cover
Contact Name
laelatus Syifa Sari Agustina
Contact Email
laelatussyifa.sa@staff.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
wacana@mail.uns.ac.id
Editorial Address
Gedung D Fakultas Kedokteran UNS Jl. Ir. Sutami no. 36A, Kota surakarta (solo), Jebres, Jawa Tengah, 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
WACANA
ISSN : 20850514     EISSN : 27161625     DOI : https://doi.org/10.13057/wacana.v12i1
Wacana adalah wadah pengembangan psikologi di indonesia khususnya dibidang indegenous yang memuat naskah-naskah ilmiah penelitian empiris. Psikologi dalam ranah indegenous mengkhususkan diri pada studi yang mengangkat seni, etnis, budaya, nilai-nilai kepercayaan, spiritualitas, agama dan kearifan lokal yang saling mempengaruhi proses sosial dan proses individual serta hubungan intra dan/atau inter kelompok dan lingkungan. Kajian dalam bidang-bidang psikologi lainnya dapat dimuat dalam Wacana sepanjang memiliki relevansi dengan psikologi khusunya bidang indegenous.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
Hubungan antara Konflik Kerja dan Perilaku Kepemimpinan dengan Kinerja Karyawan pada PT AG Kantor Pusat Dyah Pratitha, Aurelia; Nanda Priyatama, Aditya; Arif Karyanta, Nugraha
Wacana Vol 8, No 2 (2016)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.139 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v8i2.95

Abstract

Hubungan antara Konflik Kerja dan Perilaku Kepemimpinan dengan Kinerja Karyawan pada PT AG Kantor Pusat     Relationship Between Labour Conflict and Leadership Behavior with Work Performance of the Employees at the PT AG Central Office     Aurelia Dyah Pratitha, Aditya Nanda Priyatama, Nugraha Arif Karyanta Program Studi Psikologi FakultasKedokteran UniversitasSebelasMaret       ABSTRAK   Organisasi yang efektif adalah organisasi yang mampu mencapai tujuan dan target yang telah ditetapkan. Organisasi efektif ditentukan oleh kinerja karyawan, yang digunakan sebagai bahan evaluasi untuk pertumbuhan organisasi.Tinggi rendah kinerja ditentukan oleh kualitas interaksi antar karyawan. Kualitas interaksi akan mempengaruhi kinerja bila terjadi konflik. Sebagian besar konflik bersifat mengganggu kinerja karyawan. Adanya perilaku pemimpin yang dirasa kurang memotivasi dan tidak bisa memahami karyawan, akan semakin mengganggu kinerja karyawan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konflik kerja dan perilaku kepemimpinan dengan kinerja karyawan secara simultan dan parsial. Subjek penelitian merupakan karyawan PT AG bagian kantor pusat berjumlah 57 orang dan menggunakan total sampling. Alat ukur pengumpulan data menggunakan skala kinerja karyawan dengan reliabilitas 0,918, skala konflik kerja dengan reliabilitas 0,868 dan modifikasi Leader Behavior Description Questionnaire dengan reliabilitas 0,939.Analisis data menggunakan teknik regresi linier berganda, diperoleh signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05) dan Fhitung= 11,608 > Ftabel= 3,17 serta R= 0,548. Pengujian secara parsial antar konflik kerja dengan kinerja mendapatkan nilai p sebesar 0,005 < 0,05 dengan  rx1y= --0,367 dan antara perilaku kepemimpinan dengan kinerja nilai p sebesar 0,022 < 0,05 serta rx2y= 0,306. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,301 artinya konflik kerja dan perilaku kepemimpinan secara bersama-sama memberi sumbangan efektif sebesar 30,1% terhadap kinerja karyawan dengan sumbangan 17,27% dari konflik kerja dan 12,84% dari perilaku kepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan jika terdapat hubungan antara konflik kerja dan perilaku kepemimpinan dengan kinerja karyawan, secara simultan maupun parsial.   Kata kunci:kinerja karyawan, konflik kerja, perilaku kepemimpinan
Hubungan antara Kualitas Kelekatan Orang Tua dan Kontrol Diri dengan Perilaku Agresif pada Siswa Sekolah Dasar Negeri Kendalrejo Surakarta Yolanda, Gita; Murti Karini, Suci; Supratiwi, Mahardika
Wacana Vol 10, No 2 (2018)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.014 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v10i2.129

