cover
Contact Name
Sani Ega Priani, M.Si., Apt.
Contact Email
-
Phone
jurnal.farmasyifa@gmail.c
Journal Mail Official
jurnal.farmasyifa@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Farmasi - Universitas Islam Bandung Jalan Rangga Gading No. 8, Kota Bandung, Jawa Barat
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa
ISSN : 25990047     EISSN : 25986376     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa (JIFF) merupakan Jurnal ilmiah yang memuat artikel hasil penelitian di ruang lingkup Farmasi meliputi Farmakologi dan Toksikologi, Farmasi Klinik dan Komunitas, Biologi Farmasi, Farmasetika, Farmasi Mikrobiologi dan Bioteknologi, dan Farmakokimia. Disamping penelitian, jurnal ilmiah Farmasyifa juga memuat artikel hasil review terkait perkembangan ilmu kefarmasian di Indonesia berbasis penelitian.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2023)" : 11 Documents clear
AKTIVITAS ANTIAKTERI EKSTRAK ETANOL BIJI DAN BUAH KUPA (Syzygium polichepalum (miq.) Merr.& perry) TERADAP BAKTERI PENYEBAB JERAWAT Ratih Aryani; Siti Hazar; Dieni Mardliyani
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i1.10708

Abstract

Jerawat (acne vulgaris) merupakan penyakit inflamasi kronis dan multifaktorial pada kulit dan unit pilosebasea, yang dapat disebabkan oleh bakteri Propionibacterium acnes, Staphylocccus epidermidis, dan Staphylococcus aureus. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi antibakteri ekstrak etanol biji dan daging buah kupa (Syzygium polycephalum) terhadap bakteri penyebab jerawat. Pada penelitian dilakukan uji aktivitas antibakteri dengan menentukan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) dan diameter hambat ekstrak etanol biji dan daging buah kupa terhadap bakteri P. acnes, S. epidermidis, dan S. aureus menggunakan metode difusi agar. Hasil menunjukkan bahwa nilai KHM dan diameter hambat ekstrak etanol biji buah kupa terhadap bakteri  P. acnes (1,56%; 18,9 ± 0,01 mm); S. epidermidis (0,78%; 8,3 ± 0,01 mm) dan S. aureus (3,13%; 8,5 ± 0,02 mm), sedangkan nilai KHM dan diameter hambat antibakteri ekstrak etanol daging buah kupa terhadap bakteri  P. acnes (12,5%; 13,1 ± 0,03 mm); S. epidermidis 25%; 12,1 ± 0,09 mm) dan S. aureus (0,78%; 10,0 ± 0,03 mm). Potensi aktivitas ekstrak etanol biji dan daging buah kupa terhadap bakteri P. acnes, S. epidermidis, dan S. aureus termasuk ke dalam kategori sedang hingga kuat.
SKRINING FITOKIMIA DAN POTENSI DAYA HAMBAT EKSTRAK METANOL KULIT BATANG MERBAU PANTAI (Intsia bijuga) TERHADAP ENZIM α-GLUKOSIDASE Estu Wilujeng; Ayik Rosita Puspaningtyas; Indah Purnama Sary
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i1.10133

Abstract

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit yang ditandai dengan terjadinya kenaikan kadar glukosa darah dan gangguan metabolisme yang berkaitan dengan sekresi insulin. Potensi kulit batang merbau pantai sebagai antidiabetes hanya dilakukan berdasarkan survey etnobotani saja sehingga diperlukan penelitian experimental laboratories untuk mengetahui manfaatnya dari segi kesehatan sebagai antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui golongan senyawa yang terkandung dalam ekstrak metanol kulit batang merbau pantai, melakukan analisis profil kurva Lineweaver-Burk dan menentukan nilai presentase penghambatan untuk mengetahui jenis pola dan potensi hambatan yang dihasilkan senyawa yang terkandung dalam ekstrak metanol kulit batang merbau pantai tehadap reaksi enzimatik α-glukosidase yang mana digunakan akarbosa sebagai kontrol positif. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak metanol mengandung golongan senyawa flavonoid, tanin dan alkaloid. Pada konsentrasi 25-500 µg/mL menghasilkan presentrase penghambatan yang cukup rendah jika dibandingkan dengan akarbosa yaitu 13-22%. Selain itu, diketahui pola penghambatan terhadap enzim α-glukosidase bekerja uncompetitive.
FORMULASI DAN EVALUASI MUTU FISIK SERUM NANOFITOSOM MYRICETIN Yuli Edy Saputra; Nur Aini Dewi Purnamasari; Galuh Octaviani Palupi
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i1.10253

