cover
Contact Name
Firza
Contact Email
firza1814@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
diakronika@ppj.unp.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Diakronika
ISSN : 14111764     EISSN : 26209446     DOI : https://doi.org/10.24036/diakronika/
Diakronika accepts and contains articles that focus on the results of scientific studies and the results of research on history and education (learning) history. The results of the study contribute to the understanding, development of scientific theories and concepts, and their application in education and history in Indonesia and the world. Diakronika scales include studies of Indonesian history and world history, and educational studies in the form of subject matter, strategies, media, learning models, as well as historical learning evaluations.
Arjuna Subject : -
Articles 115 Documents
Perkembangan Pembuatan Tenun Melayu Siak : Suatu Tinjauan Historis Bunari Bunari; Asyrul Fikri; Piki Setri Pernantah; Yanuar Al-Fiqri
Diakronika Vol 21 No 1 (2021): DIAKRONIKA
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.693 KB) | DOI: 10.24036/diakronika/vol21-iss1/170

Abstract

The siak weaving is a cultural heritage of Riau Malay. The motifs on the Siak Tenun have certain philosophical meanings. In addition, in the manufacturing process, there has been a development both from the materials and tools used. The study in this paper aims to describe the development of Siak weaving techniques based on the categories of materials and tools used from time to time. The method used in this study is the historical method with heuristic, verification, interpretation, and historiography stages. The result of the study is that the making of Siak Weaving has developed in terms of the materials and tools used. In terms of materials, at the beginning of its development using materials from silk, gold, and silver threads. However, since 1950 the weavers began to use cotton threads along with the high prices of silk, gold, and silver threads. Furthermore, in terms of tools, in 1764 the first weaving tool used was the tumpu loom. The tools used for the manufacture of Siaik weaving are increasingly developing, since 1990 it has been replaced by non-machine weaving tools (ATBM). The development of the Siak Tenun making tool to increase production output and shorten processing time. From the results of the study, it can be concluded that changes in the weaving production equipment affect the impact, including the number of workers, budget efficiency, quality, and quantity of production.
Seni Tari Tepak Keraton Terhadap Budaya Palembang Darussalam syarifuddin syarifuddin; Adhitya Rol Asmi; Nabilah Julaika Putri
Diakronika Vol 21 No 2 (2021): DIAKRONIKA
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (815.989 KB) | DOI: 10.24036/diakronika/vol21-iss2/175

Abstract

Seni Tari Tepak Keraton ini mulanya diciptakan dalam penyambutan Brigjen Ishak Juarsa selaku Panglima Kodam IV Sriwijaya sebagai tari penyambutan. Seni Tari Tepak Keraton tentu dipakai dalam prosesi penyambutan kedatangan tamu besar/ tamu agung, resepsi pernikahan bertema adat Islam Palembang Darussalam yang masih dipakai hingga saat ini. Tarian ini memiliki seni gerak yang unik pada ragam pencak silat yang masih mewarisi tradisi dari Kesultanan Palembang Darussalam. Diiringi lagu dan syair “Enam Bersaudara”. Hal ini menunjukkan bahwa seorang putri keraton tidak hanya lemah lembut namun juga terampil serta mampu untuk melindungi diri dan berwibawa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode historis yang terdiri dari tahap heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenian Tari Tepak Keraton yang khas dengan nilai-nilai islami Palembang Darussalam yang mengangkat keagungan dan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh peradaban Keraton Keslutanan Palembang Darussalam. Maka, hal tersebut menjadi sangat unik dalam prosesi penggarapan seni tari ini.
Analisis Cerpen untuk Pembelajaran Sejarah Amerika Novita Dewi; Sumini Theresia
Diakronika Vol 21 No 1 (2021): DIAKRONIKA
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.123 KB) | DOI: 10.24036/diakronika/vol21-iss1/178

