cover
Contact Name
Fransisca Iriani Rosmaladewi
Contact Email
fransiscar@fpsi.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmishs@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
ISSN : 25796348     EISSN : 25796356     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 723 Documents
PERANAN EMOTIONAL INTELLIGENCE DAN SELF EFFICACY TERHADAP HARDINESS PADA PESERTA ORIENTASI PERSIAPAN KERJA Sufarita Sufarita; Riana Sahrani; Rahmah Hastuti
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.6052.2019

Abstract

Pada umumnya untuk memperoleh pekerjaan individu melalui rangkaian proses rekrutmen dan seleksi. Salah satu bagian dari rangkaian proses tersebut di Perusahaan X dilakukan orientasi persiapan kerja (OPK). Tahapan OPK ini dapat menjadi situasi yang penuh tekanan bagi para peserta. Untuk dapat berhasil menghadapi tekanan tersebut, individu harus memiliki hardiness yang tinggi. Dua hal yang dapat mempengaruhi hardiness individu adalah emotional intelligence dan self-efficacy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan emotional intelligence dan self-efficacy terhadap hardiness pada peserta OPK. Partisipan penelitian merupakan peserta OPK dengan karakteristik mengikuti proses seleksi reguler sebanyak 368 partisipan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan multiregression analysis. Hasil analisis data menunjukkan bahwa emotional intelligence dan self-efficacy secara bersama-sama berperan terhadap hardiness sebesar 25,9% serta secara terpisah emotional intelligence berperan terhadap hardiness sebesar 22,2% dan self-efficacy berperan terhadap hardiness sebesar 21,8%. Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa emotional intelligence dan self-efficacy memiliki peranan terhadap hardiness pada peserta OPK. As part of job hiring, individuals must complete a series of recruitment and selection processes. One part of the process sequence is an employment preparation program (EPP). This stage of EPP can be a stressful situation for the participants. To be able to successfully deal with these pressures, individuals must have high hardiness. Two things that could affect individual hardiness are emotional intelligence and self-efficacy. This study aims to determine the contribution of emotional intelligence and self-efficacy on the hardiness of Participants of EPP. The research participants were participants in the EPP who are recruited by the regular selection process instead of a pro hire program or master’s scholarship. This study uses a quantitative method with multi-regression analysis. The results of data analysis showed that emotional intelligence and self-efficacy had a role on hardiness, (22,2% and 21,8%) respectively.  It could be seen that emotional intelligence had a greater role on hardiness than self-efficacy of hardiness. Based on this study it was concluded that if emotional intelligence and self-efficacy of participants of EPP has a role on their hardiness.
PENERAPAN ART THERAPY UNTUK MENGURANGI PERILAKU AVOIDANCE DALAM GAD PADA DEWASA AWAL YANG BEKERJA Helen Helen; Monty P. Satiadarma; Rismiyati E. Koesma
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.3563.2019

