cover
Contact Name
I Made Krisna Adhi Dahrma
Contact Email
krisna.imade@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
maligearsitektur_journal@uho.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Journal Malige (Media Arsitektur Lintas Generasi)
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 26568160     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Karya Ilmiah Bidang Arsitektur, Kawasan Kota dan Pemukiman, Terbit 2(dua) Periode Per Tahun.
Articles 46 Documents
IDENTIFIKASI MANFAAT PEMBANGUNAN JEMBATAN BAHTERAMAS BAGI KAWASAN KOTA LAMA Imade Krishna Adhi Dharma; Irma Nurjannah
Jurnal Malige Arsitektur Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.279 KB)

Abstract

Jembatan merupakan salah satu infrastruktur yang sangat penting dalam pembangunan daerah, begitupun bagi pemerintah Kota Kendari. Pemerintah kota kendari membuat banyak program pembangunan yang salah satunya yaitu pembangunan ekonomi daerah yang dilaksanakan melalui pembangunan infrastruktur jalan berupa Jembatan Bahteramas yang dibangun di Kelurahan Kandai, Kota Kendari. Jembatan ini akan menghubungkan Kawasan Kota Lama dan Pulau Bungkutoko. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui manfaat yang dihasilkan dari pembangunan Jembatan Bahteramas ini terhadap masyarakat kawasan kota lama. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang ditelaah melalui empat tahapan yaitu pengumpulan data, reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Sumber data yang diperoleh berasal dari data primer dan data sekunder. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, pembangunan jembatan bahterams ini akan memberikan beberapa manfaat seperti kelancaran lalu lintas, pertumbuhan ekonomi daerah, percepatan penyediaan infrastruktur, dan meningkatkan aspek social. Kata Kunci: Infrastruktur, Jembatan, Pembangunan Jembatan, Jembatan Bahteramas Kendari
KRISIS PENGENALAN KARAKTER TERHADAP WUJUD FISIK ARSITEKTUR BATAK TOBA, BATAK KARO, DAN BATAK SIMALUNGUN PADA GENERASI MUDA Josephine Roosandriantini; Denny Jean Cross Sihombing
Jurnal Malige Arsitektur Vol 1, No 2 (2019): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPada jaman dahulu masyarakat Nusantara kita ini tidak mengenal tulisan, sehingga segala pengetahuantentang arsitektur tidak tertulis dan dianggap bahwa rumah adat yang ada tidak dikatakan sebagai sebuah karyaarsitektur. Sedangkan kondisi sekarang ini wujud fisik arsitektur sudah tersedia, literatur mengenai rumah adattiap daerah sudah ada walau terbatas. Tetapi kondisi masyarakat di jaman modern ini, perkembangan teknologiyang semakin canggih membuat generasi muda saat ini lebih kecanduan gadget, segala informasi danpengetahuan melalui media online. Sedangkan pengetahuan tentang rumah adat tiap daerah sangatlah terbatas,sehingga tidak heran jika generasi muda cenderung tidak memahami rumah adat tiap daerah. Penelitian inimembatasi hanya pada pemahaman wujud fisik arsitektur Batak dengan tiga variasi, yaitu Batak Karo, BatakToba dan Batak Simalungun. Tujuan penelitian ini adalah untuk menambah wawasan kepada generasi mudamengenai wujud fisik arsitektur Batak, agar kekayaan budaya bangsa Indonesia tetap dapat dilestarikan. Metodepengumpulan data dengan menggunakan observasi di lapangan dan literatur mengenai detail dari wujud fisikarsitektur Batak Karo, Toba dan Simalungun. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara analisisdeskriptif, yaitu menyeleksi data yang diperoleh dari lapangan berdasarkan kualitas kebenarannya, dandihubungkan dengan data yang diperoleh dari literatur tentang Batak Karo, Toba dan Simalungun. Kesimpulandari penelitian ini bahwa banyak dari generasi muda belum mengenal arsitektur Batak Karo, Toba danSimalungun, sehingga memang diperlukan pemahaman mengenai arsitektur Batak dari berbagai media.Kata kunci : Arsitektur Batak, Generasi Muda, Pengenalan, Wujud FisikABSTRACTIn ancient times our Archipelago community did not know writing, so all knowledge of architecture was notwritten and it was assumed that the existing Nusantara house was not said to be an architectural work. Whereasthe present condition of the physical form of architecture is available, the literature on Nusantara houses in eachregion already exists even though it is limited. But the condition of society in modern times, increasinglysophisticated technological developments make the younger generation today more addicted to gadgets, allinformation and knowledge through online