cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 284 Documents
ANALISIS SAMPEL PASIR BESI UNTUK STUDI REKONAIS REGIONAL DI KECAMATAN NANGAPANDA DAN ENDE - FLORES Dida Kusnida; Wayan Lugra; Imelda R. Silalahi
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.143 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.2.2004.110

Abstract

Dengan semakin terbatasnya potensi sumberdaya alam di darat, kawasan pesisir dan laut Kabupaten Ende-Flores saat ini sedang menjadi alternatif bagi kegiatan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan investasi, terutama dari sektor pertambangan pasir besi. Dua buah contoh pasir besi yang dianalisis dalam penelitian ini sifatnya sangat regional yang diambil dari wilayah pantai Kecamatan Nangapanda dan Kecamatan Ende untuk tujuan rekonais. Kandungan bahan dalam contoh sedimen berdasarkan hasil analisis volumetrik kualitatif menunjukan bahwa kadar Fe-Total adalah 62,6 % dan 50,3 %, serta FeO adalah 30,5 % dan 27,0 %, masing-masing untuk Kecamatan Nangapanda dan Kecamatan Ende. Sedangkan untuk mengetahui jumlah kandungan Fe2O3 , hasil analisis volumetrik kuantitatif masing-masing menunjukan nilai 55,6 % dan 41,9 % untuk kedua daerah tersebut di atas. Kandungan TiO2 yang diketahui dari hasil analisis Spektofotometri masing-masing adalah 9,57 % dan 7.45 %, sedangkan kandungan Ni dengan menggunakan metoda AAS tidak terdeteksi untuk kedua daerah tersebut. The limited of on-land recourses impacting the coastal areas of Ende Regency-Flores as the alternative of human activities to get more treasures and investment, especially iron sands mining. The analyzed iron sand samples in this study were regionally taken from Nangapanda and Ende Districts for recognizance purposes. The compound of substances within samples based on a qualitative volumetric analysis indicates that the Total-Fe are 62.6 % and 50.3 %, and FeO are 30.5 % and 27.0 % each are for Nangapanda and Ende Districts. In contrast, to indicate the Fe2O3 compound, a quantitative volumetric shows the qualities are 55.6 % and 41.9 % for these two locations. TiO2 compound indicated from Spectrofotometric analysis are 9.57 % and 7.45 % for each location, and Ni compound was not indicated from AAS method for these two locations.
STRUKTUR GEOLOGI TELUK BONE - SULAWESI SELATAN Riza Rahardiawan; Lukman Arifin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 3 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (970.091 KB) | DOI: 10.32693/jgk.11.3.2013.238

Abstract

Morfologi dasar laut di daerah penelitian agak curam dan bergelombang, terdapat pada kedalaman laut antara 50 sampai 2000 meter. Pembentukan morfologi dasar laut ini sangat dipengaruhi oleh adanya gejala sesar-sesar aktif. Dari interpretasi runtunan seismik terlihat jelas adanya struktur- struktur geologi berupa sesar dan pelipatan. Adanya bentuk struktur bunga (flower structure) menunjukkan bahwa gejala tektonik aktif dari sesar Palu- Koro, Kolaka, Matano, Lawanopo masih berlangsung sampai sekarang. Keberadaan sesar-sesar aktif ini perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan gempa diseluruh Teluk Bone. Kata kunci: sesar aktif, struktur bunga, sesar Palu-Koro Morphology of study area shows a steep and a slighty wavy seabed with the depths between 50 to 2000 meters. The formation of this morphology is strongly influenced by the presence of active faults. Seismic sequence interpretation shows the geological structures such as faults and folds. The present of the flower structure suggest that tectonically active faults such as Palu-Koro, Kolaka, Matano, Lawanopo are under going until now. The present of these active faults need to be considered as it can generate the earthquake in the Bone Gulf. Keywords: active fault, flower structure, Palu-Koro fault
KANDUNGAN MINERAL PADA SEDIMEN PANTAI DAN LAUT, HUBUNGANNYA DENGAN BATUAN SUMBER DI PESISIR KABUPATEN REMBANG, JAWA TENGAH Deny Setiady; Ediar Usman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 9, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.154 KB) | DOI: 10.32693/jgk.9.3.2011.206

