cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 284 Documents
PENDANGKALAN ALUR PELAYARAN DI PELABUHAN PULAU BAAI BENGKULU Lukman Arifin; Juniar P. Hutagaol; Mustafa Hanafi
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 1, No 3 (2003)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (914.391 KB) | DOI: 10.32693/jgk.1.3.2003.101

Abstract

Alur pelayaran di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu selalu mengalami pendangkalan. Untuk mengetahui penyebab pendangkalan tersebut maka akan diberikan beberapa informasi hasil kajian geofisika kelautan dari beberapa metoda. Metoda tersebut terdiri dari pengukuran kedalaman laut, pengukuran arus dan pasang surut. Hasil pengukuran kedalaman laut memperlihatkan bahwa kedalaman yang paling dalam di bagian kolam pelabuhan adalah sekitar 12 meter dan yang terdalam di daerah alur juga 12 meter. Pengukuran arus laut memperlihatkan bahwa kecepatan arus pada saat pasang tertinggi lebih tinggi daripada kecepatan arus pada saat surut terendah. Pengendapan lebih besar terjadi pada saat air pasang, apalagi ditambah dengan adanya arus sepanjang pantai yang membawa sedimen ke arah alur. Tipe pasang surut laut di pelabuhan ini adalah tipe campuran ganda, artinya pasang dan surut akan terjadi sekali atau dua kali dalam sehari. Adapun perbedaan tinggi muka air pada saat air pasang dan saat air surut adalah 1,53 meter. Shoaling always occurs in the sailing channel of Pulau Baai Bengkulu Harbour. To know the reason of the shoaling, some information based on the result, of the analysis of several methods of marine geophysical survey are therefore presented. The methods are echo-sounding, sea current and tide measurement. Result of sounding shows that the deepest depth in the lagoon area is around 12 metres and the depth in the channel area is also 12 metres. Result of sea current measurement shows that current velocity during the spring tide is higher than the velocity during the neap tide. Sedimentation is higher in the spring tide, moreover it is increased by the existence of long shore current which transport the sediments into the channel. The type of the sea tide in the harbour is a mixed semi diurnal type which means that the spring and the neap will occur once or twice a day. The height of sea water level difference between spring tide and neap tide season is 1.53 metres.
KARAKTERISTIK PANTAI KAWASAN PESISIR LARANTUKA DAN SEKITARNYA, P. FLORES TIMUR DAN KAWASAN PESISIR P. ADONARA BARAT Prijantono Astjario; Ai Yuningsih
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 8, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1048.271 KB) | DOI: 10.32693/jgk.8.2.2010.188

Abstract

Kawasan pantai Larantuka berada di pantai timur Pulau Flores dan kaki Gunungapi Ile Mandiri membentuk bentang alam pesisir bertebing curam dan landai. Kawasan pesisir dapat diklasifikasikan dalam tiga tipe pantai, yaitu tipe pantai bertebing berbatu, pantai berpasir dan pantai berbakau. Tipe pantai bertebing berbatu berada pada kaki gunungapi dibatasi oleh lava. Tipe pantai berpasir merupakan kawasan pantai dengan bentang alam landai sedangkan kawasan pantai berbakau tersebar cukup luas khususnya pada teluk dangkal. Pulau Adonara didominasi oleh produk gunungapi tua yang terdiri dari lava, breksi gungungapi dan pasir-tufa gampingan. Kawasan pantai tipe bertebing berbatu ditempati oleh batugamping terumbu serta lava. Sedangkan tipe pantai berpasir yang membentuk bentang alam landai ditempati pasir serta kerikil volkanik dengan terkadang ditemui tumbuhan bakau. Kata kunci : kawasan pesisir, bakau, bongkah, dan lava Lanrantuka area lies on the eastern coast of Flores island and in the foot of the Ile Mandiri mountain. The Larantuka area has steep and slightly slopes. Coastal morphology can be classified into three beach types, steep and stony, sandy and mangrove beaches. The steep and stony beach lie on foot of a mountain with lava boulder. The sandy beach has slightly slope coast line and mangrove beach develops widely in area specially in the shallow bay. Adonara island is dominated by old volcanic products, which are composed of lava, volcanic breccia and calcareous-sandy tuff. The coastal type with steep and stony beach is covered by coral limestone and lava. The sandy beach has slightly slope coast line covered by sand and gravel volcanics with occasionally mangrove trees. Key words : coastal, mangrove, boulder and lava.
KONTRIBUSI PENTARIKHAN RADIOKARBON PERCONTOH TERUMBU KARANG PADA BATUGAMPING DI PANTAI SELATAN KABUPATEN WONOGIRI, JAWA TENGAH, TERHADAP NEOTEKTONIK KUARTER Prijantono Astjario; D.A. Siregar
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 2 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.63 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.2.2008.156

