cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 298 Documents
Penampilan Fenotipik dan Beberapa Parameter Genetik Delapan Kultivar Kacang Tanah Pada Lahan Sawah , Ruchjaniningsih; Ali Imran; Muh. Thamrin; M. Zain Kanro
Zuriat Vol 11, No 1 (2000)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v11i1.6665

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui penampilan fenotipik dan parameter genetik karakter hasil dan komponen hasil kacang tanah di lahan sawah. Delapan kultivar kacang tanah telah dievaluasi di Bulukumba Sulawesi Selatan pada bulan Oktober 1998 sampai Januari 1999, menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Bahan penelitian adalah kultivar-kultivar unggul yang berasal dari introduksi dan hasil persilangan, ke delapan kultivar adalah: Jerapah, Komodo, Gajah, Biawak, Singa, Panther, Kelinci, dan Lokal (Palampang). Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga kultivar kacang tanah yang berpenampilan baik dan hasil lebih tinggi, yaitu Singa, Panther, dan Kelinci dibandingkan kultivar Palampang. Nilai variabilitas genetik luas terdapat pada karakter lebar kanopi (cm), tinggi tanaman (cm), jumlah cabang, jumlah biji 100 polong, jumlah kotak per polong, persentase ginofora hampa, persentase ginofora isi, bobot kering 100 polong (g), bobot kering 100 biji (g), hasil polong (t.ha−1), hasil biji kering (t.ha−1) dan rendemen biji kering (%). Nilai duga heritabilitas tinggi terdapat pada karakter lebar kanopi, tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah biji 100 polong, jumlah kotak per polong, persentase ginofora hampa, bobot kering 100 polong, hasil polong (t.ha−1), dan hasil biji kering (t.ha−1). Korelasi genetik dan korelasi fenotipik positif sangat nyata antara hasil biji kering (t.ha−1) dengan lebar kanopi, tinggi tanaman, total ginofora, jumlah biji 100 polong, bobot polong kering per tanaman, bobot kering 100 polong dan hasil polong (t.ha−1).
Korelasi Kandungan Klorofil dan Beberapa Karakter Daun dengan Hasil pada Tanaman Kedelai Neni Rosyini; A. Baihaki; Ridwan Setiamihardja; Giat Suryatmana
Zuriat Vol 14, No 2 (2003)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v14i2.6797

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mempelajari korelasi kandungan klororifl dan beberapa karakter daun dengan hasil kedelai telah dilakukan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran sejak Agustus 1996 sampai Januari 1997. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 78 genotip kedelai sebagai perlakuan yang diulang dua kali. Pengukuran kandungan klorofil menggunakan klorofilmeter Minolta SPAD 502 dikonversi dengan persamaan regresi linear sederhana Y = 0.11496 + 0.05351 X (r2 = 0.94) untuk mendapatkan angka kandungan klorofil mg g-1 daun. Pengamatan utama dilakukan terhadap kandungan klorofil maksimum (Kmaks), lama klorofil maksimum (LKmaks), retensi klorofil maksimum (RKmaks), klorofil saat awal berbunga (KR1), klorofil saat pengisian polong atau 10 hari setelah R4 (KR4+10), frekuensi stomata (saat R1 dan R4+10), sudut daun (saat R1 dan R4+10), jumlah daun total, dan bobot biji per tanaman (hasil). Hasil berkorelasi positif nyata secara genotipik dan fenotipik dengan Kmaks, LKmaks, dan RKmaks. Hasil dengan KR1, KR4+10 dan frekuensi stomata saat R1 berkorelasi positif secara genotipik. Frekuensi stomata saat R4+10, sudut daun saat R1 dan jumlah daun total dengan hasil berkorelasi negatif secara genotipik. Sudut daun saat R4+10 berkorelasi negative secara fenotipik. Berdasarkan stepwise regression, RKmaks dan Kmaks mempengaruhi potensi hasil kedelai.
Korelasi Komponen Hasil dengan Hasil pada Beberapa Genotipe Kapas Anik Herwati; Rusim Mardjono; Fatkhur Rochman
Zuriat Vol 4, No 1 (1993)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v4i1.6630

