cover
Contact Name
Jurnal Artefak
Contact Email
jurnalartefaksejarah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalartefaksejarah@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. ciamis,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Artefak
Published by Universitas Galuh
ISSN : 23555726     EISSN : 25800027     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ARTEPAK, diterbitkan olah Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Galuh. Jurnal ini memuat hasil penelitian atau kajian teoritis yang berkaitan dengan pengembangan dan peningkatan profesi guru IPS, kajian Sejarah Lokal & Nasional, Kebudayaan, dan Pendidikan. Diterbitkan secara berkala Dua kali dalam setahun yaitu pada Bulan April dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 222 Documents
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN QUESTION STUDENT HAVE (QSH) TERHADAP HASIL BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS XI IPS DI SMA NEGERI 3 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2017/2018 Yusinta Tia Rusdiana; Husna Husna; Heryati Heryati
Jurnal Artefak Vol 9, No 1 (2022): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.493 KB) | DOI: 10.25157/ja.v9i1.7467

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi keingintahuan penulis terhadap model pembelajaran Question Student Have yang diterapkan dalam proses pembelajaran sejarah. Mengetahui  (1)Bagaimana Proses Penerapan Model pembelajaran  Question Student Have siswa  Kelas XI IPS di SMA Negeri 3 Palembang tahun 2017/2018 ? (2) Kendala-kendala apa saja yang dihadapi guru pada saat Penerapan Model pembelajaran  Question Student Have  (3) Adakah pengaruh pembelajaran sejarah melalui Model pembelajaran  Question Student Have terhadap hasil belajar Sejarah siswa Kelas XI IPS di SMA Negeri 3 Palembang . Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen semu dan jenis penelitian kuantitatif. Tehnik pengumpulan data: (1) Observasi; (2) Wawancara; (3) Dokumentasi; (4) Tes. Kesimpulan: Proses penerapan model pembelajaran Question Student Have dilakukan peneliti dengan memulai membagi kelas menjadi beberpa kelompok kemudian guru membagikan kartu kosong setelah itu guru memberi penjelasan terhadap materi pembelajaran dengan pokok bahasan Pendudukan Jepang di Indonesia. Kendala yang dihadapi saat melaksanakan proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran Question Student Have antara lain adalah peneliti menemukan bahwa tidak semua siswa memiliki buku paket sehingga menyulitkan siswa pada saat kegiatan belajar-mengajar, siswa juga kurang paham dengan materi yang dijelaskan oleh guru karena keterbatasan waktu.Pengaruh model pembelajaran Question Student Have yang dilakukan peneliti adalah sangat nyata. Pengaruh tersebut terlihat pada peningkatan nilai rata-rata siswa kelas eksperimen sebesar 83,03 saat mengikuti tes pertama dan tes kedua.
Revitalisasi Pancasila Sebagai Upaya Memupuk Pemahaman Multikultural Bagi Mahasiswa Universitas Galuh Egi Nurholis; Agus Budiman; Jeni Danurahman
Jurnal Artefak Vol 9, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.338 KB) | DOI: 10.25157/ja.v9i2.8941

