cover
Contact Name
Lilin Rosyanti
Contact Email
jurnaldanhakcipta@poltekkes-kdi.ac.id
Phone
(0401) 3190492
Journal Mail Official
edoffice@myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id
Editorial Address
Jalan Jendral A.H Nasution No.G-14, Anduonohu, Kambu, Kec. Kambu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara 93231, Phone (0401) 3190492
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Health Information : Jurnal Penelitian
ISSN : 20850840     EISSN : 26225905     DOI : 10.36990/hijp
Core Subject : Health,
Health Information : Jurnal Penelitian adalah jurnal kesehatan yang bersifat mandiri, amanah, rasional, akuntabel dan global yang berisi hasil penelitian dengan metode kuantitatif dan kualitatif.
Articles 664 Documents
Faktor Yang Mempengaruhi Pengendalian Hipertensi Pada Peserta Prolanis Di Puskesmas Sekota Kupang Tahun 2022 Hardhina, Trio; Manurung, Imelda; Roga, Anderias Umbu; Weraman, Pius; Ruliati, Luh Putu
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prolanis adalah sistem pelayanan kesehatan menggunakan pendekatan proaktif dan dilaksanakan secara integratif dengan melibatkan peserta, fasilitas kesehatan dan BPJS kesehatan dalam rangka pemeliharaan bagi yang menderita penyakit kronis untuk pelayanan kesehatan secara efektif dan efisien. Data BPJS Kesehatan selama tiga tahun terakhir yaitu tahun 2019, 2020 dan 2021 tidak ada satu pun Puskesmas di Kota Kupang yang dapat memenuhi target Rasio Peserta Prolanis Terkendali (RRPT ? 5%) per tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi pengendalian hipertensi pada peserta prolanis di Puskesmas Se - Kota Kupang tahun 2022. Metode dalam penelitian yaitu penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan cross sectional dengan populasi dalam penelitian ini yaitu peserta prolanis di 11 Puskesmas Kota Kupang yang terdiagnosa hipertensi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik cluster random sampling. Data dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan kuesioner yang disebar pada peserta prolanis di 11 Puskesmas Kota Kupang sebanyak 269 orang. Data dianalisis dengan menggunakan uji Regresi Linear Berganda dan hasil uji menunjukkan bahwa variabel berpengaruh signifikan terhadap pengendalian hipertensi peserta prolanis yaitu dukungan keluarga (p = 0,039), pola hidup (p = 0,015), keterjangkauan (p = 0,002) dan kepercayaan (p = 0,003). Sehingga menjadi masukkan yang baik terhadap pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian penyakit kronis untuk dapat membantu pihak puskesmas mencapai target pelaksanaan program pencegahan yang efektif dan efisien.
Perbandingan Efektivitas Terapi Ablasi Jantung Dan Terapi Medikamentosa Pada Pasien Atrial Fibrilasi : Sebuah Review Putri, Adinda Zhafira Dyanti; Habsari, Adella Syafira; Anggraini, Jerica; Tiyanmara, Devisa Putra Sanggrah; Prananda, A. Rialdi
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Atrial fibrilasi (AF) adalah kondisi aritmia jantung yang sering terjadi mempengaruhi sekitar 1%-2% populasi. Terapi obat antiaritmia (rhythm control) telah menjadi pengobatan utama untuk AF selama beberapa dekade. Namun, tingkat efektivitas dan juga risiko efek samping menjadi pertimbangan para ahli untuk mencari alternatif terapi lain dalam mempertahankan irama sinus pada pasien AF. Pada tahun 1998, muncul laporan yang menunjukkan bahwa terapi ablasi jantung lebih efektif dibandingkan terapi obat antiaritmia dalam mengurangi episode AF paroksismal berulang. Sejak saat itu, penggunaan ablasi jantung telah diperluas