cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 280 Documents
Pengaruh Aktualisasi Konsep Diri dalam Self-Disclosure Gen Z terhadap Second Account pada Aplikasi Instagram di Kota Medan Gultom, Syifah Fhauziah; Rohani, Laila
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.33098

Abstract

Media sosial adalah platform yang digunakan orang untuk berbagi gambar, berita, informasi, dan konten lainnya, satu sama lain dan untuk meningkatkan hubungan sosial mereka. Masyarakat juga kerap memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan perasaan tertentu yang mereka alami. Dengan begitu tujuan penelitian ada untuk mengetahui Aktualisasi konsep diri Second Account pada Aplikasi Instagram terhadap Self-Disclouser Gen Z di Kota Medan. Dalam penelitian ini jenis metode yang digunakan adalah metode penelitian Kuantitatif. penelitian ini menjelaskan hubungan mempengaruhi dan dipengaruhi dari variabel-variabel yang akan diteliti yakni Aktualisasi konsep diri second account (variabel independen) dan Self-Disclouser (variabel dependen). Penelitian ini berfokus pada Gen Z di Kota Medan. Data penelitian ini menggunakan data primer yakni data yang diperoleh secara langsung, untuk memperoleh pengambilan data menggunakan instrumen penelitian angket/kuesioner. Hasil penelitian menunjukaan bahwa uji korelasi antara aktualisasi konsep diri akun kedua dengan pengungkapan diri pada Gen Z menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,563 dan nilai signifikan sebesar 0,000. Tingkat hubungan yang sedang ditunjukkan oleh koefisien korelasi sebesar 0,563. Dalam hal ini dapat diketahui bahwa masyarakat kota Medan memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan perasaan tertentu yang mereka alami. Ini adalah jenis keterbukaan diri (Self-Disclouser) di mana seseorang dengan sengaja menyampaikan pengalaman dan perasaannya secara verbal.   Social media is a platform that people use to share images, news, information and other content, with each other and to enhance their social relationships. People also often use social media to convey certain feelings they experience. That way the purpose of the research is to find out the Actualization of the Second Account self-concept on the Instagram Application for Gen Z Self-Disclosers in Medan City. In this study, the type of method used is Quantitative research method. this research explains the relationship of influencing and being influenced by the variables to be studied, namely the Actualization of the second account self-concept (independent variable) and Self-Disclouser (dependent variable). This research focuses on Gen Z in Medan City. This research data uses primary data, namely data obtained directly, to obtain data collection using a questionnaire research instrument. The results showed that the correlation test between the actualization of the second account self-concept and self-disclosure in Gen Z showed a correlation coefficient of 0.563 and a significant value of 0.000. A moderate level of relationship is indicated by a correlation coefficient of 0.563. In this case, it can be seen that the people of Medan city utilize social media to convey certain feelings that they experience. This is a type of self-disclosure where a person intentionally conveys their experiences and feelings verbally.
Determinasi Minat Baca Anak di Taman Baca Masyarakat Desa Percut Syam, Muhammad; Haikal, Muhammad Fachran
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.33502

