cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 280 Documents
Pengaruh Religiositas terhadap Motivasi Boikot Produk Alfina, Syafa; Tresnawaty, Yulistin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33756

Abstract

Religiositas berperan penting dalam kehidupan seseorang, atas pilihan yang dibuatnya, dan apa yang dikonsumi mereka.  Religiositas yang tinggi menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan sikap dan perilaku konsumen, serta dapat menjadi pengaruh dalam kehidupannya. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh religiositas terhadap motivasi boikot pada produk yang diduga terafiliasi dengan Israel. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan bantuan SPSS versi 25. Sampel dalam penelitian ini berjumlah sebanyak 150 responden berusia 18 – 40 tahun. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan pendekatan non probability sampling berupa accidental sampling. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur variabel religiositas adalah Religiousity Commitment Inventory – 10 yang dikembangkan oleh Worthington et al tahun 2003 dan alat ukur yang digunakan untuk mengukur variabel motivasi boikot adalah Boycott Motivation Scale yang dikembangkan oleh Klein tahun 2004. Berdasarkan uji validitas dan uji reliabilitas yang telah dilakukan pada variabel religiositas diperoleh nilai rhitung > rtabel maka dinyatakan valid dan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0.785 > 0.6. Pada variabel motivasi boikot diperoleh nilai rhitung > rtabe maka dinyatakan valid dan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0.908 > 0.6. Dengan demikian bahwa instrumen dari kedua variabel pada penelitian ini dinyatakan reliabel. Hasil analisis regresi sederhana menunjukan bahwa terdapat pengaruh positif antara religiositas terhadap motivasi boikot dengan nilai signifikansi 0.005 p < 0.05. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi religiositas individu maka semakin tinggi pula motivasinya untuk melakukan boikot.   Religiosity plays an important role in a person's life, the choices they make, and what they consume.  High religiosity is an important factor in shaping consumer attitudes and behaviour, and can be an influence in their lives. So this study aims to determine the effect of religiosity on boycott motivation on products suspected of being affiliated with Israel. This research uses a quantitative approach. In this study, researchers used simple linear regression analysis with the help of SPSS version 25. The sample in this study amounted to 150 respondents aged 18-40 years. The sampling technique was carried out using a non-probability sampling approach in the form of accidental sampling. The research instrument used to measure religiosity variables is the Religiousity Commitment Inventory - 10 developed by Worthington et al in 2003 and the measuring instrument used to measure boycott motivation variables is the Boycott Motivation Scale developed by Klein in 2004. Based on the validity test and reliability test that has been carried out on the religiosity variable, the rcount> rtable value is valid and the Cronbach's Alpha value is 0.785> 0.6. On the boycott motivation variable, the rcount> rtabe value is obtained, it is declared valid and the Cronbach's Alpha value is 0.908> 0.6. Thus, the instruments of the two variables in this study were declared reliable. The results of simple regression analysis show that there is a positive influence between religiosity on boycott motivation with a significance value of  0.005 p < 0.05. So, it can be concluded that the higher the religiosity of the individual, the higher the motivation to boycott.
Pengaruh Environmental Concern terhadap Purchase Intention pada Produk Skincare Organik Cahyaningrum, Avisa Regina; Tresnawaty, Yulistin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33844

