cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 284 Documents
STUDI MIKROFACIES DAN DIAGENESIS BATUGAMPING DARI FORMASI TETAMBAHU SEBAGAI MIKROKONTINEN MESOZOIKUM DI DAERAH TELUK TOMORI Gusti Muhammad Lucki Junursyah; Alviyanda Alviyanda; Nadila Novandaru
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6726.649 KB) | DOI: 10.32693/jgk.16.1.2018.535

Abstract

Cekungan Tomori merupakan salah satu cekungan frontier yang terdapat di daerah Teluk Tomori, Sulawesi, termasuk didalamnya Formasi Tetambahu yang merupakan salah satu batuan  reservoir berpotensi hidrokarbon. Kemunculan formasi ini yang didominasi oleh sedimen karbonat terjadi akibat adanya aktivitas tektonisme pada Miosen, bersamaan dengan kemunculan mikrokontinen Banggai-Sula. Berdasarkan analisis mikrofasies dan diagenesis dari tujuh sampel batugamping wackestone Formasi Tetambahu pada lintasan Korololama, menunjukkan karakteristik biosclastic wackestone dan coated grain in micrite, dan diendapkan pada lingkungan shelf lagoon open circulation. Proses diagenesis yang dialami formasi ini adalah eodiagenesis, mesodiagenesis, dan telodiagenesis, sehingga porositas yang terbentuk terdiri atas vuggy porosity, interparticle, dan intragranular microporosity. Kata kunci: Formasi Tetambahu, mikrofasies, diagenesa batugamping, Teluk Tomori Sulawesi. Tomori Basin is one of the frontier basins located in the Tomori Bay area, Sulawesi, including the Tetambahu Formation which is one of the potentially reservoir rocks of hydrocarbon. The appearance of this formation is dominated by carbonate sediment which occurs due to the tectonic activity on Miocene, along with the emergence of Banggai-Sula microcontinent. Based on the analysis of microfacies and diagenesis of seven limestone samples from Tetambahu Formation in the Korololama section, shows the characteristics of biosclastic wackestone and coated grain in micrite, and deposited in shelf lagoon open circulation. Tetambahu formation has experienced diagenesis process such as eodiagenesis, mesodiagenesis, and telodiagenesis, therefore the porosity is formed consisting of vuggy porosity, interparticle, and intragranular microporosity.Keywords: Tetambahu Formation, microfacies, limestone diagenesis Tomori Bay Sulawesi
KONDISI HIDRODINAMIKA PERAIRAN SUNGAI LIAT BANGKA BERDASARKAN MODEL MIKE 21-HD-AD SEHUBUNGAN DENGAN MORFOLOGI AKIBAT PENAMBANGAN DI LAUT Franto Novico; Citrawan Sinaga
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 10, No 1 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1213.987 KB) | DOI: 10.32693/jgk.10.1.2012.214

Abstract

Penambangan timah di perairan sekitar Sungai Liat- Bangka oleh kapal keruk dan hisap telah menyebabkan terjadinya perubahan kondisi dasar laut yang sangat besar dengan ditemukannya batimetri yang sangat tidak beraturan di sekitar wilayah foreshore, terutama pada bagian barat muarasungai. Pendekatan model numerik dengan menggunakan software Mike 21 HD-AD menjadi metode pilihan untuk mendapatkan gambaran kondisi hidrodinamika sekitar muara dan garis pantai sekitar Sungai Liat. Berdasarkan hasil simulasi didapatkan bahwa dengan perkiraan pelaksanaan kegiatan penambangan 24 jam sehari selama 15 hari model operasi maka kondisi sebaran buangan akan terbawa hingga jarak terjauh 15 km ke arah selatan, sementara sebaran bergerak ke arah utara sejauh 5 km dari lokasi sumber buangan. Waktu yang dibutuhkan untuk sebaran mencapai garis pantaiadalah 27 jam setelah penambangan dioperasikan. Sementara nilai kecepatan arus maksimum pada saat bulan penuh sebesar 1.5 m/det dengan arah arus dominan ke utara sementara pada saat bulan mati kecepatan maksimum sebesar 1.2 m/det dengan arah arus dominan ke tenggara. Kata kunci : Kondisi Hidrodinamika Sungai Liat, Model Numerik, Buangan Tambang The mining activities using dredging vessel and suction vessel that have done near river mouth of Sungai Liat and along coast line yielded a big deformation of sea floor bathymetry at foreshore especially west side a river mouth. Mike 21 HD-AD software as numerical model was selected as method to describe hydrodynamic conditions around river mouth and along coastline near the Sungai Liat River. Based on simulations where the mining operation is predicted 24 hours a day within 15 days operation model therefore a range of outsource dispersion of 15 km to south while 5 km flows to the north from the mine dumps position. A dispersion of mine dumps would be achieve a coastline in 27 hours since the mining begun. In addition, maximum current in spring time shows 1.5 m/sec to the north direction whereas in neap time the current shows 1.2 m/sec to the southeast direction. Keywords: Hydrodynamic Condition, Sungai Liat, Numerical Model, Mine dumps
MODEL PENURUNAN SEDIMEN PERMUKAAN DASAR LAUT PADA DASAR RENCANA PEMECAH GELOMBANG DI TELUK PANCAMAYABANYUWANGI - JAWA TIMUR Franto Novico; Nineu Yayu Gerhanae
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 8, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1551.927 KB) | DOI: 10.32693/jgk.8.1.2010.182