Abstract

Minat baca merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan intelektual dan kreatif pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat baca anak usia Sekolah Dasar di lingkungan sekitar Taman Baca Masyarakat Desa Percut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan ialah angket, observasi dan dokumentasi. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sebanyak 138 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat baca anak usia Sekolah Dasar sangat tinggi. Hal ini mencakup berbagai topik, termasuk menilai membaca di TBM dalam memenuhi kebutuhan belajar, mengenali keinginan anak untuk berkunjung, menarik perhatian pembaca muda dengan sampul dan isi buku yang menawan, dan mendorong rasa senang dalam proses membaca yang terpisah dari lingkungan. anak-anak. Pembaca mungkin menganggap membaca sebagai hobi yang hemat waktu di TBM, yang menghasilkan pembacaan dua hingga enam jilid dalam satu minggu, serta kegembiraan yang didapat dari menyelesaikan sebuah buku dan berhubungan dengan orang lain, Agar ilmu yang diperolehnya dapat bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain, hendaknya mereka menindaklanjuti buku-buku yang telah dibacanya dengan menginformasikan kepada teman-temannya. Selain itu, keberadaan TBM dapat mendorong anak usia Sekolah Dasar untuk lebih banyak membaca dalam suasana TBM.   Reading interest is one of the important aspects in children's intellectual and creative development. This study aims to determine the reading interest of elementary school children in the neighborhood around the Percut Village Community Reading Park. This research uses quantitative descriptive method. The data collection methods used are questionnaires, observation and documentation. In this study, the sampling technique used purposive sampling with a total of 138 respondents. The results showed that the reading interest of elementary school children is very high. This covers a variety of topics, including valuing reading at TBMs in meeting learning needs, recognizing children's desire to visit, attracting the attention of young readers with captivating book covers and content, and encouraging a sense of pleasure in the reading process that is separate from the environment of children. Readers may perceive reading as a time-saving hobby at TBMs, resulting in the reading of two to six volumes in one week, as well as the joy derived from finishing a book and connecting with others, In order for the knowledge gained to be useful both for themselves and others, they should follow up on the books they have read by informing their friends. In addition, the existence of TBMs can encourage elementary school-age children to read more in a TBM setting.
Front Matter Volume 8 No 1 April 2024 Satwika, Admin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hilangnya Bahuma Mototn: Modernisasi Pertanian terhadap Sistem Perladangan Orang Dayak Kanayatn Putri, Nadila; Hasanah; Darmawan, Diaz Restu; Purnomo, Taufik Agus
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.32776

Abstract

Tulisan ini merespon perubahan pola perladangan komunitas Dayak karena kebijakan pemerintah yang mengusung modernisasi pertanian. Tujuan tulisan ini menganalisis dampak modernisasi pertanian terhadap praktik perladangan orang Dayak Kanayatn Desa Samalantan, Kecamatan Samalantan, Kabupaten Bengkayang di Provinsi Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian deskriptif dan merujuk pada teori modernisasi oleh Rostow, yang menggambarkan perubahan sosial dalam lima tahapan pembangunan. Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan untuk mendeskripsikan pola perladangan Dayak Kanayatn, bentuk perubahan yang terjadi, dan dampak yang dihasilkan akibat modernisasi pertanian. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan yang merupakan peladang dan petani Dayak Kanayatn. Selain itu observasi lapangan dilakukan untuk memperoleh pemahaman langsung tentang praktik perladangan mereka. Data sekunder diperoleh melalui studi literatur, dokumen resmi, dan catatan lapangan yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modernisasi pertanian memiliki dampak signifikan terhadap sistem perladangan orang Dayak Kanayatn di Desa Samalantan. Dampak positifnya meliputi peningkatan produktivitas melalui penggunaan teknologi pertanian dan praktik pertanian yang efisien, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta kontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan. Namun, dampak negatifnya mencakup perubahan nilai-nilai sosial budaya masyarakat Dayak Kanayatn, kehilangan kearifan lokal, dan terancamnya benih padi lokal Dayak Kanayatn. Melalui pemahaman yang lebih mendalam tentang implikasi modernisasi pertanian, diharapkan langkah-langkah kebijakan dapat dirumuskan untuk melestarikan kearifan lokal, meminimalisir dampak negatif, dan memaksimalkan manfaat positif dari modernisasi pertanian dalam upaya mencapai pembangunan berkelanjutan di wilayah ini.           This research aims to analyze the effect of agricultural modernization on the farming system of Dayak Kanayatn in Samalantan Village, Samalantan Subdistrict, Bengkayang Region. It used a qualitative approach using a descriptive design. A modernization theory expressed by W.W. Rostow was used as atheoretical basis, describing social changes in five-stage development. The datawere gathered through primary and secondary sources. The research illustrated the farming pattern of Dayak Kanayatn, the form of changes, and the effects caused by agricultural modernization. The primary data were obtained from in-depth interviews with a participant. He is a native of Dayak Kanayatn, working as a farmer. Observations were also conducted to better understand the farming practices in the area. Following that, secondary sources were traced through literature reviews, official documents, and field notes that were relevant to the research topic. Results indicated that agricultural modernization significantly affected the farming system of the Dayak Kanayatn people in Samalantan Village. The positive effect was a productivity increase with the use of agricultural technology and efficient farming practices. In addition, it contributed to the people's welfare improvement and sustainable economic and developmental growth. However, this modernization also brought some negative effects, such as sociocultural changes among people in Dayak Kanayatn. People might also be facing the threat of losing local wisdom and local rice seeds in Dayak Kanayatn. The results of this study are expected to provide a better understanding of social change and the impact of agricultural modernization on the Kanayatn Dayak community, as well as provide relevant recommendations for sustainable agricultural development in this region.
Intensitas Budaya pada Musik Iringan Tari Tiga Serangkai di Sanggar Andari Lukyantus, Lukyantus; Djau, Nurmila Sari; Sagala, Mastri Dihita
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.32944

