cover
Contact Name
Fredi Setiawan
Contact Email
fredi@malahayati.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.analisfarmasi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Analis Farmasi
ISSN : 2503233X     EISSN : 26567598     DOI : -
Core Subject : Health,
Berisikan berbagai kara ilmiah kefarmasian obat dan makanan, mulai terbit tahun 2016, terbit 4 kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2023)" : 13 Documents clear
Formulasi dan Evaluasi Sabun Padat Transparan Ekstrak Biji Pinang (Areca Catechu L.) Sebagai Anti Jerawat Suryati, Imelda Dewi; Yulyuswarni, Yulyuswarni; Ardini, Dias; Isnenia, Isnenia
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.11621

Abstract

Jerawat (acne vulgaris) adalah kondisi abnormal kulit akibat produksi kelenjar minyak berlebih yang menyebabkan penyumbatan pori-pori kulit. Jerawat berkembang menjadi inflamasi (inflammatory acne) apabila terinfeksi bakteri, terutama bakteri Propionibacterium acnes. Ekstrak biji pinang (Areca catechu L). mengandung senyawa flavonoid Proantosianidin yang diketahui memiliki daya hambat terhadap bakteri Propionibacterium acne. Salah satu pengobatan jerawat adalah dengan sabun antijerawat (acne soap). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula sediaan sabun padat transparan dengan bahan aktif ekstrak biji pinang (Areca catechu L. ), teknik formulasi dan evaluasinya. Sehingga diharapkan biji pinang dapat dikembangkan menjadi produk kosmetika obat (cosmeceutical) yang bernilai ekonomis. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu sabun padat transparan F0 berbentuk transparan, berwarna bening, berbau khas sabun dari aroma VCO dan memiliki tekstur padat. Sedangakan F1, F2, dan F3 berbentuk tidak transparan, F1 berwarna coklat sedangkan F2 dan F3 berwarna coklat tua, berbau khas ekstrak biji pinang, dan memiliki tekstur padat. Semua formula sabun padat transparan memenuhi persyaratan kadar air, kadar alkali bebas dan pH, dengan rentang nilai kadar air antara 12,22% - 15,27%, rentang nilai alkali bebas antara 0,08% -0,1 % dan nilai pH 9,36
PENGARUH VARIASI SUHU PEMANASAN TERHADAP KADAR AKRILAMIDA PADA UBI JALAR CILEMBU SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV - VIS Kristanti, Kristanti; Iswandi, Iswandi; Nilawati, Anita
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.10187

Abstract

Akrilamida merupakan senyawa karsinogenik yang dapat dari   reaksi antara protein (asam amino) dengan karbohidrat (gula pereduksi) yang tinggi melalui proses pemanasan suhu tinggi. Ubi jalar cilembu  mengandung protein dan karbohidrat yang tinggi, jika diolah dengan pemanasan suhu tinggi akan berpotensi terbentuknya akrilamida. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi suhu terhadap kadar akrilamida yang terbentuk pada ubi jalar cilembu. Sampel ubi jalar cilembu dioven pada variasi suhu 100°C, 120°C, 140°C dan 160°C selama 3 jam serta ubi jalar cilembu mentah. Akrilamida pada sampel dianalisis secara kualitatif dengan metode KLT dan kuantitatif dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Ubi jalar cilembu melalui beberapa variasi suhu yang diekstraksi dengan pelarut dikloromethana p.a dan dilarutkan dengan aquadest. Sampel di baca pada panjang gelombang 206 nm.Hasil data dianalisis dengan menggunakan metode one-way anova. Hasil analisis kadar akrilamida pada ubi jalar cilembu mentah sebesar 5,44 mg/Kg; pada ubi jalar cilembu melalui pemanasan suhu 100°C memperoleh kadar akrilamida sebesar 8,43 mg/Kg; suhu 120°C sebesar 20,09 mg/Kg; suhu 140°C sebesar 38,44 mg/Kg; dan suhu 160°C sebesar 43,38 mg/Kg. Perbedaan kadar akrilamida signifikan pada semua variasi suhu pemanasan. Berdasarkan hasil penelitian variasi suhu pemanasan mempengaruhi kadar akrilamida yang terbentuk, semakin tinggi suhu pemanasan semakin tinggi kadar akrilamida
FORMULASI SEDIAAN MASKER GEL PEEL OFF DARI EKSTRAK DAUN ALPUKAT (Persea americana Mill. ) DENGAN KOMBINASI BASIS PVA DAN HPMC SEBAGAI ANTIOKSIDAN Nofita, Nofita; Nasution, Yolanda; Ulfa, Ade Maria
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.11660