Abstract

Sedimen di sepanjang pantai Kabupaten Rembang terdiri atas sedimen muda (aluvial) dan sedimen tua (breksi dan batugamping). Sedimen muda merupakan sedimen lepas dan terdapat di daerah sedimentasi. Sedimen tua berupa sedimen kompak yang secara fisik mempunyai resisitensi tinggi terhadap abrasi Batuan yang terdapat di kawasan pesisir adalah: pasir kuarsa, andesit, tras kaolin, batugamping, batubara dan lempung. Peta sebaran sedimen dasar laut perairan Kabupaten Rembang, menunjukkan dominasi endapan pasir, lanau (pasir halus) dan lanau pasiran (pasir halus - kasar). Kandungan mineral yang terdapat di perairan Kabupaten Rembang terdiri dari: magnetit, pirit, hematit, zirkon, ilmenit diopsid, augit, hornblende, kuarsa, biotit, muskovit dan dolomit Kata Kunci: sedimen, mineral, Rembang The coastal sediment along the coastal of Rembang District consists of young sediment (alluvium) and old sediment (breccias and limestones). Young sediment is placer sediment that occupies the sedimentation area. Old sediment is massive sediment that has a high resistance to abrasion Rocks content in the coastal zone area consist of quarzt sand, andesite, caoline, limestone, trass, coal and clay. Seafloor surficial sediments map of the Rembang water area shows the domination of sand deposits, silt (fine sand) and sandy silt (fine to medium sand). Mineral content in Rembang waters area consists of magnetites, pyrites, hematites, zircons, ilmenite diopsides, augitse, hornblendas, quartzs, biotitse, muskovites and dolomites. Keywords: sediment, mineral, Rembang
KARAKTERISTIK DAN PROSES PENGENDAPAN SEDIMEN DASAR LAUT DI PERAIRAN GOSONG BUNGA, KUALANAMU KAB. SERDANG BEDAGEI, PROV. SUMATERA UTARA Ediar Usman; Dida Kusnida
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (945.263 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.2.2009.174

Abstract

Daerah penelitian terletak di perairan Gosong Bunga, lepas pantai Kualanamu dengan kedalaman antara 10 – 20 meter dan di bagian tengah hanya 2 - 3 meter pada saat air laut surut. Hasil analisis besar butir di daerah penelitian diperoleh beberapa jenis satuan tekstur sedimen dasar laut, yaitu: pasir lanauan, pasir, pasir lumpuran sedikit krikilan, lumpur pasiran, lanau pasiran, krikil pasiran, lumpur pasiran sedikit krikilan dan pasir sedikit krikilan. Berdasarkan hubungan antara besar butir dan persentase jumlah/frekuensi butiran; pengendapan sedimen dipengaruhi oleh arus sungai dan arus pantai dengan pola pergerakan butiran adalah saltasi, rolling (gulungan) dan sliding (dorongan) serta suspensi, dan secara umum membentuk pola saltasi. Sedangkan hasil analisis kimia pada beberapa contoh sedimen terpilih menunjukkan kandungan kuarsa (SiO2) berkisar antara 66,33 - 74,21% dan kandungan rata-rata sebesar 69,88%. Analisis fotomikro memperlihatkan komposisi utama adalah butiran kuarsa hampir 85%, mineral berat (magnetit, ilmenit, hematit dan limonit) 10% dan cangkang foram dalam keadaan utuh 5%. Hasil interpretasi rekaman seismik menujukkan ketebalan sedimen Kuarter di daerah penelitian antara 7 – 15 meter, di bagian tengah mencapai 20 meter. Kata kunci: sedimen dasar laut, proses pengendapan, pola pergerakan, lepas pantai Kualanamu The survey area is located on the Gosong Bunga waters, offshore of Kualanamu coast with waters depth between 10 – 20 meters, and part of central area only 2 – 3 meters depth on low sea level. Grain size analysis result from the survey area is several types of seafloor sediment textures silty sand, sand, slightly gravelly muddy sand, sandy mud, sandy silt, sandy gravel, slightly gravelly sandy mud and slightly gravelly sand. Based on relation between size, and cumulative and frequency percent of grains; depositional process of sediment influenced by river and coastal current with movement pattern are saltation, rolling, sliding and suspension, and generally to form a saltation pattern. While, result of chemical analysis on some the samples indicates that the quartz content (SiO2) content are between 66,73 – 74,21%, and the average content is 69,88%. Microphoto analysis indicates that the main content are quartz approximately 85%, 10% heavy minerals (magnetite, ilmenite, hematite and limonite) and good condition foram shell 5%. Seismic interpretation shows that the thickness of Quaternary sediments are about 7 to 15 meters except in the centre of the study area which is 20 meters. Keywords: seafloor sediment, depositional process, movement pattern, offshore of Kualanamu
JALUR MIGRASI DAN AKUMULASI GAS BIOGENIK BERDASARKAN PROFIL SEISMIK PANTUL DANGKAL DAN KORELASI BOR BH-2 DI PERAIRAN SUMENEP, JAWA TIMUR Faturachman Faturachman; Siti Marina
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 3 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1558.548 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.3.2007.142

