cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial
ISSN : 14125153     EISSN : 25028707     DOI : -
Core Subject : Social,
Berbagai hasil penelitian dan kajian model praktik pekerjaan sosial tentang model pelayanan sosial, perlindungan sosial, rehabilitasi sosial, pemberdayaan sosial, pengembangan sosial, dan intervensi praktik pekerjaan sosial dapat dipublikasikan melalui jurnal Peksos ini.
Arjuna Subject : -
Articles 143 Documents
KEMAMPUAN ORANGTUA DALAM MENERAPKAN METODE TERAPI APPLIED BEHAVIOR ANALYSIS (ABA) UNTUK ANAK AUTIS Suyono, Sinta Yulianti
Pekerjaan Sosial Vol 13, No 2 (2014): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.209 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v13i2.41

Abstract

Abstract Enhancement of Children with disabilities?s welfare through social services and rehabilitation become all responsibility of families, community/society, and government. Family is the first and ultimate unsure in their Children with Disability?s treatment and is essential base in family-based social services and rehabilitation. One kind of disability in children is autism. Children with Autism Disorder shows less responses to other people, have a big barrier in communication, and social interaction. Various methods have been developed for therapy and education for children with autism, one of those is Applied Behavior Analysis (ABA) which has been accepted widely as an effective and efficient method.The Autism that caused difficulties in communication and interpersonal relation can be treated by ABA therapy. The key in this therapy is the parent, parent as the therapist. This research aims to describe intervention toward ?AN? parent, while the researcher giving training of ABA methods with eye contact technique and obedient to increase parent capabilities. Method uses in this research is Single Subject Design (SSD with reversal research design, it is ABA, in single case experiment. The test conduct statistically using t test different (t-test).The result shows any development in parent capability in applying ABA method to ?AN?, so this research proving that ABA method success to help reduce barrier in communication and interpersonal relation of children with autism. Keywords: parent capability, ABA therapy, children with autism  Abstrak Peningkatan kesejahteraan sosial Anak dengan Kecacatan (ADK) melalui pelayanan dan rehabilitasi sosial menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Keluarga merupakan unsur pertama dan utama dalam penanganan ADK dan dasar utama dalam pelayanan dan rehabilitasi sosial berbasis keluarga. Salah satu jenis kecacatan yang dialami oleh anak adalah autisme. Anak yang mengalami gangguan autisme menunjukkan respon yang kurang terhadap orang lain, mengalami kendala berat dalam kemampuan komunikasi, dan interaksi sosial. Berbagai metode dikembangkan untuk terapi dan edukasi bagi anak dengan autisme, salah satu metode tersebut adalah Applied Behavior Analysis (ABA) yang diterima  secara luas sebagai metode yang efektif dan efisien.Autisme yang menyebabkan kesulitan komunikasi dan hubungan interpersonal dapat ditangani dengan terapi ABA. Kunci dalam terapi ini adalah orangtua dimana orangtua berperan sebagai pelaku terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensi terhadap orangtua ?AN?, dimana peneliti memberikan pelatihan metode ABA dengan teknik kontak mata dan kepatuhan untuk meningkatkan kapabilitas orangtua. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Single Subject Design (SSD) dengan menggunakan desain penelitian reversal yaitu desain A-B-A dalam eksperimen kasus tunggal. Pengujian dilakukan secara statistik dengan menggunakan uji perbedaan uji t ( t test).Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan orangtua dalam menerapkan metode ABA untuk ?AN?, sehingga penelitian membuktikan hipotesis apabila metode ABA membantu mengurangi hambatan anak dalam komunikasi dan relasi interpersonal. Kata kunci: kemampuan orangtua, terapi ABA, anak dengan autisme
RELASI PERTOLONGAN PEKERJAAN SOSIAL BAGI PECANDU NARKOBA DI RUMAH CEMARA Yolanda, Widyani Tri
Pekerjaan Sosial Vol 14, No 1 (2015): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.93 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v14i1.42