Abstract

Tari Tiga Serangkai merupakan karya tari dari Sanggar Andari yang tercipta pada tahun 2002 atas respon terhadap konflik etnis yang terjadi di Kalimantan Barat pada tahun 1996. Kemajemukan itu dilihat oleh Kusmindari Triwati bukan sesuatu yang memecah belah justru menjadi simbolik Persatuan dan menjadi dasar terbentuknya tari Tiga Serangkai. Tari yang tidak lepas dari musik pengiringnya tentunya saling berkorelasi dalam konsep persatuan dari berbagai etnis tersebut, sehingga Intensitas Budaya yang terkandung di dalam karya ini menjadi menarik untuk ditelisik lebih dalam terutama sebagai sebuah medium pemersatu masyarakat yang mejemuk di Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif serta Etnomusikologi sebagai pendekatan dalam menggali lebih dalam mengenai intensitas budaya dalam sudut pandang musik. Intensitas budaya yang terkandung dalam karya tari Tiga Serangkai oleh Sanggar Andari tampak melalui penyatuan elemen musik dan tarian dari berbagai latar belakang etnis yang ada di Kalimantan Barat. Intensitas Budaya yang terkandung dalam tari Tiga Serangkai bukan hanya sebuah karya gerak tari namun lebih dalam karya tersebut sebagai sebuah penggambaran sejarah, nilai, serta menjadi ruang dialektika antar suku menuju keharmonisan di Kalimantan Barat.   Tiga Serangkai dance is a dance work from Sanggar Andari that was created in 2002 in response to the ethnic conflict that occurred in West Kalimantan in 1996. The plurality is seen by Kusmindari Triwati as not something that divides, but instead becomes a symbolic unity and becomes the basis for the formation of Tiga Serangkai dance. The dance that cannot be separated from the accompanying music is certainly correlated with the concept of unity of the various ethnicities, so that the Cultural Intensity contained in this work becomes interesting to be examined more deeply, especially as a unifying medium for pluralistic communities in West Kalimantan. This research uses qualitative research using descriptive methods and Ethnomusicology as an approach in digging deeper into cultural intensity from a musical point of view. The cultural intensity contained in the Tiga Serangkai dance work by Sanggar Andari is seen through the unification of music and dance elements from various ethnic backgrounds in West Kalimantan. The cultural intensity contained in Tiga Serangkai dance is not only a work of dance movements but deeper than that work as a depiction of history, values, and a dialectical space between tribes towards harmony in West Kalimantan.
Studi Kasus Perceraian Aparatur Sipil Negara Melalui Pendekatan Sosiologi di Wilayah Bogor Iskandar, Abubakar; Hijab, Makbul; Sugiyanto, Sugiyanto; Nathalya, Stevanie
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33016

