cover
Contact Name
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
Contact Email
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
ISSN : 26569868     EISSN : 2656985X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah open access journal berbahasa Indonesia, yang menerbitkan artikel penelitian dari para peneliti pemula dan mahasiswa di semua bidang ilmu dan pengembangan dasar kesehatan gigi dan mulut melalui pendekatan interdisipliner dan multidisiplin. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran dua kali setahun, setiap bulan Februari dan Oktober. Bidang cakupan Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; ilmu kedokteran gigi anak; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students mengakomodasi seluruh karya peneliti pemula dan mahasiswa kedokteran gigi untuk menjadi acuan pembelajaran penulisan ilmiah akademisi kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
Perilaku pencarian informasi kesehatan melalui internet pada masyarakat Wahyu, Putri Ghesa Gusliana; Setiawan, Ignatius; Saputri, Rosalina Intan
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i1.40474

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Perkembangan pesat teknologi mempengaruhi pola pikir dan perilaku manusia. Dalam sepuluh tahun terakhir telah terjadi peningkatan signifikan pengguna internet di Indonesia. Internet dapat memberikan kemudahan akses informasi kesehatan terbaru, tanpa terhalang tempat dan waktu, namun informasi kesehatan yang didapatkan melalui internet tidak seluruhnya akurat. Peneliti ingin diketahui perilaku pencarian informasi kesehatan melalui internet pada masyarakat, sehingga dapat memberikan panduan edukasi sumber yang terpercaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran perilaku masyarakat dalam mencari informasi kesehatan melalui internet di Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Metode:  Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sampel sebanyak 124 orang. Penelitian dilakukan dari bulan Mei 2020 sampai bulan Desember 2021. Data penelitian diambil menggunakan kuesioner dan kemudian dilakukan analisis deskriptif untuk mengetahui gambaran perilaku masyarakat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar desa di Kecamatan Pasirjambu menyatakan informasi Kesehatan merupakan hal yang penting, sebagian besar mencari informasi tersebut di internet. Sebagian besar masyarakat juga telah mengidentifikasi, mencari informasi dari berbagai sumber, menyeleksi hasil pencarian, serta menyimpulkan bahwa sumber informasi yang didapat bermanfaat. Dari 124 masyarakat Kecamatan Pasirjambu Kabupaten bandung 80,6% diantaranya memiliki perilaku yang baik dalam mencari informasi kesehatan di internet. Simpulan:  Perilaku masyarakat dalam mencari informasi kesehatan di internet pada masyarakat Kecamatan Pasirjambu berada dalam kategori baik.KATA KUNCI: perilaku, informasi kesehatan, internet, kabupaten bandungHealth information seeking behavior using the internet, study in pasirjambu districtABSTRACT Introduction: Technology development has influenced the community paradigm and behavior. In past ten years, there has been a significant increase of internet users in Indonesia. The internet can provide simple access to the latest health information, regardless of time and place, however, health information obtained through the internet is not entirely accurate. Therefore, to provide guidelines for education about reliable sources, it is necessary to obtain information about the description health information seeking behavior from internet. This aim of this study was to describe the community behavior in seeking health information via the internet in Pasirjambu District, Kabupaten Bandung Regency.  Method:  This cross-sectional study consisted of 124 sample from May 2020 to December 2021. The research data were obtained using a questionnaire and then analyzed using descriptive analysis to determine the description of the health information seeking behavior.  Results:  The results showed that most people in Pasirjambu District mentioned that health information is important, and they searched the information through internet. Through process, most of them also identified, searched from various sources, sorted the result, and concluded that the information is beneficial. From 124 sample, 80,6% had good health information seeking behavior in using the Internet. Conclusion:  The health information seeking behavior using the internet in Pasirjambu District community was classified as good. Future research should aim about the influencing factor for the health information seeking behavior through the Internet.KEY WORDS: behavior, health information, internet, kabupaten bandung
Tingkat pengetahuan dokter gigi mengenai perawatan darurat infeksi odontogen Qalbi, Shafa Aini; Sjamsudin, Endang; Nurwiadh, R. Agus