Abstract

Abstract The increasing numbers of psychotropic drug users among Indonesians in the past decade have raised the concern of developing well-rounded rehabilitation centers to balance out the preventive through law enforcement, and to offer practical solutions to the drug users to cope with addiction. In drugs rehabilitation, helping relationships is one of the important indicators of success in drug user?s ability to cope. This study specifically explored three components of helping relationship which were: verbal communication skills, non-verbal skills, and leadership roles. This study used case study as its methodology, which is the main technique for data retrieval were participant observation. Participant observation was conducted over a period of one month and utilized observation checklist, field notes, counseling records in individual, also came from written artifacts and documents from the rehabilitation center as its data sources. All these data sources were then qualitatively analyzed and triangulated to yield at a descriptive account of the helping relationships. The study revealed that overall the verbal and non-verbal components of helping relationship between the counselor and the rehab patients were present. However, one aspect was not practiced, it is Confrontation. What is especially striking about helping relationship model, as this study found, is that the task roles and maintenance roles as parts of leadership skills were not just demonstrated by the counselor himself, but rather distributed among the residents and staffs, and were shown to help the residents to establish closer connections with each other. Based on these findings, this study suggests that a documentary video on helping relationships in a counceling session and in a group session be made for future training purposes. Keywords: rehabilitation, helping relationship, narcotics  Abstrak Meningkatnya jumlah pengguna narkoba di Indonesia dalam dekade terakhir ini telah mengangkat kekhawatiran pengembangan pusat rehabilitasi yang sempurna untuk mengimbangi langkah-langkah pencegahan melalui penegakan hukum, serta menawarkan solusi praktis bagi pengguna narkoba untuk mengatasi kecanduan. Dalam rehabilitasi pengguna narkoba relasi pertolongan merupakan salah satu indikator penting dari keberhasilan dalam kemampuan pecandu  mengatasi  kecanduannya. Penelitian ini secara khusus membahas tiga komponen dari relasi pertolongan yang dilakukan oleh Pusat Perawatan Pecandu Narkoba Rumah Cemara, Ciwaruga, Kabupaten Bandung, yaitu: keterampilan komunikasi verbal dan nonverbal, dan peran kepemimpinan. Penelitian ini menggunakan teknik studi kasus dengan metode deskriptif - kualitatif.  Teknik utama yang digunakan untuk pengambilan data adalah observasi partisipasi. Observasi partisipasi dilakukan selama satu bulan dan menggunakan ceklis observasi, catatan lapangan, verbatim konseling individu, serta dokumen kelembagaan sebagai sumber data. Semua sumber data kemudian dianalisis secara kualitatif dan ditriangulasikan untuk menggambarkan relasi pertolongan di Pusat Perawatan Pecandu Narkoba di Rumah Cemara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan aspek komunikasi verbal dan nonverbal dalam relasi pertolongan antara konselor dan residen ada. Namun satu teknik yang tidak dipraktikkan yaitu konfrontasi. Hal yang sangat menonjol tentang bentuk relasi pertolongan di Pusat Perawatan Pecandu Narkoba Rumah Cemara dalam penelitian ini adalah keterampilan kepemimpinan tidak hanya ditunjukkan oleh konselor saja, residen dan staf juga menunjukkan dan mendistribusikannya untuk membantu residen menjalin hubungan yang lebih dekat. Sesuai temuan di lapangan, peneliti memberikan saran untuk meningkatkan relasi pertolongan yang berkaitan dengan sesi konseling individu dan sesi kelompok dengan membuat video dokumentasi pembelajaran tentang relasi pertolongan. Kata kunci: rehabilitasi, relasi pertolongan, narkoba
PERANAN PEKERJA SOSIAL PROFESIONAL DALAM PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM) MENERAPKAN E-COMMERCE Muhyidin, Ujang
Pekerjaan Sosial Vol 18, No 2 (2019): PEKSOS
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.917 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v18i2.203

