cover
Contact Name
Jauhar Khabibi
Contact Email
jauhar_khabibi@yahoo.com
Phone
+6282213390515
Journal Mail Official
jurnalsilvatropika@unja.ac.id
Editorial Address
Kampus Pinang Masak Universitas Jambi Jl. Raya Jambi-Muara Bulian, KM 15 Mendalo Indah Kode Pos 36361
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Jurnal Silva Tropika
Published by Universitas Jambi
ISSN : 26158353     EISSN : 26214113     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
The tropical forest has a unique feature. Its biological and ecological diversity relies on a very complex and interrelated system. Managing the forest sustainably required a wide application in multiple scientific disciplines. Jurnal Silva Tropika is a periodic scientific article and conceptual thinking of tropical forest management covering all aspects of forest planning, forest policy, forest resources utilization, forest ergonomics, forest ecology, forest inventory, silviculture, and management of regional ecosystems. Jurnal Silva Tropika also welcomes the topics that directly or indirectly support tropical forest management, e.g., economics, anthropology, social, and the environment.
Articles 120 Documents
SIFAT FISIS KAYU MEDANG SEREH BERDASARKAN POSISI BATANG DAN BAGIAN KAYU TERAS DAN QUBAL: Physical Properties of Citronella Wood Based on the Position of the Trunk and the Heartwood and Sapwood Riana Anggraini; Rahma Nur Komariah; Ana Agustina
Jurnal Silva Tropika Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jsilvtrop.v6i1.23472

Abstract

ABSTRACT Research on the introduction of medang wood is still limited, so it encourages to carry out research on types of medang wood such as the type of lemongrass medang wood which is a type of commercial wood from Jambi Province. One of the properties of wood that can be a reference in identifying lemongrass medang wood is the physical properties of wood based on the position of the trunk (base, middle and tip). This activity of identifying lemongrass medang wood will make it easier to identify the type of lemongrass medang wood with other types of medang wood. In addition, it will simplify the process of work and the purpose of using this type of wood. In connection with the above, this study was conducted which aimed to determine the physical properties of lemongrass medang wood in the position of the trunk (base, middle and end) and the heartwood and qubal. The physical properties of wood for fresh moisture content in heartwood at the base have the highest value of 84.43%, but have the lowest density and specific gravity values of 0.62 g / cm3 and 0.55. Based on the position of the wood in the trunk, the wood at the base has the lowest volume development and depreciation values of 9.75% and 10.50%. Timber at the end position has the highest development and depreciation values of 11.81% and 11.94%. The position of the wood on the trunk has an influence on fresh moisture content and volume development but does not affect the type of wood.   Keywords: heartwood, medang wood, physical properties, position of the trunk, sapwood   ABSTRAK Penelitian mengenai pengenalan kayu medang masih terbatas, sehingga mendorong untuk melaksanakan penelitian mengenai jenis kayu medang seperti jenis kayu medang sereh yang merupakan jenis kayu komersial dari Provinsi Jambi. Salah satu sifat kayu yang dapat menjadi acuan dalam mengidentifikasi kayu medang sereh ini adalah sifat fisis kayu berdasarkan posisi batang (pangkal, tengah dan ujung). Kegiatan identifikasi kayu medang sereh ini, maka akan mempermudah dalam pengenalan jenis kayu medang sereh dengan jenis kayu medang lainnya. Selain itu, akan mempermudah proses pengerjaan dan tujuan penggunaan jenis kayu tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui sifat fisis kayu medang sereh pada posisi batang (pangkal, tengah dan ujung) dan bagian kayu teras dan qubalnya. Sifat fisis kayu untuk kadar air segar pada kayu teras di bagian pangkal memiliki nilai tertinggi yaitu 84,43%, akan tetapi memiliki nilai kerapatan dan berat jenis terendah yaitu 0,62 g/cm3 dan 0,55. Berdasarkan posisi kayu dalam batang, kayu pada bagian pangkal memiliki nilai pengembangan dan penyusutan volume terendah yaitu 9,75% dan 10,50%. Kayu pada posisi ujung memiliki nilai pengembangan dan penyusutan tertinggi yaitu 11,81% dan 11,94%. Posisi kayu pada batang memiliki pengaruh terhadap kadar air segar dan pengembangan volume akan tetapi tidak berpengaruh terhadap tipe kayu.   Katakunci: kayu medang, posisi batang, qubal, teras
SCREENING ANTAGONISTIK ACTINOBACTERIA SEBAGAI AGEN BIOKONTROL TERHADAP Ganoderma boninense : Screening of antagonistic actinobacteria as biocontrol agent against Ganoderma boninense Hasnaul Maritsa; Hesti Riany
Jurnal Silva Tropika Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jsilvtrop.v6i1.23471

