cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 298 Documents
Phenotypic appearance the yield character of five genotypes of cayenne pepper at Sukamantri, Ciamis Eva Oktaviani; Neni Rostini; Agung Karuniawan
Zuriat Vol 29, No 2 (2018): Zuriat Vol. 29 No. 2 (Desember 2018)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v29i2.15920

Abstract

The purpose of this experiment is to evaluate the phenotypic appearance the yield character of five genotypes of cayenne pepper at Sukamantri, Ciamis region. The experiment used a randomized block design, with five replications. The experiment material consists of five genotypes of cayenne pepper, namely Unpad Ratuni, CR8873, Dewata, Taruna, and Rabani. The experiment was conducted at Sukamantri, Ciamis with altitude of 983 m above sea level (asl.) from August 2017 to February 2018. Data observed included fruit length, fruit diameter, fruit weight per fruit, fruit weight per plant, fruit weight per plot, and fruit weight per hectare. The experiment results show that there are differences in phenotypic characters among the five genotypes tested. Genotypes of the Gods, CR8873, and Ratuni Unpad show the highest potential yield (10.961 ton/ha, 0.345, and 10.232), with fruit weight of fruit per 1.382 gram, 0.911 grams, and 1.311 grams.Keywords: cayenne pepper, phenotypic character, yield
Preliminary Selection on Yield of Three Way Cross QPM Hybrids in West Java-Indonesia D. Ruswandi; Dwi Wirawan; S. Ruswandi; F. Kasim; M. Rachmadi
Zuriat Vol 18, No 2 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i2.6706

Abstract

Thirty-two TWC QPM hybrids were selected based on genotype × environment (G × E) interaction and stability. The experiment was conducted in three locations with differing conditions. TWC QPM hybrids were tested under nitrogen deficient and nitrogen sufficient fertilization at the Padjadjaran University Faculty of Agriculture Experimental Station, Jatinangor, Sumedang from March until July 2004. Another set of TWC QPM hybrids was tested under sufficient nitrogen fertilization at a high altitude location in Pangalengan from June until October 2004. Each experiment was arranged in a randomized block design with two replications with 32 TWC QPM hybrids and two check cultivars, i.e. Bisi-2 and Pioneer-7. Bartlett’s homogeneity test was applied to error derived from analyses of variances of every location. Combined analysis was done since error was homogenous for all observed characters. The combined analysis showed that there was G × E interaction for seed weight per 10 plants. Preliminary METs in West Java successfully selected newly developed TWC QPM hybrids based on stability and interaction between G × E. These hybrids are QPDMR-8-BCP1 and QPDMR-8-BCP2 for wide adaptive cultivars and QPDMR-35-BCP1, QPDMR-26-BCP1, QPDMR-8-BCP1, QPDMR-1-BCP2, QPDMR-8-BCP2, QPDMR-10-BCP2 and QPDMR-15-BCP2 specific adaptive cultivars.
EVALUASI KERAGAMAN GENETIK JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) BERDASARKAN MARKA MOLEKULER Darmawan Saptadi; Rr Sri Hartati; , Sudarsono; Asep Setiawan; Bambang Heliyanto
Zuriat Vol 22, No 2 (2011)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v22i2.6851