media. While the knowledge of Nusantara houses in each region isvery limited, so it is not surprising that the younger generation tends to not understand the traditional houses ofeach region. This research limits only the understanding of the physical form of Batak architecture with threevariations, namely Batak Karo, Batak Toba and Batak Simalungun. The purpose of this study is to add insight tothe younger generation regarding the physical form of Batak architecture, so that the Indonesian culturalrichness can still be preserved. Methods of collecting data using field observations and literature on the detailsof the physical form of Karo, Toba and Batak Simalungun architectures. Data analysis in this study was carriedout by means of descriptive analysis, namely selecting data obtained from the field based on the quality of itstruth, and related to data obtained from the literature on Karo, Toba and Batak Simalungun. The conclusion ofthis study is that many of the younger generation are not familiar with the Karo, Toba and Batak Simalungunarchitecture, so it is indeed necessary to understand Batak architecture from all media.Keywords : Architecture Batak, Young Generation, Introduction, Physical Being
TIPOLOGI RUMAH ADAT DAYAK La Pande Jurumai; Hapsa Rianty
Jurnal Malige Arsitektur Vol 1, No 2 (2019): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKDi Indonesia terdapat banyak suku yang tersebar di lima pulau besar seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Hal itu tergambar dengan adanya rumah adat masing-masing suku dan tiap rumah adat memiliki nilai, historis tersendiri. Salah satu suku yang memiliki keunikan tipe dalam pengelolaan bentuk fisik bangunannya adalah rumah adat masyarakat Dayak yang banyak terdapat di pulau Kalimantan bahkan tersebar sampai negeri jiran Malaysia. Metode yang digunakan adalah deskripsi kualitatif dengan pengumpulan data sekunder. Fokus penelitian ini pada tipe bangunan dan ciri-cirinya, teritori atau sebaran serta visual rumah adat dayak.Kata Kunci: Tipologi, rumah adat, suku dayakABSTRACTIn Indonesia there are many tribes spread across five large islands such as Java, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi and Papua. This is illustrated by the existence of traditional houses of each tribe and each traditional house has its own historical value. One of the tribes that have a unique type in the management of the physical form of the building is the traditional house of the Dayak community, which is widely available on the island of Borneo and even spread to neighboring Malaysia. The method used is a qualitative description with secondary data collection. The focus of this research is on the type of building and its characteristics, territory or distribution and visuals of traditional Dayak houses.Key Word: Typology, traditional house, Dayak tribe
ANALISIS KONFIGURASI TAPAK RUANG PERMUKIMAN KAMPUNG KOTA BERBASIS SPACE SYNTAX (Studi Kasus: Perumahan Padat Penduduk Kelurahan Sindulang Satu, Manado) Adrianus Leo Liem; Budi Prayitno
Jurnal Malige Arsitektur Vol 1, No 2 (2019): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPermukiman padat penduduk di Kelurahan Sindulang Satu Manado merupakan permukiman kampung kotayang berkembang secara alami dan berorientasi pada aliran Sungai Tondano yang memiliki peranan pentingterhadap perkembangan lingkungan permukiman di dalamnya, hal ini berdampak terhadap tingkat kepadatanyang tinggi dan konfigurasi tapak ruang permukiman yang tidak beraturan. Aliran Sungai Tondano denganpotensi fungsi ekonomi yang baik, seharusnya membawa dampak positif terhadap peningkatan kualitaslingkungan permukiman yang ada di dalamnya. Fenomena yang terjadi adalah dengan perkembangan bentukkonfigurasi tapak ruang permukiman yang terjadi secara alami dan tidak beraturan, menyebabkan terjadinyadegradasi lingkungan karena rendahnya keterhubungan antara fungsi sungai yang berpotensi dan konfigurasitapak ruang huni yang terbentuk. Penelitian ini mencoba melakukan eksperimen melalui pendekatan konfigurasispasial dengan menggunakan metode analisis space syntax dengan tujuan untuk mengetahui kejelasan ruang(intelligibility of space) ruang permukiman, ditinjau dari kualitas connectivity of space, integrity of space, danmean depth. Penelitian ini membandingkan kondisi eksisting dan usulan model arsitektur permukiman.Kesimpulan dari peneltian ini adalah melalui pendekatan penataan konfigurasi tapak ruang permukiman dapatmempengaruhi