cover
Contact Name
laelatus Syifa Sari Agustina
Contact Email
laelatussyifa.sa@staff.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
wacana@mail.uns.ac.id
Editorial Address
Gedung D Fakultas Kedokteran UNS Jl. Ir. Sutami no. 36A, Kota surakarta (solo), Jebres, Jawa Tengah, 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
WACANA
ISSN : 20850514     EISSN : 27161625     DOI : https://doi.org/10.13057/wacana.v12i1
Wacana adalah wadah pengembangan psikologi di indonesia khususnya dibidang indegenous yang memuat naskah-naskah ilmiah penelitian empiris. Psikologi dalam ranah indegenous mengkhususkan diri pada studi yang mengangkat seni, etnis, budaya, nilai-nilai kepercayaan, spiritualitas, agama dan kearifan lokal yang saling mempengaruhi proses sosial dan proses individual serta hubungan intra dan/atau inter kelompok dan lingkungan. Kajian dalam bidang-bidang psikologi lainnya dapat dimuat dalam Wacana sepanjang memiliki relevansi dengan psikologi khusunya bidang indegenous.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
Terapi Melukis untuk Meningkatkan Konsep Diri Remaja Panti Asuhan Nur Hidayah Surakarta Astri Fatwasari; Suci Murti Karini; Nugraha Arif Karyanta
Wacana Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.388 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i2.113

Abstract

Terapi Melukis untuk Meningkatkan Konsep Diri Remaja Panti Asuhan Nur Hidayah Surakarta     Painting Therapy to Increase Self-Concept of Orphan Adolescent at Panti Asuhan Nur Hidayah Surakarta     Astri Fatwasari, Suci Murti Karini, Nugraha Arif Karyanta Program Studi Psikologi FakultasKedokteran UniversitasSebalasMaret       ABSTRAK   Konsep diri ialah penilaian dan perasaan terhadap diri yang menjadi skema dasar individu. Remaja memiliki kondisi konsep diri yang cenderung tidak stabil, terlebih lagi remaja yang bertempat tinggal di panti asuhan tentu memiliki tantangan yang berbeda. Melukis sebagai bagian dari art therapy membantu individu untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan diri untuk menemukan konsep diri. Terapi melukis sebagai proses kreatif yang terlibat dalam pembuatan karya lukis dengan melibatkan kapasitas mengolah potensi indra untuk menghasilkan sebuah citra melalui medium lukisan sebagai proses terapeutik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi melukis terhadap peningkatan konsep diri remaja panti asuhan.   Penelitian ini menggunakan metode eksperimen pretest-posttest control group design. Terapi melukis dilakukan dalam 3 sesi yakni warm-up, melukis, dan refleksi yang dilakukan dalam 6 kali pertemuan dengan tema-tema melukis yakni Scribble Painting, Spektrum Warna, Potret Diri, Aku dan Mereka, Pengalamanku, Diriku Di Masa Depan, dan Favoritku. Pengumpulan data menggunakan skala konsep diri Tennessee Self Concept Scale (TSCS) dengan indeks korelasi 0,300-0,686 dan reliabilitas 0,890. Subjek dalam penelitian ini ialah yatim piatu di Panti Asuhan Nur Hidayah Surakarta yang berusia 13-18 tahun, diperoleh 7 orang dalam kelompok eksperimen yang mendapatkan perlakuan berupa terapi melukis secara penuh dan 7 orang dalam kelompok kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan terapi melukis.   Berdasarkan hasil uji 2 sampel independen Mann-Whitney diperoleh hasil berupa nilai z sebesar -2,505 dan nilai uji signifikansi (p) sebesar 0,012 (p<0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat perubahan skor konsep diri secara signifikan antara kelompok eksperimen yang medapatkan perlakuan berupa terapi melukis dengan kelompok kontrol yang tidak mendapat perlakuan, sehingga dapat disimpulkan bahwa terapi melukis memengaruhi konsep diri secara signifikan pada remaja panti asuhan di Panti Asuhan Nur Hidayah Surakarta. Berdasarkan uji kualitatif pada subjek kelompok eksperimen menunjukkan bahwa terdapat perubahan konsep diri yang ditunjukkan dengan mengenal dirinya dengan baik melalui terapi melukis.   Kata kunci: art therapy, terapi melukis, konsep diri, remaja panti asuhan
WACANA FILSAFAT ILMU DALAM PSIKOLOGI Aditya Nanda Priyatama
Wacana Vol 5, No 1 (2013)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.187 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v5i1.17