Abstract

ABSTRAK   Perilaku agresif merupakan perilaku yang menyimpang pada anak. Hal ini menjadi persoalan penting karena perilaku agresif dapat merugikan lingkungan maupun orang lain, baik secara fisik maupun psikis. Hal yang mungkin turut menentukan munculnya perilaku agresif pada anak adalah kualitas kelekatan orang tua dan kontrol diri. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui hubungan antara kualitas kelekatan orang tua dan kontrol diri dengan perilaku agresif, (2) mengetahui hubungan antara kualitas kelekatan orang tua dengan perilaku agresif, (3) mengetahui hubungan antara kontrol diri dengan perilaku agresif pada siswa SDN Kendalrejo Surakarta. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV, V, dan VI SDN Kendalrejo Surakarta yang  berjumlah  55  siswa.  Teknik  yang  digunakan  dalam  pengambilan  sampel  adalah teknik sampling jenuh. Alat ukur yang digunakan adalah skala perilaku agresif (reliabilitas 0,809),  skala  kualitas  kelekatan  orang  tua  (reliabilitas  0,854),  dan  skala  kontrol  diri (reliabilitas 0,852). Hasil penelitian menunjukkan nilai Fhitung = 59,378 >Ftabel= 2,77 (p = 0,000 < 0,05); R = 0,834, artinya terdapat hubungan signifikan yang sangat kuat antara kualitas kelekatan orang  tua  dan  kontrol  diri  dengan  perilaku  agresif.  Secara  parsial,  tidak  terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas kelekatan orang tua dengan perilaku agresif (p = 0,541 > 0,05), namun terdapat hubungan negatif signifikan yang kuat antara kontrol diri dengan perilaku agresif (R = -0,746; p = 0,000 < 0,05), artinya semakin tinggi kontrol diri maka  semakin  rendah  perilaku  agresif.  Kualitas  kelekatan  orang  tua  dan  kontrol  diri secara memberi sumbangan efektif sebesar 69,5% (R2 = 0,695) terhadap perilaku agresif, namun sumbangan kualitas kelekatan orang tua terhadap perilaku agresif hanya sebesar 3,39% dan 66,15% sisanya merupakan sumbangan dari variabel kontrol diri. Simpulan dari penelitian ini yaitu, terdapat hubungan signifikan yang sangat kuat antara kualitas kelekatan orang tua dan kontrol diri dengan perilaku agresif, tidak terdapat hubungan signifikan antara kualitas kelekatan orang tua dengan perilaku agresif, dan terdapat hubungan negatif signifikan yang kuat antara kontrol diri dengan perilaku agresif pada siswa SDN Kendalrejo Surakarta.   Kata kunci: Perilaku agresif, kualitas kelekatan orang tua, kontrol diri, siswa sekolah dasar
HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DAN KONSEP DIRI DENGAN KECENDERUNGAN KENAKALAN REMAJA (STUDI KORELASI PADA SISWA KELAS XI SMA BATIK 2 SURAKARTA) Mufna Rahmaini Millatina; Tuti Hardjajani; Aditya Nanda Priyatama
Wacana Vol 4, No 1 (2012)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.994 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v4i1.31

