cover
Contact Name
Zurrahmi
Contact Email
zurrahmi10@gmail.com
Phone
+6285265992150
Journal Mail Official
zurrahmi10@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ners
ISSN : -     EISSN : 25802194     DOI : 10.31004
Core Subject : Health,
Fokus Jurnal Ners meliputi bidang kajian riset keperawatan diantaranya Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Lansia, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Masyarakat, Manajemen Keperawatan dan Terapi Komplementer yang dapat menunjang tindakan keperawatan Jurnal Ners dikelola dan diterbitkan oleh Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jurnal Ners adalah pengembangan dari Jurnal Program Studi Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai yang mulai melakukan publikasi cetak tahun 2012 seiring dengan perubahan bentuk Institusi menjadi Universitas Pahlawan
Articles 3,122 Documents
Evaluasi Penggunaan Aplikasi Sistem Informasi Gizi dan Kesehatan Keluarga (Sigizi Kesga) dalam Meningkatkan Pelayanan di Puskesmas Pematang Rizky Ananda; Novia Kurniyanti; Heddy Heddy
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61295

Abstract

Transformasi digital kesehatan merupakan salah satu strategi nasional dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan primer. Salah satu implementasi digitalisasi tersebut adalah penggunaan aplikasi Sistem Informasi Gizi dan Kesehatan Keluarga (SIGIZI KESGA) yang digunakan sebagai media pencatatan, pelaporan, monitoring, dan evaluasi program gizi serta kesehatan keluarga di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Tujuan penelitian ini bertujuan mengetahui Evaluasi Penggunaan Aplikasi Sistem Informasi Gizi dan Kesehatan Keluarga (SIGIZI KESGA) DALAM Meningkatkan Pelayanan di Puskesmas Pematang. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik dengan desain cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Pematang Kabupaten Serang pada tahun 2026. Populasi penelitian adalah seluruh tenaga kesehatan yang menggunakan aplikasi SIGIZI KESGA sebanyak 35 orang, terdiri atas tenaga gizi, bidan, perawat, nutrisionis, dan petugas pengelola program kesehatan keluarga. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang mengadopsi model HOT-Fit (Human, Organization, Technology Fit) dengan skala Likert. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 82% responden menilai aplikasi SIGIZI KESGA mudah digunakan, 83,9% menyatakan kualitas informasi yang dihasilkan baik, 77,3% menilai kualitas sistem sudah memadai, dan 80,1% menyatakan aplikasi membantu meningkatkan kecepatan pelayanan serta ketepatan pelaporan program gizi dan kesehatan keluarga. Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas sistem (p=0,012), kualitas informasi (p=0,013), kualitas layanan (p=0,026), dan kompetensi pengguna (p=0,002), dukungan organisasi (p=0,020) dengan peningkatan kualitas pelayanan. Kesimpulan implementasi SIGIZI KESGA terbukti mendukung efektivitas pelayanan kesehatan melalui peningkatan kecepatan pencatatan, ketepatan pelaporan, kemudahan monitoring status gizi, serta penyediaan data yang lebih akurat untuk pengambilan keputusan. Namun demikian, optimalisasi sistem masih memerlukan peningkatan kualitas infrastruktur jaringan, pelatihan berkala bagi petugas, integrasi dengan platform SATU SEHAT, serta penguatan dukungan manajemen. 
Continuous Midwifery Care (Continuity Of Care) For A Pregnant Woman With Grade Ii Hyperemesis Gravidarum: A Case Study At An Independent Midwifery Practice In Medan Amplas, North Sumatra, Indonesia, 2026 Abel Amanda; Rosmani Sinaga; Ribur Sinaga; Kamelia Sinaga; Juniarsih Juniarsih
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61296