Abstract

Pengambilan data seismik pantul dangkal di Perairan Sumenep dan pemboran inti sedalam 42 meter di pesisir selatan Sumenep dilakukan untuk memperlihatkan keadaan lapisan batuan dangkal. Profil seismik pantul dangkal memperlihatkan runtunan seismik A berumur Pra Kuarter dan runtunan seismik B berumur Kuarter – Resen. Runtunan A telah mengalami perlipatan dan pensesaran di mana di beberapa tempat diterobos oleh diapir lumpur, bahkan sampai ke permukaan laut. Runtunan B memperlihatkan pantulan transparan dan di beberapa tempat diterobos oleh diapir lumpur. Bor BH-2 memperlihatkan lempung hitam berumur Holosen – Resen yang ditemukan di atas Formasi Pamekasan yang berumur Pleistosen. Lempung hitam ini tersebar pada kedalaman 13.5 - 41 meter dengan kandungan gas metan sekitar 0.1 % mol yang terdeteksi pada kedalaman 17 – 18.5 meter dan 35.85 – 38.15 meter, serta didominasi oleh bakteri metanogenik Methanosarcina frisia yang menunjukkan lingkungan pengendapan estuaria. Kadar gas biogenik dangkal pada lempung hitam berjumlah kecil sehingga tidak potensial untuk dieksplorasi lebih lanjut. Kurangnya potensi gas biogenik dangkal di Perairan Sumenep kemungkinan disebabkan oleh proses tektonik, kondisi stratigrafi (sistem estuaria) dan struktur (rembesan gas ke atmosfer melalui patahan-patahan minor dan diapir lumpur) yang berpengaruh pada jalur migrasi dan akumulasi gas biogenik. Kata kunci: gas biogenik dangkal, migrasi, akumulasi, estuaria, diapir lumpur, lempung hitam Shallow seismic data acquisition in Sumenep waters and coring to 42 meter depth in shouthern coast of Sumenep were carried out to investigate a shallow sediment layers. The shallow reflection profiles indicate seismic sequence A of pre Quaternary and seismic sequence B of Quartenary Recent. Seismic sequence A was folded and faulted, whre in some places were intruded by mud diapirs which expose above water surface. Seismic sequence B indicates transparency reflection and in some places was intruded by mud diapirs. Core BH-2 indicates Holocene-Recent blacky clay that rest on the Pleistocene Pamekasan Formation. This blacky clay distribute at 13,5 – 41,5 meters depth with methane content about 0.1 % mol that detected at 17 – 18,5 meters depth and 35.05 – 38.15 meters depth, which is also dominated by metanogenic methanosarcinafrisia that indicates an estuaria depositional environment. The content of shallow biogenic gas within black clay is small, therefore it is inpotential to be futher explored. The lack of shallow biogenic gas in Sumenep waters. Key word : Shallow Biogenic Gas, Migration, Accumulation, Estuary, Mud diapir, Black clay.
PENERAPAN METODE F-K DEMULTIPLE DALAM KASUS ATENUASI WATER-BOTTOM MULTIPLE Subarsyah Subarsyah; Sahudin Sahudin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1951.252 KB) | DOI: 10.32693/jgk.11.1.2013.229