Abstract

Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Hal ini terlihat dari kondisi sosial budaya dan geografis Indonesia yang sangat kompleks, beragam dan luas. Indonesia terdiri dari banyak suku, budaya, agama dan kelompok lain, yang semuanya secara bersamaan pluralistik dan heterogen. Namun, keragaman dapat menyebabkan perpecahan jika tidak semua warga memahaminya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu mengumpulkan dan membandingkan beberapa jurnal yang disusun, diseleksi dan diklasifikasi sehingga benar-benar memuat informasi yang relevan dan valid tentang multikulturalisme. Sejak didirikan, telah membentuk budaya Indonesia. Namun hari ini, pemahaman kita tentang multikulturalisme mulai berkembang dari konsep dasar ini. Isu kebhinekaan perlu dikaji secara mendalam agar masyarakat Indonesia tidak terlena dengan semboyan bahwa kebhinekaan adalah anugerah bukan kewajiban. Penamaan nilai-nilai Pancasila merupakan pendekatan konkrit terhadap persoalan multikultural di Indonesia, dengan demikian lima sila yang menjadi inti dari kesamaan semua bangsa yang berbeda warna menjadi prinsip dasar bangsa. , yang terkandung dalam dan merupakan salah satu sila Pancasila, tidak dapat dikembalikan. Bukan pula negara sekuler yang memisahkan urusan negara dan urusan agama, tetapi negara agama adalah negara kesatuan dalam Republik Indonesia yang merupakan negara positif yang disepakati oleh semua negara, termasuk semua penyelenggara negara yang agamanya beragam. berarti membutuhkan hukum. Negara memiliki kewajiban untuk melindungi semua agama yang diakui, dan negara tidak boleh ikut campur dalam masalah keyakinan.
Museum Gedung Pegadaian Sukabumi Sebagai Sarana Wisata Edukasi Sejarah Hendi Irawan; Yusuf Budi Prasetya Santosa; Arief Hidayat
Jurnal Artefak Vol 9, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1117.877 KB) | DOI: 10.25157/ja.v9i2.8381

Abstract

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara. Museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda bukti materil hasil budaya manusia, alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa. Selain sebagai tempat untuk menyimpan berbagai benda bersejarah dan media pembelajaran sejarah, museum juga dapat dijadikan sarana wisata edukasi bagi wisatawan. Museum sebagai wisata edukasi dapat menjadi tujuan alternatif untuk liburan sekaligus dapat memberikan wawasan, gambaran, atau pengetahuan mengenai sebuah peristiwa bersejarah bagi wisatawan. Museum Gedung Pegadaian di Sukabumi Jawa Barat adalah salah satu museum yang terdapat di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Museum Gedung Pegadaian merupakan satu-satunya museum bertema pegadaian di Indonesia. Museum Gedung Pegadaian memiliki koleksi berbagai benda yang berhubungan dengan kegiatan dan aktivitas pegadaian. Museum Gedung Pegadaian dapat menjadi tujuan wisata alternatif yang mengedukasi bagi wisatawan. Para wisatawan yang berkunjung tidak hanya akan disuguhi dengan lingkungan museum yang nyaman untuk berswafoto atau sekedar bersantai, melainkan juga pengetahuan sejarah yang lengkap seputar kegiatan perekonomian di masa lalu, khususnya aktivitas penggadaian.
Kearifan Lokal Pusat Pertanian Terintegrasi “Satnite” Sebagai Usaha Pemberdayaan Masyarakat Saribaye Lombok Barat Dian Eka Mayasari; Ilmiawan Ilmiawan; Ahmad Afandi; Rosada Rosada
Jurnal Artefak Vol 9, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.934 KB) | DOI: 10.25157/ja.v9i2.8797

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi implementasi pendidikan yang dilakukan oleh sekelompok komunitas petani milineal melalui Satnite “Pusat Pertanian Terintegrasi” di masyarakat yang diwujudkan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Secara umum tujuan penelitian ini untuk mengetahui strategi dan pengembangan inovasi pemberdayaan masyarakat melalui Satnite “Pusat Pertanian Terintegrasi”. Metode penelitian menggunakan studi kasus. Teknik pengumpulan data diperoleh secara langsung dengan observasi, wawancara dan dokumentasi.  Adapun hasil penelitian ini adalah; 1) Strategi pemberdayaan masyarakat melalui Satnite “Pusat Pertanian Terintegrasi” memiliki sasaran pemberdayaan yaitu masyarakat Saribaye Lombok Barat yang bertujuan mengajak masyarakat dalam pengembangan dan pemanfaatan potensi SDA Saribaye, menghasilkan produk kreatif yang bertujuan mengangkat produk-produk lokal unggulan Saribaye yang dikemas disektor bisnis, pengembangan dibidang pertanian, peternakan, perikanan, agrowisata dan wisata budaya. Strategi pemberdayaan dilakukan dengan meningkatkan kapasitas individu dan kelompok dalam partisipasi menciptakan produk dan nilai -nilai keanekaragaman serta lingkungan yang kondusif. 2) Pengembangan inovasi dalam pemberdayaan masyarakat menumbuhkan jiwa kreatif dan inovatif oleh para penggiat UKM, mitra dan komunitas masyarakat dalam mengembangkan wirausaha kreatif berbasis kearifan lokal di Saribaye.
Pelestarian Perkampungan Budaya Betawi : Dari Condet Ke Srengseng Sawah Siwi Nur Rahmawati
Jurnal Artefak Vol 9, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.728 KB) | DOI: 10.25157/ja.v9i2.7537