Abstract

Makin naiknya perhatian terhadap masalah lingkungan mendorong konsumen untuk lebih selektif dalam memilih produk yang berkelanjutan seperti produk skincare  organik berbahan alami dalam rutinitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kepedulian lingkungan individu terhadap niat membeli produk skincare organik. Penelitian ini menggunakan penelitian pendekatan kuantitatif yang melibatkan 275 responden pengguna produk skincare ramah lingkungan/organik berbahan alami berusia 17-40 tahun. Pengambilan sampel menggunakan teknik incidental sampling. Dalam penelitian ini menggunakan metode regresi linear dengan bantuan IBM SPSS versi 25. Pengumpulan data yang digunakan untuk mengukur variabel environmental concern adalah environmental concern scale memiliki nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,793. Pengumpulan data yang digunakan untuk mengukur variabel purchase intention adalah purchase intention for green products scale memiliki nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,893. Hasil analisis menunjukkan bahwa environmental concern berpengaruh signifikan positif terhadap purchase intention sebesar 26,6% dengan nilai koefisien yang diperoleh adalah F= 98,515 p= 0,000 dan B= 0,508. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi environmental concern pada individu maka semakin tinggi purchase intention individu terhadap pengguna skincare organik.   The increasing attention to environmental issues encourages consumers to be more selective in choosing sustainable products such as organic skincare products made from natural ingredients in their daily routine. This study aims to determine how much influence individual environmental concerns have on the intention to buy organic skincare products. This study uses a quantitative approach research involving 275 respondents who are users of environmentally friendly/organic skincare products made from natural ingredients aged 17-40 years. Sampling using incidental sampling technique. In this study using the linear regression method with the help of IBM SPSS version 25. Data collection used to measure environmental concern variables is the environmental concern scale which has a Cronbach’s Alpha value of 0.793. Data collection used to measure purchase intention variables is purchase intention for green products scale has a Cronbach’s Alpha value of 0.893. The results of the analysis show that environmental concern has a significant positive effect on purchase intention by 26.6% with the coefficient value obtained is F= 98.515 p= 0.000 and B= 0.508. From the results of this study, it can be concluded that the higher the environmental concern of individuals, the higher the individual purchase intention of organic skincare users.
Interaksi Simbolik dalam Penyajian Musik Iringan Tari Rampak Rebana di Sanggar Andari Pontianak Akbar, Nanang; Sagala, Mastri Dihita; Djau, Nurmila Sari
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33930

Abstract

Keberhasilan sebuah penyajian kesenian tradisional merupakan hasil dari proses interaksi antar para pemain, baik melalui verbal maupun melalui simbol. Tujuan penelitian ini untuk mengungkapkan bagaimana proses interaksi simbolik antara penari dan pemusik dalam sebuah penyajian musik iringan Tari Rampak Rebana di Sanggar Andari Pontianak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menyajikan segala proses interaksi yang terjalin dari proses awal garapan, latihan, hingga penyajian karya. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan sosiokultur untuk mengungkapkan bagaimana proses interaksi simbolik terwujud berdasarkan kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Keabsahan data mengguanakan triangulasi sumber, yakni wawancara terhadap pemilik sanggar, komposer musik penari. Teknik analisis data melalui tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.  Hasil dari penelitian ini menunjukkan bentuk penyajian musik iringan Tari Rampak Rebana menjadi upaya pewarisan dalam melestarikan budaya Melayu. Proses ini melalui kegiatan penyampaian ide garapan dari komposer kepada para pemusik, proses latihan antara pemusik dan penari hingga sampai kepada penyajian musik iringan Tari Rampak Rebana. Selain itu, penelitian ini membuktikan bahwa interaksi simbolik tidak serta merta terjadi pada suatu komunitas sanggar, melainkan tumbuh berdasarkan penerimaan ide, penyamaan persepsi dan adaptasi yang berlangsung secara kontinu sehingga menjadi budaya yang perlu dilestarikan.   The success of a traditional art presentation is the result of the process of interaction between the players, both verbally and through symbols. The purpose of this study is to reveal how the process of symbolic interaction between dancers and musicians in a musical presentation accompaniment to Rampak Rebana Dance at Sanggar Andari Pontianak. This research uses qualitative descriptive methods to present all interaction processes that are established from the initial process of cultivation, exercise, to the presentation of works. The research approach uses a sociocultural approach to reveal how the process of symbolic interaction is realized based on habits that occur in the community. Data were collected through observation, interviews and documentation. Data validity using source triangulation, which is an interview with the owner of the studio, the composer of dancer music. Data analysis techniques through the stages of data reduction, data presentation and conclusions.  The results of this study show that the form of presenting accompaniment music of Rampak Rebana Dance is an inheritance effort in preserving Malay culture. This process is through the activity of conveying ideas made by the composer to the musicians, the process of rehearsal between musicians and dancers to the presentation of music accompaniment to the Rampak Rebana Dance. In addition, this study proves that symbolic interaction does not necessarily occur in a studio community, but grows based on the acceptance of ideas, equalization of perceptions and adaptation that takes place continuously so that it becomes a culture that needs to be preserved.
Peran Pengalaman Child Abuse terhadap Penyesuaian Mahasiswa Baru di Perguruan Tinggi Khairunnisa, Nadhira; Islam, Azizah Fajar
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.34357

