cover
Contact Name
Jauhar Khabibi
Contact Email
jauhar_khabibi@yahoo.com
Phone
+6282213390515
Journal Mail Official
jurnalsilvatropika@unja.ac.id
Editorial Address
Kampus Pinang Masak Universitas Jambi Jl. Raya Jambi-Muara Bulian, KM 15 Mendalo Indah Kode Pos 36361
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Jurnal Silva Tropika
Published by Universitas Jambi
ISSN : 26158353     EISSN : 26214113     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
The tropical forest has a unique feature. Its biological and ecological diversity relies on a very complex and interrelated system. Managing the forest sustainably required a wide application in multiple scientific disciplines. Jurnal Silva Tropika is a periodic scientific article and conceptual thinking of tropical forest management covering all aspects of forest planning, forest policy, forest resources utilization, forest ergonomics, forest ecology, forest inventory, silviculture, and management of regional ecosystems. Jurnal Silva Tropika also welcomes the topics that directly or indirectly support tropical forest management, e.g., economics, anthropology, social, and the environment.
Articles 104 Documents
Ekologi Punak (Tetrameristra glabra Miq.) Di Hutan Lindung Gambut Sungai Buluh Kecamatan Mandahara Ulu Kabupaten Tanjung Jabung Timur: Ecology of Punak (Tetrameristra glabra Miq.) in the Sungai Buluh Peat Protected Forest, Mandahara Ulu District, East Tanjung Jabung Regency Nursanti, Nursanti; Saleh, Zuhratus; Wulandari, Wulandari; Puri, Suci Ratna; Aini, Yasri Syarifatul
Jurnal Silva Tropika Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v8i1.26133

Abstract

ABSTRACT Punak (T. glabra Miq.) is a type of tree that grows in peat swamp forest in Sungai Buluh HLG. Punak wood is classified as strong class III in fresh condition, while in dry wind conditions it is classified as strong class II and durable class III. This research was conducted at HLG Sungai Buluh, Mandahara Ulu District, Tanjung Jabung Timur Regency. with the aim of knowing the ecological conditions of punk plants in the Sungai Buluh HLG. Data collection was done by making 30 sample plots placed by purposive sampling where there were peaks. The data taken in the sample plot is tree vegetation with a diameter of 10 cm dbh. In addition to vegetation data, the physical environment for growth was also taken in the form of temperature, humidity, light intensity and soil pH. The results of the study found 60 individuals of punak trees (T. glabra Miq.) with a density of 50 individuals/ha. The punak habitat in the Sungai Buluh HLG is composed of 45 plant species from 22 families with a total of 569 individuals. The diversity index is 1.48 which is included in the moderate or moderate category. Punak plants have a high level of association with other plants, namely D. confentiflora with an association index value based on the Jaccard index of 0.77, M. motleyana of 0.77, D. siamang of 0.76, S.uliginosa 0.67, S. scorpioides 63 and K. laurina 0.57. Punak trees have environmental data that the daily temperature ranges from 24.25-280C, daily humidity ranges from 68.25-80.50C and the average value of light intensity is 505 lux, with soil pH ranging from 3-4 and into the category of sapric peat maturity or peat with a high level of maturity. Keyword : Ecologi,Tetramerista glabra Miq.,HLG sungai Buluh ABSTRAK Punak (T. glabra Miq.) merupakan salah satu jenis pohon yang tumbuh di hutan rawa gambut di HLG Sungai Buluh. Kayu punak tergolong kelas kuat III dalam kondisi segar sedangkan dalam kondisi kering angin masuk dalam kelas kuat II dan kelas awet III. Penelitian ini dilakukan di HLG Sungai Buluh Kecamatan Mandahara Ulu Kabupaten Tanjung jabung Timur,dengan tujuan untuk mengetahui kondisi ekologi tumbuhan punak di HLG Sungai Buluh. Pengambilan data dengan cara membuat 30 plot contoh yang diletakkan secara purposive sampling pada tempat terdapat punak. Data yang diambil dalam plot contoh yaitu vegetasi pohon dengan diameter ≥10 cm dbh. Selain data vegetasi, juga diambil fisik lingkungan tumbuh berupa suhu, kelembaban,intensitas cahaya dan pH tanah. Hasil penelitian ditemukan 60 individu pohon punak (T. glabra Miq.) dengan kerapatan 50 individu/ha. Habitat punak di HLG Sungai Buluh disusun oleh 45 jenis tumbuhan dari 22 suku dengan total 569 individu. Indeks keanekaragaman sebesar 1,48 yang termasuk kedalam katagori sedang atau cukup melimpa. Tumbuhan punak memiliki tingkat asosiasi yang tinggi dengan tumbuhan lain yaitu D. confentiflora dengan nilai indeks asosiasi berdasarkan indeks jaccard sebesar 0,77, M. motleyana sebesar 0,77, D. siamang sebesar 0,76, S.uliginosa 0,67, S. scorpioides 63 dan K. laurina sebesar 0,57.pohon punak memiliki data lingkungan yang bersuhu harian berkisar antara 24,25- 280C, kelembaban harian berkisar antara 68,25-80,50C dan nilai rata-rata intensitas cahaya sebesar 505 lux, dengan pH tanah berkisar antara 3-4 dan masuk kedalam katagori kematangan gambut saprik atau gambut dengan tingkat kematangan yang tinggi. Kata kunci : Ekologi,Tetramerista glabra Miq.,HLG sungai Buluh.
Analisis Populasi Amfibia Anura di Kawasan taman Hutan Raya Bukit Sari Provinsi Jambi : Analysis of population of Amphibian Anura in Bukit Sari Grand Forest Park Jambi Province Wulan, Cory; Nugroho, Singgih; Khabibi, Jauhar
Jurnal Silva Tropika Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v7i1.29849

