cover
Contact Name
dentin
Contact Email
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Dentin
ISSN : 26140098     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Dentin [e-issn: 2614-0098] merupakan terbitan berkala ilmiah tugas akhir berbahasa Indonesia berisi artikel penelitian dan kajian literatur tentang kedokteran gigi. Kontributor Dentin adalah kalangan akademisi (dosen dan mahasiswa). Dikelola oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat dan terbit 3 (tiga) kali setahun setiap April, Agustus dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 249 Documents
HUBUNGAN PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN KEHILANGAN GIGI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEMANGAT DALAM Akhmad Akhdiannoor Ramadhan; Rahmad Arifin; Isnur Hatta; Riky Hamdani; Nurdiana Dewi
Dentin Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v7i3.10746

Abstract

Latar Belakang: Tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut berpengaruh pada perilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut yang berujung pada kejadian karies dan penyakit periodontal. Selain perilaku menyikat gigi, usia juga berperan penting dalam faktor risiko terjadinya kehilangan gigi. Usia 35-44 tahun adalah usia yang ideal dilakukan pengawasan kesehatan gigi dan mulut. Tujuan: Menganalisis hubungan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan kehilangan gigi di wilayah kerja Puskesmas Semangat Dalam (tinjauan pada masyarakat usia 35-44 tahun). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasional dengan metode cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan probability sampling  dengan teknik cluster sampling. Subjek penelitian adalah masyarakat usia 35-44 tahun yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Semangat Dalam sebanyak 107 responden. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan pemeriksaan tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut menggunakan kuesioner dan pemeriksaan jumlah gigi yang hilang pada rongga mulut responden. Analisis data menggunakan dengan uji Somers’D. Hasil: Mayoritas masyarakat usia 35-44 tahun yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Semangat Dalam memiliki tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan kategori sedang (57,94%) dan memiliki tingkat kehilangan gigi dengan kategori rendah (52,34%). Uji korelasi Somers’D menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan kehilangan gigi (p=0,000). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan kehilangan gigi, Pengetahuan kesehatan gigi dan mulut baik dapat membentuk perilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut yang baik. Perilaku yang baik akan mengurangi terjadinya kehilangan gigi seseorang. Kata Kunci: Kehilangan Gigi, Pengetahuan kesehatan gigi dan mulut
GAMBARAN KEBIASAAN BURUK RONGGA MULUT DAN KEJADIAN MALOKLUSI PADA SISWA USIA 10-12 TAHUN Yasmina Aulia; Diana Wibowo; Aulia Azizah; R. Harry Dharmawan Setyawardhana; Nurdiana Dewi
Dentin Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v7i3.10742

Abstract

Latar Belakang: Maloklusi merupakan masalah gigi dan mulut tertinggi urutan ke 3 setelah karies dan penyakit periodontal. Maloklusi di usia 10-12 tahun sering terjadi karena usia tersebut sudah memasuki fase kedua dari periode gigi bercampur. Beberapa kebiasaan buruk yang dapat menyebabkan maloklusi yaitu kebiasaan menghisap dan menggigit bibir, menggigit kuku, mengisap jari, bernafas melalui mulut, bruxism dan menjulurkan lidah. Indeks yang dapat digunakan pada periode gigi bercampur adalah Index Of Complexity, Outcome And Need (ICON). Tujuan: Untuk mengetahui gambaran kebiasaan buruk rongga mulut dan kejadian maloklusi pada siswa usia 10-12 tahun (Tinjauan pada siswa SDN Gambut 10 Kab. Banjar). Metode: Penelitian ini menggunakan metode desktiptif observasional dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling pada anak usia 10-12 tahun sebanyak 46 anak. Data kebiasaan buruk diperoleh melalui wawancara orang tua siswa dan pemeriksaan klinis kepada siswa, sedangkan data kejadian maloklusi diperoleh dari pengukuran indeks ICON. Hasil: Hasil penelitian ini yaitu kebiasaan buruk menggigit kuku/benda asing paling banyak ditemui sebesar 10,9%. Responden usia 10 tahun mengalami kejadian maloklusi dengan tingkat keparahan maloklusi paling banyak sebesar 43,4%. Tingkat keparahan maloklusi yang terjadi pada anak dengan memiliki kebiasaan buruk masuk dalam kategori memerlukan perawatan paling banyak 17,4% dari pada tanpa memiliki kebiasaan buruk. Kesimpulan: Keparahan maloklusi berdasarkan indeks ICON banyak ditemukan pada anak usia 10 tahun dan tingkat keparahan maloklusi lebih banyak ditemui pada anak yang memiliki kebiasaan buruk rongga mulut. Kata kunci :  ICON, Kebiasaan Buruk, Maloklusi
HUBUNGAN TEMPOROMANDIBULAR DISORDERS TERHADAP ORAL HEALTH RELATED QUALITY OF LIFE Maulida Hasanah; Rahmad Arifin; Irham Taufiqurrahman; Galuh Dwinta Sari; Alexander Sitepu
Dentin Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v7i3.10747