Abstract

Penelitian ini mengkaji tiga cerita pendek Amerika yang berlatar tiga zaman sejarah yang berbeda: “The Minister’s Black Veil” oleh Nathaniel Hawthorne (Kaum Puritan di New England), “Désirée’s Baby” oleh Kate Chopin (Perbudakan di Louisiana sebelum Perang Saudara), dan Ken Liu’s “The Paper Menagerie” (Pernikahan antar ras di Amerika tahun 1970-an). Dengan menggunakan metode close reading, penelitian kualitatif ini menganalisis ketiga cerpen yang menjadi data primer dan mengkontekstualisasikannya dengan sejarah Amerika, biografi pendek masing-masing pengarang, dan teks-teks yang relevan yang diperlakukan sebagai data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, ketiga cerpen menggambarkan intoleransi, krisis identitas, dan rasisme dalam berbagai tingkatan. Kedua, supremasi agama dan warna kulit mendominasi sepanjang sejarah Amerika seperti yang diungkapkan secara imajinatif oleh setiap cerita. Ketiga, meskipun diperlakukan tidak adil, tokoh perempuan bertahan hidup. Sikap mereka memberikan pandangan baru tentang peran perempuan yang sering diabaikan oleh sejarah resmi. Sebagai simpulan, cerita pendek dapat diberikan sebagai materi pengayaan yang bermakna dalam pembelajaran sejarah untuk menggugah cara berpikir kritis, empati, serta kegembiraan dalam belajar.
Inovasi Pendidikan Karakter Bangsa Berbasis Nilai-Nilai Sejarah Perjuangan Pangeran Sambernyowo di Era Masyarakat 5. 0 Muhammad Iqbal Birsyada; Siswanta Siswanta
Diakronika Vol 21 No 1 (2021): DIAKRONIKA
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.106 KB) | DOI: 10.24036/diakronika/vol21-iss1/179

Abstract

Pendidikan secara esensial dan kultural pada hakikatnya bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai kebudayaan yang menjadi identitas karakter masyarakat dan bangsa. Nilai-nilai esensial tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai cara seperti penguatan nilai-nilai karakter kebangsaan (nation caracter building). Dengan melalui materi-materi di dalamnya maka masyarakat dapat diarahkan untuk memecahkan persoalan-persoalan (social problem) yang sedang mereka hadapi dalam rangka tujuan utamanya adalah penanaman karakter kebangsaan. Pada konteks pendidikan, nilai-nilai karakter kebangsaan ini pada akhirnya akan menjadi dasar dalam bersosialisasi dan berinteraksi masyarakat. Artikel ini bertujuan menganalisis tentang nilai-niai sejarah perjuangan Pangeran Sambernyowo yang kemudian dapat dikembangkan menjadi sebuah prototipe model pendidikan karakter bangsa pada masyarakat era 5. 0. Di era digital dan virtual pada saat ini model pengembangan pendidikan karakter bangsa menjadi sangat vital khususnya untuk proses pewarisan nilai-nilai karakter budaya bagi generasi millennial yang rentan akan krisis sosial-kebangsaan. Selain itu artikel ini juga memberikan langkah-langkah strategis dan inovatif perihal proses penanaman nilai-nilai karakter kebangsaan dari kognitif hingga afektif ke pada peserta didik. Katakunci: Pendidikan, Karakter Bangsa, Nilai-Nilai Sejarah, Perjuangan, Pangeran Sambernyowo, Masyarakat 5. 0.
Meramu Materi Pembelajaran Sejarah Berlandaskan Analisis Historical Thinking Hera Hastuti; Iqrima Basri; Zafri Zafri
Diakronika Vol 21 No 1 (2021): DIAKRONIKA
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.831 KB) | DOI: 10.24036/diakronika/vol21-iss1/181

