cover
Contact Name
Dr. Ide Bagus Siaputra
Contact Email
-
Phone
+62312981246
Journal Mail Official
anima@unit.ubaya.ac.id
Editorial Address
Faculty of Psychology, Universitas Surabaya Jalan Raya Rungkut Mejoyo (Raya Kali Rungkut), Surabaya, East Java, 60293
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
ANIMA Indonesian Psychological Journal
Published by Universitas Surabaya
ISSN : 02150158     EISSN : 26205963     DOI : https://doi.org/10.24123/aipj
Core Subject : Social,
Anima publishes peer reviewed articles with editors and consultants providing detailed assistance for authors to reach publication. Anima publishes research reports and scientific papers in psychology and/or related sciences with the aim to advance science, knowledge, and theory of psychology.
Articles 651 Documents
The Paradox of Integrity: Cheating Awareness Among Religious High School Student in Yogyakarta [Paradoks Integritas: Kesadaran akan Perilaku Kecurangan di Kalangan Siswa Sekolah Menengah Atas Berbasis Agama di Yogyakarta] Samudera Fadlilla Jamaluddin; Galang Lufityanto
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 36 No. 1 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 1, 2021)
Publisher : Laboratory of General Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v36i1.2500

Abstract

Cheating behavior in a school setting has become a major problem in many countries, including those with a dominantly religious population (e.g., Indonesia). This creates a paradox since previous literatures suggest eminent role of spirituality in constructing morality. This study is intended to investigate the interplay between spirituality and cheating behavior in religious high school students in Yogyakarta using multi-methods approach. Self-report questionnaires to measure the perception toward cheating, spirituality level, and locus of control were distributed to a total of 691 participants using random sampling method. Participants were also given an open-ended questionnaire asking the rationale behind their past cheating behavior. The findings suggested that the role of spirituality in ethical behavior was rather contextual, such as the link between spirituality and awareness of cheating was more robust in the respondents from religious schools. It was found that the participants viewed spirituality as an internal moral compass which may in turn facilitate overt ethical behavior. Perilaku kecurangan di sekolah telah menjadi permasalahan besar di berbagai negara, termasuk di negara-negara yang mayoritas penduduknya religius (misalnya di Indonesia). Hal ini menimbulkan sebuah paradoks mengingat penelitian terdahulu menyatakan bahwa spiritualitas berperan dalam proses pembentukan moralitas. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah interaksi antara spiritualitas dan perilaku kecurangan pada siswa sekolah menengah di Yogyakarta menggunakan pendekatan multi-metode. Kuesioner laporan diri untuk mengukur persepsi terhadap kecurangan, tingkat spiritualitas, dan lokus kendali dibagikan kepada total 691 partisipan menggunakan metode random sampling. Partisipan juga diberikan kuesioner dengan butir-butir pertanyaan terbuka yang menanyakan alasan di balik perilaku curang mereka di masa lampau. Temuan menunjukkan bahwa peran spiritualitas dalam perilaku etis cenderung bersifat kontekstual, misalnya hubungan antara spiritualitas dan kesadaran akan perilaku kecurangan lebih kuat pada responden dari sekolah berbasis agama. Ditemukan bahwa partisipan dalam kajian ini memandang spiritualitas sebagai kompas moral internal yang dapat berperan dalam memfasilitasi perilaku etis yang terbuka.
Editorial - Passing the Baton: 35 Years and Carrying On [Meneruskan Tongkat Estafet: 35 Tahun dan Terus Berjalan] Ide Bagus Siaputra; Edwin Adrianta Surijah
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 35 No. 1 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 35, No. 1, 2019)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v35i1.2584

Abstract

Editorial for ANIMA Indonesian Psychological Journal Volume 35, consisting of introduction and explanation regarding significant changes on ANIMA Indonesian Psychological Journal. Editorial untuk ANIMA Indonesian Psychological Journal Volume 35, berisi pendahuluan dan penjelasan atas perubahan penting di ANIMA Indonesian Psychological Journal.
Strength-Based Parenting and Well-Being in Adolescence [Strength-Based Parenting dan Kesejahteraan Remaja] Agnes Maria Sumargi; Jessica Giovanni
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 36 No. 1 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 1, 2021)
Publisher : Laboratory of General Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v36i1.2788

