cover
Contact Name
Trianokta Akbar Wardana
Contact Email
trianokta.akbar@yarsi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkedokteran@yarsi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
YARSI Medical Journal
Published by Universitas Yarsi
ISSN : 08541159     EISSN : 24609382     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 232 Documents
HUBUNGAN KADAR TRANSAMINASE TERHADAP MORTALITAS DAN LAMA PERAWATAN PASIEN INFARK MIOKARD Boy Kurniawan, Liong
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 20, No 1 (2012): JANUARI - APRIL 2012
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.147 KB) | DOI: 10.33476/jky.v20i1.156

Abstract

Infark miokard ditandai dengan pelepasan enzim-enzim yang terdapat pada selotot jantung yang mengalami nekrosis maupun petanda-petanda spesifikjantung lainnya. Enzim-enzim yang dilepaskan termasuk juga enzimtransaminase yaitu serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) danserum glutamic pyruvic transaminase (SGPT). Kedua enzim tersebut tidakspesifik jantung tetapi meningkat kadarnya pada infark miokard. Penelitian inidilakukan untuk mengetahui hubungan kadar enzim transaminase terhadapmortalitas dan lama perawatan pasien infark miokard. Penelitian ini merupakanstudi retrospektif dengan mengambil data sekunder dari rekam medik 72 pasieninfark miokard yang dirawat di Intensive Cardiac Care Unit Rumah Sakit dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar periode Juli 2010 hingga Juni 2011. Sampeldibagi menjadi dua kelompok yaitu pasien infark miokard yang survive selamaperawatan dan yang meninggal selama perawatan. Rerata kadar SGOT padapasien infark miokard yang survive maupun yang meninggal selama perawatanberturut-turut  80,87+79,13 U/l dan 243,82+401,78 U/l, Uji Mann-Whitneymenunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara keduanya (p=0,019). Reratakadar SGPT pada pasien infark miokard yang survive maupun yang meninggalselama perawatan berturut-turut 45,02+45,53 U/l dan 178,30+375,45 U/l, UjiMann-Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antarakeduanya (p=0,065). Pada pasien yang survive, Uji Korelasi Spearman?smenunjukkan kadar SGOT dan SGPT berkorelasi positif terhadap lamanyarawat inap, masing-masing dengan nilai p=0,006, r=0,389 dan p=0,019,r=0,335. Pada pasien yang meninggal selama perawatan, Uji KorelasiSpearman?s menunjukkan kadar SGOT dan SGPT tidak berkorelasi terhadaplamanya rawat inap, masing-masing dengan nilai p=0,209, r=-0,267 danp=0,506, r=-0,146). Kadar SGOT lebih tinggi pada pasien yang meninggaldibandingkan dengan pasien survive, tetapi kadar SGPT tidak berbedabermakna antara keduanya. Pada pasien yang survive, semakin tinggi kadarSGOT dan SGPT semakin lama masa rawat inap pasien tersebut.Dipresentasikan dalam presentasi oral pada Pertemuan Ilmiah Berkala XVIIFakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar, 27-29 Januari 2012.Infark miokard ditandai dengan pelepasan enzim-enzim yang terdapat pada selotot jantung yang mengalami nekrosis maupun petanda-petanda spesifikjantung lainnya. Enzim-enzim yang dilepaskan termasuk juga enzimtransaminase yaitu serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) danserum glutamic pyruvic transaminase (SGPT). Kedua enzim tersebut tidakspesifik jantung tetapi meningkat kadarnya pada infark miokard. Penelitian inidilakukan untuk mengetahui hubungan kadar enzim transaminase terhadapmortalitas dan lama perawatan pasien infark miokard. Penelitian ini merupakanstudi retrospektif dengan mengambil data sekunder dari rekam medik 72 pasieninfark miokard yang dirawat di Intensive Cardiac Care Unit Rumah Sakit dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar periode Juli 2010 hingga Juni 2011. Sampeldibagi menjadi dua kelompok yaitu pasien infark miokard yang survive selamaperawatan dan yang meninggal selama perawatan. Rerata kadar SGOT padapasien infark miokard yang survive maupun yang meninggal selama perawatanberturut-turut  80,87+79,13 U/l dan 243,82+401,78 U/l, Uji Mann-Whitneymenunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara keduanya (p=0,019). Reratakadar SGPT pada pasien infark miokard yang survive maupun yang meninggalselama perawatan berturut-turut 45,02+45,53 U/l dan 178,30+375,45 U/l, UjiMann-Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antarakeduanya (p=0,065). Pada pasien yang survive, Uji Korelasi Spearman?smenunjukkan kadar SGOT dan SGPT berkorelasi positif terhadap lamanyarawat inap, masing-masing dengan nilai p=0,006, r=0,389 dan p=0,019,r=0,335. Pada pasien yang meninggal selama perawatan, Uji KorelasiSpearman?s menunjukkan kadar SGOT dan SGPT tidak berkorelasi terhadaplamanya rawat inap, masing-masing dengan nilai p=0,209, r=-0,267 danp=0,506, r=-0,146). Kadar SGOT lebih tinggi pada pasien yang meninggaldibandingkan dengan pasien survive, tetapi kadar SGPT tidak berbedabermakna antara keduanya. Pada pasien yang survive, semakin tinggi kadarSGOT dan SGPT semakin lama masa rawat inap pasien tersebut.Dipresentasikan dalam presentasi oral pada Pertemuan Ilmiah Berkala XVIIFakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar, 27-29 Januari 2012.
POPULASI BAKTERI PADA FESES NEONATUS: PENELITIAN PENDAHULUAN Wikaningrum, Riyani; T Rochani, Jekti; Djannatun, Titiek; Widiyanti, Dian
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 16, No 2 (2008): MEI - AGUSTUS 2008
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.301 KB) | DOI: 10.33476/jky.v16i2.236

