cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Sifat Fisiko-Kimia, Mikrobiologi dan Organoleptik Roti Tawar Sourdough Tersubstitusi dengan Tepung Umbi Kimpul (Xanthosoma sagittifolium) : SIFAT FISIKO-KIMIA DAN ORGANOLEPTIK ROTI TAWAR TERSUBSTITUSI TEPUNG UMBI KIMPUL (Xanthosoma sagittifolium) DENGAN PENGGUNAAN SOURDOUGH Muthiah, Rizki Aulia; Kumalasari, Ika Dyah; Ibdal
JURNAL PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v33i3.649

Abstract

      Tepung umbi kimpul (Xanthosoma sagittifolium) mengandung serat pangan tinggi dan berpotensi menjadi substitusi tepung terigu dalam pembuatan roti tawar. Roti sourdough difermentasi secara alami tanpa tambahan starter. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisiko-kimia dan organoleptik dari roti tawar sourdough tersubstitusi tepung umbi kimpul dengan perbedaan formulasi. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor, yaitu perbandingan tepung umbi kimpul: tepung terigu sebesar 0 persen:100 persen, 10 persen:90 persen, 20 persen:80 persen dan 30 persen:70 persen. Parameter yang dianalisis adalah kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, dan karbohidrat, ukuran pori-pori, tekstur, warna, volume pengembangan, angka lempeng total (ALT), dan total kapang serta parameter organoleptik berupa penerimaan sensori atribut rasa, aroma, warna, aftertaste, dan keseluruhan. Hasil penelitian menunjukkan substitusi tepung umbi kimpul dalam roti tawar sourdough memberikan pengaruh nyata pada semua parameter pengujian. Makin tinggi konsentrasi tepung umbi kimpul, warna makin gelap, tekstur makin keras, meningkatkan kadar air, menurunkan kadar protein dan abu, menurunkan ukuran pori dan volume pengembangan. Total kapang dan ALT pada roti sourdough memenuhi kriteria SNI 8371:2018. Roti tawar sourdough dengan substitusi tepung umbi kimpul substitusi hingga 30 persen masih memenuhi kriteria SNI 8371:2018, namun secara penerimaan organoleptik substitusi dilakukan hingga 10 persen.              “Kimpul” tuber flour which is high in dietary fibre has a potential as a substitute for wheat flour in white bread production. Sourdough bread is naturally fermented. This study aimed to determine the physicochemical and organoleptic properties of sourdough bread substituted with “kimpul” tuber flour in different formulations. This research used a completely randomized design (CRD) with one factor. The percentages of “kimpul” tuber flour to wheat flour are 0 percent:100 percent, 10 percent:90 percent, 20 percent:80 percent, and 30 percent:70 percent. Parameters analyzed were chemical properties, including moisture content, ash content, protein content, fat content, and carbohydrate content; Physical parameters were pore sizes, texture, colour, and swelling volume. The hedonic organoleptic parameters were taste, aroma, color, after-taste attributes, and overall acceptability. Higher concentration of “kimpul” tuber flour resulted in darker color, increased hardness and water content, reduced the ash and protein content, decreased the size of pores and organoleptic acceptability. The TPC and mold indicate that the sourdough was at a safe level and met the criteria of SNI 8371:2018. While kimpul tuber flour substitution up to 30% complied with SNI 8371:2018 standards, sourdough bread with up to 10% substitution showed comparable sensory acceptability to the non-substituted version.  
Determinan dan Dampak Kebijakan Peningkatan Areal Irigasi terhadap Rasio Ketergantungan Impor Beras Indonesia (The Determinants and Impacts of the Increasing Irrigated Areas Policy on The Dependency Ratio of Indonesia’s Rice Imports) Rafidah, Fatus
JURNAL PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v33i2.664

