cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 280 Documents
Fungsi Mantra Kenduri dalam Upacara Adat Keduk Beji Wigrahanto, Kifan; Dermawan, Taufik; Sulistyorini, Dwi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i2.26383

Abstract

Fungsi dalam mantra menjadi bagian penting dalam bertahannya mantra di masyarakat. Fungsi mantra dilihat dari kegunaan mantra tersebut dalam suatu upacara adat yang terdapat di masyarakat. Fungsi mantra perlu diperhatikan sehingga dapat diketahui mengapa mantra tersebut masih digunakan dalam upacara adat. Fungsi-fungsi mantra tersebut berkaitan dengan ideologi yang dianut oleh maysarakat setempat dimana mantra dan upacara adat tersebut beredar. Artikel ini membahas tentang fungsi mantra upacara adat Keduk Beji di Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam dan observasi terhadap masyarakat setempat yang pernah mengikuti upacara tersebut. Penelitian ini bertujuan menjelaskan fungsi mantra sebagai ideologi masyarakat dimana mantra tersebut beredar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upacara adat Keduk Beji memiliki fungsi penting dalam mempertahankan norma dan filosofis kebuadayaan berdasarkan agama, nilai-nilai budaya lokal dan mempererat hubungan sosial antar masyarakat. Upacara ini juga membantu memperkuat identitas budaya masyarakat dan memberikan peluang bagi para pemuda untuk belajar dan mempertahankan kebudayaan tradisional. Artikel ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang peran mantra kenduri dalam upacara adat Keduk Beji sebagai membangun kebersamaan dan kerjasama dalam masyarakat serta mempertahankan nilai-nilai budaya tradisional di Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi.   The function in spells becomes an important part of the survival of spells in society. The function of the mantra is seen from the use of the mantra in a traditional ceremony found in the community. The function of the mantra needs to be considered so that it can be known why the mantra is still used in traditional ceremonies. The functions of these mantras are related to the ideology adopted by the local community where the traditional mantras and ceremonies circulate. This article discusses the function of the traditional ceremonial mantra of Keduk Beji in Tawun Village, Kasreman District, Ngawi Regency. This study used a type of qualitative research by conducting in-depth interviews and observations of local people who had attended the ceremony. This study aims to explain the function of mantras as the ideology of the society in which the mantra circulates.  The results showed that the traditional Keduk Beji ceremony has an important function in maintaining cultural norms and philosophies based on religion, local cultural values and strengthening social relations between communities. The ceremony also helps strengthen the cultural identity of the community and provides opportunities for young people to learn and maintain traditional culture. This article provides a deeper understanding of the role of the kenduri mantra in the traditional ceremony of Keduk Beji as building togetherness and cooperation in the community and maintaining traditional cultural values in Tawun Village, Kasreman District, Ngawi Regency.
Table Manner Masyarakat Jepang sebagai Bentuk Penerapan Ajaran Konfusianisme di Asia Timur Ana Rahmalia; Saprudin, Saprudin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i2.26404