Abstract

Recent published data have outlined a relationship between the composition of the intestinal microflora and allergic inflammation, autoimmunity, chronic bowel inflammation, psychiatric, cognitive and behavioral disturbances. Factors influencing intestinal microflora are environment, genetic predisposition, diet, age, diseases, drugs, stressor. This preliminary study is to establish local reference of microbial flora in neonates. This study included samples taken from 20 neonates, age 1 ? 7 days, from a private hospital in Jakarta. All samples were sent to microbiology laboratory without transport media and processed immediately. Bacteriological cultures for aerob and anaerob bacteria were performed according to the standard methods. Aerob and anaerob bacterial species were isolated from all samples, ranged 2 ? 5 species per sample. Enterobacteriaceae were found to be dominant isolates (25% - 75%); followed by Streptococcus anhaemolyticus (60%), Staphylococcus epidermidis (40%), Staphylococcus aureus (5%),Clostridium difficile (5%), Bacteroides fragilis (5%), Bifidobacterium sp. (10%), Lactobacillus sp. (5%) and yeast (5%). These data indicated that aerob and facultative anaerob bacteria were predominant in neonates. However Bifidobacterium, Lactobacillus and Clostridium difficile could be found. Further studies are needed to confirm this finding using larger number of samples and involving various age group.
PROFIL HIPERTENSI DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM RSUD KOJA Ndraha, Suzanna; Caesar, Zulfikar; Afdilla, Winda; Rianas, Wiwin; Kamala, Yurri; Farras, Zahra; El, Zegovine
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 27, No 2 (2019): MEI-AGUSTUS 2019
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.829 KB) | DOI: 10.33476/jky.v27i2.1117

