu DistrictIndramayu District has a majority of fisher’s household with less prosperity in the West Javaprovince. This study aimed at analyzing the welfare of small-scale fisheries (≤ 5 GT) in IndramayuDistrict. Primary and secondary data were collected by using interviews, observation and recording.Analysis of the data used to determine the level of welfare of fisher’s are using the sustainable livelihoodsapproach using indicators of financial, social, human and natural resources. The welfare level of fisherscountable with sustainable livelihood approach which serves to determine relative welfare. The analyzeresults showed that the fisher livelihood index in middle category (54.93) with performance indicatorsof financial resources (83.51%) with very good categories; indicators of natural resources ( 60.00%)in the medium category; indicators of social resources (13,20%) with bad categories; and indicatorsof human resources (56.65%) with medium category. Therefore, recommendation strategy in order torealize sustainable livelihoods in Indramayu through increasing people’s access to economic institutions;optimize existing community institutions, especially in any government program; institutional integrateinformal with formal institutions; and activated existing cooperatives or built the new cooperative.
POTENSI EKONOMI PARIWISATA KABUPATEN PULAU MOROTAI Cornelia Mirwantini Witomo; Andrian Ramadhan
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): JUNI 2018
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.416 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v13i1.6959

Abstract

ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung potensi ekonomi pariwisata Kabupaten Pulau Morotai. Kabupaten Pulau Morotai sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Bahari menjadikan pariwisata sebagai salah satu sumber pemasukan daerah karena atraksi wisata yang ada berdasarkan potensi sumber daya alam dan peninggalan sejarah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif metode deskritif dan desk study. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis benefit transfer dari hasil penelitian sebelumnya di Kabupaten Pulau Morotai yang menggunakan metode travel cost method (TCM). Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, daya tarik wisata di Kabupaten Pulau Morotai adalah wisata alam seperti wisata alam bawah laut, wisata pantai serta wisata budaya dari hasil peninggalan sejarah diantaranya peninggalansejarah Perang Dunia II. Berdasarkan hasil perhitungan daya tarik wisata di Kabupaten Pulau Morotai potensi ekonomi Pariwisata Kabupaten Pulau Morotai adalah Rp13.295.140.000. Nilai ini disumbang dari wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Kabupaten Pulau Morotai selama 4 -11 hari. Memasukan potensi ekonomi dalam dokumen perencanaan pengembangan pariwisata Kabupaten Pulau Morotai merupakan salah satu dasar dasar untuk membuka pintu investasi baik untuk menanamkan modal dalam pengembangan pariwisata.Title: Economic Potential of Tourism at the Morotai Island RegencyABSTRACTThis research aims to calculate economic potential of tourism at Morotai Island Regency. Regency of Morotai has tourist attraction due to its natural resources and historical heritage. It is branded as Special Economic Zone (KEK) of Marine Tourism and make tourism as one of the source of its regional income. This research used descriptive qualitative and desk study method. The data is analyzed using benefit transfer analysis from the previous research which uses travel cost method (TCM). Based on interview and observation, marine tourism such as underwater travel, beach and cultural attraction, is a leading tourist attraction at Morotai Island Regency. Tourist attraction calculates the number of economic potential of tourism at Regency of Morotai Island amount IDR 13.295.140.000. It is contributed mostly from domestic and foreign travelers who traveled to Morotai Island for 4 to 11 days. Therefore, economic  potential of tourism will lead to investment in tourism development.
SIMULASI PERUBAHAN SOSIO-EKONOMI SERTA STRATEGI RUMAHTANGGA NELAYAN SKALA KECIL DALAM MEMPERTAHANKAN EKONOMI DAN KETAHANAN PANGAN RUMAHTANGGA DI PEDESAAN PANTAI JAWA TIMUR Pudji Purwanti
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 2 (2010): DESEMBER (2010)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.006 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v5i2.5800

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisa dampak perubahan parameter ekonomi seperti kenaikan BBM, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan strategi rumahtangga dalam meningkatkan pendapatan melalui penambahan curahan kerja non perikanan. Penelitian ini menggunakan model simulasi dengan metode Two Stage Least Squares (2SLS) untuk menganalisa perubahan ekonomi dan ketahanan pangan rumah tangga nelayan di Kabupaten Pasuruan dan Trenggalek, Provinsi Jawa Timur. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kenaikan sebesar 30 % untuk biaya operasional melaut dan harga bahan pokok pangan harus diimbangi dengan meningkatnya curahan kerja suami dan istri masing-masing 15%. Kenaikan tersebut juga menyebabkan penurunan ketahanan pangan rumah tangga nelayan. Hasil penelitian menyimpulkan rumahtanga nelayan skala kecil dapat mempertahankan ketahanan pangannya dengan memanfaatkan waktu kerja di rumah dan senggang istri nelayan sebagai waktu produktif berorientasi pasar. Tittle: Simulation of Socio-economic and Strategies of Small-scale Fisher’s Household for Rural Households Economic and Food Security in in East Java's Coasts.This research aims to analyze impact of economics changes parameter, such as increasing of fuel price, primary consumption and households strategies to increase their incomes by adding non-fishing work outflow. It uses a simulation model approach with Two Stage Least Squares (2SLS) method to analyze economics changes and food security of fishers households in Pasuruan and Trenggalek districts, East Java Province. Simulation results show that 30% increase in fishers operational cost and primary consumption price should be fulfilled by 15% increasing of work outflow from husband and wife in household. This increasing also leads to declining of fisherman households' food security. This research conclude that smallscale fishers household can keep their households food security by utilizing of theirs wife leisure timeproductivelyoriented to market.
ANALISIS PERANAN SEKTOR PERIKANAN DALAM MENDUKUNG PROGRAM MINAPOLITAN DI PROVINSI GORONTALO: MODEL INPUT-OUTPUT Taslim Arifin; Siti Hajar Suryawati
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.406 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5667

