cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 352 Documents
DAMPAK PEMBERITAAN PENYALAHGUNAAN FORMALIN DI SEKTOR KELAUTAN DAN PERIKANAN Yayan Hikmayani; Siti Hajar Suryawati; Agus Heri Purnomo; Zahri Nasution
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 1 (2007): JUNI (2007)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.091 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v2i1.5864

Abstract

Riset dampak pemberitaan penyalahgunaan formalin di sektor kelautan dan perikanan telah dilakukan pada tahun 2006. Riset ini bertujuan untuk melihat sejauhmana dampak yang ditimbulkan akibat pemberitaan tentang penyalahgunaan formalin di sektor kelautan dan perikanan pada produsen dan konsumen. Pendekatan studi digunakan melalui analisis kebijakan. Data primer dan sekunder dirumuskan sesuai keperluan analisis kebijakan ini yaitu penelusuran terhadap dampak pemberitaan formalin terhadap produsen dan konsumen di sektor kelautan dan perikanan. Kemudian data hasil verifikasi dan survey lapang yang berasal dari kuesioner dan catatan lapangan (field notes) diolah secara deskriptif untuk mendapatkan interpretasi logis. Lokasi studi ditetapkan secara sengaja (purposive) dengan kriteria tersebut merupakan sentra penanganan dan pengolahan produk perikanan dan diberitakan banyak menggunakan bahan kimia formalin yaitu Jawa Barat (Karawang), Jawa Tengah (Semarang), DKI Jakarta dan Bandar Lampung. Hasil studi menunjukkan bahwa bagi produsen yang meliputi nelayan, pengolah dan pembudidaya ikan dampak negatif dari pemberitaan formalin adalah menurunnya permintaan ikan hasil tangkapan dan olahan sehingga pendapatan nelayan dan pengolah menjadi berkurang, sedangkan bagi konsumen dampak negatifnya konsumen jadi takut mengkonsumsi ikan laut dan hasil olahan sehingga lebih memilih mengkonsumsi tempe/tahu dan telur. Dampak positifnya bagi produsen baik nelayan dan pengolah yaitu sebagian dari mereka jadi mengetahui bahwa formalin tersebut membahayakan dan berusaha tidak menggunakan lagi. Dampak positif bagi konsumen bertambah pengetahuan tentang bahaya formalin sehingga mereka akan lebih hati-hati dalam mengkonsumsi ikan dan untuk sementara konsumsi ikan mereka dialihkan ke ikan hasil budidaya yang banyak dijual dalam kondisi hidup. Tittle: The Impact of Announcement on The Mis-used of Formalin in Marine and Fisheries SectorResearch on impact of mis-used of formalin in marine and fisheries sector have been done in 2006. The aim of the research was to show the impact of announcement on the mis-used of formalin to producers and consumers. Policy analysis approach was used as the method of study. Primary and secondary data were formulated accordingly to meet the requirement of the policy analysis, that is impact of media release on both side of producers and consumers. Verified data and field survey processed descriptively to build logical interpretation.The locations of study were specified in purpose to represent the center of handling and processing of fisheries product indicated with formalyn abuse. These location were West Java (Karawang), Central Java (Semarang), DKI Jakarta and Bandar Lampung. The results of study showed that the negative impacts of the news on formalin abuse to the producers were decreasing on demand of catch and processed fish products, which in turn reduce the income of the fisherman and fish processors. On the other side, the consumer shift their preference to other products such as tempe, tofu and eggs. The positive impacts to the fisherman and fish processors were the knowledge of the danger of formalin abuse on their products and they avoid to use the chemical. The positive impact on fish consumers were the awareness on formalin use on health arose and temporary their fish consumption shifted to the aqucultured fish which sold in living form.
DAMPAK SUBSIDI SOLAR TERHADAP KELESTARIAN SUMBER DAYA IKAN DI BITUNG, SULAWESI UTARA Yesi Dewita Sari; Estu Sri Luhur; Armen Zulham
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 1 (2012): Juni (2012)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2577.595 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v7i1.5732

