cover
Contact Name
Zurrahmi
Contact Email
zurrahmi10@gmail.com
Phone
+6285265992150
Journal Mail Official
zurrahmi10@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ners
ISSN : -     EISSN : 25802194     DOI : 10.31004
Core Subject : Health,
Fokus Jurnal Ners meliputi bidang kajian riset keperawatan diantaranya Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Lansia, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Masyarakat, Manajemen Keperawatan dan Terapi Komplementer yang dapat menunjang tindakan keperawatan Jurnal Ners dikelola dan diterbitkan oleh Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jurnal Ners adalah pengembangan dari Jurnal Program Studi Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai yang mulai melakukan publikasi cetak tahun 2012 seiring dengan perubahan bentuk Institusi menjadi Universitas Pahlawan
Articles 3,122 Documents
Pengaruh Pendampingan Laktasi Terhadap Pemberian ASI Eksklusif Yolanda Indri Octaviani; Dini Eka Pripuspitasari; Zaida Mauludiyah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61565

Abstract

Tingginya kegagalan pemberian ASI Eksklusif merupakan permasalahan kesehatan anak di Indonesia. Rendahnya ASI Eksklusif disebabkan kurangnya kepercayaan diri ibu dalam mengatasi masalah selama proses pemberian ASI. Tindakan mengatasi masalah segera dan menyeluruh dapat diberikan dengan memberikan pendampingan menyusui.Oleh sebab itu peneliti ingin meneliti pengaruh pendampingan menyusui terhadap pemberian ASI Eksklusif. Dengan tujuan menganalisis pengaruh pendampingan menyusui terhadap pemberian ASI Ekskulsif.Penelitian ini merupakan Pre Eksperimental dengan desain penelitian “post test only design with control group”. Populasi penelitian adalah ibu postpartum hari ke-1 sampai ke-10 dengan jumlah sampel 32 orang yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Pendampingan menyusui diberikan pada 3 hari pertama postpartum dan pengamatan pemberian ASI secara Eksklusif hingga hari ke-10 postpartum. Berdasarkan uji statistik Chi-Square Test didapatkan p < α dengan nilai p= 0,001.Maka dapat disimpulkan pendampingan menyusui mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif. Hal ini disebabkan pendampingan menyusui mampu memfasilitasi ibu dalam berbagai aspek penting dalam menyusui meliputi aspek ilmu, fisik, psikologis yang dapat meningkatkan kepercayaan diri ibu untuk memberikan ASInya secara Eksklusif pada bayinya. Oleh karena itu diharapkan para bidan mampu memberikan pendampingan kepada ibu menyusui agar meningkatnya cakupan ASI Ekslusif.
Efektifitas Edukasi Discharge Planing Terhadap Self Care Pasien Jantung Koroner : A Systematic Review Dian Tri Cahyani; Abu Bakar; Wahyuni Tri Lestari
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61611

Abstract

Latar Belakang : Self care pada pasien penyakit jantung koroner (PJK) masih kurang sehingga ditemukan ketidakpatuhan dalam pengobatan dan kurang mengenal tanda gejala penyakit jantung secara dini. Pemberian edukasi sebaiknya dilakukan secara berkesinambungan selama proses asuhan, karena penyampaian informasi dan pengetahuan yang tepat tidak hanya mendukung proses perawatan di rumah sakit, tetapi juga membantu pasien dalam melakukan self care setelah dipulangkan. Perlu adanya discharge planning yang dilakukan untuk meningkatkan self-care pasien dan mengurangi readmiddion Metode : Penelitian ini menggunakan desain systematic review’s. Artikel-artikel yang dipilih dalam studi ini berkisar antara tahun 2020 hingga 2025 pencarian dilakukan menggunakan 4 database Scopus, ScienceDirect, PubMed, ProQuest. Penelitian mengikuti panduan prinsip-prinsip Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA). Hasil : Lima belas artikel memenuhi kriteria inklusi setelah dievaluasi kualitasnya menggunakan Alat penilaian kritis JBI untuk menentukan kesesuaiannya untuk tinjauan sistematis Kesimpulan: penelitian ini menunjukkan jika edukasi discharge planning akan meningkatkan pengetahuan pasien tentang kondisinya, pengetahuan yang meningkat akan membuat seseorang menjadi patuh terhadap pengobatan Kata Kunci : Discharge Planning, Discharge Education, Self Management
Hubungan Keluarga Broken Home dengan Tingkat Gangguan Kesehatan Mental Remaja yang Diukur Menggunakan SRQ-29 di Malang Indari Indari; Ade Sita Ranjani; Nian Afrian Nuari
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61622