Abstract

Prevalensi hipertensi meningkat di seluruh dunia, terutama di negara-negara sedang berkembang. Kesadaran berobat dan pengendalian hipertensi lebih berhasil di Amerika Utara dibandingkan negara sedang berkembang dan negara miskin, termasuk Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan profil penderita hipertensi di rawat jalan Penyakit Dalam RSUD Koja.Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif secara cross sectional. Populasi dari sampel adalah pasien poliklinik rawat jalan RSUD Koja yang didiagnosis hipertensi sepanjang bulan Oktober-Desember 2018.Proporsi hipertensi di rawat jalan RSUD Koja didapatkan sebesar 36,2% dari total 334 pasien. Jenis kelamin terbanyak adalah perempuan (71,1%), rentang usia antara 21?87 tahun, kelompok usia terbanyak 41?60 tahun, rerata tekanan darah sistolik (TDS) 153 (19.3) mmHg dan rerata tekanan darah diastolik (TDD) 84 (14.3) mmHg, sebagian besar IMT normal, sebanyak 60 % tidak rutin minum obat dan tekanan darahnya tidak mencapai target. Pasien hipertensi pada umumnya kurang patuh terhadap pengobatan karena ketidaktahuan mengenai cara mengkonsumsi obat. Banyak pasien (47%) beranggapan bahwa apabila tekanan darah sudah stabil maka obat tidak perlu dikonsumsi lagi. Proporsi hipertensi sebesar 36.2% dari total pasien rawat jalan, sebagian besar (60%) tidak terkendali karena tidak rutin berobat dengan alasan terbanyak adalah karena ketidaktahuan (47%)
ISOLASI DAN KARAKTERISASI GEN MERB PADA BAKTERI PSEUDOMONAS SP. SEBAGAI GEN RESISTENSIMERKURIORGANIK J. Kepel, Billy
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 20, No 2 (2012): MEI - AGUSTUS 2012
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.362 KB) | DOI: 10.33476/jky.v20i2.161

Abstract

Patogenesis penyakit dimana merkuri sebagai agen penyebab akan melewati komponen lingkungan sebagai media transmisi sebelum sampai pada manusia. Terdapat beberapalokasi pertambangan emas rakyat di Sulawesi Utarayang menggunakanmerkuri. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi jenis bakteri yanghidup pada sedimentanahtercemar merkuri, mengisolasi dan mengidentifikasi karakter gen merB pada bakteritersebut. Dilakukan uji resistensi pada fenil merkuri, identifikasi Gram dan 16S rRNA, amplifikasi dan sekuensing gen merB, pensejajaran dan pembuatan pohonfilogenetik gen merB pada isolat bakteri resisten fenil merkuri. Terdapat 2 isolat bakteri Pseudomonas sp. yang resisten terhadap fenil merkuri. Gen merB pada bakteri ini mempunyai homologi sebesar 98-100% dibandingkan dengan gen merB pada bakteri yang terdapat pada GenBank. Sisi aktif enzim organomerkuri liase (MerB) yang dikode oleh gen merB pada posisi Cys-96, Cys-159  dan Asp-99 tetap dipertahankan oleh gen merB kedua isolat bakteri hasil penelitian. Terdapat 3 tempat perbedaan nukleotida merB antara keduaisolat hasil penelitian dengan P. aeruginosa galur ARY1. Terjadi mutasi substitusi transisi pada merB posisi Val-124 (GTC?GTT) dan Val-136 (GTT?GTC) maupun Glu-132 (GAG) ?Gly-132 (GGG) dimana isolat 2B.2 dan 4B.2 Pseudomonas sp. sama dengan Klebsiella sp. ND3 tapi berbeda dengan P. aeruginosa galur ARY1 walaupun genus yang sama. Walaupun asam amino glutamat diganti oleh glisin yang berbeda sifatpolaritas tapi tidak berpengaruh pada aktifitas bioremediasi karena tempat tersebut bukan merupakan sisi aktif. Gen merB terdapat pada isolat bakteri lokal, Pseudomonas sp., di Sulawesi Utara. Penelitian ini perlu dilanjutkan untuk menghasilkan kloning enzim MerB(organomerkuri liase) dalam mengatasi masalah pencemaran merkuri. Patogenesis penyakit dimana merkuri sebagai agen penyebab akan melewati komponen lingkungan sebagai media transmisi sebelum sampai pada manusia. Terdapat beberapalokasi pertambangan emas rakyat di Sulawesi Utarayangmenggunakanmerkuri. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi jenisbakteri yanghidup pada sedimentanahtercemar merkuri, mengisolasi danmengidentifikasi karakter gen merB pada bakteritersebut.Dilakukan uji resistensi pada fenil merkuri, identifikasi Gram dan 16S rRNA,amplifikasi dan sekuensing gen merB, pensejajaran dan pembuatan pohonfilogenetik gen merB pada isolat bakteri resisten fenil merkuri.Terdapat 2 isolat bakteri Pseudomonas sp. yang resisten terhadap fenil merkuri.Gen merB pada bakteri ini mempunyai homologi sebesar 98-100% dibandingkandengan gen merB pada bakteri yang terdapat pada GenBank. Sisi aktif enzimorganomerkuri liase (MerB) yang dikode oleh gen merB pada posisi Cys-96,Cys-159  dan Asp-99 tetap dipertahankan oleh gen merB kedua isolat bakterihasil penelitian. Terdapat 3 tempat perbedaan nukleotida merB antara keduaisolat hasil penelitian dengan P. aeruginosa galur ARY1.Terjadi mutasi substitusi transisi pada merB posisi Val-124 (GTC?GTT)danVal-136 (GTT?GTC) maupun Glu-132 (GAG) ?Gly-132 (GGG) dimanaisolat 2B.2 dan 4B.2 Pseudomonas sp. sama dengan Klebsiella sp. ND3 tapiberbeda dengan P. aeruginosa galur ARY1 walaupun genus yang sama.Walaupun asam amino glutamat diganti oleh glisin yang berbeda sifatpolaritastapi tidak berpengaruh pada aktifitas bioremediasi karena tempat tersebut bukanmerupakan sisi aktif.Gen merB terdapat pada isolat bakteri lokal, Pseudomonas sp., di SulawesiUtara. Penelitian ini perlu dilanjutkan untuk menghasilkan kloning enzimMerB(organomerkuri liase) dalam mengatasi masalah pencemaran merkuri.
ENGARUH EKSTRAK PATIKAN KEBO (EUPHORBIA HIRTA L.) TERHADAP HITUNG EOSINOFIL DARAH TEPI PADA MENCIT MODEL ASMA ALERGI Heri Prasetyo, Diding; Putranto, R.P. Andri; Martini, Martini; Sarsono, Sarsono
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 16, No 3 (2008): SEPTEMBER - DESEMBER 2008
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.327 KB) | DOI: 10.33476/jky.v16i3.246