Abstract

Kajian ini dilakukan untuk mengetahui peranan pekerja sosial profesional dapat terlibat dalam pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menerapkan ecommerce. Kajian ini dilaksanakan dengan menggunakan data sekunder dari hasil penelitian mengenai faktor hambatan yang dialami UMKM untuk menerapkan ecommerce dalam bisnisnya. Secara umum. UMKM di Indonesia yang telah menerapkan e-commerce masih sangat kecil dibandingkan dengan jumlah UMKM yang ada. Tahun 2018 jumlah UMKM 59,2 juta, yang sudah memanfaatkan platform online (ecommerce) dalam memasarkan produknya sebanyak 3,79 juta atau sebesar 6,4 %. Rendahnya penerapan e-commerce oleh UMKM ini disebabkan hambatan utamanya adalah sumber daya manusia, yakni kemampuan (capability) dan kemauan (Willingness) rendah, serta masih rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat UMKM akan manfaat e-commerce di era digital ini. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan eksploratif deskriptif dengan menganalisis peranan peksos profesional dalam memberdayakan UMKM menerapkan e-commerce, dikembangkan dengan menggunakan pendekatan kajian literatur. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa peksos profesional dapat berperan sebagai pelaku perubahan (change agent) memberdayakan UMKM dalam bisnis menggunakan e-commerce. Melalui penerapan pendekatan pemberdayaan yaitu pemungkinan, penguatan, pelindungan, penyokongan dan pemeliharaan. Dapat berperan sebagai fasilitator, motivator, broker , advokator, dan inovator. Hasil kajian ini dapat membantu para stakeholder dalam pemberdayaan UMKM menggunakan e-commerce dengan melibatkan peksos profesional
DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA TERHADAP EKS KORBAN PENYALAHGUNAAN NAPZA DI PANTI SEKAR MAWAR LEMBANG KABUPATEN BANDUNG BARAT Nainggolan, Atirista
Pekerjaan Sosial Vol 18, No 2 (2019): PEKSOS
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.503 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v18i2.198

Abstract

Dukungan Sosial keluarga sangat dibutuhkan karena pihak Panti/ lembaga rehabilitasi tentu tidak dapat memulihkan kondisi korban penyalahgunaan NAPZA tanpa bantuan dari pihak lain khususnya keluarga sebagai unit sosial yang paling dekat dengan eks korban penyalahgunaan NAPZA. Penelitian tentang ?Dukungan Sosial Keluarga pada Eks Korban Penyalahgunaan NAPZA di Panti Sekar Mawar merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana dukungan sosial keluarga terhadap eks korban penyalahgunaan NAPZA ditinjau dari aspek dukungan emosional, dukungan informasional, dukungan instrumental dan dukungan penghargaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda deskriptif dengan pendekatan kualitatif (analisis kualitatif) berdasarkan interpretasi dari data primer maupun data sekunder. Proposisi dari penelitian ini adalah bahwa Dukungan Sosial Keluarga terhadap eks korban penyalahgunaan NAPZA dapat membantu eks korban penyalahgunaan NAPZA dalam melakukan recovery (pemulihan) dan dapat menjalani hidupnya yang abstinen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 3 informan yang diteliti menunjukkan hasil yang variatif, jawaban informan ada yang sangat bagus, tidak jelas dan sama sekali tidak relevan dengan pertanyaan. Namun demikian, setelah peneliti mengalisis dan mereduksi data dapat disimpulkan hasilnya sebagai berikut, yaitu: aspek emosional yang diperoleh dari 2 informan memberikan dukungan emosional dengan kategori cukup baik sedangkan 1 informan lainnya dengan kategori baik. Untuk aspek informatif, 2 informan memberikan informasi dengan cukup baik dan 1 informan lainnya kurang baik. Aspek instrumental yang diperoleh dari informan menunjukkan bahwa semua informan memberikan dan memenuhi semua kebutuhan residen dengan cukup baik dan untuk aspek penghargaan yang diperoleh 2 informan memberikan apresiasi atau penghargaan dengan cukup baik sedangkan 1 informan lainnya kurang baik.
IMPLEMENTASI SOCIAL SKILL TRAINING DALAMMENGATASI PERILAKU AGRESIF ANAK DIKELURAHAN PAJAJARAN KECAMATAN CICENDO KOTA BANDUNG Pratama, Budi Surya Hadi; Setiamanah, Meilani Dewi; Setianingsih, Krisna Dewi
Pekerjaan Sosial Vol 18, No 2 (2019): PEKSOS
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.953 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v18i2.204