Abstract

Keberadaan water-bottom multiple merupakan hal yang tidak bisa dihindari dalam akuisisi data seismik laut, tentu saja hal ini akan menurunkan tingkat perbandingan sinyal dan noise. Beberapa metode atenuasi telah dikembangkan dalam menekan noise ini. Metode atenuasi multiple diklasifikasikan dalam tiga kelompok meliputi metode dekonvolusi yang mengidentifikasi multiple berdasarkan periodisitasnya, metode filtering yang memisahkan refleksi primer dan multiple dalam domain tertentu (F-K,Tau-P dan Radon domain) serta metode prediksi medan gelombang. Penerapan metode F-K demultiple yang masuk kategori kedua akan diterapkan terhadap data seismik PPPGL tahun 2010 di perairan Teluk Tomini. Atenuasi terhadap water-bottom multiple berhasil dilakukan akan tetapi pada beberapa bagian multiple masih terlihat dengan amplitude relatif lebih kecil. F-K demultiple tidak efektif dalam mereduksi multiple pada offset yang pendek dan multiple pada zona ini yang memberikan kontribusi terhadap keberadaan multiple pada penampang akhir. Kata kunci : F-K demultiple, multiple, atenuasi The presence of water-bottom multiple is unavoidable in marine seismic acquisition, of course, this will reduce signal to noise ratio. Several attenuation methods have been developed to suppress this noise. Multiple attenuation methods are classified into three groups first deconvolution method based on periodicity, second filtering method that separates the primary and multiple reflections in certain domains (FK, Tau-P and the Radon domain) ang the third method based on wavefield prediction. Application of F-K demultiple incoming second category will be applied to the seismic data in 2010 PPPGL at Tomini Gulf waters. Attenuation of the water-bottom multiple successful in reduce multiple but in some parts of seismic section multiple still visible with relatively smaller amplitude. FK demultiple not effective in reducing multiple at near offset and multiple in this zone contribute to the existence of multiple in final section. Key words : F-K demultiple, multiple, attenuation
ABRASI PANTAI DAN PENDANGKALAN KOLAM PELABUHAN JETTY PERTAMINA BALONGAN, INDRAMAYU MELALUI ANALISIS ARUS PASANG SURUT, ANGIN DAN GELOMBANG Lukman Arifin; Beben Rachmat
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 9, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1141.636 KB) | DOI: 10.32693/jgk.9.1.2011.197

Abstract

Masalah utama yang terjadi di perairan sekitar kolam Pelabuhan Jetty Pertamina Balongan, Indramayu adalah abrasi dan pendangkalan. Oleh karena itu dilakukan analisis mengenai pendangkalan kolam pelabuhan dan abrasi pantai di lokasi ini dengan menggunakan data arus stasioner, trayektori arus, pasang surut dan hindcasting gelombang. Data penelitian lapangan selama satu bulan memperlihatkan telah terjadi proses pendangkalan dan abrasi pantai di sekitar area Pelabuhan Jetty Pertamina. Proses ini terjadi akibat terganggunya laju sedimen yang berasal dari selatan ke utara dan sebaliknya oleh aliran arus sejajar pantai dan arus pasang surut karena keberadaan Pelabuhan Jetty Pertamina (terganggunya kesetimbangan suplai sedimen). Kecepatan arus pasang surut pada tiga kedalaman berbeda rata-rata berkisar antara 0.168 – 0.215 m/s dan kecepatan arus terbesar sebesar 0.371 m/s terjadi pada saat spring tide. Arus pasang surut dan arus sejajar pantai secara bersinergi mempercepat terjadinya abrasi pantai dan pendangkalan kolam Pelabuhan Jetty. Laju abrasi pantai di perairan ini berdasarkan data PPPGL tahun 2003 adalah sebesar 1 – 4 m per tahun. Salah satu upaya untuk menanggulangi abrasi dan pendangkalan di kolam Pelabuhan Jetty terlebih dahulu harus di lakukan studi pemodelan. Studi pemodelan ini digunakan untuk melihat gambaran secara dinamis kondisi hidro dinamika perairan yang berhubungan dengan proses terjadinya pendangkalan dan abrasi, serta untuk menentukan tipe bangunan pantai yang sesuai. Kata kunci : pelabuhan, jetty, sedimentasi, pendangkalan, abrasi, arus, sedimen The main problem that occured around the pool of port Pertamina Jetty Balongan, Indramayu is abrasion and shoaling. Therefore an analysis of the shoaling pool of port and coastal abrasion in this location was conducted by using the stationary current data, trajectory current, tide and wave hindcasting. Data of one-month field observation shows there has been shoaling and coastal abrasion processes in the areas sorrounding port Pertamina Jetty. This process occurs due to disruption of the rate of sediment derived from south to north and vice versa by the current flow parallel to the coast and tidal current because of the presence of Pertamina Jetty port (disturbance of equilibrium sediment supply). The velocity of tidal currents on three different average depths ranging from 0.168 – 0.215 m/s and the largest flow velocity of 0.371 m/s during spring tide. The direction of static current measurement and float tracking south-southeast trending dominant at low tide and northwest-north at high tide. Tidal current and longshore current sinergies to accelerate the occurence of coastal abrasion and shoaling pool of Harbour Jetty. The rate of coastal abrasion in this water based on PPPGL data of 2003 that is 1 – 4 m/s per year. One effort to overcome abrasion and shoaling in pool Harbour Jetty should be done prior modeling studies. This modeling study is used to portraya water hydro dynamics associated with the process of shoaling and abrasion, as well as determine the appropriate types of coastal structures. Keyword : ports, jetties, sedimentation, shoaling, abrasion, currents, sediment
PENELITIAN DINAMIKA PESISIR MUARA SUNGAI COMAL DAN SEKITARNYA, JAWA TENGAH, DITUNJANG OLEH PENAFSIRAN DATA FOTO UDARA DAN CITRA SATELIT Prijantono Astjario; Yudi Darlan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.577 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.1.2009.165

