cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 284 Documents
IDENTIFIKASI ABRASI PANTAI PERAIRAN TELUK LASOLO KENDARI SULAWESI TENGGARA Beben Rachmat; Yogi Noviadi
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 3 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2729.205 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.3.2009.177

Abstract

Berdasarkan hasil pengamatan, abrasi pantai yang terjadi di perairan Teluk Lasolo disebabkan oleh aksi gelombang laut yang menjalar dari laut dalam disebelah timur daerah telitian ke arah perairan teluk. Aktifitas gelombang ini menyebabkan terangkutnya sedimen/batuan dari pantai ke arah laut melalui gerakan arus sejajar pantai dan arus tegak lurus pantai. Sedimen yang terangkut akan terbawa terus ke arah laut dalam oleh pergerakan arus laut yang dominan berarah tenggara. Kondisi ini menyebabkan pantai di sekitar perairan Teluk Lasolo mengalami defisit material/sedimen sehingga pantai mengalami abrasi secara kontinyu. Cara yang paling efektif untuk penanganan abrasi pantai di sekitar perairan Teluk Lasolo adalah dengan cara membuat tipe bangunan penahan pantai yang berbentuk groin sejajar dan disesuaikan dengan kondisi hidrooseanografi, morfologi dasar laut dan garis pantainya. Kata kunci : abrasi, pantai, arus, gelombang, sedimen Based on observation result, coastal abration that happened in waters of Teluk Lasolo due to action of sea wave propagating from deep sea in eastside the research area into the waters bay. This wave activity causes transporting of sedimen from coast to the sea by the longshore and rip currents movement. Transported sedimen will be brought to the deep sea by the movement of dominan south-eastern. This condition causes coastal waters around Teluk Lasolo of deficit sedimen will affected the coastal abration in continue. The most effective way to handle coastal abration around territorial waters of Teluk Lasolo is build the breakwater in form of parallel groin and according to the hydrooceanography, morphology of sea floor and coastline conditions. Keyword : abration, coastal, current, wave, sediment
TINJAUAN GEOLOGI KELAUTAN PERAIRAN SEMENANJUNG MURIA TERHADAP RENCANA TAPAK KONSTRUKSI PLTN Ediar Usman; Wayan Lugra
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2077.956 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.1.2008.145

Abstract

Semenanjung Muria terletak di pantai utara Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Daerah ini akan dikembangkan menjadi daerah tapak Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Secara geologi, di daerah ini berkembang berbagai fenomena geologi seperti struktur sesar, gunungapi dan kegempaan. Berdasarkan hasil interpretasi rekaman seismik pantul di perairan Semenanjung Muria menunjukkan adanya struktur sesar pada penampang Lintasan L-1 dan L-3. Struktur sesar tersebut terbentuk pada Sekuen B dan di bawah Sekuen A. Adanya struktur sesar di laut tersebut perlu mendapat perhatian dalam perencanaan tapak kontruksi PLTN Muria, sehingga aspek yang dapat membahayakan konstruksi dapat diperhitungkan sebelumnya terhadap perencanaan kekuatan dan stabilitas konstruksi. Kata kunci : sesar, seismik pantul, perencanaan konstruksi, Semenanjung Muria. Muria Peninsula is located at the north coast of Jepara District, Central Java Province. This area will be developed for the foundation of Nuclear Energy Electrics Powers Station. Geologically, the study area has some geological phenomena such as fault structures, earthquakes and volcanisms. Based on seismic interpretation the Muria Peninsula waters shows the occurence of faults on L-1 and L-3. The fault structure formed at Sequence B and under Sequence A as a Quaternary sediment. These faults are seemly the continuation of faults present on land. Therefore, the construction of Muria station should be considered regarding the occurrence of these faults especially in the planning of stability and strength of foundation. Keyword : faults, reflection seismic, planning of construction, Muria Peninsula.
TINJAUAN GEOLOGI LANDAS KONTINEN INDONESIA DI LUAR 200 MIL LAUT SEBELAH SELATAN PERAIRAN PULAU SUMBA Prijantono Astjario; Imelda R. Silalahi
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 2 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1558.523 KB) | DOI: 10.32693/jgk.11.2.2013.232

