cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa
ISSN : 1693685X     EISSN : 25802143     DOI : -
Core Subject : Education,
METALINGUA is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in Metalingua have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. METALINGUA is published by West Java Balai Bahasa twice a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 205 Documents
Multimodalitas dalam Gambar Iklan Luwak White Koffie Versi Lee Min-Ho” Yunita Sari
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 15, No 2 (2017): METALINGUA EDISI DESEMBER 2017
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.597 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v15i2.73

Abstract

The background of this research is a phenomenon about Indonesia coffee advertisementusing a well-known South Korean actor as its brand ambassador. The problemof this study is how multimodality in Luwak White Koffie Lee Min-Ho version advertisementposter is presented on their official Facebook page during 2016. Thepurpose of this paper is to analyze the hidden meaning within such advertisementposted on their official Facebook page during 2016 as a main source, using qualitativemethod and Kress and van Leeuwen’s social semiotics theories about multimodalitywith three metafunctions, namely representational, interpersonal, and compositional.The result of this study shows a representation of fantasy of drinking coffeelike the model in the poster. The three metafunctions shows shifting of focus from thecoffee as a product to the brand ambassador. Such excessive focus on Lee Min-Hoas the brand ambassador aims to attract the attention of young costumers who areactive in social media as their target market. It is concluded that the use of a SouthKorean actor as the brand ambassador of Indonesian coffee product is due to HallyuWave effect in Asia. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi adanya fenomena poster iklan produk kopi Indonesiadengan menggunakan model iklan seorang aktor terkenal dari Korea Selatan.Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana multimodalitas yang ditampilkandalam poster iklan Luwak White Koffie versi Lee Min-Ho di laman Facebook tahun2016. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna terselubung dari posteriklan Luwak White Koffie di laman Facebook tahun 2016 dengan Lee Min-Hosebagai duta merek. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatifdengan sumber data utama poster iklan di laman Facebook Luwak White Koffie versiLee Min-Ho tahun 2016. Teknik analisis penelitian ini menggunakan sosial semiotikdari Kress dan van Leeuwen tentang multimodalitas yang terdiri atas metafungsirepresentasional, interpersonal, dan komposisional untuk menganalisis unsur-unsurdi dalam poster iklan tersebut dan dilanjutkan dengan pemaknaan poster iklan. Hasilpemaknaan atas poster iklan ini menunjukkan adanya representasi mengenai fantasitentang minum kopi. Ketiga metafungsi di atas menunjukkan bahwa ada pergeserandari fokus produk kopi menuju fokus kepada duta merek. Fokus berlebihan terhadapduta merek seorang Lee Min-Ho pada poster iklan ini bertujuan untuk menarikperhatian konsumen muda yang aktif menggunakan sosial media. Simpulan penelitianini adalah bahwa penggunaan model iklan aktor terkenal dari Korea Selatan ternyatamerupakan salah satu konsekuensi dari maraknya Gelombang Hallyu di Asia secaraluas.
Pengantar Semiotika: Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer nfn Nengsih
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 14, No 1 (2016): METALINGUA, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.167 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v14i1.190

Abstract

Komunikasi ialah pengiriman danpenerimaan pesan yang disampaikan penuturkepada petutur. Dalam berkomunikasi manusiamenggunakan bahasa mereka masing-masing.Bahasa adalah sistem tanda yang mengungkapkangagasan (Saussure, 1969 dalam Zaimar, 2008:3).Pernyataan de Saussure tersebut memilikikontemplasi bahwa sebuah sistem tandamerupakan unsur pengganti untuk menjelaskan hallain. Oleh karena itu, tanda memerlukaninterpretasi bahasa untuk mengungkapkannya.Bahkan, bahasa merupakan tanda atau sign itusendiri.
PENGGUNAAN BAHASA DAN IDENTITAS SUKU BONAI (THE LANGUAGE USE AND THE IDENTITY OF BONAI TRIBE) Imelda Yance
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 16, No 2 (2018): Metalingua Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.73 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v16i2.141

