cover
Contact Name
I Made Krisna Adhi Dahrma
Contact Email
krisna.imade@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
maligearsitektur_journal@uho.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Journal Malige (Media Arsitektur Lintas Generasi)
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 26568160     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Karya Ilmiah Bidang Arsitektur, Kawasan Kota dan Pemukiman, Terbit 2(dua) Periode Per Tahun.
Articles 46 Documents
ECOLOGICAL PATH SEBAGAI ELEMEN GREEN INFRASTRUCTURE DI KOTA KENDARI (Studi Kasus: Konsep Green Infrastructure Tahun 2017-2037 pada Rencana Pengembangan Ruang Terbuka Hijau di Kota Kendari) I Made Krisna Adhi Dahrma; Arief Saleh Sjamsu; Irma Nurjannah; Dwi Rinnasuri Nuroduola
Jurnal Malige Arsitektur Vol 1, No 2 (2019): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKGreen Infrastructure atau Infrastruktur hijau adalah adalah interkoneksi jaringan dari area alami dan ruangterbuka yang melestarikan nilai dan fungsi ekosistem alam, menjaga udara dan air yang bersih dan menyediakansejumlah manfaat bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Kota Kendari sebagai kota berkembang saat initelah mengembangakan sistem penataan RTH berbasis green infrastructure sebagai konsep dasar dalampengembangan masterplan tahun 2017-2037. Salah satu elemen dari green infrastructure ini adalah ecologicalpath yang berfungsi sebagai struktur hijau ekologi pada kawasan perkotaan. Keberadaan RTH sangat pentinguntuk meningkatkan kualitas ekologi perkotaan dan memiliki manfaat lainnya sehingga keberadaannya perludikontrol dan diperhatikan. Permasalahan yang timbul saat ini adalah RTH di Kota Kendari dalam peranannyasebagai ecological path belum mendapat perhatian dan prioritas dalam pengembangannya. Padahal fungsi danperanannya sebagai penyangga ekologi kota sangat penting bagi sebuah kota, sehingga arah pengembangan RTHdengan fungsi ekologi perlu dipertimbangkan untuk prioritas penataan kedepannya. Tujuan dari penelitian iniadalah untuk megetahui sejauh mana wujud aplikasi ecological path pada konsep Green Infrastructure padapengembangan penataan RTH di Kota Kendari dan bagaimana bentuk-bentuk pemanfaatannya. Metode padapenelitian ini secara kuantitatif untuk mengetahui kondisi RTH Kota Kendari dari sisi ketersediaan oksigenperkotaan yang ditunjang oleh keberadaan RTH perkotaan sebagai elemen dalam green infrastructure dan secaraKualitatif untuk mengetahui wujud dan pemanfaatan RTH dengan menggunakan konsep ecological path sebagaielemen green infrastructure di Kota Kendari. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa ecological path padakonsep pengembangan RTH di Kota Kendari melalui green infrastructure dapat terlihat dari pemanfaatannyayang ditujukan sebagai penyokong ekologi kota dalam bentuk microclimate modifier dan siklus oksigenperkotaan.Kata Kunci : Ecological Path, Ruang Terbuka Hijau, Green InfrastructureABSTRACTGreen Infrastructure is a network interconnection of natural areas and open spaces that preserve the valueand function of natural ecosystems, maintain clean air and water and provide a number of benefits for humansand other living things. Kendari City as a developing city has developed a green infrastructure-based greenspace structuring system as a basic concept in the development of the 2017-2037 master plan. One element ofthis green infrastructure is the ecological path that functions as an ecological green structure in urban areas.The existence of green space is very important to improve the quality of urban ecology and has other benefits sothat its existence needs to be controlled and considered. The problem that arises at this time is that green openspace in the city of Kendari in its role as an ecological path has not received attention and priority in itsdevelopment. Whereas its function and role as a city ecological buffer are very important for a city, so thedirection of developing green space with ecological functions needs to be considered for future structuringpriorities. The purpose of this study is to determine the extent of ecological path application in the GreenInfrastructure concept in the development of green space management in Kendari City and how the forms areutilized. The method in this study is quantitative to determine the condition of Kendari