cover
Contact Name
Sutia Budi
Contact Email
ecosystem@universitasbosowa.ac.id
Phone
+62411-452901
Journal Mail Official
ecosystem@universitasbosowa.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Universitas Bosowa Lt. 5 Gedung B Jl. Urip Sumohardjo Km.4 Makassar Indonesia 90231
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Ecosystem
Published by Universitas Bosowa
ISSN : 14113597     EISSN : 25277286     DOI : https://doi.org/10.35965/eco.v21i1
Jurnal Ilmiah Ecosystem merupakan jurnal ilmiah yang dikelola secara peer review memiliki ISSN 1411-3597 (print) dan ISSN 2527-7286 (online) diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat Universitas Bosowa Jurnal Ilmiah Ecosystem menerbitkan artikel yang pada bidang ekonomi, manajemen, hukum, sosial, education, sastra, pertanian, perikanan dan kelautan, pendidikan, teknik, psikologi, teknologi informasi dan ilmu umum lainnya. Bagi penulis yang memiliki artikel pada bidang ini dapat disesuaikan dengan panduan penulisan dan template kemudian disubmit secara online di website jurnal dengan melakukan registrasi terlebih dahulu.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 560 Documents
Indikator Kinerja Drainase Pada Ruas Jalan Palopo-Masamba (Km 377+660 S.D. Km 381+020) Sudirman, Sudirman; Pasak, Anas; Syaifullah, Syaifullah; Patandjengi, Aswara A.
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 25 No. 3 (2025): Ecosystem Vol. 25 No 3, September - Desember Tahun 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v25i3.7987

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi eksisting elemen drainase, menentukan nilai Indeks Kondisi Drainase Permukaan (IKDP), serta memberikan rekomendasi penanganan pada sistem drainase jalan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan teknik observasi, pengukuran, dan dokumentasi lapangan, serta mengacu pada pedoman inspeksi cara cepat drainase jalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi drainase pada lokasi studi mengalami berbagai permasalahan, antara lain saluran tepi tersumbat oleh sedimen dan sampah, bahu jalan lebih tinggi dari badan jalan, kemiringan melintang tidak sesuai standar, serta inlet dan outlet banyak mengalami penyumbatan. Beberapa segmen bahkan tidak memiliki saluran drainase. Nilai IKDP sisi kanan jalan diperoleh IKDP 5 (20%), IKDP 4 (12%), IKDP 3 (15%), IKDP 2 (12%), IKDP 1 (20%). Sedangkan pada sisi kiri jalan, IKDP 5 (38%), IKDP 4 (29%), IKDP 3 (30%), IKDP 2 (0%), dan IKDP 1 (3%). Berdasarkan klasifikasi, kondisi drainase jalan pada ruas ini tergolong dalam kategori cukup hingga buruk. The objectives of this study were to determine the existing condition of drainage elements, determine the Surface Drainage Condition Index (IKDP) value, and provide recommendations for handling the road drainage system. The research method used was descriptive quantitative, using observation, measurement, and field documentation techniques, and referring to the guidelines for rapid road drainage inspection. The results showed that the drainage conditions at the study location experienced various problems, including blockage of the side channels by sediment and debris, shoulders higher than the road surface, substandard transverse slopes, and frequent blockages in the inlets and outlets. Some segments even lacked drainage channels. The IKDP scores for the right side of the road were IKDP 5 (20%), IKDP 4 (12%), IKDP 3 (15%), IKDP 2 (12%), and IKDP 1 (20%). Meanwhile, on the left side of the road, IKDP 5 (38%), IKDP 4 (29%), IKDP 3 (30%), IKDP 2 (0%), and IKDP 1 (3%). Based on the classification, the road drainage condition on this section is categorized as fair to poor.
Analisis Lalu Lintas Dan Persepsi Masyarakat Sebagai Dasar Evaluasi Rencana Pelebaran Jalan Poros Kambo Nur, Muh. Iqra; Natsir, Rakhmawati; Fikri, Muhammad
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 25 No. 3 (2025): Ecosystem Vol. 25 No 3, September - Desember Tahun 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v25i3.7988

