cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 2 (2007)" : 11 Documents clear
Induksi Kalus dari Daun Nilam Kultivar Lhoksemauwe, SIdikalang, dan Tapaktuan dengan 2,4-D Suseno Amien; Mira Ariyanti; Mohamad Arief; Dani Kurniawan
Zuriat Vol 18, No 2 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i2.6718

Abstract

Kalus merupakan sumber penting dalam meningkatkan keragaman genetik dan pemahaman proses organogenesis dan embriogenesis serta rekayasagenetika kultivar untuk memperoleh bibit unggul nilam. Peneltian bertujuan untuk memperoleh karakteristik kalus yang terbentuk dari daun nilam kultivar Lhoksemauwe,Sidikalang, dan Tapaktuan dengan menggunakan zat pengatur tumbuh 2,4-D. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial dengan dua faktor perlakuan dan diulang tiga kali. Setiap perlakuan terdiri dari dua botol kultur. Faktor pertama adalah kultivar Nilam (A), terdiri dari tiga kultivar (a1 = Lhoksemauwe, a2 = Sidikalang, a3 = Tapaktuan) dan faktor kedua adalah konsentrasi 2,4-D (D) yang terdiri dari enam macam d1 = 0 mg/L, d2 = 0.5 mg/L, d3 = 1.0 mg/L, d4 = 1.5 mg/L, d5 = 2.0 mg/L, d6 = 2.5 mg/L. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara konsentrasi zat pengatur tumbuh 2,4-D dengan kultivar nilam Lhoksemauwe, Sidikalang dan Tapaktuan pada karakter ukuran kalus, persentase terbentuk kalus, bobot biomassa, jumlah tunas dan tinggi tunas. Varietas Lhoksemauwe memberikan respon yang lebih baik daripada varietas Sidikalang dan Tapaktuan pada karakter bobot biomassa kalus, ukuran kalus dan persentase terbentuk kalus. Kalus dapat diinduksi dengan menggunakan media MS dengan penambahan 2,4-D pada konsentrasi 0.5 mg/L, 1.0 mg/L, 1.5 mg/L, 2.0 mg/L dan 2.5 mg/L. Pada media MS tanpa penambahan 2,4-D tunas dapat tumbuh dari kultivar nilam Lhoksemauwe, Sidikalang dan Tapaktuan. Waktu awal terbentuk kalus tercepat diperoleh dari media yang mengandung 2,4-D 0.5 mg/L (d2), 1.0 mg/L (d3), 1.5 mg/L (d4), 2.0 mg/L (d5). Berturutturut waktu pemunculan kalus adalah 11.67; 12.17; 12.00; 12.50 HST. Media MS + 2,4-D 2.0 mg/L sangat baik untuk petumbuhan bobot biomassa kalus, ukuran kalus dan persentase terbentuk kalus pada varietas Tapaktuan.
Seleksi Batang Atas Kina (Cinchona ledgeriana) Klon QRC dalam Pembibitan Stek Sambung Mutia Dewi Roselina; Bambang Sriyadi; Suseno Amien; Agung Karuniawan
Zuriat Vol 18, No 2 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i2.6723

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan kina klon QRC C. ledgeriana yang mempunyai daya kompatibilitas terbaik terhadap batang bawah (Cinchona succirubra). Percobaan dilaksanakan mulai dari Oktober 2006 hingga April 2007 di Kebun Percobaan Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung, Ciwidey, Bandung. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan menggunakan 21 klon QRC kina sebagai perlakuan dan diulang tiga kali. 21 klon QRC kina tersebut adalah : klon QRC 111, QRC 133, QRC 135, QRC 162, QRC 183, QRC 189, QRC 191, QRC 197, QRC 207, QRC 210, QRC 212, QRC 213, QRC 241, QRC 247, QRC 264, QRC 282, QRC 328, QRC 329, QRC 345, QRC 349, dan Cibeureum 5 sebagai tanaman kontrol. Karakter yang diamati meliputi karakter jumlah tanaman yang hidup (bibit), tinggi batang atas dan tinggi tunas yang dihasilkan (cm), diameter tunas (mm), dan jumlah daun tunas (helai). Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa klon QRC memiliki daya kompatibilitas tinggi terhadap batang bawah dibandingkan dengan klon kontrol Cibeureum 5, yakni klon QRC 213 dan QRC 247 untuk karakter tinggi batang atas (cm) dan tinggi tunas (cm); QRC 212 dan QRC 213 untuk karakter diameter tunas (mm); QRC 133, QRC 135, QRC 247, dan QRC 264 untuk karakter jumlah daun pada tunas (helai). Untuk persentase karakter jumlah tanaman yang hidup didapatkan nilai sebesar 44.18%.
Diversitas Genetik Plasma Nutfah Kacang Pedang (Canavalia ensiformis L.) Berdasarkan Karakter Morfologi Bunga dan Daun Agung Karuniawan; Ade Ismail
Zuriat Vol 18, No 2 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i2.6714