Abstract

Indonesia berkehendak untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi potensi sumber daya alam di Zona Landas Kontinen di luar 200 mil laut dengan mengajukan batas Landas Kontinennya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS III, 1982) hingga jarak 350 mil laut. Hasil studi data geologi dan geofisika menunjukkan bahwa Indonesia memiliki prospek untuk melaksanakan submisi landas kontinen di luar 200 mil di tiga lokasi, dalam hal ini salah satunya adalah di sebelah selatan perairan Pulau Sumba. Tinjauan geologi ini dilaksanakan dalam upaya menggali dan menghimpun data serta informasi yang berkaitan dengan hak kedaulatan Indonesia atas potensi sumberdaya alam dari Landas Kontinen Indonesia di luar 200 mil sebelah selatan perairan Pulau Sumba. Adapun tujuan dari tinjauan ini adalah untuk pengembangan data dan informasi kelautan untuk pemanfaatkan potensi sumberdaya alam dari Landas Kontinen Indonesia di luar perairan 200 mil sebelah selatan Pulau Sumba. Data geologi dan geofisika di daerah tinjauan menunjukkan ketebalan sedimen yang tipis yaitu antara 1– 1,8 %. Tinjauan geologi ini memberikan pula dugaan adanya cekungan yang memiliki ketebalan sedimen yang cukup tebal yang dapat ditelusuri lebih lanjut sesuai dengan pola batimetri perairan selatan Sumba. Kata kunci: Landas kontinen, 200 mil laut, submisi, UNCLOS, sedimen. Indonesia willing to explore and exploit the natural resources in Continental Shelf Zone beyond 200 nautical miles to the limit of its continental shelf in accordance with the provisions stipulated in the United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS III, 1982) up to a distance of 350 nautical miles. The result of geological and geophysical data study shows that Indonesia has the prospect to implement submission of the continental shelf beyond 200 miles in three locations, where one of which is in the southern waters of Sumba Island. Geological review was conducted in order to explore and collect data and information relating to the rights of Indonesian sovereignty over natural resources of the Indonesian Continental Shelf beyond 200 miles south of Sumba Island waters. The purpose of this review is for the development of marine data and information for the exploitation of natural resources of the Continental Shelf beyond Indonesian waters 200 miles south of the island of Sumba. Geological and geophysical data from the study area shows that the sediment thickness is between 1 to 1.8%. This study also provides the present of a basin with the sediment thickness that can be traced further in accordance with the pattern of bathymetric pattern of south Sumba waters. Keywords: Continental shelf, 200 nautical miles, submissions, UNCLOS, sediments.
TINJAUAN ASPEK-ASPEK PEMBANGUNAN YANG MEMPENGARUHI DAMPAK LINGKUNGAN KAWASAN PESISIR DAN LAUT Prijantono Astjario; Dida Kusnida
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 9, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (875.023 KB) | DOI: 10.32693/jgk.9.1.2011.200

Abstract

Urbanisasi yang terjadi di hampir seluruh kota besar di Indonesia menambah beban daerah perkotaan menjadi lebih berat. Peningkatan jumlah penduduk selalu diikuti dengan peningkatan infrastruktur perkotaan seperti perumahan, sarana transportasi, air bersih, prasarana pendidikan, dan lain-lain. Hal tersebut di atas akan menyebabkan dorongan luar biasa terhadap pengalihfungsian lahan-lahan pertanian di kawasan pesisir, di tempat mana akan terjadi suatu situasi kritis terhadap masalah limbah. Kebutuhan akan lahan untuk permukiman maupun kegiatan perekonomian akan semakin meningkat sehingga terjadi perubahan tataguna lahan yang mengakibatkan peningkatan aliran permukaan dan limbah. Pengendalian pencemaran dan pembuangan limbah, merupakan masalah krusial dalam kawasan ini dan tindakan langsung maupun tidak langsung diperlukan untuk menciptakan pengendalian terhadap kegiatan-kegiatan yang dapat merusak lingkungan. Kata kunci : urbanisasi, infrastruktur, aliran permukaan, pencemaran dan limbah. Urbanizations that occured in nearly all of the big cities in Indonesia had burdened city areas lately. The increasing of population always comes up with the improvement of infrastructures like residential area, transportation, clean water, educational facility etc. These things may cause a stimulus and change the function of coastal farming lands and will reach a critical situation concerning the waste problem. The need of lands for settlement area and economical activity will increase and cause the change on land use and will increase the drainage and wastes. The pollution and waste dumping control are crucial problems in this area and the direct and indirect action is needed to create controls on activities that could damage the environment. Key word : urbanization, infrastructure, drainage, pollution and waste.
DESAIN SURVEI METODA MAGNETIK MENGGUNAKAN MARINE MAGNETOMETER DALAM PENDETEKSIAN RANJAU Subarsyah Subarsyah; Ketut Gede Aryawan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.785 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.1.2009.168