Abstract

Adolescents’ well-being deserves attention as it promotes adolescents’ general health. Parenting is a factor that may influence adolescents’ well-being. Unfortunately, some parents provide only limited support to their adolescents and show ineffective parenting. Strength-based parenting (SBP) is a parenting style where parents seek to deliberately identify and develop positive conditions, processes, and qualities in their children. Research conducted in Western culture showed that strength-based parenting (SBP) was associated with adolescents’ subjective well-being, particularly life satisfaction. This present study extends the past research by involving adolescent sample from Eastern culture (Indonesia) and including the measure that combines both subjective and psychological well-being. Particularly, this study examined if strength-based parenting (SBP; strength knowledge and strength use) predicted adolescent well-being. Participants were 191 high school students in Surabaya (15-18 years old). Participants completed the Pemberton Happiness Index (PHI) and Strength-Based Parenting Scale (SBPS). Results showed that both strength knowledge and strength use were positively related to adolescent well-being. This indicates that parents’ recognition and encouragement to use adolescents’ strengths has helped adolescents to understand their own potentials and therefore, generate positive feelings and meaningful experiences. Thus, strength-based parenting (SBP) does not only benefit adolescents from Western culture, but also adolescents from Eastern culture (Indonesia). Kesejahteraan remaja perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan kesehatan remaja secara umum. Pengasuhan orangtua merupakan salah satu faktor yang mungkin mempengaruhi kesejahteraan remaja. Namun, sebagian orangtua memberikan dukungan yang terbatas kepada anak remajanya dan menerapkan pengasuhan yang kurang efektif. Strength-based parenting (SBP) merupakan gaya pengasuhan dimana orangtua secara sengaja mengidentifikasi dan mengembangkan kondisi, proses, dan kualitas positif anak. Riset yang dilakukan dalam budaya Barat menunjukkan bahwa strength-based parenting (SBP) berkorelasi dengan kesejahteraan subjektif remaja, khususnya kepuasan hidup. Penelitian ini memperluas penelitian sebelumnya dengan melibatkan sampel remaja dari budaya Timur (Indonesia) dan menggunakan alat ukur yang menggabungkan kesejahteraan subjektif dan psikologis. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah strength-based parenting (SBP; strength knowledge dan strength use) dapat memprediksi kesejahteraan remaja. Penelitian ini melibatkan 191 orang siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Surabaya (15-18 tahun). Partisipan mengisi Pemberton Happiness Index (PHI) dan Strength-Based Parenting Scale (SBPS). Hasilnya menunjukkan bahwa strength knowledge dan strength use berhubungan positif dengan kesejahteraan remaja. Hal ini menandakan bahwa pengetahuan orangtua tentang kekuatan remaja dan dorongan orangtua agar remaja menggunakannya dapat membantu remaja memahami potensi-potensinya dan karena itu, menumbuhkan perasaan positif dan pengalaman yang bermakna. Dengan demikian, strength-based parenting (SBP) tidak hanya bermanfaat bagi remaja dalam budaya Barat, tetapi juga remaja dari budaya Timur (Indonesia).
The Effect of Subjective Well-Being, Peer Support, and Self-Efficacy on Student Engagement of Class X Students of Four State Senior High School in Sidoarjo [Pengaruh SWB, PS, dan Efikasi Diri terhadap SE Siswa Kelas X di Empat SMAN di Kabupaten Sidoarjo] Tania Nurmalita; Nono Hery Yoenanto; Duta Nurdibyanandaru
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 36 No. 1 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 1, 2021)
Publisher : Laboratory of General Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v36i1.2879