Abstract

Serum adalah sediaan dengan zat aktif yang mempunyai konsentrasi tinggi dan viskositas rendah, sehingga mudah diabsorbsi di permukaan kulit. Zat aktif alami yang dapat digunakan dalam formulasi serum yaitu Myricetin. Myricetin merupakan suatu flavonoid alami yang memiliki potensi sebagai antioksidan. Kekurangan dari suatu bahan obat yang berasal dari bahan alam salah satunya adalah biovailabilitas yang rendah.  Nanofitosom merupakan suatu sistem yang dapat meningkatkan permeabilitas sehingga dapat menembus membrane lipid sehingga bioavailabilitas obat dapat tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah myricetin dapat dibuat nanofitosom dan dapat diformulasikan menjadi sediaan serum dengan mutu fisik yang baik. Myricetin dibuat nanofitosom dengan metode hidrasi lapis tipis-sonikasi dengan perbandingan myricetin (1): lipid fosfatidilkolin (2): kolesterol (0,4). Formula serum dibuat menjadi 3 formula dengan perbedaan konsentrasi xanthan gum yaitu FI (0,15%); FII (0,25%); FIII (0,35%). Formula serum yang telah dibuat dilakukan pengujian mutu fisik serum meliputi uji organoleptis,, homogenitas, pH dan viskositas. Data yang diperoleh dianalisis dan dibandingkan dengan literatur yang ada. Hasil penelitian bahwa myricetin dapat dibuat nanofitosom dan diformulasikan menjadi sediaan serum dengan mutu fisik yang baik. Sediaan serum myricetin formula I, formula II, formula III berwarna kuning kecoklatan dan homogen. Ketiga formula memiliki pH 6,5 dan sesuai dengan pH normal kulit. Hasil uji viskositas formula I 165 dPas, formula II 175 dPas, dan formula III 190 dPas.Kata kunci: serum, myricetin, nanofitosom, mutu fisik sediaan 
AKTIVITAS ANTI OKSIDAN DAN EVALUASI SEDIAAN MASKER PEEL-OFF EKSTRAK ETANOL RIMPANG KUNYIT PUTIH (Curcuma zedoaria Roscoe Hendri Faisal; Adek Chan; Hanafis Sastra Winata; Vivi Eulis Diana; Widya Atika
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i1.9085

Abstract

Rimpang kunyit putih banyak dipergunakan pada pengobatan tradisional dan industri farmasi karena mempunyai kandungan senyawa flavonoid dan polifenol. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah sediaan masker peel-off bersifat sebagai antioksidan dengan konsentrasi ekstrak etanol rimpang kunyit putih 10%, 20% dan 30%. Pembuatan ekstrak dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Pembuatan formulasi standar sediaan masker peel-off dengan ekstrak rimpang kunyit putih menggunakan bahan dasar polivinil alkohol, Hydroxyl Propyl Methyl Cellulose (HPMC),triehtanolaminea (TEA),gliserin,metil paraben,propil paraben dan akuades. Evaluasi sediaan yang dilakukan  meliputi uji organoleptis, pH, homogenitas, daya sebar, waktu kering, iritasi dan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan spektrofotometri UV-Visibel dengan metode DPPH berdasarkan nilai pemerangkapan radikal bebas (nilai IC50).Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sediaan masker berbentuk setengah padat berwarna kuning tua hingga coklat, berbau khas rimpang kunyit putih. pH yang dihasilkan 6,0-6,3, sediaan homogen tidak ada butiran kasar, daya sebar 5,1-5,5 cm, waktu kering 14-16 menit dan tidak menyebabkan iritasi. Hasil pengujian antioksidan menunjukkan bahwa masker peel-off dengan ekstrak rimpang kunyit putih memiliki sifat antioksidan sebesar 99,94 (µg/mL), 83,21 µg/mL dan 60,88µg/mL pada konsentrasi ekstrak 10%,20% dan 30%. Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak rimpang kunyit putih (curcuma zedoaria roscoe) dapat diformulasikan menjadi masker peel-off .Ketiga formulasi masker memiliki sifat fisik yang baik dan memiliki sifat antioksidan dalam kategori kuat. Masker peel_off yang memiliki nilai antioksidan terbaik adalah formulasi F3 sebesar 60,88µg/ml.
KAJIAN PENGARUH PENGEMBANGAN SISTEM FITOSOM TERHADAP AKTIVITAS AGEN SITOTOKSIK HERBAL Sani Ega Priani
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i1.10891