Abstract

ABSTRACT Bukit Sari Grand Forest Park is one of the conservation areas that is a habitat for amphibians. Habitat conditions and quality certainly affect the diversity of amphibian species. This study aims to analyze the population and compare the diversity of amphibian species of the order anura based on different habitat types and identify the habitat conditions of amphibians of the order anura in Bukit Sari Grand Forest Park. The research method used in this research is Visual Encounter Survey in data collection carried out on habitat types (natural forests, oil palm plantation transitions, rubber plantation transitions and open area transitions). The data obtained were analyzed using the species diversity index (Shannon Wiener), community similarity index, eveness index and species richness index. Based on the results of anura research that has been carried out on 4 habitat types in the Bukit Sari Grand Forest Park, 149 individuals and 16 species from 5 families were found, namely Bufonidae, Dicroglossidae, Microhylidae, Ranidae and Rhachoporidae. The most common type found is from the Dicroglossidae family, Limnonectes macrodon which was found 31 individuals. The amphibian diversity index in Bukit Sari Grand Forest Park is classified as medium category while the species richness index is classified as a low category. Keywords: Amphibians, anura, Bukit Sari Grand Forest Park, diversity, population   ABSTRAK Taman Hutan Raya Bukit Sari merupakan salah satu kawasan konservasi yang menjadi habitat amfibi. Kondisi dan kualitas habitat tentunya mempengaruhi keanekaragaman jenis amfibi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis populasi dan membandingkan keanekaragaman jenis amfibi ordo anura berdasarkan tipe habitat yang berbeda serta mengidentifikasi kondisi habitat amfibi ordo anura di Tahura Bukit Sari. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah VES (Visual Encounter Survey) dalam pengambilan data yang dilakukan pada tipe habitat (hutan alam, transisi perkebunan kelapa sawit, transisi perkebunan karet dan transisi areal terbuka). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan indeks keanekaragaman jenis (Shannon Wiener), indeks kesamaan komunitas, indeks kemerataan jenis dan indeks kekayaan jenis. Berdasarkan hasil penelitian anura yang telah dilakukan pada 4 tipe habitat di kawasan Tahura Bukit Sari, ditemukan 149 individu dan 16 jenis dari 5 famili, yaitu Bufonidae, Dicroglossidae, Microhylidae, Ranidae, dan Rhachoporidae. Jenis yang paling banyak ditemukan adalah dari famili Digroglosidae yaitu Limnonectes macrodon yang ditemukan sebanyak 31 individu. Indeks keanekaragaman amfibi di Tahura Bukit Sari menunjukkan kategori sedang sedangkan indeks kekayaan jenis di Tahura Bukit Sari tergolong dalam kategori rendah.   Katakunci: Amfibi, anura, keanekaragaman, populasi, Taman Hutan Raya Bukit Sari
Identifikasi Makroskopis dan Mikroskopis Kayu Medang Sereh Berdasarkan Bagian Batang : Macroscopic and Microscopic Identification of Lemongrass Medang Wood Based on Stem Section Anggraini, Riana; Agustina, Ana; Komariah, Rahma Nur; Khabibi, Jauhar
Jurnal Silva Tropika Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v7i1.29881