Abstract

Table manner merupakan salah satu bentuk budaya dalam aspek etika, adat, istiadat, tradisi, dan perilaku atau kebiasaan masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang elemen-elemen dalam table manner masyarakat Jepang yang dapat mencerminkan ajaran konfusianisme sebagai ajaran yang melatarbelakangi budaya di kawasan Asia Timur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan mendeskripsikan data yang diperoleh sesuai dengan fenomena yang terjadi di masyarakat. Pendekatan yang digunakan merupakan pendekatan fenomenologi sebagai jembatan dalam mengungkap realitas di balik fenomena yang terjadi guna menunjang penelitian mengenai budaya. Hasil penelitian menunjukkan adanya 4 ajaran konfusianisme yang diterapkan dalam table manner masyarakat Jepang adalah Ren, Li, Xiao, dan Lian. Lebih lengkapnya yakni: Ren memiliki arti cinta kasih/kemanusiaan (makan dalam posisi duduk di atas tatami), Li memiliki arti tata krama (etika dalam penggunaan sumpit dan posisi tubuh ketika makan), Xiao memiliki arti menhormati dan menghargai (mengucapkan “itadakimasu” sebelum makan dan “gochisousama deshita” setelah makan), dan Lian memiliki arti kebersihan (etika membersihkan tangan menggunakan handuk atau oshibori). Melalui penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa table manner yang dilakukan oleh masyarakat Jepang memang merefleksikan bentuk penerapan ajaran konfusianisme di Asia Timur.   Table manners are one of the cultures in terms of ethics, customs, traditions, and the behavior or habits of the people.  This study discusses about the elements in the table manners of Japanese society which can reflect the principle of Confucianism as the cultural background in the East Asian region. This research was used qualitative research methods by describing the data obtained according to phenomena that occur in society. The approach used is a phenomenological approach as a bridge in uncovering the reality behind the phenomena that occur in order to support research on culture. The research results show 4 Confucianism principle that applied in the table manners of Japanese society are Ren, Li, Xiao, and Lian. The complete informations are: Ren means love/humanity (eating in a sitting position on tatami), Li means etiquette (ethics in using chopsticks and body position when eating), Xiao means respect and appreciation (saying "itadakimasu" before eating and “gochisousama deshita” after eating), and Lian means cleanliness (ethics of cleaning hands using a towel or oshibori). From this research, it concluded that the table manners which used by Japanese society can reflect the implementation of Confucianism principle in East Asia.
Perubahan Perilaku Mantan Preman melalui Pendekatan Religi Pada Pencak Silat Kebatinan Ruyadi, Yadi; Fadillah, Annisa; Azis, Abdul
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i2.26451

Abstract

Padepokan Sapu Jagat Sukabumi memiliki keterbukaan dalam menerima anggota seperti mantan preman agar konsisten dalam melakukan perubahan ke arah yang lebih religius. Padepokan Sapu Jagat menggunakan pendekatan religi yang terkandung pada Pencak Silat Kebatinan agar menjadikan mantan preman yang layak untuk kembali bergabung menjadi anggota masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendekatan religi dalam mengubah perilaku mantan preman yang lebih baik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk memperdalam makna mengenai pendekatan religi yang diterapkan melalui Pencak Silat Kebatinan. Adapun metode studi kasus digunakan untuk mengeksplorasi fenomena pertaubatan mantan preman. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi, dan wawancara kepada 14 informan yang pernah terlibat aksi kejahatan. Analisis data menggunakan aplikasi NVivo untuk melakukan proses koding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Padepokan Sapu Jagat Sukabumi menjadi wadah bagi mantan preman memperbaiki diri dan mempelajari nilai-nilai spiritual melalui Pencak Silat Kebatinan. Hal ini kemudian menjadikan mantan preman yang bertaubat dan menjalankan kehidupan sesuai ketentuan nilai dan norma agama yang sejalan dengan aturan masyarakat.   Padepokan Sapu Jagat Sukabumi has an openness in accepting members such as former thugs so that they are consistent in making changes to a more religious direction. Padepokan Sapu Jagat uses the religious approach contained in Pencak Silat Kebatinan to make former thugs worthy of rejoining society. This study aims to find out the religious approach in changing the behavior of ex-thugs for the better. This study uses a qualitative approach to deepen the meaning of the religious approach applied through Pencak Silat Kebatinan. The case study method is used to explore the phenomenon of repentance of former thugs. Data collection was carried out by observation, documentation and interviews with 14 informants who had been involved in criminal acts. Data analysis uses the NVivo application to carry out the coding process. The results showed that Padepokan Sapu Jagat Sukabumi became a place for former thugs to improve themselves and learn spiritual values through Kebatinan Pencak Silat. This then makes former thugs repent and lead a life according to the provisions of religious values and norms that are in line with societal rules. Thus, the religious approach can be an alternative method in regulating its followers to obey and adhere to religious provisions.
Kritik Sosial dalam Animasi Tekotok: Analisis Wacana Kritis Van Dijk Khairiah, Iffah; Prihatini, Arti
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i2.26549