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui dampak penetapan subsidi harga solar terhadap kelestarian sumber daya ikan telah dilakukan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung Kota Bitung pada Bulan April, Agustus dan Oktober 2010. Analisis pendugaan parameter biologi dilakukan dengan menggunakan model surplus produksi berdasarkan metode Clark, Yoshimoto and Pooley (CYP). Adapun analisis dinamika dan hubungan sebab akibat antara eksploitasi sumber daya perikanan dengan usaha penangkapan ikan dilakukan dengan metode analisis sistem dinamik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi baseline (harga solar Rp 4.500 per liter), rata-rata harga ikan Rp 6.200 per kg dan biaya operasional Rp 14.924.373 per trip maka jumlah effort yang diperbolehkan adalah sebanyak 1.601 trip per bulan dan jumlah produksi 982 ton per bulan serta ketersediaan stok ikan 1.306 ton. Tanpa subsidi solar (Rp 7.500 per liter) maka terjadi peningkatan biaya operasional per trip sebesar 36,76% (Rp 20.410.696 per trip), sedangkan jumlah effort yang diperbolehkan relatif tetap (1.600 trip per bulan). Hasil ini menunjukkan bahwa kebijakan subsidi solar tidak memberikan dampak signifikan terhadap kelestarian sumber daya ikan di Bitung. Oleh karena itu, subsidi solar harus tetap diberikan kepada nelayan di Bitung agar mereka dapat melakukan pemanfaatan sumber daya ikan secara berkelanjutan disamping mengurangi potensi pemanfaatannya oleh nelayan negara tetangga secara ilegal.Title: Impact of Fuel Subsidy on Sustainablity to Fishery Resources in Bitung, North SulawesiThe study aims to determine the impact of diesel price fixing subsidy to sustainability of fish resources has been carried out in the port of Ocean Fishery Bitung, Bitung City in April, August and October 2010. Analysis of biological parameter estimation is done using a production surplus model based on the method of Clark, Yoshimoto and Pooley (CYP). The analysis of the dynamics and the causal relationship between the exploitation of fishery resources to fishing effort carried out by the method of dynamical systems analysis. The results showed that in the baseline condition (diesel price of Rp 4,500 per liter), the average price of Rp 6,200 per kg of fish and operational costs Rp 14,924,373 per trip allowed the amount of effort that is as much a 1601 trips per month and the amount of production of 982 tons per month, and 1306 tons of fish stocks. Without the solar subsidy (Rp 7,500 per liter), then an increase in operating costs per trip by 36.76% (Rp 20,410,696 per trip), while the amount of effort that allowed relatively fixed (1,600 trips per month). These results indicate that the diesel subsidy policy does not provide a significant impact on the sustainability of fish resources in Bitung. Therefore, solar subsidies should be given to fishermen in Bitung so that they can perform the utilization of fish resources in a sustainable manner as well as reducing the potential for use by fishermen neighboring countries illegally.
MATA PENCAHARIAN DAN PENDAPATAN RUMAH TANGGA DI KAWASAN PESISIR KABUPATEN WAKATOBI Ngadi Ngadi
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): DESEMBER (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.276 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i2.3696