Abstract

  Beras merupakan bahan pangan pokok bagi 95 persen masyarakat Indonesia, hal tersebut menjadikan beras sebagai komoditas penting dalam sektor sosial, politik, ekonomi, pemenuhan hak asasi manusia dan ketahanan pangan Indonesia. Karena itu, ketersediaan beras menjadi prioritas negara, baik dengan produksi ataupun impor. Impor beras di Indonesia dilakukan untuk menjaga ketersediaan stok beras. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan dan dampak kebijakan peningkatan areal irigasi terhadap rasio ketergantungan impor beras Indonesia. Data yang digunakan yaitu data sekunder dari tahun 1998–2021. Analisis data dilakukan menggunakan persamaan simultan dengan metode estimasi 2SLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa areal irigasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap areal panen, namun berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap produktivitas padi. Dampak dari kebijakan peningkatan areal irigasi adalah meningkatnya luas panen, produktivitas, produksi padi dan beras dalam negeri, dan sebaliknya menurunkan impor beras maupun rasio ketergantungan impor. Dalam upaya untuk memperluas areal irigasi hendaknya diarahkan pada peningkatan infrastruktur yang dibutuhkan petani melalui rehabilitasi jaringan irigasi dan memperbanyak kapasitas tampungan air seperti embung dan bendungan. Hal ini dalam rangka meningkatkan produksi beras dan menurunkan rasio ketergantungan impor.   Rice is the staple food for 95 percent of Indonesia, making it an essential commodity socially, politically, and economically, as it is closely related to Indonesia’s human rights and food security achievement. Hence, the availability of rice is the country’s priority, either through production or import. Rice imports in Indonesia are performed to maintain stocks. The study aimed to examine the determinants and impacts of the policy of increasing irrigated areas on the import dependency ratio (IDR) of Indonesian rice. The data used was secondary data from 1998 to 2021. The data analysis used simultaneous equations and the estimation method was 2SLS. The results show that the irrigated area positively and significantly affects the harvested area. However, it has an insignificant effect on productivity. The impact of the increasing irrigated areas policy is an increase in harvested area, productivity, and rice production, as well as reducing rice imports and the IDR. To expand irrigated areas, government policy should be directed at improving the infrastructure farmers need by rehabilitating irrigation networks and enhancing air storage capacity in reservoirs and dams. This is to increase rice production and gradually reduce the IDR.
Pengaruh Penambahan Tepung Porang (Amorphophallus mulleri) Termodifikasi terhadap Daya Serap Air, Kadar Protein dan Organoleptik Mi Kering Setiavani, Gusti; Moulia, Mona Nur; Astuti, Linda Tri Wira; Harahap, Nurliana
JURNAL PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v32i3.669

Abstract

Tepung Porang Termodifikasi (TPM) memiliki potensi yang besar dikembangkan sebagai salah satu penganti terigu. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh substitusi tepung porang (Amorphophallus muelleri) termodifikasi terhadap protein, daya serap air, dan organoleptik mi kering. Menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan substitusi tepung terigu:TPM berturut turut; 90 persen:10 persen, 80 persen:20 persen, 70 persen:30 persen, 60 persen:40 persen, 50 persen:50 persen. Parameter pengamatan meliputi kadar protein, daya serap air, dan tingkat kesukaan panelis. Hasil penelitian menunjukkan substitusi tepung terigu:TPM berpengaruh nyata terhadap kandungan protein dan daya serap air mi kering. Kadar protein dan daya serap air tertinggi didapat dari sampel dengan substitusi tepung terigu:TPM 80 persen:20 persen dengan kadar protein dan daya serap air berturut turut yaitu 14,14 ± 0,10 persen, dan 145,33 ± 2,08 persen. Substitusi tepung terigu: TPM tidak berpengaruh nyata terhadap kesukaan panelis dari parameter warna, rasa, aroma, penampakan, tekstur dan penerimaan keseluruhan. Penambahan TPM menyebabkan perubahan warna mi menjadi kecokelatan dan rasa yang menyimpang yang tidak disukai panelis. TPM yang memiliki bau fermentasi yang khas memengaruhi aroma yang disukai panelis. Perlakuan substitusi tepung terigu:TPM 70 persen:30 persen memberikan nilai indeks efektivitas tertinggi. Substitusi TPM hingga 30 persen, mi kering masih disukai oleh panelis.
Review Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 17 Tahun 2012 tentang Peningkatan Rendemen dan Hablur Tanaman Tebu Supriono, Agus; Zahrosa, Dimas Bastara; Rosyadi, Mohammad Ghufron; Soetriono, Soetriono; Sari, Sasmita; Muhlis, Abdullah; Amam, Amam
JURNAL PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v32i3.679