Abstract

Dalam masyarakat, kehidupan keluarga dan perkawinan diorganisasi dan dikontrol oleh perasaan cinta, solidaritas, dan pertimbangan ekonomi. Namun, seiring waktu, terjadi pergeseran dari integrasi dan kolaborasi yang kuat menjadi terpecah akibat perilaku menyimpang. Faktor-faktor penyebabnya meliputi masalah ekonomi, perselingkuhan suami, suami memiliki wanita idaman lain, suami tidak memenuhi kebutuhan batin istri, kekerasan fisik oleh suami, istri berzina, dan istri sering pulang malam, yang semuanya dapat berujung pada perceraian. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pergeseran dari cinta dan solidaritas dalam keluarga ke dominasi faktor ekonomi, menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian, dan menjelaskan prosedur perceraian menurut Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1990. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah: menjelaskan bagaimana dan mengapa pergeseran dari cinta dan solidaritas ke dominasi faktor ekonomi terjadi dalam keluarga, menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian, serta menjelaskan prosedur perceraian menurut Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1990. perceraian, Menjelaskan prosedur perceraian menurut undang-undang nomor 45 tahun 1990. Penelitian ini menggunakan paradigma “Positivisme”. Oleh karena itu pendekatan yang digunakan adalah “kuantitatif deskriptif” Teknik pengambilan data adalah observasi dan dokumentasi. Data dianalisis dengan content analysis. Penelitian menunjukan ada tiga pengkategorisasian keluarga yaitu keluarga inti, luas dan keturunan. Penelitian juga menunjukan 44,4% perceraian disebabkan oleh factor ekonomi, sedangkan 25,9% perceraian disebabkan oleh suami berselingkuh dengan wanita lain dan sebanyak 7,4% mengatakan perceraian disebabkan oleh suami melakukan kekerasan fisik terhadap isteri, Permohonan Perceraian dari isteri sebanyak 92,5% dan permohonan perceraian dari suami sebanyak 7,5%. Kesimpulan penelitian ini adalah masalah keuangan menjadi penyebab utama pertengkaran, terutama di kalangan ekonomi menengah ke bawah, sementara faktor lain seperti ketidaksetiaan dan kekerasan dalam rumah tangga juga berperan.   In society, family life and marriage are organized and controlled by feelings of love, solidarity and economic considerations. However, over time, there is a shift from strong integration and collaboration to fragmentation due to deviant behavior. Contributing factors include economic problems, husband's infidelity, husband having another woman, husband not fulfilling wife's inner needs, physical violence by husband, wife committing adultery, and wife often coming home at night, all of which can lead to divorce. The purpose of this study is to explain the shift from love and solidarity in the family to the dominance of economic factors, analyze the factors that lead to divorce, and explain the divorce procedure according to Law Number 45 of 1990. The specific objectives of this research are: explain how and why the shift from love and solidarity to the dominance of economic factors occurs in the family, analyze the factors that cause divorce, and explain the divorce procedure according to Law Number 45 of 1990. divorce, Explain the divorce procedure according to law number 45 of 1990. This research uses the “Positivism” paradigm. Therefore, the approach used is “descriptive quantitative” The data collection techniques are observation and documentation. The data was analyzed by content analysis. The research shows that there are three categorizations of families, namely nuclear, extended and descendant families. The research also showed that 44.4% of divorces were caused by economic factors, while 25.9% of divorces were caused by husbands having affairs with other women and as many as 7.4% said divorce was caused by husbands physically abusing their wives, Divorce applications from wives were 92.5% and divorce applications from husbands were 7.5%. The conclusion of this study is that financial problems are the main cause of quarrels, especially in the middle and lower economic circles, while other factors such as unfaithfulness and domestic violence also play a role.
Eksistensi Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Sungai: Studi Kasus Masyarakat Desa Surau Bengkulu Tengah Renaldi, Bintang; Nopianti, Heni; Himawati, Ika Pasca
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33110