Abstract

ABSTRACT Actinobacteria (Actinomycetes) is a unique group among microbe and prokaryotes. They have both characteristics of fungi and bacteria. Actinobacteria could produce a wide range of secondary metabolites such as antibiotics, antifungal, antiprotozoal, antiviral, anticholesterol, antihelminth, anticancer, and immunosuppressant. It may cause a better combination as a biocontrol agent for plants. This research aimed to investigating potential actinomycetes as biocontrol agents of fungal plant pathogens, especially Ganoderma boninense. The method in this research consists of a few steps. Those are samples collection from soil and water in the primer forest and plantation soil (palm oil), samples isolation, actinobacteria characterization, and evaluation of the antifungal activity. The result has shown that 29 fungal isolates were found in this study. The percent growth inhibition (PGI) of actinobacteria isolates variated from 0-81,58%. And their inhibition mechanisms were antibiosis and competition. Keywords: actinomycetes, antimicrobial, fungal plant pathogen   ABSTRAK Actinobacteria (Actinomycetes) adalah kelompok unik dari kelompok mikroba dan prokariota. Actinobacteria memiliki karakteristik jamur dan bakteri dan dapat menghasilkan berbagai metabolit sekunder seperti antibiotik, antijamur, antiprotozoal, antivirus, antikolesterol, antihelminth, antikanker, serta imunosupresan. Kemampuanya ini dapat dimanfaatkan untuk campuran pada agen biokontrol tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi aktinomisetes sebagai agen biokontrol jamur patogen tanaman, khususnya Ganoderma boninense. Metode dalam penelitian ini terdiri dari beberapa langkah, yaitu pengambilan sampel dari tanah dan air di hutan primer dan tanah perkebunan (kelapa sawit), isolasi sampel, karakterisasi aktinobakteri, dan evaluasi aktivitas antijamur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 29 isolat jamur yang ditemukan. Persentase hambatan pertumbuhan (PGI) isolat aktinobakteri bervariasi antara 0-81,58%. Dan mekanisme penghambatannya adalah antibiosis dan kompetisi.  Kata kunci: actinomycetes, antimikroba, jamur patogen tanaman
Pengaruh Perlakuan Microwave terhadap Karakteristik Kayu Randu (Ceiba pentandra (L) Gaertn.: The Influence of Microwave Treatment on The Characteristics of Randu (Ceiba pentandra (L) Gaertn.) Wood Anggiriani, Siska; Nurhanifah, Nurhanifah; Sutiawan, Jajang
Jurnal Silva Tropika Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jsilvtrop.v6i2.23765

Abstract

ABSTRACT Randu (Ceiba pentandra (L) Gaertn.) wood is one of the fast-growing species which has low density. Wood modification by microwave (MW) treatment were conducted to improve its quality. The aim of this work was to evaluate the effect of microwave treatment on the characteristics (physical properties, wood discoloration, and wettability) of Randu wood. Microwave treatment for 0.5 and 1 minute were applied for Randu wood. The evaluation of wood discoloration, wettability, and physical properties include moisture content, specific gravity, swelling, and anti-swelling efficiency (ASE) were measured.  Wood discoloration and wettability of untreated and treated sample were measured. The results showed that microwave treatment was reduce the swelling, wettability and cause discoloration. Microwave treatment not significantly affected moisture content and specific gravity of treated wood. Microwave treatment increased contact angle than untreated, and 0.5 minutes microwave treatment caused significant discoloration than 1 minutes microwave treatment and untreated sample. The MW treatment indicated to increase the hydrophobicity of Randu wood.   Keywords: discoloration, microwave, randu, wettability.   ABSTRAK Kayu randu (Ceiba pentandra (L) Gaertn.) merupakan salah satu jenis kayu cepat tumbuh yang memiliki kerapatan rendah. Modifikasi kayu dengan perlakuan microwave (MW) dilakukan untuk meningkatkan kualitasnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh perlakuan microwave terhadap karakteristik (sifat fisik, perubahan warna kayu, dan keterbasahan) kayu Randu. Perlakuan microwave selama 0.5 dan 1 menit diaplikasikan pada kayu randu. Pengujian yang dilakukan yaitu perubahan warna kayu, keterbasahan, dan sifat fisis yang meliputi kadar air, berat jenis, pengembangan, dan anti-swelling efficiency (ASE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan microwave mengurangi pengembangan, keterbasahan dan menyebabkan perubahan warna. Perlakuan microwave tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air dan berat jenis kayu. Perlakuan gelombang mikro meningkatkan sudut kontak dibanding kontrol, dan perlakuan microwave 0.5 menit menyebabkan perubahan warna yang signifikan dibanding microwave 1 menit dan tanpa perlakuan. Perlakuan MW dapat meningkatkan hidrofobisitas kayu randu.  Katakunci: keterbasahan, microwave, randu, perubahan warna.
Perilaku Stereotip Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) Dalam Masa Rehabilitasi Pada Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (Pr-Hsd) Arsari Sumatera Barat: Stereotypical Behavior of Sumatran Tiger (Panthera tigris sumatrae) During the Rehabilitation Period at The Sumatran Tiger Rehabilitation Center Dharmasraya (PR-HSD) ARSARI Sumatera Barat Wulan, Cory; Putri, Nia; Khabibi, Jauhar
Jurnal Silva Tropika Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jsilvtrop.v6i2.24567