Abstract

Dipindahkannya perkampungan cagar budaya Betawi yang berawal dari Condet, Balekambang menjadi ke Srengseng Sawah merupakan upaya pemerintah yang bekerja sama dengan masyarakat asli Betawi serta komunitas lestari budaya Jakarta. Penelitian ini menggunakan perspektif perubahan sosial, sudah dapat dipastikan adanya transformasi sosial, kebudayaan dan ekonomi. Terpilihnya Srengseng Sawah sebagai kampung pelestarian cagar budaya betawi karena masih memiliki lingkungan yang asri dan bertahannya rumah panggung dengan arsitektur betawi sebagai ciri khas yang masih dipertahankannya. Srengseng Sawah diklaim memiliki potensi sebagai desa yang mampu mengemban  pariwisata budaya. Kebudayaan Betawi masih banyak yang terjaga di Srengseng Sawah hal ini ditandai oleh masyarakat yang memiliki keahlian dalam membuat makanan khas Betawi, ondel- ondel dan khas Betawi lainnya. Keputusan dipindahkannya perkampungan budaya Betawi ke Srengseng Sawah dibawah pimpinan  mantan gubernur DKI Jakarta Sutiyoso karena daerah Condet, Balekambang terus mengalami modernisasi dan mulai banyak didatangi serta dihuni oleh etnis- etnis diluar Betawi, oleh itu keputusan dipindahkan perkampungan pelestarian budaya Betawi di Srengseng Sawah menjadi keputusan final, dan sampai hari ini perkampungan cagar budaya Betawi yang berada di Srengseng Sawah menjadi bukti keberhasilan dari pemerintah dan masyarakat lokal untuk menjaga budaya nenek moyangnya agar tidak punah hilang begitu saja oleh globalisasi budaya yang dapat menyerang kapan saja.
Pengaruh Pemikiran Kemal Attaturk Terhadap Pergulatan Tokoh Muhammadiyah Dan Nasionalis Tentang Hubungan Agama Dan Negara Ila Listiyani; Mahli Zainuddin Tago
Jurnal Artefak Vol 9, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.259 KB) | DOI: 10.25157/ja.v9i2.8815