City Green Space in termsof the availability of urban oxygen which is supported by the presence of urban Green Open Space as an elementin green infrastructure and qualitatively to know the form and utilization of Green Open Space using the conceptof ecological path as an element of green infrastructure in Kendari City. From the results of this study it isknown that the ecological path in the concept of green open space development in Kendari City through greeninfrastructure can be seen from its use which is intended to support the ecology of the city in the form ofmicroclimate modifiers and urban oxygen cycles.Kata Kunci : Ecological Path, Green open space, Green Infrastructure
PENERAPAN KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 519/MENKES/SK/VI/2008 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PASAR SEHAT TERHADAP DESAIN PANGKALAN PENDARATAN IKAN DI KOTA KENDARI Muhammad Zakaria Umar; Arman Faslih; Ainussalbi Al Ikhsan; Rommy Sutanto
Jurnal Malige Arsitektur Vol 2, No 1 (2020): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di Kota Kendari mempunyai kondisi yang cenderung kurang baik. PPI di Kota Kendari penting untuk direncanakan sebagai berikut: (1) agar sesuai dengan standar pasar sehat berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519 Tahun 2008; (2) untuk mengantisipasi terjadi penyebaran dan penularan penyakit berpotensial wabah. Penelitian ini ditujukan untuk menerapkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 519/MENKES/SK/VI/2008 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat terhadap desain PPI di Kota Kendari. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Sumber data terdiri dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara triangulasi. Data dianalisis dengan cara data direduksi, data disajikan dan data disimpulkan. Berdasarkan hasil desain penelitian ini disimpulkan bahwa semua komponen-komponen pasar sehat terpenuhi dalam variabel situasi, denah tapak, denah, tampak, dan sanitasi pada desain PPI Kota Kendari kecuali lokasi yang rawan bencana alam.  
ANALISIS KETERSEDIAAN DAN PEMENUHAN KEBUTUHAN PRASARANA DAN SARANA PERMUKIMAN DI KAWASAN PERKOTAAN (Studi Kasus: Ketersediaan dan Kebutuhan Sarana Pendidikan Di Kota Kendari) M Arzal Tahir; Nahdatunnisa Nahdatunnisa
Jurnal Malige Arsitektur Vol 2, No 1 (2020): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan penduduk perkotaan yang cukup pesat pada gilirannya meningkatkan permintaan akan prasarana dan sarana penunjang untuk mendukung fungsi permukiman agar aktivitas masyarakatnya berjalan sebagaimana mestiya. Salah satu sarana penunjang yang penting untuk dipenuhi ketersediaanya adalah sarana pendidikan yang memiliki fungsi yang cukup penting dalam menunjang pengembangan kualitas sumber daya manusia sehingga harus disediakan untuk semua daerah permukiman. Secara umum, penyediaan sarana permukiman masih dilakukan berdasarkan ukuran populasi dan ketersediaan ruang, sehingga untuk pengembangan sarana baru menggunakan skala dan analisis kapasitas layanan pada sarana terkait. Penelitian ini dilakukan berdasarkan karakteristik layanan sarana pendidikan formal terutama pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang ada di Kota Kendari. Sehubungan dengan laju pertambahan penduduk yang cukup tinggi sekitar 2,94 % pertahun yang dampaknya pada pemenuhan kebutuhan sarana pendidikan, maka penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jumlah sebaran sarana pendidikan di Kota Kendari dan menganalisis kebutuhan sarana pendidikan di Kota Kendari hingga tahun 2030. Sehingga diharapkan dapat menjadi arahan kebijakan pendistribusian sarana pendidikan dasar dan menengah (TK, SD, SLTP dan SLTA) yang merata dan menjangkau seluruh wilayah yang ada di Kota Kendari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu analisis proyeksi dengan menggunakan metode aritmatik.  Juga dilakukan simak data untuk evaluasi terhadap penyediaan sarana eksisting dan dilakukan analisis terhadap kecukupan sarana pendidikan berdasarkan standar pemenuhan kebutuhan sarana pendidikan dan jumlah penduduk pendukung. Hasil penelitian memberikan gambaran eksisting sebaran sarana pendidikan jenjang Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas pada seluruh wilayah yang ada di Kota Kendari serta proyeksi kebutuhan sarana pendidikan hingga tahun 2030.