Abstract

Integrasi ekonomi yang menyeluruh dan berkesinambungan di antar semua sektor produksi merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi. Data sekunder berupa tabel inputoutput Propinsi Gorontalo tahun 2011digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis peran sektor perikanan dan keterkaitan kedepan serta kebelakang (forward and backward linkage) dalam perekonomian wilayah; dan (2) Mengetahui indeks daya penyebaran dan indeks derajat kepekaan pada kegiatan sektor perikanan. Metode analisis deskriptif, analisis keterkaitan, dan analisis daya penyebaran serta derajat kepekaan digunakan dalam penelitian ini. Hasil kajian menggambarkan bahwa sektor perikanan budidaya penyebarannya hampir merata, dengan jumlah permintaan seluruhnya mencapai Rp. 0,373 trilyun. Dari sisi penawaran menunjukkan bahwa wilayah pesisir Provinsi Gorontalo mampu berperan menyediakan produksi perikanan sebesar Rp. 0,280 trilyun (75,03%) dari seluruh penawaran/penyediaan produk, kekurangannya yakni sebesar Rp. 36.061 juta (9,65%) harus dipasok dari luar Provinsi Gorontalo. Permintaan akhir sektor perikanan paling banyak digunakan untuk konsumsi rumahtangga dan ekspor yaitu masing-masing sebesar 58,49%, dan 5,95%. Kontribusi sektor perikanan memberikan nilai input primer yang relatif kecil, yaitu sebesar Rp. 0,280 trilyun (6,61%) di bawah rata-rata per sektor Rp. 0,424 trilyun. Sektor perikanan dapat dikategorikan efisien (tingkat efisiensi 75,03%), paling efisien dibandingkan semua sektor maupun rata-rata totalefisiensi sektor kegiatan di Provinsi Gorontalo yang besarnya 53,66%. Koefisien keterkaitan langsung kebelakang sektor perikanan budidaya adalah 0,153159, nilai keterkaitan langsung ke depan adalah 0,107750, sedangkan nilai indeks daya penyebaran sebesar 0,8742 dan nilai indeks derajat kepekaan sebesar 0,8249. Melalui pengembangan sentra perikanan terpadu, keterkaitan antar sektor dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal tersebut dapat dilaksanakan melalui program “Minapolitan Berbasis Perikanan Budidaya”.Title: Analysis of Fisheries Sector’s Role in Supporting Minapolitan Program in Gorontalo Province: Input-Output ModelComprehensive economic integration and sustainable between production sectors is one key to successful economic development. Secondary data which used in this research were 2011 Gorontalo Province Input-Output Table Model. This research aimed to: (1) analyze the role of fisheries sector and forward and backward linkage in the economic region; and (2) knowing the distribution index and the degree of sensitivity index of fisheries sector activity in Gorontalo Province. Methods of descriptive analysis, linkage analysis, and analysis of power distribution and the degree of sensitivity used in this research. The results showed that the aquaculture sector is almost evenly spread, with the number of requests totaled Rp. 0.373 trillion. From the supply side shows that the area of the coastal province  of Gorontalo able role in providing fisheries production amounted to Rp. 0.280 trillion (75.03%) of the  entire supply / provision of products, shortcomings which amounted to Rp. 36,061 million (9.65%) to be supplied from outside the province of Gorontalo. Fisheries sector final demand mostly used for domestic  consumption and exports are respectively 58.49% and 5.95%. The contribution of the fisheries provide the primary input values are relatively small, amounting to Rp. 0.280 trillion (6.61%) below the average per sector Rp. 0.424 trillion. The fisheries sector can be categorized as efficient with an efficiency of 75.03%, the most efficient compared to all sectors and the average total efficiency of the sector of activity in Gorontalo Province which amount 53.66%. The coefficient of linkage directly to the back of aquaculture sector is 0.153159, the value of direct relevance to the future is 0.107750, while the index value of 0.8742 and the power spread degree of sensitivity index values of 0.8249. Connectivity between sectors can be exploited optimally and sustainable by program which called “Minapolitan Based on Aquaculture Fisheries”.