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i1.40498

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Infeksi odontogen menjadi salah satu penyakit umum yang paling banyak ditemukan di rongga mulut dan maksilofasial. Infeksi odontogen merupakan keadaan darurat yang harus segera ditangani oleh dokter gigi karena akan menimbulkan permasalahan lain secara signifikan. Dokter gigi adalah praktisi medis yang khusus mendiagnosis dan memberikan perawatan pada gigi, mulut, dan maksilofasial di sekitarnya. Pengetahuan yang memadai dibutuhkan dokter gigi untuk menegakkan diagnosis dalam melakukan perawatan darurat infeksi odontogen. Tujuan penelitian mengukur tingkat pengetahuan dokter gigi mengenai perawatan darurat infeksi odontogen. Metode: Jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel cluster sampling. Penelitian dilakukan pada 45 dokter gigi umum dan 47 dokter gigi spesialis yang bekerja di rumah sakit Kota Bandung menggunakan instrumen berupa kuesioner dengan 15 butir pertanyaan. Hasil: Sebanyak 27 responden (29,3%) berada pada kategori cukup dan 65 responden (70,7%) berada pada kategori baik. Rata-rata dokter gigi menjumpai kasus infeksi odontogen setidaknya 1x dalam seminggu baik sebelum pandemi 2019, maupun dalam tiga bulan terakhir dengan persentase 38% dan 39,1% Simpulan: Tingkat pengetahuan dokter gigi di rumah sakit Kota Bandung mengenai perawatan darurat infeksi odontogen berada dalam kategori baik. Pengetahuan mengenai manajemen perawatan infeksi odontogen pada kuesioner tersebut memastikan kasus-kasus dapat ditangani secara efektif.KATA KUNCI: pengetahuan, perawatan darurat, infeksi, odontogen, rumah sakitThe level of Dentist’s knowledge about emergency management of odontogenic infection: quantitative descriptiveABSTRACTIntroduction: Odontogenic infections have been one of the most common diseases in the oral and maxillofacial region. Odontogenic infection is an emergency that must be treated by a dentist immediately because it will cause significant problems. A dentist is a medical practitioner who specializes in the diagnosis and treatment of problem that affect teeth, mouth, and the surrounding maxillofacial structure. Knowledge is needed by dentist to confirm the diagnosis in performing emergency of odontogenic treatment. The purpose of this study was to measure the level of dentists’ knowledge in Bandung hospitals about emergency treatment of odontogenic infections. Methods: This research used a quantitative descriptive method with cluster sampling technique. The study was conducted on 45 general practitioners and 47 specialists who work in Bandung hospitals using an instrument questionnaire with 15 questions. Results:  Total of 27 respondents (29.3%) were in the sufficient category and 65 respondents (70,7%) were in a good category. Dentist average encountered cases of odontogenic infection at least once a week, both before the 2019 pandemic and in the last three months, with percentages of 38% and 39,1% respectively. Conclusion: The level of dentists’ knowledge in the city of Bandung hospitals about emergency treatment of odontogenic infections is in a good category. The description of knowledge about management treatment of odontogenic infections in this questionnaire ensures that cases can be handled effectively.KEY WORDS: knowledge, emergency, treatment, odontogenic, infections, hospital
Pengaruh perendaman gigi artifisial resin akrilik dalam ekstrak daun kemangi terhadap perubahan warna Amanda, Belia Putri; Wahyuni, Siti
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i1.42400

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Gigi artifisial resin akrilik adalah pengganti gigi asli yang telah hilang dan merupakan komponen terpenting dari gigi tiruan dalam memulihkan fungsi estetis, mastikasi dan fonetik. Pembersih gigi tiruan berbahan kimia dapat memengaruhi sifat mekanis dan fisik resin akrilik. Pembersih gigi tiruan alami digunakan sebagai alternatif untuk meminimalkan efek yang ditimbulkan oleh pembersih gigi tiruan berbahan kimia. Ekstrak daun kemangi 12,5% digunakan sebagai alternatif bahan pembersih gigi tiruan. Tujuan penelitian menganalisis pengaruh perendaman gigi artifisial resin akrilik dalam ekstrak daun kemangi 12,5% dan alkalin peroksida selama 5 hari terhadap perubahan warna. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris. Sampel yang digunakan adalah 30 gigi artifisial resin akrilik insisivus sentral rahang atas untuk diuji dengan ukuran sampel 20x20x6mm dibagi 3 kelompok perendaman yaitu perendaman dalam ekstrak daun kemangi 12,5%; alkalin peroksida; aquabides. Perubahan warna diukur menggunakan colorimeter pada permukaan labial gigi artifisial. Hasil data dianalisis dengan uji One-way Anova dan dilanjutkan dengan uji LSD Hasil: Nilai rerata perubahan warna gigi artifisial resin akrilik setelah direndam dalam ekstrak daun kemangi 12,5% selama 5 hari = ∆E 1,86±0,17, alkalin peroksida = ∆E 3,48±0,21 ,dan aquades = ∆E 1,20±0,15 dengan nilai p=0,0001(p<0,05). Simpulan: Terdapat pengaruh perendaman gigi artifisial resin akrilik dalam ekstrak daun kemangi 12,5% dan alkalin peroksida selama 5 hari terhadap perubahan warna. Ekstrak daun kemangi 12,5% dapat digunakan sebagai bahan alternatif pembersih gigi tiruan karena perubahan warna yang terjadi masih dalam rentang nilai yang diterima secara klinis pada resin akrilik.KATA KUNCI: gigi artifisial resin akrilik;ekstrak kemangi;perubahan warna.The effect of immersion acrylic resin artificial teeth in basil leaves extract on color changesABSTRACTIntroduction: Acrylic resin artificial teeth are a substitute for natural teeth that have been lost and are the most important component of dentures in restoring aesthetic, masticatory and phonetic functions. Denture cleansers made from chemicals can affect the mechanical and physical properties of acrylic resin. Natural denture cleansers are used as an alternative to minimize the effects caused by chemical denture cleansers. 12.5% basil leaves extract was used as an alternative denture cleansers. This study  aimed to analyse the effect of immersing acrylic resin artificial teeth in 12.5% basil leaves extract and alkaline peroxide for 5 days on color changes. Methods: This research was an experimental laboratory. The samples used were 30 maxillary central incisor acrylic resin artificial teeth 20x20x6mm divided into 3 immersion groups: in 12.5% basil leaves extract; alkaline peroxide; and aquabides. The color change of the sample was measured using colorimeter at the  labial surface of the artificial teeth. The results of the data were analyzed by One-way Anova and continued with LSD test. Results: The mean value of color change acrylic resin artificial teeth after immersion in 12.5% basil leaves extract for 5 days = ∆E 1,86±0,17, alkaline peroxide = ∆E 3,48±0,21, and aquabides = ∆E 1,20±0,15  with a value of p=0.0001(p<0.05). Conclusion: There was an effect of immersing artificial teeth in acrylic resin in 12.5% basil leaves extract and alkaline peroxide for 5 days on discoloration. 12.5% basil leaves extract can be used as an alternative denture cleansers because the discoloration that occur were still within the standard range of color changes.KEY WORDS: acrylic resin artificial teeth; basil leaves extrac; color changes
Early childhood caries and dietary habit of 4-6 years old children Suherlan, Maudy Ahadya Putri; Suwargiani, Anne Agustina; Wihardja, Rosilawati; Kadir, Rahimah Abdul
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i1.37682

Abstract

AbstractIntroduction: Early childhood caries (ECC) is tooth decay commonly happened in early childhood. ECC is becoming a significant public health problem. The American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) encourages health care providers and caregivers to adopt preventative measures that can reduce a child's risk of developing this disease. ECC is caused by several factors, one of which is the child's diet. The prevalence of ECC in children aged 4-6 years is increasing, even though it is the age when permanent teeth start to grow. The purpose of this study was to determine the relation between ECC and dietary habit in children aged 4-6 years. Methods: The type of research is descriptive survey.  The population of this study was 109 children and the sample of this study was 45 children using the purposive sampling technique and sample counting using stratified sampling. The research instruments were: odontogram medical record and Food Frequency Questionnaire form.  Results: 44.45% of the children experienced ECC. The highest percentage of cariogenic food diets were snacks (48.9%), bread (42.2%), and cakes (33.3%). The highest percentage of non-cariogenic food diets were rice (93.3%), fruits (71.1%), and vegetables (40%). Conclusion: Children who experienced ECC were 44.45%. The distribution of cariogenic food diets for kindergarten students are snacks, bread, and cakes, while the highest distribution of non-cariogenic food diets are rice, fruits, and vegetables.KEY WORDSearly childhood caries, diet, cariogenic, childrenEarly Childhood caries dan pola makan anak usia 4-6 tahun: Penelitian deskriptif ABSTRAKPendahuluan: Early childhood caries (ECC) adalah kerusakan gigi pada anak anak usia dini. ECC menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. ECC disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pola makan anak. Prevalensi ECC pada anak usia 4-6 tahun meningkat, padahal merupakan usia dimana gigi permanen mulai tumbuh dan berubahnya pola makan pada anak berusia 4-6 tahun. Tujuan penelitian mengetahui ECC dan pola makan kariogenik dan non kariogenik pada anak berusia 4-6 tahun. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan metode survei. Populasi penelitian ini berjumlah 109 anak. Sampel dari penelitian ini berjumlah 45 anak dengan menggunakan teknik purposive sampling dan penghitungan sampel menggunakan stratified sampling. Instrumen penelitian menggunakan rekam medis odontogram dan formulir Food Frequency Questionnaire. Hasil: Anak yang mengalami ECC sebanyak 44,45%. Persentase tertinggi pola makan makanan kariogenik adalah makanan ringan dalam kemasan (48,9%), roti (42,2%) dan kue (33,3%). Persentase tertinggi pola makan makanan non kariogenik adalah nasi (93,3%), buah-buahan (71,1%), dan sayuran (40%). Simpulan: Prevalensi ECC pada anak yang mengalami ECC sebanyak 44,45%. Distribusi pola makan makanan kariogenik siswa TK adalah makanan ringan dalam kemasan, roti dan kue sedangkan distribusi pola makan makanan non kariogenik tertinggi adalah nasi, buah-buahan, dan sayuran.Kata kunci: early childhood caries, diet, kariogenik, anak 
Radiografi profil kehilangan tulang alveolar pada pasien periodontitis kronis: studi deskriptif Hidayat, Muhammad Firman; Pudjiastuti, Peni; supriyadi, Supriyadi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i2.47683

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Periodontitis kronis merupakan penyakit periodontal yang umum terjadi prevalensinya pada usia diatas 35 tahun dengan persentase hingga 75%. Periodontitis kronis sering dinilai dari adanya kehilangan tulang alveolar (bone loss), yaitu tingkat kehilangan tulang alveolar dan pola kerusakannya. Profil bone loss sangat penting untuk penilaian periodontitis yang dikaitkan dengan rencana perawatan dan perawatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui profil kehilangan tulang alveolar pada pasien periodontitis kronis. Metode: Penelitian deskriptif ini menggunakan sampel radiografi periapikal dari pasien dengan diagnosis periodontitis kronis  di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Jember pada bulan November-Desember 2022 yang diambil menggunakan  teknik total sampling yang memenuhi kriteria. Pengukuran bone loss dilakukan dengan cara menentukan titik cemento enamel junction (CEJ) - alveolar bone crest (ABC) pada radiografi menggunakan jangka sorong. Pengamatan pola kerusakan tulang alveolar dilakukan secara visual dan diklasifikasikan menjadi pola kerusakan vertikal dan horizontal. Hasil: Pola kerusakan alveolar crest horizontal 92% dan vertikal 8%. Rerata bone loss   pada laki-laki lebih besar dibandingkan dengan perempuan sebesar 1,16mm, bone loss pada rahang atas lebih besar dibandingkan dengan rahang bawah sebesar 1,04mm, bone loss terbesar adalah pada gigi insisivus rahang atas sebesar 2mm. Simpulan: Pola bone loss horizontal lebih banyak dibandingkan vertikal. Bone loss pada laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan. Geligi rahang atas memiliki rerata bone loss yang lebih besar dibandingkan dengan rahang bawah. Gigi insisivus rahang atas menunjukkan rerata bone loss terbesar dibandingkan dengan regio lainnya.KATA KUNCI: tulang alveolar, periodontitis kronis, radiografi periapikal, bone loss, pola kerusakan.Radiographic study of alveolar bone profiles of chronic periodontitis patients: study descriptiveABSTRACTIntroduction: Chronic periodontitis is a common periodontal disease; prevalence at the age of over 35 years above 75%. Chronic periodontitis is often assessed by the presence of bone loss, namely by the degree of alveolar bone loss and the bone loss pattern. The bone loss profile is very important for assessing periodontitis associated with treatment and treatment planning. This study aims to determine alveolar bone profiles in chronic periodontitis patients. Methods: This descriptive study used periapical radiograph samples from patients with a diagnosis of chronic periodontitis at Dental Hospital, University of Jember in November to December 2022 which were taken using a total sampling technique. Bone loss is determined by measuring the distance from the point CEJ-ABC on the radiograph using a caliper. The pattern of bone loss was visualized and classified into vertical and horizontal patterns. Results: The percentage of horizontal bone loss patterns is 92% and 8% vertical. The average bone loss in males is greater than in females by 1.16mm, bone loss in the maxillary bone is greater than that of the mandible by 1.04mm, the largest bone loss is in the maxillary incisors by 2mm. Conclusion: There are more horizontal bone loss patterns than vertical ones. Bone loss in men is greater than in women. The maxillary teeth have a greater average bone loss than the mandible. Upper incisors show the greatest bone loss compared to other regions.KEY WORDS: alveolar bone, chronic periodontitis, periapical radiograph, bone loss, bone loss pattern
