cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 298 Documents
Perubahan Kandungan Sukrosa dan Aktivitas Invertase pada Batang Tebu Selama Pemanenan Tri Agus Siswoyo; Ika Oktavianawati; Bambang Sugiharto; Untung Murdiyanto
Zuriat Vol 17, No 2 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i2.6739

Abstract

Invertase (_-D-fructofuranosidase, E.C. 3.2.1.26) merupakan enzim kunci dalam metabolisme sukrosa pada tanaman tebu serta berkolerasi tinggi terhadap kandungan sukrosa dan gula reduksi selama masa pertumbuhan. Pada tanaman tebu terdapat 2 jenis invertase yaitu Acid Invertase (AI) dan Neutral Invertase (NI) yang mempunyai fungsi berlainan dalam pengakumulasion sukrosa. Penelitian ini bertujuan mempelajari peranan AI dan NI setelah pemanenan serta hubungannya terhadap perubahan kandungan sukrosa. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas NI tertinggi terjadi pada awal pemanenan dan mempunyai korelasi negatif yang nyata sebesar (r2) = 0.41 dengan kandungan sukrosa. Aktivitas AI baru menunjukkan aktivitas yang meningkat setelah umur penyimpanan diperlama dan mempunyai korelasi negatif yang tinggi dengan kandungan sukrosa sebesar (r2) = 0.40. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa peranan NI lebih menentukan terhadap degradasi sukrosa pada awal pemanenan.
Genotype X Environment Interaction for Selected Characters from R1 Up to R5 Reproductive Stage in Soybean Agung Karuniawan; H. C. Becker; W. Link; F. Rumawas
Zuriat Vol 9, No 1 (1998)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v9i1.6825

Abstract

Field Experiments were conducted to study the genotype x environment interaction for selected characters between anthesis and beginning of seed growth in soybean. The genotype. I.e. three parental lines and seven F8 offsprings were planted just before a wet season in two locations: at Kendalpayak-Malang and at Muneng-Probolinggo. Both locations belong to Research Institute for Legume and Tuber Crops and are located in East Java, Indonesia. The Reproductive growth stages were defined according to Fehr and Caviness. The evaluation started with begin of flowering (R1). Total leaf chlorophyll content, leaf area index, specific leaf weight, and biomass were measured at begin of seed growth (R5). Significant genotype X environment interactions were observed for all characters studied except for specific leaf weight.
Penampilan Fenotipik, Variabilitas, dan Hubungan Kekerabatan 39 Genotip Genus Vigna dan Phaseolus berdasarkan Sifat Morfologi dan Komponen Hasil Y. Maxiselly; D. Ruswandi; A. Karuniawan
Zuriat Vol 19, No 2 (2008)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v19i2.6660

Abstract

Penampilan fenotipik dan hubungan kekerabatan 39 genotip genus Vigna dan Phaseolus yang terdiri dari, 13 genotip V. vexillata, 5 genotip V. umbellata, 3 genotip V. luteola, 2 genotip V. radiata, 9 genotip V. unguiculata (6 genotip V. unguiculata ssp. unguiculata dan 3 genotip V. unguiculata ssp sesquipedalis ), dan 7 genotip Phaseolus vulgaris diidentifikasi dengan menggunakan karakter morfologi dan komponen hasil (16 karakter kuantitatif dan 11 karakter kualitatif). Metode yang digunakan berupa Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 kali ulangan di Ciparanje, Jatinangor, Sumedang, Propinsi Jawa Barat pada November 2007 sampai Maret 2008. Penampilan fenotipik yang diperoleh menunjukan adanya variasi yang luas antara genotip – genotip yang diamati berdasarkan nilai tabel ANOVA yang dihasilkan, sedangkan untuk hubungan kekerabatan antara genus Vigna dan Phaseolus memiliki hubungan yang dekat karena jarak Euclidean distances pada dendogram memiliki jarak yang relatif dekat (karakter kuantitatif 4,92 dan karakter kualitatif 3,89). Penyebaran spesies – spesies pada dendrogram terlihat kurang jelas pengelompokannya sehingga dilakukan analisis komponen utama (PCA) untuk melihat karakter – karakter yang mempengaruhi kekerabatannya. Kontribusi PCA berdasarkan karakter kuantitatif sebesar 86,38% sedangkan karakter kualitatif sebesar 76,18% terhadap keseluruhan variasi. Berdasarkan nilai PCi dari karakter kuantitatif dan kualitatif tersebut terdapat beberapa karakter yang mempengaruhi kekerabatan yaitu, karakter daun (panjang dan lebar daun terminal, serta warna dan bulu daun), lebar polong, karakter biji ( panjang, lebar, ketebatan dan bentuk biji dan bobot 100 butir biji) dan tipe tanaman.
Korelasi Vegetatif dengan Hasil dan Kualitas Hasil Pada 98 Genotip Nenas dari Beberapa Seri Persilangan Generasi F1 Neni Rostini; Eryk Barlianto; Noladhi Wicaksana
Zuriat Vol 17, No 1 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i1.6793