Abstract

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa tahun pertama masuk perkuliahan adalah masa-masa sulit. Mahasiswa dituntut untuk mandiri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus. Sebagian besar mahasiswa mengalami kegagalan dalam menyesuaikan diri bahkan tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Penyesuaian diri menjadi tidak mudah bagi seseorang yang mengalami trauma. Trauma mungkin membuat mereka mengalami kegagalan dalam merespon peristiwa yang penuh tekanan. Salah satu bentuk trauma itu sendiri adalah child abuse. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pengalaman child abuse terhadap penyesuaian diri mahasiswa baru di perguruan tinggi. Karakteristik partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa baru yang masih aktif dan memiliki pengalaman kekerasan di masa kecil dan berjumlah 184 partisipan. Partisipan dipilih dengan menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu teknik purposive sampling.  Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner untuk mengukur pengalaman kekerasan pada masa kanak-kanak yang dikembangkan oleh Malik dan Shah dan penyesuaian diri di perguruan tinggi yang dikembangkan oleh Baker dan Syrik. Analisis data menggunakan teknik analisis regresi linier sederhana menghasilkan koefisien korelasi sebesar 0.000, p < 0.05, yang berarti terdapat pengaruh pengalaman child abuse terhadap penyesuaian diri di perguruan tinggi. Berdasarkan uji R Square diperoleh nilai R sebesar 0,080 yang berarti pengalaman child abuse berpengaruh sebesar 8% terhadap penyesuaian diri di perguruan tinggi.   Some studies mention that the first year of college is a difficult time. Students are required to be independent and adjust to the campus environment. Most students experience failure in adjusting and even cannot continue their education. Adjustment is not easy for someone who has experienced trauma. Trauma may make them experience failure in responding to stressful events. One form of trauma itself is child abuse. This study aims to determine the role of the experience of child abuse on self-adjustment in new students in college. The characteristics of participants in this study were freshmen who were still active and had experiences of violence in childhood and totaled 184 participants. Participants were selected using a sampling technique, namely purposive sampling technique.  Data collection in this study used questionnaires to measure the experience of childhood violence developed by Malik and Shah and college adjustment developed by Baker and Syrik.   Data analysis using simple linear regression analysis techniques resulted in a correlation coefficient of 0.000, p < 0.05, which means that there is an effect of the experience of child abuse on self-adjustment in college. Based on the R Square test, the R value is 0.080, which means that the experience of child abuse has an effect of 8%.
Peran Coping Style terhadap Self-Sabotage pada Dewasa Awal dengan Emotionally Immature Parents Al-aida, Alfia; Islam, Azizah Fajar
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.34452