Abstract

Kenakalan remaja dewasa ini semakin mengkhawatirkan bagi orang tua, pendidik, juga masyarakat mengingat kenakalan remaja semakin merebak di berbagai lingkungan. Lebih mengkhawatirkan lagi, kenakalan remaja telah masuk lingkup sekolah dengan angka tertinggi tindak kenakalan ada pada usia 15-19 tahun, dimana usia tersebut adalah saat-saat remaja menduduki bangku SMA. Hal ini menjadikan kecenderungan kenakalan remaja sebagai predisposisi munculnya kenakalan pada siswa SMA perlu diwaspadai. Pada usia remaja, terjadi berbagai perubahan baik dari dalam diri maupun tuntutan dari lingkungan yang pesat dan berbeda dari masa sebelumnya. Berbagai perubahan yang terjadi menantang remaja dan untuk alasan itulah remaja cenderung berperilaku melebihi batas yang diterima secara sosial. Untuk itulah, remaja memerlukan religiusitas sebagai kontrol untuk mengarahkan tingkah lakunya serta konsep diri yang tinggi agar mampu berperilaku adaptif dan normatif sehingga kecenderungan untuk berperilaku nakal dapat dicegah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara religiusitas dan konsep diri dengan kecenderungan kenakalan remaja. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI SMA Batik 2 Surakarta, diambil dengan teknik cluster random sampling. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan tiga skala, yaitu skala kecenderungan kenakalan remaja, skala religiusitas, dan skala konsep diri. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi ganda. Hasil perhitungan menggunakan analisis regresi ganda menunjukkan korelasi rx1y sebesar - 0,470, p < 0,05. Artinya terdapat korelasi negatif yang signifikan antara religiusitas dengan kecenderungan kenakalan remaja, dan korelasi rx2y sebesar -0,346, p < 0,05 memiliki arti terdapat korelasi negatif yang signifikan antara konsep diri dengan kecenderungan kenakalan remaja. Selain itu berdasarkan hasil analisis data diketahui terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara religiusitas dan konsep diri dengan kecenderungan kenakalan remaja ditunjukkan dengan nilai F-test = 49,283, p < 0,05 dan nilai R = 0,719. Nilai R2 dalam penelitian ini sebesar 0,517 atau 51,7%, sumbangan efektif religiusitas terhadap kecenderungan kenakalan remaja sebesar 31,6% dan sumbangan efektif konsep diri terhadap kecenderungan kenakalan remaja sebesar 20,1%. Sumbangan relatif religiusitas terhadap kecenderungan kenakalan remaja sebesar 61,2% dan sumbangan relatif konsep diri terhadap kecenderungan kenakalan remaja sebesar 38,8%. Kata kunci: kecenderungan kenakalan remaja, religiusitas, dan konsep diri.
Pengaruh Pelatihan Pengenalan Diri Terhadap Peningkatan Harga Diri Remaja Panti Asuhan Pamardi Yoga Surakarta Restuti, Novialita; ., Machmuroch; Abdul Hakim, Mohammad
Wacana Vol 7, No 2 (2015)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.178 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v7i2.86

Abstract

Pengaruh Pelatihan Pengenalan Diri Terhadap Peningkatan Harga Diri Remaja Panti Asuhan Pamardi Yoga Surakarta The Influence of Self Knowing Training to Increase The Self Esteem Of Orphan Adolescent in Pamardi Yoga Surakarta Orphanage Novialita Restuti, Machmuroch, Moh. Abdul Hakim Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret ABSTRAK Salah satu permasalahan yang dihadapi anak panti asuhan adalah kecenderungan untuk rendah diri, terlebih anak panti asuhan yang menginjak usia remaja dimana sedang terjadi masa transisi dan anak mulai mencari jati diri. Hal ini dapat diatasi di antaranya dengan memberikan pelatihan pengenalan diri untuk meningkatkan harga diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan pengenalan diri positif terhadap peningkatan harga diri remaja penghuni Panti Asuhan Pamardi Yoga. Pelatihan pengenalan diri positif merupakan suatu rangkaian pelatihan yang bertujuan untuk memberikan pemahaman dan keterampilan untuk mengenali diri berikut kelebihan serta kelemahannya sehingga peserta dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki. Pelatihan pengenalan diri positif menggunakan metode ceramah, diskusi kasus, dan simulasi. Penelitian ini merupakan quasi eksperiment dengan desain penelitian adalah non-randomized pretest-postest control group design. Jumlah subjek penelitian sebanyak 20 orang remaja.Pelatihan pengenalan diri dan restrukturisasi kognitif diberikan oleh dua orang fasilitator sebanyak dua kali pertemuan dengan durasi setiap pertemuan selama 100 menit. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala State Self Esteem Scale dengan indeks korelasi bergerak dari 0,320 sampai 0,757 dan koefisian reliabilitas (α) 0,900. Berdasarkan uji hipotesis dengan menggunakan Independent Sample T Test didapatkan nilai t hitung sebesar 3,899 dan probabilitas (p) signifikansi 0,0005 (uji satu sisi) dengan t tabel 1,743. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa t hitung lebih besar dari t tabel. Oleh karena probabilitas (p) 0,0005 lebih kecil dari = 0,05 dan t hitung sebesar 3,899 > t tabel 1,743 maka dapat disimpulkan bahwa pelatihan pengenalan diri positif berpengaruh terhadap peningkatan harga diri remaja penghuni panti asuhan Pamardi Yoga. Kata kunci : harga diri, remaja penghuni panti asuhan, pelatihan pengenalan diri.
Gambaran Seksualitas Pada Remaja Down Syndrome Di SLB PGRI Kecamatan Nanggulan Kabupaten Kulonprogo (Studi Kasus) Dzikrina Istighfaroh, Asri; Murti Karini, Suci; Tri Setyanto, Arif
Wacana Vol 10, No 1 (2018)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1137.791 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v10i1.120