Abstract

An initial survey showed that school students at the Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN; State Senior High School) level in the Sidoarjo Regency of East Java Province, Indonesia, suffered low levels of student engagement (SE). This research examined the impact of subjective well-being, peer support, and self-efficacy on the student engagement of the students in the Class 10 of four SMAN in the Sidoarjo Regency. 328 students were involved in this research, filling in a survey related to the four variables of the study. The results of regression testing indicated that subjective well-being, peer support, and self-efficacy had significant influence on increases in student engagement (SE). The implication of this research was that the efforts by the school, parents, and other parties was related to attention being given, outside of improvement in the quality of the academic atmosphere. Psychological well-being, peer support, as well as increases in self-efficacy, may assist students to become actively involved in the learning process. Survey awal menunjukkan siswa di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) Kabupaten Sidoarjo memiliki student engagement (SE) yang rendah. Penelitian ini mengkaji dampak dari subjective well-being, peer support, dan efikasi diri terhadap student engagement (SE) pada siswa kelas X yang berasal dari empat Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Kabupaten Sidoarjo. 328 siswa terlibat dalam penelitian ini dengan mengisi survei terkait empat variabel studi. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa subjective well-being, peer support, dan efikasi diri memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan student engagement (SE). Implikasi penelitian ini adalah adanya upaya sekolah, orangtua, dan pihak lain terkait untuk memberikan perhatian di luar peningkatan kualitas atmosfir akademik. Kesejahteraan psikologik, dukungan sosial teman sebaya, maupun peningkatan efikasi diri dapat membantu siswa lebih terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
Editorial | Stop the Academic Bullying: Our Internal Reflections for a Fairer Peer Reviews [Hentikan Perundungan Akademik: Refleksi Internal untuk Penilaian Sejawat yang Lebih Adil] Edwin Adrianta Surijah
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 36 No. 1 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 1, 2021)
Publisher : Laboratory of General Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v36i1.4018

Abstract

Academic bullying in peer reviews is a cultural problem. This Editorial Note is intended to identify the unhelpful comments/critiques and to highlight the impact of unprofessional peer reviews toward the well-being and career development of fellow researchers. We acknowledge that we are part of the problems, and the necessary steps are needed to break the chain of the academic bullying culture in peer reviews. New guidelines for editors and reviewers are part of the solutions to promote constructive comments, as well as stronger internal consolidation throughout the peer reviews process. Perundungan akademik dalam penilaian sejawat (peer review) adalah sebuah permasalahan kultur. Catatan Editorial ini bertujuan mengindentifikasi komentar atau kritik yang tidak membangun, serta menggarisbawahi dampak penilaian sejawat yang tidak profesional terhadap kesejahteraan dan pengembangan karir sesama peneliti. Kami menyadari bahwa kami merupakan bagian dari permasalahan ini, dan diperlukan langkah-langkah untuk memutus rantai kultur perundungan akademik dalam penilaian sejawat. Pedoman baru bagi editor dan mitra bestari merupakan bagian dari solusi untuk mendorong komentar yang konstruktif, serta konsolidasi internal yang lebih kuat dalam proses penilaian sejawat.
The Adaptation of a Brief Adolescent Subjective Well-Being in School Scale (BASWBSS), the Student Subjective Well-Being Scale in the Indonesian Context [Adaptasi BASWBSS, Skala Kesejahteraan Subjektif Siswa dalam Konteks Indonesia] Wuri Prasetyawati; Tjut Rifameutia; Robyn Gillies; Peter Newcombe
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 36 No. 2 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 2, 2021)
Publisher : Laboratory of General Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v36i2.2277