Abstract

Demi menghasilkan pemecah gelombang yang aman, maka perlu dilakukan analisis geologi dan geoteknik kelautan. Analisis ini akan memberikan informasi tentang kondisi fisik sedimen laut yang mengalami suatu perubahan pembebanan akibat adanya infrastruktur kelautan. Berdasarkan hasil analisis Plaxis versi 8, maka dapat diketahui bahwa besarnya nilai total deformasi yang disebabkan oleh beban struktur setinggi 8 meter dan gaya arus sebesar 1 kN/m2 adalah sebesar 72,77*10-3 m. Lapis sedimen sekitar badan dan kaki pemecah gelombang memiliki nilai deformasi ekstrem yang lebih merata sedangkan nilai ekstrem deformasi terjadi pada tengah struktur di kedalaman -5,50 meter. Kata Kunci : pemecah gelombang, perangkat lunak Plaxis versi 8, deformasi ekstrem, Pancamaya Banyuwangi Marine geology and geotechnical analyses are indeed important in order to get a safe breakwater design. To build a safe infrastructure, these analyses would produce a model to describe the displacement condition of marine sedimen. Applying 8 meters height of breakwater and 1 kN/m2 current, the Plaxis software v.8 gave a result 72,77*10-3 m of total deformation. In addition, an extreme deformation occurred in the middle of -5,50 meters breakwater, while equilibrium deformation occurred around areas between toe and breakwater body. Keywords : breakwater, Plaxis software v.8, extreme deformation, Pancamaya Banyuwangi
TIPE GRANIT SEPANJANG PANTAI TIMUR PULAU BATAM DAN PANTAI BARAT PULAU BINTAN, PERAIRAN SELAT BATAM BINTAN Deny Setiady; Faturachman Faturachman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.865 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.2.2004.109