Abstract

ABSTRACT Animal activity is an activity carried out by animals consisting of several behaviors. Behavior is animal movements that are influenced by the relationship between the animal and its environment that occurs repeatedly, so that it becomes a characteristic of the animal. During the rehabilitation period, animals experience changes in their habitat and other behavioral changes. This study aims to analyze the stereotypical activity of the Sumatran tiger (Panthera tigris sumatrae) during the rehabilitation period at the Sumatran Tiger Rehabilitation Center which is included in the Appendix I category in CITES with critically endangered status causing (Panthera tigris sumatrae) to be conserved ex-situ. Research on stereotypical activities of Sumatran tigers was conducted at the ARSARI Sumatran Tiger Rehabilitation Center (PR-HSD) in West Sumatra. The object of this research is a male tiger (Putra Singgulung) and a tigress (Ria). The method used is focal animal sampling. The results obtained in a study of the stereotypical activity of two Sumatran tigers in ex-situ habitat at PR-HSD were female Sumatran tigers (35.25%) and male Sumatran tigers (36.21%) (Putra singgulung). The most frequently seen activities were resting behavior (55.88%) in female Sumatran tigers (Ria) and (55.88%) in male Sumatran tigers (Putra singgulung). Research on stereotypical Sumatran tiger activities is expected to become basic data for the conservation management of the Sumatran tiger (Panthera tigris sumatrae) at the Dharmasraya Sumatran Tiger Rehabilitation Center (PR-HSD) ARSARI, West Sumatra.   Keywords: sumatran tiger (panthera tigris sumatae), ex-situ conservation, stereotyping activity   ABSTRAK Aktivitas satwa merupakan kegiatan yang dilakukan oleh satwa terdiri dari beberapa perilaku. Perilaku merupakan gerak-gerik hewan yang dipengaruhi oleh hubungan antara hewan dengan lingkungannya yang terjadi berulang-ulang, sehingga menjadi ciri dari satwa tersebut. Pada masa rehabilitasi satwa mengalami perubahan habitat dan perubahan perilaku lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas stereotip harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dalam masa rehabilitasi pada Pusat Rehabilitasi Harimau sumatera termasuk dalam kategori Appendix I dalam CITES dengan status critically endangered menyebabkan (Panthera tigris sumatrae) dikonservasi secara ex-situ. Penelitian tentang aktivitas stereotip harimau sumatera dilakukan pada Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PR-HSD) ARSARI Sumatera Barat. Objek pada penelitin ini yaitu seekor harimau jantan (Putra Singgulung) dan seekor harimau betina (Ria). Metode yang digunakan yaitu focal animal sampling. Hasil yang didapatkan pada penelitian mengenai aktivitas stereotip dua harimau sumatera pada habitat ex-situ di PR-HSD yaitu pada harimau sumatera betina (Ria) (35.25%) dan (36.21%) harimau sumatera jantan (Putra singgulung). Aktivitas aktivitas yang paling sering terlihat yaitu perilaku istirahat (55.88%) pada harimau sumatera betina (Ria) dan (55.88%) pada harimau sumatera jantan (Putra singgulung). Penelitian aktivitas stereotip harimau sumatera diharapkan menjadi data dasar untuk manajemen konservasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PR-HSD) ARSARI Sumatera Barat.   Kata kunci: harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), konservasi ex-situ, aktivitas stereotip
Persen Hidup Tanaman pada Area Showing Window Revegetasi Lahan Gambut Bekas Terbakar di HLG Londerang : Plant Survival Rate at Revegetation Showing Window Area Of Burned Peatland In Hlg Londerang Napitupulu, Richard RP
Jurnal Silva Tropika Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jsilvtrop.v6i2.24572