Abstract

ABSTRACT Some aspects that can be a reference in identifying lemongrass wood include anatomical structure (macro and micro properties) based on the trunk (base, middle and end). The results of research identifying the anatomical properties of lemongrass wood on various parts of the trunk provide conclusions of anatomical structure for the macroscopic structure characteristics of lemongrass wood in general do not differ between the position of the base, middle and end and the terrace and sapwood, namely giving the heartwood color brown, has a striped pattern, a rather smooth texture, a smooth tactile effect, somewhat shiny, has a smell like lemongrass or telon oil, the hardness is rather hard and heavy. The microscopic structural characteristics of lemongrass medang wood in the position of lemongrass medang logs (base, middle and tip) show that in general wood fibers experience an increase in length from pith to leather. Based on testing the quality of wood fiber for pulp and paper use which includes fiber length, Runkle Ratio, Muhlstep Ratio (MR), Felting Power (FP), Flexibility Ratio (FR) and Coefficient of Rigidity (CR) that lemongrass wood fiber is included in quality class III. Quality class III is a class of wood fiber that has tear firmness, rupture resistance and low tensile firmness.   Keywords: macroscopic, microscopic, medang wood, position of the trunk   ABSTRAK Beberapa aspek yang dapat menjadi acuan dalam mengidentifikasi kayu medang sereh ini adalah meliputi struktur anatomi (sifat makro dan mikro) berdasarkan bagian batangnya (pangkal, tengah dan ujung). Hasil penelitian identifikasi sifat anatomi kayu medang sereh pada berbagai bagian batang memberikan kesimpulan struktur anatomi untuk ciri struktur makroskopis kayu medang sereh secara umum tidak berbeda antara posisi pangkal, tengah dan ujung dan bagian teras dan gubalnya yaitu memberikan warna kayu terasnya coklat, mempunyai corak bergaris-garis, tekstur agak halus, kesan raba halus, agak mengkilap, mempunyai bau seperti bau sereh atau minyak telon, kekerasan agak keras dan berat.  Ciri struktur mikroskopis kayu medang sereh secara pada posisi batang kayu medang sereh (pangkal, tengah dan ujung) menunjukkan bahwa secara umum serat kayu mengalami penambahan panjang dari empulur hingga menuju kulit. Berdasarkan pengujian kualitas serat kayu untuk penggunaan pulp dan kertas yang meliputi panjang serat, Runkle Ratio, Muhlstep Ratio (MR), Felting Power (FP), Flexibility Ratio (FR) dan Coeffisien of Rigidity (CR) bahwa serat kayu medang sereh masuk ke dalam kelas mutu III. Kelas mutu III merupakan kelas serat kayu yang memiliki keteguhan sobek, ketahanan pecah dan keteguhan tarik yang rendah.   Kata kunci: medang sereh, posisi batang, makroskopis, mikroskopis
Optimalisasi Pertumbuhan Sengon Solomon (Falcataria Moluccana (Miq.) Barneby & Grimes) Di Lahan Bekas Tambang Batubara Melalui Aplikasi Kompos Solid Decanter : Optimizing the growth of solomon sengon (Falcataria Moluccana (Miq.) Barneby & Grimes) in used land coal mining through the application solid decanter compost Hardiyanti, Rizky Ayu; Tampubolon, Gindo; Sihombing, Willy Sahata
Jurnal Silva Tropika Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v7i2.31570

