cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 298 Documents
Screening for Salinity Tolerance in Lowland Rice Suhaimi Sulaiman
Zuriat Vol 2, No 1 (1991)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v2i1.6612

Abstract

Screening for breeding materials for salinity tolerance is most accurately done by measuring grain yields. However, mass screening during the vegetative period of plant development using pots in a greenhouse is more effective for rapid evaluation of large amounts of germplasm.In this study, Pokkall and IR 22 cultivars were grown in pots which contained five kilograms of soil. The soil had been fertilized with four liters of Hoagland's solution which was salinized with a given concentration of 0, 1000 ppm, 2000 ppm, 3000 ppm, 4000 ppm, 5000 ppm, and 6000 ppm NaCl. Four of two weeks old seedlings were transplanted into each pot. The experiment unit were arranged in a Randomized Complete Block Design (RCBD) with two replications.A salinity level of 4000 ppm NaCl (8.5 mmhos/cm EC) showed the best differentiation of phenotypic performance for the salinity tolerance evaluation four weeks after transplanting.This technique was also used for screening of 23 traditional cultivars from South Kalimantan at salinity level of 8.5 mmhos/cm EC. Pokkal was used as tolerant check, and IR 22 was use as a susceptible check.Bayar Putih, Pandak, Pucuk, Lemo, and Duyung cultivars were identified as the most tolerant cultivars. It was also found that the percentage of sodium was greater in susceptible plants than in tolerant ones. However, the differences in N, P, and K were relatively small.  
PENGARUH BERMACAM-MACAM ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP EMBRIOGENESIS PADA JAHE Citra Bakti; G. A. Wattimena; , Witjaksono
Zuriat Vol 18, No 1 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i1.6752

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai macam zat pengatur tumbuh terhadap pembentukan dan regenerasi embriogenesis somatik jahe. Potongan membujur tunas in vitro yang mengandung meristem digunakan sebagai inokulum untuk  induksi kalus pada media dasar Murahige Skoog (MS) yang ditambahkan picloram, 2,4-D dan NAA dengan berbagai konsentrasi. NAA gagal menginduksi kalus, tetapi bisa digunakan untuk proliferasi tunas in vitro. Picloram dan 2.4-D dapat menginduksi pembentukan kalus dengan berbagai morfologi, tetapi kalus yang granular dan friabel diinduksi pada media dengan penambahan 10 mg/l−20 mg/l picloram. Kalus gagal beregenerasi menjadi planlet ketika dipindahkan ke media MS tanpa hormon atau pada media MS dengan penambahan BA atau thidiazuron. Meskipun begitu kalus granular secara individu dapat membentuk akar-akar sendiri yang mengindikasikan adanya satu kesatuan dari kalus tersebut. Pengamatan secara histologi membuktikan bahwa kalus yang terbentuk adalah embriogenik.
Keberhasilan Persilangan Tomat Varietas Komersial (Lycopersicum esculentum L.) dengan Tomat Mutan Tahan Simpan Gungun Wiguna; Elfira Rosalita; Anas Anas; Neni Rostini; Syariful Mubarok; Hiroshi Ezura
Zuriat Vol 30, No 1 (2019): Latest Issue (April 2019)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.692 KB) | DOI: 10.24198/zuriat.v30i1.23205

Abstract

Post-harvest loss is an obstacle for tomato farmers that cause tomato farming being unprofitable. Utilization of mutant genes prolong tomato fruit shelf life through crossing is one of the best solutions to improve the fruit quality. The objective of this study was to determine the success of cross-pollination between commercial tomato varieties and shelf life of mutant tomatoes. Two mutant tomato lines Sletr1-1 and Sletr1-2, and one wild type strain were crossed with four commercial varieties (Intan, Mutiara, Ratna, and Mirah ). The results showed that the success rate of crossing ranged from 77.50% to 100%, with an average of 95.76%. The average maximum growth potential of seeds produced was 89.17% with the lowest value of 75% and the highest 98.5%. The most top success of crosses was built by a combination of crossing Ratna x Sletr1-2, and the combination of Mirah x Sletr1-1 showed the lowest percentage of the crossing. The Intan showed the highest success as female parent of crossing, while Mirah was the lowest production of the crossing. The plant height of all hybrid was smaller compared to the commercial varieties.
Seleksi Beberapa Karakter Penting 15 Aksesi Tanaman Pala (Myristica fragrans Houtt.) di Kebun Percobaan Cicurug, Sukabumi Edi Wardiana; Enny Randriani; Cici Tresniawati
Zuriat Vol 18, No 2 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i2.6716