Abstract

Generalized Anxiety Disorder (GAD) memiliki perilaku menghindar yang dilakukan secara berulang ketika mengalami kecemasan yang berlebihan. Perilaku menghindar dijadikan sebagai bentuk koping untuk mengurangi perasaan cemas tersebut, sehingga individu menjadi tergantung pada perilaku menghindar dan cenderung akan dilakukan kembali ketika menghadapi kecemasan di lain waktu. Dalam penelitian ini, sebagian besar partisipan dengan usia sekitar 22-28 tahun dengan subyek sebanyak 5 perempuan dan 1 laki-laki melaporkan bahwa kecemasan menyebabkan perubahan dalam pekerjaan dan kegiatan sehari-hari, sehingga terganggunya aktivitas sehari-hari  dan pekerjaan menjadi tidak optimal. Perilaku menghindar diukur dengan Multidimensional Experiental Avoidance Questionnaire (MEAQ) dan dan tingkat kecemasan GAD diukur dengan menggunakan skala The GAD-7. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menggambarkan perilaku menghindar dan metode kuantitatif untuk melihat efektivitas art therapy dalam mengurangi perilaku menghindar dan menurunkan tingkat kecemasan pada dewasa awal. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan metode snowball sampling. Pemberian art therapy pada masing-masing subyek dilakukan sebanyak tujuh sesi. Dalam penelitian ini, art therapy telah terbukti dapat mengurangi perilaku menghindar dan menurunkan tingkat kecemasan pada dewasa awal yang sedang bekerja dengan menunjukan perubahan perilaku menghindar dan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah intervensi. Keberhasilan penelitian art therapy ini juga dipengaruhi oleh adanya kesadaran para partisipan untuk secara konsisten dalam mengikuti sesi terapi.  Generalized Anxiety Disorder (GAD) includes repeating avoidance behavior when experiencing excessive anxiety. Avoidance behavior is a coping mechanism to reduce anxiety, resulting in individuals become dependent on avoidance behavior and tend to repeat it again when facing anxiety in the future. In this study, most participants aged around 22-28 years with as many as 5 women and 1 man reported that anxiety caused changes in work and daily activities, where there is disruption of daily activities and work become less than optimal. Avoidance behavior is measured by Multidimensional Experiental Avoidance Questionnaire (MEAQ) and GAD anxiety levels are measured using The GAD-7 scale. This study uses qualitative methods to describe avoidance behavior and quantitative methods to see the effectiveness of art therapy in reducing avoidance behavior and reducing anxiety levels in young adults. The sampling method used was snowball sampling method. Administration of art therapy in each subject was done in seven sessions. In this study, art therapy is shown to reduce avoidance behavior and reduce anxiety levels in working young adults by the changes in avoidance behavior and anxiety levels after intervention. The success of this art therapy research is also influenced by the consistency of subjects’ participation in therapy sessions.
MEDIA SOSIAL, BUDAYA PENGGEMAR SEPAK BOLA DAN (RE) ARTIKULASI DISKURSUS DOMINAN MENGENAI KEISLAMAN Danang Salahuddin Aditya Lukmana; Shuri Mariasih Gietty Tambunan
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.3493.2019

Abstract

Media sosial dan kreatifitas budaya penggemar dapat dianalisis dengan pendekatan multidisiplin untuk membongkar ideologi dominan yang melatarbelakangi praktik budaya tersebut. Selain itu, kajian terhadap media sosial juga dapat menunjukkan bagaimana ranah budaya populer seperti akun penggemar sepak bola ternyata tidak terlepas dari usaha afirmasi diskursus Keislaman dominan yang berkembang di Indonesia sejak beberapa tahun belakangan ini. Akan tetapi, apabila diskursus Keislaman terutama yang erat kaitannya dengan tubuh (atau yang berkaitan dengan aurat di media sosial) biasanya dikaitkan dengan perempuan, dalam penelitian ini justru dibicarakan dalam konteks budaya penggemar sepak bola yang didominasi penggemar laki-laki. Pergeseran atau pembalikan diskursus ini dilakukan akun @plesbol dengan cara menarik jumlah penggemar melalui representasi diri sebagai akun yang sarkastik ketika membahas persepakbolaan. Oleh karena itu, analisis dilakukan dengan metode kajian tekstual dan “observation ethnography” untuk melihat bagaimana akun ini melakukan ‘dakwah’ dengan strategi menggabungkan budaya populer fandom dengan ranah keseharian, yaitu diskursus agama, dalam ruang digital. Pertanyaan utama penelitian ini adalah bagaimana akun tersebut mengemas dan mengartikulasikan nilai-nilai Islami dalam kaitan dengan representasi akun tersebut sebagai akun sepak bola yang kerap menampilkan sarkasme. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa setelah mendapatkan pengikut (follower) cukup banyak, @plesbol juga mengunggah postingan yang mengartikulasikan Keislaman atau mengenai rekonseptualisasi aurat laki-laki dan ajakan ketaatan dalam praktik keIslaman. Social media and fanfare cultural creativity can be analyzed with a multidisciplinary approach to dismantle the dominant ideology that lies behind these cultural practices. In addition, studies on social media can also show how the realm of popular culture such as soccer fan accounts is apparently inseparable from the effort to affirm dominant Islamic discourses that have developed in Indonesia in recent years. However, if Islamic discourse, especially those closely related to the body (or relating to genitals on social media) is usually associated with women, in this study it is discussed in the context of the culture of football fans dominated by male fans. This shift or reversal of discourse is done by @plesbol account by attracting a number of fans through self-representation as a sarcastic account when discussing football. Therefore, the analysis was conducted using textual study method and observation ethnography to see how this account performs 'da'wah' by combining fandom popular culture with everyday realms, namely religious discourse, in the digital space. The main question of this research is how this account packs and articulates Islamic values in relation to the account's representation as a sarcastic football account. Based on the result of the analysis it was found that after getting quite a number of followers, @plesbol also uploaded posts that articulated Islam or regarding the reconceptualization of male genitalia and invitations to obedience in Islamic practices.
DAftar Isi JMISHS Vol 3 No 2 DPPM UNTAR
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DAftar Isi JMISHS Vol 3 No 2
EFEK MODERATOR MODAL PSIKOLOGIS DAN KOMITMEN MANAJEMEN DALAM HUBUNGAN STRES KERJA DENGAN PERILAKU KESELAMATAN KERJA Sesari, Sesari; Rostiana, Rostiana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i1.3536.2020