Abstract

Filsafat ilmu adalah cabang filsafat yang hendak merefleksikan konsep-konsep yang diandaikan begitu saja oleh para ilmuwan, seperti konsep metode, obyektivitas, penarikan kesimpulan, dan konsep standar kebenaran suatu pernyataan ilmiah. Hal ini penting, supaya ilmuwan dapat semakin kritis terhadap pola kegiatan ilmiahnya sendiri, dan mengembangkannya sesuai kebutuhan masyarakat. Psikolog sebagai seorang ilmuwan tentunya juga memerlukan kemampuan berpikir yang ditawarkan oleh filsafat ilmu ini. Tujuannya adalah, supaya para psikolog tetap sadar bahwa ilmu pada dasarnya tidak pernah bisa mencapai kepastian mutlak, melainkan hanya pada level probabilitas. Dengan begitu, para psikolog bisa menjadi ilmuwan yang rendah hati, yang sadar betul akan batas-batas ilmunya, dan terhindar dari sikap saintisme, yakni sikap memuja ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya sumber kebenaran.
Tumbuh Bersama dalam Ketertekanan: Stress-Related Growth Keluarga yang Memiliki Anak Penyandang Autisme Maria Laksmi Anantasari
Wacana Vol 11, No 2 (2019)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.349 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v11i2.148

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan  untuk mendapatkan gambaran mengenai  SRG keluarga yang memiliki anak penyandang autis serta faktor yang terkait. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif.  Pengambilan  data dengan teknik Diskusi Kelompok Terarah dan wawancara, dilakukan terhadap tiga keluarga yang memiliki anak penyandang autisme. Partisipan ditentukan secara purposive sampling dengan melibatkan kombinasi tiga strategi yaitu homogen, snowball sampling dan kriteria.  Temuan studi menunjukkan faktor SRG keluarga adalah karakteristik keluarga,  besarnya tekanan, dampak yang terjadi, usaha mengatasi masalah,  dan  sumber dukungan sosial.  SRG keluarga terwujud dalam beberapa bentuk. Pertama, meningkatnya kualitas karakteristik keluarga, keterampilan keluarga dan terciptanya sistem keluarga dalam menghadapi masalah. Kedua, peningkatan kualitas relasi dalam keluarga dan relasi terhadap orang lain  yang diwarnai dengan  kepedulian, kepercayaan, keterbukaan, empati dan perilaku prososial. Ketiga, pertumbuhan spiritual yang  teraktualisasi dalam meningkatnya ritual keagamaan, peningkatan cara pandang spiritual,  kesadaran akan hakekat hidup, munculnya perilaku dan sikap batin positif serta kemauan memperbaiki kualitas keluargaKata kunci: Anak penyandang autisme; pertumbuhan;  Stress-Related Growth keluarga
HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PRESTASI BELAJAR PADA MAHASISWA PROGRAM D IV KEBIDANAN FK UNS Erindra Budi C; Eny Qurniyawati
Wacana Vol 2, No 2 (2010)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.47 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v2i2.49