Abstract

Prevalensi dan morbiditas penyakit kanker terus meningkat. Pencarian agen sitotoksik baru terus dilakukan termasuk yang berasal dari bahan alam. Pengembangan sistem penghantaran untuk meningkatkan aktivitas sitotoksik banyak dilakukan seperti dengan pembentukan  fitosom,  salah satu sistem nanovesikular. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengembangan bahan-banan herbal dengan sistem penghantaran fitosom dan juga mengetahui pengaruhnya terhadap aktivitas sitoksik dari senyawa bahan alam tersebut. Penelitian dilakukan dengan melakukan kajian literatur dari artikel yang berasal dari database bereputasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sesuai tujuan penelitian. Dari hasil kajian  diketahui bahwa sistem fitosom sudah banyak dikembangkan untuk penghantaran agen sitoksik herbal seperti pada ekstrak aloe vera, celastrol, curcumin, curcuminoid, diosgenin, icariin, genistein, lycopene, mytomicin, propolis, silibinin, sinigrin, dan thymoquinone. Fitosom diformulasikan dengan menggunakan fosfatidilkolin pada perbandingan fitokonstituen: fosfolipid yakni 1:(1-3), dengan atau tanpa penambahan kolesterol. Pengembangan sediaan fitosom terbukti mampu meningkatkan aktivitas sitotoksik bahan herbal baik berdasarkan pengujian in-vitro atau in-vivo. Pada pengujian in-vitro peningkatan aktivitas ditandai dengan penurunan nilai IC50 dengan tingkat penurunan yang bervariasi dalam rentang 1,7-11 kalinya. Ukuran partikel yang lebih kecil dengan struktur fosfolipid bilayer diketahui menjadi penyebab utama terjadinya peningkatan aktivitas tersebut. Dari hasil kajian disimpulkan bahwa sistem fitosom potensial untuk mampu meningkatkan aktivitas sitotoksik senyawa herbal.        
STUDI IN SILICO PENGIKATAN MIR-142 DENGAN GEN SITOKIN INFLAMASI BERDASARKAN NILAI ∆G DAN LOGISTIC PROBABILITY SEBAGAI AGEN TERAPI INFEKSI MRSA Ismail Ismail; Reny Syahruni; Jane Stefany
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i1.10423

Abstract

Salah satu infeksi yang sulit diobati dengan tingkat morbiditas tinggi yaitu infeksi Methicillin resistant Staphylococcus aureus (MRSA). MRSA memiliki faktor virulensi yang dapat meningkatkan efek yang ditimbulkan akibat infeksi dan dapat menyebabkan sindrom klinis seperti inflamasi. Pemicu inflamasi tersebut adalah produksi sitokin seperti IL-1b, TNF-α, IL-6, dan juga produksi NFᴋB dan NLRP3 yang dapat mengatur sintesis sitokin tertentu. Salah satu target penanganan masalah tersebut adalah menggunakan miR-142 yang merupakan regulator penting dalam berbagai proses biologis dan berhubungan dengan jalur signaling suatu penyakit. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan pengikatan terbaik miR-142 dengan gen sitokin proinflamasi yang berperan dalam infeksi MRSA berdasarkan nilai ΔGhybrid dan logistic probability. Prediksi pengikatan miR-142 matur dengan gen sitokin (mRNA) dilakukan dalam website StarMir Sfold 2.2.  Sekuens lengkap gen sitokin diperoleh dari FASTA NCBI dan data CDS diperoleh dari Refseq.  Hasil prediksi pengikatan miR-142 dengan 5 target diperoleh 605 model pengikatan. Pengikatan terbaik terjadi pada ikatan antara ikatan NFᴋB dengan hsa-miR-142-3p pada CDS seedless posisi 791 – 813 dibuktikan dengan nilai ΔGhybrid paling rendah dari semua ikatan yang terjadi.
UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK ETANOL 70% BUNGA TELANG (Clitoria ternatea L.) TERHADAP TIKUS BETINA GALUR WISTAR DENGAN METODE OECD 425 Sartika Dewi; Karunita Ika Astuti; Esty Restiana Rusida
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i1.10420