Abstract

Keluarga merupakan lingkungan utama dalam perkembangan psikososial remaja. Kondisi keluarga broken home akibat perceraian atau kematian orang tua dapat meningkatkan kerentanan remaja terhadap gangguan kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara status broken home dengan tingkat gangguan kesehatan mental pada remaja di Malang menggunakan instrumen SRQ-29. Penelitian menggunakan desain cross sectional. Sampel terdiri dari remaja di Malang yang mengalami kondisi broken home dengan berbagai penyebab. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Self Reporting Questionnaire-29 (SRQ-29) untuk mengukur gangguan mental emosional. Analisis data menggunakan uji statistik untuk melihat hubungan antara penyebab broken home dengan hasil skrining SRQ-29. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara usia p = 0,046, penyebab broken home p = 0,049, dan orang yang ditinggali p = 0,045 dengan hasil skrining SRQ-29. Remaja dengan broken home akibat perceraian, usia 14-16 tahun, dan yang tinggal sendiri cenderung memiliki proporsi lebih tinggi pada kategori ansietas, Napza, dan PTSD. Sementara variabel jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan orang tua tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan hasil skrining SRQ-29.
Metagenomik dan Metabarkoding Protein Virulensi Fungsional Pada Mikrobioma Oral Anak Stunting Erwin Gunawan; Muhammad Alif Reski; Sultan Iskandar Majid
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61638

Abstract

Abstrak Peran mikrobioma oral dalam patofisiologi stunting masih jarang dieksplorasi, meskipun bukti terbaru menunjukkan bahwa rongga mulut merupakan kompartemen biologis penting dalam regulasi pertumbuhan anak. Tinjauan naratif ini bertujuan mengevaluasi secara komprehensif literatur mengenai pemanfaatan metagenomik dan metabarkoding untuk memetakan virulensi fungsional mikrobioma oral pada anak stunting, dengan fokus khusus pada protein FimA dari Porphyromonas gingivalis dan Major Surface Protein (Msp) dari Treponema denticola. Artikel ilmiah yang dikaji mencakup topik stunting, sumbu oral–gut, environmental enteric dysfunction, serta studi mikrobioma oral berbasis omics pada populasi anak, termasuk kompartemen saliva dan plak supragingiva. Sintesis literatur menunjukkan bahwa stunting berkaitan dengan dekompartementalisasi saluran cerna, penurunan laju alir dan kapasitas buffer saliva, serta restrukturisasi jaringan mikroba oral yang ditandai oleh dominasi patobiont anaerob. Dalam kondisi disbiosis, periodontopatogen seperti P. gingivalis dan T. denticola berperan sebagai keystone hubs yang memperkuat patogenisitas biofilm melalui ekspresi FimA dan Msp, sehingga berkontribusi terhadap inflamasi sistemik derajat rendah dan potensi gangguan pertumbuhan linier pada anak. Tinjauan ini juga menyoroti kesenjangan riset berupa minimnya studi yang mengintegrasikan data metagenomik fungsional, kuantifikasi protein virulensi, dan parameter klinis rongga mulut ke dalam satu model risiko yang utuh. Oleh karena itu, kajian ini merekomendasikan pengembangan indeks virulensi mikrobioma oral sebagai biomarker non‑invasif risiko stunting serta integrasi kesehatan gigi dan mulut dalam strategi promotif‑preventif nasional untuk penanggulangan stunting di Indonesia. Kata Kunci: Anak; Metagenomics; Microbiome; Porphyromonas gingivalis; Stunting; Treponema denticola Abstract The role of the oral microbiome in the pathophysiology of childhood stunting remains underexplored, although emerging evidence indicates that the oral cavity is a key biological compartment in growth regulation. This narrative review aims to comprehensively evaluate the literature on the use of metagenomics and metabarcoding to map functional virulence within the oral microbiome of stunted children, with a specific focus on FimA from Porphyromonas gingivalis and Major Surface Protein (Msp) from Treponema denticola. Included articles covered stunting, the oral–gut axis, environmental enteric dysfunction, and omics‑based oral microbiome studies in pediatric populations, encompassing saliva and supragingival dental plaque niches. Synthesized findings indicate that stunting is associated with gastrointestinal decompartmentalization, reduced salivary flow rate and buffering capacity, and reconfigured oral microbial networks dominated by anaerobic pathobionts. Under dysbiotic conditions, periodontal pathogens such as P. gingivalis and T. denticola act as keystone hubs that reinforce biofilm pathogenicity through FimA and Msp expression, thereby contributing to low‑grade systemic inflammation and potential impairment of linear growth. This review further highlights a major research gap: the scarcity of studies integrating functional metagenomic data, quantitative virulence protein measurements, and clinical oral parameters into a unified predictive risk model. Accordingly, it recommends empirical studies combining metagenomics/metabarcoding with functional quantitative PCR on saliva and supragingival plaque, and the development of an oral microbiome virulence index as a non‑invasive biomarker for stunting risk. Overall, the article underscores the urgency of incorporating oral and dental health into national promotive‑preventive strategies for stunting reduction in Indonesia. Keywords: Child; Metagenomics; Microbiome; Porphyromonas gingivalis; Stunting; Treponema denticola
Development of A Mobile-Based Screening and Educational Application For Adolescent Depression Prevention: A Mixed Methods Approach Afifatul Mukaromah; Rizki Fitryasari P. K; Kristiawati Kristiawati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61669