untuk diteliti lebih lanjut. Tujuan Untuk mengetahui perbandingan efektivitas terapi ablasi jantung dengan terapi medikamentosa pada pasien atrial fibrilasi. Tinjauan literatur dari empat database PubMed, DOAJ, Cochrane, dan Google Scholar yang diterbitkan dalam rentang waktu 5 tahun terakhir yaitu dari tahun 2018-2022. Didapatkan 15 literatur yang melaporkan efektivitas terapi ablasi jantung dibandingkan dengan terapi medikamentosa berdasarkan usia, jenis kelamin, outcome primer, outcome sekunder, dan untuk mencegah perkembangan AF menjadi persisten. Outcome primer yang diukur berupa tingkat mortalitas dan tingkat pencegahan morbiditas terhadap penyakit lain seperti stroke, pendarahan, atau cardiac arrest. Outcome sekunder yang diukur meliputi kekambuhan, kualitas hidup, biaya dan lamanya perawatan. Berdasarkan karakteristik pasien, manfaat yang signifikan dari terapi ablasi jantung ditemukan pada pasien <65 tahun. Peningkatan kualitas hidup lebih baik pada pasien wanita dibandingkan pria. Berdasarkan outcome primer dan sekunder, terapi ablasi lebih unggul dalam perbaikan outcome sekunder seperti peningkatan kualitas hidup, peningkatan LVEF, menjaga sinus rhythm, lebih cost-effectiveness, dan mengurangi risiko kekambuhan atau gejala berulang. Tidak ditemukan perbedaan yang signifikan untuk perbaikan outcome primer pada terapi ablasi jantung maupun terapi medikamentosa. Terapi ablasi jantung juga lebih unggul dibandingkan pemberian obat rate control ataupun rhythm control untuk mencegah terjadinya perkembangan paroksismal AF menjadi persisten AF.
Kasus Tinea Korporis Disertai Hipertensi Dan Obesitas Dengan Pendekatan Kedokteran Keluarga Binui, Evander Antonio; Putri, Natasya Andhita; Ernawati, Ernawati
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tinea korporis adalah infeksi dermatofita superfisial yang ditandai dengan lesi inflamasi maupun non inflamasi dengan central healing pada kulit yang tidak berambut. Prevalensi tinea korporis di Indonesia adalah 52% (2015). Prevalensi hipertensi di Indonesia adalah 34,11% sedangkan obesitas adalah 21,8% (2018). Kunjungan kasus dokter keluarga ini bertujuan untuk mengobati penyakit tinea korporis pada Tn. M, mencegah infeksi sekunder, dan penularan pada anggota keluarga. Selain itu, kunjungan ini juga bertujuan untuk mengontrol tekanan darah dan obesitas yang baru saja diketahui terjadi pada Tn. M. Tn. M merupakan penderita tinea korporis di bagian betis yang semakin meluas ke bagian betis depan dan lutut kiri. Pasien mengalami gangguan tidur dan sulit konsentrasi akibat rasa gatal yang dialami. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan diagnosis pasien adalah tinea korporis, yang disertai dengan hipertensi dan obesitas. Melalui pendekatan kedokteran keluarga menggunakan Mandala of Health terjadi peningkatan pengetahuan tentang tinea korporis, hipertensi, dan obesitas sehingga terjadi perubahan pengobatan, pola makan, dan aktivitas fisik sehingga terjadi kesembuhan tinea korporis, terkendalinya tekanan darah, dan tidak bertambahnya berat badan Tn. M. Ditemukannya penyebab terjadinya tinea korporis Tn. M dari kebiasaan pasien yang suka memancing sambil memasukkan kakinya ke empang. Kurangnya pengetahuan dan kebersihan yang buruk menjadikan lesi tinea korporis pasien semakin meluas. Kebiasaan makan pasien yang buruk menyebabkan hipertensi dan obesitas. Setelah dilakukan tatalaksana dengan pendekatan kedokteran keluarga Tn. M sembuh dari penyakit tinea korporis, tekanan darahnya turun dan pola makannya menjadi baik.