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting serta volume lalu lintas pada Jalan Poros Kambo, serta menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap persepsi masyarakat mengenai dampak pelebaran jalan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan lokasi penelitian di Jalan Poros Kambo sepanjang 5,07 km, tepatnya pada STA 07+000 – STA 12+070 dari pusat Kota Palopo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jalan Poros Kambo merupakan jalan lokal kelas IV dengan dua lajur dua arah dan perkerasan lentur, namun belum dilengkapi bahu jalan dan trotoar, sehingga ruang gerak kendaraan dan pejalan kaki terbatas. Volume lalu lintas tertinggi tercatat sebesar 1007,7 smp/hari pada hari Sabtu dengan nilai derajat kejenuhan (DJ) sebesar 0,759 atau tingkat pelayanan (LOS) D, yang menunjukkan jalan telah mendekati kapasitas maksimum dan berpotensi menimbulkan kemacetan. This study aims to determine the existing condition and traffic volume on Kambo main road, and analyze the factors that significantly influence public perception regarding the impact of the road widening. This study uses a descriptive quantitative method with the research location on Jalan Poros Kambo along 5.07 km, precisely at STA 07+000 – STA 12+070 from the center of Palopo City. The results show that Jalan Poros Kambo is a class IV local road with two lanes, two directions and flexible pavement, but is not equipped with shoulders and sidewalks, so that the movement of vehicles and pedestrians is limited. The highest traffic volume was recorded at 1007.7 pcu/day on Saturday with a degree of saturation (DJ) value of 0.759 or a level of service (LOS) D, which indicates that the road has approached maximum capacity and has the potential to cause congestion.
Pengaruh Penggunaan Limbah Batu Bara Sebagai Pengganti Agregat Halus Terhadap Kuat Tekan Beton Haerunisa, Aulya; Sudirman, Sudirman; Amin, Michail
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 25 No. 3 (2025): Ecosystem Vol. 25 No 3, September - Desember Tahun 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v25i3.7990

Abstract

Penggunaan bottom ash di negara –negara di benua eropa dan amerika sudah merupakan hal yang umum. Di Negara-negara maju seperti Inggris dan Negara-negara eropa bottom ash digunakan sebagai bahan salah satu alternatif filler untuk bahan perkerasan jalan, selain itu juga digunakan sebagai bahan non struktural seperti batako dan paving block. Di Indonesia pemanfaatan bottom ash atau kerak limbah pembakaran batubara ini belum banyak digunakan. Di Indonesia yang banyak digunakan adalah fly ash atau abu terbang yang digunakan sebagai bahan aditif pada beton dan bahan perkerasan. Pada penelitian ini dilakukan pengujian terhadap kuat tekan beton mutu K-300 yang menggunakan bottom ash sebagai agregat halusnya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Pada penelitian penggunaan bottom ash digantikan dengan persentase penambahan mulai dari normal 25%, 50%, 75% hingga 100% terhadap berat agregat halus pasir. Masing-masing perlakuan menggunakan benda uji sebanyak 5 buah sehingga untuk 5 perlakuan benda uji yang dibuat adalah 25 buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bottom ash dapat digunakan sebagai bahan alternatif pengganti agregat halus pada beton. Dari data hasil uji tekan diketahui bahwa bottom ash secara keseluruhan menaikkan nilai kuat tekan beton. he use of bottom ash in European and American countries is commonplace. In developed countries like the UK and other European countries, bottom ash is used as an alternative filler for road paving materials. It is also used as a non-structural material, such as concrete blocks and paving blocks. In Indonesia, the use of bottom ash, or coal combustion waste slag, is not yet widely used. Fly ash is commonly used as an additive in concrete and paving materials. This study tested the compressive strength of K-300 grade concrete using bottom ash as fine aggregate. This research is experimental research. In this study, the use of bottom ash was replaced with percentage additions ranging from 25%, 50%, 75%, to 100% of the weight of fine sand aggregate. Five specimens were used for each treatment, resulting in a total of 25 specimensThe results indicate that bottom ash can be used as an alternative to fine aggregate in concrete. The compression test data indicates that bottom ash significantly increases the concrete's compressive strength.
Pengaruh Penggunaan Limbah Abu Cangkang Sawit Sebagai Filler Pada Campuran Aspal AC – WC dengan Variasi Perendaman Hartini, Wayan Juni; Jusmidah, Jusmidah; Fikri, Muhammad; Nurhidayah, Nurhidayah; Sudirman, Sudirman
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 25 No. 3 (2025): Ecosystem Vol. 25 No 3, September - Desember Tahun 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v25i3.7991

