cover
Contact Name
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
Contact Email
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
ISSN : 26569868     EISSN : 2656985X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah open access journal berbahasa Indonesia, yang menerbitkan artikel penelitian dari para peneliti pemula dan mahasiswa di semua bidang ilmu dan pengembangan dasar kesehatan gigi dan mulut melalui pendekatan interdisipliner dan multidisiplin. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran dua kali setahun, setiap bulan Februari dan Oktober. Bidang cakupan Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; ilmu kedokteran gigi anak; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students mengakomodasi seluruh karya peneliti pemula dan mahasiswa kedokteran gigi untuk menjadi acuan pembelajaran penulisan ilmiah akademisi kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 299 Documents
Possible bruxism and probable bruxism in people with down syndrome at the persatuan orang tua dengan down syndrome (POTADS) Foundation: cross-sectional study Lathifah, Nabila Dara; Soewondo,, Willyanti; Yohana, Winny
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 3 (2023): October 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i3.48089

Abstract

Possible bruksisme dan probable bruksisme pada penyandang sindrom down di yayasan persatuan orang tua anak dengan down syndrome (POTADS): Studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Sindrom Down (DS) merupakan suatu kelainan kongenital kromosom. Penyandang DS memiliki berbagai jenis kebiasaan buruk oral, salah satunya adalah bruksisme. Pendekatan non-instrumental untuk menilai bruksisme termasuk laporan diri dan pemeriksaan klinis. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi possible bruksisme dan probable bruksisme pada penyandang DS di Yayasan Persatuan Orang Tua Anak Down Syndrome (POTADS). Metode: Jenis penelitian dengan desain survei cross sectional. Subjek diperoleh dengan metode purposive sampling menghasilkan sebanyak 41 orang dari POTADS, terdiri dari 22 laki-laki dan 19 perempuan yang berhasil diuji. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk menilai possible bruksisme dan pemeriksaan klinis pada rongga mulut berupa kondisi gigi atrisi untuk menilai probable bruksisme. Hasil: Frekuensi possible bruksisme sebesar 68,30%; terdiri dari 14,64% sleep bruksisme (SB), 21,96% awake bruksisme (AB), dan 31,70% kombinasi. Frekuensi berdasarkan jenis kelamin menunjukkan 57,14% laki-laki dan 42,85% perempuan, sedangkan berdasarkan kelompok usia sebesar 64,28% pada anak-anak, 25% pada remaja, dan 10,71% pada dewasa. Frekuensi probable bruksisme adalah sebesar 31,70%. Simpulan: Possible bruksisme pada penyandang DS di Yayasan POTADS adalah 68,70%, dimana lebih tinggi dibandingkan frekuensi probable bruksisme yaitu 31,70%. Laki-laki dan usia anak-anak merupakan kelompok terbanyak yang mengalami bruksisme.KATA KUNCI: Sindrom down, kebiasaan buruk oral, bruksisme.ABSTRACT Introduction: Down syndrome (DS) is a chromosomal congenital disorder. People with DS have various types of oral bad habits, one of which is bruxism. Non-instrumental approaches to assessing bruxism include self-report and clinical examination. The purpose of this study was to identify bruxism among individuals  with DS at the Persatuan Orang Tua Anak Dengan Down Syndrome (POTADS) Foundation. Methods: The type  of research was a cross-sectional survey design. Subjects were obtained using the purposive sampling method, resulting in 41 people from POTADS, consisting of 22 men and 19 women, who were successfully tested. Data collection was carried out using a questionnaire to assess possible bruxism, as well as  a clinical examination of the oral cavity to determine potential occurrence of bruxism by the observation of dental attrition conditions. Results: The frequency of possible bruxism was 68.30%, consisting of 14.64% sleep bruxism (SB), 21.96% awake bruxism (AB), and 31.70% combination bruxism. The frequency based on gender showed 57.14% male and 42.85% female, while based on age group, it was 64.28% in children, 25% in adolescents, and 10.71% in adults. The frequency of probable bruxism was 31.70%. Conclusions: Possible bruxism among individuals with DS at the POTADS Foundation is 68.70%, indicating a higher incidence compared to the frequency of probable bruxism, which is 31.70%. Males and children are the largest group who experience bruxismKEY WORDS: down syndrome, bad oral habit, bruxism.
Antibacterial activity of robusta and arabica coffee husks extracts against Lactobacillus acidophilus: Experimental study Ishimora, Marina Erlysa; Prasetya, Rendra Chriestedy; Susilawati, I Dewa Ayu
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 3 (2023): October 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i3.48658