Abstract

ABSTRACT Forest and peatland fires in Jambi leave a very large degraded peat area, one of which is in the Londerang Peat Protection Forest (HLG), which mostly leaves empty peatlands with severe damage. Rehabilitation efforts have been carried out by The Korea Indonesia Forest Center (KIFC) through planting activities covering an area of 200 ha. The purpose of the study was to determine the survival rate of rehabilitation plants in the showing window area. A total of 6 (six) measuring plots were placed in the showing window area along the main inpection road of the rehabilitation area. Each measuring plot is made 25 m x 40 m so that the area is 0.1 ha. Measurement data include the number of living plants, plant height and plant diameter. The results showed that the survival rate of rehabilitation plant in the showing window area was 100%. Rehabilitation plant growth was also very good with the average height and diameter of Dyera lowii respectively 58.91 cm and 13.44 mm, Alstonia penumatophora 70.38 cm and 12.77 mm, and Shorea balangeran 56.04 cm and 4.66 mm.   Keywords: rehabilitation, peat, Dyera lowii, Alstonia penumatophora, Shorea balangeran   ABSTRAK Kebakaran hutan dan lahan gambut di Jambi menyisakan gambut terdegradasi yang sangat luas, salah satunya di Hutan Lindung Gambut (HLG) Londerang, yang sebahagian besar menyisakan lahan gambut kosong dengan tingkat kerusakan parah. Telah dilakukan upaya rehabilitasi oleh Korea Indonesia Forest Center (KIFC) melalui kegiatan penanaman seluas 200 ha. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui seberapa besar persen hidup (survival rate) tanaman rehabilitasi pada area showing window. Sebanyak 6 (enam) petak ukur ditempatkan pada area showing window di sepanjang jalan inpeksi utama areal rehabilitasi. Setiap petak ukur dibuat berukuran 25 m x 40 m sehingga luasannya 0,1 ha. Data pengukuran meliputi jumlah tanaman yang hidup, tinggi tanaman dan diameter tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman rehabilitasi pada area showing window memiliki persen hidup 100%. Pertumbuhan tanaman rehabilitasi juga sangat baik dengan rerata tinggi dan diameter jelutung rawa 58,91 cm dan 13,44 mm, pulai rawa 70,38 cm dan 12,77 mm, serta balangeran 56,04 cm dan 4,66 mm.   Kata Kunci: rehabilitasi, gambut, pulai rawa, jelutung rawa, balangeran
Analisis Kelayakan Ekowisata Wisata Alam Danau Sigombak Desa Teluk Kembang Jambu Kabupaten Tebo Provinsi Jambi: Feasibility Analysis of Natural Tourism Sigombak Lake Teluk Kembang Jambu Village Tebo Districy Jambi Province Rahmad, Rahmad Nurmansah; Fazriyas, Fazriyas; Rosanti, Elda
Jurnal Silva Tropika Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jsilvtrop.v6i2.22536