Abstract

Youtube merupakan salah satu platform media sosial yang dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai tempat penyampaian kritik dan saran terhadap kesenjangan sosial yang terdapat dilingkungan sekitar. Ide tersebut digunakan oleh salah satu Kreator Youtube animasi Tekotok dalam mengungkapkan kritikanya terhadap kesenjangan sosial. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kritik sosial yang terkandung dalam animasi youtube Tekotok. Teori yang digunakan adalah Analisis Wacana Kritis (AWK) Van Dijk, dengan metode analisi data kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa kritik sosial dalam animasi youtube Tekotok terwujud dalam bentuk kategori leksikon dan konteks sosial. Pada kategori leksikol ditemukan penggunaan kata vulgar yang terdiri dari pakaian dalam, aktivitas seksual, ketelanjangan.  Selanjutnya ditemukan penggunaan metafora yang terdiri dari  kekerasan seksual, penyimpangan seksual, kasus korupsi, kesehatan, politik dan ekonomi. Sedangkan dalam konteks sosial  diperoleh temuan mengenai hukum dan kekerasan, politik, kesehatan, dan sosial. Oleh karena itu, penggunaan media sosial youtube sebagai salah satu platform penyampaian kritik dengan menggunakan animasi yang diselingin unsur kritis namun jenaka, dapat mudah diterima oleh masyarakat dari berbagai kalangan, dan pesan yang ingin disampaikan Kreator dapat terserap secara menyuluruh.   YouTube is one of the social media platforms utilized by Indonesians as a place to convey criticism and suggestions for social inequality in the surrounding environment. The idea is used by one of the creators of Tekotok animation in expressing his criticism of social inequality. This research aims to identify social criticism contained in Tekotok's YouTube animation. The theory used is Van Dijk's Critical Discourse Analysis (AWK), with qualitative data analysis methods. The results showed that social criticism in Tekotok youtube animation is realized in the form of lexicon categories and social context. In the lexicon category, there is the use of vulgar words consisting of underwear, sexual activity, and nudity.  Furthermore, it was found the use of metaphors consisting of sexual violence, sexual perversion, corruption cases, health, politics, and economics. Meanwhile, in the social context, findings were obtained regarding law and violence, politics, health, and society. Therefore, the use of YouTube social media as a platform for delivering criticism using animation with critical but humorous elements can be easily accepted by people from various circles, and the message that the creator wants to convey can be absorbed thoroughly. 
Pengenalan Tradisi Rokat Tase’ untuk Meningkatkan Kecintaan Budaya Lokal Anak Usia Dini Syakuro, Moh. Abdan; Apriliyana, Lisa; Putro, Khamim Zarkasih; Reswari, Ardhana; Hukamak, Saiful
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i2.27334