Abstract

Studi tentang keragaman genetik jarak pagar menggunakan marka molekuler telah banyak dilakukan di berbagai negara dengan hasil yangtidak konsisten. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang keragaman genetik plasma nutfah jarak pagar Indonesia menggunakan marka molekuler. Evaluasi dilakukan terhadap 24 aksesi jarak pagar koleksi Kebun Induk Jarak Pagar (KIJP), Pakuwon, Sukabumi menggunakan marka SSR, RAPD, ISSR dan SCAR. Total 28 primer SSR yang digunakan menghasilkan pita monomorf dan homozigot pada aksesi jarak pagar yang diuji. Dari 31 primer RAPD dan ISSR yang digunakan, 8 primer RAPD dan 4 primer ISSR mampu menghasilkan pita DNA yang dapat diskor. Empat primer yaitu UBC 873, OPG 17, OPP 03 dan OPQ 11 menghasilkan 100% pita polimorfis. Koefisien kesamaan genetik berkisar antara paling tinggi 1,0 (antara 3189-2/ PT13-2; MT7-1/ PT15-1; PT3-1, 2555-1/ SP8-1; 2555-1/ PT3-1) hingga paling rendah 0,6 (antara 554-1/HS49-2) dengan rerata 0,9. Persentase polimorfisme paling rendah (0%) yaitu antara 3189-2/PT13-2; MT7-1/ PT15-1; PT3-1, 2555-1/ SP8-1; 2555-1/ PT3-1 dan paling tinggi (55,26%) yaitu antara 554-1/HS49-2 dengan rerata 15,87%. Mengambil batas kesamaan genetik di atas 80%, dendrogram dapat dibagi menjadi 2 klaster di mana satu klaster terdiri satu aksesi yaitu HS 49-2 sedangkan klaster yang lainnya beranggotakan semua aksesi yang lain. Berdasarkan marka SCAR, semua aksesi yang diuji termasuk dalam jarak pagar tipe Meksiko yang tidak beracun. Keragaman rendah dari populasi yang diuji menjadi informasi penting untuk menentukan kebijakan program pemuliaan jarak pagar di masa yang akan datang. 
Interaksi Tiga Kultivar Padi dengan Tiga Lokasi Di Sulawesi Selatan M. Zain Kanro; Nasiruddin Amiruddin; M. Basir Nappu
Zuriat Vol 11, No 2 (2000)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v11i2.6674

Abstract

Penelitian dilaksanakan di kabupaten Maros, Pangkep, dan Sidrap Sulawesi Selatan, berlangsung mulai bulan Mei 1996 sampai dengan bulan September 1996. Disusun menurut rancangan acak kelompok faktorial terdiri dari dua factor yaitu kultivar dan dosis pemupukan P, masing-masing dengan tiga ulangan. Kultivar padi yang digunakan adalah Cisadane, Ciliwung, dan Membramo. Taraf pemupukan P yang dicobakan adalah: P2O5 0 kg; 50 kg, dan 100 kg ha-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kultivar Membramo sesuai dikembangkan di Maros, Ciliwung di Pangkep, dan Cisadane di Sidrap. Kultivar Membramo mempunyai penampilan hasil yang stabil pada tiga lokasi.
POLA PEWARISAN KARAKTER BUAH TOMAT Rudi Hari Murti; Triasih Kurniawati; , Nasrullah
Zuriat Vol 15, No 2 (2004)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v15i2.6806

Abstract

Dalam naskah ini diuraikan pola pewarisan karakter buah tomat berdasarkan segregasi hasil persilangan tetua yang mempunyai sifat berbeda. Perbedaan sifat tetua meliputi warna buah mentah, warna buah masak, bentuk buah, jumlah bunga dan buah per tandan, jumlah rongga buah dan beberapa sifat lainnya. Bahan yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari empat tetua (P) yaitu GM1, GM3, Gondol Hijau dan Gondol Putih serta keturunan F1 dan F2 dari persilangan GM1×GH, GM3×GH dan GM3×GP. Jumlah tanaman masing-masing tetua dan F1 sebanyak 20 tanaman, sedangkan F2 dari masing-masing persilangan sebanyak 200 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan warna buah masak dikendalikan oleh dua lokus dengan dua alel pada satu lokus dan tiga alel di lokus yang lain atau tiga lokus dengan dua alel per lokus tetapi salah satu lokus berbeda pada tetua Gondol Putih dan Gondol Hijau. Bentuk buah apel (gepeng) dominan terhadap bentuk bulat, dikendalikan oleh dua lokus dengan interaksi antar lokus epistasis dominan. Jumlah bunga, jumlah buah, fruitset, dan jumlah rongga buah termasuk sifat kualitatif sedangkan panjang dan diameter buah termasuk sifat kuantitatif. Nisbah potensi pada semua variabel menunjukkan efek dominan, kecuali fruitset pada persilangan GM3×GP. Ada pleotropi atau tautan (linkage) antara gen pengendali jumlah rongga buah, jumlah bunga, dan ukuran buah.
Aktivitas Nitrat Reduktase sebagai Penduga Potensi Hasil Klon-Klon Teh Bambang Sriyadi; A. Baihaki; R. Setiamiharja; W. Astika
Zuriat Vol 4, No 1 (1993)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v4i1.6639