Abstract

Penelitian ini didasarkan pada permasalahan perilaku sosial anak sering terjadi di masyarakat, perilaku yang sering dilakukan adalah berkatakasar, menentang, menantang, mendorong, memukul dan menendang. Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan menggunakan Desain Subjek Tunggal. Model penelitian yang digunakan yaitu model ABA yang terdiri dari tiga fase antara lain (a) Fase A1 (baseline) (b) Fase B (intervensi), dan (c) Fase A2 (hasil). Instrumen yang digunakan adalah lembar pencatatan obervasi perilaku. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru dari ?AJ, HR dan MAA. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi. Teknik analisa yang digunakan adalah teknik analisa kuantitatif dengan menggunakan analisa visual. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa social skill training dapat mengatasi perilaku agresif terhadap salah satu subjek penelitian, dua subjek lainnya terlihat peningkatan kecenderungan perilaku agresif pada aspek berkatakasar dan menendang. Peneliti menyarankan sebagai bahan masukan untuk memperoleh hasil yang diinginkan, sebaiknya orangtua dan tenaga pengajar lebih banyak mengajarkan pendidikan pembentukan kepribadian anak serta mengajarkan kata-kata yang baik kepada anak untuk pembentukan perilaku yang lebih baik.
KONSELING BAGI ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM DI LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK KELAS II BANDUNG Ningrum, Sri Ratna
Pekerjaan Sosial Vol 18, No 2 (2019): PEKSOS
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.288 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v18i2.199

Abstract

Konseling merupakan proses di mana Anak dibantu secara pribadi agar dapat merasa dan berperilaku secara lebih memuaskan sehingga dapat mengembangkan perilaku yang lebih efektif dalam berhubungan dengan lingkungannnya. Konseling perlu diberikan kepada Anak yang sedang menjalani pembinaan di LPKA karena secara psikologis Anak berada pada situasi yang tidak mengenakkan, di mana ia harus berada jauh dari keluarga, harus menghadapi situasi di mana ia merasa dikucilkan oleh lingkungannya. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konseling bagi Anak dilaksanakan oleh LPKA Kelas II Bandung. Untuk dapat memperoleh gambaran dan pemahaman mengenai hal tersebut maka dipilih pendekatan deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian secara holistik dengan empat orang informan. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data dilakukan melalui uji kredibilitas, peningkatan ketekunan, triangulasi, uji transferabilitas, uji dependabilitas, dan uji komfirmabilitas. Hasil penelitian Konseling Bagi Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum di LKPA Kelas II Bandung menunjukkan bahwa konseling bagi Anak yang berkonflik dengan hukum di LPKA Kelas II Bandung merupakan bagian dari pemenuhan hak Anak sesuai dengan Pedoman Perlakuan Anak di LPKA. Harapan informan agar lebih banyak pihak yang peduli dan bekerjasama dalam memberikan pelayanan kepada Anak, termasuk pelayanan konseling, maka pekerja sosial dapat menjadi bagian yang penting dalam proses ini sehingga penanganan Anak yang berkonflik dengan hukum dapat dilakukan secara komprehensif
PENGEMBANGAN KAPASITAS KELOMPOK BANTU DIRI MEKARWANGI ANTI NARKOBA “MAN” DALAM PENCEGAHAN KEKAMBUHAN BAGI MANTAN PENYALAHGUNA NAPZADI DESA MEKARWANGI KECAMATAN LEMBANG KABUPATEN BANDUNG BARAT Simatupang, Lerry Harsen; Aritonang, Admiral Nelson; Ismudiyati, Yuti
Pekerjaan Sosial Vol 18, No 2 (2019): PEKSOS
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.643 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v18i2.205