Abstract

Penelitian bertujuan memperoleh karakter vegetatif yang memiliki korelasi nyata dengan karakter hasil dan kualitas hasil pada 98 genotip nenas dari beberapa seri persilangan generasi F1 koleksi Neni Rostini. Percobaan telah dilakukan dari bulan September sampai bulan Desember 2004 di Kebun Percobaan Universitas Padjadjaran Jatinangor. Bahan percobaan menggunakan 98 genotip nenas dari beberapa seri persilangan yang berasal dari tigabelas genotip tetua, yaitu: S, NBJTQ-A-10, NBJTQ-B-004, NPSCC-021-3, NH-SLK-045-5B, NSC-SLK-057-6, NSC-SLK-045-4, N3, NBR-055, NBR-054, NLASBSC-031, NHSLK-045-5A dan NPSC-C-021-5 dengan 15 kombinasi persilangan antar tetua. Metode yang digunakan adalah metode percobaan tanpa rancangan tata ruang dengan analisis korelasi linear sederhana. Untuk menguji signifikansinya digunakan uji t-student. Karakter utama yang diamati adalah karakter vegetatif, karakter hasil dan kualitas hasil. Karakter vegetatif diamati pada empat fase pertumbuhan nenas yaitu saat muncul mahkota, saat muncul bakal buah, saat bunga pertama mekar dan saat bunga terakhir mekar, karakter vegetatif yang diamati diantaranya: tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, dan lebar daun. Sedangkan untuk karakter hasil diantaranya: diameter buah, panjang buah, bobot buah total, bobot satu buah, dan jumlah mata; serta karakter kualitas hasil yang diamati antara lain: kedalaman mata, diameter core, warna daging buah, padatan total terlarut (TSS) dan pH buah. Hasil penelitian menunjukkan terdapat korelasi positif nyata pada keempat fase pertumbuhan nenas yaitu antara karakter tinggi tanaman dengan panjang buah, diameter buah, diameter core, bobot buah total, dan bobot satu buah; karakter panjang daun kedua dengan diameter core, bobot buah total, dan bobot satu buah; karakter lebar daun kedua dengan panjang buah, diameter buah, bobot buah total, dan bobot satu buah; serta karakter lebar daun ketiga dengan panjang buah. Terdapat korelasi negatif nyata antara karakter tinggi tanaman dengan warna daging buah saat muncul bakal buah; karakter lebar daun pertama dengan pH saat muncul bakal buah, pada saat bunga pertama mekar dan saat bunga terakhir mekar; karakter lebar daun kedua dengan pH saat bunga pertama mekar.
Genetic analysis of new genes for resistance to brown planthopper in rice mutants , Mugiono
Zuriat Vol 3, No 1 (1992)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v3i1.6622

Abstract

Rice breeding using induced mutation has succesfully produced several mutant lines resistant to brown planthopper. In order to beable to utilize these mutant lines further in a breeding programme it is essential to study the inheritance of resistance to brown planthopper in rice mutants MG-8 and MG-18 was studied in the Center For Application of Isotope and Radiation. Pasar Jumat. The result showed that the resistance of MG-8 and MG-18 to brown plathopper was controlled by a single recessive gene and this gene is not allelic to bph-2 of the ASD-7 genotype.
PRELIMINARY STUDY ON THE HETEROTIC PATTERN OF TROPICAL QUALITY PROTEIN MAIZE (QPM) AND DOWNY MILDEW RESISTANCE (DMR) MAIZE INBREDS D. Ruswandi
Zuriat Vol 16, No 2 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i2.6761