Abstract

Upaya pemerintah untuk swasembada gula salah satunya ialah menganjurkan petani tebu untuk melakukan sistem budi daya tebu secara intensif, ironisnya sistem budi daya tebu secara intensif yang dilakukan oleh petani tebu terkendala biaya operasional budi daya dan regulasi kebijakan, khususnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 17 tahun 2012 tentang Peningkatan Rendemen dan Hablur Tanaman Tebu. Penelitian ini bertujuan untuk mereviu Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 17 tahun 2012. Metode pengambilan data menggunakan Focus Group Discussion (FGD), wawancara dengan responden petani tebu dan pihak manajemen pabrik gula. Data dianalisis secara deskriptif dan analitik. Hasil penelitian didapatkan bahwa: 1) munculnya potensi konflik sebagai akibat dari ketidaktransparanan Pabrik Gula (PG) terhadap nilai rendemen tebu, 2) permasalahan sistem kemitraan bagi hasil antara petani tebu dengan PG, di mana pihak pemilik modal atau perusahaan sudah semestinya membiayai operasional budi daya tebu, sedangkan pihak petani sebagai pelaksana usaha tani atau pembudidaya yang hanya mempersiapkan lahan dan tenaga kerja; 3) secara umum petani tebu dan Pabrik Gula (PG) belum mengetahui Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 17 tahun 2012 dengan alasan tidak ada sosialisasi perihal peraturan daerah tersebut, dan 4) pergeseran atau perubahan sistem agribisnis gula dari monopsoni-monopoli ke arah oligopsoni-oligopoli (lebih liberal), ditinjau dari sudut pandang konten (isi) kebijakan, pada kenyataannya telah menyebabkan tidak tercapainya dan/atau tidak terlaksananya amanat dari peraturan daerah tersebut. Kesimpulan kajian penelitian ini ialah merekomendasikan pergantian atau perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 17 tahun 2012 tentang Peningkatan Rendemen dan Hablur Tanaman Tebu.
Menghitung Nilai Ekonomi Kehilangan Hasil pada Industri Penggilingan Padi (Calculating the Economic Value of Loss in the Rice Milling Industry) Sawit, Husein
JURNAL PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v33i2.726

Abstract

Susut pascapanen padi telah lama terjadi di Indonesia. Total susut pascapanen padi mencapai 10,82 persen, tertinggi berasal dari aktivitas pengeringan dan penggilingan gabah, dua dari tiga aktivitas yang berkaitan erat dengan industri penggilingan padi. Kapasitas produksi beras terbesar berasal dari penggilingan padi skala kecil (PPK) yang mencapai 83 persen, berpengaruh besar terhadap total susut dan kekuatan industri penggilingan padi. Tujuan utama naskah ini adalah menghitung kehilangan hasil pascapanen padi terutama pada tahapan penggilingan, baik secara fisik dalam bentuk gabah kering giling (GKG) maupun nilai ekonominya. Rata-rata kehilangan hasil GKG dewasa ini mencapai 6,0 juta ton per tahun, sebagian besar terjadi pada tahapan penggilingan padi (4,4 juta ton per tahun). Nilai ekonomi kehilangan hasil padi mencapai Rp34,4 triliun per tahun. Kehilangan hasil pada tahapan penggilingan padi menyentuh nilai Rp25,1 triliun per tahun, tertinggi berasal dari PPK dengan nilai Rp20,9 triliun per tahun. Pemerintah disarankan untuk merancang kebijakan untuk memperkuat industri penggilingan padi, sehingga susut hasil pada PPK dapat dikurangi. Salah satu pilihannya adalah PPK sebaiknya berkonsentrasi sebagai produsen beras pecah kulit, yang kemudian diproses lebih lanjut oleh penggilingan padi skala besar (PPB).   Postharvest losses have occurred in Indonesia for a long time. Total postharvest losses for rice reaches 10.82 percent; the highest come from grain drying and milling activities, two of the three activities closely related to the rice milling industry. The largest rice production capacity comes from small-scale rice mills (SRM), which reaches 83 percent, significantly influencing the rice mill industry’s total losses and strength. The main objective of this paper is to estimate the postharvest loss of rice, especially at the milling stage, both physically in the form of dry milled grain (DMG) and its economic value. The average yield loss of DMG is 6.0 million tonnes per year, most of which occur during the rice milling stage (4.4 million tonnes per year). The economic value of lost rice yields reaches IDR 34.4 trillion per year. Yield losses at the rice milling stage touches a value of IDR25.1 trillion per year, the highest from SRM with IDR20.9 trillion per year. The government is advised to design policies to strengthen the rice milling industry and reduce yield losses on SRM. One option is for SRM to concentrate on producing brown rice, which is further processed by large-scale rice mills (LRB).
Kontribusi Teknologi Irigasi Pompa dan Pemahaman Petani dalam Mendukung Produksi Tanaman Pangan di Lahan Sawah Tadah Hujan Trinugroho, Muchamad; Arif, Sigit Supadmo; Susanto, Sahid; Nugroho, Bayu Dwi Apri; prabowo, abi
JURNAL PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v32i3.732