Abstract

Latar Belakang: Temporomandibular disorders (TMD) merupakan gangguan pada sendi temporomandibula (STM) ditandai rasa sakit pada otot pengunyahan dan STM; bunyi ‘klik’ pada STM; dan adanya defleksi, deviasi serta keterbatasan membuka mulut. TMD banyak dijumpai pada usia dewasa dengan rentang 20-40 tahun termasuk pada mahasiswa.  Gejala yang disebabkan TMD dapat berdampak negatif pada kualitas hidup dan kualitas hidup terkait kesehatan rongga mulut. Oral health related quality of life (OHRQoL) merupakan konstruksi multidimensi yang mencerminkan kesehatan mulut seseorang; fisik, psikologis dan kesejahteraan sosial; harapan dan kepuasan perawatan; dan harga diri. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan TMD terhadap OHRQoL pada mahasiswa preklinik FKG ULM. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada 37 mahasiswa FKG ULM Angkatan 2019-2022 yang berusia 18 tahun ke atas dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Pemeriksaan TMD menggunakan metode diagnosis RDC/TMD sedangkan pemeriksaan OHRQoL menggunakan kuesioner OHIP-14. Data hasil penelitian terkait TMD dan OHRQoL dianalisis dengan uji spearman. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa TMD dialami oleh 51,4% responden dengan gejala yang paling banyak dialami adalah nyeri miofasial (57,9%) dengan tingkat OHRQoL yang  terbanyak adalah baik (81%). Hasil uji korelatif spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara TMD terhadap OHRQoL pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat (ρ < 0,05). Kesimpulan: Peningkatan gejala TMD meningkatkan keparahan OHRQoL pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat Kata Kunci: nyeri miofasial, oral health related quality of life (OHRQoL), temporomandibular disorders (TMD)
HUBUNGAN TINGKAT KEPARAHAN MALOKLUSI DENGAN KUALITAS HIDUP TERKAIT KESEHATAN GIGI DAN MULUT REMAJA SMA DI BANJARMASIN Della Alya Aaliyah; Isnur Hatta; Galuh Dwinta Sari; Aulia Azizah; Diana Wibowo
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13114