Abstract

Granit tipe I dan Tipe S tersebar sepanjang Kepulauan Riau. Di Pulau Batam dan Pulau Bintan, yang menerus dari jalur granit Johor Penensular, Malaysia. Granit-granit tersebut menerus secara alamiah dari Provinsi granit Johor sebelah Timur menerus ke kepulauan Riau sampai Bangka Belitung. Ciri granit tipe I berwarna pink biotit hadir berwarna colat gelap, mempunyai komposisi kimia SiO2 antara 53% -76%, kandungan CaO Na2O yang tinggi, kandungan Sr tinggi dan Rb rendah. Ciri granit tipe S biasanya berwarna abu-abu, hornblenda jarang ditemukan, komposisi kimia SiO2 berkisar antara 66% - 76%, mempunyai kandungan CaO dan Na2O yang rendah, biasanya Sr rendah dan Rb tinggi. (Chappel dan white, 1983) Berdasarkan Analisa data megaskopis granit di pantai Pulau Batam sebelah utara (PBT-14) dan PBT-12, berwarna abu-abu dengan tekstur afanitik, mengandung orthoklase (45%), Quartz (20), Biotite (15), Hornblende (5%) dan Plagioclase (10%). sedangkan di tengah -tengah (PBT-13) berwarna kemerahan, ukuran butir menengah sampai kasar,mengandung Orthoklase, kuarsa, Plagioklas hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tipe granit di Pulau Batam yaitu tipe I dan Tipe S. Sedangkan di Pulau Bintan sama dengan PBT-13 yaitu kemerahan, tekstur fanerik yaitu ciri dari tipe I. Berdasarkan analisa petrografis sampel di 3 lokasi di Pulau Batam terdiri dari plagioklas, orthoklas, kuarsa, biotit dan mineral opak. Demikian juga di Pulau Bintan tidak ditemukan hornblenda, kemungkinan tipe S Hal ini menunjukkan bahwa granit di daerah selidikan mempunyai tipe S, karena hornblenda tidak ditemukan. Kandungan senyawa SiO2 yang tinggi di P. Bintan (> 63,55%), kandungan CaO (< 0,99%), dan Na2O (< 3,02%) yang rendah, Serta unsur tanah jarang Sr (>4 ppm), yang tinggi, maka disimpulkan bahwa tipe granit di daerah Bintan adalah Tipe S. Di P. Batam Kandungan SiO2 yang tinggi ( > 71,39%), Kandungan CaO (0,14%- 3,48%), dan Na2O (< 3,33%) yang rendah, Serta unsur tanah jarang Sr (> 17 ppm), yang tinggi, maka tipe granit di daerah Bintan adalah Tipe S. Granites S and I Type are distributed throughout the archipelago, which lie immediately to the south of Johorein Peninsular Malaysia. These granites seem to form a natural continuation of the eastern province granites in Johor to Riau Archipelago until Bangka and Belitung Island. I Type Granite show pink colour in megascopis speciment, SiO2 composition between 53% - 76%, high content Cao and Na2O, higih content Sr and low content Rb. S type granite shows greeyish, no present hornblende, SiO2 composition between 53% - 76%, Low content CaO and Na2O, Granite in the eastern coast of Batam Island in (PBT-14 and PBT-12) are greeyish, afanitic texture is made up of an orthoclase, Quartz, Biotite, Hornblende and Plagioclase. While granite in the middle (PBT-13), reddish, medium to coarse grained, Orthoclase, quartz, Plagioclase. This description shows that granite in Batam is I type and S type, while in Bintan Island is I Type. Base on petrography's analysis in 3 location in Batam island Granite, greeyish, faneric texture, medium - coarse grained, holocrystalyne, hipidiomorfic - allotriomorfic. Orthoclase, quartz, Plagioclase, Biotite, Opaque Mineral. While granite in Bintan island are gray, faneric texture medium to coarse grain, holocristalyn - alotriomorfic, consists of Plagioclase, Orthoclase, quartz and Biotite. These analysis shows that Granit in Batam and Bintan island are S Type because hornblende is not found. Base on Chemist Analysis Major element in Bintan island consists of high content SiO2 (> 63,55), and CaO (< 0,99%), Na2O (< 3,02%) are low Content. Trace element is high content Strontium (>4 PPM ). These analysis shows that granite in Bintan island are S Type. Major element in Bintan island consists of high content SiO2 (>71,39%), and CaO (<0,14%), Na2O (<0,18% ) are low Content. Trace element is high content Strontium (> 17 PPM ). These analysis shows that granite in Bintan island are S Type.
ANALISIS PERBANDINGAN GEOKIMIA GRANIT DAN SEDIMEN DASAR LAUT DI PULAU SINGKEP BAGIAN TIMUR, PROVINSI KEPULAUAN RIAU Moch. Akrom Mustafa; Ediar Usman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 3 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (819.407 KB) | DOI: 10.32693/jgk.11.3.2013.237