Abstract

Magnetometer memiliki kemampuan untuk mendeteksi objek logam (besi) dengan tingkat deteksi yang berbeda tergantung sensitivitas dan akurasinya. Kalibrasi merupakan salahsatu cara dalam menentukan daya deteksi dari sebuah magnetometer dimana hasilnya dapat digunakan dalam desain survei pendeteksian ranjau. Data hasil kalibrasi yang digunakan dalam paper ini adalah kalibrasi terhadap magnetometer Geometrics G-877. Prosedur kalibrasi dilakukan dengan cara melewatkan objek logam besi batangan pada 5 lintasan dengan jarak lintasan berbeda masing-masing 2, 3, 4, 5, dan 6 meter terhadap sensor magnetometer. Hasil kalibrasi menunjukan bahwa kemampuan deteksi sampai 5 m dilihat dari respon anomali magnetnya. Sehingga untuk desain survei dengan menggunakan 2 sensor magnet yang sejenis maka spasi lintasan 10 m dan jarak masing-masing sensor 2 m sementara kedalaman sensor dipertahankan 1 meter di atas dasar laut. Kata Kunci: magnetometer, kalibrasi, variasi harian. Magnetometer has ability to detect metal object (iron) with different level of detection, that depend on its sensitivity and accuracy. Calibration is one way in determine detection level of magnetometer where this procedure can be used to arrange survey design for mine detection. The result of calibration that will be used in this paper was calibration on Geometrics type G-877. Calibration procedure was done by passing plate iron object on 5 line with different distances 2,3,4,5 and 6 meters from magnetometer sensor. The result show that detection level up to 5 meters based on respond of anomaly magnetic and the survey design can be arranged in case using 2 sensor of magnetometer the line spacing will be 10 m and distance between both sensor 2 meter and depth sensor must be kept 1 meter above seabed. Keywords: magnetometer, calibration, diurnal variation.
INDIKASI KEBERADAAN GAS BIOGENIK DI DELTA SUNGAI CIMANUK BERDASARKAN DATA SEISMIK DAN BOR INDRAMAYU, JAWA BARAT Nyoman Astawa; Wayan Lugra
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 2 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3589.846 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.2.2007.136

Abstract

Hasil interpretasi seismik di daerah penelitian, dijumpai adanya indikasi rembesan gas dari bawah permukaan dasar laut yang membawa material sedimen sangat halus. Hal tersebut memperjelas bahwa di daerah lepas pantai gas yang terbentuk di dalam sedimen dan tidak terperangkap. Analisis bakteri semua percontoh bor inti, menunjukkan semua percontoh mengandung bekteri pembentuk gas biogenik (methan). Gas biogenik juga keluar dari sumur air penduduk di desa Brondong dan Pasekan, dengan kedalaman berkisar antara 100 – 150 meter. Kata kunci : delta, seismik, sumur bor, dan gas Seismic interpretation from the surveyed area indicate a gas seep from the sea floor together with the very fine sediment materials. It is olso indicates that the gas formed underneath are untrapped. Bacterical analyses from whole core samples, indicate that all samples contain of bacterical forming biogenic gas (methane gas). The gas are olso seeping from several wells in Desa Brondong and Pasekan at 100-150 meters depth. Keywords : delta, seismic, well, and gas
PROSPEK SUMBER DAYA ENERGI BERDASARKAN ANALISIS POLA ANOMALI GAYA BERAT DI DAERAH BIAK DAN SEKITARNYA, PAPUA Saultan Panjaitan; Subagio Subagio
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 13, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5811.716 KB) | DOI: 10.32693/jgk.13.2.2015.264