Abstract

ABSTRACT Ecotourism is a tourist trip to areas where the natural environment is still pristine by respecting their cultural and natural heritage. Lake Sigombak Nature Tourism is located in Teluk Kembang Jambu Village, Tebo Regency, and has a natural tourist attraction in the form of a lake with an island in the middle but it also has a cultural tourism attraction. Lake Sigombak Tourism Management cannot be separated from the lack of coordination from related stakeholders, so that the development plan and management of Lake Sigombak tourism cannot be carried out properly, it is necessary to conduct research on Feasibility Analysis of Ecotourism for Lake Sigombak Nature Tourism. This type of research is descriptive qualitative which was conducted for one month, in Teluk Kembang Jambu Village, Tebo Regency. Data collection techniques were carried out by direct observation, interviews, and documentation. The sample of this research is the visitors of Lake Sigombak Nature Tourism taken by using the Accidental Sampling method. Data analysis used descriptive qualitative techniques. Based on the results of research based on ODTWA, the Lake Sigombak Nature Tourism Area got an average index value of 64.64% of the average overall criteria. Attractiveness gets a score of 64.15%. Accessibility scored 67.86%, accommodation 33.33%, supporting facilities and infrastructure 87.93%, conditions around the area scored 65.09%, water and environmental conditions 82.99%, and marketing 51.15%. Overall, the Lake Sigombak Ecotourism area is declared unfit for development, so there is still a lot that needs to be improved, seeing the tourism conditions found in the Lake Sigombak Nature Tourism area. Keywords: Ecotourism, Lake Sigombak Nature Tourism, Natural Tourism Attractions (NTA).   ABSTRAK Ekowisata adalah perjalanan wisata ke wilayah-wilayah yang lingkungan alamnya masih asli dengan menghargai warisan budaya dan alamnya. Wisata Alam Danau Sigombak terletak di Desa Teluk Kembang, Jambu, Kabupaten Tebo, dan memiliki daya tarik wisata alam berbentuk Danau dengan Pulau ditengahnya selain itu juga memiliki daya tarik Wisata Budaya. Pengelolaan Wisata Danau Sigombak tak lepas dari kurangnya kordinasi dari stake holder terkait, sehingga rencana pembangunan dan pengelolaan wisata Danau Sigombak tidak mampu terlaksana dengan baik, maka perlu dilakukan penelitian mengenai Analisis Kelayakan Ekowisata Wisata Alam Danau Sigombak. Jenis penelitian ini adalah Kualitatif Deskriftif yang dilakukan selama satu bulan, di Desa Teluk Kembang Jambu, Kabupaten Tebo. Teknik pengambilan data dilakukan dengan Observasi secara Langsung, Wawancara, dan Dokumentasi. Sampel penelitian ini adalah pengunjung Wisata Alam Danau Sigombak yang diambil dengan menggunakan metode Accidental Sampling. Analisis data menggunakan teknik kualitatif deskriftif. Berdasarkan hasil penelitian yang berpedoman pada ODTWA, Kawasan Wisata Alam Danau Sigombak mendapatkan nilai indeks rata rata 64,64% dari rata rata keseluruhan kriteria. Daya tarik mendapatkan nilai sebesar 64,15%. Aksesibilitas mendapatkan nilai sebesar 67,86%, Akomodasi sebesar 33,33%, sarana dan prasarana penunjang sebesar 87,93%, kondisi sekitar kawasan mendapatkan nilai sebesar 65.09%, kondisi air dan lingkungan sebesar 82.99%, dan pemasaran mendapatkan nilai sebesar 51.15%. Secara keseluruhan kawasan Ekowisata Danau Sigombak dinyatakan belum layak dikembangkan, sehingga masih sangat banyak yang perlu diberbaiki, melihat kondisi Wisata yang ditemukan di kawasan Wisata Alam Danau Sigombak. Kata kunci: Ekowisata, Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA), Wisata Alam Danau Sigombak ABSTRACT Ecotourism is a tourist trip to areas where the natural environment is still pristine by respecting their cultural and natural heritage. Lake Sigombak Nature Tourism is located in Teluk Kembang Jambu Village, Tebo Regency, and has a natural tourist attraction in the form of a lake with an island in the middle but it also has a cultural tourism attraction. Lake Sigombak Tourism Management cannot be separated from the lack of coordination from related stakeholders, so that the development plan and management of Lake Sigombak tourism cannot be carried out properly, it is necessary to conduct research on Feasibility Analysis of Ecotourism for Lake Sigombak Nature Tourism. This type of research is descriptive qualitative which was conducted for one month, in Teluk Kembang Jambu Village, Tebo Regency. Data collection techniques were carried out by direct observation, interviews, and documentation. The sample of this research is the visitors of Lake Sigombak Nature Tourism taken by using the Accidental Sampling method. Data analysis used descriptive qualitative techniques. Based on the results of research based on ODTWA, the Lake Sigombak Nature Tourism Area got an average index value of 64.64% of the average overall criteria. Attractiveness gets a score of 64.15%. Accessibility scored 67.86%, accommodation 33.33%, supporting facilities and infrastructure 87.93%, conditions around the area scored 65.09%, water and environmental conditions 82.99%, and marketing 51.15%. Overall, the Lake Sigombak Ecotourism area is declared unfit for development, so there is still a lot that needs to be improved, seeing the tourism conditions found in the Lake Sigombak Nature Tourism area. Keywords: Ecotourism, Lake Sigombak Nature Tourism, Natural Tourism Attractions (NTA).   ABSTRAK Ekowisata adalah perjalanan wisata ke wilayah-wilayah yang lingkungan alamnya masih asli dengan menghargai warisan budaya dan alamnya. Wisata Alam Danau Sigombak terletak di Desa Teluk Kembang, Jambu, Kabupaten Tebo, dan memiliki daya tarik wisata alam berbentuk Danau dengan Pulau ditengahnya selain itu juga memiliki daya tarik Wisata Budaya. Pengelolaan Wisata Danau Sigombak tak lepas dari kurangnya kordinasi dari stake holder terkait, sehingga rencana pembangunan dan pengelolaan wisata Danau Sigombak tidak mampu terlaksana dengan baik, maka perlu dilakukan penelitian mengenai Analisis Kelayakan Ekowisata Wisata Alam Danau Sigombak. Jenis penelitian ini adalah Kualitatif Deskriftif yang dilakukan selama satu bulan, di Desa Teluk Kembang Jambu, Kabupaten Tebo. Teknik pengambilan data dilakukan dengan Observasi secara Langsung, Wawancara, dan Dokumentasi. Sampel penelitian ini adalah pengunjung Wisata Alam Danau Sigombak yang diambil dengan menggunakan metode Accidental Sampling. Analisis data menggunakan teknik kualitatif deskriftif. Berdasarkan hasil penelitian yang berpedoman pada ODTWA, Kawasan Wisata Alam Danau Sigombak mendapatkan nilai indeks rata rata 64,64% dari rata rata keseluruhan kriteria. Daya tarik mendapatkan nilai sebesar 64,15%. Aksesibilitas mendapatkan nilai sebesar 67,86%, Akomodasi sebesar 33,33%, sarana dan prasarana penunjang sebesar 87,93%, kondisi sekitar kawasan mendapatkan nilai sebesar 65.09%, kondisi air dan lingkungan sebesar 82.99%, dan pemasaran mendapatkan nilai sebesar 51.15%. Secara keseluruhan kawasan Ekowisata Danau Sigombak dinyatakan belum layak dikembangkan, sehingga masih sangat banyak yang perlu diberbaiki, melihat kondisi Wisata yang ditemukan di kawasan Wisata Alam Danau Sigombak. Kata kunci: Ekowisata, Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA), Wisata Alam Danau Sigombak
Pengaruh Jenis Finir Dan Jumlah Perekat Terhadap Kualitas Plywood Interior : Effect of Veneer Type and Amount of Adhesive on Plywood Face Coating Nurmadina, Nurmadina; Wijayanto, Arip; Widiyanto, Wahyu; Nugroho, Alfani Risman; Purwanto, Agung Ari
Jurnal Silva Tropika Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jsilvtrop.v6i2.23788