Abstract

Pencemaran SDA Sungai menjadi fenomena yang tengah marak terjadi. Penelitian bertujuan untuk mengkaji eksistensi kearifan lokal masyarakat dalam  pengelolaan sumber daya alam sungai di Desa Surau Kabupaten Bengkulu Tengah, dengan menggunakan teori Ekologi Budaya oleh Steward serta Interaksionisme Simbolik  sebagai landasan analisisnya. Data diperoleh melalui observasi non partisipan, wawancara mendalam yang kemudian dianalisis menggunakan teknik MDAP (Manual Data Analhysis Procedure). Informan ditentukan melalui teknik snowball sampling dengan kriteria tertentu. Upaya menemukan hasil penelitian dilakukan melalui penerapan metode kualitatif dengan desain studi kasus.Hasil penelitian menunjukkan keberadaan mitos “Duguk” di tengah masyarakat Desa Surau dalam kaitannya dengan pengelolaan SDA sungai merupakan sebuah kearifan lokal yang muncul dari hasil ekstraksi asal-usul, sistem nilai, kepercayaan, hingga sistem religi dan bahasa masyarakat Desa Surau. Mitos “Duguk” sarat akan nilai-nilai yang mencoba menumbuhkan masyarakat dengan sikap menghormati dan menghargai lingkungan alam khususnya lingkungan sungai. Berdasarkan hasil penelitian, mitos “Duguk” pada masyarakat Desa Surau saat ini kian memudar eksistensinya. Pudarnya  eksistensi “Duguk” sebagai sebuah kearifan lokal di tengah masyarakat Desa Surau terjadi karena dihadapkan oleh dinamika  perkembangan modernisasi serta pemahaman terhadap agama  yang kemudian mengubah perspektif masyarakat terkait mitos-mitos yang ada di sekitar mereka. Mitos “Duguk” sendiri memiliki potensi yang dapat mengatur pemanfaatan lingkungan pada masyarakat.   River natural resource pollution has become a phenomenon that is currently occurring. The study aims to examine the existence of community local wisdom in the management of river natural resources in Surau Village, Central Bengkulu Regency. The analysis is based on Cultural Ecology theory by Steward and Symbolic Interactionism. The data was obtained through non-participant observation and in-depth interviews, which were then analyzed using the MDAP (Manual Data Analysis Procedure) technique. The informants were determined through the snowball sampling technique, with certain criteria. Efforts were made to find the results of the research through the application of qualitative methods with a case study design. The results indicated the presence of the "Duguk" myth in the Surau Village community with regard to the management of river natural resources. This myth can be considered a local wisdom that emerged from the extraction of the Duguk myth's origins. The results indicated that the "Duguk" myth in the Surau Village community with regard to river natural resource management is a local wisdom that emerges from the extraction of the origins, value system, belief system, religious system, and language of the Surau Village community. The myth of "Duguk" is imbued with values that seek to foster a community imbued with respect and appreciation for the natural environment, especially the river environment. The research findings indicate that the myth of "Duguk" in the Surau Village community is gradually losing its significance. The community of Surau Village is currently experiencing a decline in the practice of "Duguk," which is being superseded by the prevailing cultural dynamics. The phenomenon of Surau arises from the interplay between the dynamics of modernization and the evolving understanding of religion. This interplay has the effect of altering the community's perspective on the myths that are part of Surau Village's cultural heritage.
Konstruksi Identitas Naratif Konsumen Hijau dalam Gaya Hidup Nol Sampah Budiana, Egi; Prabasmoro, Tisna; Adji, Muhamad
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33163

