cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
DUKUNGAN ASPEK PRODUKSI DALAM SISTEM LOGISTIK IKAN NASIONAL (SLIN) DI KOTA KENDARI, SULAWESI TENGGARA Rismutia Hayu Deswati; Muhadjir Muhadjir
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 2 (2015): Desember (2015)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.094 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v10i2.1259

Abstract

Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) merupakan salah satu kebijakan nasional yang diluncurkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam rangka untuk menanggulangi ketimpangan ketersediaan ikan dan harga antara wilayah Indonesia bagian barat dan timur. Salah satu penyebab terjadinya ketimpangan ketersediaan dan harga ikan adalah masih kurang memadainya infrastruktur dalam pemasaran ikan dari daerah produksi menuju konsumen. Berdasarkan permasalahan tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis dukungan dari sektor produksi dalam implementasi SLIN serta mengidentifikasi hambatan dan tantangan yang harus dihadapi oleh sektor produksi dalam mendukung keberhasilan SLIN. Penelitian ini menggunakan metode survey pada daerah yang ditetapkan sebagai daerah hulu untuk program SLIN yaitu Kendari, Sulawesi Tenggara yang kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan bahan baku ikan pindang secara nasional sebesar 3.945 ton setiap hari sementara yang sudah terpenuhi sebesar 2.367 ton (60 %) dari total kebutuhan tersebut. Untuk memenuhi kekurangan pasokan bahan baku ikan pindang tersebut, dalam mendukung program SLIN, Kendari harus meningkatkan pasokan ikannya setidaknya sebanyak 1500 ton/hari. Hingga saat ini, Kendari baru bisa memproduksi maksimal sebanyak 375 ton/ hari yang disebabkan diantaranya oleh kemampuan dan peralatan nelayan Kendari kalah dibandingkan nelayan luar, adanya persaingan harga domestik antara nelayan mandiri dan nelayan binaan, tidak adanya jaminan harga dari operator SLIN dan pengurusan ijin kapal yang berbelit serta mahal. Oleh karena itu perlu adanya komitmen dari PT. Komira sebagai operator SLIN, KKP dan nelayan yang tegas untuk bisa mendukung keberhasilan program SLIN dan tercapainya tujuan. (Support of Production Aspect in National Fish Logistics System (SLIN) in the Kendari City, Southeast Sulawesi)National Fish Logistics System (SLIN) is one of the national policy launched by the Ministry of Marine Affairs and Fisheries in order to cope with a fish availability and price imbalances between the western and eastern part of Indonesia. One of the causes of this inequality is because of an inadequate infrastructure in the marketing of fish from production areas to consumers. Based on these problems, this research aims to identify and analyze the support of the production sector in the implementation of the SLIN program and also identify obstacles and challenges to be faced b on the area designated as the center for SLIN program that Kendari, Southeast Sulawesi, which is then to be analyzed descriptively. Results showed that the raw material needs for pindang (preserved fish) are 3.945 tons per day while already available by 2,367 tonnes (60%) of the total requirement. To meet the shortage of supply of raw material, in support the SLIN program, Kendari should increase the fish supply at least amounted for 1.500 tonnes/day. Up to now, Kendari could only produce 375 tons/day because the lack of ability and fishing equipment, competition in domestic prices between independent fishers and patron-client fisher, there was also no guarantee the price from the SLIN operator and some obstacles in ships licensing. Therefore, the commitment of PT. Komira as SLIN operator, MMAF and fisher are needed to support the program’s success and the achievement of SLIN program objectives.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN PENDAPATAN NELAYAN AKIBAT VARIABILITAS IKLIM Azizi Azizi; Eka Intan Kumala Putri; Achmad Fahrudin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): DESEMBER 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.686 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i2.5320