Evaluasi kepatuhan tenaga kesehatan berdasarkan indikator mutu dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di poliklinik spesialis: studi cross-sectional Permatasari, Shafira; Harsanti, Andriani; Gayatri, Gita; Latief, Deni Sumantri; Sunaryo, Iwa Rahmat
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i2.40503

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Rumah sakit merupakan institusi yang memberikan pelayanan kesehatan dan memiliki kriteria yang ditetapkan untuk menilai mutu pelayanan. Indikator mutu dapat digunakan untuk menilai dan membantu proses peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Kepatuhan tenaga kesehatan di Paviliun Padjadjaran RSGM Unpad belum terukur sepenuhnya. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi kepatuhan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan di poliklinik spesialis menggunakan indikator mutu. Metode: Penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian adalah seluruh tenaga kesehatan yang bertugas di Paviliun Padjadjaran RSGM Universitas Padjadjaran. Sampel penelitian terdiri dari 35 dokter gigi spesialis dan 5 Terapis Gigi dan Mulut yang bertugas di Paviliun Padjadjaran selama bulan April 2022 dan dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kriteria indikator mutu yang ditetapkan oleh RSGM Unpad.  Target pencapaian indikator mutu kepatuhan identifikasi pasien, kepatuhan kebersihan tangan, kepatuhan terhadap clinical pathway, dan kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) adalah sebesar 100%. Target pencapaian waktu tunggu rawat jalan ≤60 menit, dan target kepatuhan penggunaan formularium nasional sebesar ≥80%. Hasil: Pencapaian kepatuhan identifikasi pasien sebesar 43%. rerata waktu tunggu pasien rawat jalansebesar 51,6 menit. Kepatuhan penggunaan formularium nasional sebesar 100%. Kepatuhan kebersihan tangan sebesar 75%. Kepatuhan terhadap clinical pathway sebesar 91% dan kepatuhan penggunaan (APD) sebesar 92%. Simpulan: Evaluasi kepatuhan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang dinilai dengan menggunakan indikator mutu masih banyak yang belum mencapai target. KATA KUNCI: kepatuhan, tenaga kesehatan, pelayanan kesehatan, indikator mutu, rumah sakitCompliance level of healthcare personnel in providing services at the Padjadjaran Pavilion of Padjadjaran University Dental and Oral Hospital: cross-sectional studyABSTRACTIntroduction: Hospitals are institutions that provide health services and have established criteria to evaluate the quality of services. Quality indicators can be used to evaluate and assist the process of improving the quality of health services. Compliance of healthcare personnel at Padjadjaran Pavilion RSGM Unpad has not been fully measured. The purpose of this study is to determine the compliance level of health workers in providing services at the Padjadjaran Pavilion of RSGM Unpad by using the quality indicators. Methods: This research is using a observational descriptive method with a cross sectional approach. The population in this study were all healthcare who served in the Padjadjaran Pavilion of RSGM Unpad. The research sample consisted of 35 Dental Specialists and 5 Dental and Oral Therapists who served at the Padjadjaran Pavilion throughout April 2022 and those were selected using a total sampling technique.Results: Achieved patient compliance is at 43%. The average waiting time for patients is around 51.6 minutes. The compliance with the use of national formulary is at 100%. Hand hygiene compliance is at 75%. The compliance with clinical pathways is at 91%. The compliance with the use of Personal Protective Equipment (PPE) is at 92%. Conclusion: The compliance level of healthcare personnel in providing services at the Padjadjaran Pavilion of RSGM Unpad, which is assessed using quality indicators, still have not reached the target.KEY WORDS: compliance, healthcare personnel, health services, quality indicators, hospital
Efektivitas dan keamanan penggunaan probiotik terhadap mukositis oral yang diinduksi radiasi dan kemoterapi: Systematic review Yuliana, Yuliana; Dewi, Tenny Setiani
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i2.46400

