cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 280 Documents
Dampak Aktivitas Pertambangan terhadap Pola Pikir dan Perilaku Beragama di Kawasan Pertambangan Morosi Ardi, Ardianto Aziz; Muliyani, Muliyani; Usman, Usman; Amaludin, Roni
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.31070

Abstract

Area Morosi di Sulawesi Tenggara memiliki potensi tambang yang besar, namun dampaknya terhadap masyarakat setempat perlu dianalisis. Analisis dampak pertambangan di Morosi menyoroti bagaimana kegiatan tersebut memengaruhi pemikiran dan tindakan keagamaan masyarakat di sekitar wilayah tambang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis : 1) Pola pikir dan perilaku beragama masyarakat di kawasan pertambangan sebelum dan setelah adanya aktivitas pertambang; 2) dampak dari aktivitas pertambangan terhadap pola pikir dan perilaku beragama masyarakat di kawasan pertambangan; 3) Langkah-langkah penyelesaikan masalah yang terkait dengan dampak pertambangan terhadap pola pikir dan perilaku beragama di kawasan pertambangan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi partisipatif. Kemuadian data yang terkumpul akan dianalisis dengan teknik analisis kualitatif, yaitu analisis tematik. Analisis tematik dilakukan dengan cara mengidentifikasi tema-tema yang muncul dari data wawancara dan observasi partisipatif, kemudian tema-tema tersebut diorganisir menjadi kategori-kategori dan dianalisis lebih lanjut. Penelitian menunjukkan bahwa pertambangan dapat mempengaruhi pemikiran dan perilaku keagamaan, khususnya pada masyarakat mayoritas Islam di daerah pertambangan Morosi. Penting untuk mengevaluasi pola pikir dan perilaku beragama sebelum dan setelah adanya aktivitas pertambangan. Sebelumnya, masyarakat Morosi menjunjung tinggi nilai-nilai agama, namun aktivitas pertambangan mengubah pola pikir mereka. Meskipun agama tetap dianggap penting, adaptasi terhadap kondisi ekonomi baru dan ke majemukan sosial menjadi tantangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak pertambangan pada pola pikir dan perilaku beragama mencakup perubahan sikap terhadap praktik keagamaan, namun agama tetap diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah-langkah penyelesaian mencakup komunikasi komunitas, pembentukan kelompok khusus, penggalangan dana, pendidikan masyarakat, konsultasi dengan ahli, partisipasi dalam pengambilan keputusan, pengawasan independen, dan lobi advokasi. Dengan pemahaman ini, tindakan dapat diambil untuk meminimalkan dampak negatif pertambangan, mempertahankan nilai-nilai agama, dan mendorong budaya berkelanjutan di wilayah tambang Morosi.   The Morosi area in Southeast Sulawesi has large mining potential, but the impact on local communities needs to be analyzed. Analysis of the impact of mining in Morosi highlights how these activities influence the religious thoughts and actions of communities around the mining area. This research aims to analyze: 1) The mindset and religious behavior of people in mining areas before and after mining activities; 2) the impact of mining activities on the mindset and religious behavior of communities in mining areas; 3) Steps to resolve problems related to the impact of mining on religious thought patterns and behavior in mining areas. This type of research is descriptive qualitative. The data collection techniques used were in-depth interviews and participant observation. Then the collected data will be analyzed using qualitative analysis techniques, namely thematic analysis. Thematic analysis was carried out by identifying themes that emerged from interview data and participant observation, and then these themes were organized into categories and analyzed further. Research shows that mining can influence religious thinking and behavior, especially in the majority Muslim community in the Morosi mining area. It is important to evaluate religious thought patterns and behavior before and after mining activities. Previously, the Morosi people upheld religious values, but mining activities changed their mindset. Although religion remains important, adapting to new economic conditions and social diversity is a challenge. The research results show that the impact of mining on religious thought patterns and behavior includes changes in attitudes toward religious practices, but religion remains integrated into everyday life. Resolution steps include community communication, formation of special groups, fundraising, public education, consultation with experts, participation in decision-making, independent oversight, and advocacy lobbying. With this understanding, action can be taken to minimize the negative impacts of mining, maintain religious values, and encourage a sustainable culture in the Morosi mining area.
The Role of Homestays in Shaping the Identity of Tourism Villages: A Case Study in Mekarlaksana Tourism Village Farhan, Aries; Malihah , Elly; Andari , Rini
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.31329