Abstract

ABSTRACTSafety performance as personal work behavior related to organizational safety, which is bound by psychological antecedents and can be evaluated by the system. Traditionally, safety performance was measured by accident and death rates. Such method had limitations, therefore two dimensions of safety behavior were proposed, namely: (1) safety compliance, (2) safety participation. This study intends to adopt previous research, concerning variables such as work stress, work safety, and psychological capital in different industries, namely in the shipping industry. In addition to making psychological capital a moderator, this study also makes management commitment variable a moderator. This research was conducted with the aim to examine the relationship between work stress and work safety behavior with psychological capital and management commitment as a moderator. The research method used in this research is quantitative non-experimental research. This study aims to examine the causal relationship without manipulation or administering specific treatment on participants. The research subjects of this study were 200 seamen who served on a tanker owned by PT XYZ, whose headquarter is located in Jakarta. Research data processed using conditional PROCESS from Hayes (2013) show that psychological capital has an effect as a moderator of relationship between safety related work stress and work safety behavior (β = 0.32, p <0.05) while management commitment has no effect as a moderator of relationship between safety related work stress and work safety behavior (β = -0.02, p> 0.05). Kinerja keselamatan sebagai tingkah laku kerja personal yang berhubungan dengan keselamatan organisasi, yang terikat dengan anteseden psikologisnya dan dapat dievaluasi oleh system. Pada era tradisional, kinerja keselamatan diukur dengan tingkat kecelakaan dan kematian Metode tersebut memiliki keterbatasan, sehingga diajukan dua dimensi dari perilaku keselamatan, yaitu: (1) safety compliance, (2) safety participation. Penelitian ini bermaksud mengadopsi penelitian dilakukan sebelumnya, mengenai variabel-variabel yaitu stres kerja, keselamatan kerja, dan modal psikologis di dalam industri yang berbeda, yaitu pada industri pelayaran. Selain menjadikan modal psikologis sebagai moderator, penelitian ini juga menjadikan variabel komitmen manajemen sebagai moderator. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menguji hubungan stres kerja terhadap perilaku keselamatan kerja dengan modal psikologis dan komitmen manajemen sebagai moderator. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif non-eksperimental. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan sebab-akibat tanpa memberikan manipulasi atau perlakuan tertentu terhadap partisipan. Subjek penelitian dari penelitian ini adalah 200 pelaut yang bertugas di kapal tanker milik PT XYZ, yang kantor pusatnya ada di Jakarta. Data hasil penelitian diolah dengan menggunakan conditional PROCESS dari Hayes (2013) menunjukkan bahwa modal psikologis berefek sebagai moderator antara hubungan stres kerja terkait keselamatan dengan perilaku keselamatan kerja (β=0.32, p<0.05) dan komitmen manajemen tidak berefek sebagai moderator antara hubungan stres kerja terkait keselamatan dengan perilaku keselamatan kerja (β=-0.02, p>0.05).
WORK PERFORMANCE: THE IMPACT OF WORK ENGAGEMENT, PSYCHOLOGICAL CAPITAL, AND PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT Kiky Dwi Hapsari Saraswati; Mirda Sari Ningtyas Dara Pertiwi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i1.7992.2020

