cover
Contact Name
I Komang Badra
Contact Email
-
Phone
+6285238148283
Journal Mail Official
pdpt.stkipamlapura@gmail.com
Editorial Address
Jalan Ngurah Rai Nomor 35 Amlapura
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Lampuhyang
ISSN : 20870760     EISSN : 27455661     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal LAMPUHYANG Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penjamin Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura. Jurnal LAMPUHYANG terbit dua kali dalam setahun yaitu bulan Januari dan Juli.
Articles 238 Documents
Struktur Dan Ajaran Tattwa Dalam Teks Aji Maya Sandhi Sugiarka, I Gede
Lampuhyang Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v15i2.383

Abstract

Banyaknya Ajaran Agama Hindu yang dituangkan dalam bentuk lontar berhasil disusun oleh penulis/sastrawan merupakan karya sastra yang mendukung dan memperkaya budaya Bali. Salah satu Lontar dari hasil terjemahan adalah Lontar Aji Maya Sandhi, yang inti ajarannya belum dapat dipahami oleh masyarakat secara umum. Disebabkan karena rendahnya minat dan bahasa yang digunakan dalam lontar tersebut memakai bahasa jawa kuno, walaupun ada beberapa lontar yang sudah dialih bahasakan ke dalam bahasa bali maupun bahasa Indonesia, tetapi masyarakat maasih belum mengerti dan paham tentang makna serta ajaran-ajaran yang terkandung dalam lontar tersebut. Maka sebagai kalangan akdemis yang berkecimpung dalam bidang pendidikan khususnya pendidikan Agama Hindu merasa terpanggil dan berminat untuk menggali, mengkaji, serta mengungkap ajaran-ajaran yang terkandung dalam lontar tersebut Rumusan Masalah Bagaimanakah Struktur Forma Teks Aji Maya Sandhi? Bagimanakah Struktur Naratif Teks Aji Maya Sandhi?Ajaran Tattwa apa saja yang terkandung dalam Teks Aji Maya Sandhi? Jenis metode penelitian yang diguakan adalah metode kualitatif .Dalam penelitian sastra, penelitian ini menggunakan metode kualitatif.Penelitian ini menggunakan pendekatan empiris atau metode non ekspirimen, Jenis dan Sumber Data Jenis data yang dipergunakan adalah data kualitatif. Sumber data merupakan penentuan sumber-sumber informasi yang nantinya dapat digunakan dalam menguji hipotesis. Dalam penelitian ini metode yang dipergunakan adalah pencatatan dokumen atau kepustakaan. Penelitian ini dipergunakan metode analisa nos statistik atau pengolahan data secara deskriptif
Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Agama Hindu Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Purwakerthi Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Bamboo Dancing Yanti, Ni Komang Tirta Novi
Lampuhyang Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v15i2.384

Abstract

Penerapan model pembelajaran yang kurang tepat berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa, seperti yang dialami oleh siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Purwakerthi dalam mata pelajaran Agama Hindu. Perlu diterapkan pembelajaran yang inovatif, salah satunya adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe bamboo dancing. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subyek penelitiannya adalah siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Purwakerthi dengan subyek penelitian 29 orang siswa. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode tes digunakan untuk memproleh data hasil belajar Pendidikan Agama Hindu. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe bamboo dancing dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Hindu. Rata-rata hasil belajar Pendidikan Agama Hindu siswa dari 73,1 pada awal siklus 1 meningkat menjadi 77,41 diakhir siklus II. Jadi dapat disimpulkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe bamboo dancing hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 4,31. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat diajukan saran kepada pihak-pihak terkait seperti: kepada para pendidik di Sekolah Dasar Negeri 3 Purwakerthi khususnya guru Agama Hindu, untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe bamboo dancing dalam pembelajaran Agama Hindu, lebih meningkatkan pengelolaan pembelajaran dengan menggunakan metode yang variatif, dan berusaha untuk menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe bamboo dancing pada mata pelajaran lain karena terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Harmoni Tri Hita Karana Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar Jatiyasa, I Wayan
Lampuhyang Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v15i2.386