Abstract

Asthma is characterized by both chronic inflammation and remodeling of the airways. Eosinophils may contribute to inflammation associated with bronchial asthma by causing tissue damage and subsequently organ dysfunction, but also by the generation of cytokines and lipid mediators. It was reported in previous studies that pharmacological activities were identified in various compounds extracted fromEuphorbia hirta L. such as antiinflammatory,histamine inhibitor, lipoxygenase inhibitor, anti-allergic and cyclooxygenase inhibitor. This study was aimed to determine the effect of E. hirtaextract onperipheral blood eosinophils count in mice model of allergic asthma. MaleBalb/C mice were sensitized and challenged intraperitoneally (i.p) with ovalbumin(OVA). Mice were immunized i.p. on days 1 and 14 with 2.5 mgof OVA adsorbed to 7.75ml of Aluminium hydroxide gel. OVA challenges (10 mgOVA in l ml of PBS) were administered aerosolly on days 21, 23, 25 and 27, andperipheral blood eosinophilscount was determinedon day 28.A one-way analysis of variance (ANOVA) with LSDpost hocanalysis was used to determine significant differences. Results were expressed as mean+SEM, and values of p 0.05wereconsidered statistically significant. The results showed thatperipheral blood eosinophilscountin the OVA group was51.0+10.4cells/mm E. hirtaextract dose 500 mg/BW/day was30.2+6.3cells/mm3,E. hirtaextract dose 1,000 mg/BW/day was 30.4+6.0cells/mm and antihistamine group was32.2+8.6cells/mm respectively, whilecontrol mice showed46.6-8.8 cells/mm3. It was concluded that E. hirta extract could minimizeperipheralblood eosinophilscount.
PRIMORDIAL FOLLICLES DEVELOPMENT OF IMMATURE MICE OVARY AFTER FSH AND OVARY CUTTING TREATMENTS Djuwita, Ita
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 18, No 1 (2010): JANUARI - APRIL 2010
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jky.v18i1.174