Abstract

Hasil penelitian gayaberat di Pulau Biak menghasilkan anomali gayaberat yang dikelompokkan kedalam 2 (dua) satuan yaitu anomali gayaberat 50 mGal hingga 120 mGal membentuk rendahan anomali mencerminkan cekungan. Kelompok anomali gayaberat 120 mGal hingga 220 mGal membentuk tinggian anomali. Pola tinggian anomali sisa 0 mGal hingga 2 mGal diduga sebagai perangkap struktur migas yang terdapat di daerah Kota Biak utara, Mandon dan lepas pantai timur P. Pai. Batuan bertahanan jenis rendah antara 0 - 16 Ohm-meter yang mengindikasikan batuan reservoir jenuh fluida terbentuk di kedalaman 2500 meter. Kedalaman batuan dasar terbentuk antara 7000-8500 meter, dengan rapat massa batuan 2.9 - 3.1 gr/cm3 bertahanan jenis tinggi 1000-8200 Ohm-meter diduga sebagai cerminan dari batuan ultramafik kerak samudera. Batuan yang menyusun di daerah penelitian terdiri atas lapisan batuan Tersier dengan rapat massa 2.45 gr/cm3, batuan Pra-Tersier dengan rapat massa 2.75 gr/cm3 dan batuan dasar dengan rapat massa 3.1 gr/cm3. Batuan sumber adalah serpih Formasi Makat berumur Miosen dengan rapat massa batuan 2.45 gr/cm3, sedangkan batuan reservoir terdiri dari batupasir Formasi Mamberamo. Kata kunci Gayaberat, cekungan, migas, anomali sisa, rapat massa, sesar, antiklin, batuan sumber, tahanan jenis. Gravity research on the island of Biak gravity anomalies are grouped into two (2) units is a gravity anomaly 50 mgal up to 120 mgal is basin reflecting. Gravity anomaly 120 mgal up to 220 mgal formed heights anaomaly. Altitude residual anomaly from 0 mGal to 2 mgal is oil and gas as trapping structures contained in the northern City of Biak, off the east coast Mandon and P. Pai. The rocks is of low resistivity between 0 -16 Ohm-meter that indicates the saturated fluid reservoir rocks are in the depths of 2500 meter. The depth of the bedrock formed between 7000-8500 meters, with density 2.9 - 3.1 gr / cm3 is heights resistivity types of 1000-8200 Ohm-meter interpreted as a reflection of ultramafic rocks oceanic crust. The rocks in the study area consists of Tertiary rocks layers with a density 2.45 gr / cm3, the Pre-Tertiary rocks with density 2.75 gr / cm3 and bedrock with density 3.1 gr / cm3. The source rocks is of shale from Makat Formation Miocene age with density 2.45 gr / cm3, and the reservoir rock consists of sandstone Mamberamo Formation. Keywords: Gravity, basin, oil and gas, recidual anomaly, density, fault, anticline, source rocks, resistivity.
INDIKASI PEMBENTUKAN DELTA PASANG SURUT EBB DI MULUT OUTLET SEGARA ANAKAN BAGIAN BARAT, TELUK PANGANDARAN, JAWA BARAT Lili Sarmili; Faturachman Faturachman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 1 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.137 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.1.2004.104