Abstract

Variabilitas iklim seperti curah hujan serta kondisi perairan dengan tinggi gelombang dan angin yang kuat mempengaruhi aktivitas nelayan di laut dalam melakukan operasional penangkapan. Kondisi ini mengakibatkan perubahan pendapatan dari para nelayan. Penelitian ini dilakukan di Desa Muara Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang bertujuan untuk mengetahui perubahan pendapatan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jumlah responden penelitian 100 orang terdiri dari 70 orang nelayan lokal, 15 nelayan pendatang dari Brebes dan 15 nelayan pendatang dari Tuban. Metode yang digunakan adalah analisis pendapatan dan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata perubahan pendapatan nelayan lokal jaring insang Rp.1.753.681 (10,41%), nelayan lokal jaring payang sebesar Rp.14.321.631 (22,05%), nelayan andon Brebes Rp.11. 430.833 (23,56%) dan nelayan andon Tuban Rp.25.342.333 (22,24%). Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan pendapatan nelayan adalah jarak menangkap, jumlah jam kerja di laut, dummy hujan dan dummy tinggi gelombang. Title: Analysis of The Factors Affecting The Change in Fisher’s Income Due To Climate Variability (Case: The Village of Muara, subdistrict of Blanakan, Subang District) Fish capture is heavily influenced by climate variability such as rainfall, water level and winds. Such conditions affect the fishers’ income. This research was conducted at Muara Village, Blanakan Sub-District, Subang Regency, and its purpose was to identify the change of income and factors contributing income changes. This research collected data from 100 respondents consist of 70 of local fishers, 15 of andon fishers from Brebes and 15 of andon fishers from Tuban. Method of the study was income analysis and a multiple linear regression. The research found that average number of local fishers’income with gills nets was IDR 1,753,681 (10.41%), local fishers with payang nets is IDR 14,321,631 (22.05%), andon fishers from Brebes was IDR 11,430,833 (23,56%), and andon fishers from Tuban was IDR 25,342,333 (22,24%). Factors that contribute to the income changes were distance of fishing area, sailing hours, rain dummy and wave height dummy.
IDENTIFIKASI STRATEGI INTERVENSI SISTEM USAHA PERIKANAN UNTUK MENINGKATKAN PASOKAN IKAN DI LOKASI RAWAN PANGAN Yayan Hikmayani; Rani Hafsaridewi; Agus Heri Purnomo
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2010): Juni (2010)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1839.566 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v5i1.5791

Abstract

Penelitian terkait dengan pengembangan sistem usaha perikanan dalam rangka mendukung ketahanan pangan telah dilakukan pada Tahun 2009, di lokasi-lokasi yang mewakili wilayah-wilayah yang oleh Badan Ketahanan Pangan dikategorikan sebagai rawan pangan. Metode penelitian yang dilakukan adalah studi kasus, dengan data yang dikumpulkan menggunakan metode survey. Responden terdiri dari pelaku usaha budidaya ikan dan masyarakat yang dipilih secara purposif masing-masing dari satu desa di kabupaten-kabupaten yang dinyatakan paling rawan pangan terpilih. Pengolahan data dilakukan secara deskriptif dan modeling, untuk mengetahui strategi dalam pengembangan usaha budidaya guna pemenuhan konsumsi ikan ideal oleh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan perlu adanya pembedaan strategi pengembangan sistem usaha perikanan di setiap lokasi, tergantung potensi lokasi masing-masing. Strategi pertama dilakukan dengan mengembangkan usaha perikanan mencakup sistem usaha budidaya mulai dari pembenihan sampai pembesaran serta penumbuhan usaha penyedia jasa input. Strategi lainnya yaitu dengan meningkatkan usaha perikanan yang ada di darah lain terdekat guna mensuplai kebutuhan ikan untuk konsumsi ikan di lokasi rawan pangan. Strategi intervensi dimaksud dapat dilakukan upaya intensifikasi dan ekstensifikasi usaha budidaya. Tittle: Development Strategy of Fisheries Farming System to Support Food Security at Food Shortage AreasThis research was to assess fisheries farming system development in supporting food security program in selected food shortage areas according to definition of the Food Security Agency, the Ministry of Agriculture. Research was conducted in 2009 and used survey method. Respondent was selected by using purposive sampling method. Primary and secondary data were used in this study. Data processing was carried out descriptively by using the System Dynamics Modeling Approach to find out appropriate strategy for developing fisheries farming system. Results showed that the fisheries farming system development at each location has different strategy depending on its potential resource. The first proposed strategy is to provide fisheries farming system, starting from seed production to nursery and grow-out culture activities, as well as to develop provider of business inputs. Another strategy is to improve existing fisheries farming system in the areas nearby to supply the needs of fish consumption in food shortage locations.
PENGELUARAN RUMAH TANGGA NELAYAN DAN KAITANNYA DENGAN KEMISKINAN: Kasus di Desa Ketapang Barat, Kabupaten Sampang, Jawa Timur Maulana Firdaus; Tenny Apriliani; Rizki Aprilian Wijaya
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.333 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i1.1195