Abstract

Teknologi irigasi pompa di lahan sawah tadah hujan untuk mendukung produksi tanaman pangan sangat dibutuhkan. Penerapan teknologi irigasi pompa harus mempertimbangkan faktor komponen teknologi serta kesiapan sumber daya manusia secara individu maupun institusi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kontribusi faktor teknologi dan menjelaskan tingkat pemahaman petani terhadap penerapan teknologi irigasi pompa. Metodologi penelitian yang digunakan terdiri dari metode teknometri dan analisis deskriptif menggunakan 40 kuesioner yang diedarkan kepada petani, pengelola kelompok tani, dan pengelola irigasi di Desa Tambakromo di Kecamatan Cepu. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pemahaman responden dari kuat sampai sangat kuat tehadap kandungan teknologi technoware, humanware, orgaware dan infoware. Hasil analisis tingkat pemahaman petani terhadap teknologi dan komponennya termasuk dalam kategori kuat dan sangat kuat, sedangkan hasil analisis teknometrik kandungan teknologi menunjukkan teknologi irigasi pompa air dalam kategori semi modern dan tingkatan yang baik. Hasil kajian ini sebagai masukan bagi pemerintah, petani dan pihak yang berkepentingan yang lain dalam menentukan strategi yang tepat dalam penerapan teknologi irigasi di lahan sawah tadah hujan.
Evaluasi Keunggulan Relatif Pertanian Organik dan Non-Organik Ibnu, Muhammad
JURNAL PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v32i3.741

Abstract

Para pendukung (supporter) mempromosikan berbagai keunggulan pertanian organik dalam menyediakan bahan pangan bagi umat manusia di bumi ini secara lebih berkelanjutan. Penelitian ini memiliki premis bahwa pertanian non-organik (yang rancu disebut sebagai pertanian konvensional) juga memiliki keunggulan relatif dibandingkan pertanian organik, sehingga argumen yang menyatakan bahwa seluruh pertanian non-organik perlu diubah menjadi pertanian organik adalah tidak tepat. Penelitian ini bertujuan membuktikan premis tersebut dengan mengevaluasi beberapa aspek kritis yang sering menjadi perdebatan, yaitu kebutuhan lahan, keanekaragaman hayati, kualitas air, degradasi lahan, analisis siklus lingkungan hidup, dan perubahan iklim. Penelitian ini bersifat kualitatif dan metode yang digunakan adalah tinjauan literatur terhadap 151 penelitian mengenai pertanian non-organik dan organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertanian non-organik memiliki keuntungan relatif dan dapat dilakukan secara berkelanjutan, sehingga dapat menghindari bahaya dan/atau kerusakan akibat mengejar produktivitas yang tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa manajemen yang baik tampaknya akan lebih menentukan bagaimana sifat dampak pertanian pada lingkungan. Manajemen pertanian yang baik akan lebih berkontribusi pada lingkungan dan umat manusia dibandingkan ideologi pertanian yang ekstrem, seperti intensif memanfaatkan bahan kimia (tetapi kurang bijaksana) atau tidak memanfaatkan bahan kimia sama sekali.
Sifat Fisikokimia dan Organoleptik Es Krim Sari Kecambah Kedelai Hitam (Glycine max Var. Mallika) dengan Variasi Pengemulsi (Physicochemical and Organoleptic Properties of Black Soybean Sprouts Ice Cream (Glicyne max Var. Mallika) with Emulsifier Variations). Anggi, Anggi; Rahayu, Wahidah Mahanani; Rahmadhia, Safinta Nurindra
JURNAL PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v33i2.792