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi waktu perendaman terhadap sifat-sifat campuran aspal Asphalt Concrete – Wearing Course (AC-WC) yang menggunakan limbah abu cangkang sawit sebagai filler. Metode penelitian ini adalah studi literatur dan pengujian laboratorium. Variasi abu cangkang sawit yang digunakan sebesar 0%, 2%, 4%, 6%, dan 8%, kemudian dilakukan pengujian Marshall serta perendaman pada variasi waktu (1 hari, 2 hari, dan 3 hari) untuk mengamati perubahan stabilitas dan durabilitas pada campuran. Hasil penelitian penambahan abu cangkang sawit sebagai filler pada campuran aspal AC-WC dengan variasi perendaman menunjukkan bahwa abu cangkang sawit pada variasi 4% dan 6% memberikan hasil terbaik pada semua durasi perendaman, baik 1, 2, dan 3 hari. Hal ini menunjukkan bahwa abu cangkang sawit dapat meningkatkan daya tahan terhadap air dan kestabilan campuran aspal. Hingga pada durasi perendaman 3 hari campuran dengan variasi abu cangkang sawit 4% dan 6% tetap menunjukkan kinerja baik, menandakan bahwa abu cangkang sawit ini berkontribusi terhadap ketahanan air campuran aspal, juga mampu meningkatkan kinerja mekanis tanpa mengganggu keseimbangan antara agregat, filler, dan aspal. This study aims to determine the effect of variations in soaking time on the properties of the Asphalt Concrete – Wearing Course (AC-WC) asphalt mixture using palm kernel shell ash waste as a filler. The research method is literature study and laboratory testing. Variations of palm kernel shell ash used were 0%, 2%, 4%, 6%, and 8%, then Marshall tests and soaking at various times (1 day, 2 days, and 3 days) were carried out to observe changes in stability and durability of the mixture. The results of the study of the addition of palm kernel shell ash as a filler to the AC-WC asphalt mixture with variations in soaking time showed that palm kernel shell ash at variations of 4% and 6% gave the best results at all soaking durations, both 1, 2, and 3 days. This indicates that palm kernel shell ash can increase water resistance and stability of the asphalt mixture. Even at a soaking duration of 3 days, the mixture with variations of 4% and 6% palm shell ash still showed good performance, indicating that this palm shell ash contributes to the water resistance of the asphalt mixture, and is also able to improve mechanical performance without disturbing the balance between aggregate, filler, and asphalt.
Analisis Kerusakan Jalan Menggunakan Metode Bina Marga: Studi Kasus Ruas Jalan Lera Kecamatan Wotu Kabupaten Luwu Timur Muhaimin, Ahmad; Indrajaya, Indrajaya; Sudirman, Sudirman; Arnol, Irwan
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 25 No. 3 (2025): Ecosystem Vol. 25 No 3, September - Desember Tahun 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v25i3.7995