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi peran tempat wisata, khususnya Pantai Ekasoghi, sebagai agen pendidikan non formal yang efektif dalam memperkenalkan tradisi budaya Rokat Tase' kepada anak-anak usia dini. Penelitian ini mengungkap bagaimana lingkungan wisata yang menarik dapat menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak-anak. Pengenalan budaya lokal pada anak-anak usia dini ditemukan sebagai investasi penting dalam pelestarian budaya, karena anak-anak yang tumbuh dengan pengetahuan dan rasa cinta terhadap tradisi leluhur lebih cenderung untuk menjaganya dan meneruskannya ke generasi berikutnya.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengenalan tradisi budaya Rokat Tase' melalui tempat wisata seperti Pantai Ekasoghi memiliki dampak positif dalam meningkatkan kecintaan budaya lokal pada anak-anak usia dini. Ini bukan hanya memberikan pengetahuan tentang warisan budaya, tetapi juga menciptakan fondasi kuat untuk pelestarian budaya di masa depan. Oleh karena itu, kontribusi tempat wisata dalam memperkenalkan dan memelihara budaya lokal merupakan contoh yang penting dalam upaya menjaga kearifan lokal sebagai aset berharga bagi negara. Peran keluarga dalam mendukung pengenalan budaya lokal pada anak-anak juga diakui sebagai faktor kunci. Orang tua dan keluarga lainnya memiliki tanggung jawab untuk mendukung anak-anak dalam menjelajahi budaya dan tradisi lokal mereka. Dalam konteks ini, Pantai Ekasoghi menjadi tempat yang ideal untuk menggabungkan pengenalan budaya dengan hiburan yang menyenangkan. Perayaan Rokat Tase' di tempat ini memberikan kesempatan unik bagi anak-anak untuk merasa lebih terhubung dengan budaya lokal mereka.   This research aims to explore the role of tourist destinations, particularly Pantai Ekasoghi, as an effective agent of non-formal education in introducing the cultural tradition of Rokat Tase' to young children. The study reveals how an appealing tourist environment can create enjoyable learning experiences for children. The introduction of local culture to young children is found to be a significant investment in cultural preservation, as children who grow up with knowledge and love for their ancestral traditions are more likely to preserve and pass them on to the next generation. The results of this study demonstrate that introducing the cultural tradition of Rokat Tase' through tourist destinations like Pantai Ekasoghi has a positive impact on increasing the love for local culture among young children. It not only imparts knowledge about cultural heritage but also lays a strong foundation for cultural preservation in the future. Therefore, the contribution of tourist destinations in introducing and preserving local culture is a significant example in efforts to safeguard local wisdom as a valuable asset for the nation. The role of families in supporting the introduction of local culture to children is also acknowledged as a key factor. Parents and other family members have the responsibility to support children in exploring their local culture and traditions. In this context, Pantai Ekasoghi becomes an ideal place to combine cultural introduction with enjoyable entertainment. The Rokat Tase' celebration at this location provides a unique opportunity for children to feel more connected to their local culture.
Visualisasi Desain Busana berdasarkan Pandangan Masyarakat terhadap Karakteristik Gender Dysphoria Nayottama, Naura Naryama; Syarief, Achmad
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i2.27488

Abstract

Gender dysphoria memicu ketidaknyamanan dan ketidaksesuaian antara identitas gender dan jenis kelamin biologis, dapat mempengaruhi ekspresi gender seseorang melalui fesyen, dengan potensi menjadi sumber kebanggaan dan ekspresi kreatif dalam lingkungan masyarakat, namun juga dapat menyebabkan frustrasi, ketidaknyamanan fisik, dan kecemasan yang berkelanjutan. Penelitian ini membahas tentang transformasi gender dysphoria menjadi tema dalam koleksi busana dengan menggunakan metode semantic differential. Penelitian ini menggunakan pendekatan explanatory dengan metode gabungan antara kuantitatif dan kualitatif. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, wawancara ahli, dan survei terhadap responden dengan pemahaman tentang gender dan minat dalam fashion. Perancangan busana mengandalkan moodboard dengan kata kunci terkait gender dysphoria sebagai panduan utama, memastikan representasi yang akurat sesuai persepsi responden. Metode semantic differential digunakan untuk mengukur dan mentransformasi ide-ide terkait gender dysphoria menjadi desain busana yang representatif, melalui evaluasi dan analisis statistik terhadap penilaian responden. Penelitian ini menunjukkan bahwa perancangan busana berdasarkan persepsi masyarakat terkait karakteristik gender dysphoria dapat direalisasikan menggunakan metode semantic differential untuk mengukur persepsi tersebut dan menggambarkan elemen desain yang mencerminkan karakteristik individu dengan gender dysphoria. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menciptakan desain busana yang mengkomunikasikan pengalaman gender dysphoria secara visual dan mendorong inklusivitas dan dukungan terhadap keberagaman gender dalam industri fesyen.   Gender dysphoria triggers discomfort and incongruence between gender identity and biological sex, affecting one's gender expression through fashion, with the potential to be a source of pride and creative expression in society, but also causing ongoing frustration, physical discomfort, and anxiety. This study examines the transformation of gender dysphoria into a fashion collection theme using the semantic differential method. The research employs an explanatory approach combining quantitative and qualitative methods. Data is collected through literature review, expert interviews, and surveys targeting respondents with knowledge of gender and an interest in fashion. Fashion design relies on a moodboard with keywords related to gender dysphoria as the main guide, ensuring accurate representation according to respondent perceptions. The semantic differential method is utilized to measure and transform gender dysphoria-related ideas into representative fashion designs through evaluation and statistical analysis of respondent assessments. The study demonstrates that fashion design based on societal perceptions of gender dysphoria characteristics can be achieved using the semantic differential method to measure such perceptions and depict design elements that reflect the characteristics of individuals with gender dysphoria. The findings of this research are expected to contribute to the creation of fashion designs that visually communicate the experience of gender dysphoria and promote inclusivity and support for gender diversity in the fashion industry.
Integrasi Nilai-Nilai Batagak Penghulu Pada Pembelajaran Sejarah di Sekolah Faradila, Rahmah; Andi, Andi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i2.27541