Abstract

Paper ini ditujukan untuk membahas mata pencaharian dan pendapatan rumah tangga di kawasan pesisir Kabupaten Wakatobi tahun 2015.  Penelitian dilakukan di tiga desa kawasan pesisir Wakatobi yaitu Desa Sombano di Kecamatan Kaledupa,  dan Desa Waelumu dan Longa di Kecamatan Wangi-Wangi. Data yang digunakan untuk analisis adalah data dasar aspek ekonomi terumbu karang dan ekosistem terkait di Kabupaten Wakatobi tahun 2015. Pengumpulan data dilakukan dengan tehnik survai, wawancara terbuka dan penelusuran data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar penduduk di Sombano bekerja sebagai petani rumput laut, sedangkan penduduk di Longa dan Waelumu bekerja di pertanian tanaman pangan dan perikanan tangkap. Sementara itu, rerata pendapatan rumah tangga di kawasan pesisir  masih rendah, terutama pada waktu musim gelombang kuat.  Rumah tangga di Desa Waelumu memiliki rerata pendapatan rumah tangga tertinggi, sedangkan pendapatan terendah terdapat di Desa Longa. Rumah tangga berpendapatan tinggi di Desa Waelumu dan Longa adalah nelayan tuna dengan area melaut yang luas, sedangkan di Desa Sombano merupakan petani rumput laut.  Rendahnya pendapatan masyarakat pesisir terutama nelayan di Wakatobi tidak terlepas dari praktek penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Persoalan tersebut masih terus terjadi meskipun telah dilakukan berbagai upaya untuk menanganinya. Dari sisi petani rumput laut, persoalan utama yang dihadapi adalah minimnya inovasi terutama penciptaan bibit unggul sehingga produksi rumput laut terus menurun.TItle: Livelihood and Household Income In Coastal Area, Wakatobi Regency This paper is intended to discuss the diversification of household income in coastal areas Wakatobi 2015. The study was conducted in three villages of the coastal area in Wakatobi that are Sombano Village in Kaledupa sub-district;  Village Waelumu and Longa in Wangi Wangi Sub-district. The data used for the analysis is the baselie data economic aspects of coral reefs and associated ecosystems in Wakatobi 2015. The data was collected by survey, open interviews and secondary data searches. The analysis showed the majority of the population in Sombano work as seaweed farmers, while residents in Longa and Waelumu work in crop farming and capture fisheries. Meanwhile, the average household income in coastal areas is still low, mainly at the strong wave season. Household in Waelumu have the highest average income, while the lowest is in Longa. High-income of households in Waelumu and Longa is tuna fishermen with large fishing area, while in the village of Sombano a seaweed farmers. The low income of coastal communities, especially fishermen in Wakatobi is inseparable from fishing practices are not environmental friendly. The problem continues to occur in spite of various efforts to address it. In terms of seaweed farming, the main problem is the lack of innovation, especially the creation of seeds so that the seaweed production continues to decline.  
FAKTOR ETIKA DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN DI INDONESIA Rilus A. Kinseng
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 2 (2009): DESEMBER (2009)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.025 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v4i2.5828

Abstract

Etika menyangkut perilaku manusia yang dianggap baik atau buruk, pantas atau tidak pantas. Kini disadari bahwa etika tidak hanya menyangkut interaksi atau hubungan antar sesama manusia, tetapi juga sangat penting dalam pengelolaan sumberdaya alam. Tujuan tulisan ini adalah untuk menunjukkan pentingnya memperhatikan faktor etika dalam pengelolaan sumberdaya perikanan di Indonesia. Metode yang digunakan adalah studi literatur yang dikombinasikan dengan pengalaman lapang penulis. Kedua sumber ini dijadikan sebagai bahan refleksi pemikiran secara teoritis. Data tersebut digunakan untuk pengembangan ide atau pemikiran lebih lanjut pada tulisan ini. Keadilan sosial merupakan satu bentuk etika sosial yang sangat penting diperhatikan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan, termasuk dalam penetapan zona penangkapan maupun perijinan alat tangkap. Dari segi etika lingkungan, etika lingkungan yang dominan di kalangan pengguna sumberdaya perikanan di Indonesia adalah antroposentrisme. Oleh sebab itu, pengelolaan sumberdaya perikanan seperti penetapan kawasan konservasi laut harus memperhatikan implikasi dari etika lingkungan ini. Tulisan ini mengusulkan perlunya mendekonstruksi etika antroposentrisme dan menggantikannya dengan etika ”teosentris”. Tittle: Ethical Factor in the Fisheries Management in IndonesiaEthics is about human conduct that considered as good or bad, proper or not proper. However, it has been acknowledged that ethics is not only important in the relation among people (human being), but also in relation between humans and their environment. The objective of this paper is to show the important of ethics to be taken into account in managing fishery resources in Indonesia. The method used was literature study combine with the author's field experiences. These data and as information where used to develop ideas and thoughts in this paper. It was argued that social justice is one of the social ethics that is very important to be considered, for example in establishing fishing zones as well as in permitting type of fishing gear to be used. Regarding environmental ethics, it was argued that the most common and dominant ethics among fishery resources users in Indonesia is anthropocentrism. Therefore, fishery resource management should pay serious attention to its implication in managing fishery resources, such as in the case of establishment of marine protected areas. This paper contended that it is needed to deconstruct the anthropocentrism and replace it with “theocentrism”.
JARINGAN KOMUNIKASI DALAM KEGIATAN PRODUKSI DAN PEMASARAN PADA PEMBUDIDAYA IKAN DI KABUPATEN KAMPAR, RIAU Zulkarnain Zulkarnain; Djuara P. Lubis; Arif Satria; Musa Hubeis
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2015): Juni (2015)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.486 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v10i1.1252