Abstract

The aims of the study were to investigate the influence of FSH and the ovary cutting treatments on the development of primordial follicles into preantral and antral follicles. Ovaries were grouped as whole ovary (without cutting); partially cut ovary and completely cut ovary (hemi ovary). All ovary groups were cultured in Dubellco?s Modified Eagle Medium (DMEM) containing 5ug/ml insulin, 10ug/ml transferrin, 5ug/ml selenium (ITS), 5% FBS, 50ug/ml gentamycin with and without 100uIU/ml Follicle Stimulating Hormone (FSH). Cultures were done in 5% CO2 incubator at 37oC. Results showed that after 8 days in vitro cultured in DMEM containing FSH, the average number of preantral follicles isolated from each whole, partially-cut and completely-cut ovaries were 16.1 + 3.3, 26.8 ± 7.7 and 12.3 + 1.9, respectively. On the other hand, those cultured in DMEM without FSH they were 17.3 + 3.8, 23.3 ± 5.2 and 17.8 + 2.8, respectively. After additional cultured for 8 days, the percentage of preantral follicles developing into the antral follicles in DMEM with and without FSH were 26.7 + 5.7 and 11.7 + 2.9, respectively. In conclusion, the supplementation of FSH in the culture medium did not increase the number of preantral follicles, but significantly increased the number of antral follicles. The ovary cutting treatment significantly increased the average number of collected preantral follicles.
DISTRIBUSI KARAKTER DAN FAKTOR LINGKUNGAN PADA STATUS GIZI BALITA DESA KALIALANG KEMANGKON, PURBALINGGA Sigarlaki, Herke
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 16, No 3 (2008): SEPTEMBER - DESEMBER 2008
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.885 KB) | DOI: 10.33476/jky.v16i3.251

Abstract

Long lasting economic crisis has various impacts to the communitylife and recently malnutrition cases have been emerged and easily found in several regions of the country. There were approximately around 1.5 million children suffering from malnutrition in 2004, and more or less 150 thousand among them were predicted to be suffering from marasmus, kwashiorkor and marasmus-kwashiorkor. This study was carried out employing a cross sectional approach. The population selected was a group of children coming to the study site selected by non-random sampling method. Univariate and bivariate analyses were performed both manually and using computer based approach. It was observed that up to 6.59% children suffering from malnutrition and residing at Kalialang village, Kemangkon, Purbalingga came from parents with primary school education background. Similar parents? education background was also observed in 14.24% children suffering from under nutrition.
HUBUNGAN PAJANAN DEBU TERIGU TERHADAP KUALITAS HIDUP PENDERITA RINITIS AKIBAT KERJA Carolina Manuputty, Anita; Pratiwi Rahardjo, Sutji; Djamin, Riskiana; Perkasa, Fadjar
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 18, No 1 (2010): JANUARI - APRIL 2010
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.116 KB) | DOI: 10.33476/jky.v18i1.179

Abstract

Rinitis akibat kerja dapat mempengaruhi kualitas hidup pekerja, menghilangkan banyak waktu kerja yang dapat menurunkan produktivitas namun masih sedikit informasi yang dimiliki mengenai epidemiologi pada industri terigu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara lama pajanan debu terigu dan kejadian rinitis akibat kerja (RAK) terhadap kualitas hidup penderita rinitis akibat kerja pada pekerja pabrik terigu X diMakassar. Penelitian ini menggunakan kajian potong lintang (cross sectional study). Penelitian dilakukan di pabrik terigu X, yakni di bagian produksi dan pengepakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lama pajanan debu terigu dan kejadian rinitis akibat kerja (RAK) dengan nilai p 0.05). Akan tetapi tidak terdapat hubungan bermakna antara lama pajanan debu terigu dan penurunan kualitas hiduppenderita RAK. Hubungan antara merokok dan kejadian RAK belum dapat dibuktikan, namun didapatkan bahwa merokok tanpa RAK lebih dominan dibandingkan RAK tanpa merokok dalam menyebabkan pemanjangan waktu transpor mukosiliar. Hubungan penggunaan masker dengan kualitas hidup pada kejadian RAK belum dapat dibuktikan, namun didapati bahwa pada pekerja yang tidak secara rutin menggunakan masker terkenaRAK dengan risiko yang lebih tinggi dan dapat menurunkan kualitas hidupnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lama pajanan debu terigu dan kejadian rinitis akibat kerja (RAK) dengan nilai p 0.05). Akan tetapi tidak terdapat hubungan bermakna antara lama pajanan debu terigu dan penurunan kualitas hiduppenderita RAK. 
ANALISIS HUBUNGAN KONDISI FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN TB PARU BTA POSITIF DI PUSKESMAS KOTABUMI II, BUKIT KEMUNING DAN ULAK RENGAS KAB. LAMPUNG UTARA TAHUN 2012 Sumarmi, Sumarmi
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 22, No 2 (2014): MEI - AGUSTUS 2014
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.865 KB) | DOI: 10.33476/jky.v22i2.305