Hubungan Dukungan Keluarga Dan Kepatuhan Pengobatan Dengan Status Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Azizah, Lina Wati Nur; Kristinawati, Beti
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi menjadi masalah kesehatan yang cukup tinggi di dunia. Dua dari lima orang dewasa di seluruh dunia memiliki tekanan darah tinggi. World Health Organization menyatakan bahwa orang dewasa dengan hipertensi tahun 2015 berjumlah 1,13 miliar, naik dari 594 juta pada tahun 1975. Orang dengan hipertensi tidak mengetahui bahwa mereka menderita hipertensi dan baru diketahui setelah terjadi sejumlah masalah kesehatan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dan kepatuhan pengobatan dengan status tekanan darah pada penderita hipertensi. Penelitian ini menggunakan metode observasi analitik. Sampel pada Penelitian ini adalah penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Walikukun sejumlah 255 responden, yang dipilih dengan teknik Purposive Sampling berdasarkan kriteria pemilihan sampel yang telah ditetapkan oleh peneliti. Hasil uji spearman rank korelasi dukungan keluarga dengan status tekanan darah diperoleh nilai p-value (0,001) dan nilai koefisien korelasi 0,206. Hasil uji korelasi Spearman rank kepatuhan pengobatan dengan status tekanan darah diperoleh nilai p-value 0,001 dan nilai koefisien korelasi 0,203. Hasil tersebut menunjukkan adanya hubungan dukungan keluarga dan kepatuhan pengobatan dengan status tekanan darah dengan tingkat kekuatan hubungan keduanya dalam kategori sangat lemah.
Asosisasi Kejadian Priapismus Dengan Riwayat Penggunaan Antipsikosis Cahyo, Adrian Meta
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Priapismus merupakan salah satu kegawatdaruratan urologis yang membutuhkan intervensi segera. Priapismus memiliki angka prevalensi yang rendah pada populasi umum, namun memiliki peningkatan risiko pada populasi tertentu. Terdapat berbagai faktor yang meningkatkan risiko priapismus yaitu pada pasien dengan gangguan hematologi, konsumsi obat-obatan tertentu, malignansi, dan gangguan neurologi. Priapismus akibat obat-obatan dapat disebabkan oleh obat antipsikotik/ Anti Psycotic Drugs (APD), antidepresan, antihipertensi, antikoagulan, penghambat alfa, dan beberapa zat psikoaktif. APD diperkirakan menyumbang setengah dari kasus priapismus yang dipicu oleh obat. Karena hal ini, pentinguntuk tenaga medis mengetahui asosiasi kejadian priapismus dan APD, untuk lebih selektif dalam meresepkan obat tertentu pada pasien. Metode: Penulis mencari, menyeleksi, dan memilih jurnal yang berkaitan dengan asosiasi kejadian priapismus dan APD melalui beberapa database penelitian antara lain ScienceDirect, Google Scholar, PubMed, dan Wiley. Kata kunci yang digunakan adalah “Priapismus”, “Antipsikotik”, dan “Asosiasi”. Hasil: Berbagai studi telah menunjukkan asosiasi yang signifikan antara kejadian priapismus dengan riwayat konsumsi APD. APD menyumbang 50% kejadian priapismus yang dipicu oleh obat-obatan. Kombinasi dari APD dengan obat psikotropika atau obat lainnya meningkatkan risiko kejadian priapismus. Simpulan: Kejadian priapismus memiliki asosiasi dengan riwayat konsumsi APD.
Fuchs Uveitis Syndrome : Tinjauan Komprehensif Terkini Gunadi, Angelica; Chandra Sumampouw, Heiddy; Adythia Pause, Andreino; Harlendo, Kent; Rinaldo, Alvin
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Fuchs uveitis syndrome (FUS) adalah kondisi mata kronis, dapat unilateral, ditandai dengan sindrom peradangan ringan menyebabkan katarak dan glaukoma sekunder.Prevalensi FUS lebih tinggi di negara maju dan lebih rendah di negara berkembang. Hal ini diakibatkan oleh beberapa faktor, salah satunya akibat kelainan FUS yang kurang dapat dikenali dengan baik kecuali oleh spesialis uveitis. Pada kondisi ini literatur terbaru yang mengulas FUS dari berbagai sumber literatur masih sulit dijumpai.Tujuan: Penulis ingin menyatukan berbagai literatur terkait FUS serta memberikan referensi terbaru terkait FUS. Metode:Sampel diambil menggunakan database Google Scholar, PubMed, Cochrane Library dengan kata kunci “fuchs uveitis syndrome” dalam kurung waktu 5 (lima) tahun. Studi diambil jika memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.Hasil:Fuchs uveitis syndrome atau Fuchs heterochromic iridocyclitis merupakan penyebab tersering terjadinya uveitis anterior. Etiologi tersering oleh virus rubela dan sitomegalovirus. Tanda khas dijumpai peradangan ruang anterior, keratik presipitat berbentuk bintang. Kesimpulan: Pemilihan terapi pada kelainan FUS penting untuk diketahui bagi tenaga kesehatan terutama dalam penatalaksanaan dan pencegahan terjadinya komplikasi lanjut.