Abstract

Work performance, undoubtedly, is the key of organizational success. Therefore, it is very important to find out the antecedents which will significantly lead to work performance. Unlike other organizations, mental hospital is a unique institution delivering a different kind of service, both to the patients as well as the family of the patients. Adding to the fact, nurses play a very important role in determining the performance of the hospital. Current study aimed to investigate the contributions of work engagement, psychological capital, and perceived organizational support towards work performance. This was a quantitative non-experimental research employing four questionnaire distributed to 140 nurses from all positions, ranging from junior to senior,  and conducted in a mental hospital in Jakarta, Indonesia. The questionnaires distributed to participants were 47-item Individual’s Work Performance, 3-item Utrecht Work Engagement Scale, 24-item Psychological Capital Questionnaire, and 8-item Survey of Perceived Organizational Support. The results of the study found that work engagement played a significant role towards work performance (F=42.402, p<0,05). Moreover, psychological capital and perceived organization support contributed a significant impact towards work engagement (F=3.678, p<0.05). Tidak diragukan lagi bahwa kinerja adalah kunci keberhasilan organisasi. Oleh karena itu, mengetahui anteseden yang secara signifikan akan mengarah pada kinerja sangat penting. Tidak seperti organisasi lain, rumah sakit jiwa adalah institusi unik yang memberikan layanan yang berbeda, baik untuk pasien maupun keluarga pasien. Ditambah juga perawat memainkan peran yang sangat penting dalam menentukan kinerja rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki kontribusi keterlibatan kerja, modal psikologis, dan dukungan organisasi yang dirasakan terhadap kinerja kerja. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif non-eksperimental yang menggunakan empat kuesioner yang didistribusikan kepada 140 perawat dari berbagai posisi, mulai dari junior hingga senior, dan dilakukan di sebuah rumah sakit jiwa di Jakarta, Indonesia. Kuesioner yang dibagikan kepada peserta adalah Individual’s Work Performance yang terdiri dari 47 item, Utrecht Work Engagement Scale yang terdiri dari 3 item, Psychological Capital Questionnaire yang terdiri dari 24 item, dan Survey of Perceived Organizational  Support yang terdiri dari 8 item. Hasil penelitian menemukan bahwa keterlibatan kerja berperan penting terhadap kinerja kerja (F = 42,402, p <0,05). Selain itu, modal psikologis dan dukungan organisasi yang dirasakan berkontribusi secara signifikan pada keterlibatan kerja (F = 3,678, p <0,05).
PERAN KONTRAK PSIKOLOGIS RELASIONAL DAN TRANSAKSIONAL SEBAGAI PREDIKTOR PERILAKU KERJA KONTRAPRODUKTIF ORGANISASI DAN INTERPERSONAL Ismoro Reza Prima Putra; P. Tommy Y.S. Suyasa; Raja Oloan Tumanggor
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i1.7550.2020