Abstract

Penelitian untuk mempelajari korelasi komponen hasil dengan hasil dilakukan di KP Karangploso, Balai Penelitian Tembakau dan Tanaman Serat, Malang, dengan menggunakan delapan genotipe kapas yaitu Siokra, Tak Fa 1/104, Tak Fa 1/111, Reba P-279, Deltapine 55, Tamcot Sp-37, A4 x 6M-3-37 dan 8163-10W-80. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara jumlah cabang vegetatif, jumlah cabang generatif dan jumlah bunga mempunyai korelasi positif nyata dengan hasil kapas berbiji, sedangkan jumlah buah berkorelasi positif sangat nyata.
Analisis Testcross Galur-Galur Jagung S4-A dan Daya Hasil Hibrida Testcross-nya di Jatinangor D. Ruswandi; Y. S. Shofatah; S. Ruswandi; N. Rostini; A. Baihaki
Zuriat Vol 17, No 1 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i1.6765

Abstract

Proses pembentukan kultivar hibrida jagung dimulai dengan pembentukan galur-galur murni, uji daya hasilnya melalui uji daya gabung umum, dan akhirnya galur-galur murni yang memiliki potensi hasil terbaik digunakan sebagai tetua untuk persilangan membentuk kultivar hibrida.Penelitian bertujuan untuk mendapatkan galur-galur S4-A yang memiliki daya gabung umum yang baik dan mendapatkan hibrida testcross-nya yang memiliki daya hasil tinggi dibandingkan kultivar cek di dua musim tanam di Jatinangor. Percobaan dilakukan di kebun percobaan Universitas Padjadjaran, Jatinangor, pada musim I (kemarau) bulan Juli September 2003 dan musim II (hujan) bulan Maret–Mei 2004 berdasarkan Rancangan Perbesaran (Augemented Design) dengan 138 varietas hibrida testcross jagung S4-A dan kultivar cek Pioneer-7, Bisi-2 dan Cargil-7. Hasil Percobaan menunjukkan bahwa terdapat galur-galur S4-A yang mempunyai daya gabung umum yang baik di dua musim tanam, yaitu galur S4-A 280-2, 74-10, 24-11, 284-1, 240-2, 266-2, 289-2, 229-1, 203-1 dan 219-2. Sedangkan hibrida testcross-nya yang memiliki daya hasil melebihi kultivar cek pada dua musim tanam adalah pada TC-57, TC-73, TC-95, TC-115, TC-116, TC-120, dan TC-22.
Heritabilitas, Kemampuan Genetik dan Korelasi Karakter Daun dengan Buah Muda, Pada 21 Genotip Nenas Neni Rostini; Ema Yuliani; Nani Hermiati
Zuriat Vol 17, No 2 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i2.6732

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemajuan genetik, heritabilitas dan korelasi karakter daun dengan buah muda pada 21 genotip nenas di desa Tambakan Subang. Percobaan telah dilakukan dari bulan Mei 2005 sampai bulan Juli 2005 di desa Tambakan kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen yang disusun berdasarkan rancangan acak kelompok dengan 21 genotip nenas sebagai perlakuan dan dua ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria nilai kemajuan genetik yang tinggi terdapat pada panjang daun ke-2, panjang daun ke-3, dan lebar kanopi. Kriteria nilai duga heritabilitas yang tinggi ditunjukkan oleh panjang daun ke-3, lebar kanopi, dan panjang buah. Lebar daun ke-2, lebar daun ke-3, dan diameter mahkota berkorelasi positif secara genotipik dan fenotipik dengan diameter buah dan panjang buah.
SINKRONISASI PEMBUNGAAN GALUR TETUA PADI HIBRIDA BARU DALAM PRODUKSI BENIH , Satoto; Y. Nugraha; I. A. Rumanti; Y. Widyastuti
Zuriat Vol 23, No 2 (2012)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v23i2.6874

Abstract

Ketersedian benih F1 merupakan kunci sukses pengembangan teknologi padi hibrida. Produksi benih padi hibrida memerlukan  penanganan khusus, sehingga studi produksi benih perlu dilakukan bersamaan dengan perakitan kombinasi hibrida baru.  Delapan belas kombinasi hibrida dibuat benihnya pada MT1 2006 di Muara dan Sukamandi.  Prediksi umur berbunga merupakan cara yang paling aplikatif dalam produksi benih hibrida dan menentukan seed set yang terbentuk. Penentuan selisih waktu tabur untuk kegiatan ini ditentukan berdasarkan selisih umur berbunga pada musim sebelumnya. Perbedaan umur antar lokasi dan musim menunjukan bahwa produksi benih hibrida di suatu lokasi, harus didukung oleh data umur berbunga di lokasi tersebut. Kombinasi hibrida H-42 dan H-59 menunjukkan perbedaan umur berbunga terbesar, masing-masing 15 hari dari musim sebelumnya. Hasil benih per plot yang diperoleh beragam, tergantung pada sinkronisasi pembungaan kedua tetuanya. Hasil benih tertinggi diperoleh kombinasi hibrida H-77 sebesar 1,72 t/ha, sedangkan benih terendah ditunjukkan oleh kombinasi hibrida H-59 sebesar 0,22 t/ha.  Ada korelasi positif antara seed set dengan hasil benih per hektar. Seed set tertinggi diperoleh pada kombinasi H-81 sebesar 46% dengan hasil per hektar 1,38 t/ha. Rata-rata seed set yang diperoleh pada kegiatan ini sebesar 28 % dengan rata-rata hasil per hektar 1,02 ton/ha. 
Interaksi Genotip x Musim Hasil Kacang Roay (Dolichos Lablab L.) Di Jatinangor Reza Dwiwardhana; Agung Karuniawan; Ade Ismail
Zuriat Vol 20, No 1 (2009)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v20i1.6653