Abstract

Midwives attitude of empathy, open and midwives awareness of feelings, thoughts experienced by the mother or her family is a midwife who has emotional intelligence. Therefore, emotional intelligence should be developed not only after working as a midwife, but also when she was sitting on a bench study. Curriculum and instructional design should be designed in such a way as to encourage  not just intellectual quotient  but also emotional quotient. This study aimed to determine the corelation between emotional quotient and academic achievement. Data collected by cross sectional study on 58 students in the last year of Midwifery School of FK UNS. Emotional intelligence was measured with a questionaire that has been tested for validity and reliability, and the student achievement showed by the student’s  7Th semester Grade Point Average (GPA) . Statistical analysis technique used Pearson Product Moment. Results showed that most students have a high emotional quotient (86%). The majority of student’s academic achievement is satisfactory (71%). Statistical analysis showed a  significant relationship of emotional quotient on student’s academic achievement , where t count is bigger than t table. Achievement of learning are supported by student’s ability to manage emotions in a way that positively affects the performance of duties, are sensitive to impulsive and unable to delay the enjoyment before reaching the target. Someone who can properly manage the emotions would be able to manage stress, cheerful, optimistic, calm in the face of every problem, and smart in determining problem-solving strategies, so that they can achieve optimal learning outcomes also according to research done by Rosyid (2008) and Wahyuningsih (2004).   Keywords : emotional quotient, academic achievement, Midwifery students
Pencegahan Psikopatologi Pada Anak Dan Remaja Melalui Intervensi Kesehatan Mental Berbasis Sekolah: Review Literatur Usmi Karyani
Wacana Vol 7, No 1 (2015)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.818 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v7i1.72

Abstract

PENCEGAHAN PSIKOPATOLOGI PADA ANAK DAN REMAJA MELALUI INTERVENSI KESEHATAN MENTAL BERBASIS SEKOLAH: REVIEW LITERATUR Usmi Karyani Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta usmi.karyani@ums.ac.id Subandi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta masubandi@gmail.com Abstrak Transisi anak menuju remaja berisiko memunculkan masalah kesehatan mental bahkan psikopatologi. World Health Organization (WHO) memperkirakan secara global masalah psikopatologi pada anak dan remaja akan menjadi salah satu dari lima masalah utama yang menyebabkan disabilitas, morbiditas, atau bahkan mortalitas. Psikopatologi yang banyak terjadi pada usia anak dan remaja adalah kecemasan, depresi, dan gangguan perilaku. Salah satu upaya yang direkomendasikan untuk mengantisipasi semakin tingginya prevalensi psikopatologi pada anak dan remaja adalah melakukan program intervensi kesehatan mental berbasis sekolah. Artikel ini menyajikan hasil review sistematis terhadap 10 artikel penelitian yang terdiri dari 13 studi mengenai efek intervensi kesehatan mental berbasis sekolah untuk mencegah masalah psikopatologi pada anak dan remaja, khususnya kecemasan, depresi, dan gangguan perilaku. Review terhadap 13 sampel studi menunjukkan bahwa intervensi didominasi untuk mengatasi simptom internalisasi yakni depresi dan kecemasan. Pada usia sekolah dasar, pendekatan yang efektif adalah pendekatan yang berbasis pada humanistik yang diimplementasikan dalam bentuk konseling kelompok dan individu. Intervensi melalui endekatan cognitive behavioral tidak efektif untuk usia sekolah dasar, namun efektif untuk usia sekolah menengah.
Hubungan antara Keadilan Distributif dan Keterlibatan Kerja dengan Kepuasan Kerja pada Pegawai Honorer Puskesmas di Kabupaten Sukoharjo Stya Wati Ningrum; Bagus Wicaksono; Aditya Nanda Priyatama
Wacana Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.671 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i1.104