Abstract

Di tatanan masyarakat kontemporer, aktivitas konsumsi hijau dalam gaya hidup nol sampah berimplikasi pada pembentukan identitas konsumen. Menurut teori budaya konsumen, hal ini disebabkan nilai simbolis dan nilai kultural dari aktivitas konsumsi. Artikel ini bertujuan menjelaskan konstruksi identitas konsumen hijau di Kota Bandung dalam penerapan gaya hidup nol sampah di kehidupan sehari-hari. Untuk memahami konstruksi tersebut, artikel ini menggunakan metode wawancara life story yang akan dianalisis berlandaskan konsep identitas naratif dan teori processual identity. Informan terdiri dari lima pelanggan Toko Organis YPBB—suatu toko curah yang berfokus pada edukasi prinsip nol sampah. Penelitian ini menemukan dua dimensi dalam proses konstruksi identitas konsumen hijau. Pertama adalah dimensi refleksi yang menjelaskan afirmasi diri sebagai bentuk peneguhan identitas yang ditempuh lewat aktivitas konsumsi hijau. Kedua adalah dimensi interaksi sosial yang menampilkan negosiasi identitas di arena sosial informan.  Artikel ini berargumen bahwa pola konsumsi dalam gaya hidup dapat menegaskan identitas seseorang melalui apa yang orang lain persepsikan dan yang orang itu refleksikan tentang dirinya sendiri.   In contemporary society, green consumption activities on zero waste lifestyle imply consumer identity construction. Based on consumer culture theory, it happens due to the symbolic and cultural values from the consumption act. This article aims to explain the construction of a green consumer identity in Bandung on zero waste lifestyle implemented in everyday life. This article uses life story interview method and then will be analyzed by narrative identity concept and processual identity theory. The informants consist of five YPBB Toko Organis customers—it is a bulk store where people can learn about the zero waste principle. This research finds two dimensions of the green consumer identity construction process. First, the reflection dimension explains self-affirmation as a form of identity assertion through green consumption activities. Second, the social interaction aspect which displays identity negotiation processes in one social arena. This article argues that consumption schemes in a lifestyle affirms one’s identity through what others perceive and what one reflects about oneself.
Ekspresi Kearifan Nusantara dalam Istilah Kemendikbudristek Agusman, Agusman; Ramdhani, Marlinda
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33198

Abstract

Kemendikbudristek memiliki berbagai istilah yang digunakan untuk menamai subbidang, program dan aplikasi seperti Arjuna, Sinta, Rama, Tri Darma dan seterusnya. Istilah-istilah tersebut ketika diperdengarkan akan memberikan korelasi terhadap berbagai istilah dalam wacana kebudayaan. Dengan demikian, tujuan penelitian ini ialah untuk menjelaskan ekspresi kearifan lokal yang terdapat pada istilah-istilah Kemendikbudristek tersebut. Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa teknik mencatat istilah-istilah dalam Kemendikbud Ristek sebagai sumber data berupa kata (akronim) dan frasa sebagai wujud datanya. Teknik analisis data ialah menjelaskan konsep nilai-nilai atau ekspresi kearifan lokal pada istilah dengan menghubungkannya kepada kearifan budaya nusantara. Penelitian ini menunjukkan bahwa istilah-istilah Kemendikbudristek mengambil bentuk akronim dan beberapa frasa dari nama penokohan dalam wacana budaya, bahasa Sansekerta (suku kata yang memiliki aspek eufonik Sansekerta) dan frasa bahasa Indonesia. Istilah penokohan tersebut mengambil nama tokoh pewayangan seperti  Arjuna, Sinta, Rama dan bahasa Sansekerta seperti Siaga, Sapto, Tri Darma serta bahasa Indonesia seperti Kurikulum Merdeka, Sigap dan seterusnya yang masing-masing memiliki nilai kearifan lokal.  Ekspresi keariafan lokal yang terdapat pada istilah Kemendikbudristek tersebut menunjukkan lansdcape nilai-nilai kearifan lokal untuk dijadikan sebagai identitas nasional dan bisa dijadikan sebagai panduan dalam mengangkat kearifan lokal sebagai basis kehidupan berbangsa dan bernegara.   The Ministry of Education and Culture has various terms used to name subfields, programs and applications such as Arjuna, Sinta, Rama, Tri Darma and so on. When these terms are heard, they will provide a correlation to various terms in cultural discourse. Thus, the aim of this research is to explain the expression of local wisdom contained in the terms of the Ministry of Education and Culture. The research method used is qualitative with data collection techniques in the form of recording terms in the Ministry of Education and Culture as a data source in the form of words (acronyms) and phrases as a form of data. The data analysis technique is to explain the concept of values or expressions of local wisdom in terms by connecting them to the cultural wisdom of the archipelago. This research shows that the terms of the Ministry of Education and Culture take the form of acronyms and several phrases from characterization names in cultural discourse, Sanskrit (syllables that have a euphonic Sanskrit aspect) and Indonesian language phrases. The characterization terms take the names of wayang characters such as Arjuna, Sinta, Rama and Sanskrit such as Siaga, Sapto, Tri Darma as well as Indonesian such as Curriculum Merdeka, Sigap and so on, each of which has local wisdom values. The expression of local wisdom contained in the term Kemendikbudristek shows the landscape of local wisdom values to be used as a national identity and can be used as a guide in promoting local wisdom as the basis of national and state life.
Bertahan di Dunia Digital: Koping Religius dengan Penerimaan Diri Korban Perundungan Siber Arifi, Indirahma; Widiasih, Puti Archianti
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33590