nilai kejelasan ruang permukiman, serta keterhubungan antar ruang yang lebih baik danpeningkatan kualitas lingkungan permukiman untuk fungsi sosial maupun ekonomi.Kata kunci: konfigurasi tapak, ruang permukiman, kampung kota, space syntax.ABSTRACTPopulated settlements in Kelurahan Sindulang Satu Manado is a urban village settlement that developsnaturally and is oriented towards the Tondano River which plays an important role in the development of theneighborhood in it, This has an impact on the high levels of density and the configuration of irregular residentialspace footprint. Tondano River flows with the potential of good economic function, should bring a positiveimpact on the improvement of the quality of the settlement environment in it. The phenomenon that occurs is thedevelopment of the form of residential configuration that occurs naturally and irregular, causing the occurrenceof environmental degradation due to the low connectedness between the functions of potential rivers and Thecreated space footprint configuration. This research attempts to conduct experiments through spatialconfiguration approach using space syntax analysis method, to know the intelligibility of space in the settlement,is reviewed from the quality of the connectivity of space, integration of space, and mean depth. This researchcompares the existing condition and proposed residential architecture model. The conclusion of this study isthrough the setup approach of spatial site configuration, influencing the intelligibility value of settlement space,better inter-room connectedness and improvement of residential environment for social function and economic.Keywords: site configuration, settlement space, urban village, space syntax.
PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) PADA PROYEK KONSTRUKSI DI SWEDIA (Studi Kasus: Pembangunan Rumah Sakit Anak di Gothenburg) Yudhi Dwi Hartono
Jurnal Malige Arsitektur Vol 1, No 2 (2019): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKIndustri konstruksi adalah salah satu sektor industri yang paling berisiko dan memiliki tingkat kecelakaankerja yang tinggi. Dari kecelakaan ringan hingga fatal yang berakibat kematian kerap terjadi di industri ini.Sebagai negara maju, Swedia mempunyai aturan yang ketat terkait keselamatan dan kesehatan kerja di sektorkonstruksi. Penelitian ini mencoba menjawab bagaimana penerapan Sistem Manajemen Keselamatan danKesehatan Kerja (SMK3) Konstruksi di negara ini khusunya dalam pengerjaan pengecoran beton. Data dianalisisdan disusun berdasarkan perbandingan studi kepustakaan dan hasil wawancara, observasi dan pengamatanlangsung di lokasi proyek, serta evaluasi data-data SMK3 yang tersedia di lokasi proyek. Penelitian inimenggunakan studi kasus pembangunan Rumah Sakit Anak Queen Silvia di Kota Gothenburg, Swedia. Itempekerjaan utama yang diteliti adalah pengecoran beton dinding basement pembangunan rumah sakit ini. Hasilpenelitian ini menunjukan bahwa kontraktor yang mengerjakan proyek ini telah memenuhi standar SMK3 yangdiatur oleh negara ini. Tidak hanya itu, perusahaan kontraktor ini juga telah memenuhi standar K3 lebih dariyang disyaratkan. Ini terbukti dari peraturan khusus mengenai K3 yang dikeluarkan oleh perusahaan yang jugasejalan dengan misi perusahaan untuk menjadi yang terdepan dalam hal penerapan SMK3. Hasil penelitian inidiharapkan dapat menjadi rujukan bagi Negara Indonesia bagaimana negara maju seperti Swedia menerapkanSMK3.Kata Kunci: Keselamatan Kerja, SMK3, pengecoran beton, SwediaABSTRACTThe construction industry is one of the most risky industry sectors and has a high rate of work accidents.From minor accidents to fatal accidents often occur in this industry. As a developed country, Sweden has strictrules related to safety and health in the construction sector. This study tries to answer how this country apply theOccupational Safety and Health Management System (SMK3) in the construction work especially concretecasting work. Data were analyzed and compiled based on a literature study and interviews, direct observationand monitoring at the project site, as well as evaluation of SMK3 data available at the project site. This researchuses a case study from a construction of the Queen Silvia Children's Hospital in the Gothenburg City, Sweden.The main work item observed in this study is the basement wall concrete construction of this hospital.. Theresults of this study indicate that the contractor working on this project has met the SMK3 standards set by thiscountry. Not only that, this contracting company has also fulfilled Occupational and Health (OHS) standardsmore than required. This is proofed from the special regulations on OHS issued by the company which are alsoconveyed with the company's mission to be the leader in terms of attention to OHS management. The results ofthis study are expected to be a reference for Indonesia How developed countries like Sweden implement SMK3.Keywords: Work Safety, Occupational Safety and Health Management System, concrete casting, Sweden