Abstract

Hubungan antara Keadilan Distributif dan Keterlibatan Kerja dengan Kepuasan Kerja pada Pegawai Honorer Puskesmas di Kabupaten Sukoharjo THE RELATIONSHIP BETWEEN DISTRIBUTIVE JUSTICE AND JOB INVOLVEMENT WITH JOB SATISFACTION ON TEMPORARY EMPLOYEE`S PUBLIC HEALTH CENTRE IN SUKOHARJO REGENCY   Oleh: Stya Wati Ningrum, Bagus Wicaksono, Aditya Nanda Priyatama Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret styawatiningrum@gmail.com   ABSTRAK Kepuasan kerja atau kepuasan karyawan merupakan salah satu variabel yang sering digunakan dalam perilaku organisasi. Kepuasan kerja merupakan respon sikap karyawan terhadap organisasinya mengenai kesejahteraan  karyawan di tempat kerja. Kepuasan kerja yang dirasakan oleh karyawan terhadap organisasi dipengaruhi oleh keadilan distributif dan keterlibatan karyawan di tempat kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui hubungan antara keadilan distributif dan keterlibatan kerja dengan kepuasan kerja pada pegawai honorer puskesmas di kabupaten sukoharjo, (2) mengetahui hubungan antara keadilan distributif dengan kepuasan kerja, dan (3) mengetahui hubungan antara keterlibatan kerja dengan kepuasan kerja pada karyawan honorer puskesmas di kabupaten sukoharjo.   Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 60 karyawan yang berstatus sebagai honorer. Pengambilan sampel menggunakan studi populasi atau sensus dengan menggunakan keseluruhan  jumlah populasi. Penelitian ini menggunakan tiga skala psikologis, yaitu skala kepuasan kerja, skala keadilan distributif dan skala keterlibatan kerja. Hipotesis pertama diuji dengen menggunakan analisis regresi linier berganda, sedangkan hipotesis kedua dan ketiga diuji dengan menggunakan uji korelasi parsial.   Hasil penelitian menunjukkan bahwa, terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara keadilan distributifdan keterlibatan kerja dengan kepuasan kerja pada karyawan honorer puskesmas di kabupaten sukoharjo. (Nilai Fhitung 28,464 > Ftabel 3,05; p < 0,05; R = 0,707). Secara parsial, penelitian ini juga menunjukkan ada hubungan yang positif dan signifikan antara keadilan distributif dengan kepuasan kerja (r = 0,429; p < 0,05). Terdapat pula hubungan yang positif dan signifikan antara keterlibatan kerja dengan kepuasan kerja (r = 0,437; p < 0,05). Nilai R2 dalam penelitian ini sebesar 0,5 atau 50% yang terdiri atas sumbangan efektif keadilan distributifterhadap kepuasan kerja sebesar 24,529% dan sumbangan efektif keterlibatan kerja terhadap kepuasan kerja sebesar 25,407%. Kata Kunci: kepuasan kerja, keadilan distributif, keteribatan kerja
STUDI FENOMENOLOGI MENGENAI PENYESUAIAN DIRI PADA WANITA BERCADAR Faricha Hasinta Sari; Salmah Lilik; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 6, No 1 (2014)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.184 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v6i1.7

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui proses penyesuaian diri pada wanita bercadar yang berusia dewasa muda di wilayah Surakarta. Penyesuaian diri merupakan suatu proses bagaimana seorang individu dapat memperoleh suatu keseimbangan dalam menghadapi kebutuhan, tuntutan, frustasi, dan konflik dari dalam diri maupun lingkungan, sehingga tercapai suatu harmoni pada diri sendiri dan lingkungannya. Pada penelitian ini, wanita bercadar merupakan komunitas yang rentan terhadap kondisi penyesuaian karena dihadapkan pada berbagai situasi akibat bercadar, seperti dalam interaksi sosial wanita bercadar kehilangan petunjuk wajah sebagai identitas dan faktor penting dalam komunikasi non verbal, serta tugas perkembangan usia dewasa muda yang penuh dengan pola-pola kehidupan dan harapan sosial yang baru. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan rancangan studi fenomenologi yang diharapkan mampu menggali data dari subjek secara lebih mendalam sehingga mampu menjelaskan situasi yang dialami oleh subjek dalam kehidupan sehari-hari dan tetap selaras dengan konteks dimana gejala itu muncul di dunia. Subjek penelitian ini adalah wanita bercadar berjumlah 3 orang dengan kriteria yaitu berusia dewasa muda dan tidak tinggal di pondok pesantren. Penentuan subjek dalam penelitian ini menggunakan teknik bola salju (snowball sampling). sedangkan metode pengambilan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah riwayat hidup, wawancara, dan observasi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa setiap subjek memiliki alasan bercadar yang berbeda-beda dan respon masing-masing dalam menyesuaikan diri. Subjek 1 bercadar karena perintah suami, subjek 2 bercadar karena menganggap cadar adalah wajib, dan subjek 3 bercadar karena merasa malu dan risih dilihat wajahnya oleh orang lain. Subjek 1 mengatasi ketidaksiapannya dengan lingkungan baru dengan membentuk sikap menghindar dan mengisi dengan fokus terhadap mimpinya mengembangkan kreativitas anak. Subjek 2 terus berupaya meyakinkan kedua orang tuanya dengan mentaati segala keinginan orang tuanya namun tetap berpegang teguh pada keyakinannya. Ia juga berusaha untuk memiliki usaha mandiri sehingga terbebas dari tuntutan sosial. Sedangkan subjek 3 melakukan interaksi yang wajar dengan teman-temannya baik laki-laki maupun perempuan, mengenakan pakaian yang berwarna-warni, membaur dan aktif dengan lingkungan tempat tinggalnya, serta melakukan self talk sebagai salah satu sarana untuk bangkit dari keterpurukan.   Kata Kunci : Penyesuaian Diri, Wanita Bercadar, Usia Dewasa Muda
Peristiwa Apa Yang Mendekatkan Anak Dengan Tuhannya? Perspektif Psikologi Islam Ikhwanisifa .; Reni Susanti
Wacana Vol 11, No 1 (2019)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.773 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v11i1.139

