cover
Contact Name
Zurrahmi
Contact Email
zurrahmi10@gmail.com
Phone
+6285265992150
Journal Mail Official
zurrahmi10@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ners
ISSN : -     EISSN : 25802194     DOI : 10.31004
Core Subject : Health,
Fokus Jurnal Ners meliputi bidang kajian riset keperawatan diantaranya Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Lansia, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Masyarakat, Manajemen Keperawatan dan Terapi Komplementer yang dapat menunjang tindakan keperawatan Jurnal Ners dikelola dan diterbitkan oleh Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jurnal Ners adalah pengembangan dari Jurnal Program Studi Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai yang mulai melakukan publikasi cetak tahun 2012 seiring dengan perubahan bentuk Institusi menjadi Universitas Pahlawan
Articles 3,122 Documents
Analisis Faktor Tingkat Pendidikan Ibu Terhadap Status Gizi Balita di Wilayah Puskesmas Medan Area Selatan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2026 Laura Margaretha Simanjuntak; Kismiasih Adethia; Anna Waris Nainggolan; Adelina Sembiring; Regita Aprianda
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.62230

Abstract

Status gizi balita merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan kualitas kesehatan dan pertumbuhan anak. Tingkat pendidikan ibu berperan dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan gizi balita. Rendahnya tingkat pendidikan dapat memengaruhi pola asuh, pemilihan makanan, serta pemanfaatan pelayanan kesehatan yang berdampak pada status gizi balita.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat pendidikan ibu terhadap status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Medan Area Selatan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2026.Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah ibu yang memiliki balita di wilayah kerja Puskesmas Medan Area Selatan. Sampel penelitian berjumlah 33 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pengukuran status gizi balita, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu berpendidikan SMA, yaitu sebanyak 16 responden (48,5%), sedangkan sebagian besar balita memiliki status gizi baik, yaitu 25 responden (75,8%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,005 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dan status gizi balita.Kesimpulan: Tingkat pendidikan ibu berhubungan secara signifikan dengan status gizi Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu, semakin baik kemampuan  memahami dan menerapkan informasi mengenai gizi.
Analisis Potensi Interaksi Obat Pada Resep Pasien Hipertensi Lansia di Puskesmas Dabatan Misool Selatan, Raja Ampat Nurul Maghfirah1; Lukman Hardia; Angga Bayu Budiyanto
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.62242

Abstract

Elderly people with hypertension generally receive combination therapy to control blood pressure and manage comorbidities, so they are at risk of experiencing potential drug interactions. This study aims to analyze the potential for drug interactions in the prescriptions of elderly hypertension patients at the South Dabatan Misool Health Center, Raja Ampat Regency. Methods this study was a non-experimental observational study with a retrospective descriptive approach. The research sample used a total sampling technique of 130 prescriptions of elderly hypertension patients who met the inclusion criteria. Data were obtained from prescriptions and medical records, then analyzed descriptively based on the type of interaction, mechanism, and severity. Results the majority of patients were aged 60–65 years (53.85%) and were female (80.00%). Of the 130 prescriptions, 47 cases of potential drug interactions were found. The most common combination was amlodipine–simvastatin in 14 cases (29.79%), followed by amlodipine–mefenamic acid in 11 cases (23.40%). Most interactions were pharmacodynamic interactions of moderate severity, while major interactions were found in amlodipine–simvastatin and captopril–allopurinol combinations. Conclusion the potential for drug interactions in elderly hypertensive patients at the South Dabatan Misool Health Center is quite high, so it is necessary to screen drug interactions and evaluate therapy regularly to improve the safety and effectiveness of treatment.
Asuhan Kebidanan Berkelanjutan(Continuity Of Care) Pada Ibu Inpartu Ny.D Dengan Ruptur Perenium Derajat II Di Klinik Pratama Sarfina Kec,Medan Polonia Provinsi Sumatra Utara Tahun 2026 Mei Elizabeth Simatupang; Ribur Sinaga; Rumondang Sitorus; Siska Suci Triana Ginting; Sarfina Sembiring
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.62297