Hubungan Antara Pendidikan Ibu Dengan Status Gizi Anak Usia 1 Tahun 6 Bulan Sampai 2 Tahun Di Rs Sumber Waras Shaputri, Wahyu Eka; Dewanto, Naomi Esthernita
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi status gizi pada anak. Tingkat pendidikan orang tua khusunya ibu, berkaitan dengan pemahaman pemberian nutrisi yang baik untuk anak. Tujuan dilakukan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan ibu dengan status gizi anak usia 1 tahun 6 bulan sampai 2 tahun di RS Sumber Waras Jakarta Barat. Jenis penelitian ini bersifat observasional menggunakan desain cross- sectional (potong lintang) dengan data rekam medik sebanyak 64 peserta anak berusia 1 tahun 6 bulan sampai 2 tahun. Metode statistika yang digunakan untuk menguji korelasi antar variabel pada penelitian ini adalah uji korelasi kendall’s tau. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan p value 0.003 (<0.05), sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan status gizi anak usia 1 tahun 6 bulan sampai 2 tahun. Terdapat korelasi koefisien positif sebesar r 0.323, hal ini menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan ibu semakin baik status gizi anak. Dengan demikian hasil penelitian ini terdapat hubungan yang erat antara tingkat pendidikan ibu dengan status gizi anak usia 1 tahun 6 bulan sampai 2 tahun di RS Sumber Waras Jakarta Barat. Oleh karena itu penting untuk melihat tingkat pendidikan dan pemahaman ibu agar dapat memenuhi status gizi yang baik pada anak.
Risk Prediction Acute Kidney Injury Pada Pasien Sepsis Elhapidi, Nafisa Zulpa; Kalew, Priska Amanda; Darmadji, Edlin Gisela; Pake, Indry Agatha Rihi; Regina, Sheren
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sepsis merupakan kondisi disfungsi organ yang disebabkan oleh terganggunya respon inflamasi tubuh dalam mengatasi infeksi. Acute kidney injury (AKI) merupakan keadaan penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) secara tiba-tiba selama ? 7 hari, peningkatan kreatinin serum ?0.3 mg/dL dalam 48 jam atau peningkatan kreatinin serum ?1.5 kali dari nilai awal dalam 7 hari atau volume urin <0.5 mL/kgBB/jam selama 6 jam. Sepsis-associated acute kidney injury (S-AKI) adalah komplikasi yang umumnya terjadi pada pasien sepsis yang dirawat dan meningkatkan risiko perburukan penyakit dan risiko mortalitas. Beberapa faktor risiko dikatikan dengan terjadinya S-AKI tetapi faktor risiko secara lengkap belum sepenuhnya diketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko terjadinya S-AKI. Desain penelitian yang digunakan adalah tinjauan pustaka terkait faktor risiko terjadinya AKI pada pasien sepsis. Sumber pustaka diperoleh dari Pubmed, Google Scholar, ScienceDirect, Ebsco dan Hindawi yang dipublikasikan dalam 5 tahun terakhir. Secara keseluruhan faktor risiko terjadinya AKI pada pasien sepsis adalah jenis kelamin, ras, riwayat gagal jantung, diabetes, obesitas, penggunaan Angiotensin-converting enzyme inhibitors (ACEI) atau angiotensin II receptor blockers (ARB), bilirubin, kreatinin, blood urea nitrogen (BUN) dan ventilasi mekanik. S-AKI merupakan komplikasi yang umum terjadi pada pasien sepsis. Faktok risiko S-AKI harus dinilai sejak dini untuk mengurangi risiko mortalitas.