Abstract

Utilization of composite boards for furniture has been widely used in order to substitute solid wood. Coating veneer (veneering) is a technique to improve the appearance of composite panel products, such as plywood. This research was conducted to determine the effect of the type of veneer and the mass of adhesive lath on the physical and mechanical properties of veneering plywood. The veneer used are from teak, mahogany and mindi. The adhesive used was polyvinyl acetate (PVAc) with a melting weight of 130 g/m2, 150 g/m2, 170 g/m2. The results showed that the type of veneer had no effect on the physical and mechanical properties of the composite board. The physical properties in the form of density are affected by the weight of the adhesive, the higher the amount of adhesive, the higher the density. Veneer delamination with glue spread of 150 and 170 g/m2 complies with JAS Type 2 standards. Veneer composite products with PVAc adhesives can be used in interior areas where there is frequent short term exposure to water.   Keywords: adhesive, glue spread, plywood, veneer   ABSTRAK Pemanfaatan plywood untuk furnitur telah banyak digunakan dalam rangka mensubtitusi kayu pejal. Veneering merupakan suatu teknik pelapisan permukaan untuk meningkatkan penampilan panel misalnya pada plywood. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh jenis finir dan berat labur perekat terhadap sifat fisika dan mekanika veneering plywood. Finir yang digunakan adalah dari kayu jati, mahoni dan mindi. Perekat yang digunakan adalah polyvinyl asetat (PVAc) dengan berat labur 130 g/m2, 150 g/m2, 170 g/m2 . Hasil penelitian menunjukkan jenis finir tidak berpengaruh terhadap sifat fisika, mekanika papan komposit. Sifat kerapatan dipengaruhi oleh berat labur perekat, yaitu semakin tinggi berat labur maka kerapatan semakin meningkat. Delaminasi veneering dengan berat labur 150 dan 170 g/m2 memenuhi standar JAS Type 2. Produk komposit veneering dengan perekat PVAc dapat digunakan pada interior dan dapat perpapar kelembapan secara singkat.   Katakunci: berat labur, finir, perekat, plywood
Pendekatan Ekosistem Sebagai Kerangka Pengelolaan DAS Batanghari di Jambi-Sumatera: Ecosystem Approach as a Framework for Batanghari Watershed Management in Jambi-Sumatra Aswandi, Aswandi
Jurnal Silva Tropika Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jsilvtrop.v6i2.24847