Abstract

ABSTRACTBackground: Malocclusion is a form of deviation from normal occlusion and varies from mild to severe. Malocclusion is not a disease, but it can impact a person's quality of life, especially adolescents. Oral health-related quality of life is an individual's response in daily life to physical, psychological, and social functioning due to diseases and disorders, one example of which is malocclusion. Impacts of malocclusion are impaired speech, mastication, swallowing, aesthetic satisfaction, as well as impacting on psychological aspects and social relationships. Purpose: This study aimed to determine the relationship between the severity of malocclusion and oral health related quality of life of High School Students in Banjarmasin. Methods: The research method was analytical observational with cross-sectional study have been held to High Schools and Vocational High Schools students in Central and North Banjarmasin Subdistrict. The total sample was 356 students aged 15-18 years. The Oral Health Impact Profile-14 (OHIP-14) questionnaire was used to measure oral health-related quality of life. Index of Complexity, Outcome, and Need (ICON) was used to assess the severity of malocclusion. The statistical hypothesis in this study was tested using a non-parametric test in the form of a spearman rank correlation. Results: Statistical analysis showed that malocclusion impacted all subdomain scores. Malocclusion indicated higher OHIP-14 scores on the psychic discomfort and psychic disability subdomain. Conclusion: The severity of malocclusion is associated with oral health-related quality of life. The more severe the malocclusion, the worse the impact on adolescents' oral health-related quality of life.Keywords : Malocclusion, High School Adolescents, OHIP-14, ICON. ABSTRAK Latar Belakang: Maloklusi adalah bentuk penyimpangan dari oklusi normal dan bervariasi dari kategori ringan hingga kategori berat. Maloklusi bukanlah sebuah penyakit, namun maloklusi dapat memberikan dampak terhadap kualitas hidup seseorang, terutama remaja. Kualitas hidup adalah respon individu dalam kehidupan sehari-hari terhadap fungsi fisik, psikologis, dan sosial akibat penyakit dan kelainan, salah satu contohnya adalah maloklusi. Dampak dari maloklusi adalah gangguan bicara, pengunyahan, menelan, kepuasan estetika, serta berdampak pada aspek psikologis dan hubungan sosial. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat keparahan maloklusi dengan kualitas hidup terkait kesehatan gigi dan mulut pada remaja Sekolah Menengah Atas di Banjarmasin. Metode: Metode penelitian ini adalah observasional analitik dengan studi cross-sectional yang dilakukan pada siswa Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan di Kecamatan Banjarmasin Tengah dan Banjarmasin Utara. Total sampel pada penelitian ini sebesar 356 siswa berusia 15-18 tahun. Kuesioner Oral Health Impact Profile-14 (OHIP-14) digunakan untuk mengukur kualitas hidup terkait kesehatan gigi dan mulut. Index of Complexity, Outcome, and Need (ICON) digunakan untuk menilai tingkat keparahan maloklusi. Hipotesis statistik dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan uji non parametrik berupa korelasi spearman rank. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa maloklusi berdampak pada semua skor subdomain. Maloklusi mengindikasikan skor OHIP-14 yang lebih tinggi pada subdomain ketidaknyamanan psikis dan ketidakmampuan psikis. Kesimpulan: Tingkat keparahan maloklusi berhubungan dengan kualitas hidup terkait kesehatan gigi dan mulut remaja. Semakin parah maloklusi, maka semakin buruk dampaknya pada kualitas hidup terkait kesehatan gigi dan mulut remaja. Kata kunci :        ICON, Maloklusi, OHIP-14, Remaja SMA,
COVER DAN DAFTAR ISI_Dentin_Vol 8. No 1. 2024 Dentin Jurnal Kedokteran Gigi
Dentin Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i1.12202

Abstract

UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN RAMANIA (Bouea Macrophylla Griff) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus mitis Lisa Shofa’ Nur Aini; Isyana Erlita; Didit Aspriyanto
Dentin Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i1.12190

Abstract

Background: The presence of cavities causes bacterial invasion and spread of infection to the pulp tissue. If left untreated, infection will lead to pulpal necrosis. Root canal treatment can prevent caries from developing into necrosis. The success of treatment is influenced by the preparation and irrigation stages. One of the bacteria that survived after the treatment was Streptococcus mitis. The irrigation solution used in treatment is a 2% chlorhexidine gluconate. Ethanol extract from Ramania leaves is known to contain flavonoids, phenols, alkaloids, steroids and terpenoids which proven to have antibacterial activity. Objective: To analyze the antibacterial effectiveness of Ramania leaf extract  concentrations of 10%, 15%, 20%, 25% and 30% against the growth of Streptococcus mitis . Methods: The research conducted was a true experimental study with 6 treatment groups and 4 repetitions. This study used broth and agar dilution methods to determine the minimum inhibitory concentration (MIC) and the minimum bactericidal concentration (MBC) of ramania leaf extract against Streptococcus mitis. Results: The MIC was shown by 10% concentration with a decrease in absorbance value of 1.726. The MBC in this study were not found because there was still bacterial growth in the concentrations of 10%, 15%, 20%, 25% and 30%. Conclusion: Ramania leaf extract concentrations of 10%, 15%, 20%, 25% and 30% can inhibit the growth of Streptococcus mitis with MIC value at a concentration of 10%. The MBC value was not found because the extract had not been able to kill the growth of Streptococcus mitis. Keywords : MBC,  MIC, Ramania Leaf Extract, Streptococcus mitis
PENGARUH PERENDAMAN GIGI DESIDUI PADA LARUTAN KITOSAN SISIK IKAN HARUAN (Channa striata) TERHADAP PELEPASAN ION KALSIUM Noval Ihza Maulana; Didit Aspriyanto; Deby Kania Tri Putri; Yusrinie Wasiaturrahmah; Sherli Diana
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13109