Abstract

Kekambuhan adalah suatu proses dimana seorang mantan penyalahguna NAPZA (recovering addict) kembali menyalahgunakan NAPZA dari proses abstinensia yang sudah dijalani. Belum banyak cara yang efektif dalam mencegah seorang mantan penyalahguna untuk tidak menyalahgunakan NAPZA. Kelompok bantu diri (Self Help Group) merupakan salah satu tipe-tipe kelompok menurut Garvin (2011) dalam bimbingan sosial kelompok (Social Group Work).Kelompok bantu diri ?MAN? yang dibentuk ini untuk melakukan upaya pencegahan kekambuhan para mantan penyalahguna NAPZA di Desa Mekarwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.Penelitian ini bertujuan untuk merancang model pengembangan kapasitas kelompok bantu diri?MAN? dalam upaya pencegahan kekambuhan di Desa Mekarwangi. Model ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari model pencegahan kekambuhan yang telah dilakukan. Pengembangan kapasitas dipandang perlu untuk dilakukan dalam rangka menaikkan kapasitas kelompok bantu diri ?MAN? dalam upaya pencegahan kekambuhan di Desa Mekarwangi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan jenis penelitian Participatory Action Research (PAR). Sumber data yang diperoleh secara purposive dari anggota dan pengurus kelompok bantu diri ?MAN?. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik PEKA (Penilaian Kapasitas), wawancara mendalam (In-depth Interview), observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan uji credibility, uji transferability, uji dependability, dan uji confirmability.Hasil penelitian adalah terumuskannya rancangan model pengembangan kapasitas kelompok bantu diri ?MAN? dalam upaya pencegahan kekambuhan di Desa Mekarwangi, meliputi Pelatihan pengorganisasian kelompok, Kegiatan kelompok bantu diri sharing circle tentang Pencegahan Kekambuhan bagi Kelompok Bantu Diri ?MAN?. Hasil yang dicapai dalam rancangan model pengembangan kapasitas kelompok bantu diri ?MAN? dalam upaya pencegahan kekambuhan adalah meningkatnya pemahaman dan kemampuan anggota dan pengurus, Kelompok Bantu Diri ?MAN? dalam mengelola kelompok, mencegah kekambuhan, dan membangun kerja sama yang baik dengan pihak lain serta berkembangnya rencana kerja atau program dari kelompok bantu diri ?MAN? dalam upaya pencegahan kekambuhan.
PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM PROSES DIVERSI ANAK BERHADAPAN DENGAN HUKUM (ABH) ): STUDI DI BALAI PEMASYARAKATAN KELAS I BANDUNG Herlina, Elin
Pekerjaan Sosial Vol 18, No 2 (2019): PEKSOS
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.149 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v18i2.200

Abstract

Pendekatan penangan anak yang berhadapan dengan hukum telah bergeser dengan mempertimbangkan pemenuhan hak-hak anak dan tercapainya Keadilan Restoratif. Salah satu implementasi keadilan restoratif ditempuh melalui proses diversi. Diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses diluar peradilan pidana. Keterlibatan profesi pekerja sosial dalam prses diversi diatur dalam Undang Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA). Pekerja sosial memiliki peran yang sangat penting dalam dalam proses diversi Anak yang Berhadapan dengan Hukum. Tujuan Penelitian ini adalah untuk memperoleh gabaran lebih mendalam tentang Peran Pekerja Sosial dalam proses diversi ABH yang ditangani oleh Balai Pemasyarakatan Kelas 1 Bandung. Metode yang digunakan dalam pelenelitian ini adalah metoda deskriptif dengan penkekatan kualitatif, dengan informan sebanyak 5 orang yang terdiri 3 orang pekerja sosial dan 2 orang pembimbing kemasyarakatan. yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran penangan ABH di Balai Pemasyarakatan Kelas 1 Bandung dan peran pekerjan sosial dalam proses diversi ABH. Teknik pengumpulan data wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Teknik pemeriksaan keabsahan data yaitu uji kredibilitas, keteralihan, ketergantungan dan kepastian. Teknik analisa data yang digunakan yaitu teknik analisa data kualitatif melaui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkn bahwa peran-peran yang dilakukan oleh pekerja sosial dalam proses diversi anak yang berhadapan dengan hukum yaitu peran sebagai perencana, (planner), perantara (mediator), pemberi motivasi (motivator), pendidik (edukator) dan perantara (broker). Peran-peran tersebut sudah dilaksanakan dengan cukup baik, akan tetapi terdapat peran yang kurang maksimal dilaksanakan yaitu peran sebagai pendidik (edukator) dan peran sebagai perantara (broker)
KUALITAS HIDUP EKS PEKERJA MIGRAN LINTAS NEGARA DI DUSUN PUSAKAJATI DESA PUSAKARATU KECAMATAN PUSAKANAGARA KABUPATEN SUBANG Utami, Briyanwidi; Kardeti, Denti; Subardhini, Meiti
Pekerjaan Sosial Vol 18, No 2 (2019): PEKSOS
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.941 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v18i2.201