Abstract

Tourism villages can be an alternative in the development of Community Based Tourism (CBT). CBT development in tourist villages is influenced by various aspects, one of which is homestay accommodation. However, there is still limited research related to the identity of tourist villages, especially in the context of homestays. Therefore, this study aims to explore the role played by homestays as a tourist village identity, with a focus on Mekarlaksana Tourism Village. This research used a descriptive qualitative approach, involving a case study in Mekarlaksana Tourism Village. Data were collected through observation and in-depth interviews with Pokdarwsi (Tourism Awareness Group) and homestay managers. In this study determined 10 resource persons with the criteria of people who were born, lived and made a living in the village. The findings of this study reveal that the identity of a tourist village and the role of homestays are key elements in the context of rural tourism. Tourism villages emphasize uniqueness, sustainability, and local wisdom, which include cultural attractions, nature, history, accommodation, and traditions that distinguish the village from other places. The role of homestays in developing the identity of a tourist village has proven to be very important. The findings of this study provide an understanding to tourism village managers that the presence of homestays can attract tourists to visit.   Desa wisata dapat menjadi salah satu alternatif dalam pengembangan Community Based Tourism (CBT). Pengembangan CBT di desa wisata dipengaruhi oleh berbagai aspek, salah satunya adalah akomodasi homestay. Namun, masih terbatasnya penelitian terkait identitas desa wisata khususnya dalam konteks homestay. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran yang dimainkan oleh homestay sebagai identitas desa wisata, dengan fokus pada Desa Wisata Mekarlaksana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan mengambil studi kasus di Desa Wisata Mekarlaksana. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam dengan Pokdarwsi (Kelompok Sadar Wisata) dan pengelola homestay. Temuan dari penelitian ini mengungkapkan bahwa identitas desa wisata dan peran homestay merupakan elemen kunci dalam konteks pariwisata pedesaan. Desa wisata menekankan pada keunikan, keberlanjutan, dan kearifan lokal, yang meliputi atraksi budaya, alam, sejarah, akomodasi, dan tradisi yang membedakan desa tersebut dengan tempat lain. Peran homestay dalam mengembangkan identitas desa wisata terbukti sangat penting. Temuan penelitian ini memberikan pemahaman kepada pengelola desa wisata bahwa keberadaan homestay dapat menarik wisatawan untuk berkunjung.
Motif Durhaka dalam Cerita Rakyat Nusantara Sugiarti, Sugiarti; Andalas, Eggy Fajar; Bhakti, Aditya Dwi Putra
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i2.31388

Abstract

Di wilayah Nusantara, cerita rakyat dengan motif “anak durhaka” tampaknya cukup populer. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya enam belas cerita di wilayah Nusantara yang memiliki motif tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan struktural dengan metode sastra bandingan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah close reading. Teknik analisis yang digunakan adalah metode struktural-komparatif da diolah dengan model kualitatif-interaktif. Hasil penelitian menunjukkan motif anak durhaka ditemukan pada enam belas judul cerita rakyat. Motif ini muncul sebagai peringatan moral yang menyoroti pentingnya menghormati orang tua, sementara motif perubahan bentuk atau transformasi memberikan alegori tentang perjalanan spiritual dan pembelajaran karakter. Motif kemiskinan yang berubah menjadi kekayaan menciptakan narasi yang inspiratif, sementara motif kutukan memainkan peran penting dalam memberikan dimensi moral pada cerita rakyat. Tokoh utama dan pendamping menjadi elemen kunci dalam menggambarkan kompleksitas moralitas, sedangkan setting tempat dari cerita menciptakan lokalitas dan keberagaman kisah serta menambahkan dimensi budaya yang mendalam. Dengan menggali motif dalam cerita rakyat Nusantara, artikel ini membantu memahami nilai-nilai kultural dan spiritual yang diperjuangkan oleh masyarakat Indonesia. In the Indonesian archipelago, folk tales with the motif of "disobedient children" seem to be quite popular. This is proven by the discovery of sixteen stories in the archipelago that have this motif. This research uses a structural approach with comparative literature methods. The data collection technique used was close reading. The analysis technique used is a structural-comparative method and is processed using a qualitative-interactive model. The research results show that the motif of the disobedient child is found in sixteen folklore titles. This motif appears as a moral warning that highlights the importance of respecting parents, while the motif of shapeshifting or transformation provides an allegory about spiritual journeys and character learning. The motif of poverty turning into wealth creates an inspirational narrative, while the curse motif plays an important role in giving a moral dimension to folk tales. The main characters and companions are key elements in depicting the complexity of morality, while the setting of the story creates the locality and diversity of the story and adds a deep cultural dimension. By exploring motifs in Indonesian folklore, this article helps us understand the cultural and spiritual values fought for by Indonesian society.
Komunikasi Publik Kementerian Agama Kota Padang Priyanto, Muryadi Eko; Arif, Ernita; Sarmiati, Sarmiati
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.31799