Abstract

  ABSTRAK   Down syndrome  merupakan suatu gangguan kesehatan fisik atau cacat fisik bawaan dan  disertai dengan retardasi  mental  yang  disebabkan  karena kelainan  pada   kromosom ke-21.  Banyak  anggapan bahwa pengetahuan seksualitas bagi down syndrome  tidaklah penting. Pembahasan mengenai seksualitas bagi  penderita  down  syndrome  masih  dianggap  tabu, menyeramkan, dan  masih  diabaikan  oleh  banyak orang.  Mitos yang mengatakan bahwa anak berkebutuhan khusus,  termasuk juga down syndrome,  adalah aseksual  atau tidak  mengalami  perkembangan  seksual   tidaklah  benar. Remaja  down  syndrome   juga mengalami perkembangan seksual, namun terdapat beberapa perbedaan dengan remaja pada umumnya. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran seksualitas yang  terjadi pada  remaja down syndrome.   Penelitian ini  menggunakan metode  kualitatif dengan desain studi  kasus  dengan harapan dapat menggali fokus penelitian secara lebih mendalam. Responden penelitian ini adalah  satu remaja laki- laki down syndrome dan dua remaja perempuan down syndrome  yang berusia 15-20 tahun yang bersekolah di SLB PGRI Kecamatan Nanggulan Kabupaten Kulonprogo. Metode pengambilan data yang  digunakan adalah  wawancara, observasi, riwayat hidup, tes psikologi, dan  dokumentasi. Tes  psikologi dilakukan dengan tes CPM (Coloured  Progressive  Matrices), dengan hasil  tiap responden berada pada   grade  V (intellectually defective). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara biologis ketiga responden mengalami perkembangan seksualitas yang  sama  dengan remaja lain, ditandai dengan mimpi basah pada  responden laki-laki, dan menstruasi  pada   responden  perempuan.  Secara   umum   responden  belum   memiliki  pengetahuan mengenai seksualitas, seperti reproduksi manusia dan perilaku-perilaku seksual  (ciuman, masturbasi, dan seks).  Hal ini disebabkan karena orang  tua dan  guru  merasa tidak nyaman  dan  takut untuk memberikan penjelasan serta arahan mengenai seksualitas. Orang tua dan guru belum  memiliki cara yang tepat untuk memberikan  penjelasan  tentang  seksualitas  kepada  responden  agar   mudah  memahaminya.  Meski demikian  ketiga  responden  sudah   dapat  merawat  diri  dengan  mandiri,  seperti  dapat  mandi  dan berpakaian sendiri, dapat mencuci piring, dan  dapat mengganti pembalut sendiri saat menstruasi bagi responden perempuan. Pemahaman tentang  gender  juga  sudah   dimiliki  oleh  responden. Responden dapat membedakan gender  melalui penampilan fisik yang  nampak dari luar.  Ketiga responden mulai melihat  lawan   jenisnya  atraktif  dan   menarik  secara fisik,  dua  responden menunjukkan  ketertarikan terhadap lawan  jenis sedangkan satu responden belum  menunjukkan ketertarikan kepada lawan  jenis. Namun,  ketiga responden belum  menunjukkan  adanya   gairah seksual   yang  mengarah pada  perilaku seksual  seperti masturbasi atau seks. Dua responden mulai memiliki body image negatif pada  dirinya yang membuat responden  memandang dirinya  berbeda  dengan remaja  lainnya  dan   perbedaan ini  dapat berakibat pada  kehidupan seksual  responden. Dua dari tiga responden juga memiliki keinginan untuk bekerja dimasa depan. Pengetahuan mengenai bentuk hubungan antara lawan  jenis seperti pacaran dan pernikahan sudah  diketahui  oleh  responden, namun responden belum  memahami  adanya  rasa  sayang, rasa  cinta,  komitmen,  tanggung jawab,  serta aturan-aturan  dalam   hubungan tersebut.  Pemahaman responden terhadap hubungan antara lawan  jenis sebatas pada  sepasang laki-laki dan  perempuan yang saling berdekatan.   Kata kunci:  Down Syndrome, Sindrom Down, Seksualitas, Remaja
PERBEDAAN TINGKAT POST-TRAUMATIC STRESS DISORDER DITINJAU DARI BENTUK DUKUNGAN EMOSI PADA PENYINTAS ERUPSI MERAPI USIA REMAJA DAN DEWASA DI SLEMAN, YOGYAKARTA Pratiwi, Citra Ayu; Karini, Suci Murti; Agustin, Rin Widya
Wacana Vol 4, No 2 (2012)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.546 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v4i2.22