Abstract

Laguna Segara Anakan terletak di sebelah timur teluk Pangandaran dimana terdapat outlet Nusakambangan bagian barat yang menghubungkan laguna Segara Anakan ke laut terbuka (Samudera Hindia). Pada saat ini, laguna Segara Anakan sedang mengalami ancaman dari tingginya tingkat pengendapan sedimen. Beberapa sungai besar seperti Citanduy, Cibeureum dan Cikonde bertanggung jawab atas terjadinya penyempitan dan pendangkalan laguna. Pada waktu susut laut, energi yang tinggi dari sungai akan membawa sedimen ke laut terbuka dimana butiran yang kasar akan diendapkan di dekat muara sungai-sungai tersebut. Butiran halus akan diendapkan jauh dari sungai-sungai tersebut. Keterdapatan pulau-pulau didepan muara-muara sungai tersebut dapat disebut sebagai endapan delta. Endapan delta yang terdapat di dalam laguna disebut sebagai "Flood Tidal Delta", sedangkan yang di luar laguna Segara Anakan yaitu ke arah laut lepas disebut sebagai "Ebb Tidal Delta" . Peta sebaran sedimen permukaan yang diperkuat oleh peta isopach Kuarter dan peta batimetri menunjukkan adanya sedimen yang diendapkan di luar sistim laguna Segara Anakan sebagai indikasi pembentukan delta pasang-surut Ebb di dalam teluk Pangandaran. The Segara Anakan lagoon is located in the eastern part of Pangandaran Bay where West Segara Anakan outlets which is connecting the Segara Anakan Lagoon to the open sea (Indian Ocean). At present, the Segara Anakan lagoon is being threatened by high rates of sedimentation. Some big rivers such as Citanduy, Cibeureum and Cikonde are responsible for reducing the open water due to their sedimentation in the lagoon. During low sea level, high energy from the river bring the sediment to the open sea where the coarser grains are deposited closely to the mouth of those rivers. The finer grains as a suspended sediments are deposited far away from rivers. The occurrence of islands in front of rivers are called as deltas. These deltas which are located inside the lagoon called as a flood tidal delta, on the other hand, if they are located outside the lagoon called as an ebb tidal delta. The submarine surficial sediment distribution map that strongly modified by a Quaternary isopach map and a bathymetric map indicate that there are sediments that have been deposited outside the system of Segara Anakan lagoon which indicate formation of an Ebb tidal delta in Pangandaran bay.
STUDI AWAL POLA STRUKTUR BUSUR MUKA ACEH, SUMATRA BAGIAN UTARA (INDONESIA): Penafsiran dan Analisis Peta Batimetri Haryadi Permana; L. Handayani
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 8, No 3 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (975.864 KB) | DOI: 10.32693/jgk.8.3.2010.191

Abstract

Analisis morfostruktur daerah penelitian menunjukan tiga unit struktur geologi yang berbeda, antara lain zona penunjaman, zona deformasi aktif dan busur muka termasuk didalamnya tinggian busur muka dan cekungan busur muka. Struktur geologi zona penunjaman lempeng teramati sepanjang Palung Sunda paralel dengan zona deformasi aktif. Struktur geologi pada Tinggian Busur Muka membentuk sistim prisma akresi yang disusun oleh sesar anjak, sesar geser, perlipatan dan perlipatan naik. Pola kelurusan struktur umumnya berarah berarah utara baratlaut-selatan tenggara di sebelah utara lintang 5°U, arah baratlaut-tenggara pada posisi 3°-5°U, kelurusan kemudian berbelok hampir barat-timur di sekitar 2°-3°U. Perubahan arah pola kelurusan struktur tersebut ditafsirkan sebagai jawaban terhadap naiknya tingkat kemiringan penunjaman lempeng dari daerah Simeulue ke arah Lintang 5°U -7°U atau secara umum dari selatan Sumatra ke arah utara Sumatra. Di bagian tengah daerah telitian berkembang kelurusan patahan berarah utara-selatan yang memotong kelurusan berarah baratlaut-tenggara. Kelurusan tersebut ditafsirkan sebagai patahan geser dekstral dan kemungkinan masih aktif. Kata Kunci: Analisis morfostruktur, zona penunjaman, zona deformasi aktif, busur muka, kelurusan, sesar anjak, sesar geser, perlipatan, perlipatan naik, kemiringan penunjaman lempeng Morphostructure analyses of study area demonstrate three different units of geological structures: subduction zone, active deformation zone and fore-arc region, which include Fore Arc High and Fore Arc Basin. The plate subduction zone observes along Sunda Trench parallel with active deformation zone. Structure geology in Fore Arc High builds an accretionary prism system. It was composed by thrust fault, strike slip fault, folding and thrust fold. General trend of structural pattern is NNE-SSE at the north of 5°N, NW-SE direction at around 3°-5°N and changed in direction relative to E-W at about 2°-3°N. This direction variation of structural pattern trend was interpreted as a response to increase of obliquity degree of subducted plate from Simeulue area to 5° -7°N, or in general, from southern of Sumatra to north of Sumatra. NS trend lineament has developed in the middle part of study area that also sliced the NW-SE main structural direction. These structural lineaments interpreted as dextral strike slip fault and it is possibly still active. Keywords: morphostructure analyses, subduction zone, active deformation zone, fore-arc lineament, thrust fault, strike slip, folding, thrust fold, plat, plate subduction obliquity
HIATUS PADA KALA EOSEN-MIOSEN TENGAH DI TINGGIAN ROO, SAMUDRA HINDIA, BERDASARKAN BIOSTRATIGRAFI NANNOPLANKTON Mimin Karmini; M. Hendrizan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 3 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (865.717 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.3.2008.159