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menduga keragaman genetik populasi kacang pedang(Canavalia ensiformis L.) yang berasal dari Jawa, Timor, Flores, dan ex. China berdasarkan karakter morfologi daun dan bunga. Dua belas genotip kacang pedang ditanam dalam rancangan acak kelompok dengan dua ulangan. Setiap genotipe ditanam dalam satu baris sepanjang 6 m dengan jarak antar baris 100 cm dan jarak dalam baris 50 cm. Analisis multivariat meliputi analisis komponen utama dan kluster yang dilakukan berdasarkan 19 karakter morfologi daun dan bunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis komponen utama walau tidak sejalan namun mampu mengelompokkan populasi Canavalia dalam tiga kelompok yang berbeda. Genotip asal Timor dam Flores cenderung berkerabat dekat dibandingkan dengan sebagian genotip asal Jawa dan ex. China. Morfologi daun adalah karakter pembeda dominan dibandingkan morfologi bunga.
Variabilitas Genetik Tanaman Gambir Berdasarkan Marka RAPD Hamda Fauza; Istino Ferita; Murdaningsih H. Karmana; Neni Rostini; Ridwan Setiamihardja
Zuriat Vol 18, No 2 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i2.6696

Abstract

Budidaya gambir selama ini belum menggunakan varietas unggul. Permasalahan utama dalam mendapatkan varietas unggul gambir melalui program pemuliaan tanaman adalah belum diketahui bagaimana variabilitas genetik tanaman gambir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui variabilitas genetik gambir berdasarkan profil pita DNA menggunakan teknik RAPD (Random Amplified Polymorphysm DNA). Hasil penelitian diharapkan akan dapat digunakan sebagai informasi dasar dalam program pemuliaan tanaman gambir ke depan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan secara genetik, baik antar tipe tanaman gambir maupun dalam tipe yang sama. Disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar yang berasal dari berbagai lokasi dan menggunakan lebih banyak primer dalam analisis RAPD.
Karakter Agronomi Populasi F1 dan F2 Padi Persilangan CMS IR58025 A dengan Tiga Galur Pemulih Kesuburan dan Resiprokalnya Aris Hairmansis; Murdani Diredja; , Suwarno
Zuriat Vol 18, No 2 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i2.6710

Abstract

Penelitian untuk mempelajari pengaruh depresi inbreeding dan mandul jantan sitoplasma terhadap penampilan beberapa karakter agronomi padi pada populasi F1 dan F2 dilakukan dengan menggunakan populasi persilangan galur mandul jantan (cytoplasmic genetic male sterile= CMS) tipe wild abortive (WA) IR58025A dengan tiga galur pemulih kesuburan, IR53942, C20 dan Kencana Bali, masing-masing mewakili tipe padi Indica, Japonica dan Javanica; dan persilangan resiprokalnya. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya heterosis yang nyata untuk semua karakter yang diamati pada hampir semua populasi F1 yang diuji. Sebagian besar populasi F2 menunjukkan depresi inbreeding yang nyata untuk semua karakter agronomi yang diamati, dan nilai depresi inbreeding terbesar terlihat pada karakter hasil gabah kering per tanaman yang besarnya antara 18.16% sampai dengan 53.98%. Nilai tengah karakter umur berbunga, tinggi tanaman, jumlah anakan dan hasil gabah kering per tanaman antara F1 hasil persilangan dengan menggunakan CMS sebagai tetua betina dan resiprokalnya berbeda untuk tiap kombinasi hibrida. Hal yang sama juga terjadi pada populasi F2 turunannya. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa penurunan nilai tengah hasil gabah kering dari F1 ke F2 nyata pada semua hibrida yang diuji dan besarnya bervariasi antar kombinasi hibrida. Berdasarkan keragaan individu-individu di F2, fiksasi penampilan agronomi di F1 dimungkinkan karena sejumlah individu di F2 mampu menunjukkan penampilan yang superior dibanding F1, namun penggunaan kembali benih turunan dari hibrida F1 tidak dapat direkomendasikan karena nilai tengah dari populasi F2 secara nyata lebih rendah dibandingkan F1-nya.
Preliminary Selection on Yield of Three Way Cross QPM Hybrids in West Java-Indonesia D. Ruswandi; Dwi Wirawan; S. Ruswandi; F. Kasim; M. Rachmadi
Zuriat Vol 18, No 2 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i2.6706