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur pengeluaran rumah tangga nelayan yang dikaitkan dengan tingkat kemiskinannya. Penelitian ini dilakukan di Desa Ketapang Barat, Kabupaten Sampang pada tahun 2012. Data primer dan sekunder digunakan dalam penelitian ini dan dikumpulkan dengan metode survei. Responden dipilih secara tidak acak dan sesuai tujuan. Data dianalisis secara kuantitatif dengan bantuan teknik tabulasi silang. Untuk menggambarkan kondisi kemiskinan rumah tangga nelayan yaitu dengan menggunakan pendekatan garis kemiskinan dan untuk indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan dihitung dengan menggunakan formula Foster-Greer-Thorbecke (FGT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi pengeluaran rumah tangga terbesar yaitu untuk pengeluaran pangan yang mencapai 72,88 persen dan non pangan sebesar 27,12 persen. Terkait dengan tingkat kemiskinan yang ditinjau berdasarkan nilai garis kemiskinan yang ditetapkan BPS, maka rumah tangga nelayan di Desa Ketapang Barat yang tergolong miskin sebanyak 15 persen, sedangkan untuk nilai indeks kedalaman kemiskinan (P1) sebesar 0,007 dan indeks keparahan kemiskinan (P2) sebesar 0,002. Rendahnya nilai P1 dan P2 menunjukkan bahwa besarnya nilai pengeluaran pada setiap rumah tangga tidak jauh berbeda antar satu dan lainnya.
DAMPAK KEBIJAKAN MAKROEKONOMI TERHADAP KINERJA SUB SEKTOR PERIKANAN DI INDONESIA: SUATU PENDEKATAN EKONOMETRIKA Asnawi Asnawi
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 1 (2007): JUNI (2007)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1136.623 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v2i1.5862