Abstract

Well-being is an indicator of students’ happiness in school. There is currently a need to identify students’ well-being in order to know the conditions of students’ mental health and their levels of contentment in school. The existing instruments of student well-being in Indonesia have numerous items, which can impact the participants’ behavior in filling out the questionnaires. Therefore, there was a need for a shorter version of the instruments. This research focused on the adaption of the Brief Adolescent Subjective Well-Being in School Scale (BASWBSS), an instrument for subjective well-being with only eight items and was previously developed by Tian, Wang, and Huebner (2015) among high school students in China. A total of 235 Indonesian students, both high school and first-year university students were the participants in this study. Reliability testing using internal consistency, while construct and criterion validity testing was implemented to test this scale's psychometric properties in the Indonesian context. The result of this study indicated that the adaptation of Brief Adolescent Subjective Well-Being in School Scale (BASWBSS) was valid and reliable for Indonesian students. Kesejahteraan merupakan indikator kebahagiaan siswa di sekolah. Saat ini, terdapat kebutuhan mengidentifikasi kesejahteraan siswa untuk mengetahui kondisi kesehatan mental dan tingkat kepuasan mereka di sekolah. Alat ukur kesejahteraan siswa yang ada di Indonesia memiliki banyak butir pertanyaan, yang dapat berdampak pada perilaku partisipan dalam mengisi kuesioner. Karenanya, dibutuhkan versi pendek dari alat ukur tersebut. Penelitian ini berfokus pada adaptasi Brief Adolescent Subjective Well-Being in School Scale (BASWBSS), sebuah alat ukur kesejahteraan subjektif dengan delapan butir yang dikembangkan oleh Tian, Wang, dan Huebner (2015) untuk siswa sekolah menengah atas di Tiongkok. Sebanyak 235 siswa Indonesia, yang merupakan siswa sekolah menengah atas dan mahasiswa tahun pertama, menjadi partisipan dalam penelitian ini. Uji reliabilitas dilakukan menggunakan konsistensi internal, sedangkan uji validitas konstruk dan validitas kriteria digunakan untuk menguji aspek psikometri dalam konteks Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil adaptasi dari Brief Adolescent Subjective Well-Being in School Scale (BASWBSS) valid dan reliabel untuk siswa di Indonesia.
Subjective Well-Being of Indonesian Children: A Perspective of Material Well-Being [Kesejahteraan Subjektif Anak Indonesia: Sebuah Perspektif Kesejahteraan Materi] Ihsana Sabriani Borualogo; Ferran Casas
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 36 No. 2 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 2, 2021)
Publisher : Laboratory of General Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v36i2.2880