Abstract

Perubahan garis pantai di kawasan pesisir Kabupaten Tegal, Pemalang dan Pekalongan disebabkan oleh aktifitas sungai-sungai yang bermuara di pantai utara Pulau Jawa. Sungai-sungai tersebut mengangkut material sedimen yang disebarkan di Laut Jawa dan diendapkan kembali di sepanjang garis pantai oleh aktivitas gelombang laut mengakibatkan kawasan pesisir utara Pulau Jawa mengalami akresi. Iklim turut berperan dalam mempengaruhi perubahan garis pantai tersebut, khususnya pada musim hujan dimana air sungai akan meluap dan membanjiri kawasan pesisir dan mengendapkan material sedimen yang berlebihan. Citra Landsat 7 ETM+ hasil rekaman tahun 2002 menunjukan bentukan delta muara sungai Comal yang mengalami perubahan membentuk “cuspate”. Perubahan garis pantai di mulut muara diperkirakan karena arah muara sungai Comal selalu berpindah-pindah seirama dengan jumlah pasokan air sungai dan material sedimen terangkut, iklim serta aktivitas gelombang dan arus yang bergerak saat itu. Kata kunci : garis pantai, iklim, banjir, akresi dan cuspate. Coastline changes in Kabupaten Tegal, Pemalang and Pekalongan are caused by the rivers activity which spread out to the Java Sea. The sediment materials have been transported and distributed to the Java-sea and redeposited along the coastline by wave activities. Consequently, the coastline has been rapidly accreted by sedimentary processes. Closely climatic supported coastline changes during the rainy season, flooding covered river mouth area and deposited all sediment materials. Landsat 7ETM+ Satellite imageries recorded in 2002; delta form in river mouth of Comal River has been changed into cuspate delta form. The changes of delta configuration especially in the river mouth area have been interpreted by river water supply, sediment materials, climatic, wave and current activities. Keywords: coastline, climatic, flood, cuspate and accression.
PROSES SEDIMENTASI SUNGAI KALIJAGA, DAN SUNGAI SUKALILA PERAIRAN CIREBON Deny Setiady; Asep Permana
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 1 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.553 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.1.2007.133