Abstract

Terjadinya bencana alam seperti erupsi Merapi pada tahun 2010 lalu menyisakan berbagai kondisi yang sulit bagi para penyintasnya, salah satunya adalah trauma yang kemudian berkembang menjadi post-traumatic stress disorder (PTSD). PTSD tersebut dapat dialami oleh remaja maupun dewasa. Dukungan emosi dapat sangat membantu penyintas dalam meminimalkan tingkat PTSD yang dialami. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui perbedaan tingkat PTSD ditinjau dari bentuk dukungan emosi, perbedaan tingkat PTSD ditinjau dari usia, serta interaksi antara bentuk dukungan emosi dan usia dengan tingkat PTSD. Bentuk dukungan emosi dan karakteristik perkembangan yang berbeda pada penyintas akan mengarahkan pada tingkat PTSD yang berbeda pula. Populasi penelitian ini ialah penyintas erupsi Merapi usia remaja dan dewasa yang bertempat tinggal di Dusun Pelemsari dan Pangukrejo Desa Umbulharjo, Sleman, Yogyakarta sebanyak 45 orang. Sampel diambil dengan kriteria penyintas erupsi Merapi, rentang  usia 12-55 tahun, laki-laki dan perempuan, memiliki kemampuan baca dan tulis, dan pendidikan minimal lulus SD. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive quota sampling. Seluruh populasi masuk ke dalam kriteria yang dibutuhkan oleh peneliti. Pengumpulan data menggunakan skala post-traumatic stress disorder dan skala dukungan emosi. Teknik analisis data yang digunakan ialah analisis varians klasifikasi dua arah (Two Way Anova). Hasil analisis dengan menggunakan teknik Two Way Anava diperoleh F hitung (3,313) > F tabel (2,64) serta taraf signifikansi 0,021 < 0,05. Dari hasil analisis tersebut, maka dapat dikemukakan ada perbedaan yang signifikan pada tingkat PTSD ditinjau dari bentuk dukungan emosi pada penyintas erupsi Merapi usia remaja dan dewasa. Selain itu, hasil analisis deskriptif menunjukkan rata-rata tingkat PTSD pada remaja lebih tinggi dari dewasa. Bentuk dukungan empati adalah yang paling efektif bagi remaja. Sedangkan pada dewasa bentuk dukungan yang paling efektif adalah dukungan kasih sayang.   Kata kunci: post-traumatic disorder, dukungan emosi, usia remaja dan dewasa
HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS DAN EFIKASI DIRI SOSIAL DENGAN HARGA DIRI PADA TARUNA AKADEMI KEPOLISIAN TINGKAT III/DETASEMEN ANANTA HIRA Pratiwi, Niken; Hardjono, .; Nugroho, Arista Adi
Wacana Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.906 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v2i1.54