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Mukositis oral adalah inflamasi mukosa mulut yang terjadi karena radioterapi atau kemoterapi pada penatalaksanaan kanker kepala dan leher, yang dapat menimbulkan beberapa tanda dan gejala antara lain lesi  dengan bentuk ulserasi, eritema, rasa nyeri, disfagia dan malnutrisi. Radioterapi dan kemoterapi merupakan pilihan selain pembedahan dalam penatalaksanaan kanker kepala dan leher. Pemberian probiotik (lactobacillus dan bifidobacterium) merupakan salah satu alternatif terapi dalam penatalaksanaan mukositis oral. Tujuan tinjauan sistematik ini adalah untuk menganalisis efektivitas dan keamanan penggunaan probiotik untuk menurunkan insidensi, rasa nyeri, dan derajat keparahan pada mukositis oral.Metode: Penulisan tinjauan sistematik ini mengikuti pedoman PRISMA. Pencarian artikel dengan menggunakan database elektronik yaitu PubMed, EBSCO, Science Direct, dan Scopus. Populasi pada tinjauan sistematik ini adalah pasien yang terdiagnosis kanker kepala dan leher yang mengalami mukositis oral setelah mendapatkan terapi radiasi. Didapatkan lima artikel yang memenuhi kriteria pencarian yaitu, jurnal dengan teks lengkap dalam bahasa inggris dan menggunakan metode penelitian Randomized Controlled Trial (RCT). Hasil: Empat artikel menyatakan bahwa probiotik efektif dalam mengurangi tingkat insidensi terjadinya mukositis oral, rasa nyeri dan derajat keparahan mukositis oral melalui peningkatan imunitas pasien. Simpulan: Sebagian besar penelitian membuktikan penggunaan probiotik efektif dan aman dalam mengurangi insidensi, rasa nyeri, dan derajat keparahan pada mukositis oral.KATA KUNCI: probiotik, lactobacillus, bifidobacterium, mukositis oralThe effectiveness and safety of probiotics for radiation and chemotherapy-induced oral mucositis: A Systematic ReviewABSTRACTIntroduction:  Oral mucositis is inflammation of the oral mucosa that occurs due to radiotherapy or chemotherapy in the management of head and neck cancer and can cause several signs and symptoms, including ulcerated lesions, erythema, pain, dysphagia, and malnutrition. Radiotherapy and chemotherapy are options besides surgery in the management of head and neck cancer. Administration of probiotics (lactobacillus and bifidobacterium) is an alternative therapy in the management of oral mucositis.  The aim of this systematic review was to analyze the effectiveness and safety of using probiotics to reduce the incidence, pain, and severity of oral mucositis. Method: The writing of this systematic review followed the PRISMA guidelines. Article search using electronic databases, namely PubMed, EBSCO, Science Direct, and Scopus The population in this systematic review was comprised of patients diagnosed with head and neck cancer who developed oral mucositis following radiation therapy. Five articles were found that met the search criteria, namely, journals with full text in English and using the randomized controlled trial (RCT) research method. Results: Four articles stated that probiotics were effective in reducing the incidence, pain, and severity of oral mucositis by increasing the patient's immunity. Conclusion: Most studies prove the use of probiotics to be effective and safe in reducing the incidence, pain, and severity of oral mucositis. KEY WORDS: probiotics, lactobacillus, bifidobacterium, oral mucositis 
Perbedaan analisis jaringan lunak sebelum dan setelah perawatan ortodonti kamuflase pada maloklusi skeletal kelas II divisi 1 berdasarkan analisis MC Namara: studi komparatif Miranti, Diandra Audyla; Mardiati, Endah; Evangelina, Ida Ayu; Laviana, Avi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i2.35884

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Perawatan ortodonti kamuflase maloklusi kelas II divisi 1 dilakukan pada pasien yang sudah tidak mungkin dirawat dengan alat ortodonti fungsional tetapi masih mungkin dilakukan dengan perawatan ortodonti kamuflase. Salah satu cara evaluasi hasil perawatan ortodonti kamuflase maloklusi skeletal kelas II divisi 1, dilakukan dengan analisis sefalometri McNamara secara manual.  Tujuan penelitian menganalisis perbedaan hasil analisa sefalometri jaringan lunak metode McNamara sebelum dan setelah perawatan kamuflase maloklusi skeletal kelas II divisi I Metode: Jenis penelitian cross sectional analitik komparatif. Penentuan sampel dilakukan secara purposive sampling, diperoleh 11 sampel. Analisis sefalometri McNamara menggunakan Frankfort Horizontal Plane sebagai referensi horizontal dan menentukan garis tegak lurus melalui Nasion sebagai referensi vertikal. Analisis statistik dilakukan dengan uji pairedt-test (p<0,05). Hasil: Terdapat perbedaan signifikan hasil analisis jaringan lunak sudut nasolabial, cant bibir atas, dan hubungan insisif rahang atas terhadap titik A-Pog (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan signifikan analisis titik A ke N perpendicular, condylion ke titik A, condylion ke titik gnation, LAFH, mandibular plane angle,  facial axis angle, jarak pogonion ke N perpendicular, dan jarak gigi insisif rahang bawah ke titik A-Pog (p>0,05). Simpulan: Perawatan ortodonti kamuflase pada maloklusi skeletal kelas II divisi 1 menghasilkan perubahan jaringan lunak sudut nasolabial, cant bibir atas, dan jarak insisif terhadap titik A. Titik A ke N perpendicular, condylion ke titik A, condylion ke titik gnation, LAFH, mandibular plane angle, facial axis angle, jarak pogonion ke N perpendicular, sedangkan jarak gigi insisif rahang bawah ke titik A-Pog tidak mengalami perubahan.KATA KUNCI: Maloklusi skeletal, kelas II divisi 1, ortodonti kamuflase, analisis sefalometri jaringan lunak, McNamara.The difference in soft tissue analysis before and after camouflage orthodontic treatment in Class II Division 1 skeletal malocclusion based on MC Namara analysis: comparative studyABSTRACT Introduction: The camouflage treatment of Class II division 1 malocclusion was performed on patients who are no longer able to be treated with functional orthodontic devices but it is still possible to be treated with orthodontic camouflage treatment.  