Abstract

ABSTRACTBackground: Haruan fish (Channa striata) scale chitosan solution can maintain tooth structure by reducing the solubility rate of hydroxyapatite which makes up tooth enamel. Haruan fish (Channa striata) scale chitosan solution prevents tooth demineralization in an acidic environment. Objective: To analyze the effect of soaking deciduous teeth in chitosan solution from haruan fish scales (Channa striata) with concentrations of 1.25%, 2.5% and 5% on the release of calcium ions in an acidic environment. Method: Pure experimental research with a post-test only design with control group, consisting of 4 treatment groups. The negative control was immersion of deciduous teeth in lactic acid solution pH 5.2, and treatment groups with concentrations of 1.25%, 2.5% and 5%. All groups soaked deciduous teeth in lactic acid solution with a pH of 5.2 for each group. Measurement of calcium release levels in deciduous teeth using UV-Vis spectrophotometry instruments. Results: The results of this study are hypothesized to be acceptable or that there is an effect of soaking deciduous teeth in haruan fish scale chitosan (Channa striata) concentrations of 1.25%, 2.5% and 5% in inhibiting the release of calcium ions. This study showed that there were no significant differences between the 1.25%, 2.5% and 5% treatment groups, but there were significant differences between the control group and all treatment groups. Conclusion: Haruan fish (Channa striata) scale chitosan with concentrations of 1.25%, 2.5%, and 5% is able to inhibit the release of calcium in deciduous teeth and has potential as a demineralization inhibitor biomaterial.Keywords :  Caries, Calcium, Chitosan, Demineralization, Haruan.  ABSTRAK Latar Belakang: Larutan kitosan sisik ikan haruan (Channa striata) dapat menjaga struktur gigi melalui proses penurunan laju kelarutan hidroksiapatit penyusun enamel gigi. Larutan kitosan sisik ikan haruan (Channa striata) mencegah demineralisasi gigi dalam lingkungan asam. Tujuan: Menganalisis pengaruh perendaman gigi desidui pada larutan kitosan dari sisik ikan haruan (Channa striata) dengan konsentrasi 1,25%, 2,5%, dan 5% terhadap pelepasan ion kalsium dalam lingkungan asam. Metode: Penelitian eksperimental murni dengan desain post-test only with control group, terdiri dari 4 kelompok perlakuan. Kontrol negatif yaitu perendaman gigi desidui pada larutan asam laktat pH 5,2, dan kelompok perlakuan konsentrasi 1,25%, 2,5%, serta 5%. Semua kelompok perendaman gigi desidui dalam larutan asam laktat dengan pH 5,2 dilakukan pada setiap kelompok. Pengukuran kadar pelepasan kalsium gigi desidui menggunakan instrumen spektrofotometri UV-Vis. Hasil: Hasil penelitian ini hipotesis dapat diterima atau adanya pengaruh perendaman gigi desidui pada kitosan sisik ikan haruan (Channa striata) konsentrasi 1,25%, 2,5%, dan 5% dalam menghambat pelepasan ion kalsium. Pada penelitian ini menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan antar kelompok perlakuan 1,25%, 2,5%, dan 5%, namun terdapat perbedaan bermakna antara kelompok kontrol dengan semua kelompok perlakuan. Kesimpulan: Kitosan sisik ikan haruan (Channa striata) dengan konsentrasi 1,25%, 2,5%, dan 5% mampu menghambat pelepasan kalsium pada gigi desidui dan memiliki potensi sebagai biomaterial agen penghambat demineralisasi. Kata kunci : Demineralisasi, Haruan, Kalsium, Karies, Kitosan
HUBUNGAN PENGETAHUAN PEMELIHARAAN KESEHATAN GIGI TERHADAP KONDISI INDEKS OHIS PADA SISWA DIKTUBA SPN POLDA KALSEL Muhammad Arya Danendra; R. Harry Dharmawan Setyawardhana; Diana Wibowo; Ika Kusuma Wardani; Renie Kumala Dewi
Dentin Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i1.12195