Abstract

Comparison of oral health self-assessment results in pregnant women in rural and urban areas: Study quantitative Nugraha, Rega Mahesa; Suwargiani, Anne Agustina; Aripin, Dudi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 3 (2023): October 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i3.50224

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Pregnant women are a group of people who are vulnerable to oral health problems due to physical, biological, and hormonal changes. Geographical and administrative location also affects oral health based on the ease of access to health services, which are divided into rural and urban areas. This study aims to analyze the oral health self-assessment of pregnant women in rural and urban areas. Methods: This study employed a quantitative comparative analytical approach with a cross-sectional data collection design, focusing on pregnant women residing in both rural and urban areas. A self-assessment tool, namely the "oral health questionnaire for adults"  developed by WHO, was used and already translated into Indonesian. The data were analyzed using the chi-square test. Results: This study included 159 pregnant women from both rural and urban areas, with an average age of 27.19 years.  The results of the self-assessment showed a difference in the educational background of pregnant women in urban areas, which is higher compared to those  in rural areas. The majority of pregnant women assessed that the condition of their teeth and gums was in moderate criteria; the self-assessment of cleaning the oral cavity and visiting the dentist of pregnant women in urban areas was better than that of pregnant women in rural areas; but pregnant women in urban areas were more likely to consume sweet foods and drinks. statistical tests indicate that the comparison has a significant value with a value of p<0.05. Conclusions: There were differences in dental hygiene practices, dentist visit frequency, and educational attainment among urban and rural pregnant women. There was no significant difference in assessing the condition of teeth and gums, using dentures, or experiencing dental and gum issues among pregnant women.KEY WORDS: pregnant women, oral health, rural-urban, self assessmentPerbandingan self assessment kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil di daerah rural dan urban: Studi cross sectionalABSTRAK Pendahuluan: Ibu hamil merupakan satu kelompok masyarakat yang rentan terhadap masalah kesehatan gigi dan mulut, dikarenakan adanya perubahan fisik, biologis, dan hormon. Letak geografis dan administratif juga memengaruhi kesehatan gigi dan mulut berdasarkan kemudahan akan akses pelayanan kesehatan yang terbagi menjadi wilayah rural dan urban. Penelitian ini bertujuan menganalisis self assessment kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil di daerah rural dan urban. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif, yaitu analitik komparatif, dengan desain pengumpulan data cross sectional, dilakukan pada ibu hamil di daerah rural dan urban. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan self assessment yaitu “Oral Health Questionnaire for Adults” dari WHO yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Analisis data penelitian menggunakan uji chi-square. Hasil: Penelitian ini diikuti oleh 159 ibu hamil yang berasal dari daerah rural dan urban dengan usia rata-rata ibu hamil adalah 27.19 tahun. Hasil self assessment memperlihatkan perbedaan pendidikan ibu hamil di daerah urban lebih tinggi dari daerah rural. Mayoritas ibu hamil menilai bahwa kondisi gigi dan gusinya dalam kriteria sedang; self assessment membersihkan rongga mulut dan mengunjungi dokter gigi ibu hamil di daerah urban lebih baik daripada ibu hamil di daerah rural; tetapi ibu hamil di daerah urban lebih cenderung mengkonsumsi makanan dan minuman manis. Hasil uji statistik yang menunjukkan perbandingan memiliki nilai signifikan dengan nilai p<0.05. Simpulan: Terdapat perbedaan nilai self assessment praktik kebersihan gigi, frekuensi kunjungan ke dokter gigi, dan tingkat pendidikan di antara ibu hamil di daerah rural dan urban dan tidak ada perbedaan nilai self assessment kondisi gigi dan gusi, penggunaan gigi tiruan, dan pengalaman masalah gigi dan gusi diantara ibu hamil.KATA KUNCI: ibu hamil, kesehatan gigi dan mulut, rural-urban, Self assessment
The level of parental knowledge regarding myofunctional therapy in Down's syndrome: Study cross-sectional Bachtiar, Rindu Wulandari; Soewondo, Willyanti; Primarti, Risti Saptarini
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 3 (2023): October 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i3.48109