Abstract

Ranah penggunaannya bahasa suku Bonai  (salah satu suku asli/ terasing di Provinsi Riau) sedang terancam (Yance dkk., 2017). Padahal, bahasa bagi kelompok linguistik minoritas seperti suku Bonai sangat melekat dengan identitas. Kajian ini difokuskan pada penggunaan bahasa dan identitas suku Bonai. Tujuannya adalah memetakan penggunaan bahasa dalam komunikasi intraetnis dan antaretnis; distribusinya berdasarkan ciri-ciri sosial; dan kaitannya dengan identitas. Kajian ini bersifat kuantitatif dan kualitatif. Bahasa suku Bonai digunakan dalam komunikasi intraetnis (88.3%) dan bahasa Indonesia dalam komunikasi antaretnis (77.28%). Responden perempuan, berumur >50 tahun, berstatus kawin, tinggal  di perdesaan, berpendidikan dasar, dan bekerja di sektor swasta paling dominan menggunakan bahasa Bonai untuk komunikasi intraetnis. Sementara itu, responden  perempuan, berusia 25—50 tahun, berstatus tidak kawin, tinggal di perkotaan, berpendidikan tinggi, dan bekerja sebagai PNS  paling dominan berbahasa Indonesia untuk komunikasi antaretnis. Penggunaan bahasa suku Bonai dalam komunikasi intraetnis, dalam ranah keagamaan, dan dalam ranah budaya merupakan pemertahanan identitas suku Bonai.  
THE ROLE OF MEDIA IN SOCIALIZING INDONESIAN LANGUAGE TERMINOLOGY Dindin Samsudin
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 13, No 2 (2015): METALINGUA, EDISI DESEMBER 2015
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.095 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v13i2.3

Abstract

FOREIGN language can influence Indonesian language a great deal for the society'sneed of a terms of reference for a symbol. The absence of a proper terms inIndonesian language for certain symbol encourages people to borrow foreignor local words to express their ideas. Such use would then spread out among theIndonesian speakers. To avoid it, Indonesian terminology was compiled butunfortunately it was not known yet by the Indonesian speakers. It resulted in thevast use of foreign words by the people. This article aims at describing the role ofthe media in introducing new words to the society using descriptive qualitativemethod and collecting data via literatur study. It showed that the media had asignificant role in socializing Indonesian terminology.
PROSES PERUBAHAN KATA ANYAR, KU, TI, KEUR, DAN SOK DALAM BAHASA SUNDA NFN Kartika
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 12, No 2 (2014): METALINGUA, EDISI DESEMBER 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.943 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v12i2.25

Abstract

PERUBAHAN bahasa sering ditandai dengan adanya perubahan makna. Sebuah katayang pada awalnya hanya memiliki makna leksikal lama-kelamaan berubah maknanyamenjadi lebih gramatikal. Proses itu dinamakan gramatikalisasi. Tulisan ini membahasgramatikalisasi pada kata-kata bahasa Sunda, yang datanya diambil dari Kamus BasaSunda, yaitu anyar, ku, ti, keur, dan sok. Metode penelitian dalam tulisan ini adalahmetode deskriptif. Gramatikalisasi yang terjadi pada kata-kata itu dideskripsikan prosesperubahannya dan dicari pola perubahannya. Deskripsi perubahan yang terjadi padakata-kata bahasa Sunda itu mengikuti terminologi Heine dan Kuteva (2002:16–26).Temuan menunjukkan bahwa dari lima kosakata yang diteliti, tiga di antaranyamenunjukkan kecenderungan perubahan ke arah dimensi temporal. Pola perubahanyang terjadi pada umumnya adalah pola perubahan yang terjadi dalam dua tahap.
POLA BAHASA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS SEKOLAH DASAR BINA ANAK BANGSA, KOTA PONTIANAK NFN Martina
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 12, No 1 (2014): METALINGUA, EDISI JUNI 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.442 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v12i1.42

Abstract

BAHASA sebagai alat komunikasi dan interaksi memegang peranan penting dalamlingkungan sekolah. Bahasa yang digunakan anak sekolah dasar sangat bervariasi, baiksekolah umum maupun sekolah berbasis khusus. Sekolah dasar yang mendidik anakanakberkebutuhan khusus tentu saja tidak dapat disamakan dengan sekolah untuk anakyang normal. Dalam hal berbahasa pun akan ada perbedaan antara anak berkebutuhankhusus dan anak normal. Berkaitan dengan itu, tulisan ini menyoroti pola bahasa anakberkebutuhan khusus di kelas 1C, Sekolah Dasar Bina Anak Bangsa, Kota Pontianak.Masalah dalam tulisan ini adalah bagaimanakah pola bahasa anak berkebutuhan khususdi kelas 1C, Sekolah Dasar Bina Anak Bangsa, Kota Pontianak. Metode yang digunakanadalah metode deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Hasil analisis menunjukkanbahwa pola-pola bahasa yang digunakan anak berkebutuhan khusus di kelas 1C meliputibidang fonologi, leksikal, dan sintaksis.
PENERJEMAHAN KONJUNGTOR TOKORO SEBAGAI PENANDA KLAUSA KONSESIF DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG Windi Astuti; Agus S Suryadimulya; Maman Suratman
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 13, No 1 (2015): METALINGUA, EDISI JUNI 2015
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.298 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v13i1.59