Abstract

Penyakit TB Paru atau yang lebih dikenal dengan TBC masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia bahkan dunia dimana TB paru di Indonesia menjadi penyebab kematian utama ketiga setelah penyakit jantung dan saluran pernafasan. Di Kabupaten Lampung Utara angka insiden TB Paru cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Puskesmas Kotabumi II, Puskesmas Bukit Kemuning dan Puskesmas Ulak Rengas merupakan tiga puskesmas dengan insiden tertinggi di Kabupaten Lampung Utara.Tujuan penelitian ini mengetahui kejelasan hubungan antara variabel independen dengan kejadian TB Paru BTA Positif di wilayah kerja puskesmas Kotabumi II, puskesmas Bukit Kemuning dan puskesmas Ulak Rengas tahun 2012.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan rancangan case control dengan sampel 62 kasus yang merupakan total populasi dan 62 kontrol dengan menitikberat-kan pada dominasi hubungan yang benar benar bersih terhadap variabel yang diduga sebagai variabel utama penyebab kejadian penyakit TB Paru.Hasil analsis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan antara kejadian TB Paru BTA positif dengan kondisi fisik rumah (OR = 3,72), umur (OR = 2,32), pendidikan (OR = 2,55), pekerjaan (OR = 2,75) dan kepadatan hunian (OR = 3,13). Sedangkan  hasil analisis multivariat ternyata ada hubungan bermakna antara kejadian TB Paru BTA positif dengan kondisi fisik rumah (OR = 7,033), umur (OR = 3,06), jenis kelamin (OR = 2,22), pendidikan (OR = 2,33), kondisi fisik rumah dengan pendidikan (OR = 0,12) dan interaksi antara pekerjaan dengan kepadatan hunian (OR = 6,08). Kesimpulannya diperoleh hubungan yang sesungguhnya antara kondisi fisik rumah dengan kejadian TB Paru BTA positif umur, jenis kelamin, pendidikan, kondisi fisik rumah dengan pendidik-an dan interaksi antara pekerjaan dengan kepadatan hunian. Disarankan, peningkatan frekuensi penyuluhan rumah sehat, jangka pendek menambahkan genteng kaca dan membuka jendela setiap pagi hari untuk membantu masuknya sinar matahari dan sirkulasi udara, jangka panjang dengan peningka-tan perbaikan kondisi lingkungan rumah dengan lebih mempe-rhatikan aspek sanitasi rumah sehat pada saat membangun rumah dan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat.
STUDY OF SOME BIOCHEMICAL PARAMETERS IN YOUNG MEN AS EFFECTED BY RAMADAN FASTING Indra, M. Rasjad; Satuman, Satuman; Widodo, Edwin; E.H, Tinny; S.W, Endang; Sudiarto, Sudiarto; Soemardini, Soemardini
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 15, No 1 (2007): JANUARI - APRIL 2007
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.479 KB) | DOI: 10.33476/jky.v15i1.999

Abstract

The effect of Ramadan fasting on some blood parameters i.e. serum glucose, urea, uric acid, lipids and proteins, were investigated on young men in Ar Rohmah Islamic dormitory. Nineteen normal and healthy students aging between 12-25 years, residing in the Islamic dormitory, voluntarily to participated in the study. Blood samples were obtained from the volunteers on the 1st and 26th day of Ramadan and analyzed for the aforementioned biochemical parameters. A non-significant effect of Ramadan fasting was observed on most of the parameters studied. However, serum urea, triglycerides, total cholesterol and LDL-cholesterol were reduced significantly (p 0.05) but remained within the physiological limits. Decrease in blood urea has been attributed to the effect of at least protein and triglycerides intake to increase lipolytic effect. The reduction in serum cholesterol and LDL is a beneficial effect of Ramadan fasting. The results of the study indicated thatRamadan fasting is quite safe for normal healthy adults.