Abstract

Latar Belakang: Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan agar kesehatan ibu dan bayi semakin baik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah asuhan kebidanan Continuity of Care (CoC), yaitu pendampingan ibu secara berkelanjutan mulai dari kehamilan hingga keluarga berencana. Berdasarkan survei di Klinik Pratama Sarfina Sembiring Kecamatan Medan Polonia Tahun 2025, ditemukan Ny.D usia 25 tahun, G2P1A0, usia kehamilan 26 minggu 4 hari, dengan kunjungan ANC yang belum sesuai standar dan mengalami ruptur perineum derajat II saat persalinan. Tujuan: Melaksanakan asuhan kebidanan secara berkelanjutan pada Ny.D menggunakan manajemen kebidanan Helen Varney dan dokumentasi SOAP. Metode:Penelitian menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan Continuity of Care melalui pengkajian, penegakan diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan dokumentasi. Hasil: Asuhan diberikan mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga keluarga berencana. Persalinan berlangsung normal dengan bayi lahir spontan berat badan 3.200 gram, namun terjadi ruptur perineum derajat II yang ditangani dengan penjahitan luka. Kondisi ibu dan bayi selama nifas dan masa neonatal tetap baik tanpa komplikasi. Kesimpulan: Asuhan kebidanan Continuity of Care membantu memberikan pelayanan yang menyeluruh serta mendukung deteksi dan penanganan masalah sejak dini pada ibu dan bayi.
Penatalaksanaan Multipel Fraktur Maksilofasial dengan Rekonstruksi Mandibula sebagai Tahap Awal Berdasarkan Prinsip Facial Buttress: Laporan Kasus Iwan Setiawan Adji; Hanani Adeliya Hasyim; Rheinasya Adisty Almeyda Putri; Shinta Aulia Rahmadhanti; Faryn Dzaky Al A’la; Annisa Naura Azahra
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.62312

Abstract

Background: Multiple facial fractures are complex injuries commonly caused by high-energy trauma, particularly traffic accidents. These injuries may involve multiple facial skeletal structures, resulting in impaired mastication, occlusion, respiration, vision, and facial aesthetics. Appropriate management requires anatomical reconstruction based on the principles of open reduction and internal fixation (ORIF), with an appropriate fixation sequence to achieve optimal functional and cosmetic outcomes. Case Report: A 20-year-old male presented to the emergency department following a traffic accident, complaining of severe facial pain accompanied by bilateral epistaxis. Physical examination revealed edema, deformity, crepitus, and tenderness in the nasal, naso-orbito-ethmoid (NOE), zygomatic, bilateral maxillary, and mandibular regions. Laboratory examination revealed anemia due to acute blood loss, leukocytosis with neutrophilia, an increased neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR), and abnormalities in coagulation parameters. The patient was diagnosed with multiple facial fractures involving the nasal bone, NOE complex, left zygomatic bone, bilateral maxilla, and mandibular symphysis. ORIF was performed using a reconstruction sequence beginning with the mandible to restore occlusion, followed by reconstruction of the zygomaticomaxillary, nasomaxillary, and NOE buttresses using plates and screws. Discussion: Beginning reconstruction with the mandible provides a stable occlusal reference, thereby facilitating the repositioning of other facial structures. This approach is consistent with the principles of facial buttress reconstruction, which aim to restore bony continuity, masticatory function, facial stability, and aesthetic outcomes. Changes in laboratory parameters reflected the post-traumatic inflammatory response and the process of erythrocyte regeneration following blood loss. Conclusion: The management of multiple facial fractures requires comprehensive clinical evaluation, adequate supporting examinations, and reconstruction based on the principles of facial buttress restoration. ORIF performed with an appropriate fixation sequence can optimally restore facial function and anatomy while reducing the risk of long-term complications.
Beyond Cyanosis: Early Detection and Initial Management of Pulmonary Atresia with VSD, PDA, and MAPCAs Nisrina Artanti Prasetiani; Ranindita Maulya Ismah Amimah; Elisya Shafa Ananda Maurika; Bimo Bintoro
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.62313