Abstract

This study aims to explain the subjective well-being of Indonesian children in terms of material well-being. Indonesia is still considered a developing country, and several studies reveal the correlation between economic status and subjective well-being of adults. However, only a very limited number of studies focus on Indonesian children’s material well-being from their own perspective. This study used data from the third wave of the Children’s Worlds survey conducted in Indonesia. The sample (N = 14,576; 49.35% boys; 50.65% girls) was composed of children aged 10 years and 12 years. Subjective well-being (SWB) was measured using the Children’s Worlds Subjective Well-Being Scale (CW-SWBS) and a single-item Overall Life Satisfaction (OLS) scale. Material well-being was measured using family economic status, material deprivation, frequency of being worried about family’s money situation, and frequency of having enough food to eat each day. Data were analyzed using descriptive statistics. Cummins’ theory of subjective well-being (SWB) was used to explain the results. Results showed that children from families with high economic status who reported no material deprivation, never worrying about the family’s money, and always having enough food to eat each day displayed higher subjective well-being (SWB) mean scores on both subjective well-being (SWB) scales compared to children in families from middle and lower economic status. However, children from middle and lower economic status showed rather high subjective well-being (SWB) scores, suggesting that children are able to maintain positive feelings about themselves and their level of subjective well-being (SWB) despite belonging to a less fortunate economic situation. These results will hopefully encourage Indonesian scholars and researchers to elaborate deeper in future studies. Penelitian ini bertujuan menjelaskan kesejahteraan subjektif (subjective well-being; SWB) anak Indonesia terkait kesejahteraan materi. Indonesia masih dikategorikan sebagai negara berkembang, dan beberapa penelitian terdahulu mengungkapkan korelasi antara status ekonomi dan kesejahteraan subjektif orang dewasa. Namun, studi yang memfokuskan pada kesejahteraan materi anak Indonesia dari perspektif mereka sendiri masih sangat terbatas. Studi ini menggunakan data dari survei Children’s Worlds gelombang ketiga yang dilakukan di Indonesia. Sampel penelitian terdiri dari anak-anak usia 10 tahun dan 12 tahun (N = 14.576; 49,35% laki-laki; 50,65% perempuan). Kesejahteraan subjektif diukur dengan menggunakan dua skala: Children’s Worlds Subjective Well-Being Scale (CW-SWBS) dan Overall Life Satisfaction (OLS) dengan butir pertanyaan tunggal. Kesejahteraan materi diukur berdasarkan dimensi status ekonomi keluarga, kekurangan materi, frekuensi kekhawatiran tentang situasi keuangan keluarga, dan frekuensi ketersediaan makanan untuk dikonsumsi setiap hari. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Teori Cummins tentang kesejahteraan subjektif digunakan untuk menjelaskan temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga dengan status ekonomi tinggi yang tidak melaporkan kekurangan materi, tidak pernah khawatir tentang keuangan keluarga, dan selalu memiliki cukup makanan untuk dikonsumsi setiap hari menunjukkan skor rata-rata kesejahteraan subjektif yang lebih tinggi pada dua skala kesejahteraan subjektif dibandingkan anak-anak dari keluarga dengan status ekonomi menengah dan rendah. Namun, anak-anak dari status ekonomi menengah dan rendah menunjukkan skor kesejahteraan subjektif yang relatif tinggi, yang mengungkapkan bahwa anak-anak dapat menjaga perasaan positif tentang diri mereka sendiri dan tingkat kesejahteraan subjektifnya meskipun tergolong ke dalam status ekonomi yang kurang mapan. Hasil penelitian diharapkan dapat mendorong para ilmwuan dan peneliti di Indonesia untuk lebih mendalami fenomena ini pada studi-studi selanjutnya.
The Work Stress of Millennial Employees Reviewed from the Viewpoint of Organizational Climate with Team-Member Exchange as a Moderator [Stres Kerja Karyawan Milenial Ditinjau dari Iklim Organisasi dengan Team-Member Exchange sebagai Moderator] Muhammad Farie Ath Thaariq; Indrayanti Indrayanti
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 36 No. 2 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 2, 2021)
Publisher : Laboratory of General Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v36i2.3053

Abstract

This study aims to define the role of organizational climate on work stress of millennial employees and the moderating effect of team-member exchange in the relationship between organizational climate and work stress of millennial employees. Participants are employees born in the time range of 1980 to 2000 and have worked for at least six months. This study utilized survey method with the instruments Stress Diagnostic Survey, Organization Climate Questionnaire, and Team-Member Exchange (TME) instrument which is a fusion of Team-Member Exchange Contributions and Team-Member Exchange Receipts. The data were analyzed with simple linear regression and moderation analysis utilizing the PROCESS module by Hayes. The results of this study indicate that organizational climate contributed negatively on the work stress of millennial employees. The higher the score for organizational climate, the lower the score for work stress on millennial employees. Team-member exchange cannot moderate the relationship between organizational climate and work stress of millennial employees. High quality of team-member exchange cannot strengthen the relationship between organizational climate and work stress of millennial employees. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran iklim organisasi terhadap stres kerja karyawan milenial dan efek moderator dari team-member exchange terhadap hubungan antara iklim organisasi dan stres kerja pada karyawan milenial. Partisipan adalah karyawan milenial dengan rentang tahun kelahiran 1980 hingga 2000 dan sudah bekerja minimal selama enam bulan. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan instrumen Stress Diagnostic Survey, Organizational Climate Questionnaire, dan instrumen Team-Member Exchange (TME) yang merupakan gabungan dari Team-Member Exchange Contributions dan Team-Member Exchange Receipts. Analisis data menggunakan uji regresi linear sederhana dan uji moderasi dengan modul PROCESS dari Hayes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa iklim organisasi berkontribusi negatif terhadap stres kerja karyawan mileneal. Semakin tinggi skor iklim organisasi, maka semakin rendah skor stres kerja karyawan milenial. Team-member exchange tidak dapat memoderasi hubungan antara iklim organisasi dan stres kerja karyawan milenial. Kualitas team-member exchange yang tinggi tidak dapat memperkuat hubungan iklim organisasi dengan stres kerja karyawan milenial.
National Identity in the Indonesian Youth [Identitas Nasional di Kalangan Orang Muda Indonesia] Augustinus Supratiknya
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 36 No. 2 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 2, 2021)
Publisher : Laboratory of General Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v36i2.3137