Abstract

Tanaman daun alpukat (Persea americana Mill.) merupakan sumber antioksidan alami. Senyawa antioksidan merupakan molekul yang dapat bereaksi dengan radikal bebas dan berfungsi menetralkan radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengkombinasi basis PVA dan HPMC adalah agar diperoleh sediaan masker gel peel off aman, efektif & bermutu serta nyaman digunakan. Ekstraksi daun alpukat menggunakan teknik maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak di uji fitokimia dan diformulasi menjadi sediaan gel dengan variasi konsentrasi ekstrak daun alpukat. Gel dilakukan uji evaluasi fisik. Hasil rendemen yang didapat ekstrak daun alpukat diperoleh sebesar 37,5%. Hasil fitokimia pada ekstrak mengandung flavonoid, alkaloid, saponin. Hasil uji evaluasi fisik dan hedonik sediaan gel memenuhi syarat. Sediaan gel formula I memiliki aktivitas antioksidan dilihat dari IC50 sebesar 64,20 ppm yang berarti memiliki aktivitas antioksidan kuat pada seri ppm 6-14 ppm. Formula yang baik yaitu formula III dapat dilihat dari hasil uji evaluasi fisik, hasil uji hedonic, dan uji antioksidan. Kata kunci : Daun Alpukat (Persea americana Mill.) antioksidan, gel, DPPH
FORMULASI HAND SANITIZER GEL DENGAN EKSTRAK BUAH TERUNG BELANDA (Solanum betaceum Cav) SEBAGAI ANTISEPTIK Tanjung, Vivi Ramadhani; Rahmawati, Dewi; Yuwanda, Alhara
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.10895

Abstract

Buah terung belanda (Solanum Betaceum Cav.) mempunyai kandungan kimia antara lain alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan triterpenoid yang diketahui senyawa-senyawa tersebut memiliki aktivitas sebagai senyawa antibakteri (Rahmadina dan Sudiono 2019). Berdasarkan senyawa yang di miliki buah terung belanda dapat di manfaatkan sebeagai antiseptik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat aktivitas ekstrak buah terung belanda (Solanum betaceum Cav.) sebagai antiseptik dan memformulasikannya dalam bentuk sediaan hand sanitizer. Gel Hand sanitizer ekstrak Buah terung belanda di formulasikan dengan konsentrasi yang berbeda kemudian diuji aktivitasnya menggunakan metode difusi atau Disc diffusion method (Metode Kirby Bauer). Gel Hand sanitizer di uji sifat fisiknya, meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji stabilitas, uji iritasi dan uji antibakteri. Sediaan gel hand sanitizer yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri staphylococcus aureus yaitu pada konsentrasi 15% dengan zona hambat sebesar 4,51 mm.
UJI AKTIVITAS EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera L.) DALAM SEDIAAN OBAT KUMUR TERHADAP JAMUR Candida albicans PENYEBAB SARIAWAN Septiyanti, Anisa Eka; Retnaningsih, Agustina; Purnama, Robby Candra; Kausar, Radho Al
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.11874