Abstract

Counterproductive work behavior occured in Indonesia, especially in companies. Companies that have many employees with counterproductive work behavior will have a negative impact on the productivity and business of the company. Counterproductive work behavior can be explained by psychological contracts held by each employee. Therefore, this study has examined the role of relational and transactional psychological contracts as predictors of organizational and interpersonal counterproductive work behavior. Counterproductive work behavior was defined as behavior that violates organizational norms and is detrimental to the organization and the individuals within it. Meanwhile, employee psychological contracts were defined as employee perceptions of behavioral obligations that must be given to the organization. Participants in this study were 378 employees in one company in Jakarta. Counterproductive work behavior measurement tool used a workplace deviance scale with a total of 48 items. Meanwhile, psychological contract measurement tools consist of 33 items. The analytical method that has been used is regression and bootstrapping. The results showed that relational psychological contracts play a negative role in predicting organizational counterproductive work behavior (β = -0.308, p <0.01) and interpersonal (β = -0.307, p <0.01). Meanwhile, transactional psychological contracts play a positive role in predicting counterproductive organizational work behavior (β = 0.199, p <0.01) and interpersonal (β = 0.221, p <0.01). Through the Mann-Whitney U test there were differences in relational psychological contracts (U = 6179.00, p <0.05), organizational counterproductive work behavior (U = 3332.50, p <0.05), and interpersonal counterproductive work behavior (U = 4491.00, p <0.05) between male employees and female employees. Meanwhile, there was no difference in the transactional psychological contract between male and female employees (U = 8321.00, p> 0.05). Implications for theory and practice are discussed. Perilaku kerja kontraproduktif banyak terjadi di Indonesia khususnya di perusahaan. Perusahaan yang banyak memiliki karyawan dengan perilaku kerja kontraproduktif akan memiliki dampak negatif terhadap produktivitas dan bisnis perusahaan. Perilaku kerja kontraproduktif dapat dijelaskan oleh kontrak psikologis yang dimiliki oleh setiap karyawan. Oleh karena itu, penelitian ini menguji peran kontrak psikologis relasional dan transaksional sebagai prediktor terjadinya perilaku kerja kontraproduktif organisasi dan interpersonal. Perilaku kerja kontraproduktif didefinisikan sebagai perilaku yang melanggar norma-norma organisasi dan merugikan organisasi maupun individu di dalamnya. Sementara itu, kontrak psikologis karyawan didefinisikan sebagai persepsi karyawan terhadap kewajiban perilaku yang harus diberikan kepada organisasinya. Partisipan dalam penelitian ini adalah 378 karyawan di salah satu perusahaan di Jakarta. Alat ukur perilaku kerja kontraproduktif menggunakan workplace deviance scale dengan total 48 item. Sementara itu, alat ukur kontrak psikologis terdiri dari 33 item. Metode analisis yang digunakan adalah regresi dan bootstrapping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrak psikologis relasional berperan negatif dalam memprediksi perilaku kerja kontraproduktif organisasi (β=-0.308, p < 0.01) dan interpersonal (β=-0.307, p < 0.01). Sementara itu, kontrak psikologis transaksional berperan positif dalam memprediksi perilaku kerja kontraproduktif organisasi (β=0.199, p < 0.01) dan interpersonal (β=0.221, p < 0.01). Melalui uji Mann-Whitney U terdapat perbedaan kontrak psikologis relasional (U=6179.00, p < 0.05), perilaku kerja kontraproduktif organisasi (U=3332.50, p < 0.05), dan perilaku kerja kontraproduktif interpersonal (U=4491.00, p < 0.05) antara karyawan laki-laki dan karyawan perempuan. Sementara itu, kontrak psikologis transaksional antara karyawan laki-laki dan karyawan perempuan tidak terdapat perbedaan (U=8321.00, p > 0.05). Hasil dari penelitian ini, baik secara teori maupun praktik, akan didiskusikan lebih lanjut. 
PENERAPAN RHYTHMIC MOVEMENT TRAINING DALAM MENINGKATKAN ATENSI PADA ANAK DENGAN ATTENTION-DEFICIT/HYPERACTIVITY DISORDER Said, Aprillia Ramadhin; Marat, Samsunuwiyati; Basaria, Debora
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i1.2982.2020