Abstract

Hasil analisis kimia secara umum menunjukkan kesamaan antara granit dan sedimen permukaan dasar laut. Perbedaan hanya pada dua unsur, yaitu Al2O3 dan Fe2O3; kandungan Al2O3 pada granit antara 12,63 - 15,58% dan Fe2O3 antara 1,26 - 1,78%, sedangkan sedimen permukaan dasar laut Al2O3 berkisar antara 2,10 - 3,29% dan Fe2O3 antara 7,57 - 12,88%. Hasil analisis pada Diagram Harker menunjukkan penyebaran granit dan sedimen dasar laut membentuk pola searah, mengiindikasikan pola ko-magmatik. Selanjutnya, untuk menentukan tipe granit di P. Singkep dalam kaitannya dengan kandungan timah, dua diagram SiO2 vs FeOtot/MgO dan ACF telah digunakan. Hasilnya menunjukkan bahwa granit Singkep termasuk daerah transisi antara tipe A dan tipe I&S dan tipe S yang kaya ilmenit dan berassosiasi dengan konsentrat timah. Kata kunci: granit, sedimen dasar laut, kimia, tipe I&S, tipe S, timah, Pulau Singkep Results of chemical analyses generally show the similarities between the granites and the seafloor sediments. The difference is only in the two elements, namely Al2O3 and Fe2O3; Al2O3 contents. In the granite ranges between 12.63 to 15.58% and the Fe2O3 ranges between 1.26 to 1.78%; while the seafloor sediment shows Al2O3 between 2.10 to 3, 29% and Fe2O3 between 7.57 to 12.88%. Results of the analysis on the Harker Diagram shows the distribution of the granites and the seafloors sediments form the unidirectional pattern, indicates the co-magmatic pattern. Furthermore, to determine the type of granite in Singkep Island in relation with the tin content two diagram of SiO2 vs FeOtot/MgO and ACF are used. The result shows that the Singkep granite belong to the the transition area between the A and I&S and the S type which rich of ilmenite and associated with tin concentrate. Keywords: granite, sea floor sediments, chemicals, I&S type, S type, tin, Singkep Island
FORAMINIFERA PERAIRAN BALIKPAPAN, KALIMANTAN TIMUR: LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN PENGARUHNYA Mimin Karmini; M. Hendrizan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 9, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3301.764 KB) | DOI: 10.32693/jgk.9.2.2011.205

Abstract

Dari hasil telitian perairan lepas pantai Balikpapan, Kalimantan Timur (Lembar 1914), di dalam sedimen dasar laut antara kedalaman 18 m – 562 m bawah permukaan laut, dijumpai tidak kurang dari 195 spesies foraminifera bentos kecil dan besar dan 34 spesies foraminifera plankton. Heterolepa praecincta merupakan spesies bentos kecil yang banyak mendominasi sedimen permukaan di daerah penelitian, kemudian Heterolepa margaritifera. Heterolepa praecincta masih dijumpai sampai kedalaman 383 m, sedangkan ke arah yang lebih dalam lagi jumlahnya semakin berkurang. Foraminifera bentos kecil yang langka seperti Biarritzina proteiformis di daerah telitian dan di perairan antara Pangabakan - Sagita, di utara daerah telitian, sebelah utara Delta Mahakam, jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan yang di bagian selatannya, yaitu di perairan utara P. Lombok, tempat spesies ini pertama kali dijumpai. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya arus yang berarah dari utara ke selatan. Spesies Operculina spp., yang banyak diwakili oleh spesies O. complanata, O. ammonoides, dan O. heterosteginoides, banyak dijumpai pada kedalaman kurang dari 100 m. Spesies-spesies tersebut di beberapa lokasi banyak berasosiasi dengan Amphistegina lessonii, yang menandakan bahwa pada kedalaman ini turbulensinya rendah, dengan kondisi air yang cukup jernih. Melimpahnya foraminifera plankton Neogloboquadrina dutertrei, terutama pada kedalaman lebih dari 100 m, menunjukkan bahwa pada kedalaman tersebut perairan daerah telitian mempunyai salinitas rendah. Kata kunci: foraminifera, lingkungan, Balikpapan, Kalimantan Timur The results of the Balikpapan offshore study in East Kalimantan waters (Sheet 1914), between 18m– 562m below sea level, revealed the sea floor sediment containing not less than 195 species of smaller and larger benthic foraminifera, and 34 species of planktic foraminifera. The smaller benthic foraminifera Heterolepa praecincta dominates the surface sediment in the study area, then Heterolepa margaritifera. Heterolepa praecincta is still found at the 383 m depth. However, towards the deeper, their number is decreasing. The number of uncommon smaller benthic foraminifera such as Biarritzina proteiformis in the study area and between Pangabakan – Sagita waters, in the north part of the study area, north of Mahakam Delta, is more abundant compared to that in the south part, in Lombok waters, the place where this species was firstly found. It is suggested that this condition is caused by the current coming from the north to the south. The species Operculina spp., mostly representated by the species O. complanata, O. ammonoides, and O. heterosteginoides, are much more common found in the depth of less than 100 m. Those species is commonly found associated with Amphistegina lessonii, indicating that this depth has a low turbulent with clear water conditions. The abundance of planktic foraminifera Neogloboquadrina dutertrei, especially within the depth of more than 100 m, indicating that this depth has a low salinity. Keywords: foraminifers, environment, Balikpapan, East Kalimantan
LINGKUNGAN PENGENDAPAN SEDIMEN PERANGKAP GAS BIOGENIK DI DELTA SUNGAI KAPUAS KALIMANTAN BARAT Hananto Kurnio; Yudi Darlan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.029 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.2.2009.173