Abstract

ABSTRACT Introduction: Down syndrome is a genetic disorder associated with the addition of chromosome 21 and is still one of the most common birth defects. One of the distinctive physical characteristics  found is muscle hypotonia, including the orofacial muscles and tongue muscles. Management of muscle hypotonia must be treated with myofunctional therapy, which is carried out routinely. The purpose of this study is to obtain data on the level of parents’ knowledge regarding myofunctional therapy for Down syndrome at the Association of Parents of Children with Down Syndrome (POTADS). Methods: The type of research is a cross-sectional survey design.  The purposive sampling method was used to collect samples,resulting in 96 research samples from POTADS. Data collection was carried out using a questionnaire via the Google Form tool. The data obtained was assessed, and the percentage level of parental knowledge was categorized into three categories: good, sufficient, and poor. The level of parental knowledge regarding myofunctional therapy in Down syndrome was divided into two groups: those who had received information and those who had not. Results: The results of data analysis from 96 respondents were divided into two groups, namely the group that had received information with the results of the level of knowledge included in the good category (70.27%) and those who had never received information with the results of the level of knowledge included in the poor category (45.77%). Conclusion: The level of parental knowledge regarding myofunctional therapy in Down’s syndrome at the POTADS Foundation is in the good category for the group who received information and the poor category for the group who  never received information about myofunctional therapyKEY WORDS: Down Syndrome, Knowledge, Myofunctional TherapyTingkat pengetahuan orang tua terhadap terapi myofungsional pada Down syndrome: studi cross-sectionalABSTRAK Pendahuluan: Down syndrome merupakan kelainan genetik yang berhubungan dengan penambahan kromosom 21 dan masih menjadi salah satu kelainan cacat lahir yang paling sering terjadi. Salah satu karakteristik fisik yang khas dan sering dijumpai adalah hipotonia otot termasuk otot orofasial dan otot lidah. Penanganan hipotonia otot harus diatasi dengan terapi myofungsional yang dilakukan secara rutin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengetahuan orang tua terhadap terapi myofungsional pada Down syndrome di Yayasan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS). Metode: Jenis penelitian ini adalah dengan desain survei cross sectional.  Sampel diperoleh dengan metode purposive sampling menghasilkan 96 sampel penelitian dari POTADS. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner melalui perangkat google form. Data yang didapatkan dinilai dan persentase nilai pengetahuan orang tua akan dikategorikan dalam tiga kategori yaitu baik, cukup, dan kurang. Tingkat pengetahuan orang tua terhadap terapi myofungsional pada Down syndrome akan dikelompokkan menjadi dua yaitu orang tua yang pernah mendapat informasi dan belum pernah mendapat informasi. Hasil: Hasil analisis data dari 96 responden terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang pernah mendapat informasi dengan hasil tingkat pengetahuan termasuk pada kategori baik (70,27%) dan yang belum pernah mendapat informasi dengan hasil tingkat pengetahuan termasuk pada kategori kurang (45,77%). Simpulan: Tingkat pengetahuan orang tua terhadap terapi myofungsional pada anak Down syndrome di Yayasan POTADS, berada pada kategori baik bagi kelompok yang pernah mendapatkan informasi dan kategori kurang bagi kelompok yang belum pernah mendapatkan informasi mengenai terapi myofungsional.KATA KUNCI: Sindrom Down, Pengetahuan, Terapi Myofungsional
The effect of non-dental e-glass fiber position on the hardness of glass fiber reinforced composite in fixed dentures: Study experimental Al Isra, Muhammad Firman; Sari, Widya Puspita; Darmawangsa, Darmawangsa
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 3 (2023): October 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i3.49730