Abstract

Perkembangan internet dan penggunaan media sosial yang semakin meningkat menjadi alasan terjadinya perundungan siber, yang merupakan tindakan agresif terus menerus dan seringkali tanpa tujuan yang jelas. Korban perundungan siber cenderung mengalami dampak negatif terhadap penerimaan diri, yang merupakan landasan penting dalam menerima dan memahami kemampuan diri, pengalaman pribadi, dan pengalaman orang lain. Pengalaman negatif korban, dapat dihadapi dengan strategi koping efektif, yakni koping religius sebagai upaya memahami dan menghadapi stresor dengan cara yang dianggap sakral. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu hubungan koping religius dengan penerimaan diri. Penelitian ini menggunakan The Brief Religious Coping (BRCOPE) dan Berger’s Self Acceptance Scale yang keduanya telah diadaptasi. Jumlah subjek sebanyak 206 orang berusia 18-25 tahun. Teknik analisis menggunakan spearman correlation yang menunjukkan hubungan positif antara koping religius positif dengan penerimaan diri (r = 0,160, p = 0,021, p < 0,05) dan hubungan negatif antara koping religius negatif dengan penerimaan diri (r = 0,516, p = 0,000, p < 0,01). Artinya, penelitian ini menemukan bahwa koping religius positif berhubungan dengan peningkatan penerimaan diri pada dewasa awal korban perundungan siber, sementara koping religius negatif berhubungan dengan penurunan penerimaan diri.   The development of the internet and the increasing use of social media are the reasons for cyberbullying, which is a continuous aggressive action and often without a clear purpose. Victims of cyberbullying tend to experience a negative impact on self-acceptance, which is an important foundation in accepting and understanding one's abilities, personal experiences, and the experiences of others. Victims' negative experiences can be faced with effective coping strategies, namely religious coping as an effort to understand and deal with stressors in a way that is considered sacred. Therefore, this study aims to find out the relationship between religious coping and self-acceptance. This study used The Brief Religious Coping (BRCOPE) and Berger's Self Acceptance Scale, both of which have been adapted. The number of subjects was 206 people aged 18-25 years. The analysis technique used Spearman correlation which showed a positive relationship between positive religious coping and self-acceptance (r = 0.160, p = 0.021, p < 0.05) and a negative relationship between negative religious coping and self-acceptance (r = 0.516, p = 0.000, p < 0.01). That is, this study found that positive religious coping is associated with increased self-acceptance in early adult victims of cyberbullying, while negative religious coping is associated with decreased self-acceptance.