Abstract

Sengon solomon (Falcataria moluccana ((Miq.) Barneby & Grime) merupakan salah satu jenis tanaman dengan suku Fabaceae yang memiliki pertumbuhan yang cepat (fast growing). Tanaman sengon mudah beradaptasi terhadap lingkungan dan banyak direkomendasikan sebagai tanaman yang cocok untuk reklamasi tambang terutama tambang batubara. Penambangan batubara dapat menyebabkan lahan terdegredasi sehingga menurunnya sifat fisik, kimia, biologi tanah dan mengakibatkan terganggunya pertumbuhan tanaman. Tanah bekas tambang batubara yang ada di PT. Nan Riang memiliki kandungan C-organik sangat rendah sampai rendah (0,08%- 1,58%). Bahan organik yang rendah perlu dilakukan perbaikan pada media tanam, yaitu dengan cara memberikan bahan organik. Salah satu pembenah tanah yang bisa digunakan dalam memperbaiki tanah yaitu limbah kelapa sawit yaitu Solid Decanter. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis keberhasilan revegetasi tanaman sengon Salomo terhadap pemberian Solid Decanter. Penelitian ini dilakukan di Areal konsesi pertambangan batubara PT. Nan Riang yang berlokasi di Desa Ampelu Mudo, Kecamatan Muaro Tembesi, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. Penelitian dilakukan selama 4 bulan (Juli-November 2022). Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), terdapat 7 perlakuan, dengan ulang 4 kali, sehingga terdapat 28 petak percobaan, setiap petaknya terdapat 4 tanaman sehingga jumlah tanaman sebanyak 112 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompos solid decanter pada tanaman sengon solomo memberikan hasil yang nyata terhadap pertumbuhan tanaman. Pemberian kompos solid decanter 1.5 kg per lubang tanam merupakan pemberian terbaik terhadap pertumbuhan tinggi, diameter, jumlah daun, berat kering tajuk, dan berat kering akar tanaman.
Analisis Pendapatan Kelompok Tani Hutan Wana Mitra Lestari Terhadap Kemitraan Kehutanan di Desa Napal Putih: Income Analysis of Wana Mitra Lestari Forest Farmer Group on Forestry Partnership in Napal Putih Village Sinurat, Marta Maria; Ahyaudin, Ahyaudin; Muryunika, Rince
Jurnal Silva Tropika Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v7i2.31580

Abstract

ABSTRACT The Wana Mitra Lestari Forest Farmer Group is one of the forest farmer groups located in Napal Putih Village, Serai Serumpun District. The forest work area managed by KTH Wana Mitra Lestari is a production forest area. KTH Wana Mitra Lestari has obtained permission to access management for protection and recognition of Forestry partnerships sourced from the Ministry of Environment and Forestry through a decree No. 10665/Menlhk-PSKL/PSL.0/12/2019. The area of KTH Wana Mitra Lestari is 90 Ha. Land management owned by KTH members is managed individually according to the KTH member's land area. The rubber production of KTH Wana Mitra Lestari is sold to an HTI company in Tebo Regency. This research was conducted in Napal Putih Village, Serai Serumpun District, Tebo Regency. This research aims to analyze the differences in income of KTH Wana Mitra Lestari farmers before and after implementing the forestry partnership. The data collection system was carried out using interviews and with the help of questionnaires and literature studies to support the research results. Sampling was carried out using the saturated sample method (census). The data analysis used in this research is descriptive analysis and quantitative analysis with calculations of income, costs, revenue, R/C-ratio and average difference tests. Based on the results of research conducted, forestry partnerships can become a community empowerment program around forest areas by forming Forest Farmer Groups to increase farmers' income. The calculation results of KTH Wana Mitra Lestari's total income before the forestry partnership were IDR 18,413,181/farmer/year while the income after the forestry partnership was IDR 32,130,748/farmer/year. The results of the R/C Ratio analysis of KTH Wana Mitra obtained an R/C Ratio before the forestry partnership with a value of 5.20, whereas after the forestry partnership it was 5.37, which means that the KTH Wana Mitra Lestari farming business is worth developing because the R/C Ratio is > 1. Results of the analysis of the mean difference test - The average obtained is that there is a difference between the total productivity of KTH Wana Mitra Lestari farmers before and after the forestry partnership with a significant value (2-tailed), namely (0.001 < 0.05) or smaller than alpha 5% so that Ha is accepted and Ho is rejected.   Keywords: Income Analysis, Forestry Partnership, R/C-ratio       ABSTRAK Kelompok Tani Hutan Wana Mitra Lestari merupakan salah satu kelompok tani hutan yang berada di Desa Napal Putih Kecamatan Serai Serumpun. Areal kerja kawaan hutan yang dikelola KTH Wana Mitra Lestari merupakan kawasan hutan produksi. KTH Wana Mitra Lestari telah memperoleh ijin akses kelola perlindungan dan pengakuan kemitraan Kehutanan yang bersumber dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui SK. No. 10665/Menlhk-PSKL/PSL.0/12/2019. Luasan areal KTH Wana Mitra Lestari yaitu 90 Ha. Pengelolan lahan yang dimiliki anggota KTH dikelola secara individu sesuai dengan luas lahan anggota KTH.  Hasil produksi karet KTH Wana Mitra Lestari dijual kepada salah satu perusahaan HTI di Kabupaten Tebo. Penelitian ini dilakukan di Desa Napal Putih Kecamatan Serai Serumpun Kabupaten Tebo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan pendapatan petani KTH Wana Mitra Lestari sebelum dan setelah penerapan kemitraan kehutanan. Sistem pengumpulan data dilakukan dengan wawancara serta bantuan kuesioner serta studi literatur untuk menunjang hasil penelitian. Penentuan pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode sampel jenuh (sensus). Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif dan analisis kuantitatif dengan menghitung penerimaan, biaya, pendapatan, R/C-ratio serta uji beda rata-rata. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa melalui kemitraan kehutanan dapat menjadi suatu program pemberdayaan masyarakat disekitar kawasan hutan dengan membentuk Kelompok Tani Hutan untuk meningkatkan pendapatan petani. Hasil perhitungan pendapatan total KTH Wana Mitra Lestari sebelum kemitraan kehutanan sebesar Rp.18.413.181/petani/tahun sedangkan pendapatan setelah kemitraan kehutanan sebesar Rp.32.130.748/petani/tahun. Hasil analisis R/C ratio KTH Wana Mitra diperoleh R/C ratio sebelum kemitraan kehutanan dengan nilai 5.20, sedangkan setelah kemitraan kehutanan 5.37 yang artinya usaha tani KTH Wana Mitra Lestari layak dikembangkan karena R/C ratio > 1. Hasil perhitungan uji beda rata-rata diperoleh terdapat perbedaan antara jumlah produktivitas petani KTH Wana Mitra Lestari sebelum dan setelah kemitraan kehutanan dengan nilai signifikan (2-tailed) yaitu (0,001 < 0.05) atau lebih kecil dari alfa 5% sehingga H₁ diterima Ho ditolak.   Kata Kunci: Analisis Pendapatan, Kemitraaan Kehutanan, R/C-ratio
Identifikasi Spesies Burung Di Hutan Rawa Bento Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat: Identification of Bird Species in Rawa Bento Forest Kerinci Seblat National Park Area Wulan, Cory; Aulia, Muhammad Fadli Putra; Khabibi, Jauhar
Jurnal Silva Tropika Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v7i2.31581