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang jaringan komunikasi pembudidaya ikan di kabupaten Kampar dalam melaksanakan kegiatan pembudidayaan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sentral global, sentral lokal, kebersamaan dan keterhubungan komunikasi yang terjadi antar pembudidaya ikan di Kabupaten Kampar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik sampling intact system. Jaringan komunikasi yang dianalisis adalah sentral global, sentral lokal, kebersamaan dan keterhubungan dengan menggunakan Software UCINET 6. Hasil penelitian menjelaskan bahwa jaringan komunikasi diantara pembudidaya ikan terbentuk berdasarkan kedekatan tempat tinggal dan kesamaan karakter antar anggotanya. Struktur jaringan komunikasi produksi dan pemasaran dalam usaha budidaya perikanan merupakan jaringan yang membentuk interlock personal network (memusat). Jaringan komunikasi antar pembudidaya yang memusat ini memberi arti bahwa ada peran dominan individu diantara sesama pembudidaya ikan.  (The Communication Network In Production and Marketing Activities of Fish Farmers at Kampar Regency)The research about communication network in production and marketing activities of fish farmer was conducted in Koto Mesjid Village. The main objective of this research is to know the central global, central local, betweenees, and connectedness in communication networks of fish farmer in aquaculture activities. Field survey was applied by purposive sampling technique. Data was analzed by using sociometry analysis and Ucinet 6 software. The results of the study explained that the communication network of fish farmers in the village of Koto Mesjid formed by the proximity of residence and similarity of characters among its members. The structure of the communication network in the business of production and marketing of aquaculture is the network that forms the radial personal networks. Communication network between fish farmers who converged gives the sense that there is a dominant role among individuals between fish farmers.
ANALISIS FINANSIAL BEBERAPA METODA BUDIDAYA BANDENG DAN UDANG SECARA MONO DAN POLI KULTUR (Studi Kasus di Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang) Admi Athirah; Tarunamulia Tarunamulia; Ruzkiah Asaf; Akhmad Mustafa
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): DESEMBER 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.93 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i2.6432

Abstract

Bandeng dan udang merupakan komoditas utama dari hasil budidaya ikan di tambak, mempunyai potensi pengembangan yang cukup besar pada hampir semua lahan pantai di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji profil dan prospek budi daya ikan di tambak dengan menggunakan beberapa teknologi budidaya di Kabupaten Subang. Data primer dan sekunder digunakan dalam penelitian ini. Data primer diperoleh dari observasi terhadap kegiatan petambak di lokasi penelitian dan wawancara dengan bantuan kuesioner terstruktur pada responden petambak terpilih. Data sekunder diperoleh dari laporan hasil penelitian dan berbagai instansi yang terkait dengan penelitian. Analisis finansial usaha yang meliputi biaya total, pendapatan kotor, keuntungan operasional, keuntungan bersih, biaya produksi, RC Ratio, BEP dan masa pengembalian modal digunakan dalam penelitian ini. Ada 4 tipe teknologi budi daya ikan yang dipraktekkan oleh petambak di Kabupaten Subang, yaitu poli kultur bandeng dengan udang windu, poli kultur bandeng dengan udang vaname, mono kultur bandeng dan teknologi intensif udang vannamei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas usaha budidaya bandeng secara monokultur menduduki posisi tertinggi yang ditunjukkan oleh nilai RC-Rasio sebesar 2.33, kemudian usaha budi daya udang vaname intensif dengan RC-Rasio sebesar 1.88, poli kultur bandeng dengan udang windu dengan RC-Ratio sebesar 1.75 dan poli kultur bandeng dengan udang vaname dengan RC-Rasio sebesar 1.41. Hasil tersebut menunjukkan bahwa dengan kondisi lingkungan tambak yang ada pada saat penelitian dilakukan, usaha budi daya ikan bandeng secara mono kultur lebih menguntungkan dibandingkan dengan ketiga teknologi budi daya ikan lainnya.Title: Financial Analysis of Various Methods of Mono and Poly Culture of the Milkfish and Shrimp(Case Study in Blanakan Sub-District, Subang Regency)Milkfish and shrimp are considered main commodities of pond fish culture and they have a great potential to be developed in almost all coastal area in Indonesia. This study aims to analyze pond fish culture profile and its prospect using several technologies of fish culture in Subang Regency. Primary and secondary data collection are applied in this study. Primary data were collected through observation and interview with selected fish farmer respondents using structured questionnaires. Secondary data were collected through research report and a number of related institutions. This study applied financial analysis method in terms of total cost, gross revenue, operational profit, net profit, cost of production, RC-Ratio, BEP and payback period. The research found that fish farmers in Subang Regency were practicing four different types of fish culture technologies, namely polyculture of milkfish with tiger prawn, polyculture of milkfish with vannamei shrimp, monoculture of milkfish, and intensive monoculture of vannamei shrimp. The result also indicated that the highest profit in terms of RC-Ratio of culture systems was monoculture of the milkfish (2.33), followed by the intensive monoculture of vannamei shrimp (1.88), polyculture of milkfish with tiger shrimp (1.75) and polyculture of milkfish with vannamei shrimp (1.41). It is concluded that monoculture of milkfish culture is more favorable compared with the other three fishpond culture technologies in the current environmental conditions.
DINAMIKA USAHA, PENDAPATAN DAN POLA PENGELUARAN KONSUMSI PETAMBAK GARAM DI DESA PINGGIRPAPAS, KECAMATAN KALIANGET, KABUPATEN SUMENEP Ahmad Azizi; Manadiyanto Manadiyanto; Sonny Koeshendrajana
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2011): DESEMBER (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.392 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i2.5774