Abstract

Pembelajaran sejarah sebagai salah satu mata pelajaran wajib di sekolah dewasa ini seolah kehilangan fungsi dan maknanya. Betapa tidak, guru lebih berfokus pada penyampaian materi sesuai dengan Kompetensi Dasar yang telah ditargetkan, tanpa menimbang apakah siswa paham atau tidak dengan materi tersebut. Jika sejarah hanya dijadikan sebagai salah satu rutinitas dalam kelas, tentunya hakikat belajar sejarah itu sendiri akan pudar. Historical Thinking, merupakan salah satu solusi yang dapat diterapkan dalam menggali makna dari peristiwa sejarah. Kemampuan Historical Thinking meliputi, berpikir kronologis, analisis kausalitas setiap peristiwa sejarah, interpretasi sejarah, berpikir tiga dimensi waktu, dan kemampuan dalam menggali dimensi moral dari setiap peristiwa. Pada dasarnya Historical Thinking bukanlah hal yang baru dalam pembelajaran sejarah, akan tetapi banyak pendidik yang belum memahami bagaimana meramu materi pembelajaran sejarah berlandaskan analisis Historical Thinking. Metode yang digunakan dalam riset ini yaitu metode kepustakaan. Dari hasil kajian penulis, Historical Thinking dapat membantu pendidik dan peserta didik dalam belajar sejarah yang tidak lagi terfokus pada masa lalu untuk masa lalu, tetapi setiap peristiwa masa lalu menjadi pembelajaran kehidupan untuk hari ini dan untuk masa depan. Artikel ini hadir membahas secara rinci bagaimana meramu materi pembelajaran sejarah berbasis Historical Thinking.
Perkembangan Musik Keroncong Langgam di Solo (1950-1991) Noryuliyanti Noryuliyanti; Isawati Isawati; Nur Fatah Abidin
Diakronika Vol 21 No 2 (2021): DIAKRONIKA
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1283.629 KB) | DOI: 10.24036/diakronika/vol21-iss2/190

Abstract

Keroncong Langgam adalah genre musik yang lahir dan berkembang di Kota Solo. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perkembangan, kejayaan, dan kemunduran Keroncong Langgam di Solo. Metode sejarah digunakan sebagai metode penelitian dengan menggunakan sumber primer yaitu rekaman album Keroncong Langgam di Lokananta (1957-1985) dan wawancara pelaku keroncong Langgam yaitu Waldjinah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemunculan Keroncong Langgam berawal dari kolaborasi antara gamelan dan musik keroncong yang mulai terjadi antara tahun 1940 sampai 1960an ditandai lagu Bengawan Solo yang dinyanyikan Gesang. Masa Kejayaan Keroncong Langgam di Solo terjadi pada tahun 1960-1970 yang ditandai dengan peningkatan jumlah orkes keroncong dan rekaman album di Lokananta. Pada tahun 1970an, tercatat 17 album diproduksi oleh Lokananta. Pada tahun 1980an sampai 1991, keroncong Langgam mengalami kemunduran yang disebabkan oleh perkembangan musik alternatif lain. Meskipun demikian Keroncong Langgam tetap hidup sampai saat ini berkat upaya pelaku musik dengan mengadakan festival musik.
Sejarah Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia di Lubuklinggau Tahun 1947-1949 Agus Susilo; Sarkowi Sarkowi
Diakronika Vol 21 No 2 (2021): DIAKRONIKA
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.811 KB) | DOI: 10.24036/diakronika/vol21-iss2/198