Abstract

Background: Dental and oral health problems in Indonesia are quite high based on the 2018 Riskesdas data. According to Blum's theory, the high number of dental and oral health problems can be caused by four main factors which include behavior, environment, health services and heredity which are based on a lack of knowledge about the importance of maintaining dental and oral health. Objective: This study aims to analyze the relationship of knowledge about maintaining dental health and oral hygiene conditions in students of the SPN Polda South Kalimantan dictuba. Methods: This research is an analytic observational study with a cross sectional approach. The sampling technique used simple random sampling with a total sample of 35 people. Test analysis using the SPSS application with the somers'd method. Results: The results of the study showed that knowledge of dental and oral health was a good level of knowledge and the OHIS index was included in the good category. Conclusion: There is a significant relationship between the knowledge of dental health maintenance with the OHIS index on students of the South Kalimantan Regional Police SPN Diktaba.Keywords : Knowledge, Maintenence, OHIS, Police
GAMBARAN KASUS TANGGAL PREMATUR GIGI CANINUS SULUNG Tom Christian; Renie Kumala Dewi; Amy Nindia Carabelly; Alexander Sitepu; Riky Hamdani
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13116

Abstract

ABSTRACTBackground: Premature loss is a condition where deciduous teeth shed prematurely while replacement permanent teeth have not yet erupted. Premature loss of primary canines can be caused by caries, trauma, and systemic conditions. Maxillary canines are more prone to premature loss compared to mandibular canines. Purpose: This study aimed to determine the prevalence of premature loss of primary canine teeth among children aged 8-10 years at SDN 2 Syamsudin Noor, Landasan Ulin, Banjarbaru City in 2023. Method: This research employed an observational study with a cross-sectional design. The study included 77 students aged 8-10 years from SDN 2 Syamsudin Noor, selected using simple random sampling. Inclusion criteria were students aged 8-10 years who were cooperative respondents, with parents or guardians signing informed consent, and students in the mixed dentition phase. Exclusion criteria were students absent or sick on the day of data collection, and parents or guardians who withdrew consent. Data were collected through observational examination and filling out an odontogram. The research data were analyzed descriptively. Results: 23% of respondents experienced premature loss of primary canines, with the majority being females (66.67%). The primary canine most commonly affected was tooth element 53 (44%), and premature loss typically occurred at age 10 (38.89%). Conclusion: The description of premature loss of primary canine teeth in students at SDN 2 Syamsudin Noor aged 8-10 years, the majority of which occur in girls, namely maxillary primary canine teeth because hormonal factors at puberty can influence behavior in maintaining dental and oral hygiene.Keywords: premature loss, children, primary canines. ABSTRAKLatar Belakang: Prematur loss adalah kondisi dimana gigi desidui sudah tanggal sebelum waktunya sementara gigi permanen pengganti belum tumbuh. Prematur loss caninus sulung dapat disebabkan karena karies, trauma dan kondisi sistemik. Gigi caninus rahang atas sering mengalami tanggal prematur dibandingkan gigi caninus rahang bawah. Tujuan: Mengetahui gambaran tanggal prematur gigi caninus sulung pada anak usia 8-10 tahun di SDN 2 Syamsudin Noor Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru pada tahun 2023. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan pada siswa-siswi usia 8-10 tahun di SDN 2 Syamsudin Noor Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling sebanyak 77 orang dengan kriteria inklusi yaitu siswa siswi berusia 8-10 tahun, kooperatif untuk menjadi responden, orang tua atau wali yang menandatangani infomed consent dan siswa siswi dalam periode gigi bercampur. Kriteria eksklusi yaitu siswa siswi yang tidak hadir atau sakit pada hari pengambilan data dan orang tua atau wali yang mengundurkan diri. Pemeriksaan dilakukan dengan observasi serta pengisian odontogram. Data hasil penelitian selanjutnya dijabarkan secara deskriptif. Hasil: Sebanyak 23% responden mengalami prematur loss caninus sulung dengan responden terbanyak adalah perempuan (66,67%) dan elemen gigi caninus sulung yang mengalami tanggal prematur terbanyak adalah gigi 53 (44%) serta tanggal prematur terbanyak pada usia 10 tahun (38,89%). Kesimpulan: Gambaran tanggal prematur gigi caninus sulung pada siswa/siswi SDN 2 Syamsudin Noor usia 8-10 tahun mayoritas terjadi pada perempuan yaitu pada gigi caninus sulung rahang atas. Hal ini karena faktor hormonal pubertas dapat memengaruhi perilaku dalam memelihara kebersihan gigi dan mulut. Kata kunci: Caninus Sulung, Anak-Anak, Premature Loss
GAMBARAN NILAI PENGUKURAN POSISI INSISIVUS MAKSILA SUKU BANJAR DENGAN RADIOGRAF SEFALOMETRI LATERAL (Tinjauan pada Siswa SMAN 12 Banjarmasin) Nisa Azaria; Didit Aspriyanto; Tri Nurrahman; Nurdiana Dewi; R. Harry Dharmawan Setyawardhana
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13105