KONSEP RUANG BERMUKIM MASYARAKAT ABELI DI KECAMATAN ABELI KOTA KENDARI Ishak Kadir; Annas Maruf; Burhan Said; Akbar Musibar
Jurnal Malige Arsitektur Vol 2, No 1 (2020): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Abeli memiliki karakteristik ruang permukiman pesisir dan dataran rendah serta wilayah perbukitan dengan topografi perbukitan yang bergelombang. Keragaman suku bangsa yang menghuni menyebabkan keragaman sosial budaya dan ekonomi masyarakatnya. Keragaman komunitas yang heterogen berbaur membangun kawasan permukiman dengan latar belakang kehidupan yang beragam pula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep ruang bermukim masyarakat di Kecamatan Abeli dengan berbagai faktor yang mempengaruhnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif. Analisis SIG dengan Teknik Overlay menggunakan software Arc-Gis 10.3 digunakan untuk mengetahui pola permukiman dan faktor-faktor yang mempengaruhi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep ruang permukiman di Kecamatan Abeli yaitu ruang permukiman  pesisir dengan pola sejajar dan memanjang mengikuti garis pantai dan ruang permukiman perbukitan dengan pola sejajar dan memanjang mengikuti jalan dan sebagian tersebar menjauh dari prasarana jalan. Konsep ruang bermukim masyarakat di Kecamatan Abeli dipengaruhi oleh faktor fisik lingkungan/Topografi, sosial budaya, sejarah, ekonomi dan kerawanan bencana. Kata Kunci : Konsep ruang, permukiman, Abeli ABSTRACT Abeli has the characteristics of coastal settlements and low-lying areas and hilly areas with uneven, steep topography. The diversity of ethnic groups that inhabit causes the socio-cultural and economic diversity of the people. Diverse heterogeneous communities mingle to build residential areas with different backgrounds in life. This research aims to determine the concepts of community-living spaces in Abeli District with various factors affecting them. This research uses a qualitative method with descriptive analysis. The GIS analysis with Overlay Technique using Arc-Gis 10.3 software is used to determine settlement patterns and influencing factors. The results showed that the concept of residential space in Abeli Subdistrict is coastal settlement space with parallel and elongated patterns following the coastline and hilly residential areas with parallel and elongated patterns following the road and partially spread away from the road infrastructure. The concept of community-living spaces in Abeli District is influenced by physical/environmental topography, socio-cultural, historical, economic and disaster vulnerability. Keywords: Spatial concept, settlement, Abeli
HIBRIDITAS PADA RUANG TERBUKA PUBLIK DI KAWASAN MALIOBORO YOGYAKARTA Quonita Hassan; Ahmad Sarwadi
Jurnal Malige Arsitektur Vol 2, No 1 (2020): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pesatnya pertumbuhan pada sebuah kawasan perkotaan tidak hanya berdampak pada meningkatnya tingkat kepadatan, namun juga menyebabkan pengelolaan ruang kota semakin berat, dimana munculnya ruang baru dengan fungsi yang baru akan memberikan dampak pada tingginya tekanan terhadap pemanfaatan ruang kota. Salah satunya adalah munculnya pemanfaatan ruang terbuka menjadi ruang publik di kawasan wisata Malioboro. Hal ini dapat dilihat sebagai fenomena timbulnya ruang-ruang yang terbentuk secara self-organized dimana terjadi proses hibridisasi ruang didalamnya. Penyatuan aspek lingkungan, ekonomi dan sosial menjadi salah satu faktor meningkatnya tingkat aksesibilitas, konektifitas dan fleksibilitas dalam ruang tersebut. Penggunaan prinsip-prinsip pada teori “hybrid urban space”digunakan sebagai parameter penentuan tingkat hibriditas suatu ruang publik dan diketahui kondisi hibriditas pada suatu ruang tersebut. Hibriditas secara umum terjadi ketika adanya pemanfaatan elemen ruang sebagai fungsi ruang baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi utama kawasan disekitar ruang publik menjadi penentu terjadinya hibridisasi pada ruang terbuka. Dari pengamatan dilapangan yang dilakukan pada empat lokasi penelitian menunjukkan bahwa hibridisasi pada ruang terjadi dengan menggunakan ruang jalan sebagai tempat aktivitas dan fungsi ruang baru yang muncul, dimana aspek yang paling dominan membentuk hibriditas pada masing-masing ruang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa adanya multifungsionalitas dalam penggunaan ruang sehingga yang ditemukan dilapangan adalah secara spasial ruang tidak berubah, namun aktivitas dan fungsi ruangnya bertambah. Penelitian ini dilakukan guna mengetahui apakah setiap ruang memiliki variabel pembentuk ruang hybrid sehingga terjadi hibridisasi pada ruang dan mengetahui kondisi hybrid pada masing-masing ruang terbuka yang diteliti.Kata kunci: ruang terbuka