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang Sejarah Perjuangan Indonesia: Kajian Historis Subkoss di Lubuklinggau Tahun 1947-1949. Metode penelitian ini adalah metode penelitian Sejarah. Dalam metode penelitian Sejarah ini peneliti menggunakan beberapa langkah seperti Heuristik, Verifikasi Sumber (Kritik Intern dan Ekstern), Interpretasi, dan Historiogfari Sejarah. Sumber-sumber penelitian yang didapatkan melalui studi pustaka di Museum Subkoss Garuda Sriwijaya berupa arsip-arsip Sejarah dan di Perpustakaan STKIP PGRI Lubuklinggau. Hasil dari penelitian ini, yaitu a) Perjuangan Indonesia Dalam Mempertahankan Kemerdekaan Tahun 1947-1949, yaitu setelah berusaha memerdekakan diri pasca Jepang menyerah kepada Sekutu, bangsa Indonesia berusaha untuk menjadi negara merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun langkah tersebut dicampuri dengan kedatangan Belanda yang berkeinginan berkuasa kembali di Indonesia. Sehingga terjadi perang kemerdekaan antara tahun 1947-1949. Peran Subkoss di Lubuklinggau Tahun 1947-1949 Sebagai Basis Pertahanan Indonesia di Sumatera Selatan, yaitu setelah sabotase pasukan Belanda terhadap pejuang kemerdekaan di Palembang maka pecahlah perang 5 hari 5 malam. Oleh akibat peperangan tersebut pasukan Indonesia di Palembang berusaha menyusun kekuatan dibeberapa daerah termasuk di Lubuklinggau. Di Lubuklinggau tahun 1947-1949 dijadikan pusat Subkoss Garuda Sriwijaya Sumatera Selatan dalam menghalau serangan Belanda yang berusaha mengejar pasukan TNI dan laskar. Perjuangan Indonesia akhirnya berhasil dengan diakuinya kemerdekaan Indonesia tahun 1949 secara de facto dan de jure oleh Belanda dan dunia. Kesimpulannya adalah perjuangan Indonesia di Sumatera Selatan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia berkobar dimana-mana. Belanda berusaha menguasai Sumatera Selatan secara keseluruhan dan membasmi para pejuang. Perjuangan Indonesia berhasil dengan kekalahan Belanda dan penandatanganan kemerdekaan Indonesia secara de facto dan de jure.
Guru dan Kualitas Pendidikan di Indonesia Masa Kolonial dan Pasca Kemerdekaan Siti Fatimah; Firza Firza
Diakronika Vol 21 No 2 (2021): DIAKRONIKA
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.64 KB) | DOI: 10.24036/diakronika/vol21-iss2/204

Abstract

Persoalan guru dan kualitas pendidikan ibarat dua sisi mata uang yang berlangsung semenjak zaman kolonial di Indonesia. Tujuan dari artikel ini untuk menganalisis guru dan kualitas pendidikan pada masa kolonial dan pasca kemerdekaan Indonesia. Metode penelitian menggunakan metode Komparasi dengan pendekatan sejarah (historis). Hasil penelitian pada tahun 1892 kebutuhan guru sangat mendesak, sehingga pemerintah mengambil kebijakan mengangkat guru tanpa melalui pendidikan guru. Akibatnya terjadi kemerosotan kualitas pendidikan dan tidak membawa perubahan. Kebijakan diperbaiki pada masa ini, (1) kenaikan gaji guru yang cukup besar; (2) mengizinkan lambang-lambang sosial kehormatan; (3) Tamatan sekolah guru (kweekschool) dapat ditempat dalam setiap jabatan pemerintah, dan hasilnya kualitas guru dan pendidikan menjadi meningkat. Sehingga guru menjadi salah satu profesi yang didambakan masyarakat pada masa ini. Pasca kemerdekaan sampai saat ini pola yang sama juga terjadi. Pada masa Orde Baru, tepatnya pada tahun 1980-an, dikenal dengan guru “galodo”. Semenjak tahun 2000-an, pemerintah melahirkan beberapa kebijakan yang mirip dengan apa yang sudah dilakukan pemerintah kolonial. Gaji guru dinaikkan melalui sertifikasi guru, program pendidikan guru (baik dalam jabatan maupun di luar jabatan) juga mulai diterapkan. Namun, sampai pada hari ini belum terlihat perubahan yang signifikan, meskipun berbagai kebijakan sudah dilakukan. Simpulan penelitian ini terdapat pola kebijakan yang sama, namun hasilnya berbeda.
Integrasi Media Berbasis Peta Persebaran Candi Hindu-Budha Di Tulungagung Dengan Pendekatan Kontruktivisme Dalam Pembelajaran Sejarah Danan Tricahyono; Akhmad Arif Musadad; Triana Rejekiningsih
Diakronika Vol 21 No 2 (2021): DIAKRONIKA
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16580.352 KB) | DOI: 10.24036/diakronika/vol21-iss2/205