Abstract

Exploration of heterotic patterns among maize inbreds has become important since it could provide information on which new germplasm could be used to improve base population in breeding program. This experiment was a preliminary study on the heterotic relationships between tropical quality protein maize (QPM) and downy mildew resistance (DMR) maize inbreds based on analysis on combining ability. Seven tropical maize inbreds were crossed in a line × tester. One commercial hybrid from Bisi Company, Bisi 2, was included for the evaluation of hybrids as check cultivar. The result revealed that two heterotic groups has been recognized, i.e., major group consisted of CML 161, CML 163, CML 172, Nei 9008, and P345. Whereas the small group contains MR 10 and Ki 3. The hybrids and their parental inbreds were evaluated in Jatinangor, Indonesia (753 m above sea level) in 2003 to 2004. The location of yield test has a humid climate with an annual rainfall of about 1925 mm. The field experiment was arranged in a randomize block design with two replications. The present study revealed two heterotic groups: major group involving CML 161, CML 163, CML 172, Nei 9008, and Ki 3; and small group containing MR 10 and P 345. Moreover, the major group can be divided into two subgroups involving all CML lines for the first subgroup and Nei 9008 and Ki 3 for the second subgroup.
Genetic Relationships Between Grain Types and Agronomic Traits In Rice Sugiono Moeljopawiro
Zuriat Vol 13, No 1 (2002)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v13i1.6727

Abstract

The genetic relationships between grain types and agronomic traits in rice (Oryza sativa L.) were studied in 6 x 6 diallel cross (excluding reciprocals) involving long-, medium-, and short-grain cultivars were studied. Combining ability analyses revealed that mean squares due to GCA were larger than those due to SCA, except for heading date. Vsca for heading date, plant height, panicle number, and grains per panicle were larger than Vgca for those traits. Panicle length, grain length, grain width, and 100-grain weight had larger Vgca than Vsca. General combining ability effects obtained in this study suggested that ‘Brazos’ was a good combiner for earliness. ‘Starbonnet’ was a good combiner for plant height, grains per panicle, and ‘Starbonnet’ and ‘Lebonnet’ were good combiners for grain length. ‘Nortai’ combined well for high panicle number and ‘Nortai’ and ‘S201’ combined well for grain width. ‘M401’ and ‘S201’ were good combiners for 100-grain weight. Phenotypic and genetic correlations followed a similar trend, except the latter was of a higher magnitude. Grain width and 100-grain weight were positively correlated with each other, but negatively correlated with the other traits. Grain length and grain width were negatively correlated. In general, heritability estimates in the broad sense were high. Moderate narrow sense heritability estimates for plant height, panicle length, grain length, grain width, and 100-grain weight suggested that these traits can be selected with the pedigree method, and the bulk method would be better for selecting heading date and grains per panicle.
IDIOTIPA TANAMAN PISANG DAN SUMBERDAYA GENETIK PENDUKUNGNYA Catur Hermanto; Edison H. S.
Zuriat Vol 23, No 2 (2012)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v23i2.6870

Abstract

Indonesia merupakan salah satu asal persebaran dan pusat keragaman tanaman pisang. Pemanfaatan kekayaan genetik tersebut dalam perakitan varietas unggul harus dirancang secara terarah pada idiotipa yang diinginkan yang disusun dengan mempertimbangkan efisiensi produksi, kemudahan dalam pengelolaan tanaman, produktivitas tinggi, preferensi konsumen, kemudahan dalam distribusi buah serta tahan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman. Berdasarkan pertimbangan tersebut dan informasi genetik yang diperoleh dari karakterisasi plasma nutfah, maka idiotipa tanaman pisang adalah sebagai berikut: bentuk tajuk tegak, tinggi tanaman < 2m, tangkai tandan panjang, posisi tandan menggantung vertikal, seludang bunga persisten, ujung buah membulat, tebal kulit buah > 3 mm, buah persisten, umur genjah (< 8 bulan), umur petik < 3 bulan, jumlah sisir > 14 sisir, bobot tandan > 18 kg, daging buah pulen (untuk buah meja) atau kenyal (untuk pisang olahan), ukuran buah 75-100 g/buah (untuk buah meja) atau > 200 g/buah (untuk pisang olahan), bentuk buah lurus dan kompak, daya simpan > 2 minggu, rasa manis, tahan terhadap organisme pengganggu tanaman, serta adaptif.  Karakter-karakter tersebut dapat diperoleh dari pisang Lilin, Jari Buaya, Kole, Calcuta, Barangan, Kluthuk, Randah, Blugu, Raja Kinalun, Ambon Hijau, Ketan, Pelipita, Mas, Kepok, Berlin, pisang Seribu, Raja Siem, Cavendish, Jawaka, Tanduk, Candi, Ambon Kuning, Yangambi Km 5, Ceylan, pisang Awak, dan beberapa  spesies liar pisang hutan.
Cara pembelahan umbi, lama perendaman dan konsentrasi kolkhisin pada poliploidisasi bawang merah 'Sumenep' Anggoro Hadi Permadi; Retno Cahyani; Supartini Syarif
Zuriat Vol 2, No 2 (1991)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v2i2.6693