Filter by Year

2002 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2019): SEPTEMBER - DESEMBER 2019 Vol 27, No 2 (2019): MEI-AGUSTUS 2019 Vol 27, No 1 (2019): JANUARI - APRIL 2019 Vol 26, No 3 (2018): SEPTEMBER - DESEMBER 2018 Vol 26, No 2 (2018): MEI - AGUSTUS 2018 Vol 26, No 2 (2018): MEI - AGUSTUS 2018 Vol 26, No 1 (2018): JANUARI - APRIL 2018 Vol 26, No 1 (2018): JANUARI - APRIL 2018 Vol 25, No 3 (2017): SEPTEMBER - DESEMBER 2017 Vol 25, No 3 (2017): SEPTEMBER - DESEMBER 2017 Vol 25, No 2 (2017): MEI - AGUSTUS 2017 Vol 25, No 2 (2017): MEI - AGUSTUS 2017 Vol 25, No 1 (2017): JANUARI - APRIL 2017 Vol 25, No 1 (2017): JANUARI - APRIL 2017 Vol 24, No 3 (2016): SEPTEMBER - DESEMBER 2016 Vol 24, No 2 (2016): MEI - AGUSTUS 2016 Vol 24, No 2 (2016): MEI - AGUSTUS 2016 Vol 24, No 1 (2016): JANUARI - APRIL 2016 Vol 24, No 1 (2016): JANUARI - APRIL 2016 Vol 23, No 3 (2015): SEPTEMBER - DESEMBER 2015 Vol 23, No 2 (2015): MEI - AGUSTUS 2015 Vol 23, No 1 (2015): JANUARI - APRIL 2015 Vol 22, No 2 (2014): MEI - AGUSTUS 2014 Vol 22, No 2 (2014): MEI - AGUSTUS 2014 Vol 21, No 1 (2013): JANUARI - APRIL 2013 Vol 20, No 3 (2012): SEPTEMBER - DESEMBER 2012 Vol 20, No 3 (2012): SEPTEMBER - DESEMBER 2012 Vol 20, No 2 (2012): MEI - AGUSTUS 2012 Vol 20, No 2 (2012): MEI - AGUSTUS 2012 Vol 20, No 1 (2012): JANUARI - APRIL 2012 Vol 20, No 1 (2012): JANUARI - APRIL 2012 Vol 18, No 2 (2010): MEI - AGUSTUS 2010 Vol 18, No 2 (2010): MEI - AGUSTUS 2010 Vol 18, No 1 (2010): JANUARI - APRIL 2010 Vol 18, No 1 (2010): JANUARI - APRIL 2010 Vol 17, No 3 (2009): SEPTEMBER - DESEMBER 2009 Vol 17, No 3 (2009): SEPTEMBER - DESEMBER 2009 Vol 17, No 2 (2009): MEI - AGUSTUS 2009 Vol 17, No 2 (2009): MEI - AGUSTUS 2009 Vol 17, No 1 (2009): JANUARI - APRIL 2009 Vol 17, No 1 (2009): JANUARI - APRIL 2009 Vol 16, No 3 (2008): SEPTEMBER - DESEMBER 2008 Vol 16, No 3 (2008): SEPTEMBER - DESEMBER 2008 Vol 16, No 2 (2008): MEI - AGUSTUS 2008 Vol 16, No 2 (2008): MEI - AGUSTUS 2008 Vol 16, No 1 (2008): JANUARI - APRIL 2008 Vol 16, No 1 (2008): JANUARI - APRIL 2008 Vol 15, No 3 (2007): SEPTEMBER-DESEMBER 2007 Vol 15, No 1 (2007): JANUARI - APRIL 2007 Vol 13, No 1 (2005): JANUARI - APRIL 2005 Vol 10, No 1 (2002): JANUARI - APRIL 2002 More Issue