Abstract

National identity (identitas nasional [IN]) and ethnic identity (identitas suku bangsa [ISB]) as two forms of social identity are important to scrutinize in the multi-ethnic nation of Indonesia. This research comprised two studies and aimed to uncover the Indonesian youth’s national identity (identitas nasional [IN]) on a sample of male and female students with different backgrounds in ethnicity, religion, and identity source. Study 1 aimed to construct an instrument of youth’s national identity (identitas nasional [IN]) by adapting the Skala Identitas Suku Bangsa (SISB; 2019), resulting in the Skala Identitas Nasional (SIN) consisting of 12 items (rit = 0.35 -0.64; α = 0.84). Study 2 aimed to explore the participants’ national identity (identitas nasional [IN]; N = 480) by considering the differences of their backgrounds. The results showed that in general the participants’ level of national identity (identitas nasional [IN]) was high, especially on the Balinese and Florinese samples; their level of national identity (identitas nasional [IN]) correlated with their level of ethnic identity (identitas suku bangsa [ISB]); religion related with levels of national identity (identitas nasional [IN]) through its connection with ethnicity, hence the Hindu-Balinese sample indicated the highest; the majority of participants acknowledged the parents and the extended family as their source of identity, but seemed to fail in contributing to the formation of the youth’s national identity (identitas nastional [IN]); male participants showed a higher level of national identity (identitas nasional [IN]) than female participants. Possible causes of the important findings were discussed and follow-up research on those findings were recommended. Identitas nasional (IN) dan identitas suku bangsa (ISB) sebagai dua bentuk identitas sosial penting dicermati dalam masyarakat Bangsa Indonesia yang multi-etnik. Penelitian ini meliputi dua studi, bertujuan mengungkap identitas nasional (IN) orang muda Indonesia dengan sampel mahasiswa laki-laki dan perempuan berlatar-belakang suku bangsa, agama, dan sumber identitas berlainan. Studi 1 bertujuan menyusun alat ukur identitas nasional (IN) orang muda dengan mengadaptasi Skala Identitas Suku Bangsa (SISB; 2019), menghasilkan Skala Identitas Nasional (SIN) yang terdiri dari 12 butir (rit = 0.35-0.64; α = 0.84). Studi 2 bertujuan mengungkap identitas nasional (IN) partisipan (N = 480) secara eksploratif dengan memperhatikan perbedaan latar belakang mereka. Hasilnya, secara umum taraf identitas nasional (IN) partisipan cukup tinggi, khususnya pada sampel suku bangsa Bali dan Flores; taraf identitas nasional (IN) mereka berkorelasi dengan taraf identitas suku bangsa (ISB); agama berhubungan dengan taraf identitas nasional (IN) melalui hubungannya dengan suku bangsa, maka sampel Hindu-Bali menunjukkan taraf identitas nasional (IN) tertinggi; mayoritas partisipan mengakui orang tua dan keluarga besar sebagai sumber identitas, namun ada indikasi mereka kurang berperan dalam pembentukan identitas nasional (IN) orang muda; sampel laki-laki menunjukkan taraf identitas nasional (IN) lebih tinggi dibandingkan sampel perempuan. Kemungkinan penyebab temuan-temuan penting dibahas, dan saran untuk penelitian lebih lanjut dikemukakan.
Characteristics of Leadership in Private University Organizations in Indonesia: A Conceptual Model [Karakteristik Kepemimpinan Organisasi Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia: Sebuah Model Konseptual] Juliana Murniati
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 36 No. 2 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 2, 2021)
Publisher : Laboratory of General Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v36i2.3915