Abstract

Self-sabotage merupakan perilaku yang menghambat pencapaian tujuan seseorang yang disebabkan oleh trauma. Perilaku tersebut dapat mempengaruhi harga diri. Harga diri yang rendah dapat memicu self-sabotage sebagai mekanisme pertahanan diri. Pengasuhan mempengaruhi terbentuknya self-sabotage, terutama pada anak-anak yang mengalami trauma pengasuhan. Orang tua yang cenderung untuk melakukan pengasuhan dengan memaksa menunjukkan bahwa mereka tidak matang secara emosional dan tidak memenuhi kebutuhan emosional anak, sehingga anak beradaptasi dengan kondisi ini dan membentuk sebuah coping style, yang terdiri dari dua jenis, yaitu internalize dan externalize. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu peran coping style terhadap self-sabotage pada dewasa awal dengan orang tua yang tidak matang secara emosional. Karakteristik partisipan penelitian ini adalah dewasa awal dengan usia 18-40 tahun dengan orang tua yang tidak matang secara emosional. Teknik pengambilan sampel yaitu teknik purposive sampling dengan jumlah partisipan adalah 205. Penelitian ini menggunakan Self-Sabotage Assesment yang dikembangkan oleh Yearwood 2023 dan coping style scale yang dikembangkan oleh Gibson 2015. Analisis data menggunakan teknik korelasi dan regresi linier sederhana, hasil nya menunjukkan terdapat hubungan negatif antara coping style dan self-sabotage (r= -0,462, p= 0,000 p<0,05) dan terdapat juga pengaruh anatara coping style dan self-sabotage (F=55,087, r²= 0,213, p=0,000 p < 0,05). Artinya, penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara coping style dengan self-sabotage, kemudian terdapat juga peran coping style terhadap self-sabotage pada dewasa awal dengan orang tua yang tidak matang secara emosional dengan besar pengaruh sebesar 21,3%.   Self-sabotage is a behavior that inhibits the achievement of a person's goals caused by trauma. Such behavior can affect self-esteem. Low self-esteem can trigger self-sabotage as a self-defense mechanism. Parenting influences the formation of self-sabotage, especially in children who experience parenting trauma. Parents who tend to do coercive parenting show that they are not emotionally mature and do not meet the child's emotional needs, so the child adapts to this condition and forms a coping style, which consists of two types, namely internalize and externalize. Therefore, this study aims to find out the role of coping style on self-sabotage in early adults with emotionally immature parents. The characteristics of the participants of this study are early adults aged 18-40 years with emotionally immature parents. The sampling technique is purposive sampling technique with the number of participants is 205. This study used the Self-Sabotage Assessment developed by Yearwood 2023 and the coping style scale developed by Gibson 2015. Data analysis using correlation and simple linear regression techniques, the results show that there is a negative relationship between coping style and self-sabotage (r = -0.462, p = 0.000 p < 0.05) and there is also an influence between coping style and self-sabotage (F = 55.087, r² = 0.213, p = 0.000 p < 0.05). That is, this study shows that there is a significant relationship between coping style and self-sabotage, then there is also a role of coping style on self-sabotage in early adults with emotionally immature parents with a large influence of 21.3%.
Channeling Midsommar from Celtic Rituals to Pagan Culture and Humanist Criticism Poetri, Maharanny; Melania, Cahyani Fitri
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.34900