KARAKTERISTIK TERITORI RUANG PADA RUMAH GEDHONG DI KAMPUNG BATIK KELURAHAN BANYURIP KOTA PEKALONGAN Feri Setiyanto; Ikaputra Ikaputra
Jurnal Malige Arsitektur Vol 1, No 2 (2019): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPerkembangan industri batik di Kota Pekalongan pada awal abad ke-19 memunculkan fenomenaperkampung batik yang memicu munculnya pengusaha-pengusaha batik sukses dari kalangan pribumi Jawa(juragan). Mereka menunjukkan kesuksesan dan strata sosialnya dengan membuat rumah Gedhong bergayaarsitektur kolonial, dengan fungsi ganda sebagai hunian dan rumah produksi batik. Adanya fungsi ganda tersebutkemudian menjadi daya tarik bagi peneliti untuk mengungkap karakteristik privasi ruang yang digunakan padaarsitektur rumah Gedhong. Salah satu perkampungan batik di Kota Pekalongan yang masih memiliki banyakpeninggalan rumah Gedhong yaitu di Kampung Batik, Kelurahan Banyurip. Penelitian ini menggunakan metodekualitatif dengan pendekatan rasionalistik, dengan tahapan penelitian berupa; [1] mengidentifikasi kondisi unitamatan di lokasi penelitian dan mengumpulkan data-data temuan di lapangan, [2] mengkategorisasi fungsi ruang,[3] menganalisa fungsi ruang berdasarkan konektivitas ruang yang tercipta untuk mengetahui tingkatanprivasinya. Data-data penunjang dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan metode observasi,wawancara, serta melalui studi literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan karakteristik teritori ruang pada rumahGedhong yang menggambarkan adanya hirarki ruang berdasarkan tingkat privasinya.Kata kunci: privasi ruang, rumah gedhong, kota pekalonganABSTRACTThe development of batik industry in the city of Pekalongan in early 19th century led to the phenomenon ofbatik village that triggered the emergence of batik entrepreneurs successful among the indigenous Javanese(juragan). They show their success and social strata by making a colonial architecture style house, with dualfunction as residential and batik production house. The existence of the dual function then becomes an attractionfor researchers to uncover the privacy characteristics of the space used in architecture of Gedhong houses. Oneof the batik village in the city of Pekalongan which still has many relics of Gedhong houses is located inKampung Batik, Banyurip Village. This research uses qualitative methods with a rationalistic approach, with aresearch stage; [1] identify the condition of the research unit and collect the findings data at the research site,[2] categorizes spatial function, [3] analyse spatial functions based on the connectivity of space created todetermine their privacy tiers. The supporting data in this study was obtained using observation methods,interviews, and literature studies. The results of this research show the characteristics of space territory inGedhong house which describes the existence of space hierarchy based on its privacy level.Keywords: privacy, gedhong house, pekalongan city
ANALISIS MORFOLOGI RUANG PADA KAWASAN KAMPUNG KEPUTRAN SURABAYA Dian Puteri Nurbaity
Jurnal Malige Arsitektur Vol 1, No 2 (2019): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKampung Keputran merupakan kawasan permukiman yang berada di tengah Kota Surabaya yang dikelilingioleh bangunan kolonial dengan fungsi sebagai toko dan hotel. Hingga saat ini, bangunan gaya kolonial masihsering dijumpai di dalam kawasan perkampungan tersebut. Tingginya tingkat pertumbuhan permukiman dikawasan tersebut menjadikan kampung semakin padat sehingga kurang tertata dan tidak memperhatikan polajaringan jalan dalam perkembangan kawasannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ruangterbangun (built) dan ruang tidak terbangun (unbuilt) seperti kapling tanah, blok bangunan, dan pola jalan sertasaluran air. Kondisi morfologi ruang ini kemudian dibandingkan dengan teori fungsi ruang yang dikemukakanoleh Habraken dan Brenda Case Scheer dalam melihat bentuk fisik kota dari lingkungan terbangun dankaitannya dalam merancang kota. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknikanalisa jaringan kota (tissue analysis). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kampung Keputran tidakmemenuhi standar dalam penataan kawasan yang terlihat dari beberapa aspek contohnya tidak ditemukannyaarea margin atau batas lahan pada sebagian besar unit hunian. Disampig itu, Kampung Keputran ditemukan duakategori dalam menunjukkan bentuk fisik lingkungannya yaitu static dan elastic tissue. Telihat bahwa bangunanperkampungan sebagai kategori elastic dan parameter segmen yang berada diluar Kampung Keputran termasukdalam kategori static tissue. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam proses penataan kawasanperkotaan khususnya pada kawasan permukiman.Kata Kunci : Kampung Keputran, Pola Jaringan Jalan, ruang terbangun dan tidak terbangunABSTRACTKampung Keputran is a residential area in the middle of Surabaya which was built by the colonial with thefunction as a shop and hotel. Recently, colonial-style buildings are still often found in this residential area. Thehigh growth rate of settlements in this area has made this place dense so that it is not organized and does notpay attention to the road network patern in the region development. This study aims to determine the condition ofthe built space and unbuilt space such as land lots, building blocks, and patterns of roads and waterways. Thecondition of the spatial morphology is then compared with the theory of spatial functions proposed by Habrakenand Brenda Case Scheer in seeing the physical form of the city from the built environment and its relation indesigning the city. Data were analyzed using qualitative descriptive methods with tissue analysis techniques. Theresults of this study indicate that the Keputran village does not meet the standards in the arrangement of the areawhich is seen from several aspects, for example, not finding a margin area or land boundary in most residentialunits. In addition, Kampung Keputran found two categories in showing the physical form of the environment,namely static and elastic tissue. It is seen that the building of the village as an elastic category and segmentparameters outside the Kampung Keputran are included in the static tissue category. This research is expectedto be a reference in the process of structuring urban areas, especially in residential areas.Keywords : Kampung Keputran, Road Network Pattern, Built and Un-Built spaces
PEMILIHAN TUMBUHAN PESISIR SEBAGAI ALTERNATIF TUMBUHAN PENYERAPAN CO2 PADA PELESTARIAN LINGKUNGAN DI KAWASAN PESISIR RUANG TERBUKA HIJAU Husni Kotta; Waode Zulkaidah; Laode Amrul Hasan; Arief Saleh Sjamsu
Jurnal Malige Arsitektur Vol 1, No 2 (2019): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKMasalah kebutuhan tumbuhan mangrove semakin terdesak dan mengalami degradasi sekitar 5% khususnyapada kawasan pesisir dan meningkatnya lahan, untuk mengatasi lahan dan tumbuhan yang efektif di kawasanpesisir pada Ruang Terbuka Hijau (RTH) melalui pendekatan model teknologi alternatif pelestarian lingkunganpesisir yang cocok dan ramah lingkungan yang berorientasi pada pembangunan yang berkelanjutan. Manfaatlangsung yang dirasakan pada penelitian ini adalah sebagai acuan pengganti tumbuhan alternatif mangrove danadanya luasan sebaran RTH sebagai perlakuan tanaman yang efektif dalam mengatasi pencemaran lingkungandan bahan rekomendasi dalam menentukan keseimbangan lingkungan pesisir pantai perkotaan. Tujuan khususyang ingin dicapai dalam penelitian ini dapat meminimalisasi pencemaran udara dan menentukan emisi serapanCO2 tumbuhan alternatif, dalam hal ini juga sebagai bahan perlengkapan bahan peralatan uji Emisi tanamanpesisir terhadap luasan sebaran RTH kawasan pesisir pantai.Adapun metode yang digunakan berupa metodeanalisis Regresi Linear Sederhana (Matjik, 2002) dalam menentukan teknologi alternatif perlakuan tumbuhanalternatif, serta pengaruh emisi dan nilai Absorbsi / serapan CO2 di satu ruangan (Rumah uji tumbuhan) daribahan terpal diber plastik transparan pada perletakan model RTH dan sebarannnya dengan bantuan orientasibantuan cahaya matahari. Adapun Hasil penelitian uji lapangan dan Laboratorium menunjukkan TumbuhanAlternatif Pandan Pantai Muda dan Tua) ternyata Pandan Muda tingkat absorbsi CO2nya lebih besar sekitar266.76 Gr/daun. liter , tingkat konsentrasi (ppm) lebih kecil sekitar 