Abstract

Komunikasi pelayanan publik yang efektif diperlukan untuk mengoptimalkan pelayanan terpadu satu pintu. Permasalahan berkaitan dengan kurang baiknya peranan komunikasi pelayanan terpadu satu pintu pada Kantor Kementerian Agama Kota Padang dalam pelayanan kepada masyarakat, bisa saja terjadi karena kurangnya informasi tentang aturan atau program yang dijalankan. Penelitian ini bertujuan menganalisis aliran pesan komunikasi publik, menganalisis media komunikasi serta menganalisis hambatan komunikasi pelayanan terpadu satu pintu pada Kantor Kementerian Agama Kota Padang. Penelitian ini dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan paradigma konstruktivisme, penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam, studi dokumentasi, teknik analisis data interaktif Miles Huberman, pengujian keabsahan data dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aliran pesan komunikasi pelayanan terpadu satu pintu pada Kantor Kementerian Agama Kota Padang dilakukan secara internal dan eksternal. Proses komunikasi internal melibatkan komunikasi antara petugas pelayanan dan pegawai serta para pimpinan Kantor Kementerian Agama Kota Padang. Sedangkan komunikasi eksternal melibatkan petugas pelayanan bagian pendaftaran, bagian front office dan masyarakat dengan memanfaatkan media komunikasi internal dan eksternal. Pada aktivitas komunikasi tersebut masih ditemukan hambatan berupa hambatan teknis, terbatasnya pemanfaatan sarana prasarana, hambatan perilaku dan sikap pegawai yang kurang memiliki sense of mission. Komunikasi yang dilakukan oleh Kementerian Agama dengan Publik sudah dilakukan dengan berbagai media baik offline maupun online.   Effective public service communication is needed to optimise one-stop integrated services.  Problems related to the poor role of one-stop integrated service communication at the Padang City Office of the Ministry of Religious Affairs in providing services to the community may occur due to a lack of information about the rules or programmes being implemented. This research aims to analyse the flow of public communication messages, analyse communication media and analyse communication barriers of one-stop integrated services at the Padang City Ministry of Religious Affairs Office. This research uses qualitative research methods with a constructivism paradigm, this research uses in-depth interview techniques, documentation studies, Miles Huberman interactive data analysis techniques, data validity testing with source triangulation.  The results showed that the one-stop integrated service communication message flow at the Padang City Ministry of Religious Affairs Office was carried out internally and externally. The internal communication process involves communication between service officers and employees and leaders of the Padang City Ministry of Religious Affairs Office. While external communication involves service officers in the registration section, the front office and the community by utilising internal and external communication media. In these communication activities there are still obstacles in the form of technical obstacles, limited use of infrastructure, behavioural obstacles and attitudes of employees who lack a sense of mission. Communication carried out by the Ministry of Religion with the Public has been carried out with various media both offline and online.
Kesenian Tari Orang-Orang Bertopeng: Memperkuat Relasi Sosial dan Warisan Melayu Kalimantan Barat Aditya, Mega Cantik Putri; Ramadhan, Iwan
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.31808