Abstract

Berdasarkan hasil analisis besar butir sebanyak 36 percontoh sedimen permukaan dasar laut di Perairan Cirebon, didapatkan 4 jenis sedimen: lanau, lanau pasiran, pasir lanauan dan pasir. Sedimen lanau, lanau pasiran, dan pasir, tersebar di lepas pantai Cirebon dan muara Sungai Kalijaga, sedangkan pasir lanauan di muara sungai Sukalila. Dari Peta Batimetri terlihat daerah dangkal di sekitar muara Sungai Kalijaga. Sedimen paling tebal terdapat di sekitar muara Sungai Kalijaga dan Sungai Sukalila. Sedimen tersebut tersebar ke arah lepas pantai dan ke daerah rencana lokasi pelabuhan. Di muara Sungai Kalijaga sedimennya berupa pasir. Berdasarkan plot pada grafik antara ukuran besar butir terhadap persen frekuensi, didapatkan hasil sedimen dengan persen frekuensi yang tinggi antara 2.25 phi - 2.75 phi atau pasir sedang sampai pasir halus. Berdasarkan grafik frekuensi kumulatif terhadap besar butir terdapat 2 cara transpor yaitu traksi untuk butiran pasir sedang dan saltasi untuk kisaran butiran lanau sampai pasir halus. Kata Kunci : S. Kalijaga, S. Sukalila, Cirebon, besar butir, sedimen Based on grain size analysis of 36 seafloor surficial sediment samples from Cirebon Water; there are 4 types of sediments silt, sandy silt, silty sand and sand. Silt, sandy silt and sand are distributed offshore of Cirebon and in the river mouth of Kalijaga, while silty sand is in the river mouth of Sukalila. From the bathymetric map the shallow water can be observed in Kalijaga river mouth. The thicker sediments are found in Kalijaga mouth and Sukalila river. These sediments have been transported to the offshore and to the proposed Harbour location. Sediment in Kalijaga river mouth is sand. Based on graphic presentation between grain size and percent frequencies, it indicates that the percentage of higher frequencies ranges between 2.25 TO 2.75 phi. Based on the cumulative frequency to grain size graphic, there are two transport modes: traction for medium size sand and saltation for grain size range silt to fine sand. Keywords : Kalijaga River, Sukalila River, Cirebon, grain size, sediment
GEOLOGI LINGKUNGAN KAWASAN PESISIR PULAU KECIL TERLUAR PULAU MIANGAS, KABUPATEN KEPULAUAN TALAUD SULAWESI UTARA Catur Purwanto; Purnomo Raharjo
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3341.087 KB) | DOI: 10.32693/jgk.13.1.2015.261

Abstract

Pulau Miangas merupakan salah satu pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan Filipina. Pulau ini termasuk dalam wilayah Check Point Border Crossing Agreement. Berdasarkan pengamatan lapangan hampir seluruh bagian Pulau Miangas mengalami proses abrasi cukup kuat. Posisi pulau ini berada di laut lepas tanpa ada penghalang baik berupa pulau atau gosong, yang berfungsi sebagai penahan gelombang. Pulau ini dapat berdiri kokoh karena batuan dasarnya mempunyai tingkat resistensi tinggi seperti batuan Gunungapi Miangas yang ditindih secara tidak selaras oleh batugamping koral. Di beberapa bagian pantai rawan terhadap abrasi. Untuk mengurangi akibat abrasi diusulkan dibangun pelindung pantai. Kedalaman air di sekitar pulau ini antara 5 m – 110 m. Laut terdalam terdapat di bagian baratdaya yang berjarak 500 m dari garis pantai. Terdapat tiga jenis pantai di Pulau Miangas yaitu pantai berpasir, berbatu, dan bertebing terjal. Kata Kunci: Kesepakatan titik batas, geografis, abrasi, resistensi, Pulau Miangas Miangas island is one of the outermost islands of Indonesia wich is bordering with Philippines. This island is known as area Check Point Border Crossing Agreement. Based on field observations, almost all parts of the island of Miangas undergoes the process of abrasion that occur are strong enough. This island is located on the high seas without any barrier whether it be other islands or the sandbar that serves as the anchoring of the wave. Although the abrasion occurred in the coastal areas but it is still able to stand firm because the rocks are essentially has a high level of resistance such as Miangas volcanic rock which is covered by unconformity coral limestone. Parts of the coast are resistance to abrasion. To reduce the abrasion are proposed to built coastal protection. The depth of the sea floor that measured is between 5 m-110 m. The inner Area is approximately 500 m from the shoreline. There are three types of the beach on the Miangas island such as sandy beaches, rocky, and hilly beach. Keywords: Check Point Border Crossing Agreement, geographical, abrasion, resistance, Miangas island

Page 3 of 29 | Total Record : 284