cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 298 Documents
ANALISIS DAYA GABUNG KARAKTER PERTUMBUHAN VEGETATIF BEBERAPA KLON KAKAO (Theobroma cacao L.) Dedy Suhendi; Agung Wahyu Susilo; Surip Mawardi
Zuriat Vol 15, No 2 (2004)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v15i2.6798

Abstract

Kriterium genetik yang mendasari pemilihan tetua persilangan perlu untuk diketahui. Penelitian untuk mengetahui kemampuan daya gabung umum dan daya gabung khusus beberapa klon kakao lindak untuk sifat-sifat pertumbuhan vegetatif dan presentase pembungaan telah dilakukan dengan rancangan persilangan dialel 7 × 7, tanpa selfing dan resiprokal. Klon-klon yang digunakan sebagai tetua persilangan adalah UIT 1, ICS 60, NIC 4, Sca 12, KEE 2, TSH 858 dan ICS 13. Sifat-sifat pertumbuhan vegetatif diukur adalah diameter batang, tinggi jorget, dan pertunasan cabang. Persentase pembungaan dihitung berdasarkan frekuensi tanaman berbunga pada saat 17 minggu setelah tanam. Data sifat sifat tersebut dianalisis ragamnya menggunakan metode Griffing 4. Efek daya gabung umum (dgu) menunjukkan pengaruh nyata pada sifat diameter batang, tinggi jorget, dan persentase pembungaan, namun tidak terdapat pengaruh nyata efek daya gabung khusus (dgk) terhadap sifat-sifat tersebut. Klon Sca 12 dan KEE 2 memiliki nilai dgu nyata untuk sifat diameter batang, tinggi jorget, dan persentase pembungaan; klon NIC 4 memiliki nilai dgu nyata untuk sifat diameter batang dan persentase pembungaan; dan klon ICS 13 memiliki nilai dgu nyata hanya untuk sifat tinggi jorget. Terdapat nilai dgk yang nyata pada kombinasi persilangan UIT 1 × ICS 60 untuk sifat diameter batang, dan kombinasi persilangan UIT 1 × Sca 12; ICS 60 × NIC 4; dan KEE 2 × TSH 858 untuk sifat persentase pembungaan.
Pengaruh Pemangkasan Bunga Terhadap Hasil dan Kualitas Biji, Serta Parameter Seleksi Beberapa Galur Bunga Matahari Rusim Mardjono; , Suprijono
Zuriat Vol 4, No 1 (1993)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v4i1.6631

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui potensi tiga galur harapan bunga matahari dan pengaruh pemangkasan bunga terhadao hasil dan kualitas biji, serta parameter seleksi. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok factorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama terdiri dari tiga galur harapan bunga matahari, yaitu galur Ha.2, Ha.3A dan Ha.5. Faktor kedua terdiri dari enam perlakuan pemangkasan jumlah bunga dengan cara menyisakan satu bunga, dua bunga, tiga bunga, empat bunga, lima bunga dan tanpa pemangkasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan memelihara dua bunga berpengaruh terhadap hasil biji total/pohon, bobot biji bunga utama maupun bobot 1000 biji. Galur Ha.3A meskipun bobot bunga utamanya lebih kecil, tetapi mempunyai biji total per pohon yang tinggi. Sedangkan galur Ha.5 mempunyai persentase bobot biji bunga utama dan bobot 1000 biji yang tinggi. Bobot 1000 biji dapat digunakan sebagai acuan kriteria seleksi. 
Penampilan hasil populasi campuran tanaman jagung Johannis Untung; Elsje Awuy; Jantje Saroinsong
Zuriat Vol 2, No 2 (1991)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v2i2.6766

Abstract

Tiga populasi tunggal yaitu Manado Kuning, Manado Merah dan Ketan Minahasa, serta empat kombinasi campurannya, ditata dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan, yang ditanam di Kakaskasen III, Tomohon, Minahasa, untuk membandingkan penampilan hasilnya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil populasi campuran lebih tinggi daripada populasi tunggal. Hasil terbaik diperoleh pada populasi campuran Manado Kuning dan Manado Merah, hasil ke dua terbaik adalah campuran Manado kuning, Manado Merah dan Ketan Minahasa.
Perbedaan Genetik Tanaman Padi Kultivar Asahan, Kencana Bali dan Laka Berdasar dari 127 Marka RFLP , Sobrizal; Ahmad Warsun; Soeranto Human; Masdiar Bustamam
Zuriat Vol 13, No 2 (2002)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v13i2.6733