1,33% , Sedangkan tumbuhan pembandingAcassia tingkat Absorbsi CO2 sekitar lebih besar 5.295 Kg/pohon.thn dibandingkan dengan tumbuhan Mahonilebih kecil 2.957 Kg/pohon.tahun dan Trembesi 2.844Kg/pohon.thn ,dimana kondisi tumbuhan uji inidipengaruhi oleh suhu ruang lebih nyaman (meningkat sekitar 1 – 30 C).Kata Kunci : Pemilihan tumbuhan, Fhotosintetis, Alternatif tumbuhan, Absorbsi CO2ABSTRACTMangrove plants are getting badly needed since the number of them is decreased about 5% especially incoastal area while the amount of land is getting increased, in order to overcome land and effective plants incoastal area, Green Open Space is needed which is done through alternative technology model approach ofcoastal environmental conservation suitable and environmentally friendly oriented for sustainable development.The direct benefit obtained in this study / research is as a substitute reference of mangrove for alternative plantsand the spreading extent of Green Open Space as an effective plants treatment to overcome environmentalpollution and a recommendation material to determine the environmental balance of urban coastal area. Thespecific purpose of this study is that it can minimize air pollution and determine the CO2 absorption emissions ofalternative plants, in this case it is also as equipment and emissiontesting devices supply of coastal plants to thespreading extent of Green Open Space of coastal areas. As for the method used, Simple Linier Regressionanalysis method (Matjik, 2002) is theone used to determine alternative technology of alternative plantstreatment, as well as emission effect and the value of CO2 absorption in one room (plant testing house) fromtarpaulin material with transparent plastic on model placement of Green Open Spaceand its spreading with thehelp of sunlight orientation. The results of the field and Lab research shows that alternative plants (Young andOld Coastal Pandanus) turn out that Young Pandanus has bigger CO2 absorption rate which is 266.76 Gr/leaf/liter, concentration rate (ppm) is smaller about 1.30% for comparative plants, Acassia has bigger CO2absorption rate which is about 5.295 kg/tree/year compared to Mahoni plants which is smaller about 2.957kg/tree/year and Trembesi is about 2.844 kg/tree/year in which the condition of this testing plant is affected bymore pleasant room temperature (increased by about 1-3oC).Key words : Plants selection, Photosynthesis, Plants alternative, CO2 absorption
PENGARUH PENGGUNAAN AC (AIR CONDITIONER) TERHADAP FENOMENA SICK BUILDING SYNDROME PADA RUANG ADMINISTRASI DI UNIVERSITAS HALU OLEO Siti Belinda Amri; Aspin Aspin
Jurnal Malige Arsitektur Vol 1, No 2 (2019): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenggunaan pendinginan udara buatan seperti Air Conditioner (AC) adalah salah satu alternatif untukmenambah produktivitas dan kenyamanan termal di dalam ruang. Perangkat AC juga disinyalir sebagai mediatempat berkembangnya berbagai jenis mikroba yang menggangu kesehatan. Penggunaan AC yang tidak sesuaistandar mempengaruhi kesehatan penggunanya. Fenomena ini dikenal sebagai Sick Building Syndrome (SBS).SBS adalah akumulasi dari berbagai permasalahan kesehatan yang disebabakan kualitas udara di sekitarlingkungan. SBS dapat juga didefinisikan sebagai permasalahan kesehatan yang non spesifik dari para penghuniruang yang mengakibatkan mata merah dan berair, bersin, kulit kering, dan alergi terhadap udara dingin.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik penghuni ruang yang bekerja di dalam ruang ber-AC berdasarkan usia, kebiasan dan insiden yang mungkin terjadi berdasarkan gejala-gejala sick buildingsyndrome. Tipe penelitian adalah deskriptif dari kondisi dan penghuni yang berada didalam ruang kerja ber-AC.Variable studi yakni karakteristik ruang ber-AC serta faktor kesehatan pengguna ruang. Jumlah sampel dipilihsecara acak sebanyak 25 orang pegawai yang tersebar di 4 ruang administrasi ber-AC di lingkup UniversitasHalu Oleo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para pegawai menghabiskan waktu sekitar 7-9 jam di ruanganber-AC karena sekitar 52% tidak dapat mentolerir ketidaknyamanan apabila tidak menggunakan AC. Haltersebut tentunya berdampak pada kesehatan, diantaranya kelainan kelembaban kulit diderita sebanyak 40%responden, serta sesak nafas dan sakit kepala diderita sekitar 24% responden.Kata kunci: sistem pendinginan, air conditioner, kenyamanan thermal, kantor, sick building syndromABSTRACTThe