Abstract

Kelor merupakan spesies family moringaceae yang sudah banyak ditanam. Kandungan Senyawa yang terdapat pada daun kelor memiliki aktivitas sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antijamur ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) dalam sediaan obat kumur terhadap jamur Candida albicans. Penelitian dilakukan dengan cara daun kelor yang sudah dikeringkan kemudian digiling menjadi serbuk, kemudian dilakukan ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak daun kelor dibuat sediaan obat kumur dengan 3 formulasi yaitu konsentrasi 6%, 8% dan 10%. Selanjutnya dilakukan uji fisik terhadap sediaan obat kumur yang meliputi uji organoleptis, uji pH, uji viskositas, uji bobot jenis dan uji hedonik. Untuk uji aktivitas terhadap jamur Candida albicans dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada uji sifat fisik organoleptis, uji viskositas dan bobot jenis yaitu memenuhi syarat, sedangkan pada uji hedonik sediaan FI  dengan konsentrasi 6% paling banyak disukai. Untuk uji aktivitas antijamur ekstrak daun kelor dalam sediaan obat kumur dengan konsentrasi 6%, 8%, 10% menunjukan tidak adanya aktivitas terhadap jamur Candida albicans. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa ekstrak daun kelor (Moringa oleiera L.) tidak menunjukan adanya aktivitas terhadap jamur Candida albicans.
HUBUNGAN KADAR FLAVONOID DENGAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA DAUN JAMBU AIR (Syzygium aqueum) DAN DAUN KELOR (Moringa oleifera) MENGGUNAKAN Spektrofotometri UV-Vis Kausar, Radho Al; Eka Putra, Ari Subekti; Tutik, Tutik
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.11292

Abstract

polifenol. Senyawa ini banyak ditemukan di berbagai tumbuhan, seperti pada daun jambu air (Syzygium aqueum) dan daun kelor (Moringa oleifera). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kadar flavonoid yang dapat mempengaruhi nilai IC50 (aktivitas antioksidan) pada daun jambu air (Syzygium aqueum) dan daun kelor (Moringa oleifera). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode spektrofotometri UV-Vis dengan menggunakan ekstraksi maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil rendemen dari ekstraksi daun jambu air dan daun kelor adalah sebesar 12,6% dan 12,3%. Hasil rata-rata kadar flavonoid yang diperoleh dari ekstrak daun jambu air adalah sebesar 6,408 dan dari ekstrak daun kelor adalah sebesar 5,419. Senyawa flavonoid diketahui dapat mempengaruhi aktivitas antioksidan, sehingga semakin besar kandungan flavonoid yang diperoleh, maka semakin besar pula aktivitas antioksidannya. Pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa nilai IC50 pada ekstrak daun jambu air adalah 75,204, sedangkan pada ekstrak daun kelor adalah 86,584. Hal ini menunjukkan bahwa keduanya termasuk ke dalam kategori antioksidan yang kuat. Analisis data menggunakan uji Correlations menunjukkan korelasi yang kuat antara kadar flavonoid dan aktivitas antioksidan dengan nilai korelasi sebesar (-1,000) hal ini menandakan bahwa semakin tinggi kadar flavonoid maka semakin tinggi pula kadar antioksidannya. Terdapat perbedaan kadar antioksidan yang signifikan antara kedua ekstrak ditandai dengan nilai sig p < 0,05.
Self Management Description Of Patient With Type 2 Diabetes Mellitus at the Rajabasa Indah Bandar Lampung Public Health Center GAMBARAN SELF MANAGEMENT PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS RAJABASA INDAH BANDAR LAMPUNG Fadilla, Auly Adhea; Julaiha, Siti; Hartati, Ani; Isnenia, Isnenia
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.11111