Abstract

Abstract History learning should be done creatively and innovatively that interests students. This research provides an alternative framework for historical learning by packaging materials spreading Hindu-Buddhist temples in Tulungagung with a constructivism approach. This study uses the literature study method. The data source comes from books, articles, and research report results that fit the topic. Various library materials are processed, identified, analyzed, and reflected to create new findings. As a result, there are seven temple sites in Tulungagung Regency, namely Boyolangu Temple, Sanggrahan Temple, Meja Temple, Dadi Temple, Mirigambar Temple, Ampel Temple, and Penampihan Temple. The material of the distribution of temples in Tulungagung can be used as the content of learning media. Implementation of learning media is integrated with the constructivism approach through the learning cycle model. Stages of the learning cycle include discovery, concept recognition, and concept application. In conclusion, the integration of local history materials can strengthen student's local historical awareness. Keywords: learning, history, temple, Tulungagung, constructivism Abstrak Pembelajaran sejarah seharusnya dilakukan secara kreatif dan inovatif yang menarik minat siswa. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan alternatif kerangka pembelajaran sejarah melalui pengemasan materi persebaran candi Hindu-Buddha di Tulungagung dengan pendekatan konstruktivisme. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan. Sumber data berasal dari buku, artikel dan hasil laporan penelitian yang sesuai dengan topik. Berbagai bahan pustaka diproses, diidentifikasi, dianalisis dan direfleksikan sehingga tercipta temuan baru. Hasilnya terdapat tujuh situs candi di Kabupaten Tulungagung yaitu Candi Boyolangu, Candi Sanggrahan, Candi Meja, Candi Dadi, Candi Mirigambar, Candi Ampel, dan Candi Penampihan. Materi persebaran candi di Tulungagung dapat digunakan sebagai isi dari media pembelajaran. Implementasi media pembelajaran terintegrasi dengan pendekatan konstruktivisme melalui model siklus belajar. Tahapan siklus belajar meliputi discovery (penemuan), pengenalan konsep, dan aplikasi konsep. Kesimpulannya integrasi materi sejarah lokal dapat menguatkan kesadaran sejarah lokal siswa. Kata Kunci: pembelajaran, sejarah, candi , Tulungagung, konstruktivisme
Pengembangan Materi Ajar Sejarah Bermuatan Lokal Pada SMAN Di Sumatera Barat Wahidul Basri
Diakronika Vol 21 No 2 (2021): DIAKRONIKA
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.991 KB) | DOI: 10.24036/diakronika/vol21-iss2/210

Abstract

Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa pembelajaran Sejarah Indonesia yang bernuansa muatan lokal masih jarang diterapkan oleh guru sejarah di Sumatera Barat. Sementara itu KTSP dan K-13 yang diterapkan di berbagai sekolah di Indonesia mengharuskan memasukan materi muatan lokal ke dalam pembelajaran. Mengapa hal ini terjadi dan apa solusinya ? Inilah pertanyaan pokok dalam penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan Buku Sejarah Indonesia bermuatan lokal Sumatera Barat yang dapat digunakan untuk pembelajaran Sejarah Indonesia di SMA. Penelitian ini dirancang selama dua tahun, tahun pertama meneliti kebutuhan guru menyangkut materi Sejarah Indonesia yang bernuansa muatan lokal sesuai dengan kurikulum 2013. Selanjutnya membuat prototype buku Sejarah Indonesia yang bermuatan lokal Sumatera Barat. Tahun kedua, menghasilkan sebuah produk dalam bentuk Buku teks Sejarah Indonesia bermuatan sejarah lokal Sumatera Barat. Penelitian ini bersifat R&D dengan mengikuti langkah-langkah kerja yang dirumuskan Plomp. Berdasarkan langkah-langkah penelitian yang telah dilaksanakan, pada tahun pertama telah dihasilkan Prototype Buku Sejarah Indonesia bermuatan Sejarah Lokal Sumatera Barat untuk pembelajaran di SMA. Pada tahun kedua dilakukan uji validitas, praktikalitas dan efektifitas. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa Buku Sejarah Indonesia bermuatan Sejarah Lokal Sumatera Barat untuk pembelajaran di SMA valid, uji praktikalitas hasilnya menunjukkan praktis untuk digunakan, sementara hasil uji efektifitas menunjukkan efektif diterapkan dalam pembelajaran sejarah. Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa Buku Teks Sejarah Indonesia bermuatan Sejarah Lokal Sumatera Barat untuk pembelajaran di SMA, valid, praktis dan efektif untuk digunakan sebagai suplemen materi pembelajaran Sejarah Indonesia.

Page 6 of 12 | Total Record : 115