Abstract

Tari Orang-orang Bertopeng memainkan peran penting dalam upacara pernikahan serta mempererat ikatan sosial di masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendalami peran dan fungsi Kesenian Tari Orang-orang Bertopeng dalam memperkuat relasi sosial, memelihara warisan budaya Melayu, serta memahami dinamika hubungan sosial. Kesenian Tari Orang-orang Bertopeng di Desa Mega Timur, Kalimantan Barat, mencerminkan kekayaan warisan budaya Melayu dan memainkan peran penting dalam upacara pernikahan. Dalam perspektif sosiologis, pertunjukan ini menjadi landasan untuk memahami dinamika hubungan sosial di masyarakat. Tarian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai medium yang mempererat ikatan antarindividu dan kelompok. Di antara anggota kesenian, terbentuk keakraban melalui kerjasama dan koordinasi, menciptakan norma dan nilai bersama yang menguatkan struktur sosial kelompok. Hubungan dengan masyarakat sekitar juga menjadi penting, di mana interaksi antara penampil dan penonton menciptakan respons positif dan memperkaya pengalaman bersama. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Orang-orang Bertopeng bukan hanya sebagai hiburan, melainkan juga sebagai representasi hubungan sosial yang kompleks dalam masyarakat sehari-hari. Tarian ini mencerminkan dinamika relasi sosial dalam masyarakat dan memperkuat hubungan sosial antara berbagai pihak yang terlibat dalam pertunjukan tari ini. Seni pertunjukan juga memainkan peran penting dalam membentuk, memelihara, dan memperluas jaringan sosial di tengah masyarakat.  Interaksi antara penampil dan penonton dalam pertunjukan Tari Orang-orang Bertopeng menciptakan respons positif dan memperkaya pengalaman bersama. Kesenian Tari Orang-orang Bertopeng memainkan peran vital dalam memperkuat hubungan sosial dan memelihara warisan budaya Melayu. Pertunjukan tarian ini tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai representasi dinamika relasi sosial dalam masyarakat sehari-hari. Seni pertunjukan menjadi sarana penting dalam memperluas jaringan sosial dan memahami keanekaragaman budaya.   The Masked People Dance plays a significant role in wedding ceremonies and strengthens social bonds within the community. This research aims to delve into the role and function of the Masked People Dance in reinforcing social relations, preserving Malay cultural heritage, and understanding social relationship dynamics. The Masked People Dance in Desa Mega Timur, West Kalimantan, reflects the richness of Malay cultural heritage and plays a crucial role in wedding ceremonies. From a sociological perspective, this performance serves as a foundation for understanding the dynamics of social relationships within the community. The dance not only serves as entertainment but also as a medium for strengthening bonds among individuals and groups. Among the members of the art, camaraderie is formed through cooperation and coordination, creating shared norms and values that strengthen the social structure of the group. Interaction with the surrounding community is also important, where interaction between performers and audiences creates positive responses and enriches shared experiences. The research method used is qualitative descriptive method with data collection techniques including participatory observation, interviews, literature studies, and documentation. The research findings indicate that the Masked People Dance is not only for entertainment but also a representation of complex social relationships in everyday life. This dance reflects the dynamics of social relations in society and strengthens social relationships among various parties involved in the dance performance. Performing arts also play a crucial role in shaping, preserving, and expanding social networks within the community. Interaction between performers and audiences in the Masked People Dance performance creates positive responses and enriches shared experiences. The Masked People Dance art plays a vital role in strengthening social relationships and preserving Malay cultural heritage. The dance performance is not just for entertainment but also a representation of the dynamics of social relations in daily life. Performing arts serve as an important means of expanding social networks and understanding cultural diversity.
The Existence of Traditional Madurese Batik Patterns in the Exposure of Time and Technology Triandika, Lulus Sugeng
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.31829