Abstract

Dalam analisis lintasan, menganalisis banyak karakter sebagai variabel bebas secara serempak sering ditemukan kurangnya informasi mengenai pengaruh (hubungan) yang diharapkan, di samping adanya efek multikolinieritas. Kendala seperti ini dapat dikurangi melalui teknik analisis secara bertahap dan seleksi variabel bebas dengan metoda stepwise. Penelitian yang bertujuan untuk menge tahui karakter penting 15 aksesi tanaman pala dilakukan di KP. Cicurug, Sukabumi, pada ketinggian tempat 550 m dpl dengan jenis tanah Latosol dan tipe iklim A(Schmidt dan Fergusson), mulai Januari sampai Desember 2007. Penelitian dilakukan dengan metode survey pada 37 contoh tanaman pala betina yang ditentukan secara purposive sampling. Analisis lintasan dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan siklus perkembangan tanaman, mulai dari tahap vegetatif, generatif, hasil dan komponen hasil, sampai pada tahap produksi. Variabel bebas diseleksi dengan menggunakan metode stepwise. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:(1) terdapat beberapa karakter penting untuk kegiatan seleksi tanaman pada tahap dini, diantaranya adalah: ukuran kanofi, ukuran cabang, ukuran daun, dan ukuran tinggi pohon. Untuk tahap perkembangan tanaman yang lebih lanjut, seleksi dapat dilakukan terhadap ukuran diameter bunga, jumlah buah, dan bobot per satuan buah, dan (2) untuk tujuan produksi tinggi, seleksi sebaiknya diarahkan pada rendahnya ukuran kanofi, cabang, sudut cabang, lebar daun, dan diameter bunga. Sebaliknya untuk karakter panjang daun, tinggi pohon, jumlah buah, dan bobot buah sebaiknya dipilih yang ukurannya lebih besar.
Studi komparasi hasil persilangan ikan mujair (Oreochromis mossambicus) dan ikan nila (Oreochromis niloticus) yang dibesarkan di tambak payau Priadi Setyawan; Adam Robisalmi; Sri Pudji S. D.
Zuriat Vol 23, No 1 (2012)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v23i1.6861

Abstract

Potensi budidaya ikan di lahan pesisir di Indonesia sangat besar. Diperlukan ikan yang dapat tumbuh dengan baik di perairan payau. Ikan nila Nirwana (Nw) mempunyai pertumbuhan yang baik di air tawar, sedangkan ikan Mujair (Mj) dapat dibudidayakan di perairan payau. Persilangan diantara keduanya diharapkan dapat menghasilkan ikan dengan laju pertumbuhan yang baik di perairan payau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa hasil persilangan ikan Nirwana dan Mujair di tambak bersalinitas sedang 10-20 ppt. Penelitian dilaksanakan di Congot, Daerah Istimewa Yogyakarta pada bulan Agustus-Desember 2010. Ikan yang diuji adalah hasil persilangan NwxNw, MjxNw dan NwxMj. Benih hasil pemijahan alami di air tawar diaklimatisasi 5 ppt per hari hingga 20 ppt. Pembesaran dilakukan dalam waring 5x5 m2 dengan kepadatan 10 ekor/meter. Masing-masing populasi diulang 3 kali dan dipelihara selama 5 bulan. Hasil pengujian menunjukkan rerata bobot tertinggi pada populasi NwxNw (193,62+22,53 gr) diikuti NwxMj (136,92+19,76 gr) dan MjxNw (121,23+17,92 gr). Sedangkan nilai sintasan (SR) tertinggi terdapat pada populasi MjxNw (78%) diikuti NwxMj (74%) dan NwxNw (66%). Pada akhir pemeliharaan persilangan NwxNw mempunyai rerata biomassa tertinggi (31.947 gr), diikuti NwxMj (25.467 gr) dan MjxNw (23.640 gr). Hal ini mengindikasikan ikan nila Nirwana dapat dibudidayakan pada perairan bersalinitas sedang dengan keragaan pertumbuhan terbaik diantara populasi uji lainnya.
Interaksi GXE, Adaptabilitas dan Stabilitas Galur-galur Kedelai dalam Uji Multilokasi Abd. Kadir Djaelani; , Nasrullah; , Soemartono
Zuriat Vol 12, No 1 (2001)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v12i1.6684