Abstract

Wilayah pantai Ngungap, kawasan pesisir selatan Wonogiri, Jawa Tengah merupakan daerah jalur anjak dimana terumbu karang Kuarter tersingkap dari garis pantai hingga pebukitan tinggi. Enam undak laut terbentuk sejajar dengan garis pantai hingga mencapai ketinggian lebih dari 300 meter di atas muka laut. Hasil pentarikhan Radiokarbon tiga fosil terumbu karang dari undak laut termuda yang dapat berkontribusi terhadap perhitungan proses pengangkatan kawasan pantai Ngungap. Undak laut termuda menunjukan bahwa rata-rata aktivitas tektonik pengangkatan diwilayah pantai Ngungap, kawasan pesisir selatan Wonogiri adalah 5 mm/tahun. Pengangkatan rata-rata pesisir selatan Wonogiri jauh berbeda dengan kecepatan kawasan pantai-pantai tektonik aktif lainnya di Indonesia. Kata kunci : anjak, terumbu karang, undak laut, pentarikhan, pantai Ngungap Jawa Tengah The Ngungap coast of the southern coastal zone of Wonogiri, Central Jawa, situated in the central portion of the arcuate thrustbelt where Quaternary reefs show maximal elevation from coastline up to high hinterland. Six terraces have been formed parallel to the coast line and extensively exposed up to more than 300 meters above mean sea level. Three Radiocarbon dating of coral reef derived from the lowest terraces can be contributed to the uplift calculation in the Ngungap area. The lowest terrace alows uplifting tectonic activity in the coast of Ngungap in the order of 5 mm/years. The uplift rate of southern coast of Wonogiri is different to the rate of active tectonic coastal areas in the eastern Indonesian region. Keywords: thrustbelt, reef, terrace, dating, Ngungap coast of Central Java
RESPON MIKROFAUNA (OSTRACODA) TERHADAP KONDISI LINGKUNGAN SEKITAR PULAU BANGKA, SULAWESI UTARA Kresna Tri Dewi; Godwin Latuputty; Yusuf Adam Priohandono; Catur Purwanto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1471.564 KB) | DOI: 10.32693/jgk.15.1.2017.375