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan makroekonomi terhadap kinerja sub sektor perikanan. Model ekonometrika yang dibangun sebagai sistem persamaan simultan yang memasukan variabel kebijakan makroekonomi. Analisis dampak dibedakan dalam 3 (tiga) periode, yaitu sebelum krisis ekonomi periode 1993-1996, pada krisis ekonomi periode 1997-2000 dan pada peramalan periode 2003-2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan makroekonomi: (1) depresiasi nilai tukar rupiah, (2) peningkatan kredit di sub sektor perikanan, (3) peningkatan investasi di sub sektor perikanan, (4) kombinasi penurunan tingkat suku bunga dan peningkatan kredit di sub sektor perikanan, dan (5) kombinasi kebijakan 1, 3 dan 4 pada peramalan periode 2003-2007 dapat meningkatkan kinerja sub sektor perikanan (produksi, konsumsi dan ekspor perikanan meningkat). Depresiasi nilai tukar rupiah, peningkatan kredit atau investasi di sub sektor perikanan (kebijakan tunggal) dapat meningkatkan kinerja sub sektor perikanan. Kinerja sub sektor perikanan akan meningkat lebih tinggi apabila dilakukan kombinasi kebijakan yang dapat menurunkan tingkat suku bunga, peningkatan kredit dan investasi di sub sektor perikanan pada kondisi depresiasi nilai tukar rupiah. Tittle:  Impacts of Macroeconomic Policy on The Performance of Fisheries Sector in Indonesia: An Econometrics ApproachThis research was intended to analyze the impact of macroeconomic policy on the performance of the fisheries sector. The Econometric model was built in terms of simultaneous equations system, which include macroeconomic policy variables. The impact analysis was elaborated into three periods, i.e. the period before the economic crisis (1993-1996), the period of economic crisis (1997-2000), and the forecasting period (2003-2007). The results of the macroeconomic policies of: (1) depreciation in exchange rate of rupiah, (2) the increasing of credit in fisheries sector, (3) the increasing of investment in fisheries sector, (4) the combination of the decreasing of interest rate and the increasing of credit in fisheries sector, and (5) the policy combination 1, 3 and 4 for the forecasting period 2003-2007 could increase the performance of fisheries sector in terms of production, consumption and fisheries export. The depreciation in exchange rate of rupiah, the increasing of credit or investment in fisheries sector (single policy) could increase the performance of fisheries sector. The performance of fisheries sector will be keep increasing by combining policies of: decreasing of interest rate, increasing of credit in fisheries sector and increasing of investment in fisheries sector at condition depreciations in exchange rate of rupiah.
DAMPAK PEMBERLAKUAN BEA KELUAR TERHADAP KINERJA EKSPOR SEKTOR KELAUTAN DAN PERIKANAN INDONESIA Estu Sri Luhur; Tajerin Tajerin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): DESEMBER (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1502.792 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i2.3833

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara eksportir produk perikanan terbesar di dunia dengan komoditas unggulan udang, tuna, dan rumput laut. Namun, komoditas ekspor Indonesia masih didominasi oleh produk primer berupa bahan mentah sehingga nilai ekspor masih rendah. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis dampak pemberlakuan bea keluar terhadap produk primer perikanan terhadap kinerja ekspor sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu cara mengatasi permasalahan tersebut. Kajian ini menggunakan data sekunder dengan mengambil Tabel I-O tahun 2008 yang kemudian disusun dalam bentuk computable general equilibrium (CGE) dengan menggunakan model Orani-G. Komoditas yang dianalisis adalah ikan TTC, ikan tangkap lainnya, patin, kerapu, rumput laut, budidaya lainnya, udang, ikan kering dan ikan olahan. Kajian ini menggunakan simulasi dengan tiga skenario pemberlakuan bea keluar, yaitu 7,5% (sim-1), 15% (sim-2), dan 22,5% (sim-3). Hasil kajian menunjukkan bahwa skenario 3, yaitu pemberlakuan tarif bea keluar 22,5% memberikan dampak terbesar terhadap kinerja makroekonomi di antaranya  peningkatan GDP 0,01% dan konsumsi rumah tangga sebesar 0,046%. Dampak terhadap kinerja sektoral: 1) output dan nilai tambah produk primer perikanan mengalami penurunan terbesar pada ikan TTC sebesar 0,68%, sedangkan output dan nilai tambah produk olahan perikanan mengalami peningkatan terbesar pada ikan olahan sebesar 0,72%; 2)  ekspor produk primer perikanan mengalami penurunan terbesar pada udang sebesar 35,81%, sedangkan ekspor produk olahan perikanan mengalami peningkatan terbesar pada ikan olahan sebesar 2,41%; 3) impor produk primer perikanan produk olahan perikanan mengalami penurunan terbesar pada udang sebesar 23,09%.Title: Impacts of Export Duties to Marine and Fisheries Sector’s Export PerformanceIndonesia has one of the largest exporters of fisheries products in the world with leading commodity shrimp, tuna and seaweed. However, Indonesia's exports are still dominated by primary products such as raw materials so that the value of exports is still low. On the other hand, the development of fishery processing industry in the country is still plagued by a lack of supply of raw materials so that to this day processing industry relies heavily on imported products. This paper aims to analyze the impact of the imposition of export duties on primary products of fisheries on the export performance of marine and fisheries sector as one way of addressing the issue. This study uses secondary data by taking the 2008 IO table is then compiled in the form of Computable General Equilibrium (CGE) models using Orani-G. Commodities are analyzed TTC fish, catch more fish, catfish, grouper, sea grass, other farming, shrimp, dried fish and fish preparations. This study uses three scenarios simulated with the imposition of export duties, ie 7.5% (sim-1), 15% (sim-2), and 22.5% (sim-3). The results show that the impact of the imposition of export duties on macroeconomic performance including 0.01% increase in GDP and household consumption amounted to 0.046%. Impact on sectoral performance: 1) output and value added fishery primary products experienced the largest decline in fish TTC 0.68%, while the output and value added processed fishery products experienced the largest increase in fish preparations of 0.72%; 2) export of primary products fishery experienced the largest decline in shrimp by 35.81%, while exports of processed fishery products experienced the largest increase in fish processed by 2.41%; 3) imports of primary products fishery processed fishery products experienced the largest decline in shrimp at 23.09%.
KAJIAN EKSTERNALITAS DAN KEBERLANJUTAN PERIKANAN DI PERAIRAN WADUK JATILUHUR Sonny Koeshendrajana; Rizki Aprilian Wijaya; Fatriyandi Nur Priyatna; Pujoyuwono Martosuyono; Sutrisno Sukimin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 2 (2009): DESEMBER (2009)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.853 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v4i2.5826