Abstract

Batik is generally inspired by cultural elements and philosophies of life. Madura Batik as part of Indonesian Batik continues to maintain its existence from generation to generation. However, the influence of developments over time and technological innovation has brought new things to Madurese Batik. On the one hand, batik is increasingly popular in society, but on the other hand, concerns arise regarding the originality of batik patterns. This phenomenon is thought to have an impact on the existence of traditional batik patterns that have existed for hundreds of years in the archipelago. Batik is interesting to study as a cultural entity that is expected to maintain ancestral rules in the process of making it. Even though there are many articles about batik, there are still few discussions about batik patterns. So, this article has urgency in enriching literacy about batik patterns. In this article, data was obtained through observation, literature articles, and interviews with batik makers, then conclusions were drawn based on data analysis. The result is the emergence of modern batik patterns because of market demand. This impacts the existence of traditional Madurese Batik patterns which are increasingly being displaced by contemporary batik patterns. Another fact is the existence of printed batik which has an impact on the existence of traditional batik houses. Traditional batik patterns will become increasingly rare and will be forgotten or even lost.   Batik secara umum terinspirasi dari unsur budaya dan filosofi kehidupan. Batik Madura sebagai bagian dari Batik Nusantara terus dijaga keberadaannya turun-temurun lintas generasi. Namun, pengaruh perkembangan zaman dan inovasi teknologi menghadirkan hal-hal baru di batik Madura. Dalam satu sisi batik semakin populer di masyarakat, namun di sisi lain muncul keprihatinan terkait orisinalitas corak batik. Fenomena tersebut dianggap berimbas pada eksistensi corak batik tradisional yang telah ada sejak ratusan tahun di nusantara. Batik menarik untuk dikaji sebagai entitas budaya yang diharapkan mempertahankan tata aturan leluhur dalam proses pembuatannya. Meskipun telah banyak artikel tentang batik, namun masih sedikit membahas tentang corak batik. Sehingga artikel ini memiliki urgensi dalam memperkaya literasi tentang corak batik. Dalam artikel ini data diperoleh melalui observasi, artikel literatur, dan wawancara dengan pembatik, kemudian diambil kesimpulan berdasar analisis data. Hasilnya adalah munculnya corak batik modern sebagai imbas permintaan pasar. Sehingga berdampak pada eksistensi corak tradisional Batik Madura yang semakin tergeser corak batik komtemporer. Fakta lain adalah Keberadaan batik printing yang berdampak pada eksistensi rumah batik tradisional. Corak batik tradisional akan semakin jarang dibuat sehingga terlupakan atau bahkan hilang.
Lanskap Permukiman Tradisional Masyarakat Kerinci dalam Kajian Memori Kolektif Sya'adah, Nurul Afni; Wahyudi, Wanny Rahardjo
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.31951

Abstract

Memori atau ingatan manusia yang tidak bertahan lama dituangkan dalam wujud benda sehingga kegiatan mengingat dan melupakan terwujud dalam bentuk budaya material. Ingatan bersama (memori kolektif) kelompok masyarakat tertuang dalam budaya material yang menjadi identitas mereka. Permukiman tradisional masyarakat Kerinci masih mempertahankan kondisi lanskap budaya secara tradisional. Hal ini menarik untuk ditelusuri lebih dalam perihal bagaimana pengetahuan tersebut masih digunakan pada pola permukiman masyarakat Kerinci sehingga tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengetahuan tersebut terus berlanjut secara turun temurun dalam masyarakat Kerinci. Dalam tulisan ini akan dibahas bagaimana permukiman tradisional masyarakat Kerinci saat ini masih mengikuti pola permukiman masa lalu. Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka metode yang digunakan berupa tahapan dalam studi arkeologi berupa pengumpulan data utama yang dilakukan dengan deskripsi dan dokumentasi. Tahapan selanjutnya berupa analisis data yang dilakukan dengan analisis morfologi dan analisis konteks yang melihat secara makro keadaan temuan untuk melihat gejala yang muncul. Tahapan akhir berupa penafsiran data dengan memadukan hasil analisis dan teori yang digunakan. Dari hasil analisis disimpulkan bahwa permukiman tradisional masyarakat Kerinci merujuk pada pola permukiman kuno masa megalitik yang telah mengalami adaptasi terhadap islmamisasi yang terjadi di Kerinci dan masih digunakan hingga masa kini.   Memory does not exist for a long time, it is transformed into objects so the activities of remembering and forgetting are realized by material culture. The collective memory is contained in the material culture that becomes an identity of society. The Kerinci traditional settlements still maintain traditional cultural landscape conditions. It is interesting to explore how this knowledge is still used in the pattern of Kerinci traditional settlements. This research aims to look at how this knowledge continues from generation to generation in Kerinci society.  This article will discuss how the Kerinci traditional settlement still follows the settlement patterns of the past. To answer this question, the stages of archaeological studies are used as the method such as data collection to primary sources carried out by description and documentation. Data analysis is carried out using morphological analysis and context analysis to look for the symptoms that appear in macro conditions. Data interpretation by combining the results of the analysis and the theory used. From the results of the analysis, the Kerinci traditional settlement refers to the ancient settlement patterns of the megalithic tradition which have adapted to the Islamization that occurred in Kerinci and are still used today.
Faktor-Faktor Determinan Modal Sosial dalam Menghadapi Pandemi Covid-19: Studi Kasus Desa Wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta Putri, Shinta
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.32142