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan yang dialami eks pekerja migran lintas negara setelah kembali ke daerah asal di Dusun Pusakajati Desa Pusakaratu Kecamatan Pusakanagara Kabupaten Subang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang ?Kualitas Hidup Eks Pekerja Migran Lintas Negara di Dusun Pusakajati Desa Pusakaratu Kecamatan Pusakanagara Kabupaten Subang?. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini aalah kuantitatif dengan metode deskriptif. Penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan Samepl Wilayah dengan jumlah sasaran 57 jiwa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket/kuesioner, wawancara tidak terstruktur, observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian dilakukan menunjukkan bahwa Kualitas Hidup Eks Pekerja Migran Lintas Negara berada pada tingkatan sedang atau cukup berkualitas hal tersebut ditunjukkan oleh total skor dari empat aspek. Aspek hubungan sosial termasuk dalam kategori sedang dengan persentase sebesar 72,73 persen. Rekomendasi program untuk pemecahan permasalahan yaitu Pengembangan Kapasitas Eks Pekerja Migran Lintas Negara melalui Pembentukkan Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Program ini merupakan rangkaian kegiatan yang terdiri atas penyuluhan mengenai pemberian motivasi serta strategi pemasaran, pelatihan dan produksi Abon Lele serta pembentukkan KUBE. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas eks pekerja migran lintas negara dalam memperoleh penghasilan melalui pemanfaatan waktu luang dan usaha bersama.
TRAFFICKING IN PERSON SUATU TINJAUAN DARI ASPEK SOSIALTENTANG PERDAGANGAN PEREMPUAN DAN ANAK Ateng, Sakroni
Pekerjaan Sosial Vol 11, No 1 (2012): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.213 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v11i1.2

Abstract

AbstractTrafficking Person is a recruitment, transportation, reception centre, sending, moving or reception someone with threat, harshness, abduction, forgery, deception, abuse of power, trapping of debt or giving payment or profit, so get approval from people holding to conduct of others, both for conducted in inter-states and state for exploitation or result people exploited. From understanding above, hence form trafficking can in the form of labor migran legal also illegal, worker of hausehold, worker of commercial seks, wedding orger, spurlous child adoption, beggar, pornography industry, circulation of forbidden drug and sale of body organ. Pursuant to research result, trafficking form that happened is expressed. Its for ecample that is housemaid labour of migran and worker of commercial seks. Form of him not yet been expressed. Cause factor the happen of trafficking is social factors such as poorness, education which relative lower, patriakhi culture who then push woman motivate to fulfill requirement of economics and fulfill the him of as especial entrpreneur. The trafficking victims less get protection of law, this matter is caused by law and substanstion regulation completely arrangen protection to victim. Keywords: trafficking in person, social factors AbstrakPerdagangan orang adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari banyak orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negaramaupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi. Dari pengertian tersebut, maka perdagangan orang dapat dapat dalam bentuk perburuhan migrant legalmaupun illegal, pembantu rumah tangga, pekerja seks komersial, pengantin pesanan, adopsi anak palsu, pengemis, industri pornografi, pengedaran narkotika yang dilarang dan jual-beli organ tubuh. Berdasarkan hasil penelitian bentuk perdagangan orang yang sering terjadi adalah pekerja migran dan pekerja seks komersial. Bentuk perdagangan orang lainnya meski terjadi namun tidak sebesar kedua bentuk tersebut. Faktor penyebab terjadinya perdagangan orang adalah faktor-faktor sosial seperti kemiskinan, tingkat pendidikan yang relatif rendah, budaya patriarkhi, yang kemudian mendorong korban terbujuk pada calo/sponsor yang menawarkan pekerjaan dengan upah/gaji yang besar. Korban perdagangan orang pada umumnya belum mendapat perlindungan hukum yang cukup, hal ini disebabkan substansi peraturan perundang-undangan belum memberikan perlindungan yang cukup kepada para korban.