Abstract

Thirty-two TWC QPM hybrids were selected based on genotype × environment (G × E) interaction and stability. The experiment was conducted in three locations with differing conditions. TWC QPM hybrids were tested under nitrogen deficient and nitrogen sufficient fertilization at the Padjadjaran University Faculty of Agriculture Experimental Station, Jatinangor, Sumedang from March until July 2004. Another set of TWC QPM hybrids was tested under sufficient nitrogen fertilization at a high altitude location in Pangalengan from June until October 2004. Each experiment was arranged in a randomized block design with two replications with 32 TWC QPM hybrids and two check cultivars, i.e. Bisi-2 and Pioneer-7. Bartlett’s homogeneity test was applied to error derived from analyses of variances of every location. Combined analysis was done since error was homogenous for all observed characters. The combined analysis showed that there was G × E interaction for seed weight per 10 plants. Preliminary METs in West Java successfully selected newly developed TWC QPM hybrids based on stability and interaction between G × E. These hybrids are QPDMR-8-BCP1 and QPDMR-8-BCP2 for wide adaptive cultivars and QPDMR-35-BCP1, QPDMR-26-BCP1, QPDMR-8-BCP1, QPDMR-1-BCP2, QPDMR-8-BCP2, QPDMR-10-BCP2 and QPDMR-15-BCP2 specific adaptive cultivars.
Deteksi Molekular Mutan Manggis In Vitro denga Marka RAPD Warid Ali Qosim; R. Poerwanto; G. A. Wattimena; , Witjaksono
Zuriat Vol 18, No 2 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i2.6702

Abstract

Informasi variabilitas genetik sangat penting untuk menunjang program pemuliaan manggis. RAPD adalah marka molekuler yang dapat membantu dalam proses seleksi dalam program pemuliaan tanaman manggis.Tujuan penelitian adalah mempelajari variabilitas genetik akibat iradiasi sinar gamma. Dua puluh dua DNA regeneran manggis yang sudah diseleksi diamplifikasi menggunakan random praimer dalam mesin PCR. Praimer yang digunakan adalah SBH 13, SBH 18, SB 13, SB 12, dan SB 19. Pembuatan dendogram dilakukan dengan bantuan program NTSys-pc versi 2.1. Hasil analisis RAPD menunjukkan perubahan pita lima praimer acak berkisar 250−2000 pasang basa (pb). Praimer SB 19 menghasilkan jumlah pita paling banyak, sedangkan praimer SBH 13 menghasilkan jumlah pita paling sedikit. Berdasarkan dendogram analisis RAPD 22 regeneran mutan dan kontrol, nilai koefisien kemiripan genetik antara 0.60–0.91 (60%−91%) atau variasi genetik 9%− 40%. Pada nilai koefisien kemiripan genetik 60% terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok E berbeda dengan kelompok lainnya (A, B, C, D), sehingga secara keseluruhan kelompok regeneran mutan dan tanaman kontrol yang dianalisis menghasilkan lima kelompok utama.
Seleksi Beberapa Karakter Penting 15 Aksesi Tanaman Pala (Myristica fragrans Houtt.) di Kebun Percobaan Cicurug, Sukabumi Edi Wardiana; Enny Randriani; Cici Tresniawati
Zuriat Vol 18, No 2 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i2.6716