Abstract

Bunga telang (Clitoria ternatea L.) sebagai alternatif pengobatan penyakit degeneratif salah satunya untuk penurunan kadar glukosa dalam darah dan dalam pengembangannya sebagai obat, perlu dilakukan uji keamanan bahan alam dengan menguji toksisitas dari bunga telang. Penelitian ini untuk mengetahui gejala toksisitas dan nilai LD50 dengan metode OECD 425. Hewan uji tikus betina galur wistar dibagi menjadi kontrol negatif (Na-CMC) dan kelompok perlakuan (ekstrak etanol 70% bunga telang (Clitoria ternatea L.)) dengan dosis 2000 mg/kgBB. Hewan uji diamati gejala-gejala toksisitas meliputi berat badannya dan tanda toksisitas lainnya selama 14 hari. Pengamatan yang dilakukan meliputi tremor (gemetar), konvulsi (kejang), latergi (lesu), diare, koma dan mati. Hasil menunjukkan nilai LD50 ekstrak etanol 70% bunga telang (Clitoria ternatea L.) adalah >2000 mg/kgBB, berdasarkan klasifikasi BPOM termasuk dalam kategori 4 yaitu toksik ringan. Hasil pengamatan hewan uji tidak mengalami gejala-gejala toksisitas, dan tidak mengalami perubahan bermakna pada berat badan hewan uji pada kontrol negatif dan kontrol perlakuan (p>0,05)
POTENSI KRIM ANTIOKSIDAN GETAH JARAK TINTIR (Jatropha mulfida L.) DALAM MENGHAMBAT ENZIM TIROSINASE SECARA IN SILICO SEBAGAI ALTERNATIF AGEN PEMUTIH Farah Salsabilla Saidah Azhar; Sheila Nur Hasanah; Renata Ananda Marthasedana; Meyra Pratami Dewilestari; Sri Restu Andriyani; Wulan Anggraeni; Dadan Suryasaputra; Akhirul Kahfi Syam; Hestiary Ratih
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i1.10700

Abstract

Getah Jarak Tintir (Jatropha multifida Linn.) yang berasal dari famili Euphorbiaceae diketahui memiliki kandungan fenolik dan flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sebagai antioksidan, interaksi senyawa metabolit sekunder dalam getah jarak tintir dengan enzim tirosinase, dan mengaplikasikannya dalam bentuk sediaan. Metode pengujian antioksidan dilakukan dengan metode DPPH dan pengujian aktivitas inhibitor enzim tirosinase dilakukan dengan in silico metode molekular docking. Formulasi hand and body cream getah jarak tintir dibuat dalam tiga formula yaitu F0 (basis krim sebagai kontrol), F1 (basis krim dengan 100×IC50 serbuk getah jarak tintir), F2 (basis krim dengan 200×IC50 serbuk getah jarak tintir). Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa yang mempunyai afinitas kuat dalam menghambat enzim tirosinase yaitu Multifidol dengan nilai ∆G sebesar -6,01 kkal/mol dan KI sebesar 39,37 nM. Hasil pengujian antioksidan dari hasil freeze drying serbuk getah jarak tintir menunjukkan nilai IC50 sebesar 8,33 µg/mL yang termasuk kategori sangat kuat. Persen inhibisi pada krim F1 (konsentrasi zat aktif 8,33 µg/mL) dan F2 (konsentrasi zat aktif 16,4 µg/mL) berturut-turut adalah 25,08% dan 50,57% yang termasuk kategori sangat kuat dan berpotensi sebagai alternatif krim pemutih. Kata kunci: Getah jarak tintir, molecular docking, krim, antioksidan, DPPH  The sap of Jarak Tintir (Jatropha multifida Linn.) from the family Euphorbiaceae was known to contain phenolic and flavonoid compounds that have the potential as natural antioxidants. This study aimed to determine the content of metabolites as antioxidants, the interaction of secondary metabolites in Jatropha sap with tyrosinase enzymes, and to apply them in a dosage form. The antioxidant test method was carried out using the DPPH method and the tyrosinase enzyme inhibitory activity was tested using the molecular docking in silico method. The hand and body cream formulation of the sap was made in three formulas, namely F0 (cream base as control), F1 (cream base + 100×IC50 of the sap powder), F2 (cream base + 200×IC50 of the sap powder). The results showed that the compound that has a strong affinity to inhibit the tyrosinase enzyme is Multifidol with a ∆G value of -6.01 kcal/mol and a KI of 39.37 nM. The freeze-drying of the sap powder had the potential as an antioxidant with an IC50 value of 8.32 g/mL which was categorized as very strong activity. The percentage of inhibition in F1 cream (active substance concentration 8.32 g/mL) and F2 (active substance concentration 16.4 g/mL) were 25.08% and 50.57%, respectively, included in the very strong category and have potential to be alternative whitening cream. Keywords:  the sap of Jarak tintir, molecular docking, cream, antioxidant, DPPH
AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL PALA (Myristica fragrans HOUTT.) TERHADAP Malassezia furfur DAN Tricophyton mentagrophytes Muhamamad Fakhrur Rajih; Nur Asma Somadayo
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i1.10063