Abstract

ABSTRACT Rawa Bento is a swamp forest located in Kerinci Seblat National Park which is included in the jungle zone. Rawa Bento is the highest swamp in Sumatra, at an altitude of 1375 meters above sea level. This swamp area has an area of approximately 1000 ha and also has three swamp ecosystems namely peat swamp grass, dwarf swamp forest, and small swamp lakes. Rawa Bento is a natural tourism area that has a natural ecosystem and has a beautiful and diverse natural community, one of which is bird species. Birds are a good indicator of environmental health and biodiversity value. This study aims to identify bird species in the Rawa Bento swamp forest of Kerinci Seblat National Park. The research was conducted for two months starting from December 2022 to January 2023. The research was conducted using the point count method. Determination for the observation path with purposive sampling. The results of the study identified as many as 10 species of birds from 7 families. The endemic bird species encountered are cream-striped bulbul (Hemixos leucogrammicus) and the sumatran whistling-thrush (Myophonus castaneus). The bird species identified were mostly found in the dwarf swamp forest ecosystem. Keywords: Bird, ecosystem, Rawa Bento, swamp forest ABSTRAK Hutan rawa bento merupakan hutan rawa yang terletak di Taman Nasional Kerinci Seblat yang termasuk ke dalam zona rimba. Rawa Bento termasuk rawa tertinggi yang berada di Sumatera yaitu berada di ketinggian 1375 mdpl. Kawasan rawa ini mempunyai luas kurang lebih 1000 ha dan juga memiliki tiga ekosistem rawa yakni rumput rawa gambut, hutan rawa kerdil, serta danau rawa kecil. Rawa Bento merupakan kawasan wisata alam yang memiliki ekosistem yang masih alami dan mempunyai komunitas alam yang indah dan beranekaragam, salah satunya spesies burung. Burung merupakan salah satu indikator yang baik bagi kesehatan lingkungan dan juga nilai keanekaragaman hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies burung di hutan rawa bento kawasan taman nasional kerinci seblat. Penelitian dilakukan selama dua bulan mulai dari bulan desember 2022 hingga januari 2023. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode point count. Penentuan untuk jalur pengamatan dengan purposive sampling. Hasil penelitian teridentifikasi sebanyak 10 spesies burung dari 7 famili. Spesies burung endemik yang dijumpai yaitu burung cucak kerinci (Hemixos leucogrammicus) dan ciung batu sumatera (Myophonus castaneus). Spesies burung yang teridentifikasi lebih banyak ditemukan pada ekosistem hutan rawa kerdil. Katakunci: Burung, ekosistem hutan rawa, Rawa Bento
Potensi Silvofishery Sebagai Blue Carbon Reservoir dan Sumber Pendapatan Masyarakat di Desa Sawah Luhur, Banten dalam Mitigasi Perubahan Iklim : The potential of silvofishery as a blue carbon reservoir and source of community income in Sawah Luhur Village, Banten in climate change mitigation Adni, Salsa Fauziyyah; Fatimah, Gintan; Saputri, Hanum Resti; Rahmadhani, Khorina; Hartoyo, Adisti Permatasari Putri
Jurnal Silva Tropika Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v8i1.33017