Abstract

Perbedaan genetik tanaman padi kultivar Asahan, Kencana Bali dan Laka telah dianalisa dengan menggunakan 127 marka RFLP (Restriction Fragment Length Polimorphism) yang tersebar di 12 kromosom padi. Asahan dan Laka adalah Kultivar yang tahan dan Kencana Bali rentan terhadap serangan cendawan blas, Pyricularia grisea di Indonesia. Pada kombinasi 127 marka RFLP dengan 4 macam enzim restriksi, terdeteksi lebih dari 800 fragment DNA untuk tiap kultivar yang diuji. Berdasarkan pola penampilan fragmen DNA, dihitung jarak genetik (genetic distance) antara ketiga kultivar tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa jarak genetic antara Laka dan Kencana Bali lebih besar daripada jarak genetic antara Asahan dan Kencana Bali. Data ini mengindikasikan bahwa kombinasi atau persilangan antara Laka dengan Kencana Bali akan lebih memberikan kemudahan dalam analisis gen ketahanan blas dengan teknik RFLP dibandingkan dengan kombinasi antara Asahan dengan Kencana Bali.
Variabilitas dan Heritabilitas Aktivitas Nitrat Reduktase, Kadar N Total, dan Karakter Penting Lainnya pada Kedelai dalam Keadaan Tergenang Ai Komariah; A. Baihaki; R. Setiamihardja; Sulya Djakasutami
Zuriat Vol 15, No 1 (2004)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v15i1.6875

Abstract

Penelitian untuk mempelajari variabilitas dan heritabilitas aktivitas nitrat reduktase, kadar N total, dan karakter penting lainnya pada tanaman kedelai dalam kondisi tergenang telah dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti, Tanjungsari, Sumedang dari bulan Juli 2000 sampai Desember 2000. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 50 genotip kedelai sebagai perlakuan dan diulang dua kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabilitas fenotip dan variabilitas genetik untuk karakter kandungan klorofil, jumlah bintil akar efektif, ANR daun, ANR akar, dan kadar N total tanaman termasuk luas, sedangkan untuk karakter diameter pangkal batang dan stress tolerance index (STI) variabilitasnya sempit. Heritabilitas dalam arti luas untuk karakter jumlah bintil akar efektif dan kadar N total tanaman termasuk tinggi. Kandungan klorofil, ANR daun, dan ANR akar heritabilitasnya sedang. Diameter pangkal batang dan STI heritabilitasnya rendah.
Penampilan Fenotipik dan Beberapa Parameter Genetik 16 Kultivar Padi Gogo pada Sistem Tumpangsari 3:1 dengan Kacang Tanah di Jatinangor Farida Susilaningsih; D. Ruswandi; N. Hermiati
Zuriat Vol 19, No 2 (2008)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v19i2.6658

Abstract

Alih fungsi lahan subur menjadi lahan non pertanian menjadi masalah yang cukup memprihatinkan bagi ketersediaan beras dimasa yang akan datang. Lahan kering merupakan alternatif yang potensial untuk dimanfaatkan menanam padi gogo. Produksi padi gogo yang tersebar di berbagai pulau di Indonesia masih terbatas. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas padi gogo yaitu penerapan pola tanam tumpangsari. Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai penampilan fenotipik dan beberapa parameter genetik pada pertanaman tumpangsari 3:1 padi gogo dengan kacang tanah di Kebun Percobaan Ciparanje, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari 16 kultivar padi gogo sebagai perlakuan dengan dua ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar karakter dari setiap kultivar yang diuji memiliki penampilan fenotipik yang berbeda. Kultivar Jatiluhur, Situ Patenggang dan C22 memiliki penampilan fenotipik lebih baik dari Limboto dan Towuti. Karakter umur berbunga, anakan maksimum, anakan produktif, jumlah gabah isi/ malai, bobot 100 butir, dan umur panen memiliki variabilitas genetik yang luas. Karakter tinggi tanaman, bobot gabah per rumpun, bobot gabah/plot, dan hasil gabah (t.ha-1) memiliki variabilitas genetik yang sempit. Seluruh karakter pengamatan pada penelitian ini memiliki variabilitas fenotipik yang luas. Sebagian besar karakter yang diamati memiliki nilai duga heritabilitas tinggi untuk karakter umur berbunga, umur panen, jumlah anakan maximum, anakan produktif, jumlah gabah/malai, jumlah gabah isi/malai dan bobot 100 butir. Nilai heritabilitas sedang diperoleh pada tinggi tanaman, bobot gabah kering per rumpun, bobot gabah per plot dan hasil per ha.
Kariotip Kromosom Salak , Parjanto; Sukarti Moeljopawiro; W. T. Artama; Aziz Purwantoro
Zuriat Vol 14, No 2 (2003)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v14i2.6789