Abstract

Upacara Batagak Penghulu merupakan suatu prosesi adat yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau dalam rangka pengangkatan dan pengukuhan pemimpin baru, dalam prosesinya memiliki banyak langkah-langkah dan memakan waktu yang tidak sebentar. Setiap prosesi pada Upacara Batagak Penghulu mengandung nilai-nilai edukatif, nilai-nilai edukatif inilah yang dimanfaatkan serta diintegrasikan kedalam pembelajaran sejarah berbasis kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan mengkaji integrasi nilai Prosesi Batagak Penghulu dalam menciptakan pembelajaran sejarah yang berdasarkan pengalaman sehingga dapat menjadi basis untuk mengimplementasikan nilai luhur dalam rangka penanaman nilai karekter luhur dalam menciptakan identitas bangsa Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, teknik analisis data berupa observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Subjek penelitian pada penelitian ini terdiri dari tiga subjek penelitian inti berupa dua orang guru mata pelajaran sejarah SMAN 2 Payakumbuh dan seorang pemuka adat, dilengkapi dengan data tambahan dari beberapa peserta didik SMAN 2 Payakumbuh. Pengintegrasian nilai-nilai dalam prosesi Upacara Batagak Penghulu diharapkan mampu untuk mengenalkan mengenai prosesi tersebut secara dalam kepada peserta didik yang kemudian dapat diimplementasikan sebagai basis dalam penanaman karakter luhur bangsa Indonesia dalam membentuk  identitas bangsa sebagai upaya menyambut era global dengan generasi yang kompeten. Serta dengan adanya integrasi nilai-nilai lokal Upacara Bataga Penghulu diharapkan kedepannya tradisi ini tetap lestari dengan segala prosesinya tanpa adanya kerancuan ataupun penyederhanaan yang fatal.   The Batagak Penghulu ceremony is a traditional procession carried out by the Minangkabau people in order to appoint and inaugurate a new leader. The process has many steps and takes a long time. Each procession at the Penghulu Batagak Ceremony contains educational values; these educational values are utilized and integrated into historical learning based on local wisdom. This study aims to examine the integration of the values of the Penghulu Batagak Procession in creating historical learning that is based on experience so that it can become the basis for implementing noble values in the context of cultivating noble character values in creating Indonesian national identity. This research is qualitative with a phenomenological approach and data analysis techniques in the form of observation, in-depth interviews, and documentation. The research subjects in this study consisted of three core research subjects in the form of two history teachers at SMAN 2 Payakumbuh and a traditional leader, complemented by additional data from several students at SMAN 2 Payakumbuh. The integration of values in the procession of the Penghulu Batagak Ceremony is expected to be able to introduce the procession in depth to students, which can then be implemented as a basis for instilling the noble character of the Indonesian nation in shaping national identity as an effort to welcome the global era with competent generations. As well as with the integration of local values, it is hoped that in the future this tradition will remain sustainable with all its processes without any fatal confusion or simplification.
Motif Batik Indramayu sebagai Bentuk Strategi Akulturasi Budaya Tiongkok-Indramayu Danirih, Danirih; Ningsih, Tri Wahyu Retno
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i2.27738