Abstract

Taruna Akademi Kepolisian dituntut untuk memiliki kompetensi dan kemampuan tinggi dalam memenuhi tugas dan tanggung jawabnya, baik untuk memenuhi standar kompetensi taruna Akdemi Kepolisian maupun sebagai calon perwira Polri. Untuk memenuhi tugas dan tanggung jawab tersebut dibutuhkan harga diri yang tinggi pada diri taruna Akademi Kepolisian, sehingga ia mampu mengeksplorasi potensi dan kemampuan yang ada pada dirinya. Harga diri yang tinggi secara empiris diasosiasikan dengan sisi positif diri dan karakter yang bernilai seperti fleksibilitas, keberfungsian diri yang optimal, kreatif, dan kemampuan interpersonal. Harga diri telah dikonsepkan sebagai keluaran dari proses verifikasi diri yang terjadi di dalam kelompok, yang mengelola baik diri individu itu sendiri maupun kelompok. Verifikasi identitas peran menumbuhkan perasaan bernilai dan efikasi diri individu yang didasari oleh harga diri. Perasaan bernilai yang berdasar harga diri meningkat saat individu menerima balikan melalui verifikasi kelompok yang menghasilkan perasaan bahwa seseorang diterima dan bernilai oleh anggota kelompok yang lain. Efikasi diri individu yang berdasar atas harga diri meningkat saat individu mampu melakukan verifikasi kelompok dengan berhasil mengubah atau mengelola arti-arti situasional yang sesuai dengan arti-arti dalam identitas individu. Lebih lanjut kedua proses ini akan menghasilkan harga diri. Berdasarkan kerangka teoritis ini penulis menandai bahwa adanya hubungan antara konformitas dan efikasi diri sosial dengan harga diri pada taruna Akademi Keploisian tingkat III/detasemen Ananta Hira. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 60 orang taruna. Data penelitian diperoleh menggunakan skala harga diri yang terdiri dari 28 aitem, skala konformitas yang terdiri dari 26 aitem, dan skala efikasi diri sosial yang terdiri dari 31 aitem. Pengujian hipotesis penelitian menggunakan Analisis Regresi Dua Prediktor yang dianalisis dengan menggunakan SPSS for Windows Release 16.0. Model regresi menginformasikan nilai R = 0,778 serta F regresi = 43,751, dan p < 0,05. Hasil penelitian ini mendukung hipotesis penelitian bahwa terdapat hubungan positif antara konformitas dan efikasi diri sosial dengan harga diri pada taruna Akademi Kepolisian tingkat III/detasemen Ananata Hira. Berdasarkan hasil analisis diketahui pula koefisien determinasi (R2) = 0,606; yang menunjukkan bahwa sumbangan efektif konformitas dan efikasi diri sosial terhadap harga diri sebesar 60,6%. Kata kunci: konformitas, efikasi diri sosial, harga diri
Hubungan antara Efikasi Diri dan Optimisme dengan Keterikatan pada Karyawan PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Solo Pratiwi Putri, Vicka; Nanda Priyatama, Aditya; Arif Karyanta, Nugraha
Wacana Vol 7, No 1 (2015)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.943 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v7i1.77

Abstract

Hubungan antara Efikasi Diri dan Optimisme dengan Keterikatan pada Karyawan PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Solo Relationship between Self-Efficacy and Optimism with Engagement on The Employees of PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Branch of Solo Vicka Pratiwi Putri , Aditya Nanda Priyatama , Nugraha Arif Karyanta Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebalas Maret ABSTRAK Keterikatan karyawan merupakan faktor yang memainkan peran penting dalam upaya peningkatan daya saing perusahaan. Karyawan yang terikat akan secara mendalam peduli dengan apa yang dilakukannya dan berkomitmen untuk melakukan yang terbaik bagi perusahaannya. Keyakinan karyawan terhadap kemampuannya untuk dapat melakukan yang terbaik (efikasi diri) akan membuat karyawan semakin terikat dengan perusahaan. Harapan karyawan yang positif terhadap hasil dari apa yang telah ia kerjakan (optimisme) juga menyebabkan peningkatan keterikatan karyawan. Oleh karena itu, setiap perusahaan membutuhkan karyawan yang memiliki efikasi diri dan optimisme yang tinggi agar dapat mendorong karyawan untuk lebih terikat terhadap perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dan optimisme dengan keterikatan pada karyawan PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Solo, untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dengan keterikatan pada karyawan PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Solo dan untuk mengetahui hubungan antara optimisme dengan keterikatan pada karyawan PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Solo. Subjek dalam penelitian ini adalah 50 karyawan PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Solo. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan kriteria yaitu karyawan tetap, bekerja selama minimal 2 tahun dan berusia 25-44 tahun. Penelitian ini menggunakan tiga instrumen pengumpulan data antara lain skala keterikatan karyawan yang diadaptasi dari UWES dengan jumlah aitem valid sebanyak 17 aitem dan reliabilitas 0,953, skala efikasi diri yang dibuat oleh peneliti dengan jumlah aitem valid sebanyak 37 aitem dan reliabilitas 0,920 dan skala optimisme yang diadaptasi dari skala yang dibuat oleh Seligman dengan jumlah aitem valid sebanyak 18 aitem dan reliabilitas 0,779. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan nilai F hitung 29,177 > F tabel 3,195 dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05) dan R sebesar 0,744. Hal ini berarti bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara efikasi diri dan optimisme dengan keterikatan karyawan. Nilai koefisien determinan (R Square) sebesar 0,554 artinya efikasi diri dan optimisme memberi sumbangan efektif (SE) sebesar 55,4% terhadap keterikatan karyawan. Sedangkan sumbangan masing-masing 35,84% untuk variabel efikasi diri dan 19,56% untuk optimisme. Hasil tersebut menunjukkan bahwa efikasi diri dan optimisme memiliki sumbangan pengaruh terhadap keterikatan karyawan. Kata kunci: keterikatan karyawan, efikasi diri, optimisme
Perbedaan Aggressive Driving Ditinjau dari Altruisme dan Kematangan Emosi pada Remaja di Kota Surakarta Akbar Lazuardi, Elan; ., Hardjono; Arya Satwika, Pratista
Wacana Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/wacana.v9i2.109