Abstract

Indonesia is a tropical country that has fair temperature and humidity supporting the growth of pathogenic fungi. Pathogenic fungi commonly encountered infecting humans in Indonesia are the species Malassezia furfur and Trichophyton mentagrophytes. Nutmeg (Myristica fragrans Houtt.) is one of the Indonesian plants known to have potential antifungal activity. The purpose of this study was to examine the antifungal activity of the nutmeg ethanol extract against Malassezia furfur and Trichophyton mentagrophytes, determining the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Killing Concentration (MKC) as well as testing the comparative value of nutmeg ethanol extract with ketoconazole. The research method used in testing the antifungal activity and the comparative value of the ethanol extract of nutmeg was the diffusion method for the paper disc technique and the microdilution method for testing the determination of MIC and MKC values. The results of this study show that the nutmeg ethanol extract had antifungal activity against Malassezia furfur and Trichophyton mentagrophytes.The MIC and MKC values of the nutmeg ethanol extract were the same for Malassezia furfur and Trichophyton mentagrophytes, namely the MIC value of the ethanol extract was 2,5%. Meanwhile, MKC value for ethanol extract was 5%, .The comparative values of ketoconazole antifungal activity with ethanol extract of the nutmeg against Malassezia furfur were 1:34, whereas against Trichophyton mentagrophytes were 1:12
FORMULASI DAN KARAKTERISASI SEDIAAN ORALLY DISSOLVING FILM TAMSULOSIN HIDROKLORIDA Fitrianti Darusman; Muhammad Sultan Ramadhan; Uci Ary Lantika
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i1.10717

Abstract

Orally dissolving film (ODF) merupakan sediaan film tipis yang cepat larut dalam mulut tanpa bantuan air minum, sehingga onset obat menjadi lebih cepat dan meningkatkan kenyamanan pasien. Polimer hidroksi propil metil selulosa (HPMC) dan maltodekstrin merupakan jenis polimer yang banyak dikombinasikan dalam sediaan ODF karena menghasilkan karakteristik film yang baik. Tamsulosin HCl digunakan sebagai model obat karena memiliki dosis kecil, rasa pahit, dan kelarutannya rendah dalam air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi terbaik dari sediaan ODF menggunakan kombinasi polimer HPMC dan maltodekstrin sebagai film forming agent serta mengetahui karakteristik sediaan ODF yang mengandung tamsulosin HCl. Optimasi formula dilakukan dengan memvariasikan polimer HPMC dan maltodekstrin menjadi 6 formula. Hasil optimasi, polimer HPMC dan maltodekstrin dengan perbandingan 5 : 2 merupakan formula basis film yang paling baik secara organoleptis dan memiliki waktu melarut yang relatif cepat sehingga dipilih untuk formulasi sediaan ODF tamsulosin HCl. Sediaan ODF tamsulosin HCl terbagi menjadi 3 formula masing-masing mengandung krospovidon 2% (F3A), 3% (F3B), dan 4% (F3C) yang dibuat menggunakan metode tuang pelarut. Dari ketiga formula, F3B merupakan formula terbaik dengan tekstur halus, elastis, kuat, transparan, homogen; bobot 52,06 ± 0,2329 mg; ketebalan 0,152 ± 0,0067 mm; pH sediaan 6,6 ± 0,019; ketahanan lipat 523 ± 0,247 kali; kekuatan tarik 8,51 ± 0,003 N/mm2; persen kemuluran 23,33 ± 0,017%; penetapan kadar 99,13 ± 0,5717 %; dan waktu melarut paling cepat yaitu 33,57 ± 1,6502 detik.

Page 1 of 2 | Total Record : 11