Abstract

BUDAYA Jepang yang unik selalu menarik untuk diteliti. Dalam tulisan ini yang akandikaji adalah bahasa Jepang dari segi struktur, makna, dan penerjemahannya. Penelitianini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur dan makna kalimat yang berkonjungtortokoro sebagai penanda klausa konsesif dalam kalimat bahasa Jepang danpenerjemahannya dalam bahasa Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalahdeskriptif dengan teknik simak dan catat. Konjungtor tokoro sebagai penanda klausakonsesif memiliki hubungan konsesif yang terdapat dalam sebuah kalimat yang klausasubordinatnya memuat pernyataan yang tidak akan mengubah apa yang dinyatakandalam klausa induk. Terjemahan konjungtor tokoro yang digunakan antara lainwalaupun, meski(pun), kalaupun, dan andaipun.
Penguasaan Kalimat Efektif sebagai Kunci Peningkatan Keterampilan Menulis Eksposisi Dinari Oktaria; NFN Andayani; Kundharu Saddhono
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 15, No 2 (2017): METALINGUA EDISI DESEMBER 2017
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.291 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v15i2.63

Abstract

Writing is the highest form of culture to record brilliant ideas of the academics.Such writing be done in exposition texts. Mastering effective sentences as an elementof scientific language can improve the exposition writing skill. This article aims todetermine the relationship between the mastery of effective sentences and the skill ofwriting exposition texts. This research was conducted in SMA Negeri 5 Surakarta.The method used is correlational survey method. The study population was all of Xgrade students in SMAN 5 Surakarta, as many as 120 people, taken by proportionalrandom sampling. Instruments for collecting data is a test of skill to write textexposition, effective sentences mastery tests, and writing activeness questionnaires.The data were analyzed using statistical technique of regression and correlation Theresult showed that there is a positive correlation between the mastery of effectivesentences and the writing activeness along with the skill to write exposition text(ry1=0,57 at the real level of α=0,05 and N=120, rt=0,177, dan t1=7,45˃tt= 1,645).Based on the results it is concluded that both the mastery of effective sentences andthe activeness of writing give a significant contribution (34.81%) in the skills ofwriting exposition text. It shows that these two variables can be a good predictor forthe skill of writing exposition text.  AbstrakMenulis merupakan budaya peradaban tertinggi untuk mencatat gagasan cemerlangpara akademisi. Hal itu dapat dilakukan dalam kegiatan menulis eksposisi.Penguasaan kalimat efektif sebagai unsur bahasa ilmiah dapat meningkatkanketerampilan menulis eksposisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubunganpenguasaan kalimat efektif dengan keterampilan menulis teks eksposisi. Penelitianini dilaksanakan di SMA Negeri 5 Surakarta. Metode penelitian yang digunakanadalah survei korelasional. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X diSMA Negeri 5 Surakarta. Sampel berjumlah 120 orang, diambil menggunakan SimpleRandom Sampling. Instrumen pengumpulan data adalah tes menulis teks eksposisi,penguasaan kalimat efektif dan angket keaktifan menulis. Teknik analisis yangdigunakan adalah teknik statistik regresi dan korelasi. Hasil analisis menunjukkanada hubungan positif penguasaan kalimat efektif dengan keterampilan menuliseksposisi (ry1=0,57 taraf nyata α=0,05 dengan N=120, rt=0,177, dan t1=7,45˃tt=1,645). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguasaan kalimat efektif memberikansumbangan yang berarti (34,81%) pada keterampilan menulis teks eksposisi.
PERTALIAN KEKERABATAN BAHASA-BAHASA TORAJA, BUGIS, DAN MAKASSAR: KAJIAN MORFOSINTAKSIS Jusmianti Garing
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 14, No 1 (2016): METALINGUA, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.145 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v14i1.185