Abstract

Kerusakan perkerasan jalan yang bisa di temui di jalan tersebut seperti jalan yang berlubang, bergelombang, retak, amblas, dan berbagai jenis kerusakan lainnya. Bertujuan untuk mengetahui jenis dan tingkat kerusakan jalan lera kecamatan wotu kabupaten luwu timur dengan menggunakan metode bina marga. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif.  Dari hasil penelitian maka dapat diketahui bahwa jenis kerusakan yang ada pada ruas jalan lera kecamatan wotu kabupaten luwu timur yaitu segmen 1 retak kulit buaya dan lubang, segmen 2 amblas, dan retak kulit buaya di segmen amblas, retak kulit buaya, dan retak memanjang, di segmen 4 amblas, dan retak memanjang di segmen 5 retak kulit buaya, dan lubang, di segmen 6 amblas, lubang, dan  retak kulit buaya di segmen 7 amblas, dan retak kulit buaya sedangkan di segmen 8 amblas, segmen 9 retak kulit buaya, amblas, dan lubang dan di segmen 10 retak kulit buaya, dan lubang dan didapatkan  rata rata nilai kondisi jalan sebesar 5,3. Pavement damage encountered on the road includes potholes, bumps, cracks, sinkholes, and various other types of damage. The aim was to determine the type and extent of damage to Lera Road, Wotu District, East Luwu Regency, using the Bina Marga method. The research method used is a quantitative method.From the results of the study, it can be seen that the types of damage on the Lera road section, Wotu subdistrict, East Luwu Regency, namely segment 1 crocodile skin cracks and holes, segment 2 collapse, and crocodile skin cracks in the segment collapse, crocodile skin cracks, and longitudinal cracks, in segment 4 collapse, and longitudinal cracks in segment 5 crocodile skin cracks, and holes, in segment 6 collapse, holes, and crocodile skin cracks in segment 7 collapse, and crocodile skin cracks while in segment 8 collapse, segment 9 crocodile skin cracks, collapse, and holes and in segment 10 crocodile skin cracks, and holes and the average road condition value is 5.3.
Evaluasi Sedimentasi Aliran Sungai Ammasangan Kota Palopo Wahyuddin, Firli; Indrajaya, Indrajaya; Muarif, Muarif; Sulistiono, Waluyo
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 25 No. 3 (2025): Ecosystem Vol. 25 No 3, September - Desember Tahun 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v25i3.7998

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik sedimen dan kecepatan aliran sungai. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui pengambilan sampel tanah pada beberapa titik sepanjang 500 m dari Jembatan Putih Jl. Latamaccelling, serta uji laboratorium meliputi berat jenis tanah, analisa saringan, dan kadar air tanah, disertai pengukuran kecepatan aliran menggunakan current meter. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sedimen yang terdapat di Sungai Ammasangan terdiri atas pasir, kerikil, dan tanah dengan berat jenis rata-rata berkisar antara 2,60–2,70 gr/cm³. Analisa saringan memperlihatkan gradasi butir sedimen dominan berupa pasir kasar hingga halus. Nilai kadar air tanah bervariasi antara 15%–35% tergantung lokasi pengambilan. Pengukuran lapangan menunjukkan kecepatan aliran sungai rata-rata sebesar ±0,63 m/s dengan debit aliran sekitar 2,5–3,0 m³/s. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sedimentasi Sungai Ammasangan cukup signifikan sehingga mempengaruhi kapasitas penampang sungai dan berpotensi meningkatkan risiko banjir. The objective of this study was to determine the characteristics of sediment and river flow velocity. The method used was a quantitative approach through soil sampling at several points along a 500-meter stretch from the White Bridge on Jl. Latamaccelling. Laboratory tests included soil specific gravity, sieve analysis, and soil water content, along with flow velocity measurements using a current meter. Test results indicated that the sediment in the Ammasangan River consists of sand, gravel, and soil with an average specific gravity ranging from 2.60–2.70 g/cm³. Sieve analysis revealed a dominant sediment grain gradation of coarse to fine sand. Soil water content varied between 15%–35% depending on the sampling location. Field measurements indicated an average river flow velocity of ±0.63 m/s with a flow rate of approximately 2.5–3.0 m³/s. From these results, it can be concluded that sedimentation in the Ammasangan River is significant enough to affect the river's cross-sectional capacity and potentially increase the risk of flooding.
Evaluasi Manajemen Waktu Dan Biaya Proyek Menggunakan Metode Critical Path Method: Studi Kasus Pekerjaan Pembangunan Ruang Kelas SDN 22 Belopa Kabupaten Luwu Fausan, Andi; Jusmidah, Jusmidah; Sulistiono, Waluyo; Nurhidayah, Nurhidayah
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 25 No. 3 (2025): Ecosystem Vol. 25 No 3, September - Desember Tahun 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v25i3.7999