use of artificial air cooling such as Air Conditioner (AC) is one alternative to increase productivity andthermal comfort in the room. AC devices are also allegedly as a medium for the development of various types ofmicrobes that interfere with health. The use of AC that is not in accordance with the standards affects the healthof its users. This phenomenon is known as Sick Building Syndrome (SBS). SBS is an accumulation of varioushealth problems caused by air quality around the environment. It also can be defined as non-specific healthproblems of the occupants of the room that cause red and runny eyes, sneezing, dry skin, and allergic to cold air.This study aims to identify the characteristics of the occupants of the space working in an air-conditioned roombased on age, habits and incidents that may occur based on symptoms of sick building syndrome. This type ofresearch is descriptive of the conditions and occupants who are in an air-conditioned workspace. Studyvariables are the characteristics of air-conditioned rooms and health factors of rooms users. The number ofsamples randomly selected was 25 employees spread across 4 air-conditioned administrative rooms within thescope of Halu Oleo University. The results showed that the employees spent about 7-9 hours in an airconditionedroom because around 52% of respondents could not tolerate discomfort if they didn't use AC. Thiscertainly has an impact on health, including skin moisture disorders suffered by as many as 40% of respondents,and shortness of breath and headaches suffered by around 24% of respondents.Keywords: refrigeration system, air conditioner, thermal comfort, office, sick building syndrom
PEDOMAN MENGADAPTASI RUMAH TRADISIONAL BUTON PADA BANGUNAN KANTOR PEMERINTAH DI KOTA BAUBAU PROVINSI SULAWESI TENGGARA Muhammad Zakaria Umar; Arief Saleh Sjamsu
Jurnal Malige Arsitektur Vol 1, No 2 (2019): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSelama ini kegiatan adaptasi-mengadaptasi rumah tradisional Buton ke bangunan pemerintah masih bersifatasal caplok dan cenderung kurang mempertimbangkan filosofi serta makna dari rumah tradisional Buton. Hal initerjadi karena belum adanya pedoman atau acuan yang pasti tentang cara mengadaptasi rumah tradisional Buton.Pedoman mengadaptasi rumah tradisional Buton ke bangunan pemerintah penting dibuat agar filosofi, simbol,dan makna rumah tradisional Buton tetap terjaga. Penelitian ini ditujukan untuk membuat pedoman adaptasirumah tradisional Buton pada bangunan kantor pemerintah di Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara.Penelitian ini menggunakan metode etnografis dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukandengan cara dokumentasi seperti pengambilan gambar obyek, buku, dan data-data hasil penelitian sebelumnya.Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pedoman mengadaptasi rumah tradisional Buton padabangunan kantor pemerintah di Kota Baubau dilakukan dengan cara menyetarakan tugas para pejabat,menyetarakan fungsi para pejabat, menyetarakan bangunan tradisional dan kantor pemerintahan, danmengidentifikasi elemen-elemen arsitektural yang bermakna politis.Kata kunci: Adaptasi, rumah Buton, bangunan pemerintahABSTRACTAll this time the adaptation activities - adapting traditional Buton houses to government buildings are still ofan origin and tend to lack consideration of the philosophy and meaning of traditional Buton houses. Thishappens because there are no definitive guidelines on how to adapt the traditional Buton house. Guidelines foradapting traditional Buton houses to government buildings are important so that the philosophy, symbols, andmeanings of traditional Buton homes are maintained. This study aimed to make guidelines for adaptation oftraditional Buton houses in government office buildings in the City of Baubau, Southeast Sulawesi Province.This research uses ethnographic methods with a qualitative approach. Data collection is done by means ofdocumentation such as taking pictures of objects, books, and data from previous research. Based on the above itcan be concluded that the guidelines for adapting traditional Buton houses to government office buildings in theCity of Baubau are carried out by balancing the duties of officials, balancing the functions of officials, balancingtraditional buildings and government offices, and identifying architectural elements that are politicallymeaningful.Keywords: Adaptation, Buton house, government building