Abstract

Informasi tentang interaksi genotip x musim diperlukan dalam kebijakan genotip tanaman yang bagaimana yang akan disebarkan dalam pengembangan program seleksi pemuliaan tanaman. Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai interaksi genotip x musim karakter komponen hasil dan hasil 48 genotip kacang roay (Dolichos lablab L.). Percobaan lapangan telah dilakukan di Ciparanje, Jatinangor, Kab Sumedang, Jawa Barat, dengan ketinggian ±753 meter di atas permukaan laut, dari bulan April 2008 sampai Mei 2009. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok dengan 48 genotip sebagai perlakuan dan diulang sebanyak dua kali pada dua musim tanam. Karakter-karakter yang diamati adalah karakter komponen hasil dan hasil. Data dianalisis dengan analisis varians, dan analisis varians gabungan. Hasil percobaan menunjukan bahwa interaksi genotip x musim terdapat pada karakter bobot 100 biji, bobot biji per plot, jumlah polong per tanaman, panjang biji, jumlah polong per plot, panjang polong, lebar polong, tebal biji, umur berbunga, umur matang polong, dan umur panen. Genotip yang memiliki penampilan baik melebihi kedua kontrol pada karakter bobot 100 biji pada musim kemarau adalah Roay dodol-1/Dol 41, sedangkan pada musim hujan genotip Subang-5/Dol 7. Genotip pada musim kemarau dengan penampilan baik melebihi kedua kontrol berdasarkan karakter bobot biji per plot adalah Roay dodol-1/ Dol 41, sedangkan pada musim hujan genotip subang-5/ Dol 7 merupakan genotip yang lebih baik dibanding kedua kontrol. Pengaruh genotip dan musim secara mandiri terlihat pada karakter panjang daun terminal, lebar daun terminal panjang pedunkulus, dan jumlah biji per polong. Genotip – genotip yang memiliki penampilan cenderung stabil pada kedua musim untuk karakter bobot 100 biji adalah Subang-5/Dol 7, Rancabatok-2/Dol 11, Tasik-2/Dol 44 dengan nilai rata-rata kedua musim berturut-turut 87,31 gram, 65,38 gram, dan 49,42 gram. Sedangkan untuk karakter bobot biji per plot adalah subang-5/Dol 7, Rancabatok-1/Dol 10, Rancabatok-2/Dol 11 dengan nilai rata-rata kedua musim berturut-turut 294,70 gram, 202,46 gram, dan 174, 11 gram.
PENGGUNAAN MODEL TEST DAY REGRESI TETAP (FRTDM) DALAM ESTIMASI EFISIENSI RELATIF SELEKSI TIDAK LANGSUNG PRODUKSI SUSU PADA SAPI PERAH FRIES HOLLAND Sri Bandiati Komar Prajoga
Zuriat Vol 16, No 1 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i1.6788