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas durasi dan biaya proyek dengan menganalisis manajemen waktu dan biaya menggunakan Metode Critical Path Method (CPM). Keterlambatan proyek diidentifikasi disebabkan oleh kurangnya tenaga kerja di lokasi dan masalah koordinasi dalam pengadaan material, yang menyebabkan pekerjaan seperti pemasangan dinding dan plesteran tertunda hingga empat minggu dari jadwal semula. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan analisis data kuantitatif menggunakan perhitungan Network Planning, Forward Pass, Backward Pass, dan Total Float. Hasil analisis CPM menunjukkan bahwa durasi waktu penyelesaian proyek yang efektif adalah 126 hari. Waktu ini menghasilkan penghematan waktu signifikan dibandingkan rencana awal dan menunjukkan potensi penghematan 8 hari dari realisasi, contohnya pekerjaan acian dinding dapat dimulai sebelum keseluruhan plesteran dinding selesai. Jalur kritis pada proyek ini ditemukan pada kegiatan: A, C, D, F, G, H, J, Q, dan AE. This study aims to evaluate the effectiveness of the project's duration and cost by analyzing time and cost management using the Critical Path Method (CPM). Project delays were identified as being caused by a lack of labor on site and coordination problems in material procurement, which caused works such as wall installation and plastering to be delayed by up to four weeks from the original schedule. The research method used was a case study with quantitative data analysis using Network Planning, Forward Pass, Backward Pass, and Total Float calculations. The results of the CPM analysis showed that the effective project completion time was 126 days. This time resulted in significant time savings compared to the initial plan and showed a potential saving of 8 days from realization, for example, wall plastering work could begin before the entire wall plastering was completed. The critical path in this project was found in activities: A, C, D, F, G, H, J, Q, and AE.
Dinamika Transformasi Permukiman Dan Densifikasi Pinggiran Kota: Studi Kasus Bumi Tamalanrea Permai, Kota Makassar Amri, Erwin; Manaf, Murshal
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 25 No. 3 (2025): Ecosystem Vol. 25 No 3, September - Desember Tahun 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v25i3.8021