Abstract

Self Management Description Of Patient With Type 2 DiabetesMellitus at the Rajabasa Indah Bandar Lampung Public HealthCenterGAMBARAN SELF MANAGEMENT PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS RAJABASA INDAH BANDAR LAMPUNG Auly Adhea Fadilla1, Siti Julaiha2, Ani Hartati3, Isnenia4Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan TanjungkarangE-mail: sitijulaiha@poltekkes-tjk.ac.idAbstractDiabetes mellitus or usually abbreviated as DM is a chronic metabolic disease. The most common type of diabetes is type 2 diabetes mellitus with a percentage of 90% of cases. Type 2 diabetes mellitus can cause complications in the long term (chronic) and acute. Therefore, people with type 2 diabetes mellitus need comprehensive treatment not only medically but also with good self-management. This research was conducted using a quantitative descriptive method and sampling using a purposive sampling technique with a sample size of 100 respondents. The measuring instrument used in this study was the SDSCA questionnaire sheet. The results of the study found that in general the highest patient self-management was in the sufficient category with a percentage of 52% or 49 patients. Self-management consists of 6 aspects, the highest percentage is bad category on diet aspect 54%, enough category on foot care aspect 37%, good category on medication aspect 91%. Based on gender, the highest self-management category was found in women compared to men with a percentage of 52.3, based on age at the age of <45 years with a percentage of 81.8%, on the level of education in academic/higher education education with a percentage of 62.9 %, based on complications, the highest percentage of patients without complications with a percentage of 74.1%, based on the length of suffering in patients with <5 years with  a percentage 54.5%.Keyword : Self Management, Type 2 Diabetes Mellitus, Rajabasa Indah Public Health Center AbstrakDiabetes mellitus atau yang biasanya di singkat DM merupakan salah satu penyakit metabolik yang bersifat kronik. Jenis diabetes yang paling sering ditemukan adalah diabetes mellitus tipe 2 dengan persentase sebesar 90% kasus. Diabetes melitus tipe 2 dapat menyebabkan komplikasi dalam jangka waktu lama (kronis) dan akut. Oleh karena itu penderita diabetes melitus tipe 2 membutuhkan penanganan menyeluruh tidak hanya penanganan secara medis tetapi juga dengan self management yang baik. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kuantitatif dan pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling dengan jumlah sampel 100 responden. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner SDSCA. Hasil penelitian didapatkan bahwa secara umum self management pasien paling tinggi pada kategori cukup dengan persentase 52% atau 49 pasien. Self management terdiri dari 6 aspek, persentase tertinggi kategori buruk pada aspek diet 54%, kategori cukup pada aspek perawatan kaki 37%, kategori baik pada aspek medikasi 91%. Berdasarkan jenis kelamin self management paling tinggi kategori cukup terdapat pada perempuan dibandingkan laki-laki dengan persentase 52,3, berdasarkan usia pada usia <45 tahun dengan persentase 81,8%, pada tinkat Pendidikan pada Pendidikan akademik/perguruan tinggi dengan persentase 62,9%, berdasarkan komplikasi persentase paling tinggi pasien tanpa komplikasi dengan persentase 74,1%, berdasarkan lama menderita pada pasien dengan lama menderita <5 tahun yaitu 54,5%.Kata Kunci : Self Management, Diabetes Mellitus Tipe 2, Puskesmas Rajabasa Indah
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN SALEP EKSTRAK KULIT DURIAN (Durio zibethinus L.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus DENGAN METODE DIFUSI SUMURAN Ningsih, Novia Sulistia; Winahyu, Diah Astika; Retnaningsih, Agustina
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.12076

Abstract

Kulit durian (Durio zibethinus L.) belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, umumnya masih hanya sebagai limbah. Kulit durian memiliki potensi sebagai antibakteri, sehingga perlu dikembangkan menjadi suatu sediaan farmasi untuk meningkatkan cara penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada sediaan salep ekstrak kulit durian (Durio zibethinus L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan metode difusi sumuran. Kulit durian diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% sebanyak 3 kali 24 jam, kemudian dipekatkan menggunakan rotary evaporator. Ekstrak pekat dibuat menjadi sediaan salep.  Formulasi salep ekstrak kulit durian dibuat 4 formulasi yaitu formulasi 5%, 10%, 15% dan 75%. Uji sifat fisik salep meliputi uji organoleptik, homogenitas, daya sebar, daya lekat dan pH. Kemudian salep dilakukan uji antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus menggunakan metode sumuran. Hasil uji uji organoleptik salep menunjukkan bahwa ke 4 formulasi salep menghasilkan warna coklat, tekstur halus dan beraroma khas kulit durian. Hasil yang diperoleh pada uji sifat fisik salep telah memenuhi persyaratan salep yang baik. Hasil uji antibakteri menunjukkan bahwa salep ekstrak kulit durian dengan formulasi 5%, 10% dan 15% tidak memiliki daya hambat dan pada formulasi 75% memiliki daya hambat rata-rata sebesar 13,30 mm dengan respon hambat pertumbuhan bakteri lemah.
AKTIVITAS VANISHING CREAM EKSTRAK BUNGA TELANG (Clitoria terantea L) SEBAGAI ANTI ACNE TERHADAP STAPHYLOCOCCUS AUREUS Awalliyyah, Wahid Datul; Wulandari, Shinta; Ulfa, Ade Maria
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.11359