Abstract

TORAJA language, Bugis language, and Makassar language are major languagesin South Sulawesi Province. These three local languages are classified into MalayPolynesia which functions as an identity marker of Torajan, Buginese, andMakassarese. This article aims to reveal the kinship relation among Torajalanguage, Bugis language, and Makassar language qualitatively throughmorphosyntax study. The primary data is utterances in Toraja language, Bugislanguage, and Makassar language, namely words, phrases, and sentences. Theprimary data were collected from Toraja language speakers, Bugis languagespeakers, and Makassar language speakers using interview and recordingtechnique. The result shows that these three local languages have the same kinshiprelation. It was shown by its structure, namely Predicate + Subject with patternV+S, N+S, and Adj+S. Furthermore, the kinship relation is also appeared in theuse of first, second, and third person, i.e. '-na, -ko, -ka, -no, -ak, -kik, -i, -mu, -nu and -ta. Such features not only functions as persona marker but it alsofunctions as subject and honorific markers. Based on those features, it can beconcluded that those three languages have a very close kinship relation,particularly in morphosyntax. AbstrakBAHASA Toraja, bahasa Bugis, dan bahasa Makassar merupakan bahasa mayor yangterdapat di Provinsi Sulawesi Selatan. Ketiga bahasa daerah tersebut tergolong kedalam bahasa Melayu Polinesia yang memiliki fungsi sebagai penanda jati diri orangToraja, orang Bugis, dan orang Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkanpertalian kekerabatan bahasa Toraja, bahasa Bugis, dan bahasa Makassar secarakualitatif melalui kajian morfosintaksis. Data primer berupa tuturan bahasa Toraja,bahasa Bugis, dan bahasa Makassar dalam bentuk kata, frasa, dan kalimat. Datadiperoleh dari masyarakat penutur bahasa Toraja, bahasa Bugis, dan bahasa Makassarmelalui teknik wawancara dan perekaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketigabahasa daerah tersebut memiliki pertalian kekerabatan yang sama. Hal itu tampakpada bentuk strukturnya, yakni P+S dengan pola V+S, N+S, dan Adj+S. Selain itu,pertalian kekerabatan juga tampak pada penggunaan persona pertama, kedua, dan ketiga, yakni, -na, -ko, -ka, -no, -ak, -kik, –i, -mu, –nu, dan –ta. Ciri pertaliankekerabatan tersebut selain berfungsi sebagai penanda persona juga berfungsi sebagaipenanda subjek dan honorifik. Berdasarkan ciri struktur ketiga bahasa tersebut, dapatlahdisimpulkan bahwa ketiga bahasa daerah itu memiliki pertalian kekerabatan yang tinggi,terutama di bidang morfosintaksis.
KETIRISAN PENGGUNAAN BAHASA JAWA ANTARA ORANG TUA DAN ANAK PADA MASYARAKAT SURABAYA Tri Winiasih
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 14, No 2 (2016): METALINGUA, EDISI DESEMBER 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.222 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v14i2.201

Abstract

THE aim of this study was to describe the use of Javanese leakage among parentsand children in Surabaya society based on the age variable and family context.This study used descriptive method, in which the data source were obtained from30 families in Surabaya that consist of 10 early adult family, 10 middle adultfamily, and 10 late adult family by considering the family income level criteria.The result of this study showed that based on the age variable, the use of Javaneseleakage was more common in the early adult family compared to the middle adultfamily and to the late adult family. Based on the family context, the highest leakageoccurred when parents and children study together or discuss something seriousor formal. The lowest leakage occurred when parents and children werequarrelling or angry. AbstrakTULISAN ini bertujuan untuk mendeskripsikan ketirisan penggunaan bahasa Jawa antaraorang tua dan anak pada masyarakat Surabaya berdasarkan variabel usia danmendeskripsikan ketirisan penggunaan bahasa Jawa antara orang tua dan anak dalamkonteks keluarga. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Sumber databerasal dari 30 keluarga Surabaya yang terdiri atas 10 keluarga dewasa dini, 10 keluargadewasa madya, dan 10 keluarga dewasa lanjut dengan memperhatikan kriteriapenghasilan keluarga. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah berdasarkanvariabel usia, ketirisan penggunaan bahasa Jawa lebih banyak terjadi pada kelompokdewasa dini jika dibandingkan dengan dewasa madya maupun dewasa lanjut.Berdasarkan konteks keluarga, ketirisan paling tinggi terjadi pada saat orang tua dananak melakukan kegiatan belajar atau diskusi tentang suatu hal yang serius atau bersifatformal. Ketirisan yang paling rendah terjadi ketika orang tua dan anak berselisih ataumarah.

Page 8 of 21 | Total Record : 205