Abstract

Penelitian ini penting dilakukan karena dapat berkontribusi dalam meningkatkan desa wisata dalam menghadapi kemungkinan pandemi di masa mendatang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi komponen-komponen pembentuk faktor-faktor modal sosial dan menemukan faktor-faktor determinan dalam modal sosial serta besaran pengaruhnya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian dilakukan pada empat desa yang mewakili tiap kabupaten di DIY yakni Desa Wisata Kakilangit, Desa Wisata Pentingsari, Desa Wisata Nglanggeran, dan Desa Wisata Tinalah. Menurut Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tingkatan desa wisata maju/mandiri ini ditentukan berdasarkan beberapa kriteria seperti daya tarik, aksesibilitas, fasilitas, pemberdayaan masyarakat, pemasaran dan promosi, serta kelembagaan dan SDM. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan sejumlah 128 pelaku usaha wisata. Conficence level yang digunakan adalah 92% berdasarkan Rumus Slovin. Data kemudian diolah menggunakan analisis Structural Equation Model Analysis (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial secara signifikan dipengaruhi oleh tiga faktor yakni faktor kepercayaan, norma, dan jejaring sosial. Dalam hal ini jejaring sosial merupakan faktor dengan tingkat pengaruh terting. Berdasarkan penelitian ini sangat penting bagi pemerintah baik di tingkat pusat maupun tingkat desa bersama dengan pengelola desa wisata untuk meningkatkan modal sosial pada beberapa faktor dan komponen yang disebutkan dalam penelitian ini. Penelitian ini berkontribusi untuk meningkatkan ketahanan desa wisata melalui modal sosial untuk menghadapi pandemi di masa yang akan datang.   This research is based on the issue of the vulnerability of tourist village communities to the Covid pandemic, where social capital is needed to increase resilience. This research is important because it can contribute to improving tourist villages in facing possible future pandemics. The aim of this research is to identify the components that form social capital factors and to find the determinant factors in social capital and the magnitude of their influence. This research is quantitative research. The research was conducted in four developed/independent tourist villages representing each district in DIY, namely Kakilangit Tourism Village, Jenissari Tourism Village, Nglanggeran Tourism Village, and Tinalah Tourism Village. According to the Yogyakarta Special Region Tourism Office (DIY), the level of a developed/independent tourist village is determined based on several criteria such as attractiveness, accessibility, facilities, community empowerment, marketing and promotion, as well as institutions and human resources. Data was collected through questionnaires with a total of 128 tourism business actors. The confidence level used is 92% based on the Slovin Formula. The data was then processed using Structural Equation Model Analysis (SEM). The research results show that social capital is significantly influenced by three factors, namely trust, norms and social networks. In this case, social networking is the factor with the highest level of influence. Based on this research, it is very important for the government both at the central and village levels together with tourism village managers to increase social capital on several factors and components mentioned in this research. This research contributes to increasing the resilience of tourist villages through social capital to face future pandemics.
Representasi Kulit Hitam dalam One Punch Man, The Promised Neverland, dan Shaman King Rahmah, Salsabila; Fatimah, Emma Ramawati; Purba, Esther Risma
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.32414