Abstract

Abstract There is recently an issue; Batanghari watershed degradation and sustaining Batanghari watershed quality in Jambi Province, Indonesia. Watershed degradation and sustaining watershed quality as well as putting ecological point of view upon watershed management, which in turn emerge in term : integrated watershed management, is also a global issue. We aware of the interdependency between land and soil along with all inherent aspects in them and watershed quality and all inherent aspects in it. It has been proved that unwise measures upon land and soil gives undesired impacts on watershed quality. The first damages shall mostly be upon water quality. For the existence of human being and livelihood of most communities depend strongly on soil and water, at least true to happen in developing and under developed countries, it is true then that both soil and water should be regarded as very important natural resources. By this thought managing and sustaining watersheds need an integrated measures for both components: river, landuse-soil through an ecological approach, conditio sine qua none all efforts will end in failure. The main goal of watershed management are to integrate the use of water, soil, forest and other natural resources within watershed into a NOT CONFLICTING dynamic-ecological based management. This goal can be achieved through an implementation of interdependency concept to regional space planning.   Keywords: watershed, river and interdependency   Abstrak Baru-baru ini ada masalah; Degradasi DAS Batanghari dan  Menjaga Kualitas DAS Batanghari di Provinsi Jambi, Indonesia. Degradasi DAS dan mempertahankan kualitas DAS serta menempatkan sudut pandang ekologi pada pengelolaan DAS, yang pada gilirannya muncul dalam istilah: pengelolaan DAS terpadu, juga merupakan isu global. Kami menyadari adanya saling ketergantungan antara tanah dan tanah beserta segala aspek yang melekat di dalamnya dan kualitas DAS serta segala aspek yang melekat di dalamnya. Terbukti bahwa tindakan yang tidak bijaksana terhadap tanah dan tanah memberikan dampak yang tidak diinginkan pada kualitas DAS. Kerusakan pertama sebagian besar terjadi pada kualitas air. Karena keberadaan manusia dan mata pencaharian sebagian besar masyarakat sangat bergantung pada tanah dan air, setidaknya benar terjadi di negara berkembang dan terbelakang, maka benar bahwa tanah dan air harus dianggap sebagai sumber daya alam yang sangat penting. Dengan pemikiran tersebut pengelolaan dan pelestarian DAS memerlukan langkah-langkah yang terintegrasi dari kedua komponen: sungai, tata guna lahan-tanah melalui pendekatan ekologis, conditio sine qua none semua upaya akan berakhir dengan kegagalan. Tujuan utama pengelolaan DAS adalah mengintegrasikan pemanfaatan air, tanah, hutan dan sumber daya alam lainnya di dalam DAS ke dalam suatu pengelolaan berbasis ekologis dinamis yang TIDAK BERKONFLIK. Tujuan ini dapat dicapai melalui implementasi konsep interdependensi dalam perencanaan ruang wilayah.   Kata kunci: DAS, sungai dan interdependensi
Daya Dukung Ekowisata Jalur Pendakian Danau Gunung Tujuh Taman Nasional Kerinci Seblat : The Carrying Capacity Of Ecotourism Hiking Trail Danau Gunung Tujuh National Park Kerinci Seblat Albayudi, Albayudi; Tiola, Iil Sindi
Jurnal Silva Tropika Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jsilvtrop.v6i2.26013