Abstract

Usaha garam berperan penting dalam pendapatan rumah tangga. Usaha garam tersebut mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun, berakibat terhadap pendapatan dan pengeluaran rumah tangga. Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik sosial ekonomi dan dinamika usaha tambak garam, tingkat pendapatan dan pengeluaran dari berbagai sumber mata pencaharian. Metode survey digunakan dalam penelitian ini. Sebanyak 32 sampel responden diambil secara acak dan dimonitor secara periodik. Data primer dan sekunder digunakan dalam penelitian ini. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik responden, tingkat pendapatan dan pola pengeluaran rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 46,87% responden usaha petambak garam berpendidikan setingkat SLTP dengan kisaran pengalaman usaha 10 sampai 20 tahun. Tanggungan keluarga petambak garam berkisar antara 3- 6 orang. Kepemilikan lahan tambak garam 70,60% milik sendiri dan sisanya sebagai penggarap. Pendapatan zpetambak garam pada tahun 2007 adalah Rp. 31.900.000 dan pendapatan pada tahun 2008 mengalami kenaikan menjadi Rp. 46.700.000, sedangkan tingkat pendapatan pada tahun 2009 petambak garam mengalami penurunan sekitar Rp.5.950.000 sehingga menjadi sebesar Rp. 40.750.000. Sumber pendapatan petambak garam yang hanya mengandalkan dari usaha garam, 53,13% patambak garam yang sumber pendapatannya dari garam dan perikanan adalah 28,12%, sedangkan petambak garam yang mata pencahariannya lebih dari dua adalah hanya 12,50%. Pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga pada tahun 2008 adalah sebesar Rp.15.444.000/tahun sedangkan pada tahun 2009 mengalamikenaikan menjadi Rp. 19.624.000. Tittle: Dynamics of Business, income and expenditure patterns of Salt Farmers in Pinggirpapas Village, Kalianget of the Regency of Sumenep.Salts production business plays an important role in the household income. This type of business is continued to fluctuate from year to year. This situation affect on household’ revenue and expenditure. This research was aimed to analyse social and economic characteristics and dynamics of salt production business, level of income from various source of livelihood, and expenditure pattern of salt farmer household. A survey method was used in this study. Thirdty-two (32) respondent were randomly selected and monitored periodically. Primary and secondary data were collected. Data covered characteristic of respondents, business status, level of income and source and expenditure pattern of selected households. Results of the study illuetrated that educational level of salt farmer was mostly a junior high school (46.87%), while business experiences range from 10 to 20 years. Family size was relative large(3-6 person/household). 70.60% of respondents are owner, while the remaining ones are tenants. In 2007, salt farmer’s income was IDR 31.9 million, while in 2008 the income was increase to be IDR 46.7 million, then it was decreased by 5.95 million to become IDR 40.75 million. Salt farmer household who depended mainly on salt production business was 53.13%, while who depended on both salt business and fisheries and more than two source of income were 28.12% and 12.50%, respectively. In 2008, household expenditure of salt farmer was IDR 15.4 million, then it increased sharply to be IDR 19.6 million.
ANALISIS KEBERLANJUTAN LILIFUK: TINJAUAN PERSEPSI MASYARAKAT LOKAL Maharani Yulisti; Nendah Kurniasari; Christina Yuliaty
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.605 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.1187