publik, hybrid, architecture, ruang publik ABSTRACT The rapid growth in an urban area not only has an impact on increasing the level of density, but also causes more severe urban spatial management, where the emergence of new spaces with new functions will have an impact on the high pressure on the utilization of urban space. One of them is the emergence of the use of open space into public spaces in the tourist area of Malioboro. This can be seen as a phenomenon of the emergence of spaces that are formed in a self-organized manner where the process of space hybridization occurs. The unification of environmental, economic and social aspects is one of the increasing factors of accessibility, connectivity and flexibility in the space. The use of principles in the "Hybrid Urban Space" theory is used as a hybridity level determination parameter of a public space and known hybridity conditions in a space. Hybridity generally occurs when the use of space elements as a function of new spaces. The results showed that the main function of the area around public space became a determining hybridization of open spaces. From the field observations performed at four research sites showed that hybridisation in the chamber occurred using the street space as a place of activity and the new space function emerged, where the most dominant aspects form hybridity in each different space.This indicates that there is a multiality in the use of space so that found in the field is spatial space unchanged, but the activity and space function increases. This research was conducted to determine whether each space has variables so that hybridization occurs in space and to know the hybrid conditions in each open space under study.Key Word : public open space, hybrid, architecture, public space
STUDI KENYAMANAN TERMAL PADA BANGUNAN HUNIAN BUGIS (TIMPALAJA) TRADISIONAL KOTA MAKASSAR (TINJAUAN KENYAMANAN RUANG LUAR BANGUNAN) Muhammad Husni Kotta; Ainussalbi Al Ikhsan; Muhammad Arzal Tahir; Sitti Rosydah
Jurnal Malige Arsitektur Vol 2, No 1 (2020): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKeberadaan suatu hunian sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor kenyamanan termal pada bangunan huniantradisional Bugis (Timpalaja), menggunakan metode pendekatan kuantitatif atau studi pendekatan pengukuranlapangan. Variabel Kenyamanan termal berdasarkan kenyamaman termal melalui pengukuran temperatur,kelembaban, kecepatan angin, dan radiasi sinar matahari , penentuan kasus penelitian ini melalui penelitianberdasarkan kriteria material atap timpalaja dan kondisi lingkungan di ruang luar bangunan, terutama tumbuhanatau pepohonan (Vegetasi). Data pengukuran digunakan dengan menggunakan alat ukur antara lain: Thermo-Hygrometer, Altimeter, Anenometer, dan radiasi cahaya matahari (suns radiation).Sedangkan pengamatankemampuan pengendalianradiasi sinar matahari dipengaruhi oleh kerapatan dan ketebalan tajukpepohonan.Tujuan dari Penelitian untuk mendapatklan kenyamanan termal bangunan hunian dan lingkunganluar bangunan (Out door thermal). Hasil perekaman dan pengukuran di analisis secara kuantitatif denganmenggunakan standar ASHRAE kenyamanan termal penelitian terdahulu. Hasil penelitian di dinding sisiBangunan Tradisional menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara timpa laja atap bambu dengantimpa laja atap seng, membuktikan pada pagi hari timpa laja atap bambu lebih rendah temperaturnya (0 C) sekitar25,5 0 C, dan siang hari timpalaja atap seng tertinggi 26,5 0 C, Sedangkan di Bangunan tradisional, siang haritimpa laja atap bambu mencapai suhu terendah 30,5 0 C, dan suhu tertinggi timpa laja atap seng, suhu tertinggisekitar 35 0C, namun kelembaban (RH) timpa laja atap bambu tertinggi sekitar 75% dari pada atap timpalajaatap seng terendah 68%, Hasil uji regresi untuk mengetahui variable X1 (faktor pepohonan / tumbuhan) yangberpengaruh terhadap variabel Y1(atap bambu),dan Y2 (atap seng) yaitu suhu udara/ temperatur ( faktor MaterialAtap ) menunjukkan pengaruh yang signifikan dengan taraf kesalahan 5% ( p < 0,05 ), ternyata suhu udara/temperatur ( material atap ) dan dipengaruhi oleh lingkungan manusia dan pakaian sebesar 50,70 %, sedangkan49,30% dipengaruhi oleh faktor kenyamanan ruang luar (pepohonan / tumbuhan).Kata Kunci : Bangunan tradisional, Bugis, Kenyamanan Termal, Ruang Luar, TimpalajaABSTRACKThe are with property as very effects in factor-factor thermal comport as Bugis Tradisional so haves toapproach kuantitatif methode as nears measurement feasibility out door. Variable thermal comfort as basicthermal comfort, the are measurement Temperature, Humidity,Wind Velocity and suns radiation, The issuesresearch this is measures as basic material sfecification roof timpalaja and