Abstract

Lingkungan pengendapan delta Sungai Kapuas di Kalimantan Barat terdiri dari dataran delta atas, dataran delta bawah dan lingkungan marin. Pada wilayah pesisir, dataran delta bawah terdiri dari kanal cabang (distributary channels), rawa (swamp) pada pulau-pulau delta dan pantai. Lingkungan pengendapan marin terdiri muka delta (delta front) dan prodelta; dengan lingkungan muka delta sedimen bersifat pasiran karena mengendapkan muatan sedimen (bed load) dari sungai, sedangkan pada lingkungan prodelta, sedimen yang diendapkan bersifat suspensi pada paparan dengan pengaruh proses marin lemah. Reservoar pasir pada kanal cabang dan pantai purba delta Sungai Kapuas merupakan tempat akumulasi gas biogenik. Kata kunci: lingkungan pengendapan delta, gas biogenik, Sungai Kapuas Deltaic deposition environment of Kapuas River in Western Kalimantan is consisted of upper delta plain, lower delta plain and marine environment. Within coastal zone, lower delta plain can be classified into distributary channels, swamp, deltaic islands and coasts. Marine environment is composed of delta front and prodelta; with delta front environment characterized by sandy sediments derived from river bed load. While prodelta sediments are suspension materials deposited in shelf of weak marine influences. Sand reservoirs at paleo distributary channels and paleo coasts of Kapuas River delta is the media for biogenic gas accumulations. Key words: deltaic deposition environments, biogenic gas, Kapuas River
KETERDAPATAN EMAS DAN PERAK DALAM SEDIMEN PERMUKAAN DASAR LAUT DI PERAIRAN BAYAH DAN CIHARA, BANTEN SELATAN Maman Surachman; Yudi Darlan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 3 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.319 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.3.2007.141

Abstract

Sedimen permukaan dasar laut di daerah penyelidikan lebih dari 95 % terdiri atas material sedimen klastik hasil rombakan dari batuan di daratan (terrigenous sediment). Berdasarkan teksturnya, sedimen daerah telitian dapat diklasifikasikan menjadi 4 jenis : pasir lanaun, pasir, lanau pasiran, dan pasir sedikit kerikilan. Secara lateral, pasir lanauan merupakan sedimen yang paling luas sebarannya. Berdasarkan ukuran butirannya, komposisi sedimen di daerah telitian didominasi oleh ukuran pasir halus, pasir sangat halus dan lanau. Di blok timur, kadar emas dalam sedimen berkisar antara 0,1 – 0,54 ppm, namun umumnya < 0,3 ppm. Kadar perak berkisar antara 5,62 -30,85 ppm, umumnya < 15 ppm. Di blok barat, kadar emas berkisar antara 0,11 – 0,57 ppm, namun umumnya >0,3 ppm. Kadar perak antara 7,43 – 28,35 ppm, namun umumnya > 15 ppm. Emas dan perak dalam sedimen terutama diperkirakan berasal dari mineralisasi primer yang terdapat di daerah hulu S. Cimadur dan daerah hulu S. Cihara. Kata Kunci : Emas, perak, sedimen, Bayah & Cihara. Submarine surficial sediments of the investigated area consist of more than 95 % land derived sediments. Based on textural classification the sediments are divided into 4 units: silty sand, sand, sandy slit and slightly gravelly sand. Laterally silty sand are the widest distribution. Based on grain size analyses, the composition of the sediment consists of fine sand, very fine sand and silt grain sizes. The Gold (Au) content within the sediment of the east block area ranges beetwen 0,1 – 0,54 ppm, but generally less than 0.3 ppm. The Silver (Ag) content ranges between 5,62 - 30,85 ppm, but generally less than 15 ppm. In west block area, Au content within sediment ranges between 0,11 – 0,57 ppm, but generally > 0,3 ppm. The Ag content ranges between 7,43 – 28,35 ppm, but generally > 15 ppm. The occurrence of Au and Ag within sediments of the investigation area are mainly estimated from primary gold mineralization areas which are located in upstream areas of Cimadur and Cihara Rivers. Keyword : Gold, silver, sedimen, Bayah & Cihara
STRUKTUR GEOLOGI DI PERAIRAN PULAU BUTON SELATAN Lukman Arifin; Tommy Naibaho
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 13, No 3 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1277.989 KB) | DOI: 10.32693/jgk.13.3.2015.269