Abstract

ABSTRAKPeran serta masyarakat dalam pengelolaan sumber daya perikanan dalam bentuk kearifan lokal merupakan wujud tanggung jawab mereka dalam melestarikan sumber daya sehingga dapat memberikanmanfaat berkelanjutan.Kearifan lokal tersebut bernama Lilifuk, yaitu kawasan di laut berbentuk kolam yang tergenang saat surut sehingga ikan terperangkap di dalamnya.Tulisan ini mengkaji persepsimasyarakat mengenai keberlanjutan Lilifuk di Kabupaten Kupang. Penelitian dilaksanakan di Desa Bolok dan Desa Kuanheum, Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang pada Oktober 2012 dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode studi kasus dan triangulasi digunakan dalam penelitian ini. Wawancara mendalam dilakukan terhadaptetua adat, kepala desa, dan perwakilan lembaga swadaya masyarakat.Data persepsi masyarakat dikumpulkan dari 30 responden. Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis persepsi menunjukkan bahwa sebesar 93,3% masyarakat mengetahui tentang keberadaan Lilifuk, 60% tahu sejarahnya, 93,3% tahu lokasinya dan 26,7% tahu batas-batasnya. Sebanyak 44% masyarakat menyatakan otoritas pengambilan keputusan pengelolaan Lilifuk adalah pemiliknya.Keterlibatan Masyarakat dalam Lilifuk hanya sebagai pemanfaat saat Lilifuk dibuka (63%). Manfaat Lilifukdapat diidentifikasikan sebagai berikut: menambah penghasilan, menjalin hubungan sosial, rekreasi, menjaga sumber daya ikan, menjaga lingkungan dan menjaga tradisi. Faktor-faktor yang mengancam keberlanjutan Lilifuk adalahlahan yang sempit, penurunan produksi ikan, pencemaran perairan dan tidak adanya penjagaan. Prioritas utama dalam menjaga keberlanjutan Lilifuk adalah (1) Menjaga dan melindungi serta memperbaiki kelestarian lingkungan; (2) Dukungan dan pengawasan pemerintah; (3) Menerapkan aturan dan sanksi hukum; (4) Meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kelestarian, dan; (5) Menggunakan alat tangkap ramah lingkungan.
CO-MANAGEMENT SUMBERDAYA LAUT PELAJARAN DARI PENGELOLAAN MODEL CO-FISH DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Ratna Indrawasih
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 2 (2008): DESEMBER (2008)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.193 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v3i2.5852