Abstract

Perbedaan Aggressive Driving Ditinjau dari Altruisme dan Kematangan Emosi pada Remaja di Kota Surakarta     Aggressive Driving Comparison Based On Altruism and Emotional Maturity on Adolescent in Surakarta     Elan Akbar Lazuardi, Hardjono, Pratista Arya Satwika Program Studi Psikologi FakultasKedokteran UniversitasSebalasMaret       ABSTRAK   Aggressive driving merupakan perilaku mengemudi yang membahayakan diri sendiri dan orang lain, meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan, yang diakibatkan oleh emosi negatif dalam diri maupun keinginan untuk menghemat waktu. Seiring dengan perkembangan remaja, maka perbedaan usia memiliki tingkat altruisme dan kematangan emosi yang berbeda. Perbedaan ini terlihat dari perilaku sehari-hari individu, termasuk saat berkendara di jalan. Berkaitan dengan hal tersebut, tingkat altruisme dan kematangan emosi yang berbeda pada remaja mengarahkan pada tingkat aggressive driving yang berbeda pula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan aggressive driving ditinjau dari altruisme, perbedaanaggressive driving ditinjau dari kematangan emosi, dan perbedaan aggressive driving ditinjau dari altruisme dan kematangan emosi pada remaja di Kota Surakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan analisis two-way anova dan pengujian parametrik. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja usia 17-21 tahun di Kota Surakarta. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 93 orang remaja. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan incidental sampling.  Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala aggressive driving, skala altruisme, dan skala kematangan emosi. Hasil analisis data menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan aggressive driving ditinjau dari altruisme (Fhitung = 1,865, p > 0,05). Hasil analisis data selanjutnya menunjukkan terdapat perbedaan aggressive driving ditinjau dari kematangan emosi (Fhitung = 4,700; p < 0,05). Analisis data berikutnya menunjukkan tidak terdapat perbedaan aggressive driving ditinjau dari altruisme dan kematangan emosi (Fhitung = 0,005; p > 0,05).   Kata kunci:aggressive driving, altruisme, kematangan emosi, remaja
MANAJEMEN BUDAYA KERJA INDONESIA Nanda Priyatama, Aditya
Wacana Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.581 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v5i2.13

Abstract

Peran manajemen dalam memajukan organisasi cukuplah penting, namun demikian ternyata peran manajemen tersebut tidak akan pernah bisa berdaya upaya dengan maksimal untuk memajukan organisasi bila tidak dikelola dengan baik. Masalah pengelolaan manajemen tersebut sangat erat kaitannya dengan budaya di dalam organisasi. Setiap organiasi yang besar, entah dalam jumlah ukuran pegawai maupun tingkat kemakmuran atau pendapatan para anggotanya, memerlukan sebuah sistem yang dapat diterima oleh semua pihak. Indonesia sebagai Negara yang memiliki banyak budaya dan ciri khas di dalamnya memerlukan pendekatan yang tepat dalam kaitannya dengan manajemen dalam organisasi. Tanpa pendekatan dan gaya manajemen yang tepat dalam hal ini mustahil akan mampu menjadikan organisasi yang baik. Beberapa keunikan manajemen Indonesia akan menjadi bahasan selanjutnya dalam tulisan ini. Kata Kunci: Manajemen, Budaya Kerja Indonesia

Page 10 of 18 | Total Record : 172