Abstract

Es krim merupakan suatu produk yang terbuat dari bahan dasar susu baik hewani ataupun nabati. Es krim nabati merupakan es krim dengan kandungan lemak yang lebih rendah. Alternatif bahan yaitu sari kecambah kedelai hitam. Pengemulsi merupakan salah satu bahan tambahan yang membantu tersuspensinya suatu cairan ke dalam cairan lain dengan polaritas berbeda. Kuning telur mengandung lesitin dan lesitoprotein yang secara aktif bertindak sebagai pengemulsi. Lesitin kedelai digunakan sebagai pengemulsi dalam pengolahan makanan. Ester sukrosa adalah pengemulsi molekul kecil mengandung gugus sukrosa hidrofilik dan gugus asam lemak lipofilik. Mono-digliserida (MDGS) adalah pengemulsi yang banyak digunakan pada produk pangan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui sifat fisikokimia dan organoleptik es krim sari kecambah kedelai hitam dengan penambahan variasi pengemulsi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 taraf perlakuan. Metode pembuatan es krim yang digunakan adalah metode konvensional dengan memanfaatkan mixer. Hasil penelitian dianalisis dengan metode one way ANOVA menggunakan SPSS, dilanjutkan dengan uji menggunakan DMRT dengan taraf signifikan 0,05. Pengemulsi ester sukrosa dan MDGS berpengaruh positif pada sifat fisikokimia overrun, daya leleh, viskositas, warna, kadar protein, kadar lemak, dan kadar karbohidrat es krim sari kecambah kedelai. Sedangkan sifat organoleptik dari parameter warna, aroma, rasa, mouthfeel, dan aftertaste es krim yang menggunakan pengemulsi MDGS lebih disukai panelis.   Ice cream made from animal or plant-based milk. Plant-based ice cream is ice cream with a lower fat content. An alternative ingredient is black soybean sprout juice. Emulsifiers are one of the additives that help the suspension of a liquid into another liquid with a different polarity. Egg yolk contains lecithin and lecithoproteins that actively act as emulsifiers. Soy lecithin is used as an emulsifier in food processing. Sucrose esters are small-molecule emulsifiers containing hydrophilic sucrose groups and lipophilic fatty acid groups. Mono-diglycerides (MDGS) are emulsifiers that are widely used in food products. The purpose of this study was to determine the physicochemical and organoleptic properties of black soybean sprout juice ice cream with the addition of emulsifier variations. This study used a completely randomized design (CRD) consisting of 4 levels of treatment. The conventional method of making ice cream is using a mixer. The results were analyzed using one ANOVA method using SPSS, followed by a DMRT test with a significant level of 0.05. Sucrose ester emulsifier and MDGS positively affected the physicochemical properties of overrun, melting power, viscosity, colour, protein content, fat content, and carbohydrate content of soybean sprout juice ice cream. The organoleptic properties of colour, aroma, taste, mouthfeel, and aftertaste parameters of ice cream using MDGS emulsifiers are preferred by panellists.
Sirup Glukosa Berbasis Enzim dari Mikroba Lokal sebagai Gula Masa Depan Indonesia: Potensi dan Tantangan (Enzyme-Based Glucose Syrup from Local Microbes as Indonesia’s Future Sugar: Potentials and Challenges) Islamy, Agung; Nugraha Edhi, Suyatma; Saraswati; Nanik, Rahmani
JURNAL PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v33i2.801