Abstract

Eksternalitas dapat diartikan sebagai dampak dari suatu kegiatan tertentu terhadap kegiatan lainnya. Dalam konteks pengelolaan sumberdaya perairan, eksternalitas sangat penting diketahui mengingat hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya alokasi pemanfaatan sumberdaya yang tidak efisien dan selanjutnya mempengaruhi kinerja keberlanjutan pemanfaatannya. Oleh karena itu, penelitian bertujuan mengkaji eksternalitas dan status keberlanjutan perikanan pada sumberdaya perairan waduk di waduk Jatiluhur. Penelitian ini dilakukan selama bulan Juli-Desember 2009. Secara spesifik, kegiatan penelitian difokuskan untuk mendapatkan data dinamika pengelolaan perikanan, eksternalitas dan status keberlanjutan pola pengelolaan perikanannya. Studi kasus digunakan pada penelitian ini. Data primer diperoleh melalui survei lapang dan data sekunder diperoleh melalui penelusuran dan kajian literatur terkait topik penelitian. Metoda analisis deskriptif kualitatif dan tabulatif digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menyajikan gambaran dinamika pengelolaan perikanan yang ada. Eksternalitas dan status keberlanjutan pola pengelolaan perikanan yang ada dieksplorasi berdasarkan lima pelaku pemanfaat yang teridentifikasi, yaitu perikanan tangkap, perikanan budidaya, wisata pemancingan, transportasi dan manajemen waduk. Keberlanjutan bagi pemanfaatan perikanan waduk dapat terjamin apabila pelaku usaha melakukan optimalisasi sesuai dengan daya dukung perairan bagi perikanan budidaya dan menjalankan pilihan pengelolaan perikanan tangkap dalam bentuk penerapan alat dan metoda penangkapan yang ramah lingkungan, penebaran ikan yang dapat memanfaatkan kesuburan perairan. Hasil kajian dapat digunakan oleh otoritas pengelola waduk sebagai rujukan bagi rumusan kebijakan pengelolaan perikanan di waduk Jatiluhur. Tittle: Externality and Sustainablity of Fisheries in the Jatiluhur ReservoirExternality can be defined as an impact of a certain activity to other activity. In the context of fisheries resource management, externality is important to understand due to its impact on in-efficiency resource allocation, and hence, affecting to the sustainable use of the resource. Therefore, research aimed at exploring externalities and sustainability status of fisheries in the Jatiluhur reservoir was carried out during July – December 2009. Specifically, the research was focused to find the dynamic pattern of fisheries related activities, externalities and sustainability status of the fisheries management pattern. Case study method was used in this study. Primary and secondary data were used in this study. Primary data were collected through field survey while secondary data were collected through literatures review on the relatedtopic of the study. Analyses were carried out descriptively both qualitative and tabulative data and information. Results of the study show dynamic illustration of the fisheries management practices in the Jatiluhur reservoir resource. Externalities and sustainability status of fisheries management pattern were explored based on five players being identified, namely capture fishery, aquaculture, sport fishing, transportation and reservoir management. Sustainability of each activity could be maintained if fish farmers operate cage culture optimally in accordance with the carrying capacity of the resource while fishery management implements the appropriated fishing gears and methods as well as stocking recommended species of fish to utilize the abundance of natural food. The results can be used by management authority as a basis for formulating policy and strategy fisheries management practice in the Jatiluhur reservoir.
ANALISIS KELAYAKAN USAHA AGROINDUSTRI RUMPUT LAUT DI KABUPATEN MALUKU TENGGARA Simon M. Picaulima; Anna K. Ngamel; Syahibul K. Hamid; Roberto M.K. Teniwut
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2015): Juni (2015)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.574 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v10i1.1250