Abstract

Atresia pulmonal dengan defek septum ventrikel (pulmonary atresia with ventricular septal defect, PA-VSD) disertai duktus arteriosus paten (PDA) dan/atau kolateral aortopulmonal mayor (major aortopulmonary collateral arteries, MAPCAs) merupakan bentuk paling ekstrem dari spektrum tetralogi Fallot, dengan insidensi sekitar 0,07 per 1.000 kelahiran hidup dan mencakup kurang lebih 2,5% dari seluruh penyakit jantung bawaan (Soquet et al., 2019). Sianosis yang tampak jelas sering kali muncul terlambat karena aliran darah paru masih dipertahankan oleh PDA dan/atau MAPCAs, sehingga diagnosis kerap tertunda hingga terjadi dekompensasi. Seorang anak perempuan berusia 23 bulan datang ke Instalasi Gawat Darurat dengan keluhan sesak napas yang memberat disertai demam, batuk, muntah, dan diare. Saat tiba di rumah sakit, pasien tampak sianosis dengan saturasi oksigen 58% pada udara kamar. Ekokardiografi sebelumnya menunjukkan kelainan jantung bawaan sianotik kompleks berupa pulmonary atresia with ventricular septal defect (PA-VSD), dekstrokardia, situs inversus, patent foramen ovale (PFO), bilateral superior vena cava, serta dugaan major aortopulmonary collateral arteries (MAPCAs), yang kemudian dikonfirmasi melalui kateterisasi jantung. Pasien didiagnosis mengalami recurrent cyanotic spells yang dipicu bronkopneumonia akut dan gastroenteritis akut, kemudian mendapatkan terapi oksigen, antibiotik, koreksi dehidrasi, transfusi packed red blood cells (PRBC), serta propranolol dosis rendah. Kondisi klinis berangsur membaik dengan saturasi oksigen stabil 83–85%, sehingga pasien dipulangkan untuk melanjutkan evaluasi dan persiapan koreksi bedah bertahap di pusat kardiovaskular tersier. Deteksi dini bergantung pada kombinasi pemeriksaan fisis yang cermat, skrining saturasi oksigen pra- dan pascaduktal, serta kecurigaan klinis terhadap tanda-tanda yang lebih halus daripada sianosis terang-terangan, seperti takipnea ringan, kesulitan menyusu, atau murmur kontinu (Plana et al., 2018). Begitu kecurigaan muncul, ekokardiografi tetap menjadi modalitas lini pertama, sementara CT/MRI angiografi berperan penting dalam memetakan MAPCAs yang tidak selalu tervisualisasi baik dengan ekokardiografi (Alahmadi & Sharma, 2024a; Alex et al., 2022). Tata laksana awal mencakup pengenalan fisiologi duktus-dependen, pemberian prostaglandin E1 bila diperlukan, serta stabilisasi suportif sebelum tindakan definitif berupa syok sistemik-pulmonal (mis. modified Blalock-Taussig-Thomas shunt), unifokalisasi, rehabilitasi arteri pulmonalis native, atau strategi kombinasi (Akkinapally et al., 2018; Alahmadi et al., 2024b). Di negara berkembang termasuk Indonesia, keterlambatan diagnosis dan keterbatasan sumber daya memengaruhi luaran secara bermakna. Kewaspadaan klinis terhadap tanda-tanda awal yang melampaui sianosis, ditunjang oleh skrining saturasi oksigen yang sistematis dan akses ekokardiografi yang lebih luas, berpotensi mempercepat diagnosis PA-VSD dengan MAPCAs dan memperbaiki luaran, khususnya pada fasilitas dengan sumber daya terbatas.
Asuhan Kebidanan Berkelanjutan (Continuity Of Care) Pada Ibu Hamil Ny.D Dengan Hipertensi Gestasional di Klinik Praktek Mandiribidan Deby Cyntiakec. Medan Amplas Sumatra Utara Tahun 2026 Lisa Amelia Nurhadina; Ribur Sinaga; Rumondang Sitorus; Siska Suci Triana Ginting; Deby Cyntia Yun
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.62315