Abstract

Penelitian sitogenetika tanaman salak (Salacca zalacca [Gaertner] Voss) merupakan aspek penting dalam analisis genetika tanaman salak dan menunjang program pemuliaan untuk merakit kultivar salak unggul. Analisis kariotip kromosom salak telah dilakukan dengan metode squash dan pewarnaan acetoorcein. Dengan metode ini, pengamatan morfologi kromosom, yakni panjang dan bentuk kromosom, dapat dilakukan dengan hasil baik pada stadia prometafase. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa panjang kromosom salak berkisar 1.15 µm–2.38 µm. Rumus kariotip salak adalah 2n = 28 = 11 m + 1 m (SAT) + 2 sm, yakni terdiri atas 11 pasang kromosom metasentris, 1 pasang kromosom metasentris dengan satelit kromosom, dan 2 pasang kromosom submetasentris. Indeks asimetri kariotip intrakromosomal adalah 0.3 ± 0.03, indeks asimetri inter kromosomal adalah 0.2 ± 0.02. Beberapa pasangan kromosom salak mempunyai bentuk dan ukuran yang mirip sehingga sulit dibedakan. Identifikasi kromosom salak dengan teknik chromosome banding perlu dilakukan untuk mendukung hasil yang telah dicapai.
Inheritance of Fruit Detachment Force and Its Association with Pedicel Characters in Capsicum annuum L. Ridwan Setiamihardja
Zuriat Vol 2, No 1 (1991)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v2i1.6617

Abstract

Low Fruit Detachment Force (FDF) is necessary to harvest fruit-producing crops to allow low fruit damage during harvest. FDF was evaluated in the Serrano x KRG family; it appeared that FDF inherited quantitatively with dominant gens action but mainly additive. Correlation coefficient between FDF with pedicel diameter was positive, and negative with pedicel index, and both significant at the 1 percent level.
MENUJU SISTEM PENGELOLAAN PLASMA NUTFAH TANAMAN SECARA ADIL DAN BERMANFAAT , Sumarno
Zuriat Vol 18, No 1 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i1.6757

Abstract

Kekayaan sumber daya hayati Indonesia yang tercermin oleh besarnya ketersediaan keanekaragaman spesies tanaman, sering diartikan  secara langsung sebagai tersedianya kekayaan plasma nutfah. Anggapan ini tidak tepat, karena untuk tanaman-tanaman penting, Indonesia termasuk negara yang miskin plasma nutfah. Pengelolaan plasma nutfah tanaman di Indonesia tersebar di berbagai instansi yang dilakukan secara terpisah dan sendiri-sendiri, belum ada koordinasi dan kebijakan pengelolaan secara nasional. Untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi dan akuntabilitas dalam pengelolaan plasma nutfah, disarankan dibentuk Pusat Pengelolaan Plasma Nutfah Tanaman, seperti halnya yang sudah dilakukan oleh negaranegara lain. Berkembangnya status hak kepemilikan plasma nutfah dan varietas tanaman secara eksklusif mengikuti ketentuan Perlindungan Varietas Tanaman dari UPOV, ketentuan National Sovereign Rights dan Prior Informed Consent dari Convention on Biodiversity (CBD), serta keharusan membuat Material Transfer Agreement (MTA) untuk mendapatkan materi plasma nutfah dari negara lain, diperlukan adanya Undang-undang Perlindungan Plasma Nutfah Tanaman Indonesia. Hak kepemilikan, hak perwalian dan hak memproduksi varietas lokal dan atau plasma nutfah tanaman tertentu bagi seseorang, masyarakat, suku, komunitas dan masyarakat adat yang telah berjasa dalam memelihara dan memanfaatkan secara turun-temurun perlu dilindungi oleh Undang-undang. Kini tiba waktunya kita mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan, melindungi, memperkaya, melestarikan dan memanfaatkan plasma nutfah tanaman secara penuh tanggung-jawab, adil, dan bermanfaat. Adanya instansi struktural-formal yang menangani pengelolaan plasma nutfah perlu diperjuangkan.
Pola pewarisan sifat bentuk daun okra dan heretabilitas beberapa sifat penting tanaman kapas Rusim Mardjono; Edy M; Sutarso Sutarso
Zuriat Vol 2, No 2 (1991)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v2i2.6721

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pewarisan bentuk daun okra dan estimasi heritabilitas beberapa sifat penting tanaman kapas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk daun okra dikendalikan oleh sepasang gen tunggal tidak dominan. Pada populasi F1 menunjukkan efek heterosis untuk luas daun dan berat kapas berbiji. Sedangkan distribusi pewarisan sifat luas daun dalam populasi F2 adalah kontinyu dan normal, atau dikendalikan oleh banyak gen. Seleksi pada generasi awal dapat dilakukan untuk sifat persentase serat dan panjang serat, sedangkan sifat-sifat lainnya, terutama berat kapas berbiji, seleksi lebih baik dilakukan pada generasi lanjut