Perbandingan Efek Pemberian Salep Ekstrak Daun Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steenis) Dan Salep Silver Sulfadiazine 1% Pada Penyusutan Luka Bakar Derajat Ii Tikus Putih Jantan (Rattus Norvegicus) Pangayoman, Sia Gibran Damar
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Luka bakar adalah kerusakan jaringan yang disebabkan oleh panas yang ekstrem, bahan-bahan kimia, listrik, radioaktivasi, dan paparan sinar matahari yang berkepanjangan. Daun binahong mengandung senyawa flavonoid, saponin, asam askorbat, asam ursolik, dan asam oleanolat yang meningkatkan angiogenesis dan merangsang pembentukan kolagen yang berperan dalam perkembangan kesembuhan luka. Studi ini bertujuan membuktikan dampak diberikannya ekstrak daun binahong terhadap proses penyembuhan cedera bakar derajat II. Metode yang diimplementasikan dalam studi ini merupakan metode Post Test Only Control Group Design. Studi ini membutuhkan sampel, yaitu 25 ekor., sampel terbagi dalam 5 bagian, yaitu diberikannya basis salep (K), diberikannya ekstrak daun Binahong (P1), diberi ekstrak daun Binahong 20% (P2), diberi ekstrak daun Binahong 40% (P3), serta diberi salep silver sulfadiazine 1% (P4) diberikan perlakuan selama 30 hari. Data dianalisis menggunakan uji Repeated measure ANOVA yang diproses melalui uji Tukey. Temuan penelitian mendeskripsikan bahwa nilai uji Repeated measure ANOVA adalah P Value 0,000 yang menunjukan adanya perbedaan yang berarti antara tiap kelompok perlakuan. Hasil uji Tukey adalah P Value signifikan pada kelompok ekstrak daun binahong 20% (P2) daripada hasil dari tim lainnya, kesimpulan dari hasil temuan adalah ekstrak daun binahong 20% berdampak pada reduksi area permukaan luka bakar.
Gambaran Perilaku Personal Hygiene Pada Lansia Di Posyandu Lansia Desa Ngadirejo Pratiwi, Amelia Sari; Kartinah, Kartinah
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Personal hygiene merupakan faktor penting dalam mempertahankan derajat kesehatan individu. perilaku personal hygiene lansia yang harus dipenuhi, yaitu merupakan kebutuhan dasar yang meliputi perawatan kulit, mandi, perawatan mulut, perawatan mata, hidung, telinga, perawatan rambut, serta perawatan kaki dan kuku. Peningkatan personal hygiene dan perlindungan terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan merupakan perlindungan khusus yang dapat mempengaruhi tingkat Kesehatan. hasil wawancara dengan 6 responden didapatkan data bahwa perilaku personal hygiene lansia di Posyandu Dewi Ratih 2 dinyatakan kurang baik dalam memperhatikan kebersihan diri terutama pada kebersihan gigi dan mulut. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran personal hygiene yang berfokus pada lansia di desa Ngadirejo. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik. Pengambilan sampel menggunakan teknik proporsional random sampling dan mendapatkan 92 lansia. Hasil dari penelitian ini diperoleh sebagian besar lansia berperilaku membersihkan badan atau kulit dengan kategori cukup yaitu sebanyak 49 lansia (53,3 %). sebagian besar lansia berperilaku membersihkan kuku dengan kategori cukup yaitu sebanyak 71 lansia (77,2 %) sebagian besar lansia berperilaku membersihkan rambut dengan kategori cukup yaitu sebanyak 77 lansia (83,7 %). sebagian besar lansia berperilaku berpakaian dengan kategori kategori cukup yaitu sebanyak 67 lansia (72,8 %). sebagian besar lansia berperilaku membersihkan gigi dengan kategori cukup yaitu sebanyak 68 lansia (73,9%) sebagian besar lansia berdandan dengan kategori cukup yaitu sebanyak 71 lansia (77,2 %). sebagian besar lansia berperilaku membersihkan telinga dengan kategori cukup yaitu sebanyak 76 lansia (82,6 %). sebagian besar lansia berperilaku melakukan kebersihan umum dengan kategori cukup yaitu sebanyak 60 lansia (65,2 %). sebagian besar lansia berperilaku menjaga personal hygiene dalam kategori cukup yaitu sebanyak 52 lansia (56,5%). Kesimpulan : Perilaku personal hygiene lansia di posyandu lansia desa Ngadirejo Sebagian besar pada kategori cukup.