Abstract

Ostracoda merupakan kelompok mikro-organisme yang dapat terawetkan dalam sedimen dasar laut, termasuk dasar perairan sekitar Pulau Bangka, Sulawesi Utara. Pulau ini terkenal akan keindahan alam bawah laut dan penambangan bijih besi di kawasan pesisir. Perubahan lingkungan di pesisir tersebut secara tidak langsung berpengaruh terhadap kondisi dasar perairan laut sebagai habitat biota. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui respon ostracoda terhadap perubahan lingkungan perairan tersebut. Studi ini menggunakan 10 sampel sedimen dasar laut hasil cucian dilanjutkan dengan analisa mikropaleontologi (tahap penjentikan, identifikasi spesies, penghitungan spesimen dari setiap spesies, pengolahan data, dokumentasi spesimen) dan analisa sedimentologi (SEM-EDX). Keterdapatan Bairdopillata, Neonesidea, Paranesidea dan Quadracythere (BL16-010) yang hidup berasosiasi dengan kondisi terumbu karang mencerminkan suatu perairan dalam kondisi cukup bagus. Di titik lokasi lain (BL16-015 dan BL16-030) ditemukan mikrofauna dengan cangkang abnormal (rusak, kehitaman) yang mengandung C (59-86%), Al2O3(2%), SiO2 (1-7%), dan MnO (2%). Dijumpainya cangkang abnormal merupakan salah satu respon mikrofauna terhadap perubahan lingkungan di daerah penelitian.Kata Kunci: ostracoda, cangkang abnormal, SEM-EDX, Pulau Bangka, Sulawesi Utara Ostracoda is a group of micro-organism that could be preserved in marine sediments, including on the seafloor of Bangka Island, North Sulawesi. This island is famous as beautiful underwater place and iron mining in the coastal area. The environmental changes in the coastal area indirectly influence the seafloor condition as biotic habitats. The purpose of this study is to know the response of ostracoda to this coastal environmental change. This study used ten washed residue of surface sediment samples followed by micropaleontological analysis (picking, identification of species, specimen calculation every species, data processing, specimen documentation), and sedimentological analysis (SEM-EDX). The occurrences of Bairdopillata, Neonesidea, Paranesidea dan Quadracythere (BL16-010) that associated with coral reef communities reflect a good marine condition. In another sampling location (BL16-015 and BL16-030), it is found abnormal microfaunas (broken, blackish) that composed of C (59-86%), Al2O3 (2%), SiO2 (1-7%), and MnO (2%). The finding of these abnormal shells is one of the microfaunal response to environmental changes in the study area. Keywords : ostracoda, abnormal shell, SEM-EDX,Bangka Island, North Sulawesi
POTENSI AGREGAT SERTA DAMPAK YANG TIMBUL BILA DILAKUKAN EKSPLOITASI DI PANTAI DAN LEPAS PANTAI MUARA SUNGAI SAMBAS KALIMANTAN BARAT Wayan Lugra; Abdul Wahib
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 3, No 2 (2005)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.894 KB) | DOI: 10.32693/jgk.3.2.2005.124

Abstract

Berdasarkan hasil analisis besar butir menunjukan bahwa jenis sedimen permukaan dasar laut daerah penelitian terdiri dari 4 jenis sedimen yaitu lanau, lanau pasiran, pasir lanauan dan pasir. Sedangkan jenis agregat yang dijumpai adalah berupa jenis agregat kasar yaitu pasir dan batu belah. Pasir adalah salah satu jenis agregat di daerah penelitian dan ditemukan bersama-sama dengan batu belah. Agregat pasir tersebar di bagian utara daerah penelitian dengan luas sebaran sekitar 2,238 km2 sementara di bagian selatan daerah penelitian, pasir tersebar di pantai Tanjung Bila diperkirakan menerus ke laut dengan luas sebaran kurang lebih 2,189 km2. Agregat berupa batu belah yang dijumpai adalah sebagai batuan beku terobosan berupa andesit, dasit, granodiorit, gabro dan basal. Dibagian utara daerah penelitian agregat batu belah dijumpai di Tanjung Kalangbau berupa bukit kecil dengan ketinggian sekitar 20 meter dengan luas sebaran 0,7079 km2 . Di bagian selatan agregat batu belah terdapat di Tanjung Batu berupa bukit kecil dengan sebaran kurang lebih 0,2920 km2. Pemanfaatan agregat pasir di daerah penelitian akan menjadi masalah jika tidak terekomendasi. karena akan mengganggu kesetimbangan pantai, seperti pantai akan terabrasi terutama saat musim barat. Based on grain size analyses the surfacial sediment of the study area consist of 4 sediment types such as silt, silty sand, sandy silt, and sand. While the aggregates found in the surveyed area were coarse aggregate namely sand and broken stone. Sand is one of the aggregate in the study area and it is found together with broken stone. Distribution of sand aggregate in the northern part of the study area covered the area about 2,238 km2, while in the southern part, at Tanjung Bila their distribution seemly continous to the sea and covered the area about 2,189 km2. The broken stone found at the study area as an instrusive rock those are andesite, granodiorite, gabro and basalt. In the northern part of study area, the broken stones, found at Tanjung Kalabahu as a small hill about 20 meter high and cover the area about 0,7079 km2 While in the southern part of study area the broken stone found at Tanjung Batu and it covers the area about 0,2920 km2 The utilization of all agregates at the study area become a problem if it is not well recommended, it would disturbed the equilibrium of coast line, such as abration especially in west monsoon.
LINGKUNGAN DAN EVOLUSI TEKTONIK BATUAN DAN SEDIMEN BERDASARKAN UNSUR KIMIA UTAMA DI PERAIRAN BAYAH DAN SEKITARNYA, PROVINSI BANTEN Ediar Usman; Udaya Kamiludin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1585.17 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.3.2014.252