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik transformasi spasial dalam perkembangan ruang ke pola densifikasi, mengidentifikasi bentuk dan pola densifikasi permukiman, serta mengkaji keterkaitan antara proses densifikasi dengan dinamika sosial dan ekonomi masyarakat di kawasan Bumi Tamalanrea Permai. Studi ini menggunakan pendekatan analisis spasial yang dikombinasikan dengan metode deskriptif kualitatif, termasuk pemetaan berbasis GIS, observasi lapangan, dan analisis Google Street View. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi spasial di Kawasan Bumi Tamalanrea Permai (BTP) berlangsung secara linier dan konsentris dari pusat ke pinggiran, ditandai oleh perluasan fisik dan fungsi bangunan, infill development, dan mendorong perubahan fungsi ruang. Densifikasi permukiman terjadi dalam bentuk vertikal, horizontal, dan multifungsi, sebagai respons terhadap nilai lahan, aksesibilitas, dan kebutuhan ekonomi rumah tangga. Selain itu, ditemukan keterkaitan erat antara proses densifikasi dengan perubahan struktur sosial dan ekonomi masyarakat, yang tercermin dari tumbuhnya aktivitas ekonomi informal dan bentuk adaptasi ruang yang fleksibel. Penelitian ini menegaskan bahwa densifikasi di kawasan suburban merupakan proses spasial-sosial yang saling terkait dan membutuhkan pendekatan perencanaan yang kontekstual dan inklusif. This study aims to analyze the characteristics of spatial transformation in spatial development to densification patterns, identify the form and pattern of settlement densification, and examine the relationship between the densification process and the social and economic dynamics of the Bumi Tamalanrea Permai area community. The study employs a spatial analysis approach combined with qualitative descriptive methods, including GIS-based mapping, field observation, and Google Street View analysis. The results showed that spatial transformation in the Bumi Tamalanrea Permai (BTP) area proceeded linearly and concentrically from the center to the periphery, characterized by physical expansion and building functions, infill development, and encouraging changes in spatial functions. Settlement densification occurs in vertical, horizontal, and multifunctional forms in response to land value, accessibility, and household economic needs. In addition, there is a close relationship between the densification process and changes in the social and economic structure of the community, which is reflected in the growth of informal economic activities and flexible forms of spatial adaptation. This research confirms that densification in suburban areas is an interrelated spatial-social process that requires a contextualized and inclusive planning approach.
Profil Metabolit Darah Kambing Kacang Bunting yang Diberi Pakan Suplemen Nutrition in Utero Pada Awal dan Akhir Kebuntingan Murniati, Tati; Dawanto, Jirpan; Sabrina, Falsya
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 25 No. 3 (2025): Ecosystem Vol. 25 No 3, September - Desember Tahun 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v25i3.8056

Abstract

Ketersediaan nutrisi pada induk baik melalui suplai dari makanan maupun hasil metabolisme induk mempunyai pengaruh sangat luas pada pertumbuhan fetus selama kebuntingan.  Sangat diperlukan upaya perbaikan ketersediaan nutrisi melalui peningkatan sekresi endogen hormon metabolisme dan metabolit penting dan faktor-faktor pertumbuhan lainnya.  Pengetahuan profil metabolit dapat berguna dalam memprediksi masalah metabolik.  Penelitian ini dirancang dimana Induk kambing dibagi kedalam 2 kelompok perlakuan induk berdasarkan status kebuntingan, dengan perlakuan waktu pemberian pakan suplemen dalam ransum, jumlah kambing yang digunakan sebanyak 36 ekor induk kambing. Perlakuan pemberian pakan nutrition in utero.  Induk kambing bunting dibagi dalam 2 perlakuan, yaitu: U1: induk bunting awal (umur kebuntingan 1 sampai 3 bulan); dan U2: induk bunting akhir (umur kebuntingan 3 sampai 5 bulan). Berdasarkan hasil penelitian maka didapat kesimpulan bahwa pemberian pakan suplemen UMMB dapat meningkatkan pertambahan berat badan induk bunting.  Waktu yang optimum pemberian pakan suplemen pada induk bunting memberikan pertambahan berat badan yang tinggi pada umur kebuntingan 3 sampai 5 bulan (akhir). Kandungan glukosa darah tinggi pada induk yang diberi pakan suplemen selama kebuntingan tetapi tidak berbeda pada kebuntingan awal dan akhir. Kandungan metabolit urea dan kreatinin tidak dipengaruhi oleh umur kebuntingan, dan kandungan metabolit darah relatif sama. The availability of nutrients to the doe, both through food supply and the doe's metabolic products, has a significant impact on fetal growth during pregnancy. Efforts to improve nutrient availability by increasing the endogenous secretion of metabolic hormones, essential metabolites, and other growth factors are essential. Knowledge of metabolite profiles can be useful in predicting metabolic problems. This study was designed to divide the mother goats into two treatment groups based on pregnancy status, with treatment timing of supplemental feed in the ration. A total of 36 goats were used. The treatment was in utero nutrition. Pregnant does were divided into two treatments, namely: U1: Early gestational ewes (1 to 3 months of gestation, and U2: Late gestational ewes (3 to 5 months of gestation. Based on the research results, the following conclusions were drawn that providing UMMB supplemental feed can increase weight gain in pregnant ewes. The optimal timing of supplemental feed administration to pregnant ewes results in high weight gain at 3 to 5 months of gestation (late). Blood glucose levels were high in ewes fed supplemental feed during pregnancy, but did not differ between early and late gestation. Urea and creatinine metabolite levels were not affected by gestational age, and blood metabolite levels were relatively similar.
Pengaruh Suhu Serta Bahan Biomassa Tempurung Kelapa Dan Serbuk Gergaji Terhadap Kapasitas Hasil Pada Pembuatan Asap Cair Dengan Proses Pirolisis Gazali, Al; Handayani, Tri Pratiwi
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 25 No. 3 (2025): Ecosystem Vol. 25 No 3, September - Desember Tahun 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v25i3.8067