Abstract

Kabupaten Maluku Tenggara memiliki potensi sumberdaya rumput laut yang cukup besar. Ketersediaan bahan baku yang berlimpah akan mendorong pengembangan agroindustri rumput laut. Penelitian bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha agroindustri rumput laut secara finansial. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, yang dilakukan pada bulan Maret hingga Oktober 2013 dengan menggunakan data primer dan sekunder. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa aspek finansial usaha pengolahan rumput laut layak untuk dijalankan. Secara finansial usaha agroindustri rumput laut dikatakan layak karena memiliki NPV lebih dari nol (NPV>0) dengan NPVtertinggi pada usaha chip atau tepung rumput laut sebesar Rp.120.607.320,00 dan yang terendah pada usaha puding rumput laut sebesar Rp. 302.982,00, Net B/C lebih dari satu (Net B/C>1) dengan nilai Net B/C terbesar pada usaha bakso rumput laut sebesar 1,80 sedangkan yang terkecil pada usaha sirup rumput laut yakni sebesar 1,24. IRR yang diperoleh lebih dari tingkat discount rate (IRR>DR) didapatkan nilai IRR terbesar pada usaha bakso rumput laut sebesar 50 persen, sedangkan yang terkecil pada usaha sirup rumput laut sebesar 28 persen. Payback period kurang dari umur usaha (PP<Umur usaha) dimana usaha pengolahan rumput laut yang memiliki jangka waktu pengembalian modal tercepat adalah bakso rumput laut yakni selama satu tahun lima bulan, sedangkan yang terlama adalah sirup rumput laut yakni dua tahun delapan bulan. Pengembangan usaha agroindustri rumput laut perlu dilakukan dengan cara pengembangan pasar, peningkatan modal dalam usaha, pengembangan inovasi dan kreativitas usaha, serta peningkatan kualitas dan kuantitas produk. Selain itu untuk pengembangan usaha agroindustri rumput laut perlu ada kebijakan dari pemerintah daerah yakni pendampingan yang intensif dari dinas instansi terkait, regulasi dan campur tangan pemerintah dalam menarik investor. (Feasibility Analysis of Seaweed Agroindustry in the Southeast Maluku Regency)Southeast Maluku regency has a plenty resource potential of seaweed. The availability of abundant raw materials will encourage the development of agroindustries seaweed. This study aims to analyze the feasibility of seaweed agroindustrial financially. The method used is the method of the survey, conducted from March to October 2013 by using primary and secondary data. The data were analyzed qualitatively and quantitatively. Results showed that the financial aspects of seaweed processing enterprises eligible to run. Agroindustrial enterprises is a financially viable because seaweed is said to have more than zero NPV (NPV> 0) with the highest NPV efforts on seaweed chips or flour for Rp120.607.320, 00 and the lowest in seaweed pudding efforts of Rp 302,982.00, Net B / C is more than one (Net B / C> 1) with the value of Net B / C meatballs largest seaweed on the business at 1.80 while the smallest in the syrup business seaweed which is equal to 1.24. IRR obtained over discount rate (IRR> DR) obtained the largest IRR meatballs seaweed on business by 50 percent, while the smallest in seaweed syrup business by 28 percent. The payback period is less than the age of the business (PP <Age of business) where the seaweed processing enterprises that have the fastest payback period is the seaweed meatballs for one year and five months, while the oldest is seaweed syrup that is two years and eight months. The development of agro-industry effort seaweed needs to be done by way of market development, the increase in venture capital, innovation and creativity development efforts, as well as improving the quality and quantity of products. In addition to the development of agro-industry enterprises seaweed needs to be a policy of the local government offices intensive assistance from relevant agencies, regulation and government interference in attracting investors.
KERUGIAN SUMBER DAYA IKAN AKIBAT PRAKTIK MARK DOWN KAPAL PENANGKAP IKAN DI INDONESIA Maulana Firdaus; Yesi Dewitasari; Radityo Pramoda; Sonny Koeshendrajana
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): DESEMBER 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.335 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i2.5324