Abstract

ABSTRACT Sawah Luhur Village, Banten community has a fishery cultivation livelihood using silvofishery system. Silvofishery systems have high potential in storing carbon stocks in climate change mitigation. However, baseline data related to blue carbon reservoirs and sources of community income from the silvofishery system are still limited. This research aims to estimate carbon stocks (blue carbon reservoir) and calculate community income in the silvofishery system in Sawah Luhur Village, Banten. The method used was an allometric approach to estimate the amount of potential carbon stocks, analysis of vegetation on 100 plots, and interviews with the community. Biomass and carbon stock data were collected using non-destructive sampling on 20 transects perpendicular to the shoreline with 5 square plots measuring 10 m x 10 m for each transect line. The silvofishery economic assessment in Sawah Luhur Village uses the total economic value approach which is calculated from the sum of the direct benefits of the presence of mangrove resources. It is estimated that the average carbon stock stored in 10 ponds at the stake and pole level yields 94.67 tons/ha. The silvofishery system in fish farming ponds is dominated by milkfish with yields from each pond ranging from IDR 1,500,000 to IDR 7,000,000 per harvest (mangrove and fish components).   Keywords: biomass, carbon, mangrove, Rhizophora mucronata   ABSTRAK Masyarakat di Desa Sawah Luhur, Banten memiliki mata pencaharian budidaya perikanan dengan sistem silvofishery. Sistem silvofishery memiliki potensi tinggi dalam menyimpan cadangan karbon dalam mitigasi perubahan iklim. Akan tetapi, baseline data terkait simpanan cadangan karbon (blue carbon reservoir) dan sumber pendapatan masyarakat dari sistem silvofishery masih terbatas. Tujuan riset ini adalah untuk mengestimasi simpanan karbon (blue carbon reservoir) dan menghitung pendapatan masyarakat pada sistem silvofishery di Desa Sawah Luhur, Banten. Metode yang digunakan dalam mengestimasi cadangan karbon adalah pendekatan allometrik dengan membuat 100 plot contoh dan mengidentifikasi jenis pada tingkat pancang dan pohon. Wawancara dilakukan kepada masyarakat terkait pendapatan dari silvofishery. Hasil riset menunjukkan bahwa cadangan karbon tersimpan pada tingkat pancang dan pohon sebesar 94,67 ton/ha. Jenis yang dominan adalah Rhizophora mucronata dan Avicennia marina, sedangkan jenis tambak yang banyak dibudidayakan adalah ikan bandeng (Chanos chanos). Pendapatan masyarakat dari pengembangan sistem silvofishery berkisar antara Rp 6.000.000,- sampai Rp 24.000.000,- per tahun. Sistem silvofishery berpotensi tinggi dalam menyimpan cadangan karbon dan meningkatkan pendapatan masyarakat.   Katakunci: biomassa, karbon, mangrove, Rhizophora mucronata
Sifat Kimia Kayu Medang Sereh Berdasarkan Bagian Kayu dan Posisi Batang: Chemical Properties of Medang Sereh Wood Based on Wood and Log Position Anggraini, Riana; Khabibi, Jauhar; Puri, Suci Ratna
Jurnal Silva Tropika Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v8i1.33812