environment condition outdoor building, the sfecification of vegetation. The measure of references as have in parameter ad:. Thermo-Hygrometer, Altimeter, Anenometer, and Suns Radiation. Besaids ability measuredradiation as controllingas very-very at nearest and asolid vegetation and thicknes canopy vegetation. The purpose as with to hadscomfort thermal building property and out door building environment out door thermal. The fhinish at recordand measures in analysis be of kuantitatif with had to used standart ASHRAE research termal comfortpradesign. The fhinish research in behind Building Traditional about, and justick the are not all significant atbetween as roof timpalaja bamboo and roof timpalaja zinc, the realisation in day morning at lowtemperature 25,5 0 C, and at day siang the usead roof timpa laja zinc at highs temperature 26,50C, Besaids atday siang in area , uses Building Traditional Timpalaja roof bamboo at low temperature 30,50 C, andtemperature at hights as roof timpalaja zinc at hights temperature 35 0C, and justick the Humidity (RH)timpa laja roof bamboo, tempetatur 78%, besides the Humidity (RH)used timpa laja roof timpalaja zinc, withas lows temperature68%.The testing finaly fhinish as regretionif to realize variable X1 ( vegetation factor) theeffects with variable Y1 (temperature ) are just significant different across signed 5 % ( p < 0,05 ), The justickas effects vegetation factor 50,70%, and besides 49,30 % as effect comport thermal out door.Keyword : Building Tradisional, Bugis, Comfort Thermal, Out Door, Timpalaja
Akulturasi Budaya Arsitektur Rumah Adat Kebaya pada Museum Sumpah Pemuda Michel Dio Susanto; Josephine Roosandriantini
Jurnal Malige Arsitektur Vol 2, No 2 (2020): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia is a country that is rich in culture and ethnicity, the diversity of traditional houses is one of the nation's wealth. The traditional house of the Betawi tribe, which is commonly called the Kebaya house, has a gable that is folded and leads to the kebaya. The entry of European elements into Indonesia had an impact on the Architectural Style and began to develop Colonial architecture in Indonesia. Colonial architecture is an architectural style that developed in Europe at that time and was adapted to the climate and material climate in Indonesia, to obtain a new form that changed shape in Europe. Thus, there is a mixture of immigrant culture and local culture in a form of architecture called architectural acculturation. Architectural acculturation can be seen in the physical form of the Youth Pledge Museum, which gets a mixture of colonial architecture with the architecture of the Kebaya house. The purpose of this research is to show one of the efforts to more harmonize the archipelago and colonialism.
Model Desain Ruang Studio Arsitektur di Era New Normal Weko Indira Romantiaulia; I Made Krisna Adi Dahrma; Ainussalbi Al Ikhsan; Wa Ode Nartin Hamundu
Jurnal Malige Arsitektur Vol 2, No 2 (2020): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang studio dirancang untuk menfasilitasi segala aktivitas mahasiswa arsitektur. Ruang studio ini secara bersama-sama digunakan oleh seluruh angkatan pada seluruh mata kuliah yang mengharuskan praktek mendesain. Keseluruhan proses desain yang bersifat manual dilaksanakan di studio gambar manual, karena di studio ini telah dilengkapi dengan meja gambar dan fasilitas lainnya yang dibutuhkan dalam proses menggambar tugas desain mahasiswa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Halu Oleo. Seiring pertambahan jumlah mahasiswa, tatanan yang ada saat ini tidak lagi memperhatikan layout ruang baik, jarak antar perabot dan sirkulasi manusia. Pada masa pandemi seperti ini, desain studio yang demikian hampir pasti tidak dapat digunakan karena tidak sesuai dengan protokol kesehatan yang disarankan oleh pemerintah. Oleh karena itu, maka perlu ada evaluasi mengenai kenyamanan pengguna studio gambar manual berdasarkan persepsi pengguna ruang studio. Kemudian perlu adanya usulan desain ruang agar selain sesuai dengan standar studio arsitektur, juga tetap memperhatikan protokol kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif guna mengetahui persepsi pengguna ruangan studio terhadap kenyamanan ruang dengan teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan metode eksplorasi guna menghasilkan rekomendasi desain ruang studio di era new normal. Sebagian besar responden menyatakan nyaman dengan kondisi studio yang ada saat ini, meskipun belum sesuai dengan protokol kesehatan di era new normal. Oleh karena itu, rekomendasi desain studio yang ditawarkan tidak merubah pola tatanan layout ruang studio, namun mengatur jarak antar perabot, sirkulasi dan tentunya mengurangi kapasitas bangunan.