Abstract

Dampak praktik Illegal Unreported and Unregulated Fishing (IUUF) telah mengakibatkan terganggunya pengelolaan pemanfaatan perikanan yang berkelanjutan dan menimbulkan kerugian ekonomi. Praktik mark down ukuran kapal penangkapan ikan merupakan salah satu penyalahgunaan perizinan dalam konteks praktik IUUF. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai kerugian sumber daya ikan (deplesi sumber daya) akibat praktik “mark down” ukuran kapal penangkap ikan yang dilakukan di Indonesia. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret – April 2017 bersifat ‘desk study’ dan dilengkapi dengan kajian literature terkait. Data sekunder dan primer digunakan dalam penelitian ini. Analisis data dilakukan melalui Pendekatan Surplus Produksi Model Schaefer digunakan dalam penelitian ini. Nilai kerugian sumber daya ikan diketahui berdasarkan nilai deplesinya. Nilai deplesi sumber daya menggunakan pendekatan The Net Price Method. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya praktik “mark down” telah menyebabkan deplesi sumber daya ikan atau pengurangan aset sumber daya ikan di perairan Indonesia. Besarnya nilai deplesi sumber daya pada tahun 2015 mencapai 9,83 trilyun rupiah dan diprediksi pada tahun 2020 meningkat menjadi 14,55 trilyun rupiah. Kajian merekomendasikan perlunya percepatan pengukuran ulang kapal perikanan dan penerapan sangsi yang tegas terhadap pelanggar sehingga tata kelola pemanfaatan sumber daya perikanan tangkap yang baik yang mampu mewujudkan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan di Indonesia. Tittle: Fish Resources Losses Due to Mark Down Fishing Vessel Practiced in IndonesiaThe impact of IUU fishing has resulted in management disorder of sustainable fisheries and it caused economic loss. Markdown in vessels size is one type of manipulation practices of license in IUU fishing. This study aims to analyze the loss value of fish resources (resource depletion) due to the “markdown” practices in Indonesia. The study was basically a desk study completmenting with relevant literatures review during March – April 2015. Primary and secondary data were used in this study. Data were analyzed using the Schaefer surplus production model approached. Loss value of fish resources was estimated in terms of depletion resource value using the Net Price Method. The research found that “mark down” has led to depletion or reduction of fish resources in Indonesian waters. The estimated value of resource depletion in 2015 reached 9.83 trillion rupiahs and it is predicted to rise into 14.55 trillion rupiahs in 2020. The research suggests the need to accelerate the process of re-measuring the size of fishing vessel as well as to impose sanctions for the disobedience of the rules, so that Indonesia could have a good governance in fisheries resource management with sustainable fisheries resources.
ANALISIS DAMPAK SUBSIDI INPUT TERHADAP EFISIENSI EKONOMI USAHA BUDIDAYA IKAN KERAPU DI KABUPATEN PESAWARAN, LAMPUNG Tajerin Tajerin; Estu Sri Luhur
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2011): DESEMBER (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (994.818 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i2.5771