Abstract

The number of children diagnosed with Attention-Deficit / Hyperactivity Disorder (ADHD) keeps increasing, therefore it is important to highlight the problems experienced by children with ADHD. The problem that persists as children with ADHD grow older is attention problem. Attention problem can impair learning, performance, academic achievement and social functioning. Attention problem among ADHD children is closely related to the condition of retained primitive reflex. This attention problem must be solved to minimize the ensuing impact, especially among children with ADHD. There are several therapies to help children with ADHD overcome attention problem, one of them being Rhythmic Movement Training. Rhythmic Movements Training (RMT) integrates retained primitive reflexes through movements that can stimulate the development of nerve cells in the brain, which results in increased attention. The purpose of this study is to determine the application of Rhythmic Movement Training (RMT) in increasing attention of children with ADHD. This study uses one group pre-test post-test design using Structured Observation of Academic and Play Settings (SOAPS) to measure the attention of participants before and after Rhythmic Movement Training (RMT) is given. The results show that Rhythmic Movement Training (RMT) can increase the attention of participants, who are children with ADHD. Jumlah anak dengan Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) semakin bertambah, sedangkan terdapat beberapa permasalahan yang dialami oleh anak dengan ADHD. Permasalahan yang menetap seiring dengan perkembangan usia pada anak dengan ADHD adalah permasalahan atensi. Permasalahan atensi dapat menyebabkan permasalahan dalam pembelajaran, performa anak, prestasi akademik dan fungsi sosial. Permasalahan atensi pada anak ADHD erat kaitannya dengan kondisi retained primitive reflex. Permasalahan atensi ini perlu diatasi untuk meminimalisir dampak yang terjadi, khususnya pada anak dengan ADHD. Terdapat beberapa terapi untuk mengatasi permasalahan atensi pada anak dengan ADHD, salah satunya dengan Rhythmic Movement Training. Rhythmic Movements Training (RMT) dapat mengintegrasikan retained primitive reflex melalui gerakan yang dapat menstimulasi perkembangan sel saraf pada otak, yang dapat berdampak pada meningkatnya atensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan Rhythmic Movement Training (RMT) dalam meningkatkan atensi pada anak ADHD. Penelitian ini menggunakan one group pre-test post-test design dengan menggunakan Structured Observation of Academic and Play Settings (SOAPS), untuk mengukur atensi para partisipan sebelum dan sesudah diberikannya Rhythmic Movement Training (RMT). Hasil menunjukkan bahwa Rhythmic Movement Training (RMT) dapat meningkatkan atensi para partisipan yang merupakan anak dengan ADHD.
PENGARUH BRAND IMAGE TERHADAP IMPLEMENTASI DESAIN INTERIOR STUDI KASUS MUSEUM BASKET THE BUCKETLIST, BOGOR Mutiara, Maitri Widya; Kristina, Ardya
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i1.7750.2020

Abstract

Brand image is a representation of the whole brand and is formed from information and past experience of the brand. Implementation of brand image in interior design will provide a positive image. The museum is an institution that has properties, one of which is Basketball is a popular sport in Indonesia. But unfortunately, the history of basketball development in Indonesia has not been well documented. The Bucketlist is a place as a basketball history museum in Indonesia. Research methods to support the results of the design carried out in this paper are literature studies, site studies / floor plans and focus group discussions. This research is the basis for making design decisions on the Interior design of The Bucketlist Basketball Museum. In order to attract visitors, a strong brand image is needed. Brand image is a representation of the overall perception of the brand and is formed from information and past experience of the brand. Servicescape itself is a physical environment which includes services in an interior or exterior facility. Awareness of this servicescape will affect users and visitors of the place. Based on the FGD that has been done, The Bucketlist's brand image is basketball-focused, experience-oriented, instagrammable, and family friendly. The brand image that has been determined from the results of this discussion becomes the basis for the formation of the image of the space to be applied in the interior design of the Bucketlist Basket Museum. In its application, all four aspects of the brand image have been applied but there is still room for maximization given the current project is still running.Perancangan interior yang baik memiliki banyak pertimbangan yang akan membuat nyaman penggunanya. Sehingga pengguna adalah sebagai salah satu pertimbangan dalam perancangan. Dalam ruang publik, selain pengguna juga perlu mempertimbangkan citra ruang tersebut yang sesuai dengan citra brand yang dapat dilihat melalui brand image. Brand image merupakan representasi dari keseluruhan merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman masa lalu terhadap merek tersebut. Implementasi brand image dalam desain interior akan memberikan citra yang positif. Museum merupakan lembaga yang memiliki sifat, salah satunya adalah Basket merupakan olahraga yang digemari di Indonesia. Akan tetapi, sejarah perkembangan basket di Indonesia belum terdokumentasikan dengan baik. The Bucketlist hadir menjadi wadah sebagai museum sejarah basket di Indonesia. Dalam rangka menarik pengunjung, diperlukan brand image yang kuat. Brand image adalah representasi dari keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman masa lalu terhadap merek itu. Servicescape sendiri merupakan lingkungan fisik yang di dalamnya mencakup pelayanan pada suatu fasilitas interior ataupun eksterior. Kesadaran akan servicescape ini akan mempengaruhi pengguna maupun pengunjung tempat tersebut. Metode penelitian untuk mendukung hasil desain yang dilakukan dalam penulisan ini adalah studi literatur, studi tapak/denah dan diskusi kelompok terarah (FGD). Penelitian ini menjadi dasar pengambilan keputusan-keputusan desain pada desain Interior Museum Basket The Bucketlist. Hasil penelitian ditemukan bahwa, brand image The Bucketlist adalah basket-focused, experience-oriented, instagrammable, dan family friendly. Brand image yang sudah ditetapkan dari hasil diskusi ini menjadi dasar bagi pembentukan citra ruang yang ingin diterapkan dalam desain interior Museum Basket The Bucketlist. Dalam penerapannya, keempat segi brand image sudah diterapkan namun masih terbuka ruang untuk dimaksimalkan mengingat saat ini proyek masih berjalan.
PERBEDAAN KEPUASAN HIDUP PADA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DENGAN HIV/AIDS Gani, Edward Septianto; Atmodiwirjo, Ediasri Toto; Sutikno, Naomi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i1.3546.2020