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana Tri Hita Karana diterapkan dan bagaimana hal itu berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan di sekolah dasar. Studi ini bersifat kualitatif. Jenis purposive sampling digunakan untuk memilih subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan kuesioner. Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik jenis statistik deskriptif, menggunakan pendekatan yang disebutkan oleh Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai Tri Hita Karana dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang luas dan harmonis, mendukung peningkatan kualitas pendidikan di sekolah dasar, dan memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Parahyangan, pawongan, dan palemahan adalah tiga komponen utama yang memengaruhi kepala sekolah, guru, pegawai, dan siswa.
Tradisi Megibung Di Kabupaten Karangasem Kajian Folklor Putra Gotama, Putu Andyka Andyka; Artika, I Wayan; Artawan, Gde; Paramarta, , I Ketut
Lampuhyang Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v15i2.387

Abstract

Hadirnya revolusi industri 4.0 tidak hanya berdampak pada perubahan kemajuan teknologi, namun juga berdampak pada kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Dampak tersebut mengakibatkan bergesernya nilai-nilai dari beberapa kebudayaan. Pergeseran ini terjadi di seluruh pulau di Indonesia, salah satunya adalah Bali. Setiap kabupaten di Bali sangat kaya dengan tradisi begitu pula halnya dengan Kabupaten Karangasem. Salah satu tradisinya adalah tradisi megibung. Walaupun tradisi megibung ini sarat akan nilai-nilai yang baik, namun seiring perkembangan zaman sekarang ini, tradisi megibung sudah mulai tergantikan posisinya dengan prasmanan. Hal ini disebabkan karena adanya anggapan terhadap nilai-nilai negatif dari tradisi megibung yang mengakibatkan munculnya resistensi dari tradisi tersebut. Oleh karena itu, dalam hal ini akan dibahas mengenai konsep dasar tradisi megibung dan nilai positif, serta negatif dari tradisi megibung. Selanjutnya penelitian ini menggunakan pendekatan empiris. Sementara itu, penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian kualitatif. Metode penentuan subjek yang dipakai dalam penelitian ini adalah sampling nonprobability dengan jenis purposive sampling (sampling yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu). Metode pengumpulan data yang dipakai adalah wawancara dan studi kepustakaan. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara induktif mulai dari Reduksi data, klasifikasi data, display data, interpretasi data, dan penarikan Kesimpulan. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini adalah dapat disimpulkan bahwa megibung memiliki konsep dasar adalah makan bersama. Ada beberapa tata tertib yang mesti diikuti dalam proses megibung yaitu mulai menikmati hidangan ketika sudah dipersilakan oleh pemilik hajatan, tidak boleh mengambil makanan yang berada di depan seseorang, anggota terdiri atas 6-8 orang dalam satu kelompok, memulai dan mengakhiri proses megibung dilakukan bersama-sama, dan dipimpin oleh orang yang dituakan di kelompok tersebut. Tradisi megibung sarat akan nilai-nilai positif, diantaranya adalah nilai kebersamaan, gotong royong, kedisiplinan, demokrasi, toleransi, kekeluargaan, dan religius. Selain nilai positif tersebut di atas, megibung juga memiliki nilai negatif bagi sebagian masyarakat. Nilai negatif ini menyebabkan munculnya resistensi yang mengakibatkan tradisi megibung ini mulai bergeser ke prasmanan. Nilai negatif tersebut antara lain adalah……….
Peningkatan Motivasi Berprestasi Dan Prestasi Belajar Ipas Melalui Pembelajaran Kontekstual Handayani, Ni Nyoman Lisna
Lampuhyang Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v15i2.388

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis perbedaan motivasi berprestasi dan prestasi belajar IPAS antara yang mengikuti pembelajaran kontekstual dengan peserta didik yang mengikuti pembelajaran konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan Pretest-Posttest Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas 1V SDN 1 Banyuning. Sampel diambil dengan cara random sampling. Data motivasi berprestasi peserta didik diukur dengan menggunakan kuesioner motivasi berprestasi. Data prestasi belajar IPAS peserta didik diukur dengan menggunakan tes prestasi belajar. Data yang terkumpul dianalisis dengan Manova. Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, motivasi siswa yang belajar dengan pembelajaran kontekstual secara signifikan lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional (F= 6,804; p<0,05). Kedua, prestasi belajar IPAS siswa yang belajar dengan pembelajaran kontekstual secara signifikan lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional (F= 15,034; p<0,05). Ketiga, secara simultan motivasi dan prestasi belajar IPAS antara siswa yang belajar dengan pembelajaran kontekstual secara signifikan lebih baik daripada siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional
Keberadaan Panca Aksara, Dasa Aksara Dalam Aksara Bali Persepektif Antropologi Budaya Sukayasa, I Komang
Lampuhyang Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v15i2.389