Abstract

Perebutan bentuk dasar negara dan agama antara kaum nasionalis sekuler yang diwakili oleh Soekarno yang menganut pemikiran Kemal AtTaturk dan kaum nasionalis Islam yang tetap bersikukuh memproklamirkan adnaya hukum Islam dalam dasar Negara. Tujuan: bagaimana pemikiran Kemal AtTaturk tentang hubungan agama dan negara serta bagaimana sikap dan peran politik tokoh Muhammadiyah dalam pembentukan hubungan agama dan negara di Indonesia. Metode Penelitian: Heuristik, Kualitatif Pustaka Penelitian Pustaka. Hasil Diskusi: Sekularisme berupa pemisahan agama dan negara yang dicanangkan Kemal ATaturk di Turki menimbulkan kekaguman para intelektual muda Indonesia akibat politik etis Belanda. Munculnya kaum nasionalis dan Islamis sekuler yang memperjuangkan agama sebagai dasar negara yang tercermin dalam sila Pancasila dalam Piagam Jakarta. Tokoh Muhammadiyah yang memperjuangkan kemerdekaan, Mas Mansur, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimejo, adalah tokoh sejarah yang lahir dari rahim Muhammadiyah. Senantiasa berjuang menjadikan Islam sebagai dasar negara sebagaimana termaktub dalam Pancasila dan Muqaddimah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. penindasan terhadap Masyumi, penonaktifan organisasi Hizbul Wathan Muhammadiyah sejak 1966 dan fitnah terhadap Muhammadiyah sebagai penerima suap dari Belanda dan pemerintah, hingga penghapusan semua partai Islam dan dilebur menjadi satu dalam PPP dan sikap Muhammadiyah diwakili oleh AR Fakhrudin pada masa orde baru menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya dasar negara dengan sikap menerimanya sebagai keamanan seperti helm saat bepergian, menunjukkan bahwa Muhammadiyah selalu berjuang untuk menjadikan agama sebagai salah satu dasar negara.
Guru Sejarah Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) Di Kota Kediri Terhadap Aksi Sepihak Partai Komunis Indonesia (PKI) Di Kediri Sebelum Meletusnya Peristiwa Wildan Firly Irhamny; Marsudi Marsudi; Zofrano Ibrahimsyah Magribi Sultani
Jurnal Artefak Vol 9, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (810.39 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan persepsi guru sejarah SMK Negeri di Kota kediri terhadap aksi sepihak PKI (Partai Komunis Indonesia) di wilayah Kediri sebelum meletusnya peristiwa G 30 S/PKI 1965. Terbentuknya persepsi guru terhadap peristiwa sebelum Gerakan 30 September/PKI 1965 ada yang sesuai, kurang sesuai, dan tidak sesuai di dalam pemahaman mengenai kejadian yang melatarbelakangi G 30 S/PKI 1965 bahwa peristiwa terjadinya G 30 S/PKI 1965 bukan hanya PKI sebagai pelaku tunggal. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif. Hasil temuan penelitian berupa guru sejarah yang ada di Kota Kediri memiliki pandangan yang sudah cukup baik walaupun ketika menjelaskan suatu peristiwa tersebut berbeda-beda dalam menanggapi tentang aksi sepihak PKI di wilayah Kediri sebelum meletusnya G 30 S/PKI 1965.
Peran Ulama Kampung Nyompet Tasikmalaya Dalam Arus Transformasi Budaya Lokal Pesantren Ditengah Ekosistem Teknologi Dunia Syarif Hidayat; Ema Srimulyani
Jurnal Artefak Vol 9, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.532 KB) | DOI: 10.25157/ja.v9i2.8582