Abstract

Blackface di Jepang diperkenalkan oleh orang kulit putih pada tahun 1854 dan mulai diadaptasi sejak tahun 1920-an dalam pertunjukan, layar perak, buku anak, dan mainan di Jepang. Meskipun ditolak oleh aktivis anti-rasisme, blackface kembali muncul beberapa tahun kemudian, diperkuat dengan kurang tegasnya regulasi anti-ujaran kebencian yang mempersulit definisi rasisme di Jepang. Dalam perkembangannya, blackface banyak ditemukan dalam anime produksi tahun 90-an, bahkan setelah tahun 2010, seperti Superalloy Darkshine (One Punch Man, 2015 & 2019), Sister Krone (The Promised Neverland, 2019), dan Chocolove McDonell (Shaman King, 2021) yang menjadi fokus penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi rasial orang kulit hitam dari ketiga anime tersebut yang juga menunjukkan keterkaitan pandangan orang Jepang terhadap orang kulit hitam yang memengaruhi bagaimana mereka menggambarkan orang kulit hitam dalam proses produksi anime tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah dokumentasi dan studi pustaka dengan pendekatan kualitatif menggunakan teori semiotika John Fiske. Teori ini terdiri dari level realitas, representasi, dan ideologi yang menyertakan unsur dari produksi tayangan televisi seperti dialog, pencahayaan, penampilan yang dapat dikaitkan dengan nilai sosial masyarakat. Hasil dari penelitian ini adalah ketiga karakter kulit hitam tersebut serupa dengan karakter kulit hitam budaya populer Barat yang bersifat stereotipikal, yaitu bodoh dan pemarah. Hal ini berkaitan dengan orang Jepang yang mengikuti cara pandang orang kulit putih yang merendahkan orang kulit hitam. Rendahnya pengetahuan orang Jepang tentang dampak rasisme membuat kurang dilibatkannya orang kulit hitam dalam produksi konten anime yang didominasi orang Jepang sehingga representasi tersebut bersifat stereotipikal.   Blackface in Japan was introduced by white people in 1854 and began to be adapted in the 1920s and 1930s in Japanese performances, silver screens, children's books, and toys. Although blackface was considered offensive due to the resistance from anti-racism activists, it reemerged again because of the lack of strict anti-hate speech regulations that complicate the definition of racism in Japan. In its development, blackface is found in many 90s anime, even after 2010, such as Superalloy Darkshine (One Punch Man, 2015 & 2019), Sister Krone (The Promised Neverland, 2019), and Chocolove McDonell (Shaman King, 2021). The research aims to analyze the elements of racial representation of black people from those three anime, which also shows how the Japanese views of black people affect how they portray black people in the anime production process. This study applies a literature study with a qualitative approach using John Fiske's semiotic theory which is suitable for analyzing television products including anime. This theory consists of levels of reality, representation, and ideology that include elements from the production of television shows such as dialog, lighting, and appearance that can be associated with the social values of society. The result of this study is that the three black characters are similar to the stereotypical black characters portrayed in Western popular culture, namely stupid and angry. The Japanese were imitating white racists mocking black people and demeaning black people. The lack of knowledge in addressing and challenging concerns about racism among the Japanese makes black people less involved in the production of Japanese-dominated anime content so that the representation is stereotypical.
Adopsi Teknologi Informasi dalam Kegiatan Ekonomi Masyarakat Baduy Luar di Kanekes Banten Agustina, Anisah; Setiadi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.32425

Abstract

Perkembangan teknologi di era digital lambat laun membawa arus perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakat adat, termasuk masyarakat suku Baduy. Sebagaimana masyarakat adat lain, masyarakat Baduy Luar tidak terlepas dari pengaruh perkembangan era digital. Mereka mulai memanfaatkan teknologi sebagai alat penunjang aktivitas ekonomi. Studi ini bertujuan untuk mengetahui proses introduksi dunia digital pada masyarakat Baduy Luar, mendeskripsikan strategi ekonomi digital sebagai sebuah inovasi yang diadopsi masyarakat, dan mengetahui implikasinya terhadap moral ekonomi masyarakat Baduy. Penelitian ini menggunakan metode etnografi dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan studi pustaka dengan teknik purposive sampling. Informan dalam penelitian ini adalah para tokoh adat dan masyarakat Baduy Luar yang aktif dalam kegiatan ekonomi digital. Analisis data menggunakan model Miles and Huberman. Hasil studi menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi dalam kehidupan ekonomi Baduy Luar merupakan sebuah implikasi dari keterbukaan diri masyarakat terhadap modernisasi. Adopsi inovasi teknologi kemudian dimanfaatkan untuk mengembangkan ekonomi digital di tengah peraturan adat yang melarang penggunaan teknologi bagi masyarakat Baduy.   The development of technology in the digital era gradually brings about changes in the life structure of indigenous communities, including the Baduy tribe. Like other indigenous communities, the Outer Baduy community cannot be separated from the influence of developments in the digital era. They begin to utilize technology as a supporting tool for economic activities. This study aims to understand the process of introducing the digital world to the Outer Baduy community, describe digital economic strategies as an adopted innovation, and ascertain its implications on the economic morals of the Baduy community. This study employs an ethnographic method with a qualitative approach. Data collection was carried out through participant observation, in-depth interviews, and a literature study using purposive sampling techniques. The informants in this research are traditional leaders and the Outer Baduy community who are active in digital economic activities. Data analysis uses the Miles and Huberman model. The results of the study indicate that the changes occurring in the economic life of Outer Baduy are an implication of the community's openness to modernization. The adoption of technological innovation is then utilized to develop a digital economy amidst customary regulations that prohibit the use of technology for the Baduy community.