Abstract

Tingginya angka komplikasi akibat hipertensi dalam kehamilan memerlukan deteksi dini dan penatalaksanaan sesuai standar kebidanan guna mendukung pencapaian target SDG 3. Hipertensi gestasional ditandai dengan peningkatan tekanan darah  setelah usia kehamilan 20 minggu tanpa proteinuria. Tujuan mampu melaksanakan Asuhan Kebidanan Berkelanjutan (Continuity of Care) pada Ny. D secara komprehensif mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga keluarga berencana dengan pendekatan manajemen Helen Varney dan pendokumentasian SOAP di PMB Deby Cyntia Medan Amplas Tahun 2026. Metode penelitian deskriptif dengan desain studi kasus menggunakan pendekatan Continuity of Care (CoC) dan manajemen 7 langkah Helen Varney serta pendokumentasian SOAP. Subjek penelitian adalah Ny. D usia 33 tahun G3P2A0. Hasil asuhan kehamilan pada usia gestasi 27 minggu 1 hari menunjukkan tekanan darah 140/90 mmHg tanpa proteinuria, terdiagnosa hipertensi gestasional. Penatalaksanaan yang diberikan meliputi pemantauan TTV rutin, diet rendah garam, istirahat cukup, dan relaksasi. Pada kunjungan selanjutnya tekanan darah terkontrol (130/90 mmHg). Proses persalinan berlangsung spontan dan normal tanpa komplikasi. Masa nifas, BBL, dan pelayanan KB berjalan normal dan teratur. Kesimpulan asuhan kebidanan berkelanjutan (Continuity of Care) terbukti efektif dalam memantau, mencegah komplikasi, serta menstabilkan kondisi ibu hamil dengan hipertensi gestasional hingga masa nifas dan pelayanan KB.
Asuhan Kebidanan Berkelanjutan(Continuity Of Care) Pada Ibu Inpartu Ny.D Dengan Ruptur Perenium Derajat II di Klinik Pratama Sarfina Kec,Medan Polonia Provinsi Sumatra Utara Tahun 2026 Kristina Kristina; Siska Suci Triana Ginting; Rosmani Sinaga; Basaria Manurung; Desna Elfita
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.62316

Abstract

Indonesia menetapkan target SDGs ke-3 untuk menurunkan angka kematian neonatus menjadi 12 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2030. Pada tahun 2019, tercatat 20.244 kematian neonatus, dengan 5.464 kasus (27%) disebabkan oleh asfiksia neonatorum. Tujuan penelitian ini adalah memberikan asuhan kebidanan berkelanjutan (Continuity of Care) pada bayi baru lahir dengan asfiksia ringan di Praktik Mandiri Bidan Desna Elfita Tahun 2026 melalui pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan dokumentasi asuhan dari kehamilan hingga keluarga berencana. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan manajemen kebidanan Varney dan dokumentasi SOAP melalui anamnesis, observasi, pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi. Hasil menunjukkan bahwa asuhan kebidanan komprehensif dan berkelanjutan membantu penanganan asfiksia ringan, ditandai dengan perbaikan kondisi bayi setelah dilakukan penjagaan kehangatan, pengisapan lendir, pemantauan pernapasan, dan asuhan sesuai standar, serta pemberian edukasi kepada ibu mengenai perawatan bayi, ASI eksklusif, tanda bahaya, dan kunjungan ulang. Saran asuhan kebidanan Continuity of Care diberikan kepada Ny. S mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, hingga bayi baru lahir.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Nyeri Dismenore pada Mahasiswi Semester Akhir di Institut Kesehatan Immanuel Bandung Tri Ardayani; Lidya Natalia; Regita Cahyani Lbn Tobing
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.62342

Abstract

Dismenore merupakan gangguan menstruasi yang paling sering dialami wanita usia reproduksi dan menjadi penyebab utama gangguan aktivitas belajar mahasiswi. Prevalensi global mencapai lebih dari 90% populasi wanita, sedangkan di Indonesia mencapai 64,25%. Faktor internal maupun eksternal berperan dalam menentukan tingkat keparahan nyeri, namun bukti empiris pada mahasiswi semester akhir yang menghadapi tekanan penyelesaian tugas akhir masih terbatas. Tujuan menganalisis hubungan aktivitas fisik, stres, usia menarche, dan status gizi dengan tingkat nyeri dismenore serta mengidentifikasi faktor paling dominan. Metode penelitian kuantitatif dengan desain analitik korelasional pendekatan cross-sectional. Sampel 60 mahasiswi semester akhir Institut Kesehatan Immanuel Bandung diambil menggunakan proportional random sampling dengan rumus Slovin. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner IPAQ, DASS, penilaian IMT, dan Numeric Rating Scale (NRS). Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan Spearman Rank, dan multivariat menggunakan regresi linear berganda. Hasil sebanyak 35% responden mengalami nyeri berat. Uji Spearman menunjukkan hubungan bermakna pada stres (p<0,001; r=0,425) dan status gizi (p=0,040; r=0,266), sedangkan aktivitas fisik (p=0,112) dan usia menarche (p=0,816) tidak bermakna. Regresi linear berganda mengonfirmasi stres (β=0,397; p=0,002) sebagai faktor paling dominan, diikuti status gizi (β=0,238; p=0,048). Simpulan stres merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan tingkat nyeri dismenore. Intervensi keperawatan berfokus pada manajemen stres akademik dan optimalisasi status gizi direkomendasikan untuk menurunkan keparahan dismenore pada mahasiswi semester akhir.
The Effect of Digital Media Information Access on Understanding Reproductive Health Intervention Studies in Students Eva Mulyani S; Nurhayati Nurhayati; Nursapia Harahap; Rapotan Hasibuan
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.62437