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi pengaruh suhu pirolisis dan jenis biomassa terhadap rendemen serta mutu asap cair. Biomassa yang digunakan adalah tempurung kelapa dan serbuk gergaji. Pirolisis dilakukan pada 210 °C dan 350 °C, asap dikondensasikan, lalu dimurnikan melalui distilasi I dan distilasi II. Rendemen pirolisis meningkat pada 350 °C, yaitu 32,13% (tempurung kelapa) dan 35,56% (serbuk gergaji), dibandingkan 26,33% dan 28,12% pada 210 °C. Pemulihan distilat pada distilasi I dan II masing-masing mencapai 85% dan 58% untuk tempurung kelapa serta 70% dan 50% untuk serbuk gergaji pada 210 °C, sedangkan pada 350 °C mencapai 89% dan 67% untuk tempurung kelapa serta 82% dan 59% untuk serbuk gergaji. Bobot jenis (30 °C) berturut-turut adalah 1,0220 dan 1,0191 untuk tempurung kelapa, serta 1,0116 dan 1,0195 untuk serbuk gergaji, sehingga seluruh sampel memenuhi persyaratan bobot jenis >1,005. Kadar fenol meningkat dengan suhu, yakni 4,18 dan 9,16 pada tempurung kelapa serta 2,75 dan 7,01 pada serbuk gergaji. Secara visual, asap cair tempurung kelapa berwarna kuning kemerahan, transparan, tanpa bahan terapung, dan lebih gelap dibandingkan serbuk gergaji. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pengaturan suhu pirolisis pada 350 °C lebih direkomendasikan untuk produksi asap cair yang memenuhi acuan mutu fenol, sehingga dapat menjadi dasar pemilihan kondisi proses pada skala rumah tangga maupun skala kecil untuk menghasilkan pengawet alami berbasis biomassa. This study examined the effects of pyrolysis temperature and biomass type on the yield and quality of liquid smoke. Coconut shell and sawdust were used as feedstocks. Pyrolysis was conducted at 210 °C and 350 °C, the smoke was condensed, and the condensate was purified through first and second distillation. The pyrolysis yield increased at 350 °C, reaching 32.13% (coconut shell) and 35.56% (sawdust), compared with 26.33% and 28.12% at 210 °C. Distillate recovery in the first and second distillation reached 85% and 58% for coconut shell and 70% and 50% for sawdust at 210 °C, while at 350 °C it increased to 89% and 67% for coconut shell and 82% and 59% for sawdust. The specific gravity at 30 °C was 1.0220 and 1.0191 for coconut shell, and 1.0116 and 1.0195 for sawdust, indicating that all samples met the minimum requirement of specific gravity > 1.005. Phenol content increased with temperature, from 4.18 to 9.16 for coconut shell and from 2.75 to 7.01 for sawdust. Visually, coconut-shell liquid smoke was reddish-yellow, transparent, free of floating particles, and darker than sawdust liquid smoke. The findings imply that a pyrolysis temperature of 350 °C is more suitable for producing liquid smoke that meets the referenced phenol quality criteria, providing a practical basis for selecting operating conditions in small-scale or household production.