Abstract

ABSTRACT Gunung Tujuh Lake is located in the Kerinci Sebelat National Park (TNKS) area and is a caldera lake formed by past volcanic eruptions with an altitude of ± 1,996 meters above sea level. The uniqueness of Lake Gunung Tujuh is that it is one of the highest lakes in Southeast Asia. According to Law Number 23 of 1997 concerning Environmental Management, the carrying capacity of a tourist area is a certain ability of an area to receive tourists. The capability of the area is the ability of the maximum number of tourists to utilize the area so as not to cause damage or decrease in the quality of the environment. To find out the maximum threshold for the number of visitors, that is by calculating the Real Carrying Capacity (RCC) as well as the Effective Carrying Capacity (ECC). The purpose of this study was to determine the carrying capacity of ecotourism hiking trails on the Gunung Tujuh lake by calculating the capacity of people who can visit a tourist area effectively. The analysis of the data used in the research on the carrying capacity of Gunung Tujuh tourism is a qualitative method. to determine the maximum number of visits to an area which is based on physical conditions and management conditions in the area, considering three main levels namely: physical carrying capacity (Physical Carrying Capacity/PCC), real carrying capacity (Real Carrying Capacity/RCC) and carrying capacity-effective support (Effective Carrying Capacity/ECC). The results of the research on the carrying capacity of the Gunung Tujuh hiking trails show that the carrying capacity of tourism for visitors who can travel while still obtaining satisfaction with a PCC value of 240 people/day. The RCC value is 233 people per day. The ECC value is 177 people/day. Where the real capacity value has not exceeded the carrying capacity, it is still a small scale for ecotourism carrying capacity. Keywords :  Capacity, Carrying,  Ecotourisme, Gunun, Tujuh    ABSTRAK Danau Gunung Tujuh terletak pada wilayah Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) dan merupakan danau kaldera yang terbentuk akibat letusan gunung berapi dimasa lampau dengan ketinggian ± 1.996 mdpl. Keunikan dari Danau Gunung Tujuh merupakan salah satu danau tertinggi di Asia Tenggara.  Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup bahwa daya dukung kawasan wisata merupakan kemampuan tertentu suatu kawasan untuk menerima wisatawan. Kemampuan kawasan tersebut merupakan kemampuan jumlah maksimal wisatawan dalam memanfaatkan kawasan sehingga tidak menimbulkan kerusakan atau penurunan kualitas lingkungannya. Untuk mengetahui ambang batas maksimum jumlah pengunjung yaitu dengan menghitung Daya dukung Riil (Real Carrying Capacity/RCC) maupupun Daya Dukung Efektif (Effective Carrying Capacity/ECC). Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya dukung ekowisata jalur pendakian danau Gunung Tujuh dengan mengitung berapa kapasitas orang yang dapat mengunjungi suatu areal wisata tersebut secara efektif. Analisis data yang di gunakan dalam penelitian daya dukung wisata Gunung Tujuh adalah metode kualitatif. untuk menetapkan jumlah kunjungan maksimum suatu area dimana didasarkan pada kondisi fisik dan kondisi-kondisi manajemen pada area, mempertimbangkan tiga tingkatan utama yaitu: daya-dukung fisik (Physical Carrying Capacity/PCC), daya dukung riil (Real Carrying Capacity/RCC) dan daya-dukung efektif (Effevtive Carrying Capac-ity/ECC). Hasil penelitian daya dukung jalur pendakian Gunung Tujuh bahwa daya dukung wisata untuk pengunjung yang dapat melakukan wisata dengan tetap memperoleh kepuasan nilai PCC sebesar 240 orang /hari. Adapun nilai RCC sebesar 233 orang /hari. Untuk nilai ECC yaitu sebesar 177 orang/hari. Dimana nilai daya rill belum melampaui kapasitas dayadukung masih skala kecil untuk daya dukung ekowisata. Kantakunci :  Daya  Dukung,  Ekowisata,  Gunung Tujuh 
Efek Perlakuan Panas Terhadap Perubahan Warna Bambu Sembilang (Dendrocalamus giganteus): Effect of Heat Treatment to Color Change on Sembilang Bamboo (Dendrocalamus giganteus) Nurhanifah, Nurhanifah; Anggiriani, Siska; Sutiawan, Jajang
Jurnal Silva Tropika Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v7i1.23759

Abstract

ABSTRACT Bamboo can be used as an alternative raw material to replace wood. Bamboo is a fast-growing plant that requires quality improvement. One type of bamboo that has not been utilized optimally is sembilang bamboo. Quality improvement can be done through heat modification. Heat treatment can improve the mechanical properties of a material but can cause discoloration. This study aimed to determine the effect of heat treatment on the discoloration of sembilang bamboo. This research was conducted by giving sembilang bamboo heat treatment at 180°C for 3 hours and 6 hours. The results obtained were sembilang bamboo, after heat treatment for 3 hours and 6 hours became darker than the control. The longer the heating time, the greater the value of the color change.   Keywords: color change, heat treatment, sembilang bamboo   ABSTRAK Bambu dapat dijadikan sebagai bahan baku alternatif pengganti kayu. Bambu termasuk tanaman cepat tumbuh yang memerlukan peningkatan kualitas. Salah satu jenis bambu yang belum dimanfaatkan secara optimal adalah bambu sembilang. Peningkatan kualitas dapat dilakukan dengan cara modifikasi panas. Perlakuan panas dapat meningkatkan sifat mekanis suatu bahan namun dapat menyebabkan perubahan warna. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efek perlakuan panas terhadap perubahan warna bambu sembilang. Penelitian ini dilakukan dengan memberikan perlakuan panas pada bambu sembilang dengan suhu 180°C selama 3 jam dan 6 jam. Hasil yang didapatkan adalah bambu sembilang setelah perlakuan panas selama 3 jam dan 6 jam menjadi lebih gelap dibandingkan kontrolnya. Semakin lama waktu pemanasan maka nilai perubahan warnanya semakin besar.   Kata kunci: bambu sembilang, perlakuan panas, perubahan warna

Page 6 of 12 | Total Record : 120