Abstract

Hyperemesis gravidarum is characterized by severe and persistent nausea and vomiting during pregnancy, which may lead to fluid and electrolyte imbalance and adversely affect maternal and fetal health if not managed appropriately. Continuity of Midwifery Care (CoMC) is a comprehensive and continuous care approach that aims to ensure optimal maternal and neonatal health outcomes throughout pregnancy, childbirth, the postpartum period, neonatal care, and family planning. Objective this case study aimed to implement Continuity of Midwifery Care for a pregnant woman with Grade II hyperemesis gravidarum at an independent midwifery practice in Medan Amplas, North Sumatra, Indonesia. Methods a descriptive case study design was employed using Helen Varney’s seven-step midwifery management approach and SOAP documentation. Data were collected through interviews, direct observation, physical examination, and review of clinical documentation. Results the participant was a 22-year-old primigravida (G1P0A0) at 26 weeks of gestation who presented with excessive nausea and vomiting occurring approximately eight times daily, accompanied by weakness, dizziness, weight loss, hypotension (90/70 mmHg), sunken eyes, and pale lips. These clinical findings supported the diagnosis of Grade II hyperemesis gravidarum. Continuous midwifery care, including comprehensive assessment, health education, nutritional counseling, symptom management, and regular follow-up, resulted in improvement of maternal condition throughout pregnancy and continuity of care until the postpartum and family planning periods. Conclusion the implementation of Continuity of Midwifery Care effectively improved maternal monitoring and the quality of healthcare services for women with Grade II hyperemesis gravidarum. This approach facilitated comprehensive, continuous, and individualized care throughout the maternal continuum. ring pregnancy, which may lead to fluid and electrolyte imbalance and adversely affect maternal and fetal health if not managed appropriately. Continuity of Midwifery Care (CoMC) is a comprehensive and continuous care approach that aims to ensure optimal maternal and neonatal health outcomes throughout pregnancy, childbirth, the postpartum period, neonatal care, and family planning. Objective: This case study aimed to implement Continuity of Midwifery Care for a pregnant woman with Grade II hyperemesis gravidarum at an independent midwifery practice in Medan Amplas, North Sumatra, Indonesia. Methods: A descriptive case study design was employed using Helen Varney’s seven-step midwifery management approach and SOAP documentation. Data were collected through interviews, direct observation, physical examination, and review of clinical documentation. Results: The participant was a 22-year-old primigravida (G1P0A0) at 26 weeks of gestation who presented with excessive nausea and vomiting occurring approximately eight times daily, accompanied by weakness, dizziness, weight loss, hypotension (90/70 mmHg), sunken eyes, and pale lips. These clinical findings supported the diagnosis of Grade II hyperemesis gravidarum. Continuous midwifery care, including comprehensive assessment, health education, nutritional counseling, symptom management, and regular follow-up, resulted in improvement of maternal condition throughout pregnancy and continuity of care until the postpartum and family planning periods. Conclusion: The implementation of Continuity of Midwifery Care effectively improved maternal monitoring and the quality of healthcare services for women with Grade II hyperemesis gravidarum. This approach facilitated comprehensive, continuous, and individualized care throughout the maternal continuum.
Efektivitas Pijat Tu Ina Terhadap Peningkatan Nafsu Makan Pada Balita Usia 3–5 Tahun di Daerah Pesisir dan Kepulauan Sukmawati Sukmawati; Harni Harni; Sulfianti A. Yusuf; Putri Rosanti Caesaria; Julian Jingsung; Rania Fatrizza Pritami
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.61332

Abstract

Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk meningkatkan nafsu makan balita adalah pijat Tui Na yang bekerja melalui stimulasi titik-titik meridian yang berhubungan dengan sistem pencernaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pijat Tui Na terhadap peningkatan nafsu makan pada balita usia 3–5 tahun di Desa Tumbu-Tumbu Jaya Kecamatan Kolono Timur Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Metode Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan One Group Pretest-Posttest Design. Populasi penelitian berjumlah 54 balita yang tercatat pada bulan Desember 2025. Sampel sebanyak 12 balita dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria inklusi meliputi balita usia 3–5 tahun, mengalami penurunan nafsu makan, dan berat badan tidak sesuai umur. Intervensi pijat Tui Na dilakukan selama 6 hari berturut-turut dengan durasi ±30 menit setiap sesi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan tingkat signifikansi α=0,05. Hasil penelitian adalah Rata-rata skor nafsu makan sebelum intervensi sebesar 4,25±1,06 dan meningkat menjadi 8,08±1,08 setelah pemberian pijat Tui Na. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p=0,002 (p<0,05), yang berarti terdapat peningkatan nafsu makan yang signifikan setelah intervensi. Adapun kesimpulan penelitian ini adalah Pijat Tui Na efektif meningkatkan nafsu makan pada balita usia 3–5 tahun di Desa Tumbu-Tumbu Jaya Kecamatan Kolono Timur Kabupaten Konawe Selatan.
Faktor Risiko Biopsikososial Terhadap Kesehatan Mental Ibu Primipara Pasca Persalinan: Studi Kohort Retrospektif" Biopsychosocial Risk Factors For Postpartum Mental Health Among Primiparous Women: A Retrospective Cohort Study Resi Atriasari; Vaulinne Basyir; Amel Yanis
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61336