Abstract

Adolescence is a developmental period characterized by biological, cognitive, and psychosocial changes that increase vulnerability to depression. Early identification of adolescent depression is challenging due to overlapping symptoms with normal emotional changes, while digital technology provides accessible approaches for depression prevention. This study aimed to develop a depression screening and educational application to prevent depression among adolescents. Methods this study employed an exploratory sequential mixed methods design consisting of three stages: qualitative exploration, mobile application development, and quantitative evaluation. Qualitative data were collected through focus group discussions, while the quantitative phase involved expert feasibility assessment and usability testing using the System Usability Scale (SUS). Results the findings from phase 1 identified four themes of adolescent depressive symptoms: cognitive, affective, behavioral, and motivational, which were used to develop the screening content. Educational needs related to adolescent depression were classified into informational, motivational, and behavioral aspects, forming the educational content. Phase 2 resulted in the development of an android based application integrating depression screening and preventive education. In phase 3, expert assessment indicated that the application prototype content and features were feasible for use, and usability testing among 10 adolescents demonstrated good usability based on SUS evaluation.  Conclusion therefore, the application has the potential to be a user-friendly digital platform for adolescent depression prevention. However, further studies are needed to evaluate its effectiveness in preventing adolescent depression.
The Effect Of Health Education Through Animated Videos On The Level Of Anxiety Of Adolescent Females Experiencing Dysmenorea At Smpn 6 Maja Year 2026 Agriyaningsih Oktaviana Hadi; Ade Anwar; Lina Mardianti; Siti Nurholijah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61707

Abstract

Dysmenorrhea is a reproductive health issue frequently experienced by adolescent girls that can cause anxiety, thereby interfering with daily activities. Objective : To analyze the effect of health education via animated video on the anxiety levels of adolescent girls experiencing dysmenorrhea at SMPN 6 Maja in 2026. Methods : This study employed a quantitative method with a quasi-experimental design, specifically a one-group pretest-posttest design. The study population consisted of 67 female adolescents experiencing dysmenorrhea at SMPN 6 Maja. A total sampling technique was used, meaning the entire population served as the study respondents. Anxiety levels were measured using the Hamilton Rating Scale for Anxiety (HARS) questionnaire. Data analysis was conducted using univariate and bivariate methods. A normality test using the Kolmogorov-Smirnov test indicated that the data were not normally distributed (p<0.05); Therefore, the Wilcoxon Signed-Rank Test was used for the bivariate analysis, with ethics number KEPK/UMP/290/V/2026 Results : Research Results: Prior to the health education intervention using animated videos, the majority of respondents experienced very severe anxiety (n=64; 95.5%), while three respondents (4.5%) experienced severe anxiety. Following the intervention, anxiety levels decreased, with 58 respondents (86.6%) falling into the moderate anxiety category and nine respondents (13.4%) into the mild category. The Wilcoxon Signed-Rank Test yielded an Asymp. Sig. (2-tailed) value of 0.000 (p<0.05), indicating a significant effect of health education via animated videos on the anxiety levels of adolescent girls experiencing dysmenorrhea. Conclusion : Health education using animated videos has a significant effect on reducing anxiety levels among adolescent girls experiencing dysmenorrhea at SMPN 6 Maja in 2026. Animated video media can serve as an effective alternative for reproductive health education for adolescent girls.
Hubungan Keterlibatan Dan Partisipasi Perawat Dalam Discharge Planning Terhadap Tingkat Kesiapan Pulang Pasien Di RSUD RA Kartini Jepara Novia Dwi Anggraini; Muhammad Purnomo; Anny Rosiana Mashitoh
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61729