Abstract

ABSTRACTBackground:. Each racial or ethnic group has different characteristic dentocraniofacial patterns. Identifying characteristics of  dentocraniofacial pattern can help establish a diagnosis and plan appropriate orthodontic treatment. One of the dentocraniofacial patterns that can be identified is the position of the incisor teeth. The incisors are the most anterior teeth in the oral cavity. Its position and tilt can be influenced by various genetic and external factors. Characteristics of dentocraniofacial pattern can be identified through cephalometric analysis. Purpose: This  study  aimed  to  determine  the value of maxillary incisor position measurements of SMAN 12 Banjarmasin students from Banjar ethnic in terms of lateral cephalometric radiography using Steiner analysis. Methods: Cephalometric measurements performed using the Steiner analysis method on dental landmarks; UI-NA. Data analysis was carried out using descriptive statistical methods. The sample in this study were students of SMAN 12 Banjarmasin who are Banjarnese, characterized by a minimum of two generations, who have never or are not currently undergoing orthodontic treatment and are willing to be subjects in the research.  Results: The average value of the U1-NA distance measurement, the U1-NA distance measurement value is 4.47 ± 1.66 mm and the U1-NA angle measurement value is 22.86˚ ± 4.95˚. Conclusion: The average value of the maxillary incisors postion for students of SMAN 12 Banjarmasin of the Banjar ethnic is still classified as ideal but tends to be proclined, the average inclination is also still classified as ideal but tends to be proclined from the normal standard value of Steiner analysis.Keywords :     Banjar Ethnic, Cephalometry, Lateral cephalometry, Steiner analysis ABSTRAK Latar Belakang: Setiap kelompok ras atau etnis memiliki karakteristik pola dentokraniofasial yang berbeda. Karakteristik fisik dari pola dentokraniofasial perlu diidentifikasi untuk mendapatkan informasi yang dapat membantu menegakkan diagnosis dan merencanakan perawatan ortodontik yang tepat. Salah satu pola dentokraniofasial yang dapat diidentifikasi yaitu posisi gigi insisivus. Gigi insisivus adalah gigi paling anterior dalam rongga mulut. Posisi dan kemiringannya dapat dipengaruhi berbagai faktor genetik dan faktor eksternal. Karakteristik pola dentokraniofasial ini dapat diidentifikasi melalui analisis sefalometri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai pengukuran posisi insisivus maksila siswa-siswi SMAN 12 Banjarmasin yang berasal dari etnis Banjar ditinjau dari radiografi sefalometri lateral dengan menggunakan analisis Steiner. Metode: Pengukuran sefalometri dilakukan dengan menggunakan metode analisis Steiner pada landmark gigi; UI-NA. Analisis data dilakukan dengan metode statistik deskriptif. Sampel dalam penelitian ini merupakan siswa SMAN 12 Banjarmasin yang merupakan suku Banjar murni yang ditandai dengan minimal dua generasi (ayah, ibu, kakek, dan nenek) yang tidak pernah atau tidak sedang melakukan perwatan orthodonti dan telah bersedia menjadi subjek dalam penelitian. Hasil: Nilai rata-rata pengukuran jarak U1-NA nilai pengukuran jarak U1-NA sebesar 4.47±1.66 mm dan nilai pengukuran sudut U1-NA sebesar 22.86˚±4.95˚. Kesimpulan: Nilai rata-rata posisi insisivus maksila pada siswa SMAN 12 Banjarmasin suku Banjar masih tergolong ideal namun cenderung proklinasi, rata-rata inklinasi nya juga masih tergolong ideal namun cenderung proklinasi dari standar nilain normal analisis Steiner. Kata kunci :  Analisis Steiner, Sefalometri, Sefalometri Lateral, Suku Banjar.