Abstract

Kesehatan mental ibu primipara pasca persalinan merupakan isu krusial yang dipengaruhi oleh berbagai faktor multidimensi, namun penelitian dengan desain kohort retrospektif masih terbatas di Indonesia. Kondisi psikologis ibu yang baru pertama kali melahirkan (primipara) selama masa nifas menjadi perhatian penting mengingat kondisi fisik, mental, serta adaptasi sosial berisiko memicu gangguan kesehatan mental. Minimnya pengalaman dalam mengasuh anak menempatkan kelompok ini pada tingkat kerentanan yang lebih tinggi. Atas dasar tersebut, penelitian ini difokuskan untuk mengkaji berbagai determinan biopsikososial yang mempengaruhi kesehatan mental ibu primipara. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko biopsikososial yang meliputi kondisi fisik pasca persalinan, parental self-efficacy, dukungan sosial, dan status ekonomi terhadap kesehatan mental ibu primipara pasca persalinan. Metode desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan kohort retrospektif. Sampel berjumlah 85 ibu primipara yang diambil menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode consecutive sampling di wilyah kerja Puskesmas belimbing Kota Padang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yaitu dengan barkin index  of maternal functioning (BIMF) dan sympton cheklist 90 (SCL-90)  untuk menilai kesehatan mental. Analisis data menggunakan uji bivariat chi-square dan analisis multivariat regresi logistik  menggunakan SPSS. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konndisi fisik pasca persalinan (p=0,021; OR=6,661) dan dukungan sosial (p=0,008; OR=7,144) memiliki hubungan yang signifikan dengan dukungan sosial merupakan faktor risiko yang paling dominan terhadap kesehatan mental ibu. parental self-efficacy dan status ekonomi juga berkontribusi secara signifikan terhadap skor status mental pasca persalinan. Kesimpulan kesehatan mental ibu yang baru pertama kali melahirkan (primipara) sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, psikologis, dan sosial. Dari berbagai faktor yang diteliti, dukungan sosial menjadi elemen paling dominan yang memicu risiko gangguan kesehatan mental, diikuti oleh kondisi fisik pasca persalinan, keyakinan diri dalam mengasuhan (parental self-efficacy), serta tingkat ekonomi.
Adaptation of Novice Intensive Care Unit Nurses in Caring for Critically Ill Patients Requiring Mechanical Ventilation and High Acuity: A Systematic Literature Review Johanes Eban B. Dorman; Yulis Setiya Dewi; Arina Qona’ah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61338