Abstract

Universities (PT) are complex organizations, due to their internal nature and in response to the demands of globalization and technological development. Leaders and leadership are key factors in the success of an organization in fulfilling its goals. Studies on leadership in university organizations (OPT) in Indonesia is still limited, even though leaders perform their functions depending on context. This means that leadership study from different cultures and other organizations (corporations) may not be readily implemented in private university organizations (OPTS) in Indonesia. A qualitative study on 13 leaders of private universities (PTS) aims to identify the leadership characteristics of private university organizations (OPTS); specifically, by portraying leadership functions and leadership styles played by individuals who are active leaders private universities (PTS). The phenomenological qualitative study conducted using grounded analysis presents a conceptual model with three important characteristics: (1) academic leadership; (2) community leadership; and (3) corporate leadership. The interpretation of academic leadership and community leadership relates to the tri dharma (three pillars) of universities (PT), for which the view has not been solidified among the participants at the institutional and individual levels. Meanwhile, from corporate leadership emerges several interpretations related to the adoption of performance-based strategy, succession planning, and qualifications. Facing extremely competitive external challenges, leaders of universities (PT) can consider Systems Theory framework that look at the internal components of organizations holistically, rather than part by part, such that unique leadership characteristics would emerge, such as entrepreneurial leadership with the interpretation of tri dharma that is not merely limited to the dichotomy between research and teaching universities. Perguruan tinggi (PT) merupakan organisasi yang kompleks, baik karena natur internal maupun akibat tuntutan sebagai dampak dari perkembangan teknologi dan globalisasi. Pemimpin dan kepemimpinan merupakan faktor kunci akan keberhasilan organisasi mencapai visinya. Kajian kepemimpinan di organisasi perguruan tinggi (OPT) terutama di Indonesia sangat terbatas, padahal pemimpin berfungsi tergantung pada konteks. Artinya, studi kepemimpinan dari budaya berbeda atau organisasi lain (korporasi) belum tentu dapat diimplementasikan dalam organisasi perguruan tinggi swasta (OPTS) di Indonesia. Studi kualitatif terhadap 13 pemimpin perguruan tinggi swasta (PTS) bertujuan untuk identifikasi karakteristik kepemimpinan di organisasi perguruan tinggi swasta (OPTS); secara spesifik berupa gambaran fungsi pemimpin dan gaya kepemimpinan yang diperankan oleh mereka yang tengah aktif memimpin perguruan tinggi swasta (PTS). Hasil studi kualitatif fenomenologi dengan analisis secara grounded menampilkan model konseptual dengan tiga karakteristik, yakni: (1) kepemimpinan akademik; (2) kepemimpinan komunitas; dan (3) kepemimpinan korporasi. Pemaknaan terhadap kepemimpinan akademik dan kepemimpinan komunitas terkait dengan tri dharma perguruan tinggi (PT), yang pandangannya tidak solid antar partisipan baik pada tataran institusional maupun individual. Sementara pada kepemimpinan korporasi muncul makna terkait adopsi strategi berbasis kinerja, program kaderisasi, dan kualifikasi. Menghadapi tantangan eksternal yang sangat kompetitif, pemimpin perguruan tinggi (PT) dapat mempertimbangkan kerangka systems theory yang melihat komponen internal organisasi secara keseluruhan, bukan bagian demi bagian, sehingga boleh jadi muncul karakteristik kepemimpinan yang unik seperti entrepreneurial dengan pemaknaan terhadap tri dharma yang tidak terbatas pada research atau teaching university semata.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 40 No 2 (2025): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 40, No. 2, 2025) Vol 40 No 1 (2025): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 40, No. 1, 2025) Vol 39 No 2 (2024): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 39, No. 2, 2024) Vol 39 No 1 (2024): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 39, No. 1, 2024) Vol 38 No 2 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 2, 2023) Vol 38 No 1 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 1, 2023) Vol 37 No 2 (2022): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 37, No. 2, 2022) Vol 37 No 1 (2022): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 37, No. 1, 2022) Vol. 36 No. 2 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 2, 2021) Vol. 36 No. 1 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 1, 2021) Vol. 35 No. 2 (2020): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 35, No. 2, 2020) Vol. 35 No. 1 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 35, No. 1, 2019) Vol. 34 No. 4 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 4, 2019) Vol. 34 No. 3 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 3, 2019) Vol. 34 No. 2 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 2, 2019) Vol. 33 No. 4 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 4, 2018) Vol. 34 No. 1 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 1, 2018) Vol. 33 No. 3 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 3, 2018) Vol. 33 No. 2 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 2, 2017) Vol. 33 No. 1 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 1, 2017) Vol. 32 No. 4 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 