Abstract

Keberadaan bangsa Tiongkok di Indramayu tidak terlepas dari adanya kegiatan perdagangan di sekitar pelabuhan Cimanuk. Hal tersebut yang menyebabkan adanya akulturasi budaya Tiongkok dan Indramayu. Salah satu bentuk akulturasi budaya Tiongkok dan Indramayu adalah batik. Tujuan penelitian ini untuk  mengungkap strategi akulturasi budaya batik Indramayu dan Tiongkok. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui proses observasi, wawancara, dan dokumentasi. Proses analisis data menggunakan langkah-langkah yaitu, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Berdasarkan hasil analisis motif batik Indramayu yang dipengaruhi oleh budaya Tiongkok adalah motif Liong, Lokcan, dan Pacar China. Terdapat 3 kategori strategi akulturasi yang ditemukan yaitu, strategi asimilasi, separasi, dan integrasi. Strategi asimilasi terjadi karena adanya interaksi perdagangan dan interaksi sosial antara masyarakat Indramayu dengan msyarakat Tiongkok. Strategi separasi ditunjukan dengan pemilihan motif asli batik Indramayu dibandingkan motif yang dipengaruhi budaya Tiongkok. Strategi integrasi ditandai dengan adanya kegiatan membatik bersama  di daerah sekitar sungai Cimanuk pada zaman dahulu. Selain itu, ditandai dengan banyaknya peminat batik motif Lokcan. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa batik Indramayu tergolong ke dalam batik pesisir dan motif batik Indramayu yang dipengaruhi oleh budaya Tiongkok, yaitu, motif Liong, Lokcan, dan Pacar China.   The existence of the Chinese nation in Indramayu is inseparable from the existence of trading activities around the Cimanuk port. This is what causes the acculturation of Chinese and Indramayu culture. One form of acculturation of Chinese and Indramayu culture is batik. The purpose of this study is to reveal the acculturation strategy of Indramayu and Chinese batik culture. The research method used is qualitative research with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The data analysis process uses steps, namely, data reduction, data presentation, and data verification. Based on the results of the analysis of the Indramayu batik motifs that are influenced by Chinese culture are the Liong, Lokcan, and Pacar China motifs. There are 3 categories of acculturation strategies found, namely, assimilation, separation, and integration strategies. The assimilation strategy occurs because of trade interactions and social interactions between the Indramayu people and Chinese people. The separation strategy is demonstrated by selecting original Indramayu batik motifs compared to motifs influenced by Chinese culture. The integration strategy was marked by the existence of joint batik activities in the area around the Cimanuk river in ancient times. In addition, it is marked by the large number of Lokcan motif batik enthusiasts. Based on the research results, it was concluded that Indramayu batik is classified as coastal batik and the Indramayu Batik motifs are influenced by Chinese culture, namely, the Liong, Lokcan and Pacar China motifs.
Representasi Ajaran Konfusianisme dalam Film Looking Up《银河补习班 Yínhé Bǔxíbān》 Mangesthi, Tiara; Ayesa, Ayesa; Ningsih, Tri Wahyu Retno
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i2.27788