Abstract

Pengeplotan data unsur kimia pada diagram SiO2 vs K2O untuk sampel sedimen dasar laut cenderung terjadi kenaikan SiO2 dan penurunan K2O, sehingga arah evolusi berkembang dari kalk-alkalin sedang ke kalk-alkalin rendah (toleitik). Pada sampel batuan beku dan sedimen hasil pemboran memperlihatkan pola evolusi magma sebaliknya, terjadi kenaikan SiO2 dan K2O dalam seri magma yang sama (toleitik). Kondisi ini diperkuat oleh diagram segitiga AFM (A = Na2O+K2O; F = FeOtotal ; M = MgO) yang menunjukkan sebagian besar sampel yang diplot berada antara toleitik dan kalk-alkalin sedang. Hasil ini memberi kesimpulan bahwa batuan ini bersifat transisi antara toleitik dan kalk-alkalin sedang, dan condong ke arah seri toleitik sebagai indikasi batuan berasal dari daerah samudera. Berdasarlan pengeplotan pada diagram segitiga TiO2 – 10MnO – P2O5, lingkungan tektonik batuan beku di pantai Cibobos, sedimen dasar laut dan sedimen pemboran pada umumnya berada pada lingkungan tektonik andesit kepulauan samudera dan sebagian busur benua. Hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sedimen di daerah Bayah berhubungan dengan seri magma dengan afinitas rendah mulai toleitik hingga kalk-alkalin sedang dan batuan samudera yang menyusup ke busur kepulauan atau busur benua. Hasil ini dapat mengetahui lingkungan dan evolusi batuan sumber sehingga diharapkan bermanfaat dalam kegiatan ekplorasi sumber daya mineral dan energi di masa mendatang. Kata kunci: unsur kimia utama, lingkungan tektonik, evolusi, kerak samudera dan kontinen, perairan Bayah Plotting of major elements data of the seafloor sediment samples on diagram of SiO2 vs K2O tends to increase the SiO2 and decrease the K2O, therefore the direction of evolution develop from medium to low calc-alkaline (tholeitic). From igneous rocks and drilling sediment samples shows that the evolution magma has the opposite pattern, increasing of SiO2 and K2O in the same magma series ( tholeitic). This condition is confirmed by the triangular diagram of AFM (A = Na2O+K2O; F = FeOtotal ; M = MgO) that shows the most of plotted samples are between medium calc-alkaline and tholeitic. This result give a conclusion that these rocks are at transitional area between tholeitic and medium calc-alkaline, and tend towards tholeitic series as an indication of rocks from oceanic zone. Based on plotting on the triangular diagram of TiO2 - 10MnO - P2O5, tectonic environment of igneous rocks in the coast of Cibobos, surface and drilling sediment samples, in general these samples are in the tectonic environment of oceanic islands andesite and partial of continental arc. From this study, it can be concluded that the sediment in the Bayah area is associated with affinity magma series from low kalk-alkaline (tholeitic) to medium calc-alkaline, and oceanic crust is being subducting to continental arc. This result could recognize the environment and the evolution of source rocks, therefore it may useful in the exploration activities of mineral and energy resources in the future. Keywords: major elements, tectonic environment, evolution, continental and oceanic crust, Bayah waters.
STRATIGRAFI SEISMIK CEKUNGAN ARU, PAPUA BARAT Dida Kusnida; Tommy Naibaho; Yulinar Firdaus; Ali Albab
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (917.195 KB) | DOI: 10.32693/jgk.16.2.2018.548