Abstract

Penelitian ini menganalisis keberadaan Panca Aksara dan Dasa Aksara dalam Aksara Bali dari perspektif antropologi budaya. Panca Aksara (a, i, u, e, o) dan Dasa Aksara (ka, ca, ta, pa, ya, wa, sha, sa, ha, nga) merupakan huruf-huruf dasar yang membentuk sistem tulisan bahasa Bali. Dalam konteks antropologi budaya, aksara Bali tidak hanya dianggap sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol-simbol yang mengandung makna kultural dan spiritual yang dalam dalam kehidupan masyarakat Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi budaya untuk menjelaskan bagaimana Panca Aksara dan Dasa Aksara tercermin dalam aspek-aspek kehidupan masyarakat Bali, termasuk dalam simbolisme, mitologi, praktik keagamaan, dan tradisi kebudayaan. Analisis ini juga melibatkan konsep-konsep seperti identitas budaya, ritual, dan pengetahuan lokal untuk memahami peran serta makna dari aksara-aksara ini dalam konteks budaya masyarakat Bali.
Implementasi Kurikulum Merdeka Berorientasi Literasi Proyek Profil Pelajar Pancasila Untuk Meningkatkan Karakter Siswa Sd Muliastrini ., Ni Ketut Erna
Lampuhyang Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v15i2.390

Abstract

Saat ini dunia pendidikan sedang dihadapkan pada kondisi dimana siswa mengalami degradasi terhadap nilai-nilai Pancasila. Hal ini dibuktikan dengan adanya berbagai kasus penyimpangan seperti tawuran, perundugan, pelecehan, dan berbagai permasalahan asusila lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kurikulum merdeka berorientasi proyek profil pelajar Pancasila di sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Subjek dalam penelitan ini yaitu kepala sekolah, guru kelas, dan siswa Sekolah Dasar. Instrumen pengumpulan data menggunakan instrument nin kognitif berupa kuesioner. Teknik analisis data meliputi pengumpulan data, reduksi, penyajian, dan simpulan. Hasil penelitian pada setiap aspek diproleh hasil sebagai berikut. 1). Aspek beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa memiliki persentase skor sebesar 86%. 2). Aspek berkebhinekaan global memiliki persentase sebesar 82%. 3). Aspek gotong royong memiliki persentase sebesar 80%. 4). Aspek kemandirian memiliki persentase sebesar 82%. 5). Aspek berpikir kritis memiliki persentase sebesar 77%, dan 6). Aspek reatif memiliki persentase sebesar 79%. Dengan demikian, implementasi kurikulum merdeka berorientasi profil pelajar Pancasila dapat meningkatkan karakter siswa sekolah dasar.
Penguatan Literasi Dasar Dalam Implementasi Merdeka Belajar Di Sekolah Dasar Yanik Yasmini, Wayan; Ardhiani, Gusti Ayu Nanik; Dumaini, Ni Kadek Depi; Widiastika, I Gede
Lampuhyang Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v15i2.391

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terkait penguatan literasi dan numerasi yang dapat dilakukan untuk mendukung pemerintah dalam kebijakan merdeka belajar di Sekolah Dasar. Metode yang digunakan adalah metode studi pustaka, yaitu memperoleh data, bahan dan rujukan dari berbagai sumber seperti buku, artikel, hasil penelitian, dan peraturan pemerintah yang berhubungan dengan kebijakan merdeka belajar dan penguatan literasi numerasi di Sekolah Dasar. Mewujudkan merdeka belajar melalui kebijakan pemerintah selain memfokuskan pada karakter namun juga proses pembelajaran dalam evaluasi berupa asesmen (AKM) dalam upaya memperkuat literasi dan numerasi dapat dilakukan dengan menerapkan budaya literasi dan numerasi di sekolah, pembentukan team literasi sekolah (TLS), melibatkan pihak ketiga, menggerakkan komunitas praktisi dan juga menjalankan program-program sekolah yang melibatkan peserta didik secara langsung untuk penguatan literasi dan numerasi. Literasi dan numerisasi menjadi kompetensi minimum atau kompetensi dasar yang dibutuhkan peserta didik untuk bisa belajar. Pelaksanaan asesmen tersebut akan dilakukan oleh peserta didik yang berada di tengah jenjang sekolah, sehingga dapat mendorong guru dan sekolah untuk memperbaiki mutu pembelajaran.