Abstract

Abstrak Konsep Tuhan merupakan perwujudan keimanan seseorang terhadap Tuhannya. Konsep Tuhan adalah perpaduan kesan yang terpisah mengenai hal-hal yang berkenaan tentang Tuhan yang sudah bisa didapatkan dari masa kanak-kanak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang peristiwa apa yang mendekatkan anak dengan Tuhannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan Psikologi Indijinus dengan memberikan pertanyaan terbuka, “ Peristiwa apakah yang mengingatkanmu tentang Tuhanmu?”. Responden dalam penelitian ini adalah 200 siswa kelas 6 Sekolah Dasar Islam Terpadu di Pekanbaru. Data diolah dengan menggunakan Nvivo 8.0. Berdasarkan hasil analisis didapatkan empat tema besar berkaitan dengan peristiwa yang mendekatkan anak dengan Tuhan yaitu cobaan (43%), ibadah (33,5%), nikmat (9,5%), dan tidak beribadah (3%). Hasil ini menunjukkan bahwasanya representasi mental konsep Tuhan pada anak dapat digambarkan dalam bentuk aspek evaluatif anak tentang Tuhannya. Evaluasi tersebut terbagi atas dua penilaian yakni penilaian positif dan negatif. Penilaian positif meliputi ibadah dan nikmat, sedangkan penilaian negatif meliputi cobaan dan kesalahan.   Kata kunci :  Anak, Konsep Tuhan, Peristiwa
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN SEKSUALITAS DAN KUALITAS KOMUNIKASI ORANGTUA DAN ANAK DENGAN PERILAKU SEKS BEBAS PADA REMAJA SISWA-SISWI MAN GONDANGREJO KARANGNYAR Evidanika Nifa Mertia; Thulus Hidayat; Istar Yuliadi
Wacana Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.019 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v3i2.40