4, 2017) Vol. 32 No. 3 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 3, 2017) Vol. 32 No. 2 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 2, 2017) Vol. 32 No. 1 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 1, 2016) Vol. 31 No. 4 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 4, 2016) Vol. 31 No. 3 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 3, 2016) Vol. 31 No. 2 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 2, 2016) Vol. 31 No. 1 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 1, 2015) Vol. 30 No. 4 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 4, 2015) Vol. 30 No. 3 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 3, 2015) Vol. 30 No. 2 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 2, 2015) Vol. 30 No. 1 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 1, 2014) Vol. 29 No. 4 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 4, 2014) Vol. 29 No. 3 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 3, 2014) Vol. 29 No. 2 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 2, 2014) Vol. 29 No. 1 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 1, 2013) Vol 28 No 4 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 4, 2013) Vol 28 No 3 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 3, 2013) Vol 28 No 2 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 2, 2013) Vol 28 No 1 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 1, 2012) Vol 27 No 4 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 4, 2012) Vol 27 No 3 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 3, 2012) Vol 27 No 2 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 1, 2012) Vol 27 No 1 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 1, 2011) Vol 26 No 4 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 4, 2011) Vol 26 No 3 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 3, 2011) Vol 26 No 2 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 2, 2011) Vol 26 No 1 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 1, 2010) Vol 25 No 4 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 4, 2010) Vol 25 No 3 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 3, 2010) Vol 25 No 2 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 2, 2010) Vol 25 No 1 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 1, 2009) Vol 24 No 4 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 4, 2009) Vol 24 No 3 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 3, 2009) Vol 24 No 2 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 2, 2009) Vol 24 No 1 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No.1, 2008) Vol 23 No 4 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 4, 2008) Vol 23 No 3 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 3, 2008) Vol 23 No 2 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 2, 2008) Vol 23 No 1 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 1, 2007) Vol 22 No 4 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 4, 2007) Vol 22 No 3 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 3, 2007) Vol 22 No 2 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 2, 2007) Vol 22 No 1 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 1, 2006) Vol 21 No 4 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 4, 2006) Vol 21 No 3 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 3, 2006) Vol 21 No 2 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 2, 2006) Vol 21 No 1 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 1, 2005) Vol 20 No 4 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 4, 2005) Vol 20 No 3 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 3, 2005) Vol 20 No 2 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 2, 2005) Vol 20 No 1 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 1, 2004) Vol 19 No 4 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 4, 2004) Vol 19 No 3 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 3, 2004) Vol 19 No 2 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 2, 2004) Vol 19 No 1 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 1, 2003) Vol 18 No 4 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 4, 2003) Vol 18 No 3 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 3, 2003) Vol 18 No 2 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 2, 2003) Vol 18 No 1 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 1, 2002) Vol 17 No 4 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 4, 2002) Vol 17 No 3 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 3, 2002) Vol 17 No 2 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 2, 2002) Vol 17 No 1 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 1, 2001) Vol 16 No 3 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 3, 2001) Vol 16 No 2 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 2, 2001) Vol 16 No 4 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 4, 201) Vol 16 No 1 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 1, 2000) Vol 15 No 4 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 4, 2000) Vol 15 No 3 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 3, 2000) Vol 15 No 2 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 2, 2000) Vol 15 No 1 (1999): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 1, 1999) Vol 14 No 4 (1999): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 14, No. 4, 1999) Vol 14 No 3 (1999): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 14, No. 3, 1999) More Issue