Abstract

Kesiapan pulang pasien merupakan indikator penting keberhasilan transisi perawatan dari rumah sakit ke rumah. Keterlibatan dan partisipasi perawat dalam discharge planning berperan dalam memberikan edukasi, koordinasi pelayanan, melibatkan keluarga, serta mempersiapkan pasien untuk melakukan perawatan secara mandiri. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan keterlibatan dan partisipasi perawat dalam discharge planning dengan tingkat kesiapan pulang pasien di RSUD R.A. Kartini Jepara. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 98 pasien rawat inap yang dipilih menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi Quality of Discharge Teaching Scale (QDTS) keterlibatan perawat dan partisipasi perawat serta Readiness for Hospital Discharge Scale (RHDS) untuk kesiapan pulang pasien. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan keterlibatan perawat kategori tinggi sebesar 70,4% dan partisipasi perawat kategori tinggi sebesar 72,4%. Kesiapan pulang pasien sebagian besar cukup siap sebesar 50,0%. Terdapat hubungan signifikan keterlibatan perawat dengan kesiapan pulang (p=0,000; r=-0,623) dan partisipasi perawat dengan kesiapan pulang (p=0,000; r=-0,664). Semakin optimal keterlibatan dan partisipasi perawat, semakin baik kesiapan pasien melanjutkan perawatan di rumah.
Analisis Kebutuhan Spiritual Care Pada Pasien Anak dan Keluarga di Pelayanan Rumah Sakit Yapika Fitria Fitria; Arbianingsih Arbianingsih; Ahmad Ahmad; Muhammad Anwar Hafid
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61732

Abstract

Hospitalisasi pada anak sering kali menimbulkan dampak multidimensional yang tidak hanya memengaruhi kondisi fisik dan psikologis, tetapi juga aspek spiritual pasien dan keluarganya. Pemenuhan kebutuhan spiritual merupakan bagian penting dari pelayanan keperawatan holistik karena berkontribusi terhadap kemampuan koping, harapan, ketenangan batin, serta adaptasi selama proses perawatan. Meskipun demikian, identifikasi kebutuhan spiritual anak dan keluarga masih belum menjadi bagian yang optimal dalam praktik pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan spiritual care pada pasien anak dan keluarga di Rumah Sakit Yapika. Penelitian menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 45 responden dipilih menggunakan teknik accidental sampling selama tiga minggu pengumpulan data. Data dikumpulkan menggunakan Spiritual Needs Questionnaire (SpNQ) versi Indonesia dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori sangat membutuhkan spiritual care sebanyak 28 responden (62,2%), diikuti kategori amat sangat membutuhkan sebanyak 16 responden (35,6%), dan kategori agak membutuhkan sebanyak 1 responden (2,2%). Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin (p=0,598), kelas perawatan (p=0,426), maupun usia perkembangan (p=0,530) dengan tingkat kebutuhan spiritual. Temuan ini menunjukkan bahwa kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan mendasar yang dirasakan oleh hampir seluruh pasien anak dan keluarga tanpa dipengaruhi karakteristik demografis tertentu. Penelitian ini memberikan evidence awal mengenai kebutuhan spiritual pasien anak dan keluarga yang dapat menjadi landasan dalam pengembangan asuhan keperawatan terintegrasi spiritual care berbasis Family-Centered Care untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kepuasan pasien. Kata Kunci: family-centered care; hospitalisasi anak; kebutuhan spiritual; pelayanan keperawatan; spiritual care Abstract Hospitalization in children often produces multidimensional effects that influence not only physical and psychological conditions but also the spiritual aspects of patients and their families. Meeting spiritual needs is an important part of holistic nursing care because it contributes to coping ability, hope, inner peace, and adaptation during treatment. However, identification of the spiritual needs of children and families has not yet become an optimal part of health service practice. This study aimed to analyze the spiritual care needs of pediatric patients and families at Yapika Hospital. The study used a descriptive-analytic design with a cross-sectional approach. A total of 45 respondents were selected using accidental sampling over three weeks of data collection. Data were collected using the Indonesian version of the Spiritual Needs Questionnaire (SpNQ) and analyzed using the Chi-Square test at a significance level of α=0.05. The results showed that most respondents were in the high spiritual care need category (28 respondents, 62.2%), followed by the very high need category (16 respondents, 35.6%), and the moderate need category (1 respondent, 2.2%). Bivariate analysis showed no significant relationship between sex (p=0.598), care class (p=0.426), or developmental age (p=0.530) and the level of spiritual need. These findings indicate that spiritual need is a fundamental need felt by almost all pediatric patients and families regardless of demographic characteristics. This study provides preliminary evidence on the spiritual needs of pediatric patients and families that can serve as a basis for developing integrated spiritual care nursing practice based on Family-Centered Care to improve service quality and patient satisfaction. Keywords: family-centered care; pediatric hospitalization; spiritual needs; nursing care; spiritual care
Efektivitas Mindful Breathing Terpadu Edukasi Balut terhadap Kecemasan dan Penyembuhan Ulkus Kaki Diabetik Diana Arianti; Amelia Susanti
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61764