MODEL DESAIN LANSEKAP RUANG TERBUKA PUBLIK PADA ERA NEW NORMAL DI PERMUKIMAN PESISIR KOTA KENDARI (STUDI KASUS : PERMUKIMAN PESISIR KELURAHAN TONDONGGEU) Ainussalbi Al Ikhsan; La Ode Amrul Hasan; Weko Indira Romantiaulia; Abdi Juryan Ladianto
Jurnal Malige Arsitektur Vol 2, No 2 (2020): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tondonggeu is a village located in Nambo District, Kendari City, a coastal settlement area with moderate density. The land use in the coastal settlement area of Tondonggeu Village is dominated by house buildings that grow linearly following the boundary line of the tide. Along with its development, the level of building density is higher and reduces the area of open space. The availability of open space in the coastal settlement of Tondonggeu does not have a good quantity and quality as a communal space that can be used by the community to socialize, interact, or carry out other public activities. The purpose of this research is to identify the forms of public open space that exist in the residential area of Tondonggeu. Qualitative research methods were used in this research and experimental methods were used to obtain a suitable landscape design model which later became the direction for the development of the coastal settlement area of Tondonggeu village and the coastal settlement area of Kendari City in general. The results of this study indicate that the form of public open space in the waterfront settlement area of Tondonggeu Village is linear and square.open space Square in residential areas in the form of yards of public and social facilities owned by the government which are used spontaneously without any special arrangement. For open spaces that are linear in the form of an environmental road which functions as a circulation space and an open space for society. The use of this open space is due to the limited public spaces that are square / plaza in nature. Under the category of open spaces in Tondonggeu residential areas included in the public space scale environment with a spacious and scope of small service in the form of space around the dwelling(home oriented space),the open space environment (neighborhood space)
Identifikasi Penentuan Prioritas Kriteria Perumahan dan Permukiman Kumuh Menggunakan Metode AHP (Analytical Hierarchy Process) Fitriani Rahmawati; Andi Ahdan Amir; Abdul Fattaah Mustafah
Jurnal Malige Arsitektur Vol 2, No 2 (2020): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The government has ratified the Ministerial Regulation NO. 14 / PRT / M / 2018 to improve the quality of life and livelihoods of the community through the implementation of healthy, safe, harmonious and orderly housing and settlement areas to prevent the growth and development of slum housing and slum settlements. The ministerial regulation has stated the criteria used to determine slum conditions in slum housing and slum settlements. This study aims to determine what criteria are prioritized in the process of determining housing and slum settlements in the research area, and to determine the application of the Analytical Hierarchy Process (AHP) method in providing weighting criteria and setting more specific priorities. This study aims to determine what criteria are prioritized in the process of determining housing and slum settlements in the research area, and to determine the application of the Analytical Hierarchy Process (AHP) method in providing weighting criteria and setting more specific priorities. AHP method is used to analyze the criteria that affect the priority determination of housing and slum settlement criteria. The criteria that are very influential in determining the identification of housing and slum settlements in the study area, namely the criteria for the availability of safe access to drinking water (0,082), unfulfilled drinking water needs (0,082), availability of drainage (0,078), inability of drainage to drain water runoff (0,078), quality of drainage construction (0,078) and coverage of environmental road services (0,074).Keywords: Criteria, Housing and Slums, AHP