Abstract

Midsommar presents pagan tradition by hosting a midsummer festival by the cult Hårga in Halsingland, Northern Europe. The midsummer festival is a representation of Celtic ritual –consisting of several rituals as a pagan tradition preserved by the Hårga cult. This research aims to identify the representation of Celtic rituals in Ari Aster's Midsommar using Stuart Hall's perspective. Hall (1997) explained that representation is born from the production of the concept of meaning in the mind through language. The representation of Celtic rituals in Midsommar is a form of Hårga’s pagan tradition that among others provokes humanist criticism. This research uses a qualitative method with a cinematography approach. The research data was collected from direct observation of dialogue, narrative, and scenes in the film Midsommar –and presented in the form of selected screenshots. The results of this research include: 1) Midsummer festival is a representation of Celtic ritual. It symbolizes the gratitude of the Hårga cult. 2) Midsummer festival contains ritual instruments that convey the essence of Hårga’s pagan tradition and raise humanist issues. It negates humanity in some of its rituals, thus provoking humanist criticism as a rejection of the Celtic rituals represented.   Midsommar menceritakan tradisi pagan festival musim panas oleh kultus Hårga di desa Halsingland, Eropa Utara. Festival musim panas dalam adalah representasi ritual Kelt -terdiri dari beberapa ritual sebagai tradisi pagan yang dilestarikan kultus Hårga. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan representasi ritual Kelt dalam film Midsommar karya Ari Aster menggunakan perspektif Stuart Hall. Hall (1997) menjelaskan bahwa representasi lahir dari produksi konsep makna dalam pikiran melalui bahasa. Representasi ritual Kelt dalam Midsommar merupakan bentuk tradisi pagan kultus Hårga yang diantaranya mengundang kritik humanis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sinematografi. Data penelitian dikumpulkan dari pengamatan dialog, narasi, dan adegan secara langsung dalam film Midsommar -dan disajikan dalam bentuk gambar tangkapan layar terpilih. Hasil penelitian ini meliputi: 1) Festival musim panas adalah representasi ritual Kelt. Festival musim panas dalam Midsommar melambangkan rasa syukur dari kultus Hårga. 2) Festival musim panas mengandung instrumen ritual yang menyampaikan tradisi pagan kultus Hårga serta menimbulkan isu humanis. Festival musim panas dalam Midsommar menihilkan kemanusiaan dalam beberapa ritualnya sehingga mengundang kritik humanis sebagai penolakkan terhadap ritual Kelt yang direpresentasikan.
Industri Pembuatan Jukung di Desa Pulau Sewangi Kecamatan Alalak Kalimantan Selatan Tahun 2010-2022 Najmi, Aulia; Subiyakto, Bambang; Nadilla, Dewicca Fatma; Subroto, Wisnu
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.35013

Abstract

Di masa lalu, jukung memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat Banjar, baik sebagai alat transportasi maupun simbol budaya. Kemajuan teknologi darat telah secara signifikan mengurangi peran penting jukung, yang menyebabkan penurunan produksi dan penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab penurunan produksi jukung di kalangan masyarakat Banjar di Desa Pulau Sewangi dari tahun 2010-2022. Dengan menggunakan metode historis, penelitian ini melibatkan empat tahap: heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pada tahap heuristik data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara dengan pengrajin jukung, dan studi pustaka. Tahap kritik memverifikasi keaslian sumber dan menilai kredibilitas informasi. Pada tahap interpretasi, data dianalisis untuk memahami dampak ekonomi dan teknologi pada industri jukung. Historiografi menyusun interpretasi-interpretasi tersebut ke dalam sebuah narasi yang koheren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan ini disebabkan oleh peningkatan infrastruktur dan akses perjalanan darat yang telah mengubah pola transportasi. Selain itu, kelangkaan dan mahalnya harga kayu berkualitas semakin menghambat produksi jukung. Kesimpulannya, penurunan industri jukung terutama disebabkan oleh pergeseran ke arah transportasi darat yang lebih efisien dan sulitnya mendapatkan bahan baku yang diperlukan.   Historically, the jukung was a significant aspect of the Banjar people's lives, serving as both a mode of transportation and a cultural emblem. The advent of advanced land technology has resulted in a notable decline in the significance of the jukung, leading to a reduction in its production and utilization. The objective of this study is to ascertain the underlying factors that have contributed to the decline in jukung production among the Banjar community in Sewangi Island Village between the years 2010 and 2022. The historical method is employed in this research, which is comprised of four stages: heuristics, criticism, interpretation, and historiography. In the heuristic stage, data were collected through field observations, interviews with jukung craftsmen, and a review of relevant literature. In the critique stage, the veracity of the sources was established and the reliability of the information was evaluated. In the interpretation stage, the data is analyzed in order to gain insight into the economic and technological impacts on the jukung industry. Historiography synthesizes the interpretations into a coherent narrative. The results indicate that the decline is attributable to enhanced infrastructure and access to land travel, which have altered transportation patterns. Furthermore, the scarcity and elevated cost of premium wood have exacerbated the challenges associated with jukung production. In conclusion, the decline of the jukung industry is primarily attributed to the transition towards more efficient land transportation and the difficulty of obtaining the essential raw materials.
Actualization of Indonesian Language and Culture for Teachers at San Fabian Elementary School Philippines Rahmawati, Ida Yeni; Wulansari, Betty Yulia; Rusdiana, Nurtina Irsad; Pujiati, Ayu; Aziza, Rizqia Putri; Bariyah, Siti Khoirul; Blas, Febie
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.35112