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi G × E, adaptabilitas dan stabilitas dari berbagai galur yang diuji pada berbagai lokasi. Bahan penelitian terdiri dari 43 galur kedelai hasil pemuliaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Bandung dan varietas Wilis sebagai acuan. Pengujian dilakukan oleh kelompok peneliti Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran dan penulis yang dilaksanakan pada musim tanam 1992/1993 di tujuh lokasi (lingkungan), dua kali musim tanam di Kabupaten Majalengka (l1) dan (l2), dan di Kabupaten Cirebon (l3) dan (l4), dan satu kali tanam di Kabupaten Sumedang (l5) dan Kabupaten Bandung (l6) serta di Kabupaten Kupang (l7). Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan di Kabupaten Kupang dan dua ulangan di Kabupaten lainya. Ukuranpetak percobaan 4 m × 2 m dengan jarak tanam 40 cm × 10 cm, tiap lubang tanam ditumbuhkan satu tanaman dan ketentuan kultur teknik lainnya disesuaikan dengan anjuran budidaya tanaman kedelai. Hasil pengamatan berat biji kering dikonversi untuk per satuan luas (t ha-1). Uji Barletts digunakan dalam menguji homogenitas varians galat dalam analisis gabungan dan hanya lokasi-lokasi yang mempunyai varians galat homogeny yang digunakan dalam analisis selanjutnya. Untuk menguji stabilitas menggunakan analisis regresi model Eberhart dan Russell (1966). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) mendasarkan pada pendekatan regresi dan simpangan regresi semua galur, kecuali galur 29 dan 37 berbeda nyata. Adapun koefisien regresi dari kedua galur tersebut tidak sama dengan satu. Berarti semua galur berinteraksi dengan lingkungan, dan (2) dengan mengesampingkan simpangan regresinya, galur 26 beradaptasi pada semua lingkungan, galur 21, 39, 10, 40, 20, 38, 16, 44, 34, 9, 11, dan galur 13 beradaptsi pada lingkungan yang menguntungkan (l3 dan l6,) selanjutnya galur 1, 3, 6, 14, 18, 22, 23 beradaptasi pada lingkungan yang marginal (l2) dan galur 35 pada lingkungan l5. Sedangkan galur 2, 4, 5, 7, 8, 12, 17, 19, 24, 25, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 36, 37, 41, 42, dan 43 beradaptasi buruk di semua lingkungan.
Analisis Keragaman Genetik Tiga Strain Ikan Nila dan Satu Strain Ikan Mujair Berdasarkan Karakter Morfologinya Didik Ariyanto
Zuriat Vol 14, No 1 (2003)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v14i1.6816

Abstract

Penelitian untuk mengidentifikasi keragaman genetik tiga strain ikan nila (Oreochromis niloticus) dan satu strain ikan mujair (O. mossambicus) telah dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran baku dan analisis multivariasi. Sebelas karakter diukur dari 141 sampel ikan yang mewakili tiga strain yaitu nila 69, nila GIFT (Genetic Improvement of Farmed Tilapia) G-3 dan nila GIFT G-6 dan 54 sampel yang mewakili ikan mujair. Analisis ragam multivariasi dan analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA) digunakan untuk mengeksplorasi pola-pola keragaman morfologi yang menggambarkan keragaman genetik dari empat strain ikan tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data dasar keragaman genetik ikan nila dan mujair melalui pendekatan morfologis, yang selanjutnya berguna untuk tujuan pemuliaan dan pengembangan komoditas tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara morfologi, bentuk tubuh ikan mujair berbeda dengan ikan nila. Ikan nila 69 cenderung mirip dengan ikan nila GIFT G- 3 dan G-6. Keragaman bentuk tubuh ikan nila dan mujair dipengaruhi oleh factor umur, faktor genetik dan lingkungan serta interaksi antara faktor genetik dan lingkungan.
Analisis Resistensi Jagung Terhadap Hama Gudang (Sitophilus zea-mays) Berdasarkan Metoda Diallel II Nurlita Apriliyani; Anggia Eka Putri; A. Susanto; N. Rostini; D. Ruswandi
Zuriat Vol 20, No 1 (2009)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v20i1.6649