Abstract

ABSTRAKPendahuluan Gigi tiruan menjadi solusi yang tepat untuk menggantikan gigi yang hilang. Gigi tiruan jembatan dengan bahan porcelain fused to metal paling sering digunakan dalam praktik klinis, namun memiliki kekurangan seperti efek alergenik dan efek toksisitas yang dapat disebabkan oleh bahan logam, rentan pecah, memerlukan beberapa kali kunjungan, dan membutuhkan preparasi gigi abutment yang cukup luas. Alternatif bahan yang dapat digunakan untuk gigi tiruan cekat adalah Fiber reinforced composite dengan E-glass fiber dental yang memiliki kelebihan seperti biokompatibilitas baik, memiliki kekuatan kompresi dan estetika yang baik. Ketersediaan E-glass fiber dental di Indonesia masih terbatas dengan harga yang cukup mahal. E-glass fiber non dental secara umum telah digunakan di bidang teknik. E-glass fiber non dental memiliki komposisi yang sedikit berbeda dengan E-glass fiber dental. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh posisi E-glass fiber non dental terhadap kekerasan Fiber reinforced composite. Metode: Penelitian eksperimental dengan Fiber reinforced composite dengan E-glass fiber non dental dengan 3 kelompok sampel yang teridiri dari kelompok posisi tension side, kelompok compression side, dan kelompok neutral axis yang masing masing terdiri dari 6 sampel. Sampel diuji dengan vickers hardness tester dengan beban 100gf selama 15detik, jejak indentasi dihitung untuk mendapatkan vickers hardness number (VHN). Hasil: Hasil uji pada Fiber reinforced composite dengan fiber pada posisi tension side memiliki kekerasan tertinggi dengan nilai 45,77 VHN. Fiber reinforced composite dengan fiber pada neutral axis 43,35 VHN. Fiber reinforced composite dengan fiber pada compression side memiliki nilai terendah 39,60 VHN. Simpulan: Kesimpulan dari penelitian ini bahwa terdapat pengaruh posisi E-Glass fiber non dental terhadap kekerasan Fiber reinforced composite.KATA KUNCI: E-glass fiber, Fiber reinforced composite, posisi fiber, kekerasanThe Effect of Non-dental E-glass Fiber Position on the Hardness of Glass Fiber Reinforced Composite in Fixed DenturesABSTRACT Introduction: Dentures are the right solution to replace missing teeth. Denture bridges made from porcelain fused to metal are the most frequently used in clinical practice, but they have disadvantages such as allergenic and toxicity effects that can be caused by metal materials, are prone to breaking, require several visits, and require extensive preparation of the abutment teeth. Alternative materials that can be used for fixed dentures are fiber-reinforced composites with E-glass dental fiber, which have advantages such as good biocompatibility, compression strength, and aesthetics. The availability of E-glass fiber dental in Indonesia is still limited, with prices being quite expensive. Non-dental E-glass fiber has generally been used in the engineering field. Non-dental E-glass fiber has a slightly different composition from dental E-glass fiber. The aim of this research is to determine the effect of the position of non-dental E-glass fiber on the hardness of fiber-reinforced composites. Method: Experimental research with fiber-reinforced composite with non-dental E-glass fiber with 3 sample groups consisting of the tension side position group, compression side group, and neutral axis group, each consisting of 6 samples. The sample was tested with a Vickers hardness tester with a load of 100 gf for 15 seconds, and the indentation trace was calculated to obtain the Vickers hardness number (VHN). Results: The test results on fiber-reinforced composites with fiber in the tension-side position had the highest hardness with a value of 45.77 VHN. Fiber composite reinforced with fiber on the neutral axis is 43.35 VHN. Fiber-reinforced composites with fiber on the compression side have the lowest value of 39.60 VHN. Conclusion: The conclusion from this research is that there is an influence of the position of non-dental E-Glass fiber on the hardness of fiber-reinforced composites.KEY WORDS: E-glass fiber, Fiber reinforced composite, fiber position, hardness 
Lip pattern types among mandailing bataknese and sundanese in padang city, sumatera barat province, indonesia: Study cross-sectional Amalia, Afifah Fitri; Nismal, Harfindo; Sari, Desy Purnama
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 3 (2023): Oktober 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i3.50334