Abstract

Percobaan pendugaan potensi hasil klon teh menggunakan aktivitas nitrat reduktase telah dilakukan di Kebun Pasir Sarongge dan Laboratorium Kimia, Puslitbun Gambung dari bulan Juni sampai dengan September 1992. Percobaan menggunakan enam klon teh yang berumur tiga, enam, dan 12 tahun, serta pada setiap umur tanaman ditanam mengikuti tata letak rancangan acak kelompok, dengan tiga ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap tujuh karakter tanaman termasuk hasil. Pemilihan karakter penduga hasil dilakukan dengan analisis korelasi dan sidik jalin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah bulu daun, sudut percabangan, dan jumlah stomata tidak dapat digunakan untuk menduga potensi hasil. Pendugaan potensi hasil dengan menggunakan bobot pucuk pada tanaman yang berumur tiga tahun dan jumlah pucuk pada tanaman yang berumur enam dan 12 tahun ternyata harus mempertimbangkan karakter lain secara serempak. Aktivitas nitrat reduktase ternyata merupakan penduga potensi hasil yang tepat, dan konstan pada setiap umur tanaman.
DAYA GABUNG KARAKTER PENGISIAN GABAH VARIETAS PADI YANG MEMBAWA ALEL NETRAL PADA LOKUS S-5 Aris Hairmansis; H. Aswidinnoor
Zuriat Vol 16, No 2 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i2.6774

Abstract

Analisis daya gabung dengan menggunakan metode lini x tester dilakukan untuk mengetahui daya gabung karakter pengisian gabah lima varietas padi yang memiliki alel netral pada lokus S-5 atau wide compatibility varieties (WCV). Varietas varietas tersebut diuji daya gabungnya menggunakan delapan tester dari beragam varietas yang mewakili berbagai ekotipe dan agroekosistem. Hasil penelitian menunjukkan dua WCV yaitu Ketombol dan Moroberekan menjadi penggabung yang baik untuk karakter jumlah gabah total dan persentase gabah isi per malai. Dengan demikian varietas-varietas tersebut dapat dimanfaatkan dalam program pemuliaan padi hibrida untuk mengatasi masalah kehampaan pada F1 hasil persilangan antar subspesies.
Heterosis Hasil dan Komponen Hasil dalam Seri Persilangan Dialil Lima Tetua Kacang Hijau Ceciliany Permadi S.; Achmad Baihaki; Murdaningsih Haeruman K.; Toto Warsa
Zuriat Vol 1, No 1 (1990)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v1i1.6596

Abstract

Lima genotipe kacang hijau yang terpilih secara acak, yaitu Siwalik, No. 129, Bhakti, VC. 2750 A, dan VC. 3301 A saling disilangkan satu sama lain menurut disain persilangan dialil di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Jalan Bukit Dago Utara, Bandung, dari tanggal 1 Maret 1988 sampai 20 Juli 1988, dengan tujuan untuk mengetahui nilai heterosis dan heterobeltiosis sifat hasil dan beberapa sifat komponen hasil. Generasi F1 hasil persilangan dievaluasi di Banyusari, Desa Manggungharja, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung dari tanggal 25 Juli 1988 sampai 9 Desember 1988 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa heterosis dan heterobeltiosis terdapat pada sifat hasil dan sifat komponen hasil utama, yaitu jumlah polong dan jumlah biji per tanaman; sedangkan untuk sifat tinggi tanaman, ukuran biji, umur berbunga dan umur panen memberikan nilai rata-rata negatif. Kondisi ini memberikan harapan diperolehnya tanaman yang berdaya hasil tinggi, tahan rebah dan berumur genjah. Pembentukan hibrida dapat diharapkan pada genotipe-genotipe populasi F1 resiprokal, khususnya kombinasi persilangan Bhakti x Siwalik dan VC. 3301 A x Bhakti. 
Seleksi Ketahanan terhadap Penyakit Antraknos pada Tanaman Hasil Persilangan Cabai Rawit X Cabai Merah I. M. Narka Tenaya; Ridwan Setiamihardja; Sadeli Natasasmita
Zuriat Vol 12, No 2 (2001)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v12i2.6697