Abstract

Tiongkok merupakan salah satu negara yang kaya akan budayanya. Masyarakat dapat mengetahui suatu budaya dengan cara menonton film yang berasal dari negara tersebut, termasuk budaya Tiongkok. Maka, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ajaran dan budaya yang mempengaruhi ajaran yang disampaikan oleh ayah kepada anaknya dalam film Looking Up atau dalam Bahasa Mandarin berjudul《银河补习班 Yínhé Bǔxíbān》. Film Looking Up adalah satu dari sekian banyak film yang dapat mencerminkan budaya yang mempengaruhi ajaran orang tua kepada anaknya di Tiongkok. Data penelitian ini berupa data tekstual dalam film Looking Up. Data penelitian ini berupa percakapan dan monolog yang menggambarkan ajaran ayah kepada anaknya. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah deskriptif kualitatif. Data dianalisis menggunakan teori Tang (1992) yang menjelaskan bahwa, budaya Tiongkok dibentuk salah satunya oleh ajaran Konfusianisme. Penelitian ini berfokus pada pengaruh ajaran Konfusianisme. Ditemukan sebelas data yang berkaitan dengan ajaran ayah kepada anak yang dipengaruhi oleh ajaran Konfusianisme. Data yang sudah ditemukan, kemudian dianalisis menggunakan 论语 Lúnyǔ atau Analek Konfusius (2018) yang merupakan salah satu kitab ajaran Konfusianisme. Dapat disimpulkan dari keseluruhan data yang sudah dianalisis, bahwa film Looking Up mengajarkan tentang ajaran konfusius mengenai pendidikan, kehidupan, dan sopan santun.   China is one of the countries with rich culture. People can know the culture of a country by watching movies from that country, including Chinese culture. Therefore, this research aimed to find out the teachings and culture that influence the teachings given by the father to his son in the movie Looking Up, or in Mandarin《银河补习班 Yínhé Bǔxíbān》. The movie Looking Up is one of many movies that can reflect the culture that influences what parents teach their children in China. The data of this research is the textual data in the movie Looking Up. This research data is in the form of conversations and monologues that describe the teachings of fathers to their children. The research method used in this paper is descriptive qualitative. The data will be analysed using Tang's theory (1992) which explains that Chinese culture is shaped by Confucianism. This research focuses on the influence of Confucianism. Eleven data were found relating to the teaching of fathers to children who were influenced by the teachings of Confucianism. The data found were then analysed using 论语 Lúnyǔ or Analects of Confucius (2018), which is one of the books of Confucianism teachings. From all the data analysed, it can be concluded that the movie Looking Up teaches about Confucian teachings on education, life and manners.
Peran wanita Arab Saudi dalam Perubahan Model Abaya Pasca Reformasi Mohamed bin Salman Koto, Nadaa Febian; Priyoyudanto, Febri
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i2.27997

Abstract

Setiap negara memiliki standar yang berbeda dalam berpakaian sehingga fashion memiliki keterkaitan erat dengan budaya yang dapat mendeskripsikan negara tersebut. Fashion bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai aksesoris pelengkap, namun dapat menjadi ciri khas seseorang saat mengekspresikan diri mereka. Di Arab Saudi terdapat peraturan yang menetapkan gaya berpakaian atau fashion bagi perempuan dengan standar femininitas yang mereka miliki. Hal inilah yang tentunya menjadi perhatian bagi para wanita di Arab Saudi ketika mereka mengenakan pakaian sehari-hari. Topik artikel ini akan membahas tentang peran wanita Arab Saudi yang dapat memengaruhi perubahan model Abaya pasca reformasi yang dilakukan oleh Mohamed bin Salman. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan berdasarkan data sumber data literatur. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan antara model Abaya sebelum reformasi Mohamed bin Salman dan sesudah reformasi Mohamed bin Salman, perbedaan tersebut terlihat dari model Abaya yang semakin beragam dan mengutamakan fungsi pakai bagi setiap wanita Arab yang memakai Abaya tersebut.   Every country has different standards of dressing, which makes fashion closely related to culture and can describe a country. Fashion is not merely about fulfilling daily needs as complementary accessories but can also become a distinctive feature when individuals express themselves. In Saudi Arabia, there are regulations that define the dressing style or fashion for women based on the femininity standards they adhere to. This is, of course, a matter of concern for women in Saudi Arabia when they wear everyday clothing. The topic of this article will discuss the role of Saudi Arabian women that can influence the changes in Abaya models post the reforms carried out by Mohammed bin Salman. This research adopts a literature study method based on data from literary sources. The results of this study show that there are differences between Abaya models before and after Mohammed bin Salman's reforms, as evidenced by the increasingly diverse and functional Abaya models for every Arab woman who wears them.