Abstract

ABSTRACT Introduction: The immigrant community from West Sumatra comes from various ethnic groups in Indonesia, including Batak Mandailing (proto-Malay) and Sundanese (deutro-Malay). West Sumatra is known as a "Disaster Supermarket" region, so antemortem data is important for individuals in determining identity, one of which is lip prints. The advantages of lip patterns include being permanent because it does not change from the age of six weeks intraurine until death,  being specific, unique and individual, and being simple and cheap to apply. This study aims to determine the dominant lip print pattern of the Mandailing and Sundanese Batak Tribes in West Sumatra based on the Suzuki and Tsuchihashi classifications. Methods: The type of research is descriptive observational study using a cross-sectional approach with survey methods. The sample consisted of 28 respondents from the Mandailing Batak tribe and 28 respondents from the Sundanese tribe. The ethnicity of the respondents was determined by the previous two descendants, aged 17–40 years, with lips that had no inflammation or abnormalities and had never had surgery. Lip prints are taken using lipstick, then printed with cellophane and analyzed using a computerized system. Next, the types of lip prints are classified based on the Suzuki and Tsuchihashi classifications. Results: The dominant lip print patterns of the Mandailing Batak tribe are type I (60,7%) and type III (28,6%); while Sundanese lip print pattern is type I (82.1%). Conclusion: The dominant lip print patterns of the Mandailing Batak and Sundanese tribe are types I (complete vertical).KEY WORDS:  pattern, lip prints, ethnicity, suzuki, and tsuchihashi, classificationPola sidik bibir suku Batak Mandailing dan Sunda di Kota Padang, sumatera barat, Indonesia berdasarkan klasifikasi suzuki dan tsuchihashi: Studi cross-sectionalABSTRAK Pendahuluan: Masyarakat pendatang Sumatera Barat berasal dari berbagai suku bangsa di Indonesia, diantaranya Batak Mandailing (proto-melayu) dan Sunda (deutro-melayu). Sumatera Barat dikenal sebagai daerah “Supermarket Bencana” sehingga data antemortem menjadi hal penting bagi individu dalam menentukan identitas, salah satunya dengan sidik bibir. Keunggulan iidentifikasi dengan sidik bibir diantaranya yaitu bersifat permanen sebab tidak berubah sejak usia 6 minggu intrauterine hingga meninggal dunia, bersifat khas, unik dan personal serta mudah dan murah untuk diaplikasika.  Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sidik bibir dominan pada Suku Batak Mandailing dan Sunda di Sumatera Barat berdasarkan klasifikasi Suzuki dan Tsuchihashi. Metode: Jenis penelitian ini merupakan deskriptif observasional menggunakan pendekatan cross sectional dengan metode survei. Sampel berjumlah 28 responden Suku Batak Mandailing dan 28 Suku Sunda. Penentuan etnis responden ditetapkan dari dua generasi sebelumnya, berusia 17-40 tahun, dengan kondisi bibir tidak mengalami inflamasi, kelainan dan tidak pernah dilakukan operasi. Pengambilan sidik bibir menggunakan lipstik, kemudian dicetak dengan selofan dan dianalisis menggunakan sistem komputerisasi. Selanjutnya tipe sidik bibir diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi Suzuki dan Tsuchihashi. Hasil: Pola sidik bibir yang ditemukan pada Suku Batak Mandailing adalah tipe I (60,7%) dan tipe III (28,6%), Sunda tipe I (82,1%). Simpulan: Pola sidik bibir berdasarkan klasifikasi Suzuki dan Tsuchihashi, paling banyak dijumpai pada Suku Batak Mandailing dan Suku Sunda di Kota Padang, Sumatera Barat adalah tipe I (vertikal lengkap).KATA KUNCI: pola, sidik bibir, suku, klasifikasi, suzuki dan tsuchihashi
Condylar height in complete dentition patient seen through panoramic radiograph: observational study Putri, Sekar Kinanti Dania; Sam, Belly; Damayanti, Merry Annisa
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 3 (2023): Oktober 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i3.48115