Filter by Year

2016 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 3 (2025): Ecosystem Vol. 25 No 3, September - Desember Tahun 2025 Vol. 25 No. 2 (2025): Ecosystem Vol. 25 No 2, Mei - Agustus Tahun 2025 Vol. 25 No. 1 (2025): Ecosystem Vol. 25 No 1, Januari - April Tahun 2025 Vol. 24 No. 3 (2024): Ecosystem Vol. 24 No 3, September - Desember Tahun 2024 Vol. 24 No. 2 (2024): Ecosystem Vol. 24 No 2, Mei - Agustus Tahun 2024 Vol. 24 No. 1 (2024): Ecosystem Vol. 24 No 1, Januari - April Tahun 2024 Vol. 23 No. 3 (2023): Ecosystem Vol. 23 No 3, September - Desember Tahun 2023 Vol. 23 No. 2 (2023): Ecosystem Vol. 23 No 2, Mei - Agustus Tahun 2023 Vol. 23 No. 1 (2023): ECOSYSTEM Vol. 23 No 1, Januari - April Tahun 2023 Vol. 22 No. 3 (2022): ECOSYSTEM Vol. 22 No 3, September-Desember Tahun 2022 Vol. 22 No. 2 (2022): ECOSYSTEM Vol. 22 No 2, Mei - Agustus Tahun 2022 Vol. 22 No. 1 (2022): ECOSYSTEM Vol. 22 No 1, Januari - April Tahun 2022 Vol. 21 No. 3 (2021): ECOSYSTEM Vol. 21 No 3, September - Desember Tahun 2021 Vol. 21 No. 2 (2021): ECOSYSTEM Vol. 21 No 2, Mei - Agustus Tahun 2021 Vol. 21 No. 1 (2021): ECOSYSTEM Vol. 21 No 1, Januari - April Tahun 2021 Vol. 20 No. 3 (2020): ECOSYSTEM VOL.20 NO 3 TAHUN 2020 Vol. 20 No. 2 (2020): ECOSYSTEM VOL.20 NO 2 TAHUN 2020 Vol. 20 No. 1 (2020): ECOSYSTEM VOL.20 NO 1 TAHUN 2020 Vol. 19 No. 03 (2019): ECOSYSTEM VOL.19 NO 3 September - Desember 2019 Vol. 19 No. 2 (2019): ECOSYSTEM VOL.19 NO 2 Mei - Agustus 2019 Vol. 19 No. 1 (2019): ECOSYSTEM VOL 19 NO. 1 Januari - April 2019 Vol. 18 No. 1 (2018): Vol 18 No 1 (2018): Januari-April 2018 Vol. 18 No. 2 (2018): ECOSYSTEM VOL 18 NO. 2 Mei - Agustus 2018 Vol. 18 No. 3 (2018): ECOSYSTEM September - December 2018 Vol. 17 No. 3 (2017): Vol 17 No 3 (2017): September-Desember 2017 Vol. 17 No. 2 (2017): Vol 17 No 2 (2017): Mei-Agustus 2017 Vol. 17 No. 1 (2017): Vol 17 No 1 (2017): Januari-April 2017 Vol. 16 No. 3 (2016): Ecosystem Vol 16 No 3, Oktober-Desember 2016 Vol. 16 No. 2 (2016): Ecosystem Vol. 16 No 2, Mei - Agustus 2016 Vol. 16 No. 1 (2016): Ecosystem Vol 16 No 1, Januari-April 2016 More Issue