Abstract

Acculturation of Indonesian culture and language into Filipino education is a crucial step in expanding cross-cultural awareness and strengthening international relations between the two countries. By introducing Indonesian culture and language to Filipino educators, it can enhance cultural ties between both nations. This research aims to actualize Indonesian language and culture among educators at San Fabian Elementary School. The study employs a descriptive qualitative research approach, with data sources consisting of 10 teachers from San Fabian Elementary School. Data collection techniques include a combination of observation and documentation. Data analysis follows Miles Huberman's approach, involving data collection, data reduction, data display, and conclusion drawing. Data validity is ensured through triangulation techniques.The findings of this research indicate that the acculturation of Indonesian language and culture into the Philippines can strengthen international relations through understanding and appreciation of each other's cultures and languages. The approach taken at San Fabian Elementary School could serve as a concrete step in building a strong foundation for cross-border educational collaboration, which in turn can contribute to broader peace and international cooperation.   Akumulasi budaya dan bahasa Indonesia ke dalam pendidik Filipina merupakan langkah penting dalam memperluas kesadaran lintas budaya dan memperkuat hubungan internasional kedua negara. Dengan mengenalkan budaya dan bahasa Indonesia kepada para pendidik Filipina dapat mempererat ikatan budaya kedua bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk mengaktualisasikan bahasa dan budaya Indonesia di kalangan pendidik di SD San Fabian. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Sumber datanya adalah para pendidik di SD San Fabian yang berjumlah 10 orang guru. Teknik pengumpulan data meliputi kombinasi observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu menggunakan Miles Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi data. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa akumulasi bahasa dan budaya Indonesia ke Filipina dapat memperkuat hubungan antarbangsa melalui pemahaman dan penghargaan terhadap budaya dan bahasa masing-masing. Pendekatan yang akan dilakukan di Sekolah Dasar San Fabian dapat menjadi langkah konkrit dalam membangun fondasi yang kokoh untuk kolaborasi pendidikan lintas batas, yang pada gilirannya dapat berkontribusi pada perdamaian dan kerja sama internasional secara lebih luas.
Pengaruh Fear of Missing Out (FOMO) terhadap Binge Watching Gen Z dengan Emotionally Immature Parents Pradiansyah, Bunga Nadira; Islam, Azizah Fajar
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.35275