Abstract

Penelitian geofisika dengan metode seismik pantul dangkal dilakukan di perairan Pulau Buton bagian selatan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui kondisi geologi di bawah permukaan dasar laut. Dari data rekaman seismik diinterpretasikan bahwa stratigrafi seismik dibagi menjadi dua runtunan yaitu runtunan A dan B. Bila disebandingkan dengan geologi daratnya maka runtunan A termasuk dalam Formasi Wapulaka yang berumur Tersier dan runtunan B termasuk Formasi Sampolakosa yang berumur Kuater. Data rekaman tersebut juga menunjukkan adanya beberapa struktur geologi seperti sesar, lipatan, dan pengangkatan. Diduga struktur geologi tersebut berkembang dengan masih aktifnya proses tektonik hingga sekarang. Implikasi aktifnya tektonik ini dapat memperkaya dan meningkatkan potensi sumberdaya alam yang ada seperti migas dan aspal. Kata kunci seismik pantul dangkal, struktur geologi, tektonik, Perairan Pulau Buton. Geophysical research with shallow reflection seismic method carried out in the waters of the southern part of Buton Island. The aim of research is to determine the geological conditions under the sea floor. Data from seismic recordings interpreted that seismic stratigraphy is divided into two sequences, that are sequence A and B. Ifthe land geology to be compared then the sequence A is Wapulaka Formation which is Tertiary age and sequence B is Sampolakosa Formation which is Kuarter age. The recording data also indicated a number of geological structures such as faults, folds, and uplift. It was alleged that the geological structure is developing with tectonic processes are still active until now. The implications of the active tectonic can enrich and enhance the existing natural resources such as oil and gas, and bitumen. Keywords: shallow seismicreflection, geology structure, tectonic, Buton Island Waters.
FENOMENA SEDIMENT CLOUD DI PERAIRAN TANJUNG PONTANG BANTEN Nyoman Astawa; Hananto Kurnio; Lukman Arifin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 9, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2881.447 KB) | DOI: 10.32693/jgk.9.1.2011.196

Abstract

Penafsiran data rekaman strata box dari daerah penelitian menunjukkan 2 (dua) runtunan akustik yaitu runtunan A, dan runtunan B. Kontak antara runtunan A dengan B berupa kontak toplap atau pepat erosi. Runtunan B adalah runtunan termuda yang proses pengendapannya masih berlangsung sampai sekarang. Dalam rekaman strata box banyak ditemukan pantulan dalam bersifat keruh di dalam kolom air. Hal tersebut diperkirakan berupa gambaran reflektor sediment cloud (awan sedimen). Munculnya sediment cloud diperkirakan ada kaitannya dengan aktivitas gunung api yang ada di daerah penelitian (Gunung Karang). Sediment cloud terjadi akibat adanya tekanan fluida yang berasal dari bawah permukaan dasar laut, yang menerobos ke permukaan dasar laut, disertai dengan muatan material sedimen. Sebaran sediment cloud di daerah penelitian cukup luas, sehingga sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut. Kata kunci : Rekaman strata box, penafsiran, sediment cloud, gunung api. Strata box records interpretation from the study area indicate two sequences, those are sequence A and sequence B. Sequence A is separated from sequence B by toplap contact. Sequence B is the youngest sequence in the study area is which its deposition still active until now. In the strata box records the chaotic reflection features are found in its water column. These features are assumed as sediment clouds. The appearance of these clouds in the study area is possibly related to volcano activities (Karang Volcano). This phenomenon is occurred due to fluid pressure derived from sub-seabottom, followed by sediment material blow out. The sediment clouds are widely distributed, thus it is interesting to be further studied. Key words : Strata box records, interpretation, sediment cloud, volcano.