Abstract

Penanaman dilakukan di Denpasar, Bali dari bulan Juli 1997 hingga bulan April 1998, pada guludan dengan jarak 60 cm x 60 cm. Dari populasi P1, P2, dan F1 diambil sampel sebanyak masingmasing 10 tanaman, BC1 27 tanaman, dan BC2 28 tanaman. Sedangkan, populasi F2 semua tanaman normal (125 tanaman dari lima guludan terbaik. Tujuan penelitian untuk menyeleksi ketahanan tanaman cabai yang tahan terhadap antraknos melalui hubungan antara kapsaisin, fruktosa, dan aktivitas peroksidase dengan persentase dan intensitas serangan Antraknos. Hasil percobaan menunjukkan bahwa semua tanaman terserang Antraknos dengan hebat. Pada tetua tahan 28.21% buah terinfeksi digolongkan tahan, tetua rentan lebih dari 90.0% buah terinfeksi. Berdasarkan kriteria gabungan antara persentase buah terserang di lapangan, kandungan kapsaisin dan fruktosa pada buah serta aktivitas peroksidase pada daun dapat dijadikan sebagai indeks ketahanan. Hasil penelitian komponen utama, dari populasi F2 didapatkan empat individu tanaman yang sangat tahan, tiga sampai empat individu dalam populasi F2 yang tahan terhadap penyakit Antraknos.
KERAGAAN PERTUMBUHAN VEGETATIF 20 HIBRID DAN 5 TETUA DARI GENOTIPE PEPAYA (Carica papaya L.) KOLEKSI BALAI PENELITIAN TANAMAN BUAH TROPIKA Tri Budiyanti; , Sunyoto; , Noflindawati
Zuriat Vol 22, No 1 (2011)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v22i1.6842

Abstract

Pepaya merupakan komoditas yang penting dalam perekonomian Indonesia disektor pertanian. Komoditas ini terus mengalami peningkatan produksi dari tahun ke tahun. Namun dalam pengembangannya masih banyak mengalami permasalahan. Pengembangan komoditas pepaya masih dihadapkan pada produktivitas yang rendah, ukuran buah yang beragam, postur tanaman yang tinggi, lambat berbuah, daya simpan yang pendek, serta tidak tahan terhadap cekaman genangan air dan kekeringan. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika telah melakukan beberapa tahap kegiatan pemuliaan pepaya sehingga diperoleh 25 genotipe pepaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengevaluai pertumbuhan vegetatif 25 genotip pepaya. Penelitian dilakukan di KP Sumani Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Rancangan percobaan yang digunakan pada adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 25 perlakuan dan 3 ulangan. Peubah yang diamati meliputi pertumbuhan vegetatif pepaya. Berdasarkan hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tinggi tanaman dan lebar daun berbeda nyata, tetapi jumlah daun, panjang daun, dan panjang tangkai daun tidak berbeda nyata. Tinggi bunga pertama dan ruas letak bunga pertama  tidak berbedan nyata antar genotip yang diuji. Pertumbuhan tanaman 25 genotipe pepaya sudah mulai memasuki fase generatif pada umur 60 hari setelah tanam, ditandai dengan munculnya bunga pertama.