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) is an autoimmune disease that has not yet to be cured. HIV affects many aspects of the lives of sufferers, including psychological aspects. The population of people with HIV has a significant increase every year. People with HIV will experience physical and psychological problems that will affect their life satisfaction. Life satisfaction is one way that can be used to see whether someone is satisfied with aspects that are considered important in his life. There are differences in research results regarding life satisfaction in terms of gender. This study aims to look further, whether there are differences in life satisfaction in men and women with HIV-Aids. Participants in this study numbered 66 people in one of the HIV communities in Jakarta. Be found 30 male participants and 36 female participants. This research uses quantitative research methods. Data collection uses a life satisfaction questionnaire that has been adapted in Indonesian language.  Data was analyzed by independent sample t-test. The results of this study indicate that there is no significant difference in life satisfaction between male and female. These results indicated that there are other factors such as support systems that increase the satisfaction of PLHIV, but not gender. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah penyakit autoimun yang sampai saat ini belum dapat disembuhkan. HIV berdampak pada banyak aspek kehidupan penderitanya, termasuk aspek psikologis. Populasi orang dengan HIV (odha) setiap tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Individu dengan HIV akan mengalami permasalahan-pemasalahan secara fisik dan psikologis yang akan memengaruhi penilaian terhadap kepuasan hidupnya. Kepuasan hidup merupakan salah satu tolak ukur yang bisa digunakan untuk melihat apakah seseorang merasa puas dengan aspek-aspek yang dinilai penting dalam hidupnya. Terdapat perbedaan hasil penelitian mengenai kepuasan hidup ditinjau dari jenis kelamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih lanjut, apakah terdapat perbedaan kepuasan hidup pada laki-laki dan perempuan dengan HIV-Aids.  Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 66 orang pada salah satu komunitas HIV di Jakarta. Dengan jumlah partisipan odha laki-laki sebanyak 30 orang dan odha perempuan sebanyak 36 orang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Pengumpulan data menggunakan kuesioner kepuasan hidup yang telah diadaptasi dalam bahasa Indonesia. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini dengan menggunakan independent sample t-test. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan kepuasan hidup antara odha laki-laki dengan odha perempuan. Hasil ini dapat menunjukkan adanya faktor lain seperti support system yang mempengaruhi kepuasan hidup odha, bukan sekedar faktor jenis kelamin.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 3 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni More Issue