Abstract

ABSTRACT The other properties of medang sereah (Litsea sp.) wood that need to be identified are the chemical properties of wood based on the part (terrace and sapwood) and the position of the trunk (base, middle, and end). The purpose of identifying the nature of this lemongrass medang wood will facilitate the introduction of lemongrass medang wood types with other types of medang wood. In addition, it will facilitate the process of working and the purpose of using these types of wood further according to their characteristics because the identification of wood properties is an initial process in determining the allocation of wood utilization. The levels of holocellulose, alpha-cellulose, hemicellulose in the core have relatively greater levels than the sapwood. The hemicellulose content at the base has a relatively higher value compared to the end and middle of the medang citronella log. The lignin content of the sapwood part has a lower tendency compared to the terrace. The results of the analysis also showed that the wood at the end of the trunk had a fairly high lignin content compared to the base of the trunk. Keywords: Litsea sp., wood position, wood chemical, terrace and sapwood   ABSTRAK Sifat kayu medang sereh lainnya yang perlu diidentifikasi yaitu sifat kimia kayu berdasarkan bagian (teras dan gubal) dan posisi batangnya (pangkal, tengah, dan ujung). Tujuan mengidentifikasi sifat kayu medang sereh ini, maka akan mempermudah dalam pengenalan jenis kayu medang sereh dengan jenis kayu medang lainnya. Selain itu, akan mempermudah proses pengerjaan dan tujuan penggunaan jenis kayu tersebut lebih lanjut sesuai karakteristiknya karena identifikasi sifat kayu merupakan suatu proses awal dalam menentukan alokasi pemanfaatan kayu. Pengujian komponen kimia mengacu pada standar ASTM. Kadar holoselulosa, alpha-selulosa, hemiselulosa bagian teras memiliki kadar relatif lebih besar dibandingkan bagian gubal. Kadar hemiselulosa pada bagian pangkal memiliki nilai yang relatif lebih tinggi daibandingkan bagian  ujung dan tengah batang kayu medang sereh. Kadar lignin bagian gubal memiliki kecenderungan lebih rendah dibandingkan dengan bagian teras. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa kayu dibagian ujung batang memiliki kadar lignin yang cukup tinggi dibandingkan bagian pangkal batang. Kata kunci: medang sereh, posisi batang, kimia kayu, bagian teras dan gubal
Keanekaragaman Serangga Yang Berpotensi Hama Di Hutan Pendidikan Universitas Jambi: Diverstity Of Potential Pest Insect In Jambi University Education Forest Rumondang, Jenny; Asniwita, Asniwita; Saputra RB, Wahyu; Lestari, Eni
Jurnal Silva Tropika Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v7i2.34671

Abstract

ABSTRACT This research is to identify the types of insect pests with four trapping methods, there are Sweep Net Trap, Pit Fall Trap, Yellow Paper Trap, and Light Trap. This research aims to identify the types of insect pests that can be used as recommendations in pest control. This research was conducted in the educational forest of Jambi University, Mendalo campus, from July to October 2023. The methods used for insect identification were swept net trap, pitfall trap, yellow paper trap, and light trap. The sweep net trap method found 25.31% of wood locusts (Valanga nigricornis), 56.52% of pharaoh ants (Monomorium pharaonis) were found in the pitfall trap method, the yellow paper trap method found 97.58% of fruit flies (Bactrocera spp), and the light trap method found 92.58% of subterranean termite (Macrotermes gilvus). The method used for forest disease identification is by looking at the forest disease book for the identification process. The identification results stated that 13.46% found sooty dew disease, and 11.54% found stem cancer and wilt disease. For this exploration ventures into the different orders of these forest pest insect, revealing the beauty in ther diversity. Like the various species of trees in a forest, eac\h order contributes its unique essence to the overall harmony of the ecosystem. From defoliation to shift in biodiversity, the impact of forest pest insects touches both the heart of nature and the economics that rely on this forest. Keywords: Education Forest of Jambi University, Insect, Trapping methods   ABSTRAK Penelitian ini mengidentifikasi jenis-jenis serangga hama dengan empat metode perangkap, yaitu Sweep Net Trap, Pit Fall Trap, Yellow Paper Trap, dan Light Trap. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis serangga hama yang dapat digunakan sebagai rekomendasi dalam pengendalian hama. Penelitian ini dilaksanakan di hutan pendidikan Universitas Jambi, kampus Mendalo, pada bulan Juli hingga Oktober 2023. Metode yang digunakan untuk identifikasi serangga adalah swept net trap, pitfall trap, yellow paper trap, dan light trap. Metode sweep net trap menemukan 25,31% belalang kayu (Valanga nigricornis), 56,52% semut firaun (Monomorium pharaonis) ditemukan pada metode pitfall trap, metode yellow paper trap menemukan 97,58% lalat buah (Bactrocera spp), dan metode light trap menemukan 92,58% rayap tanah (Macrotermes gilvus). Metode yang digunakan untuk identifikasi penyakit hutan adalah dengan melihat buku penyakit hutan untuk proses identifikasi. Hasil identifikasi menyatakan bahwa 13,46% ditemukan penyakit embun jelaga, dan 11,54% ditemukan penyakit kanker batang dan layu. Eksplorasi ini menjelajahi berbagai ordo serangga hama hutan ini, mengungkapkan keindahan dalam keanekaragaman. Seperti halnya berbagai spesies pohon di hutan, setiap ordo menyumbangkan esensi uniknya bagi keselarasan ekosistem secara keseluruhan. Dari defoliasi hingga pergeseran keanekaragaman hayati, dampak serangga hama hutan menyentuh jantung alam dan ekonomi yang bergantung pada hutan.   Katakunci: Hutan Pendidikan Universitas Jambi, Metode Perangkap, Serangga
Analisis Pendapatan Petani Getah Pinus KTH Bina Saudara Pada Wilayah KPH XIII Dolok Sanggul Kabupaten Humbang Hasundutan Provinsi Sumatera Utara : Analysis of Pine Sap Farmers' Income Kth Bina Saudara in the KPH XIII Dolok Sanggul Area, Humbang Hasundutan Regency, North Sumatra Province Fazriyas, Fazriyas; Nababan, Twelvi Aprilita; Ulma, Riri Oktari
Jurnal Silva Tropika Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v8i1.35335