Abstract

Ulkus kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi kronis diabetes melitus yang sering disertai kecemasan sehingga dapat menurunkan kepatuhan perawatan dan memperlambat proses penyembuhan luka. Intervensi keperawatan yang mengintegrasikan pengelolaan psikologis dan edukasi perawatan luka diperlukan untuk meningkatkan luaran pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas mindful breathing terpadu edukasi balut terhadap tingkat kecemasan, kepatuhan perawatan, dan progres penyembuhan luka pada pasien ulkus kaki diabetik. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental pretest–posttest with control group yang melibatkan 60 responden di Puskesmas Andalas Kota Padang, terdiri atas 30 responden kelompok intervensi dan 30 kelompok kontrol. Tingkat kecemasan diukur menggunakan Hospital Anxiety and Depression Scale-Anxiety (HADS-A), sedangkan progres penyembuhan luka dinilai menggunakan Bates-Jensen Wound Assessment Tool (BWAT). Analisis data menggunakan paired t-test dan independent t-test dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok intervensi mengalami penurunan skor kecemasan yang lebih besar dibandingkan kelompok kontrol (Δ=-6,3 vs -2,4; p=0,004) serta penurunan skor BWAT yang lebih besar (Δ=-11,2 vs -6,3; p=0,006). Intervensi juga meningkatkan kepatuhan pasien dalam melakukan perawatan luka secara mandiri. Mindful breathing terpadu edukasi balut efektif menurunkan kecemasan, meningkatkan kepatuhan perawatan, dan mempercepat penyembuhan ulkus kaki diabetik sehingga berpotensi diterapkan sebagai intervensi keperawatan berbasis bukti di pelayanan kesehatan primer.
Identification of Artificial Sweetener (Cyclamate) in Iced Tea Beverages in Kota Baru District, Jambi City, 2025 Aqgil Ashshiddiki; Ahmad Syauqy; Nyimas Natasha Ayu Shafira; Huntari Harahap; Citra Maharani; Fitriyanti Fitriyanti
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61784

Abstract

Latar Belakang: Siklamat merupakan pemanis buatan yang banyak digunakan dalam minuman, termasuk es teh. Penggunaan yang berlebihan melebihi batas yang diizinkan dapat menimbulkan risiko kesehatan, sementara tingginya konsumsi es teh di masyarakat meningkatkan potensi paparan.Hal ini menimbulkan kebutuhan untuk memantau keberadaan dan keamanannya. Tujuan:Mengidentifikasi keberadaan dan kadar siklamat pada minuman es teh di Kecamatan Kota Baru, Kota Jambi, tahun 2025. Metode: Penelitian deskriptif ini menggunakan pendekatan laboratorium kualitatif dan kuantitatif. Sebanyak 30 sampel es teh dikumpulkan menggunakan teknik total sampling. Analisis kualitatif dilakukan dengan metode presipitasi, sedangkan analisis kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil: Seluruh sampel menunjukkan karakteristik rasa yang normal. Analisis kualitatif menemukan 2 sampel positif mengandung siklamat dan 28 sampel negatif. Hasil kuantitatif menunjukkan kadar siklamat sebesar 75 ppm dan 85 ppm, keduanya masih di bawah batas maksimum yang diizinkan. Kesimpulan: Sebagian kecil sampel es teh mengandung siklamat, namun seluruh kadar yang terdeteksi masih dalam batas aman. Pemantauan berkelanjutan dan edukasi kepada masyarakat tetap penting untuk menjamin keamanan konsumen.