One of the possible methods to evaluate the results of orthodontic camouflage treatment of class II division 1 skeletal malocclusion was done by manual McNamara cephalometric analysis. The aim of the study was to determine the difference before and after orthodontic camouflage treatment of class II division 1 malocclusion using manual McNamara cephalometric analysis. Methods: This research is cross sectional comparative analytic. Determination of the sample was done by purposive sampling, which obtained 11 samples. McNamara's cephalometric analysis uses the Frankfort Horizontal Plane as a horizontal reference and determines a perpendicular line through the Nasion as a vertical reference. Statistical analysis was performed by t-test (p<0.05)t. Results: There were significant differences in the results of soft tissue analysis of the nasolabial angle, upper lip cant, and the distance of the maxillary incisors to the A-Pog point (p<0.05). There were no significant differences in analysis of point A to N perpendicular, condylion to point A , condylion to point of gnation, LAFH, mandibular plane angle, facial axis angle, pogonion distance to N perpendicular, and mandibular incisor distance to point A-Pog (p >0.05). Conclusions:Orthodontic camouflage treatment of skeletal class II division 1 malocclusion results in changes in the soft tissue of the nasolabial angle, upper lip cant, and the distance of the maxillary incisors to the A-Pog point. While point A to N perpendicular, condylion to point A, condylion to point of gnation, LAFH, mandibular plane angle, facial axis angle, pogonion distance to N perpendicular, and the distance of the mandibular incisor to the A-Pog point did not change.KEY WORDS: Skeletal malocclusion, Class II division 1, orthodontic camouflage treatment, mcnamara cephalometric analysis.
Dental caries survey of first permanent molar teeth among 6-8 years old during the pandemic: cross-sectional study Fadilah, Rina Putri Noer; Prayogo, Ari Pribadi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i2.47399

Abstract

ABSTRACTIntroduction: A survey is necessary for annual screening and recording. Dental caries is one of the indicators in oral health surveys. Dental caries is the most common and prevalent chronic infectious disease among children. The most prevalent dental caries is in the child's first permanent molar. The first permanent tooth eruption in the oral cavity was the  first molar of 6-year-old children. This study aims to determine dental caries in first permanent molars among children aged 6-8 years old during the pandemic in Cimahi City, West Java, Indonesia. Methods: The research method used was a cross sectional study with pathfinder surveys using basic oral health survey methods. Schoolchildren were invited to participate in this survey. The survey collected data through intraoral photos and questionnaires through an online form. The prevalence of dental caries was the percentage. After calculation, the data is presented in tables and graphs. Results: The result of this study on 98 children showed that the prevalence of dental caries was 96.93%. The caries index primary teeth (DMFT) mean was 7.86, and the caries index permanent teeth (DMFT) mean was 0.37. Dental caries of the first permanent molar teeth was at 19%. Conclusions: There is a high prevalence of dental caries in primary teeth and high categories of dental caries in primary teeth. The incidence of dental caries in the first permanent molars was 19%.KEY WORDS: dental caries, first permanent molar, childrenSurvei karies gigi pada gigi molar permanen pertama pada anak usia 6-8 tahun selama pandemi : studi cross sectional ABSTRAK Pendahuluan: Survei diperlukan untuk penjaringan dan pencatatan yang digunakan setiap tahun. Salah satu indikator dalam survei kesehatan gigi dan mulut adalah karies gigi. Karies gigi adalah penyakit infeksi kronis yang paling umum dan umum terjadi pada anak-anak. Karies gigi yang paling banyak terjadi adalah gigi molar pertama permanen. Erupsi gigi permanen pertama di rongga mulut adalah gigi geraham pertama yang berumur 6 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karies gigi pada gigi geraham pertama permanen pada anak usia 6-8 tahun pada masa pandemi di Kota Cimahi, Jawa Barat, Indonesia. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional study dengan menggunakan pathfinder survey dengan metode dasar survey kesehatan gigi dan mulut. Kami mengundang anak-anak sekolah untuk berpartisipasi dalam survei ini. Survey dilakukan dengan mengumpulkan data melalui foto intra oral dan kuesioner dengan menggunakan sistem online yaitu google form. Prevalensi karies gigi dalam bentuk persentase dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil: Sebanyak 98 anak menunjukkan prevalensi karies gigi sebesar 96,93%. Rerata indeks karies gigi sulung (dmft) adalah 7,86 dan rerata indeks karies gigi permanen (DMFT) adalah 0,37. Karies gigi gigi molar pertama permanen adalah 19%. Simpulan: Prevalensi karies gigi tinggi pada gigi sulung dan kategori karies gigi tinggi pada gigi sulung. Insiden karies gigi pada gigi molar pertama permanen adalah 19%.KATA KUNCI: karies gigi, gigi molar satu permanen, anak-anak
Pengaruh pelapisan edible coating pada basis gigi tiruan nilon termoplastik setelah direndam dalam akuades dan teh hijau terhadap penyerapan air: studi eksperimental Rafly, Muhammad; Wahyuni, Siti
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i2.48084

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Nilon termoplastik merupakan bahan dasar gigi tiruan yang banyak diminati oleh masyarakat karena memiliki nilai estetika yang baik, kelarutan rendah dan tinggi fleksibilitas namun memiliki kekurangan yaitu daya serap airnya yang tinggi. Penyerapan air tinggi akan mempengaruhi sifat dan struktur nilon sehingga menurunkan ketahanan nilon yang digunakan sebagai basis gigi tiruan. Edible coating merupakan bahan pelapis polimer alami dan dapat menjadi alternatif yang baik karena dapat berfungsi sebagai penahan terhadap unsur luar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelapisan edible coating pada basis gigi tiruan nilon termoplastik setelah direndam akuades dan teh hijau terhadap penyerapan air. Metode: Rancangan penelitian adalah eksperimental laboratoris post-test only control group design. Sampel penelitian nilon termoplastik berbentuk silindris dengan ukuran diameter 40 ± 1 mm dan ketebalan 2 ± 1 mm berdasarkan spesifikasi ISO 20795-1. Penyerapan air diukur menggunakan rumus m2-m3/V (ISO/DIS 4049). Nilai penyerapan air dianalisis dengan uji univariat dan uji levene. Hasil: Nilai rerata penyerapan air kelompok sampel yang direndam dalam akuades (A) adalah 4,88 ± 0,34 μg/mm3, dan dilapisi edible coating (B) adalah 3,80 ± 0,37 μg/mm3, kelompok sampel direndam dalam teh hijau (C) adalah 4,43 ± 0,18 μg/mm3 dan dilapisi edible coating (D) adalah 3,58 ± 0,39 μg/mm3. Lalu data dianalisis menggunakan uji One-way ANOVA dengan nilai p=0,0001 (signifikansi pada p<0,05). Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan akibat pelapisan edible coating pada basis gigi tiruan nilon termoplastik setelah direndam dalam akuades dan teh hijau terhadap penyerapan airKATA KUNCI: basis gigi tiruan, nilon termoplastik, penyerapan air, edible coating, teh hijauEffect of edible coating on thermoplastic nylon denture base after soaking in distilled water and green tea on water absorption: observational studyABSTRACTIntroduction: Thermoplastic nylon is public favorite denture base material because it has excellent aesthetic, low solubility and high flexibility but has drawback, high water absorption which can reduce the resistance of nylon used as denture base. Edible coating is natural polymer coating material and can be good alternative because of it’s barrier against external elements. This study aims to determine the effect of edible coating on thermoplastic nylon denture base after soaking in distilled water and green tea on water absorption. Methods: The research design was experimental laboratory with post-test only control group design. The research sample was cylindrical thermoplastic nylon with diameter 40 ± 1 mm and thickness 2 ± 1 mm based on ISO 20795-1 specifications. Water absorption was measured using the formula m2-m3/V (ISO/DIS 4049), analyzed by univariate test and Levene's test. Results: The mean value of water absorption in the sample group immersed in distilled water (A) 4.88 ± 0.34 g/mm3, with edible coating (B) 3.80 ± 0.37 g/ mm3, the sample group soaked in green tea (C) was 4.43 ± 0.18 g/mm3 and with edible coating (D) was 3.58 ± 0.39 g/mm3. Then the data were analyzed using One-way ANOVA test with p-value = 0.0001 (significancy at p <0.05). Conclusion: The results showed that there was significant effect of edible coating on thermoplastic nylon denture base after soaking in distilled water and green tea on water absorption. KEY WORDS: denture base, thermoplastic nylon, water absorption, edible coating, green tea