Abstract

Abstrak Adaptasi perawat ICU pemula di unit perawatan intensif merupakan proses transisi profesional yang kompleks, terutama ketika mereka harus merawat pasien kritis dengan ventilasi mekanik dan tingkat keparahan klinis yang tinggi. Situasi ini menuntut penguasaan keterampilan teknis, penalaran klinis yang cepat, kemampuan mengelola emosi, serta komunikasi tim yang efektif. Walaupun isu transisi perawat baru di ICU semakin banyak diteliti, sintesis yang secara khusus menelaah pengalaman adaptasi dalam konteks perawatan pasien ventilator dan pasien dengan kondisi sangat berat masih terbatas.Penelitian ini menggunakan desain systematic literature review dengan mengacu pada PRISMA 2020. Pencarian dilakukan pada empat basis data, yaitu Scopus, PubMed, ProQuest, dan ScienceDirect. Strategi pencarian memadukan kata kunci yang berkaitan dengan novice nurse, new graduate nurse, intensive care unit, adaptation, transition, mechanical ventilation, critically ill patient, dan severity of illness. Sebanyak 299 artikel teridentifikasi, terdiri dari Scopus (n=115), PubMed (n=95), ProQuest (n=38), dan ScienceDirect (n=51). Setelah duplikasi dihapus (n=190), tersisa 109 artikel untuk skrining judul dan abstrak. Sebanyak 50 artikel dieliminasi pada tahap ini, sehingga 59 artikel ditelusuri dalam bentuk full text. Sebanyak 36 artikel tidak berhasil diperoleh. Dua puluh tiga artikel dinilai kelayakannya, kemudian 17 artikel dikeluarkan karena keterbatasan akses, bahasa selain Inggris, desain studi tidak sesuai, atau tidak menjawab pertanyaan penelitian. Enam studi akhirnya disertakan dalam sintesis. Kualitas studi dinilai menggunakan Joanna Briggs Institute (JBI), dengan skor 77%–92%. Sintesis dilakukan secara naratif.Enam studi yang dianalisis berasal dari Inggris, Namibia, Iran, Korea Selatan, China, dan Singapura. Lima studi merupakan penelitian kualitatif primer atau grounded theory, sedangkan satu studi merupakan qualitative systematic review. Sintesis menghasilkan lima tema utama, yaitu kejutan transisi dan ketidaksiapan awal di ICU, beban emosional saat merawat pasien kritis dan pasien ventilator, kebutuhan terhadap orientasi dan mentoring yang terstruktur, fasilitator adaptasi berupa psychological capital, professional capital, dan social capital, serta perkembangan bertahap menuju stabilisasi dan komitmen profesional. Perawatan pasien ventilator dan pasien dengan kondisi sangat berat terbukti meningkatkan rasa takut salah, beban kognitif, dan kebutuhan belajar pada perawat baru. Namun, orientasi yang sistematis, preseptor yang konsisten, dan dukungan tim membantu mempercepat pembentukan rasa percaya diri dan kompetensi klinis.Adaptasi perawat ICU pemula berlangsung secara bertahap dan tidak linier. Proses ini dipengaruhi oleh kompleksitas pasien, kesiapan individu, dukungan organisasi, serta kultur kerja di ICU. Temuan review menunjukkan bahwa ventilasi mekanik dan kondisi pasien yang sangat berat memperbesar tantangan adaptasi karena meningkatkan tuntutan observasi, kewaspadaan, dan ketepatan respons klinis. Meskipun demikian, studi yang secara eksplisit menggunakan ambang APACHE II >30 masih sangat terbatas, sehingga sintesis ini lebih merepresentasikan konteks pasien kritis dengan high-acuity care dibandingkan bukti yang benar-benar spesifik terhadap APACHE II >30. Adaptasi perawat ICU pemula dalam merawat pasien kritis dengan ventilasi mekanik dipengaruhi oleh interaksi antara tuntutan klinis, beban emosional, dukungan organisasi, serta modal psikologis, profesional, dan sosial. Rumah sakit perlu menyediakan program orientasi ICU yang terstruktur, mentorship yang konsisten, dukungan psikologis, serta pembelajaran klinis bertahap untuk meningkatkan kesiapan perawat baru dalam merawat pasien dengan tingkat keparahan tinggi Kata Kunci: Adaptasi, perawat ICU pemula, ventilasi mekanik, pasien kritis.
Hubungan Perilaku Caring Perawat Berdasarkan Teori Jean Watson dengan Tingkat Stres Pasien Ulkus Diabetikum di RSUD Mardi Waluyo Blitar Namira Laksanti Putri; Arief Bachtiar; Nurul Pujiastuti; Tri Anjaswarni
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61350