Abstract

Studi rekaman seismik multi-kanal dari Cekungan Aru, Papua Barat yang diperoleh dengan menggunakan KR Geomarin III pada tahun 2016, bertujuan untuk menginventarisir dan memetakan aspek-aspek geologi serta untuk studi geo-tektonik dan sejarah geologi. Data seismik menunjukan bahwa urutan sedimen di Cekungan Aru ditandai oleh sedimen pra-ekstensi, sedimen sin-ekstensi, sedimen pos-ekstensi dan sedimen sin-inversi. Pengamatan mikroskopis inti sedimen permukaan dasar laut umumnya menunjukkan adanya fragmen cangkang kerang dan foraminifera, mineral mafik dan residu organik dari lignit berwarna coklat kehitaman. Kata kunci: Cekungan Aru, stratigrafi seismik, sedimen.Study on multi-channel seismic records from the Aru Basin, West Papua obtained using RV Geomarin III in 2016 were aimed to invent and map geological aspects and for geo-tectonic and geological history studies. Seismic data confirmed that sediment sequence in Aru Basin is characterized by pre-extension sediments, syn-extension sediments, syn-extension sediments and syn-inversion sediments. Microscopic observations of the core of surficial sediments generally show the presence of shell fragments and foraminiferas, mafic minerals and organic residuals of blackish-brownish lignite. Key words: Aru Basin, seismic stratigraphy, sediments.
POTENSI KEBENCANAAN GEOLOGI DI KAWASAN PESISIR SELATAN D.I. YOGYAKARTA Yudhicara Yudhicara; Ai Yuningsih; Moch. Akrom Mustafa; Nur Adi Kristanto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 1, No 1 (2003)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.894 KB) | DOI: 10.32693/jgk.1.1.2003.92

Abstract

Hasil penyelidikan geologi dan geofisika kelautan di kawasan pesisir dan perairan selatan Yogyakarta, menunjukkan bahwa kawasan Pesisir Yogyakarta perlu diwaspadai terhadap bencana geologi seperti tsunami, abrasi, dan sedimentasi/pendangkalan. Adanya perbedaan parameter oseanografi, karakteristik pantai dan jenis litologi, menjadikan hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan tata ruang pantai.Upaya pemeliharaan kelestarian pelindung alami dan buatan sangat membantu pengembangan wilayah, khususnya di kawasan pesisir Yogyakarta. The result of marine geological and geophysical investigation in southern coastal areaand waters of Yogyakarta indicates that this area has to be paid attention from the geological hazards, such as tsunami, abrasion and sedimentation. The differences of oceanographical parameters, coastal characteristics and lithologies, has to be mentioned in coastal development planning. The natural and artificial protection will support in coastal development especially in Yogyakarta coastal area.
GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DASAR LAUTPERAIRAN LEMBAR PETA 0421, DAERAH ISTIMEWA ACEH Nyoman Astawa; Imelda R. Silalahi; Riza Rahardiawan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 10, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1598.529 KB) | DOI: 10.32693/jgk.10.2.2012.220