Abstract

ABSTRACT Introduction: The mandibular condyle is a part of the stomatognathic system whose morphology can change due to adaptation of functional power. Under certain conditions, the condyles may differ on each side, such as in edentulous or partially edentulous patients. In complete dentition, however, there should be less discrepancy in the condyles. Several factors such as bruxism, propping up the chin, sleeping on one side and chewing on one side cause hyperactivity of the masticatory muscles which can cause pain around the temporomandibular joint (TMJ). This can be the cause of morphological differences between the two sides of the condyle, such as the height. The purpose of this study was to describe the height of the condyle in complete dentition patients using questionnaire about chewing habits and TMD symptoms. Methods: This study took samples from panoramic radiograph data of complete dentition patients who came to the radiology installation of RSGM Unpad and were given questionnaires regarding chewing habits and TMD-DI in the period March-May 2023. The height of the condyles on the panoramic radiographs was measured using the measure feature in the ImageJ software, then calculated using the Habets asymmetry index formula. Measurement results and questionnaires are used for grouping samples. Results: There were 46 samples with complete teeth. The results of the calculation of the study data showed that samples with differences in condyle height were found more in male patients and in the 19-29 year age group. Differences in the condyle were also found more in samples that chewed using 1 side and samples with negative TMD-DI results. Conclusion: There are many complete dentition patients who have different appearances of condyle height.KEY WORDS: Condylar height; TMJ; TMD; Panoramic radiograph; Habets asymmetry indKetinggian kondilus, kebiasaan mengunyah dan gejala temporomandibular disorder pada pasien bergigi lengkap: studi observasionalABSTRAK Pendahuluan: Kondilus mandibula merupakan salah satu bagian dari sistem stomatognatik yang morfologinya dapat berubah akibat adaptasi dari daya fungsional. Dalam kondisi tertentu, kondilus dapat memiliki perbedaan di tiap sisinya, seperti pada pasien tidak bergigi maupun bergigi sebagian.  Beberapa faktor seperti bruxism, menopang dagu, tidur satu sisi dan mengunyah satu sisi pada pasien bergigi lengkap, menimbulkan hiperaktivitas otot pengunyahan sehingga dapat menyebabkan nyeri di sekitar temporomandibular joint (TMJ). Hal tersebut dapat menjadi penyebab terjadinya perbedaan morfologi antara kedua sisi kondilus, salah satunya adalah ketinggian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran ketinggian kondilus pada pasien bergigi lengkap dengan menggunakan kuesioner mengenai kebiasaan mengunyah dan gejala temporomandibular disorder. Metode: Penelitian ini mengambil sampel dari data radiograf panoramik pasien bergigi lengkap yang datang ke Instalasi Radiologi RSGM Unpad dan sudah diberikan kuesioner mengenai kebiasaan mengunyah dan TMD-DI pada periode bulan Maret-Mei 2023. Ketinggian kondilus pada hasil foto radiograf panoramik diukur menggunakan fitur measure pada software ImageJ, kemudian dihitung dengan menggunakan rumus indeks asimetri Habets. Hasil pengukuran dan kuesioner digunakan untuk pengelompokan sampel. Hasil: Didapatkan sebanyak 46 sampel bergigi lengkap. Hasil perhitungan data penelitian menunjukkan sampel dengan perbedaan ketinggian kondilus lebih banyak ditemukan pada pasien laki-laki dan pada kelompok usia 19-29 tahun. Perbedaan kondilus juga lebih banyak ditemukan pada sampel yang mengunyah menggunakan 1 sisi dan sampel dengan hasil TMD-DI negatif. Simpulan: Terdapat banyak pasien bergigi lengkap yang memiliki perbedaan gambaran ketinggian kondilus.      KATA KUNCI: Ketinggian kondilus, TMJ, TMD, radiograf panoramik, indeks asimetri habets ex
Correlation between quality of service and patient satisfaction in panoramic radiography: Study observational Darmawan, Adam Eka; Widyaningrum, Rini; Priyono, Bambang; Hanindriyo, Lisdrianto
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 3 (2023): October 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i3.49745

Abstract

Condylar asymmetry and TMD symptoms in edentulous patients: observational study Amara, Rauzanya; Sam, Belly; Lita, Yurika Ambar
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 3 (2023): October 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i3.48118

Abstract

Online skill lab training during COVID-19 pandemic in different dental schools in Indonesia: Study descriptive Sari, Morita; Murika Sari, Nendika Dyah Ayu; Habibi, Muhammad Yusuf; Haykal, Shafira Annas
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 3 (2023): October 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i3.49975

Abstract