Abstract

Pasien ulkus diabetikum sering mengalami stres berat akibat nyeri berkepanjangan, kekhawatiran amputasi, dan beban ekonomi. Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa perawat cenderung lebih berfokus pada aspek fisik seperti perawatan luka dan pemberian pengobatan, sehingga perhatian terhadap aspek psikologis, emosional, dan spiritual pasien belum optimal. Kondisi ini menunjukkan rendahnya perilaku caring perawat saat memberi asuhan keperawatan holistik. Penelitian ini tujuannya guna menguji kaitan diantara perilaku caring perawat berdasarkan teori Jean Watson atas tingkatan stres pasien ulkus diabetikum. Penelitian ini menerapkan desain korelasional cross-sectional. Populasi nya yakni seluruh pasien ulkus diabetikum dirawat di RSUD Mardi Waluyo Blitar tanggal 25 Agustus-25 September 2025. Jumlah sampel ditentukan menggunakan G*Power diperoleh sebanyak 48 responden dipilih menggunakn teknik purposive sampling. Penelitian menggunakan instrumen Kuesioner Perilaku Caring Perawat (KPCP) dan Perceived Stress Scale (PSS-10). Analisis data memakai uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian meliputi perilaku caring perawat berdasarkan teori Jean Watson pada kategori cukup, tingkat stres pasien ulkus diabetikum pada kategori sedang, nilainya (p = 0.001; r = −0.646), membuktikan adanya korelasi kuat diantara perilaku caring perawat berdasar teori Jean Watson dengan tingkatan stres pasien ulkus diabetikum. Penerapan teori caring Jean Watson secara konsisten diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis pasien.
Manajemen Nyeri Nonfarmakologis Pasca Kateterisasi Jantung melalui Akses Femoral: A Systematic Literature Review Yuni Dwi Hastuti; Ninuk Dian Kurniawati; Arina Qona'ah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61364

Abstract

Latar Belakang: Kateterisasi jantung merupakan prosedur medis untuk mendiagnosis dan mengobati beberapa masalah jantung. Pasien yang menjalani kateterisasi jantung, khususnya dengan akses femoral, mungkin mengalami ketidaknyamanan, seperti nyeri, baik sebelum, selama, maupun setelah pelepasan selubung. Manajemen nyeri nonfarmakologis semakin banyak digunakan karena efek samping pengobatan farmakologis. Manajemen nyeri nonfarmakologis dapat membantu mengurangi nyeri ringan hingga sedang, sehingga mengurangi kebutuhan analgesik berkelanjutan. Tujuan: Menganalisis efektivitas manajemen nyeri nonfarmakologis setelah kateterisasi jantung. Metode: Artikel diperoleh dari lima sumber elektronik: Scopus, EBSCOhost, ScienceDirect, Sage Journals, dan Garuda. Artikel-artikel ini menggunakan metode kuasi-eksperimental dan RCT (Randomized Controlled Trials). Hasil: Intervensi yang dapat diterapkan sebelum pelepasan selubung yaitu aromaterapi, reiki, dan akupresur, dan setelah pelepasan selubung meliputi penggunaan kompres dingin, ice bag, dan cryotherapy. Selain itu, terdapat intervensi yang diterapkan sebelum, selama, dan setelah pelepasan selubung, seperti penggunaan stress ball dan kombinasi relaksasi otot perut dan deep, slow breathing. Di satu sisi, intervensi nyeri yang tidak terkait dengan waktu pelepasan selubung, yaitu, autogenic training, hand massage, dan virtual reality, sedangkan penerapan manuver valsalva terbatas selama pelepasan selubung. Kesimpulan: Manajemen nyeri nonfarmakologis terbukti efektif dalam mengurangi nyeri setelah kateterisasi jantung dengan akses femoral baik sebelum, selama, atau setelah pelepasan selubung. Kata Kunci: Kateterisasi Jantung, Akses Femoral, Manajemen Nyeri
Obesitas dan Status Vitamin D: Implikasi Terhadap Risiko Preeklampsia: Hybrid Literatur Reviu Tahun 2021-2025 Aldina Ayunda Insani; Delmi Sulastri
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61422