Abstract

Kemudahan akses digital yang dirasakan oleh Gen Z menimbulkan konsekuensi negatif seperti fear of missing out akibat dari rasa cemas tidak bisa mengikuti tayangan yang banyak diperbincangkan di media. Hal tersebut menjadikan perilaku menonton sebagai coping bermasalah. Haluan penelitian ini untuk melihat pengaruh dari fear of missing out (FOMO) terhadap binge wathing Gen Z dengan emotionally immature parents. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-probability sampling dengan teknik purposive sampling yang melibatkan 161 responden laki-laki dan perempuan dengan rata-rata usia 14-24 tahun; senang menonton serial/film/drama lebih dari 1 kali tanpa jeda; memiliki pengalaman kurang mengenakkan dengan orang tua kandung. Pengambilan data yang dilakukan secara online melalui kuesioner (angket) mengadaptasi alat ukur Binge Watching Engagement and Symptoms Questionnaire yang dikembangkan oleh Flayelle et al (2018) serta The Online Fear of Missing Out Inventory dikembangkan oleh Sette (2019). Hasil uji regresi ditemukan nilai F bernilai 107.829 dengan nilai B unstandardized 0.635 dengan R square 0.404 dan P value 0,05 > 0,000. Hal ini menunjukkan H0 ditolak, sehingga FOMO berpengruh signifikan terhadap binge watching Gen Z dengan emotionally immature parents dengan  persentase sebesar 40.4%. Dengan demikian apabila FOMO meningkat, maka perilaku binge watching Gen Z juga akan meningkat signifikan.   The ease of digital access experienced by Gen Z gives rise to negative consequences such as fear of missing out due to anxiety about not catching up to discussed film in the media. This makes watching behavior a problematic coping. The aim of this study was to see the effect of FOMO on binge watching Gen Z with emotionally immature parents. This study used a quantitative non-probability sampling with a purposive sampling technique involving 161 male and female respondents with an average age of 14-24 years; enjoy watching series/films/dramas more than once without a break; have unpleasant experiences with biological parents. Data collection carried out online through a questionnaire adapting the Binge Watching Engagement and Symptoms Questionnaire measuring tool developed by Flayelle et al (2018) and The Online Fear of Missing Out Inventory developed by Sette (2019). The results found an F value of 107.829 with an unstandardized B value of 0.635; R square of 0.404; P value of 0.05> 0.000. This shows that H0 is rejected, so FOMO has a significant effect on binge watching Gen Z with emotionally immature parents with a percentage of 40.4%. Thus, if the FOMO increases, Gen Z's binge watching will also increase significantly.
Marhata sebagai Rekonsiliasi Konflik Tanah Warisan Antar Marga di Desa Hatinggian Kabupaten Toba Sinaga, Winda Safrina; Tampake, Tony; Supratikno, Agus
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.35819

Abstract

Sistem pembagian tanah warisan bagi Masyarakat Batak Toba sering sekali menjadi konflik, seperti konflik antar marga Sirait dan Sinaga yang ada di Desa Hatinggian. Konflik muncul karena para pemilik tanah telah meninggal, anak cucu pergi merantau, dan tanah tidak memiliki sertifikat karena diwariskan secara turun-temurun. Studi ini bertujuan untuk menggambarkan tradisi marhata sebagai rekonsiliasi konflik dalam penyelesaian konflik tanah warisan antar marga di Desa Hatinggian Kabupaten Toba. Penelitian ini menggunakan teori konflik oleh Lewis A. Coser, teori tindakan sosial oleh Max Weber yang berfokus pada teori tindakan rasionalitas instrumental dan teori tindakan tradisional untuk melihat langkah-langkah penyelesaian konflik tanah warisan antar marga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi dan studi dokumen. Informan dalam penelitian ini adalah marga yang berkonflik dan para tokoh adat. Analisis data dengan melakukan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil studi ini menunjukkan bahwa tradisi marhata menjadi dialog terbuka dan partisipatif dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, keterbukaan, dan  rasa hormat. Setiap pihak menyampaikan pandangan dan keluhannya, sehingga solusi yang adil dan diterima oleh semua pihak tercapai dan tercipta perdamaian sehingga tradisi ini perlu dipertahankan.   The inheritance land distribution system for the Toba Batak community often becomes a conflict, such as the conflict between the Sirait and Sinaga clans in Hatinggian Village. The conflict arises because the landowners have died, their children and grandchildren have gone abroad, and the land does not have a certificate because it is inherited from generation to generation. This study aims to describe the marhata tradition as a conflict reconciliation in resolving inheritance land conflicts between clans in Hatinggian Village, Toba Regency. This study uses conflict theory by Lewis A. Coser, social action theory by Max Weber which focuses on the theory of instrumental rationality action and traditional action theory to see the steps to resolve inheritance land conflicts between clans. This study uses a qualitative method with a case study approach. Data collection was carried out through interviews and observations and document studies. The informants in this study were the conflicting clans and traditional leaders. Data analysis by conducting data reduction, data presentation and drawing conclusions/verification. The results of this study indicate that the marhata tradition is an open and participatory dialogue by upholding the values ​​of honesty, openness, and respect. Each party conveys their views and complaints, so that a fair and acceptable solution is achieved by all parties and peace is created so that this tradition needs to be maintained.