Abstract

Hasil kegiatan penelitian geologi kelautan Lembar Peta 0421menghasilkan data seismik dan pemeruman sepanjang lebih kurang 963,73 kilometer. Dari peta batimetri ditemukan beberapa kelurusan dengan arah hampir baratlaut-tenggara dan diduga merupakan sesar. Hasil penafsiran data menunjukkan bahwa stratigrafi rekaman seismik, daerah penelitian secara garis besar dapat dibagi menjadi 4 (empat) unit yaitu unit 1; unit 2; unit 3, dan unit 4. Jika dikaitkan dengan geologi regional daerah penelitian, unit 1 diduga dapat disebandingkan dengan Formasi Peunasu berumur Miosen, unit 2 diduga dapat disebandingkan dengan Formasi Seurula & Formasi Julurayeu berumur Pliosen, unit 3 diduga dapat disebandingkan dengan endapan volkanik Toba berumur Plistosen, dan unit 4 diduga dapat disebandingkan dengan aluvial berumur Holosen. Pembagian unit tersebut berdasarkan pada adanya bidang tidakselarasan (onlap), dan pepat erosi (erosional truncation). Kata kunci : lembar peta 0421, unit seismik, ketidakselarasan. The results of marine geological investigation of map of sheet 0421 gave a data of seismic and sounding approximately 963.73 kilometers long. Bathymetric map indicates some alignment with the direction of nearly northwest-southeast and presumed to be faults. Seismic data interpretation indicate that the stratigraphy of the study area can broadly be divided into 4 (four) units those are unit 1; unit 2; unit 3, and unit 4. Correlation balance with regional geology, show that seismic, unit 1 correlates with Peunasu Formation of Miocene, unit 2 correlates with Seurula Formation and Julurayeu Formation of Pliocene, unit 3 correlates with Old Toba volcanic deposites of Pleistocene, and unit 4 correlates with Alluvium of Holocene. The division of seismic units was based on unconformity (onlap) and (erosional truncation). Keywords: map of sheet 0421, seismic units, unconformity.
DINAMIKA MORFOLOGI DAERAH SISI LUAR (OUTER) DELTA MAHAKAM KALIMANTAN TIMUR, INDONESIA Haryadi Permana; Praditiya Avianto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1596.878 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.1.2008.147

Abstract

Bentuk morfologi bagian luar (outer) delta Mahakam, khususnya Muara Pegah, (Kalimantan Timur) sangat dinamis. Pengukuran batimetri pada dua musim dan tahun berbeda menunjukan proses sedimentasi dan erosi serta progradasi delta meskipun tidak diikuti oleh perubahan garis pantai yang jelas seperti diamati dari citra satelit. Peta batimetri 2005 menunjukan proses sedimentasi yang intensif sedangkan batimetri 2006 menunjukan proses erosi pada delta bagian luar. Secara umum, bila dibandingkan dengan peta batimetri 1989, delta bagian luar Muara Pegah telah mengalami progradasi. Proses progradasi delta bagian luar Muara Pegah dicirikan oleh proses pergeseran garis kedalaman (batimetri) 5 m sampai 20 m telah bergeser ke arah laut atau ke tenggara disebabkan telah terjadinya penimbunan sedimen dalam jumlah yang cukup berarti. Ke arah luar dari delta front, pada kedalaman 20 m atau lebih, bentuk batimetri dipengaruhi oleh arus di Selat Makassar yang mengalir secara kontinu ke arah utara. Pemodelan perubahan batimetri pada kawasan Muara Pegah menggambarkan telah terjadinya erosi dasar sungai secara kontinu sebagai pengaruh dari besarnya debit sungai yang mengalir melalui muara menuju laut lepas. Proses erosi sebagai akibat kondisi arus pasang surut juga terlihat di luar muara Pantai Muara Pegah, akan tetapi besarnya sangat bergantung terhadap kondisi arus pasang surut. Kata Kunci: morfologi delta bagian luar, proses sedimentasi, erosi, progradasi, batimetri, pemodelan, pasang surut The outer delta morphology form of Mahakam delta, e.g. Muara Pegah (East Kalimantan) is very dynamic. The bathymetry of different seasons and times indicate sedimentation, erosion processes and delta progradation although do not followed coastal line changes as shown by satellite image. The bathymetry map in 2005 show the intensive sedimentation process while in 2006 the bathymetry map indicate the erosion process of the outer delta. In general, since it is compared to the 1989’s bathymetry map, the outer delta of Muara Pegah had undergone progradation. The delta progradation of Muara Pegah is characterized by seaward displacement (southeastward) of 5 m and 20 m contour depth as it caused by significance sediment accumulations. To the outer delta front at 20 m depth or more, the bathymetry pattern is influenced by Makassar Strait currents flowing continuously to the North. The dynamics bathymetry modeling of Muara Pegah illustrates a continuous erosion of the river base being influenced by the important river debit that flows via delta to the open sea. The tide erosion process is also observed at the outer part of Muara Pegah coast line, but the intensity is depend on tide condition. Keyword: outer delta morphology, sedimentation processes, erosion, prograde, bathymetry, modeling, tide

Page 4 of 29 | Total Record : 284