Abstract

Latar Belakang: Preeklampsia merupakan penyulit, penyebab utama kesakitan, dan kematian maternal (2-8%) dan perinatal. Patogenesisnya bersifat multifaktorial, ketidakseimbangan angiogenik merupakan mekanisme sentral. Obesitas dan vitamin D merupakan faktor risiko yang berkaitan dengan proses inflamasi, nutrisi metabolik, reaksi imunologi, dan disfungsi endotel yang berpotensi mengalami preeklampsia. Tujuan: mengidentifikasi dan menyintesis bukti ilmiah mengenai obesitas pada ibu hamil, vitamin D, dan risiko preeklampsia, tahun 2021–2025. Metode: hybrid literature review, pencarian dari PubMed dan ScienceDirect, dengan beberapa kata kunci. Sintesis secara naratif dan tematik. Hasil: Dari 2.532 artikel, 16 artikel memenuhi kriteria inklusi (meta-analisis (n=8), studi observasional (kohort prospektif/retrospektif dan kasus-kontrol) (n=5)). Indeks massa tubuh (IMT) untuk pengkategorian obesitas. Peningkatan IMT berhubungan dengan peningkatan risiko preeklampsia; risiko meningkat hingga 3 kali lipat pada obesitas dibandingkan dengan berat badan normal. Defisiensi vitamin D (25(OH)D <20 ng/mL) berkaitan dengan peningkatan risiko preeklampsia melalui gangguan invasi trofoblas, disfungsi angiogenesis plasenta, disregulasi sistem renin-angiotensin-aldosteron, serta respons inflamasi dan stres oksidatif. Obesitas menurunkan bioavailabilitas vitamin D melalui sekuestrasi pada jaringan adiposa, Ibu hamil dengan obesitas berisiko lebih tinggi mengalami defisiensi vitamin D dan memperberat risiko preeklampsia. Kesimpulan: Obesitas dan defisiensi vitamin D merupakan faktor risiko preeklampsia yang saling berkaitan melalui jalur metabolik dan inflamasi. Skrining, studi kohort, dan uji klinis acak pada status vitamin D ibu hamil dengan obesitas menjadi strategi deteksi dini dan pencegahan preeklampsia Kata Kunci: obesitas, status Vitamin D, Preeklampsia, hybrid systematic review
Factors Influencing Musculoskeletal Disorder (MSDs) Complaints Among Shallot Farmers in Tempo Hamlet, Enrekang Regency Andi Tenriola Fitri Kessi; Muhammad Akbar Salcha; Muh. Ade Rivai
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61424

Abstract

Gangguan muskuloskeletal (Musculoskeletal Disorders/MSDs) merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang paling umum terjadi pada sektor pertanian, terutama pada petani yang bekerja dengan postur tidak ergonomis dan beban fisik yang berulang. Petani bawang merah menghadapi risiko tinggi karena pekerjaan mereka melibatkan posisi membungkuk dan jongkok dalam waktu lama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keluhan MSDs pada petani bawang merah di Dusun Tempo, Desa Tempo, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik dan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh petani bawang merah di Dusun Tempo yang berjumlah 67 orang, yang seluruhnya direkrut melalui teknik total sampling. Keluhan MSDs diukur menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM), sedangkan postur kerja dinilai dengan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA). Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square, dengan uji Fisher's Exact diterapkan pada tabel yang memiliki frekuensi harapan kecil. Sebagian besar responden (80,6%) melaporkan keluhan MSDs pada kategori nyeri. Postur kerja (p=0,018), masa kerja (p<0,001), usia (p=0,011), dan jenis kelamin (p<0,001) berhubungan secara signifikan dengan keluhan MSDs, sedangkan durasi kerja harian tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p=0,545). Keluhan MSDs pada petani bawang merah dipengaruhi oleh postur kerja, masa kerja, usia, dan jenis kelamin, tetapi tidak dipengaruhi oleh durasi kerja harian. Temuan ini menunjukkan perlunya edukasi ergonomi, pengaturan jadwal kerja-istirahat yang lebih baik, serta deteksi dini keluhan otot, terutama bagi petani berusia lanjut dengan masa kerja yang panjang.
Active Analysis of Cycle Breathing Technique in Sopt Patients According To Roy's Adaptation Theory In Restoring Oxygenation Needs : Literature Review Eka Wardaningsih; Priyanto Priyanto; Gipta Galih Widodo
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61528