Abstract

ABSTRACT Pinus merkusii is a tree species that produces both timber and non- timber forest products. The abundance of pine potential in the protected forest area of KPH XIII Dolok Sanggul in Parsingguran I Village makes it possible to collect pine sap through tapping carried out by KTH Bina Saudara through a partnership pattern which can contribute to increasing the income of KTH Bina Saudara members. To find out how much pine resin tapping contributes to the income of KTH members, it is necessary to do a cost analysis. This study aims to determine the income from tapping pine resin, to find out income outside of tapping pine resin and to find out the contribution of tapping to KTH income. Data analysis used in this research is descriptive analysis and quantitative analysis by calculating revenue analysis, cost analysis, income and contribution analysis. The results of the research conducted in Parsingguran I Village showed that KTH members' income was greater from tapping pine resin with a total income of 19 respondents in one year of Rp. 950,401,898 and income from a side job outside of tapping pine resin as a farmer, which is Rp. 44,612,646 with 7 respondents out of a total of 19 respondents. Tapping of pine resin contributes 95.52% to KTH Bina Saudara's income.   Keywords: income of farmer, pine sap.   ABSTRAK Pinus merkusii merupakan jenis pohon yang menghasilkan hasil hutan baik kayu maupun non kayu. Melimpahnya potensi pinus pada hutan lindung wilayah KPH XIII Dolok Sanggul yang berada di Desa Parsingguran I memungkinkan dilakukannya kegiatan pemungutan getah pinus melalui penyadapan yang dilaksanakan oleh KTH Bina Saudara melalui pola Kerjasama kemitraan yang dimana dapat memberikan kontribusi meningkatkan pendapatan anggota KTH Bina Saudara. Untuk mengetahui seberapa besar kontribusi penyadapan getah pinus terhadap pendapatan anggota KTH maka perlu dilakukan analisis biaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan dari penyadapan getah pinus, mengetahui pendapatan diluar penyadapan getah pinus dan mengetahui besararan kontribusi penyadapan terhadap pendapatan KTH. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif dan analisis kuantitatif dengan menghitung analisis penerimaan, analisis biaya, analisis pendapatan dan kontribusi. Hasil Penelitian yang dilakukan di Desa Parsingguran I menunjukkan bahwa pendapatan anggota KTH lebih besar bersumber dari penyadapan getah pinus dengan total pendapatan 19 responden dalam satu tahun sebesar Rp. 950.401.898 dan pendapatan dari pekerjaan sampingan diluar penyadapan getah pinus sebagai petani yaitu sebesar Rp. 44.612.646 dengan jumlah responden 7 orang dari total keseluran responden sebanyak 19 orang. Penyadapan getah pinus memberikan kontribusi sebesar 95,52% terhadap pendapatan KTH Bina Saudara.   Katakunci: getah pinus, pendapatan petani.

Page 7 of 11 | Total Record : 104