Abstract

Bawang merah 'Sumenep' tidak mampu berbunga di daerah tropis. Kultivar ini dapat diperbaiki dengan metode poliploidi. Suatu percobaan yang ditata menurut rancangan acak lengkap pola faktorial dengan tiga ulangan, digunakan untuk mempelajari pengaruh pembelahann umbi (melintang dan membujur), waktu perendaman (3 dan 6 jam) serta konsentrasi kolkhisin (0 ppm, 100 ppm, 200 ppm, dan 400 ppm). Percobaan dilaksanakan di Balai Penelitian Hortikultura, Margahayu (1250 m dpl), Lembang.Hasil percobaan menunjukkan: (1) terdapat interaksi antara konsentrasi kolkhisin dan waktu perendaman yang menentukan efektifitas induksi poliploidi. (2) Poliploidi ditunjukkan dengan bentuk tanaman yang lebih pendek, jumlah daun sedikit, jumlah stomata sedikit, daun lebih tebal dengan pembesaran stomata, baik lebar maupun panjangnya. (3) tanaman poliploid menunjukkan lebih ringan, baik pada karakter berat basah maupun berat kering. (4) Pembelahan umbi melintang yang direndam dalam larutan kolkhisin dapat menginduksi poliploidi lebih nyata dibandingkan dengan pembelahan umbi membujur. (5) Waktu perendaman tiga jam dalam larutan kolkhisin cukup baik untuk menginduksi poliploidi, baik pada cara pembelahan melintang maupun membujur. (6) Pembelahan umbi melintang dengan waktu perendaman 3 jam dalam larutan kolkhisin 400 ppm adalah cara yang paling efektif untuk menginduksi poliploidi.
TANGGAP EKSPLAN BATANG TIGA KULTIVAR LILI TERHADAP KOMBINASI BA DENGAN BEBERAPA TARAF 2,4-D PADA MEDIUM MS Farida Damayanti; Murdaningsih H. K.; Tien Herawati; Juliati Satria Darsa
Zuriat Vol 16, No 1 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i1.6784

Abstract

Tujuan Percobaan untuk mengetahui tanggap eksplan batang lili kultivar ‘Avignon’, ‘Snow Queen’, dan ‘Casa Blanca’ dalam pembentukan planlet, pembentukan bulblet dan/atau induksi kalus pada kombinasi 1 ppm BA dengan beberapa taraf 2,4-D pada medium Murashige-Skoog (MS). Percobaan dilakukan di Laboratoium Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran sejak bulan November 1999 hingga bulan Februari 2000. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan dua faktor perlakuan diulang empat kali. Faktor Pertama adalah kultivar dan faktor kedua adalah kombinasi 2,4-D dengan BA. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kultivar ‘Avignon’, ‘Snow Queen’, dan ‘Casa Blanca’ memiliki tingkat regenerasi yang berbeda. Kultivar ‘Avignon’ dan ‘Snow Queen’ memberikan tanggap terbaik untuk pembentukan planlet, pembentukan bulblet dan induksi kalus pada 0.1 ppm 2,4-D. Kultivar ‘Casa Blanca’ memberikan tanggap terbaiknyauntuk pembentukan planlet pada 0.3 ppm 2,4-D, untuk pembentukan bulblet pada 0.3 ppm 2,4-D dan 0.5 ppm 2,4-D, dan untuk induksi kalus pada 0.1 ppm 2,4-D.