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Koperasi Peternak Tani Mukti (KPTM) Pasir Salam Sukabumi, pada Oktober 2004. Tujuan penelitian ini adalah untuk menduga respon seleksi produksi susu catatan 305 hari, respon seleksi berkorelasi produksi susu catatan 305 harin dan efisiensi relatif seleksi tidak langsung antara produksi susu catatan 305 hari dengan catatan TD (Test Day). Data yang dianalisis berasal dari catatan produksi susu sebanyak 160 catatan produksi susu catatan 305 hari dan 2.400 produksi susu catatan TD pada laktasi pertama dengan menggunakan Univariate Fixed Regresion Test Days Model (MFRTDM). Data berasal dari 160 ekor sapi perah betina produktif, keturunan dari 23 pejantan dan 140 ekor induk. Komponen varians dan Nilai Heritabilitas serta Korelasi Genetik diduga dengan menggunakan Bivariate Animal Model dengan Metode Restricted Maximum Likelihood (REML) program VCE 4.2 dan Nilai Pemuliaan diduga dengan Best Linier Unbiased Prediction (BLUP). Efek tetap yang dilibatkan dalam analisis adalah Laktasi dan Tahun Musim. Respon seleksi produksi susu 305 hari pada intensitas terendah yaitu 53.565 kg dengan penggunaan jantan 16 dan betina 131 ekor. Intensitas tertinggi 133.467 kg pada penggunaan jantan 2 ekor dan betina 30 ekor. Pada intensitas yang sama respon seleksi berkorelasi antara produksi susu 305 hari dengan TD3 (pada hari ke 49) terendah 55.327 kg dan tertinggi 137.857 kg. Nilai efisiensi relatif seleksi tidak langsung produksi susu 305 hari berdasar pada TD3 sebesar 1.032. Merujuk pada hasil penelitian, bahwa seleksi sapi perah untuk produksi susu 305 hari lebih baik dilaksanakan pada hari Uji ke 49 (TD3).
Seleksi Pohon Induk Teh dari Tanaman Muda Asal Biji Propellegitim Bambang Sriyadi; W. Astika; D. Muchtar; , Sutrisno
Zuriat Vol 2, No 1 (1991)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v2i1.6616

Abstract

Seleksi pohon induk untuk hasil yang tinggi dan didukung oleh komponen hasil yang maksimal diharapkan akan lebih mantap dipertahankan pada keturunan vegetatifnya. Seleksi dilakukan di KP. Pasir Sarongge terhadap tanaman asal biji klon PS 1 dan TRI 2024 dari kebun biji poliklonal. Pengamatan produksi per perdu dilakukan sebelum dan sesudah pemangkasan yang pertama. Fungsi diskriminan disusun dengan menggunakan tiga komponen hasil, yaitu jumlah pucuk, bobot pucuk p+2, dan persentase pucuk peko per perdu setiap petikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pucuk mempunyai koefisien indeks yang terbesar dalam menentukan nilai diskriminan, kemudian diikuti oleh bobot pucuk p+2 dan persentase pucuk peko. Dari hasil seleksi yang didasarkan atas teori fungsi diskriminan dan dipadukan dengan potensi hasil per perdu, telah terpilih 20 perdu yang mempunyai potensi hasil tinggi dan didukung oleh komponen hasil secara maksimal masing-masing yaitu 11 perdu dari biji klon TRI 2024 dan 9 perdu dari PS 1.
STABILITAS KADAR BAHAN KERING UBI 16 GENOTIP BENGKUANG (Pachyrhizus erosus L. Urban) DI JATINANGOR JAWA BARAT BERDASARKAN MODEL AMMI Sosiawan Nusifera; Agung Karuniawan
Zuriat Vol 18, No 1 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i1.6756

Abstract

Penelitian yang bertujuan mengetahui stabilitas kadar bahan kering dari 16 genotip bengkuang (Pachyrhizus erosus L. Urban) di Jatinangor telah dilakukan pada musim kemarau dan musim hujan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Unpad, Jatinangor. Percobaan lapang dilakukan pada musim kemarau mulai Februari hingga Agustus 2006 dan musim hujan mulai November 2006 hingga Mei 2007. Percobaan terdiri dari empat set yang masing-masing set disusun dalam rancangan acak kelompok dengan 16 genotip bengkuang yang dikoleksi dari berbagai wilayah Indonesia and genotip leluhurnya dari Amerika tengah dan selatan sebagai perlakuan dan diulang dua kali. Empat set percobaan tersebut dibedakan berdasarkan kombinasi musim dan perlakuan pemangkasan sink reproduktif. Empat set tersebut dianggap representasi empat lingkungan yang berbeda. Karakter yang diamati adalah kadar bahan kering ubi (%). Data dianalisis dengan analisis model AMMI (additive main effect and multiplicative interaction) dengan parameter stabilitas AMMI stability value (ASV). Hasil menunjukkan bahwa genotip B-26/NS adalah genotip dengan kadar bahan kering tertinggi dan relatif stabil. B-10/EC550 adalah genotip dengan kadar bahan kering paling stabil. B-33/J, B-12/ECKew, B-80/ENT, dan B-61/EJ adalah genotip-genotip yang beradaptasi pada musim kemarau. Sebaliknya, B77/ENT, B-1/EC033, B-58/EJ, dan B-94/ENT beradaptasi dengan baik pada musim hujan. Genotip-genotip B-12/EC Kew, B-61/EJ, B-23/EC040, dan B-56/CJ lebih responsif terhadap perlakuan pemangkasan. Keempat lingkungan percobaan merupakan lingkungan yang discriminating.