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis perkiraan dampak subsidi input terhadap efisiensi ekonomi budidaya ikan kerapu dalam keramba jaring apung dan menentukan pilihan subsidi input yang optimal bagi keberlanjutan usaha. Penelitian dilakukan di Perairan Ringgung Kabupaten Pesawaran, Lampung pada bulan September - Desember 2010. Contoh responden dipilih secara sengaja menggunakan metoda sensus. Data yang digunakan adalah data primer dan dianalisis dengan menggunakan pendekatan fungsi biaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pangsa faktor usaha (sebagai proksi efisiensi ekonomi) budidaya ikan kerapu memiliki respons positif yang nyata terhadap perubahan harga benih, harga pelet ikan, harga pakan rucah ikan dan harga keramba jaring apung; dan memiliki respons negatif yang nyata terhadap perubahan upah tenaga kerja. Pemberian subsidi input berdampak positif terhadap pangsa faktor usaha budidaya ikan kerapu. Di samping itu, pilihan subsidi input yang optimal untuk meningkatkanpangsa faktor usaha adalah subsidi input benih dan pakan rucah ikan masing-masing sebesar 10% disertai subsidi bahan bakar minyak sebesar 30%. Berdasarkan temuan tersebut dan demi menjaga manfaat subsidi input bagi pengembangan usaha budidaya ikan kerapu di lokasi penelitian, pemerintah perlu menetukan formulasi dan mekanisme yang tepat pemberian subsidi input untuk usaha budidaya ikan kerapu. Pada satu sisi memperhatikan pentingnya efisiensi ekonomi (pangsa faktor) sebagai salah satu indikator keberlanjutan usaha, namun di sisi lain tidak menimbulkan semakin besarnya pengangguran. Tittle: Impact Analysis of Input Subsidies to Economic Efficiency of the Grouper Fish Culture in Pesawaran, Lampung.This paper was aimed to analyze possible impact of input subsidies to economic efficiency of the grouper fish culture in floating net cage, and determine level of input subsidies for maintainning sustainability of the business. This study was conducted in the regency of Pesawaran of Lampung province in September - December 2010. Sample respondents were purposely selected using a census method. Primary data were analyzed using the cost function approach. Results showed that share factor of grouper fish culture was a significant positively response to change in seed price, price of fish pellet, trash fish prices and prices of the floating net cage, and was a significant negatively response to change in labor cost. Input subsidies were a positively impact on the share factor of grouper fish culture. In addition, the optimum level of input subsidies to increase share factor can achieved by increase 10% of seed and trash fish feed subsidies, and 30% of fuel subsidies, respectively. Based on these findings and in order to maintain potential benefits of input subsidies in the development of grouper fish culture development, government should impose appropriate formulation and mechanism input subsidies for grouper fish industry. In one side, attention should be given on economic efficiency (factor share) as one of sustainability indicators of the business, and in the other side, this policy imposed should not create unemployment problem.