Abstract

Secara teoritis, praktek pengelolaan sumberdaya laut secara co-management lahir sebagai kritik terhadap pengelolaan yang bersifat sentralistik, seperti yang selama ini dipraktekkan di Indonesia dan community-based management. Kedua praktek pengelolaan sumberdaya laut ini memiliki kelemahan, yang diantaranya disebabkan oleh ketiadaan sinergi antara pemerintah dengan masyarakat (user group). Praktek co-management sebagai alternatif untuk mendorong terjadinya sinergi antar semua stakeholder terkait dalam pengelolaan sumberdaya laut. Penelitian ini mencoba mempelajari penerapan Co-fish di Kabupaten Lombok Timur- Nusa Tenggara Barat, yaitu pengelolaan sumberdaya laut yang dilakukan dengan pendekatan co-management dengan melibatkan stakeholder terkait. Bagaimana mekanisme dan dampaknya terhadap masyarakat binaannya serta bagaimana kekuatan dan kelemahannya yang didasarkan pada prinsip pendekatan co-management. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif. Tittle: Co-management of Marine Resource : Lesson Learnt from the Management Model of Co-Fish in Lombok Timur District, Nusa Tenggara Barat Province.Theoritically, the practice of marine resource management was created as a criticied of centralistic management wich being, that was practiced in Indonesia for a long time , and community-based management. Both of these practices of marine resource management have weaknesses, caused by the inexistance of cooperation between government and society (user group). actice of co-management is an alternative option to push a cooperation among all of related stakeholder in marine resourcemanagement. The research to study the implementation of Co-Fish in Lombok Timur District, Province of Nusa Tenggara Barat. Marine resources management was carried out by co-management approach involving related srakeholders. The mechanism and impact of the implementation of Co-fish to the society, and how the strengths and weaknesses of Co-fish based on principal of co-management approach were analsed with qualitative approach.
DAMPAK SUBSIDI SOLAR TERHADAP KEBERLANJUTAN USAHA PERIKANAN TANGKAP DI BITUNG DAN PELABUHANRATU Estu Sri Luhur; Yesi Dewita Sari
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 2 (2012): DESEMBER (2012)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.525 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v7i2.5681

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peranan subsidi harga solar terhadap keberlanjutan usaha perikanan tangkap. Penelitian dilakukan pada tahun 2010 di dua lokasi dengan tingkat pemanfaatan sumber daya perikanan yang berbeda, yaitu Bitung dan Palabuhanratu. Data yang digunakan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara kepada nelayan yang menggunakan alat tangkap berbeda di kedua lokasi penelitian, kemudian dianalisis dengan menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya subsidi harga solar menyebabkan semakin besar keuntungan yang diterima oleh nelayan karena biaya operasional yang ditanggung oleh nelayan semakin rendah. Di Bitung hasil analisis menunjukkan bahwa variabel dummy (D) berpengaruh signifikan terhadap penerimaan sebesar 2,28 yang artinya bahwa pemberian subsidi solar kepada nelayan dapat meningkatkan penerimaan sebesar 2,28%. Dengan demikian, subsidi solar mampu mendorong usaha perikanan tangkap nelayan di Bitung secara berkelanjutan. Sementara itu di Palabuhanratu menunjukkan bahwa jumlah hari melaut (trip) dan subsidi solar (D) berpengaruh negatif terhadap penerimaan. Makin lama hari melaut di fishing ground Teluk Palabuhanratu justru mengurangi penerimaan nelayan. Hasil ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya perikanan di Teluk Palabuhanratu terindikasi adanya kelebihan upaya penangkapan sehingga subsidi yang diberikan seharusnya bertujuan memfasilitasi nelayan untuk menangkap di luar Teluk Palabuhanratu. Title: Role of Price Subsidies on Diesel Fuel to Sustainability of Fishing Effort in Bitung, North Sulawesi and Palabuhanratu, West JavaThis study aims to assess the role of price subsidies on diesel fuel to the sustainability of fishing. Research was carried out at two locations of Bitung and Palabuhanratu representing different level of fishery resources utilization in 2010. Data used consists of primary and secondary data. Primary data were obtained through interviews with fishers using different gear on both sites and then analyzed using multiple regression. Results showed that diesel price subsidies causes the greater benefits received by the fishermen because the operational costs incurred by the fishermen are getting lower. In Bitung result of the analysis shows that the dummy variable (D) significant on revenue of 2.28 which means that the provision of diesel subsidies for fishermen to increase their revenue to 2.28%. Thus, the diesel subsidies could encourage fishermen fishing effort in Bitung in a sustainable manner. Meanwhile, in the Palabuhanratu result showed that number of days at sea (trip) and diesel subsidies (D) have negative effect to the revenue. The longer days at sea in the fishing ground Palabuhanratu Bay instead reduce fishing revenue. It means, utilization of fishery resources in the Palabuhanratu Bay have indicated on excess fishing effort, so that subsidy given should be aimed at facilitating fisher to fishing outside the Palabuhanratu Bay.

Page 6 of 36 | Total Record : 352