Abstract

Derasnya arus ekosistem teknologi dunia mampu merubah kebiasaan manusia. Kebiasaan baru yang dalam berkomunikasi, mengerjakan pekerjaan sehari-hari mayoritas menggunakan teknologi. Tentu sangat berdampak pada budaya lokal masyarakat. Pada penelitian ini peneliti mengangkat tema bagaimana peran ulama di kampung Nyompet Cibeureum ada sebuah pondok pesantren Al-Falah yang masih memegang tradisi lama yakni tidak terpengaruh terhadap derasnya teknologo. Tetapi, memiliki pemikiran global. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan Etnografi dimana peneliti menjadi seorang observer dan sekaligus sebagai Etnografer terjun langsung untuk merasakan dan mengetahui kondisi sebenarnya sebagai partisipan dalam segala aspek kegiatan di pondok pesantren tersebut. Hasil penelitian ditemukan bahwa pemikiran dari KH Acer Rosdinal Saeful Huda, sebagai pimpinan pondok pesantren Al-Falah yang terletak di kampung Nyompet Kecamatan cibeureum Kota Tasikmalaya. Ia berpandangan bahwa perkembangan teknologi dipandang baik, karena menurutnya kemajuan teknologi memabantu dalam hal mempermudah dalam hal belajar mengajar. Namun yang perlu digaris bawahi disini adalah semua ada efek positif dan negatif. Pada efek negatifnya salah satu contohnya adalah tidak sedikit masyarakat indonesia secara luas dan masyarakat Nyompet pada kususnya terlalu terlena dengan media-media sosial dan aplikasi yang ada di handphone dan lupa akan kewajibannya sebagai seorang muslim yang baik seperti sholat dll. Akan tetapi, sebagai tokoh masyarakat dan pendidik dalam bidang keagamaan, dirinya senantiasa mengingatkan baik dalam pengajian dan pembelajaran untuk senantiasa bisa mengatur waktu dan mengisi konten-konten dalam handphonnya dengan aplikasi-aplikasi islami, seperti Al-Quran, game-game yang edukatif dan religius (disarankan untuk anak-anak yang masih usia dini), dan lain lain. Kemudian juga ada pembatasan dan pengawasan orang tua (bagi anak-anak) dalam menggunakan handphone.
Kedudukan Etnis Tionghoa dalam Multikulturalisme Indonesia: Antara Harapan dan Kenyataan Yeni Wijayanti
Jurnal Artefak Vol 9, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.118 KB) | DOI: 10.25157/ja.v9i2.8425

Abstract

This paper examines the position of the ethnic Chinese in multi-ethnic Indonesia. The dichotomy of natives (original citizens) and non-natives (citizens of Chinese descent) emerged since the Dutch colonial period, which is finally still embedded in the motherland. The purpose of this literature research is to reveal the position of the Chinese ethnicity in Indonesia. The method used is the historical method which includes heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Data collection techniques are carried out using literature or literature studies. The research findings show that there are still ethnic Chinese in Indonesia who experience discrimination even though the government is trying to unite all ethnic groups. Regimes changed after colonialism disappeared from Indonesia, but the gap between the ethnic Chinese and the indigenous population still exists despite assimilation and integration efforts. This can be seen when a crisis occurs, ethnic Chinese are often the target of anger from the native population.
Hubungan Bank Dunia Dengan Kegagalan Ekonomi Di Indonesia Pada Masa Orde Baru Dede Wahyu Firdaus; Thomas Megantara
Jurnal Artefak Vol 9, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.726 KB) | DOI: 10.25157/ja.v9i2.8961

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana hubungan kerjasama antara Bank Dunia dengan Indonesia dan mengambil latar belakang mengenai adanya permasalahan ekonomi di Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto atau yang sering kita kenal sebagai era Orde Baru. Korupsi, kesenjangan kesejahteraan di masyarakat, pembangunan yang tidak merata, serta inflasi di tahun 1997 merupakan beberapa masalah yang terjadi pada sektor ekonomi di Indonesia. Pada saat kondisi ekonomi Indonesia terpuruk sepeninggal pemerintahan Soekarno, Indonesia kemudian menjalin kerjasama dengan Bank Dunia melalui bantuan dana dengan syarat harus mengikuti Structural Adjustment Programs (SAPs). Tujuan dari SAPs adalah supaya Indonesia menjadi negara yang terbuka terhadap penanaman modal dari investor asing sehingga perekonomian Indonesia dapat stabil. Penelitian ini akan berpedoman pada metode sejarah dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka. Hasil dari penelitian ini adalah ketika Indonesia mengalami krisis moneter, ada hubungannya dengan pemberian dana bantuan dan program SAPs dari Bank Dunia, karena dengan adanya dana bantuan tersebut Indonesia menjadi terjerat utang yang tinggi dan lagi dana bantuan tersebut banyak dikorupsi. Selain itu, program SAPs menjadikan Indonesia  terbuka dengan investor asing yang membuat sektor-sektor penting dikuasai oleh perusahaan asing dan ketika terjadi krisis para investor tersebut pergi meninggalkan Indonesia.