Abstract

Evaluasi daya gabung umum (DGU) dan daya gabung khusus (DGK) merupakan tahapan penting dalam perakitan hibrida jagung resisten terhadap hama gudang. Tahapan ini diperlukan untuk mengidentifikasi kombinasi tetua yang akan menghasilkan turunan yang resisten terhadap hama gudang. Percobaan dengan tujuan untuk mengidentifikasi galur-galur DR yang memiliki daya gabung yang resistensi yang baik dan menyeleksi hibrida DR yang memiliki DGK serta efek heterosis resistensi terhadap hama gudang yang tinggi telah dilaksanakan di Lab. Entomologi jurusan Hama Penyakit Tumbuhan (HPT), Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang. Materi genetik yang diuji adalah dua puluh delapan hibrida jagung DR Unpad dan delapan tetua jagung DR. Analisis daya gabung resistensi terhadap hama gudang dilakukan dengan menggunakan metode griffing II. Adapun gejala heterosis dihitung mengikuti Fehr. Materi genetik tersebut disusun dalam suatu rancangan acak kelompok yang terdiri dari dua puluh delapan hibrida silang tunggal beserta delapan galur tetua DR yang diulang tiga kali. Hama gudang yang digunakan berasal dari perbanyakan imago S. zea-mays Motsch. yang memiliki ukuran dan umur seragam. Hasil penelitian menunjukan bahwa Galur DR # 8 merupakan penggabung umum yang baik untuk semua komponen resistensi. Sedangkan berdasarkan analisis DGK sepuluh hibrida terbaik yaitu hibrida #4 x #5, #1 x #10, #7 x #8, #4 x #8, #7 x #10, #4 x #9, #1 x #2, #8 x #9, #2 x #8, dan #2 x #7. Nilai heterosis tertinggi untuk semua komponen resistensi adalah pada kombinasi persilangan #5 x #7, #7 x #10, #8 x #9, #4 x #7, #1 x #2. Berdasarkan skoring terdapat beberapa hibrida yang memiliki kriteria sangat tahan yaitu: hibrida #2 X #8, #4 X #8, #5 X #8, #7 X #8 dan #9 X #10.
Penampilan tanaman padi pada populasi campuran Z A Simanullang
Zuriat Vol 2, No 2 (1991)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v2i2.6743

Abstract

Pada dua musim tanam telah dilakukan percobaan untuk melihat pengaruh populasi tunggal dan populasi campuran terhadap hasil tanaman padi. percobaan ditata dalam rancangan acak kelompok empat populasi tunggal dan enam populasi campuran yang terdiri dari 2-3 komponen, sedangkan pada musim ke dua ditanam lima populasi tunggal dan sepuluh populasi campuran.Hasil percobaan memperlihatkan bahwa penggunaan campuran 2-3 komponen merupakan alternatif pada areal yang terkontaminasi penyakit. Campuran dari dua kultivar terbaik memberikan hasil yang lebih tinggi di antara semua populasi campuran. Daya hasil populasi campuran lebih rendah dari pada hasil populasi tunggal kultivar terbaik.
Seleksi Padi dengan Kandungan Amilosa Sedang Menggunakan Marka Molekuler dan Pengujian Fenotipik Whitea Yasmine Slamet; Anita Rachmasari S.W.; Santika Sari; Nono Carsono
Zuriat Vol 29, No 2 (2018): Zuriat Vol. 29 No. 2 (Desember 2018)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2066.446 KB) | DOI: 10.24198/zuriat.v29i2.15836

Abstract

Padi dengan kandungan amilosa sedang sangat diminati oleh masyarakat Asia dan Dunia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh individu keturunan F7 (yang berasal dari hasil persilangan Sintanur x PTB33 dan Pandanwangi x PTB33) dengan kandungan amilosa sedang. Alat yang digunakan untuk analisis kandungan amilosa yaitu spektrofotometer dengan panjang gelombang 625 nm, sedangkan marka molekuler menggunakan marka RM190, SSIIa dan Wx. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa SP73-3-1-7 memiliki jumlah tanaman paling banyak yang mengandung amilosa yang sedang berdasarkan marka molekuler dan fenotipik. Kombinasi kedua pengujian ini akurat dalam menyeleksi karakter fisikokimia padi.