Abstract

Limited access to accurate reproductive health information may increase adolescents' vulnerability to reproductive health problems. This study aimed to evaluate the effectiveness of digital media–based reproductive health education in improving digital information access and reproductive health knowledge among female students at Darul Iman Islamic Boarding School, Southeast Aceh. A quantitative one-group pretest–posttest study was conducted among 119 participants selected using total sampling. The mean score for digital information access score increased from 41.85 ± 7.54 (median = 41; 95% CI: 40.65–43.30) to 47.64 ± 6.79 (median = 47; 95% CI: 46.50–48.89). Similarly, the mean reproductive health knowledge increased from 6.06 ± 4.39 (median = 5; 95% CI: 5.30–6.87) to 15.97 ± 4.11 (median = 16; 95% CI: 15.23–16.72). Wilcoxon Signed-Rank Test results showed significant improvements in information access (Z = −9.303, p < 0.001, r = 0.853) and reproductive health knowledge (Z = −9.389, p < 0.001, r = 0.861). Digital media–based reproductive health education effectively improved access to reproductive health information and reproductive health knowledge among female Islamic boarding school students.
Asuhan Manajemen Berkelanjutan Pada Ny. M dengan Ruptur Perineum Derajat II Evi Masri Rumaijuk; Siska Suci Triana Ginting; Siti Nurmawan Sinaga; Isyos Sari Sembiring; Elvi Diana
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.62481

Abstract

Menurut World Health Organization (WHO), setiap harinya sekitar 830 ibu di seluruh dunia meninggal akibat komplikasi yang terjadi selama kehamilan dan persalinan. Di Indonesia, sekitar 75% kematian ibu disebabkan oleh perdarahan, hipertensi, dan infeksi (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2019). Data Kementerian Kesehatan tahun 2022 menunjukkan bahwa angka kematian ibu (AKI) di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2021, jumlah kematian ibu meningkat hingga 59,69% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penyebab utama yang paling banyak adalah perdarahan sebanyak 1.330 kasus.(KEMENKES, 2022). Berdasarkan laporan profil kesehatan ibu dan anak, pada tahun 2020 tercatat sekitar 6 juta persalinan,dengan 30% diantaranya mengalami pendarahan tersebut adalah robekan perenum yang menyumbang sekitar 305 dari kasusperdarahan Tujuan memberikan asuhan kebidanan yang komperehensif secara berksinambungan (continuity of care ) pada ibu hamil, bersalin,ibu nifas, bayi baru lahir, dan keluarga berencana melalui pendekatan dan pengkajian dengan menggunakan 7 langkah helen varney dan dokumentasi SOAP. Metode desain penelitian yang digunakan yaitu deskriptif dan jenis penelitian studi kasus. Subyek penelitian adalah ibu hamil normal dengan usia kehamilan 28  minggu 5 hari. Waktu penelitian dilakukan pada Bulan oktober sampai dengan januari  2026. Hasil adanya terjadi kasus pada ny.m pada persalinan kala IV dengan rupture perenium derajat II dan telah teratasi. Saran: Bagi klinik pratama elvi diana diharapkan dapat lebih meningkatkan pelayanan kesehatan ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir sehingga menjadi klinik yang lebih baik.