Abstract

Dalam analisis lintasan, menganalisis banyak karakter sebagai variabel bebas secara serempak sering ditemukan kurangnya informasi mengenai pengaruh (hubungan) yang diharapkan, di samping adanya efek multikolinieritas. Kendala seperti ini dapat dikurangi melalui teknik analisis secara bertahap dan seleksi variabel bebas dengan metoda stepwise. Penelitian yang bertujuan untuk menge tahui karakter penting 15 aksesi tanaman pala dilakukan di KP. Cicurug, Sukabumi, pada ketinggian tempat 550 m dpl dengan jenis tanah Latosol dan tipe iklim A(Schmidt dan Fergusson), mulai Januari sampai Desember 2007. Penelitian dilakukan dengan metode survey pada 37 contoh tanaman pala betina yang ditentukan secara purposive sampling. Analisis lintasan dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan siklus perkembangan tanaman, mulai dari tahap vegetatif, generatif, hasil dan komponen hasil, sampai pada tahap produksi. Variabel bebas diseleksi dengan menggunakan metode stepwise. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:(1) terdapat beberapa karakter penting untuk kegiatan seleksi tanaman pada tahap dini, diantaranya adalah: ukuran kanofi, ukuran cabang, ukuran daun, dan ukuran tinggi pohon. Untuk tahap perkembangan tanaman yang lebih lanjut, seleksi dapat dilakukan terhadap ukuran diameter bunga, jumlah buah, dan bobot per satuan buah, dan (2) untuk tujuan produksi tinggi, seleksi sebaiknya diarahkan pada rendahnya ukuran kanofi, cabang, sudut cabang, lebar daun, dan diameter bunga. Sebaliknya untuk karakter panjang daun, tinggi pohon, jumlah buah, dan bobot buah sebaiknya dipilih yang ukurannya lebih besar.
Efektivitas Wide Compatibility Variety dalam Persilangan dengan Padi dari Berbagai Agroekosistem Rini Hermanasari; Hajrial Aswidinnoor; , Trikoesoemaningtyas; , Suwarno
Zuriat Vol 18, No 2 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i2.6712

Abstract

Percobaan untuk mengevaluasi efektivitas gen wide compatible dari enam genotipe padi telah dilaksanakan di kebun percobaan dan rumah kaca Muara, Bogor dari bulan April 2005 sampai Pebruari 2006. Percobaan ditata berdasarkan rancangan acak kelompok (RAK) yang diulang tiga kali. Untuk mengevaluasi efektivitas enam wide compatibility variety (WCV) dilakukan dengan menyilangkan antara enam WCV terdiri dari Cabacu, Napa, Kencana Bali,Lampung Lawer, Grogol dan Klemas disilangkan dengan 32 tester yang berasal dari subspesies dan ekotipe berbeda. Hasil pengujian menunjukkan bahwa genotipe Cabacu dan Grogol merupakan WCV yang efektif dalam meningkatkan pengisian gabah pada persilangan antar subspesies dan ekotipe berbeda.
Marka Mikrosatelit Sebagai Alternatif Uji BUSS dalam Perlindungan Varietas Tanaman Padi Sugiono Moeljopawiro
Zuriat Vol 18, No 2 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i2.6708

Abstract

Studi dilaksanakan di BB Biogen untuk menjajagi kemungkinan penggunaan SSR bagi BUSS pada padi. Varietas Fatmawati dan tujuh varietas pembanding diuji dengan 10 marker SSR. Diperoleh 125 lokus pada kromosom 1, 2, 5, 6, 7, 10 dan 11 dengan jumlah alil berkisar antar 6 pada BPC samapi 33 pada Fatmawati. Marka mikrosatelit dapat digunakan untuk mendeteksi perbedaan antar varietas maupun untuk mencirikan varietas, dimana Marka RM11 merupakan marka utama yang terdapat pada varietas Fatmawati, Maros, Barumun, Gilirang dan Memberamo, RM237 pada Cisadane dan BP630, dan marka RM133 dan RM287 pada BPC. Baik secara morfologi maupun secara molekuler terbukti bahwa kedelapan varietas yang diuji masih belum seragam. Khusus untuk varietas Fatmawati yang dijadikan varietas simulasi uji BUSS, hasil tersebut menunjukkan bahwa bahwa varietas Fatmawati keragamannya masih tinggi sehingga tidak dapat diberi perlindungan PVT dan belum layak dilepas sebagai varietas unggul baru, karena masih belum seragam. Atas dasar pertimbangan waktu, biaya dan ketelitian, marka mikrosatelit dapat diusulkan sebagai alternative uji BUSS di masa depan.

Page 1 of 2 | Total Record : 11