Abstract

Bunga telang merupakan salah satu keragaman hayati yang ada di Indonesia yang memiliki kandungan metabolit sekunder seperti flavonoid, saponin, tannin, terpenoid, antrakuinon, alkaloid yang dapat bermanfaat sebagai antibakteri. Vanishing cream merupakan sediaan krim yang banyak digunakan untuk kulit berjerawat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi vanishing cream ekstrak bunga telang sebagai anti bakteri terhadap Staphylococcus aureus. Metode ekstraksi yang digunakan pada penelitian ini adalah metode perkolasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Metode pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode cup plate thecnique dengan membuat sumuran pada media untuk diletakkan sampel krim pada sumuran tersebut. Rendemen yang dihasilkan dari proses ekstraksi sebanyak 48,78%. Sediaan vanishing cream dibuat dalam 3 variasi konsentrasi ekstrak yaitu konsentrasi 0,5%; 1%; dan 1,5%. Uji evaluasi fisik sediaan menunjukkan F1 dan F2 memenuhi syarat evaluasi fisik sediaan topikal yang baik. Masing-masing formulasi sediaan juga tidak menunjukkan adanya reaksi iritasi dan F2 lebih banyak disukai pada uji hedonik. Pengujian aktivitas antibakteri sediaan vanishing cream ekstrak bunga telang masuk dalam kategori daya hambat lemah dengan rata-rata diameter zona hambat F1,F2 dan F3 < 5cm dan masing-masing kelompoknya tidak memiliki perbedaan yang bermakna sebagai antibakteri dengan nilai p-value > 0,05.
FORMULASI VARIASI GELLING AGENT PROPIL VINIL ALKOHOL SEDIAAN MASKER GEL PEEL OFF EKSTRAK BUNGA TELANG (CLITORIA TERNATEA L.) Nur Thahira, Alya Putri; Ulfa, Ade Maria; Elsyana, Vida
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.11358

Abstract

Salah satu tanaman yang memiliki aktivitas antioksidan yaitu bunga telang (Clitoria ternatea L.). Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi, dengan cara mengikat radikal bebas serta molekul yang reaktif sehingga dapat menghambat kerusakan sel. Formulasi sediaan masker gel peel off membutuhkan basis yang mampu menyatukan seluruh komponen formulasi, (Propil Vinil Alkohol) PVA adalah basis dari sediaan masker yang berperan dalam memberikan efektivitas peel off karena gel peel off adanya sifat adhesive. Tujuan dari penelitian ini menentukan konsentrasi gelling agent PVA dalam sediaan masker gel peel off ekstrak bunga telang yang baik sebagai antioksidan serta memenuhi uji evaluasi fisik. Metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode (Ultrasonic-assisted Extraction). Pelarut yang digunakan dalam penelitian ini adalah etanol 96%. Dalam pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1- picrylhydrazyl). Hasil rendemen yang diperoleh adalah 38,75%. Sediaan masker gel peel off ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea L.) dengan gelling agent PVA 10% memenuhi persyaratan uji evaluasi fisik dalam konsentrasi ekstrak 1% . Hasil IC50 dari masker gel peel off sebesar 89,366 ppm yang berarti memiliki aktivitas antioksidan kuat. 

Page 1 of 2 | Total Record : 13