Abstract

Di Indonesia, terutama di kota-kota besar perilaku seks bebas pada remaja semakin meningkat. Akibat dari perilaku tersebut adalah kehamilan di luar nikah, pemerkosaan, merebaknya pelacuran di kalangan remaja, aborsi, penyakit menular seksual, pelecehan seksual dan penyimpangan-penyimpangan seksual. Ada banyak yang melatarbelakangi perilaku seks bebas pada remaja, seperti kurangnya pengetahuan seksualitas anak dan kurang berkualitasnya komunikasi orangtua dan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan seksualitas dan kualitas komunikasi orangtua dan anak dengan perilaku seks bebas pada remaja siswa-siswi MAN Gondangrejo Karanganyar. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian diambil dengan teknik cluster random sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala perilaku seks bebas, skala pengetahuan seksualitas, dan skala kualitas komunikasi orangtua dan anak. Analisis data menggunakan teknik analisis regresi ganda. Hasil perhitungan menggunakan analisis regresi ganda menunjukkan koefisien regresi variabel pengetahuan seksualitas sebesar -0,595 pada taraf signifikan p<0,05. Artinya bahwa pengetahuan seksualitas mempunyai hubungan negatif dengan perilaku seks bebas. Koefisien regresi variabel kualitas komunikasi orangtua dan anak sebesar -0,615 pada taraf signifikan p<0,05. Artinya kualitas komunikasi orangtua dan anak mempunyai hubungan negatif dengan perilaku seks bebas. Selain itu berdasarkan hasil analisis data diketahui ada hubungan yang signifikan secara statistik antara pengetahuan seksualitas dan kualitas komunikasi orangtua dan anak dengan perilaku seks bebas pada remaja siswa-siswi MAN Gondangrejo Karanganyar, ditunjukkan dengan nilai R=0,592 dan F=17,279 pada p<0,05. Sumbangan efektif pengetahuan seksualitas dan kualitas komunikasi orangtua dan anak dengan perilaku seks bebas dapat dilihat dari keofisien determinan (R2) sebesar 0,351 atau 35,1% yang berarti masih terdapat 64,9% faktor lain yang mempengaruhi perilaku seks bebas selain pengetahuan seksualitas dan kualitas komunikasi orangtua dan anak.     Kata kunci       : pengetahuan seksualitas, komunikasi orangtua anak, seks bebas
HUBUNGAN ANTARA POLA PENGASUHAN DAN POLA KELEKATAN DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA REMAJA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 SRAGEN Eki Dwi Maretawati H; . Makmuroch; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 1, No 2 (2009)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.971 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v1i2.63

Abstract

Kemampuan penyesuaian sosial yang positif dibutuhkan seorang remaja dalam membantunya mengantisipasi segala perubahan baik yang terjadi dalam diri mereka maupun lingkungan sosialnya yang lebih luas. Namun demikian, tidak semua remaja mampu melakukan penyesuaian sosial dengan baik. Hal ini dapat dilihat dengan semakin meningkatnya jumlah penyimpangan perilaku remaja dalam berbagai bentuk. Salah satu faktor yang mempengaruhi penyesuian sosial seorang remaja adalah lingkungan keluarga, terutama orangtua. Melalui bimbingan, perhatian, kasih sayang, hubungan yang aman serta respon yang diberikan orangtua akan menjadi modal dasar pembelajaran seorang remaja dalam bersosialisasi dan melakukan penyesuaian yang lebih luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola pengasuhan dan pola kelekatan dengan penyesuaian sosial pada remaja. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Sragen. Teknik pengambilan sampel dengan cluster random sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala pola pengasuhan, skala pola kelekatan dan skala penyesuaian sosial. Analisis data menggunakan teknik analisis berganda variabel dummy. Hasil perhitungan menggunakan teknik analisis berganda variabel dummy, diperoleh p-value 0,000 < 0,05 dan F hitung = 44,114 > dari F tabel = 3,1065 serta R sebesar 0,718. Hal ini berarti pola pengasuhan dan pola kelekatan dapat digunakan sebagai prediktor untuk memprediksi penyesuaian sosial pada remaja. Tingkat signifikansi p-value 0,000 (p<0,005) menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pola pengasuhan dan pola kelekatan dengan penyesuaian sosial pada remaja. Analisis data menunjukkan nilai R Square sebesar 0,515. Angka tersebut mengandung pengertian bahwa dalam penelitian ini, pola pengasuhan dan pola kelekatan memberikan sumbangan efektif sebesar 51,5% terhadap penyesuaian sosial pada remaja, dengan sumbangan efektif masing-masing variabel adalah 3,1% untuk variabel pola pengasuhan dan 48,4% untuk variabel pola kelekatan. Hal ini berarti masih terdapat 48,5% faktor lain yang mempengaruhi penyesuaian sosial pada remaja.   Kata kunci: Pola Pengasuhan, Pola Kelekatan, Penyesuaian Sosial pada Remaja

Page 9 of 18 | Total Record : 172