Abstract

Gula sudah menjadi kebutuhan dasar rumah tangga yang tidak dapat terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia, maka tingkat kebutuhan akan ketersediaan gula juga mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Pemerintah harus serius dalam menanggapi masalah ini dalam jangka panjang, salah satunya melalui pengembangan sirup glukosa berbasis bahan lokal menggunakan enzim dari mikroba lokal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi akan potensi sumber daya lokal baik bahan baku dan mikroba lokal dalam pengembangan industri sirup glukosa dan tantangannya di Indonesia menggunakan pendekatan systematic review. Setelah melakukan penelusuran pustaka ternyata ada beberapa komoditas bahan baku dan isolat mikroba lokal yang berpotensi dikembangkan dalam industri sirup glukosa. Bahan baku tersebut seperti jagung, singkong, ubi jalar, talas, sagu dan sorgum. Dengan isolat mikroba yang berpotensi dapat dikembangkan seperti Anoxybacillus flavithermus, Aspergillus flavus, Aspergillus awamori KT-11, Bacillus subtilis dan lain-lain.   Sugar has become a staple household need that is inseparable from daily life. Along with Indonesia’s increasing population, the demand for sugar availability has also increased significantly. The government must seriously address this issue in the long term, one of which is through the development of glucose syrup based on local ingredients using enzymes from local microbes. This study aimed to determine the potential of local resources, both raw materials and local microbes, in the development of the glucose syrup industry and its challenges in Indonesia, using a systematic review approach. After conducting a literature search, several commodities of raw materials and local microbial isolates have the potential to be developed in the glucose syrup industry. These raw materials include corn, cassava, sweet potato, taro, sago and sorghum with potential microbial isolates such as Anoxybacillus flavithermus, Aspergillus flavus, Aspergillus awamori KT-11, Bacillus subtilis and more.
Segmentasi Provinsi di Indonesia berdasarkan Data Runtun Waktu Produksi Padi dengan Algoritma DTW dan K-Medoids Clustering Yolanda, Anne Mudya; Savira, Husna
JURNAL PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v33i3.847

Abstract

        Sektor pertanian, khususnya tanaman pangan padi, memiliki peranan penting bagi perekonomian Indonesia. Analisis data historis produksi padi atau data runtun waktu produksi padi dapat memberikan gambaran pola produksi dan segmentasi wilayah berdasarkan karakteristik tanaman padi. Penelitian ini menggunakan algoritma DTW dan K-Medoids Clustering untuk melakukan segmentasi provinsi di Indonesia berdasarkan data produksi padi tahun 2013-2021. Hasil penelitian menunjukkan tiga cluster wilayah dengan karakteristik produksi padi yang berbeda. Setiap cluster menunjukkan pola produksi yang berbeda dengan anggota cluster lainnya, yang disebabkan oleh perbedaan jarak DTW dalam mengukur kesamaan pola produksi. Cluster 1 memiliki produksi tertinggi, diikuti oleh Cluster 2 dan Cluster 3, masing-masing terdiri dari 16, 7, dan 11 provinsi. Temuan ini dapat digunakan sebagai dasar pengembangan kebijakan pemerintah sesuai karakteristik masing-masing segmen.             The agricultural sector, particularly rice crops, plays a crucial role in Indonesia’s economy. Analyzing rice production historical data, or rice production time series data, can provide insights into production patterns and regional segmentation based on rice crop characteristics. This study employed the DTW algorithm and K-Medoids Clustering to segment provinces in Indonesia based on rice production data from 2013 to 2021. The results of the study indicated three clusters of regions with distinct rice production characteristics. Some regions exhibited different production patterns from other cluster members, attributed to variations in DTW distances used to measure pattern similarity. Cluster 1 had the highest production, followed by Cluster 2 and Cluster 3, with 16, 7, and 11 provinces respectively. These findings can serve as a basis for government policy development tailored to the characteristics of each segment.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN More Issue