Abstract

Abstrak Sindrom obstruktif pasca-tuberkulosis merupakan kondisi patologis kompleks yang ditandai dengan pola ventilasi obstruktif, retensi sekret, dan penurunan kapasitas fungsi pernapasan pada 30–60% pasien pasca-TB. Sindrom ini merupakan konsekuensi residual signifikan yang memengaruhi kualitas hidup dan morbiditas jangka panjang pasien. Penelitian ini menganalisis penerapan Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) melalui kerangka kerja Teori Adaptasi Roy untuk memahami mekanisme pemulihan kebutuhan oksigenasi pada pasien dengan kondisi ini. Metodologi yang digunakan adalah analisis konsep kualitatif berdasarkan tinjauan pustaka sistematis terhadap artikel yang diterbitkan dari tahun 2020–2025 yang bersumber dari basis data internasional termasuk PubMed, CINAHL, Google Scholar, dan repositori institusi kesehatan Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa ACBT bekerja melalui mekanisme subsistem regulator dan kognator untuk meningkatkan perilaku adaptif dalam mode fisiologis-fisik, khususnya pada komponen oksigenasi yang mencakup ventilasi, pertukaran gas, dan transportasi oksigen. Lebih lanjut, ACBT menstimulasi adaptasi di seluruh mode konsep diri yang meningkatkan efikasi diri dan harapan, mode fungsi peran yang memulihkan kapasitas aktivitas kehidupan sehari-hari, dan mode saling ketergantungan yang meningkatkan dukungan sosial dan kepatuhan. Kerangka kerja Model Adaptasi Roy menyediakan pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi stimulus fokal, stimulus kontekstual, dan stimulus residual yang memengaruhi adaptasi pasien. Integrasi ACBT dalam paradigma Teori Adaptasi Roy menekankan kebutuhan holistik akan intervensi keperawatan komprehensif yang mempertimbangkan keempat mode adaptasi dalam memulihkan kebutuhan oksigenasi. Implikasi klinis termasuk pengembangan protokol asuhan keperawatan berdasarkan penilaian komprehensif terhadap perilaku adaptif dan maladaptif pasien. Kata Kunci: Active Cycle of Breathing Technique, Teori Adaptasi Roy, sindrom obstruktif pasca-tuberkulosis, kebutuhan oksigenasi, mode adaptasi, perilaku adaptif, rehabilitasi pernapasan. Abstract Post-tuberculosis obstructive syndrome represents a complex pathological condition characterized by obstructive ventilation patterns, retained secretions, and decreased respiratory functional capacity in 30–60% of post-TB patients. This syndrome constitutes a significant residual consequence affecting long-term patient quality of life and morbidity. This study analyzes the application of Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) through Roy's Adaptation Theory framework to understand the mechanisms of oxygenation need restoration in patients with this condition. The methodology employed qualitative concept analysis based on systematic literature review of published articles from 2020–2025 sourced from international databases including PubMed, CINAHL, Google Scholar, and Indonesian healthcare institutional repositories. Analysis results demonstrate that ACBT operates through regulator and cognator subsystems mechanisms to enhance adaptive behaviors in the physiological-physical mode, specifically in the oxygenation component encompassing ventilation, gas exchange, and oxygen transport. Furthermore, ACBT stimulates adaptation across self-concept mode enhancing self-efficacy and hope, role function mode restoring activities of daily living capacity, and interdependence mode improving social support and compliance. Roy's Adaptation Model framework provides a systematic approach to identifying focal stimuli, contextual stimuli, and residual stimuli affecting patient adaptation. Integration of ACBT within Roy's Adaptation Theory paradigm emphasizes the holistic necessity of comprehensive nursing interventions considering all four adaptive modes in restoring oxygenation needs. Clinical implications include development of nursing care protocols based on comprehensive assessment of adaptive and maladaptive patient behaviors. Keywords: Active Cycle of Breathing Technique, Roy's Adaptation Theory, post-tuberculosis obstructive syndrome, oxygenation needs, adaptive modes, adaptive behavior, respiratory rehabilitation.