Abstract

Nanoplankton dari dua puluh satu percontoh dari Tinggian Roo (MD982156) yang diperoleh selama Ekspedisi MD III - IMAGES IV telah dianalisis untuk kepentingan penelitian biostratigrafi study. Percontoh sedimen diambil dengan menggunakan penginti isap yang besar sekali (giant piston core). Lokasi daerah telitian adalah di Tinggian Roo, Samudra Hindia, Selatan Jawa Timur, di luar Parit Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan nanoplankton, biostratigrafi daerah telitian dapat dibagi ke dalam 8 Zona yakni zona-zona: Discoaster multiradiatus, D. prepentaradiatus, D. asymmetricus, Pseudoemiliania lacunosa, D. brouweri, D.brouweri-oceanica, Gephyrocapsa oceanica dan Emiliania huxleyi. Umur Paleosen ditunjukkan dengan adanya Discoaster multiradiatus sebagai spesies yang dominan, sedangkan sedimen yang berumur Miosen Akhir adalah D. prepentaradiatus. Sedimen lempung tufaan pada kedalaman 30 m bawah dasar laut ke bagian paling bawah dari penampang yang didominasi oleh mineral Phillipsite, ternyata mengandung nanoplankton yang berumur Paleosen, sedangkan dari kedalaman 30 m ke bagian atas dari penampang sedimen ditutupi secara langsung oleh sedimen yang berumur Miosen Akhir – Holosen. Jadi di lokasi penelitian ini telah terjadi hiatus antara Eosen sampai paling tidak bagian bawah dari Miosen Akhir. Adapun Phillipsit dikenal sebagai mineral yang secara authigenic terjadi di laut dalam yang bisa berasal dari hasil kegiatan gunung api. Manfaat mineral Phillipsit di dalam industri plastik, antara lain dapat dipakai dalam pembuatan resin termoaktif dan sebagai pemacu dalam proses pengerasan. Kelompok Zeolit ini juga digunakan untuk menghilangkan kesadahan dalam industri deterjen, menjernihkan kelapa sawit, menyerap zat warna pada minyak hati ikan hiu, sebagai katalisator pada proses gasifikasi batubara yang berkadar belerang dan/atau nitrogen tinggi yang menghasilkan gas bersih Kata Kunci: Hiatus, Kala Esosen-miosen, Tinggian Roo, Biostratigrafi Nanno Plankton Nannoplankton of twenty one samples from Roo Rise (MD982156 core) obtained during MD III - IMAGES IV Expedition were analysed for biostratigraphic study. The samples were taken by using giant piston core. This core is located in Indian Ocean, south of East Jawa, outer part of Jawa Trench. The results of the study indicate that, based on nannoplankton biostratigraphy of the study area, there are eight zones namely: Discoaster multiradiatus, D. prepentaradiatus, D. asymmetricus, Pseudoemiliania lacunosa, D. brouweri, D.brouweri-oceanica, Gephyrocapsa oceanica dan Emiliania huxleyi. Paleocene sediment is indicated by the presence of Discoaster multiradiatus as the dominant species and Late Miocene sediment is indicated by the presence D. pentaradiatus. The sediments from 30 m down to the base of the core, which is dominated by Phillipsite minerals (Zeolite Group), is composed of nannoplankton of Paleocene age, whereas from 30 m below sea floor (bsf) to the top of the core, the sediment is directly overlain by the sediment of Late Miocene – Holocene ages. Therefore there was a hiatus occurred in the study area between Eocene to at least the lower part of Late Miocene. Phillipsite is known as an authigenic mineral deposited in the deep sea that could be derived from the volcanic activity products. This mineral has a benefit in the plastic industry that can be used in making thermoactive resin and as a catalyst in hardening process. The Zeolite Group is also used in removing hardness in detergen industry, cleaning palm oil, absorbing color in lever oil of shark and as a catalyst in coal gasification having high sulphur and nitrogen producing clean gas. Keyword: Hiatus, Eosen-miosen ages, Roo Rise, Biostratigrafi Nanno Plankton